MARATAJJANIYA SUTTA
(50)
Demikian yang saya dengar:
Pada suatu ketika yang mulia Moggalana si besar sedang menetap di antara kaum Bhagga, di Sumsumaragira di hutan Bhesakala di taman Rusa.
Pada saat itu yang mulia Moggalana si besar sedang melakukan Meditasi sambil berjalan-jalanke sana kemari di udara terbuka.
Pada ketika itu Mara si jahat masuk ke dalam perut Moggalana si Besar, sampai ke dalam perutnya.Kemudian terjadilah kepada Yang Mulia Si Besar: "Sekarang mengapa perutku menjadi besar seperti ia seolah-olah penuh beban itu?" Kemudian Moggalana si besar sesudah kembali dari jalan-jalan di udara terbuka setelah masuk dalam tempat berkelana, duduklah pada tempat duduk yang telah dipersiapkan itu. KEtika ia sedang duduk Moggalana si besar,merefleksi diri sendiridengan seksama.Kemudian Moggallana nan Beaar melihat mara si jahat itu,telah memasuki ke dalam perutnya dan masuk ke dalam stomach/lambung? Ketika melihat dia, ia berkata demikian kepada mara si jahat.
"Keluarkah, si Jahat; si Jahat, keluarlah. Janganlah mengganggu siswa dari Sang Tathagata, apabila kamu tidak mau menderita dan sedih untuk waktu yang lama."
Kemudian terjadilah pada Mara si Jakat demikian, "Orang petapa ini berbicara demikian sekalipun tidak mengetahui, tidak melihat diriku, "Keluar¬lah si Jahat, orang yang Jahat keluarlah. Janganlah mengganggu Tathagata atau siswa dari Tathagata apabila tidak mau kamu menderita dan sedih untuk waktu yang lama." Sekalipun dulunya tidak bisa mengetahui diriku demikian cepatnya, bagaimana siswa ini bisa mengetahui diriku?"
Kemudian Yang Mulia Moggallana nan besar bicara demikian kepada Mara si Jahat, "Tetapi aku tahu kamu, si Jahat. Janganlah berpikir, 'dia tidak menge¬tahui aku. Kamu yang jahat, adalah mara. Terjadilah padamu, si Jahat, petapa ini berbicara demikian sekalipun tidak mengetahui, sekalipun tidak melihat diriku, "Keluarlah, si Jahat; si Jahat, keluarlah. Janganlah mengganggu seo¬rang Tathagata atau siswa Tathagata, apabila kamu tidak mau menderita dan kesedihan untuk jangka waktu yang lama." Sekalipun gurunya saja tidak bisa mengetahui diriku secepat itu, bagaimana siswa ini mengetahui diriku?
Kemudian terjadilah pada mara si jahat demikian, "Hal ini karena petapa ini mengetahui dan melihat diriku maka berkata demikian, 'Keluarlah si Jahat; si jahat keluarlah. Janganlah mengganggu seorang Tathagata atau siswa dari Tathagata, apabila kamu tidak mau menderita dan kesedihan untuk waktu yang lama.'
Kemudian mara si jahat, (333) setelah keluar dari mulut Moggallana nan besar melihat mara si jahat berdiri pada pintu 1) kemudian Yang Mulia Moggal¬lana nan besar melihat si jahat mara berdiri pada pintu; ketika melihat ia, ia berkata kepada mara si jahat, "Ternyata aku melihat kamu, si jahat. Janganlah berpikir, "Ia tidak melihat diriku; ia adalah kamu, si jahat, yang berdiri pada pintu. Pada suatu ketika aku si jahat adalah Mara yang bernama Dusin 2) dan Kali adalah nama dari kakak perempuanku, kamu adalah anak laki-lakinya. Jadi kamu adalah iparku. Pada waktu itu, Kakusandha Yang Mulia, seorang yang telah sempurna, menjadi sadar sepenuhnya oleh diri sendiri, telah bangkit atau muncul dengan perkasa di dunia ini. Sekarang, si jahat, Vidhura dan Sanjiva merupakan pasangan dari para siswa yang menjadi ketua, pasangan beruntung dari Kakusandha 3) Yang mulia, yang Sempurna, seorang yang menjadi sadar sepenuhnya oleh diri sendiri. Dari semua siswa, si jahat, dari Kakusandha, Yang Mulia, Yang sempurna, yang menjadi sadar sepenuhnya oleh diri sendiri, tiada satu yang menyamai yang mulia Vidhura berkenan dengan mengajar Dhamma. Disebabkan karena ini, si jahat, nama dari Yang Mulia Vidhura menjadi Vidhura, tanpa bandingan. Tetapi Yang Mulia Sanjiva, si jahat, pergi ke dalam hutan, pergi ke akar-akar pohon, dan pergi ke tempat-tempat kosong, dengan tidak ada kesukaran mencapai perhentian tentang pengamatan serta perasaan. Pada suatu ketika, si Jahat, yang mulia Sanjiva sedang duduk-duduk di atas akar dari sebatang pohon tertentu sambil mencapai penghentian dari pengamatan serta perasaan. Kemudian, Si Jahat, segeromblan peternak sapi, segerombolan peternak domba, para petani pemilik tanah sendiri, pelancong-pelancong, melihat yang mulia Sanjiva sedang duduk-duduk di atas akar dari sebatang pohon tertentu sambil mencapai penghen-tian dari pengamatan serta perasaan. Kemudian, Si jahat, segerombolan peternak sapi, segerombolan peternak domba, para petani, pemilik tanah sendiri, pelan¬cong-pelancong, melihat yang mulia Sanjiva sedang duduk di atas akar dari dari pohon itu mencapai penghentian dari pengamatan serta perasaan; setelah meli¬hat beliau, terjadilah pada mereka: 'Ternyata adalah menakjubkan, ternyata indah sekali, bahwa si pertapa ini sedang duduk-duduk mati. Marilah, kita akan membakar beliau.' Kemudian, Si Jahat, para peternak sapi, peternak domba, para petani pemilik tanah sendiri, para pelancong, sesudah mengumpulkan rumput-rumput dan ranting-ranting dan tahi sapi dan setelah menumpukkannya ke atas diri dari yang mulia Sanjiva, kemudian menyalakan api dan meninggalkannya. Kemudian, si Jahat, yang mulia Sanjiva, setelah keluar dan muncul pada akhir dari malam itu dari pencapaiannya, itu sesudah memberihkan juabhnya, sesudah mengenakan pakaian dipagi hari itu, sambil membawa mangkok dan jubahnya, ia masuk ke dalam desa untuk minta danan makanan. YangJahat, para peternak sapi, peternak domba, arpa petani yang memiliki tanah sendiri serta para pelancong melihat yang mulia Sanjiva sedang berjalan untuk minta dana makanan; sesudah melihat dia, terjadilan pada mereka: 'Ternyata adalah sangat mentakjubkan, ternyata adalah sangat indah sekali bahwa pertapa ini yang sedang duduk mati telah datang kembali dengan hidu. [334] Dikarenakan hal ini, Si Jahat, nama dari yang mulia Sanjiva menjadilah Sanjiva, si Cepat.
Kemudian, Si Jahat, terjadilah pada Mara Dusin: 'Aku benar-benar tidak tahu kedatangan dan kepergian dari bhikkhu-bhikkhu ini yang mempunyai kebia¬saan moral, bait sifat-sifatnya menyenangkan. Seandai aku mengunjungi para brahmana serta para perumah tangga ( dan berkata): Hai Kamu yang dicemohkan, dicaci maki, disakiti, buatlah mendonkol, ganggulah para bhikhu yang memiliki kebiasaan moral baik, sifat-sifat yang menyenangkan, sebab adalah mungkin ia adalah, si jahat, yang berdiri pada pintu. Pada suatu ketika, aku Si jahat, adalah Mara yang bernama Dusin; dan Kali adalah nama dari kakak perempuanku, kamu adalah anak laki-lakinya, jadi kamu adalah iparku. Pada waktu itu Kaku¬sandha, Yang Mulia, seorang yang telah sempurna, menjadi sadar sepenuhnya oleh diri sendiri, telah bankit di dunia ini. Sekarang, Si Jahat, Vidhura dan Sanjiva merupakan pasangan dari para siswa yang menjadi ketua, pasangan berun¬tung dari Kakusandha, seorang yang menjadi sadar sepenuhnya oleh diri sendiri. Dari semua siswa, si jahat. Dari Kakusandha, Yang Mulia, yang sempurna, yang menjadi sadar sepenuhnya oleh diri sendiri, tiada satu yang menyamai yang mulia Vidhura berkenaan dengan mengajar Dhamma. Disebabkan karena ini, Si Jahat, Nama dari yang mulia Vidhura menjadi Vidhura, tanpa tandingan. Tetapi yang mulia Sanjiva, SiJahat, pergi ke dalam hutan, pergi ke akar-akar pohon dan pergi ke tempat-tempat kosong, dengan tiada ada kesukaran mencapai peng¬hentian tentang pengamatan serta perasaan. Setelah melihat beliau, terjadilah pada mereka: 'Ternyata adalah menakjubkan, ternyata indah sekali, bahwa si petapa ini sedang duduk-duduk mati. marilah, kita akan membakar beliau.' Kemudian Si Jahat, para peternak sap, peternak domba, para petani pemilik tanah sendiri, para pelancong, sesudah mengumpulkan rumput-rumput dan ranting-ranting dan tahi sapi dan setelah menumpukkanya keatas diri dari yang mulia Sanjiva, setelah keluar dan muncul pada akhir mala hari itu, sesudah member¬sihkan jubahnya, sesudah mengenakan pakaian di pati hari itu, sambl membawa mangkok dan jubahnya, ia masuk ke dalam desa untuk minta dana makanan, yang Jahat, para peternak sapi, peternak domba, para petani yang mempunyai tanah sendiri serta paa pelancong melihat yang mulia Sanjiva sedang berjalan untuk minta dana makanan, Yang jahat, para peternak sapi, peternak domba, para petani yang mempunyai tanah sendiri serta para pelancong melihat yang Mulia Sanjiva sedang berjalan untuk minta dana makanan; sesudah melihat dia, terja¬dilah pada mereka: 'Ternyata adalah sangat menakjubkan, ternyata adalah sangat indah sekali bahwa petapa ini yang sedang duduk mati telah datang kembali dengan hidup. Dikarenakan hal ini, Si Jahat, nama dari yang mulia Sanjiva menjadilah Sanjiva, si cepat.
Kemudian, Si Jahat, terjadilah pada si Mara Dusin: 'Aku benar tidak tahu kedatangan dan kepergian dari bhikkhu-bhikkhu ini yang mempunyai kebiasaan moral baik, sifat-sifatnya menyenangkan. Seandai aku mengunjungi para brahmana serta para perumah tangga : Hai kamu yang dicemooh, dicaci maki, disakiti, buatlah mendongkol, ganggulan para bhikkhu yang mempunyi kebiasaan moral baik, sifat-sifat menyenangkan, sebab adalah mungkin apabila mereka itu dicemohkan, dicaci maki, dibikin mendongkol serta diganggu olehmu, maka akan terjadilah suatu perubahan hati sehingga dengan demikian Dusin si Mara akan mempunyai kesempatan terhadap mereka itu." Kemudian, Si Jahat, Mara Dusin, mengunjungi para Brahmana serta perumah tangga : Hai, kamu yang dicemohkan ... oh ... kesempatan terhadap mereka.' Kemudian, Si Jahat, para brahmana serta para perumah tangga itu yang telah dikunjungi oleh Mara Dusin mencemoh, mencaci maki, mendongkol, para bhikkhu yang mempunyai kebiasan moral baik, sifat-sifat menyenangkan, 'tetapi orang-orang petapa gundul ini adalah budak-budak, hitam, sampahari kaki-kaki keluarga. Mereka berkata, kita orang-orang yang bermedita¬si, kita orang-orang yang meditasi, dan dean pundak-pundak mereka yang turun itu, dengan muka-muk mereka mengarah ke bawah, seolah-olah terbius, mereka melakukan meditasi, mereka bermeditasi hingga terhanyut, mereka bermeditasi lebih terserap mendalam, mereka bermeditasi benar-benar terserap. Bagaikan burung hantu berada dicabang pohon ketika mangamati seekor tikus bermeditasi, bermeditasi lebih-lebih terserap, bermeditasi benar-benar terserap, demikian juga yang dikerjakan oleh pertapa-pertapa kecil ini, budak-budak, hitam ... bermeditasi benar-benar terserap. Dan sebagai seekor serigala ditepi sungai ketika mengamati ikan bermeditasi, bermeditasi lebih-lebih terserap lagi, bermeditasi benar-benar terserap, demikialah kerja dari para petapa kecil ini ... bermeditasi benar-benar terserap. Dan bagaikan seekor kucing di tepi tumpukkan sampah ketika mengamati tikus bermeditasi, bermeditasi terserap, bermeditasi lebih-lebih terserap lagi, bermeditasi benar-benar terserap, Dan bagaikan seekor keledai pada pinggiran dari sampai, beban telah diturunkan, bermeditasi, bermeditasi terserap, bermeditasi lebih lebih terserap, demikian juga kerja dari par petapa kecil ini, budak-budak, hitam, sampah dari kaki-kaki keluarga, mengatakan: kita sedang bermeditasi, kita sedang bermeditasi, dengan pundak-pundak mereka menurun, dengan muka-muka mereka memandang ke bawah, seolah-olah terbius, bermeditasi, bermeditasi terserap, bermeditasi lebih-lebih terserap, bermeditasi benar-benar terserap, demikian juga kerja dari para petapa kecil ii, budak-budak, hidam, sampa dari kaki-kak keluarga, mengatkan: kita sedang bermeditasi, kita sedang bermeditasi, dengan pundak-pundak-pundak mereka menurun, dengan muka-muka mereka memandang ke bawah, seolah-olah terbius, bermeditasi, bermeditasi terserap, bermeditasi lebih-lebih terserap lagi,bermeditasi benar-benar terserap. Si Jaha, hampir semua orang dari orang-orang yang meninggal pada waktu itu, pada teruranya sang Badan pada kematian akan timbul di dalam keadaan menyedihkan, suatu aliran kecil sungai yang buruk, sifat-sifat yang menyenangkan, karena adalah mungkin apabila mereka itu dicemoohkan, dicaci maki, dibikin bingung serta diganggu oleh kamu, barangkali akan ada perubahan hati mereka sehingga dengan demikian Dusin si Mara akan memperoleh kesempatan terhadap mereka." Marilah, kamu para bhikkhu, tinggal diam saja, sesudah seperempat dari pikiranmu kamu liputi dengan keadaan kasih sayang, demikian juga yang kedua, demikian juga yang ketiga, demikian juga yang keempat; demikian juga ke atas, ke bawah, ke seber¬ang; tinggal diam saja dan sesudah meliputi ke seluruh dunia, ke mana saja, dalam segala hal dengan pikiran kasih sayang, itu adalah dapat menjangkau jauh, tersebar luas, tak dapat diukur, tanpa kebencian, tanpa kedengkian. Tinggal diam saja, sesudah meliputi dengan pikiran penuh belas kasihan ... dengan pikiran rasa senang bersimpati ... dengan pikiran berkeseimbangan batin dari kwartal yang pertama, demikian jugayang kedua, demikian juga dengan yang ketiga, demikian juga dengan yang ke empat; demikian juga ke atas, ke bawah, keseberang, tinggal diam dan sesudah meliputi segenap dunia, ke mana-mana, dalam segala cara dengan pikiran keseimbangan yang jangkauannya jauh, tersebar luas, tak dapat diukur, tanpa kebencian, tanpa kedengkian.'
Kemudian , Si jahat, para bhikkhu ini, pergi menuju ke hutan dan pergi menuju ke akar-akar pohon dan pergi ke tempat-tempat kosong, yang dinasehati demikian, yang di-instruksikan demikian oleh Kakusandha, Sang Tathataga, yang sempurna, yang sadar sepenuhnya sendiri, tinggal diam, sesudah meliputi dengan pikiran dengan kasih sayang pada kwartal tahun pertama, seperti juga halnya yang kedua ... yang ketiga ... yang keempat; demikian juga ke atas, ke bawah, ke seberang; mereka tinggal diam sesudah meliputi segenap dunia. Dimana saja, dengan pikiran kasih sayang yang jangkauanya jauh, tersebar luas, tak dapat diukur, tanpa kebencian, tanpa kedengkian. Mereka tinggal diam, sesudah melip¬uti dengan pikiran penuh belas kasihan ... dengan pikiran kesenangan bersim¬pati ... dengan pikiran keseimbangan pada kwartal pertama ... seperti juga yang kedua, seperti juga yang ketiga, seperti juga yang keempat; demikian juga ke atas, ke bawah, keseberang; sedemikian sehingga mereka tinggal diam dan diliputinya seluruh dunia, di mana saja, dalam cara apapunjuga dengan pikiran keseimbangan yang dapat menjangkau jauh, tersebar luas, tidak dapat diukur tanpa kebencian, tanpa kedengkian.
Kemudian, Si Jahat, terjadilah pada Si Mara Dusin sebagai berikut: 'Sekalipun aku bekerja demikian, aku tidak tahu datang dan kepergian dari bhikkhu-bhikkhu itu yang memiliki kebiasaan moral baik, sifat-sifat menyenang¬kan. Seandai aku datang mengunjungi para brahmana dan para perumah tangga: "Marilah, kamu orang-orang terhormat, pandanglah, hargailah, hormatilah para bhikkhu yang mempunyai kebiasaan moral baik, sifat-sifat yang menyenangkan, [336] sebab adalah mungkin bahwasanya apabila mereka itu dipandang tinggi, dihormati, dihargai dan dijunjun tinggi oleh kamu, akanlah terjadi perubahan hati, sehingga Mara Dusin akan memperoleh kesempatan terhadap mereka." Kemud¬ian si Jahat, Mara Dusin mengujungi para Brahmana serta perumah tangga ini (dan berkata): 'Marilah, kamu orang-orang terhormat, dijunjung tinggi, dihor¬mati para bhikkhu ini yang mempunyai kebiasaan moral baik, mempunyai sifat-sifat menyenangkan, sebab adalah mungkin apabila mereka itu dihargai, dijun¬jung tinggi, dipandang dan dihormati oleh kami, mungkin akan ada perubahan pada hati mereka itu sehingga Mara Dusin akan mempunyai kesempatan terhadap mereka.' Kemudian, Si Jahat, para brahmana, para perumah tangga yang telah dikunjungi oleh Mara Dusin itu, memandang, menghargai, menjunjung tinggi serta menghormati bhikkh-bhikkhu ini yang mempunyai kebiasaan moral baik, mempunyai sifat-sifat menyenangkan itu. Si Jahat, hampir semua dari orang-orang yang meninggal pada waktu itu, pada terurainya sang badan setelah kematian bangkit atau hidup kembali di dalam alam yang baik, alam surga.
Kemudian, Si Jahat, Kakusandha, Sang Tathagata, yang sempurna, yang tersadar sepenuhnya oleh diri sendiri, berbicara kepada para bhikkhu, dan mengatakan: 'Para bhikkhu, para brahmana serta perumah tangga telah dikunjungi oleh Mara Dusin (yang mengatakan) "Marilah, orang-orang terhormat, pandanglah, junjunglah, hormatilah para bhikkhu itu yang mempunyai kebiasaan moral baik, sifat-sifat menyenangkan, sebab mungkin saja apa bila mereka itu dipandang tinggi, disanjung, dihormati dan dimuliakan oleh kamu, maka akan terjadilah perubahan di dalam hati mereka sehingga Mara Dusin akan memperoleh kesempatan terhadap mereka itu." Marilah, kamu para bhikkhu, berkelanalah dengan melihat apa yang tidak baik di dala tubuhmu, sadara akan makanan-makanan yang menjemu¬kan, sadar akan tidak adanya kesenangan di dalam seluruh dunia, melihat ten¬tang ketidak kekalan dari semua bentuk. Kemudian, Si Jahat, para bhikkhu ini, pergi menuju ke dalam hutan, pergi ke akar-kara pepohonan serta pergi ke tempat-tempat kosong, dengan dinasehati demikian, dengan di instruksikan demikian oleh Kakusandha, Sang Tathagata, yang sempurna, sepenuhnya sadar sendiri, berkelanalah mereka dengan melihat atau mengamat-amati apa yang tidak baik di dalam tubuh, sadar tentang makanan yang membosankan, sadar akan tiada adanya kesenangan di dalam dunia, mengamati ketidakkekalan dari semua bentuk.
Kemudian, Si Jahat, Kakusandha, Sang Tathagata, yang sempurna, yang sadar sepenuhnya oleh diri sendiri, setelah mengenakan pakaian di pagi hari, dengan membawa mangkok serta jubahnya, pergi memasuki desa untuk mendapatkan dana makanan bersama dengn yang mulia Vidhura beserta penganutnya. Kemudian, Si Jahat, Mara Dusin, setelah mengunjungi seseorang anak muda tertentu, sesu¬dah mengambil sebuah batu, melemparan batu tersebut ke arah kepala dari yang mulia Vidhura; kepalanya pecah. Kemudian, Si Jahat, yang mulia Vidhura dengan kepalanya yang pecah itu sera mengeluarkan darah, sekalipun demikian [337] tetap dari dekat mengikuti Kakusandha, Sang Tathagata, yang sempurna, yang sadar oleh dirinya sendiri. Kemudian, Si Jahat, Kakusandha, Sang Tathagata, yang sempurna, yang sadar sepenuhnya oleh diri sendiri, melihat kesekeliling dengan mata gajah, dan berpikir: "Ternyata, Mara Dusin ini tidak mengenal sikap yang terbatas." Ketika Beliau sedang melihat ke sekeliling itu, Si Jahat, Mara Dusin meninggal dari tempat itu dan timbul kembali di dalam Neraka Niraya Besar: ia dinamakan "Termasu di dalam lingkungan enam ketergantungan panca indera? dan ia dinamakan "Pertemuan daripada paku-paku dan ia dinamakan "Terpisahnya perasaan-perasaan." Kemudian, Si Jahat, penjaga dari Neraka Niraya, setelah mendekat aku, bicara demikian: 'Apabila, tuan yang baik, paku bertemu paki di dalam hatiu, maka kamu harus mengerti ini: Di sana akan terda¬pat seribu tahun perebusan di dalam Neraka Niyara bagiku.' Kemudian aku, si Jahat, untuk banyak tahun-tahun, untuk banyak ratusan tahun, untuk banyak ribuan tahun, direbus di dalam neraka Niraya Besar itu. Setelah seribu tahun di dalam Neraka Niraya Besar itu sendiri, perasaan suatu perasaan yang disebut Vutthanima, aku direbus di dalam Usada, Dikarenakan ini, Si Jahat badanku menjadi sedemikian, seperti badan seseorang; badanku menjadi sedemikian, seperti kepala ikan."
Seperti apakah Neraka Niraya itu di mana Dusin direbus
Karena menyerang siswa Vidhura dan brahmana Kakusandha?
Ia adalah seperti seratus batang paku-paku besi, semuanya
menderita terpisah ini adalah neraka Niraya di mana Dusin direbus.
Karena menyerang siswa Vidhura dan brahmana Kakusandha.
Bhikkhu apapun, siswa dari Yang Telah Tersadar, mengerti ini yang gelap,
Untuk menyerang seorang bhikkhu seperti itu kamu untuk menderita.
Gedung-gedung Besar berdiri selama satu tahun ditengah samudra.
Warna batu-batu berharga, cemerlang, menyala, memancarkan sinar;
Di sana bidadari-bidari berdansa di dalam warna-warni itu.
Bhikkhu apapun juga, siswa dari Yang Tersadar, mengerti ini
Serang nan Gelap, karena menyerang bhikkhu itu, kamu akan menderita,
Barang siapa, dianjurkan oleh Yang Tersadar, diamati oleh Bhikkhu Sangha
Dengan jari-jari kakinya yang besar menggoncang istana ibu Migara.
Bhikkhu apapun, siswa dari yang tersadar, mengerti ini
Yang gelap, karena menyerang seorang bhikkhu seperti itu akan menderita
Barang siapa dengan jari-jari kakinya yang besar menggoncang Istana Vejayanta.
Perkasa melalui kekuatan psygis dan dengan kuat-kuat mengerakkan
Devata-devata. Bhikkhu apapun, siswa dari Yang Tersadar, mengerti ini
Yang Gelap, karena menyerang seorang bhikkhu semacam itu, akan menderita
Barang siapa menanyai tentang Saka di dalam Istana Vejayanta.
'Kamu telah, teman-teman, menemukan kebebasan-kebebasan dengan penghancuran dari nafsu?
Kepada siapa Sakkha dengan sejujurnya menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.
Barang siapa menanyakan tentang Brahma dalam pertemuan pribadi di dalam ruangan Sadhama,
'Apakah kamu, teman-teman, bahkan hari inipun memegang teguh pandangan-pandangan tersebut yang dahulunya adalah pandangan-pandangan kamu?
Kepada siapa, Brahmana dengan sejujurnya menjawab secara berurutan.
'Tuan nan baik, pandangan-pandangan tersebut adalah bukan milikku yang dahulunya adalah pandangan-pandangan-ku;
Aku melihat lewatnya cahaya cemerlang di dunia Brahmana;
Bagaimana bisa aku katakan hari ini; aku adalah keka, abadi?'
Bhikkhu apapun, siswa dari yang Tersadar, mengerti ini
Yang gelap, karena menyerang bhikku semacam itu akan menderita.
Barang siapa, dengan pembebasan, telah memenangkan puncak Neru Besar,
Hutan dari Videha-videha sebelah timur, dan orang apapun tidur di atas tanah Bhikkhu apapun, siswa Yang Telah tersadar, mengerti akan ini yang gelap, karena menyerang seorang bhikkhu seperti itu akan menderita.
Sesungguhnya, api itu tidak berpikir, 'aku sendang membakar si bodoh,'
Sebab orang bodoh itu membakar diri dengan menyerang apa yang membar;
Sekalipun demikian, kamu, Mara, dengan menyerang Sang Tathagata,
Dirimu sendiri akan membakar diri sendiri bagaikan seorang bodoh menyentuh api. Mara memperoleh aib karena menyerang Tathagata.
Tetapi janganlah kamu berpikir, Si Jahat: Kejahatan tidak bisa matang bagiku?
Kejahatan yang dilakukan harus ditimbun lama, pembuat akhir.
Mara, berbalilah dari yang Sadar, tidak ada harapan di antara para bhikkhu, Demikian seorang bhikkhu menurus Mara Di dalam Hutan Bhesakala,
Mengapa setan yang putus asa itu menghilang pada waktu itu dan disana juga.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar