Selasa, 16 Maret 2010

ANUPADASUTTA

ANUPADASUTTA
(111)


[25] Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava tinggal dekat Savatthi, di Hutan Jeta, di Vihāra Anathapindika. Di sana Beliau menyapa para bhikkhu demikian: "Para Bhikkhu." "Yang Mulia," jawab para bhikkhu. Sang Bhagava berkata demikian:

"Yang ahli , para bhikkhu, adalah Sariputta; yang punya kebijaksanaan tinggi , para bhikkhu, adalah Sariputta; yang punya kebijaksanaan luas para bhikkhu, adalah Sariputta; yang senang bertindak bijaksana , para bhikkhu, adalah Sariputta; yang tangkas dalam kebijaksanaan, para bhikkhu, adalah Sariputta; yang punya kebijaksanaan tajam, para bhikkhu, adalah Sariputta; yang punya kebijaksanaan menembus, para bhikkhu, adalah Sariputta. Selama setengah bulan, para bhikkhu, Sariputta mendapat pengertian terus-menerus tentang banyak hal. Hal ini, para bhikkhu, yang menyebab¬kan pengertian Sariputta yang tak terputus tentang banyak hal: untuk ini, para bhikkhu, Sariputta menjauhkan diri dari kesenangan-kesenangan indria, jauh dari keadaan pikiran yang tidak terlatih, memasuki dan berada dalam jhāna pertama yang disertai dengan pemik¬iran awal dan pemikiran yang tidak bersambungan, lahir dari sikap menjauhkan diri, dan menggiurkan serta menggembirakan. Dan hal-hal yang termasuk dalam jhāna pertama: pemikiran awal dan pemikiran penopang dan kegiuran dan kegembiraan dan pemusatan piki¬ran impingement , perasaan, pencerapan, kehendak , pemikiran , keinginan, ketetapan hati, energi , perhatian penuh ketenangan , perhatian , secara terus-menerus dibentuk olehnya; diketahui olehnya hal-hal ini timbul, diketahui olehnya hal-hal ini terus berlangsung, diketahui olehnya hal-hal ini hi¬lang. Ia memahami demikian: 'Hal-hal demikian yang tidak ada di dalam saya muncul; mengetahui mereka berlalu.' Ia, tak merasa terta¬rik 17 dengan hal-hal ini, tak merasa menolak 18, tak memihak 19, tak tergila-gila 20, bebas 21, terlepas 22, merenung dengan pikiran yang tak dibatasi 23. Ia memahami: 'Ada pelepasan selanjutnya.' 24 Ada latihan giat untuknya mengenai hal itu.

Dan sekali lagi, para bhikkhu, Sariputta, dengan melenyapkan pemikiran awal dan pemikiran yang tidak bersambungan, dengan piki¬ran yang telah ditenangkan dan dipusatkan ke satu titik, [26] memasuki dan berada dalam jhāna ke dua yang tanpa pemikiran awal dan pemikiran tak bersambungan, lahir dari konsentrasi, dan menggiurkan serta menggembirakan. Dan hal-hal yang termasuk dalam jhana kedua: ketenangan batin dan kegiuran dan kegembiraan dan pemusatan piki¬ran, impingement, perasaan ... ketenangan, perhatian, secara terus-menerus dibentuk olehnya; diketahui olehnya hal-hal ini ... hilang. Ia memahami ... 'Ada pelepasan selanjutnya.' Ada latihan giat untuknya mengenai hal itu.

Dan sekali lagi, para bhikkhu, Sariputta, dengan lenyapnya kegiuran, merenung dengan ketenangan, penuh perhatian dan sadar sepenuhnya, dan ia mengalami sendiri kegembiraan yang dikatakan para ariya: 'Hidup bergembiralah ia yang memiliki ketenangan dan penuh perhatian,' dan ia memasuki dan berada dalam jhāna ke tiga. Dan hal-hal yang termasuk dalam jhāna ke tiga: ketenangan dan kegem¬biraan dan perhatian penuh dan kesadaran sepenuhnya ... ketenangan, perhatian, secara terus-menerus dibentuk olehnya; diketahui olehnya hal-hal ini ... hilang. Ia memahami ... 'Ada pelepasan selanjutnya.' Ada latihan giat untuknya mengenai hal itu.
Dan sekali lagi, para bhikkhu, Sariputta, dengan lepas dari kegem¬biraan, dengan lepas dari kesedihan, dengan hilangnya kesenangan dan kesedihan sebelumnya, memasuki dan berada dalam jhāna ke empat yang tanpa kesedihan maupun kegembiraan, dan yang dimurnikan selu¬ruhnya oleh ketenangan dan perhatian penuh. Dan hal-hal yang terma¬suk dalam jhāna ke empat: ketenangan, perasaan yang tidak menyakit¬kan maupun menyenangkan ... 25 pikiran yang tanpa perasaan 26, pemurnian oleh perhatian penuh, pemusatan pikiran, dan impingement, perasaan, pencerapan, kehendak, pemikiran, keinginan, ketetapan hati, energi, perhatian penuh, ketenangan, perhatian, secara terus-menerus dibentuk olehnya; diketahui olehnya hal-hal ini timbul, diketahui olehnya hal-hal ini terus berlangsung, [27] diketahui olehnya hal-hal ini hilang. Ia memahami ... 'Ada pelepasan selan-jutnya.' Ada latihan giat untuknya mengenai hal itu. Dan sekali lagi, para bhikkhu, Sariputta, dengan melampaui pencerapan-pencera¬pan tentang bentuk fisik benda, dengan hilangnya pencerapan-pencer¬apan tentang reaksi indera, dengan tidak membiarkan pencerapan-pencerapan tentang perubahan, berpikir: 'Ruang adalah tanpa batas,' memasuki dan berada dalam keadaan ruang tanpa batas. Dan hal-hal yang termasuk dalam keadaan ruang tanpa batas: pencerapan dalam keadaan ruang tanpa batas dan pemusatan pikiran dan impingement, perasaan ... ketenangan, perhatian, secara terus-menerus dibentuk olehnya; diketahui olehnya hal-hal ini ... hilang. Ia memahami ... 'Ada pelepasan selanjutnya.' Ada latihan giat untuknya mengenai hal itu.

Dan sekali lagi, para bhikkhu, Sariputta, dengan melampaui keadaan ruang tanpa batas, berpikir: 'Kesadaran adalah tanpa batas,' memasuki dan berada dalam keadaan kesadaran tanpa batas. Dan hal-hal yang termasuk dalam keadaan kesadaran tanpa batas: pencerapan dalam keadaan kesadaran tanpa batas dan pemusatan piki¬ran dan impingement, perasaan ... ketenangan, perhatian, secara terus-menerus dibentuk olehnya; diketahui olehnya hal-hal ini ... hilang. Ia memahami ... 'Ada pelepasan selanjutnya.' Ada latihan giat untuknya mengenai hal itu.

[28] Dan sekali lagi, para bhikkhu, Sariputta, dengan me¬lampaui keadaan kesadaran tanpa batas, berpikir: 'Tidak ada suatu apapun,' memasuki dan berada dalam keadaan kekosongan. Dan hal-hal yang termasuk dalam keadaan kekosongan: pencerapan dalam keadaan kekosongan dan pemusatan pikiran dan impingement, perasaan ... ketenangan, perhatian, secara terus-menerus dibentuk olehnya; diketahui olehnya hal-hal ini ... hilang. Ia memahami ... 'Ada pelepasan selanjutnya.' Ada latihan giat untuknya mengenai hal itu.

Dan sekali lagi, para bhikkhu, Sariputta, dengan melampaui keadaan kekosongan, memasuki dan berada dalam keadaan bukan pencera¬pan maupun bukan-bukan pencerapan. Penuh perhatian, ia keluar dari pencapaian itu. Ketika ia telah keluar, penuh perhatian, dari pencapaian itu ia memperhatikan hal-hal yang telah berlalu, berhen¬ti, berubah: 'Hal-hal demikian yang tidak ada di dalam saya muncul; mengetahui mereka berlalu.' Ia, tak merasa tertarik dengan hal-hal ini, tak merasa menolak, tak memihak, tak tergila-gila, bebas, terlepas, merenung dengan pikiran yang tak dibatasi. Ia memahami: 'Ada pelepasan selanjutnya.' Ada latihan giat untuknya mengenai hal itu.

Dan sekali lagi, para bhikkhu, Sariputta, dengan melampaui keadaan bukan pencerapan maupun bukan-bukan pencerapan, memasuki dan berada dalam penghentian pencerapan dan perasaan. Dan mengerti dengan menggunakan kebijaksanaan yang timbul sebagaimana adanya, kebobrokan batinnya dihancurkan sama sekali. Penuh perhatian, ia keluar dari pencapaian itu. Ketika ia telah keluar, penuh perha¬tian, dari pencapaian itu ia memperhatikan hal-hal yang telah berlalu, berhenti, berubah: 'Hal-hal demikian yang tidak ada di dalam saya muncul; mengetahui mereka berlalu.' Ia, tak merasa tertarik dengan hal-hal ini, tak merasa menolak, tak memihak, tak tergila-gila, bebas, terlepas, merenung dengan pikiran yang tak dibatasi. Ia memahami: 'Tidak ada pelepasan selanjutnya.' Tidak ada latihan giat untuknya mengenai hal itu.

Para bhikkhu, bila siapapun berkata dengan benar dapat menyebut seseorang: 'Ia telah mencapai keahlian, ia telah melampaui 27 kebiasaan moral ariya; ia telah mencapai keahlian, [29] ia telah melampaui konsentrasi ariya; ia telah mencapai keahlian, ia telah melampaui kebijaksanaan ariya; ia telah mencapai keahlian, ia telah melampaui kebebasan ariya' - berkata dengan benar ia dapat menyebut Sariputta: 'Ia telah mencapai keahlian, ia telah melampaui kebia¬saan moral ariya; ia telah mencapai keahlian, ia telah melampaui ... kebebasan ariya.'

Para bhikkhu, bila siapapun berkata dengan benar dapat menyebut seseorang: 'Ia adalah putra Sang Bhagava, lahir dari mulut¬nya, lahir dari Dhamma, terbentuk dari Dhamma, pewaris Dhamma, bukan pewaris hal-hal material' - berkata dengan benar ia dapat menyebut Sariputta: 'Ia adalah putra Sang Bhagava, lahir dari mulutnya, lahir dari Dhamma, terbentuk dari Dhamma, pewaris Dhamma, bukan pewaris hal-hal material.'

Sariputta, para bhikkhu, menjalani secara benar roda Dhamma yang tiada bandingnya yang diputarkan oleh Tathagata." Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa puas dan bersuka¬cita dengan perkataan Sang Bhagava.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar