Selasa, 16 Maret 2010

RATTHAPALA SUTTA

RATTHAPALA SUTTA
82

Demikian telah ku dengar:
Pada suatu kesempatan tatkala Sang Bhagava sedang berkelana di negeri Kuru bersama-sama dengan sejumlah besar bhikkhu-bhikkhu, Beliau secara kebetu¬lan sampai ke kota Thullakotthhita, yakni suatu kota kaum Kuru.
Para Brahmana dan kepala rumah-tangga dari Thullakotthita mendengar ini: "Sang Petapa Gotama, putera bangsa Sakya yang meninggalkan rumah tangga-Nya yakni suatu keluarga sakya, kelihatannya sedang berkelana di negeri Kuru dengan serombongan bhikkhu-bhikkhu serta telah sampai di Thullakotthita. Sekarang kabar baik tentang Sang Buddha Gotama telah tersebar luas dalam bentuk seperti berikut:
"Demikianlah Sang Bhagava yang telah mencapai tujuan, Sang Keramat, Sempurna dalam pengetahuan dan kebajikkan, yang terbahagia (sugata), pengenal setiap alam, pembimbing umat manusia tanpa bandingannya.
Beliau menerangkan dunia ini dengan para dewanya, para maranya, serta para Brahma para samana serta Brahmananya dengan para pangerannya tadi Beliau sendiri tembus secara langsung. Beliau mengajarkan suatu doktrin (dhamma) yang penuh berkah pada permulaannya, penuh berkah pada pertengahannya dan penuh berkah pada akhirnya, baik dalam sarinya maupun aksaranya. Beliau memperkenal¬kan kehidupan suci, yang semuanya tadi betul-betul murni dan sempurna. Sesung¬guhnya merupakan suatu kebaikan untuk melihat Yang Maha Sempurna tadi"
Kemudian para brahmana dan kepala keluarga dari Thullakotthita pergi menghadap Sang Bhagava, dan mendekatinya, beberapa antara mereka menghormat Beliau dan mengambil duduk disatu samping, beberapa lagi memberi salam kepada Sang Bhagava dan setelah saling bertutur kata santun sebagaimana layaknya, duduklah mereka kesamping; beberapa lainnya lagi, sebelum mengambil tempat duduk, mengulurkan tangan mereka guna bersalam-salaman dengan Sang Bhagava, laganya kepada Beliau sebelum duduk sedangkan yang lainnya lagi duduk dengan diam-diam.
Ketika mereka telah duduk, Sang Bhagava memberikan anjuran-anjuran membangkitkan serta memberi semangat kepada mereka dengan ajaran Beliau.
Sekarang pada saat itu seorang berkeluarga bernama Ratthapala, putera dari kepala kaum Thullakotthita, sedang duduk dalam kelompok tadi. Kemudian pikiran ini terjadilah padanya: "Sebagaimana aku memahami akan Ajaran yang diberikan Sang Bhagava, bahwa tak mungkinlah, sambil hidup berumah tangga, untuk menempuh Penghidupan Suci sesempurna dan semurni chitin (lapisan mengki¬lap dari kulit kerang). Sebaiknya aku mencukur gundul kepala dan jenggotku, mengenakan jubah kuning, serta pergi selama-lamanya meninggalkan penghidupan berumah-tangga kepenghidupan tanpa rumah (menjadi Bhikkhu).
Kemudian para brahmana, kepala keluarga dari Thullakotthita, setelah diberi instruksi, dianjurkan, dibangkitkan, dan dibikin bersemangat oleh Sang Bhagava dengan pembicaraan-pembicaraan tentang dhamma, yang ajaran menyenang¬kan dalam kata-katanya dan penerimaannya, bangkitlah mereka dari sikap duduk mereka dan setelah menyatakan hormat pada beliau, mereka bubar dengan mengam¬bil langkah sebelah kiri Beliau.
Segera setelah mereka pergi, Ratthapala si terpandang dalam kaumnya menghadap Sang Bhagava, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, mengambil tempat duduk disamping beliau. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, sebagaimana hamba mengerti ajaran yang Sang Bhagava berikan, adalah tak mungkin sambil hidup berumah tangga menempuh penghidupan suci sesempurna dan semurni chitin layaknya. Bhante, hamba ingin mencukur gundul kepala dan jenggot, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan penghidupan berumah tangga menuju kepenghidupan tanpa rumah. Mudah-mudahan Sang Bhagava sudi menerima hamba menjadi Samanera, mudah-mudahan hamba menerima Kebhikkhuan (menjadi bhikkhu) hamba. "Sudahkah kamu mendapat izin orang tuamu, Rathapala, untuk meninggalkan penghidupan berumah-tangga kepenghidupan tanpa rumah?"
???
"Belum, Bhante".
"Sang Tathagata tak akan memberikan ke-samaneraan kepada seorang anak tanpa sizin orang tuanya, Rathapala".
"Bhante, hamba akan melakukan hal itu hinga orang tua hamba mengijinkan hamba untuk meninggalkan penghidupan berumah-tangga untuk menjadi seorang rahib."
Kemudian, siterpandang dalam kaumnya Ratthapala bangkit dari duduknya, dan setelah memberi hormat kepada Sang Bhagava ia mengundurkan diri dengan mengambil langkah kesebelah kiri Beliau. Ia menghadap keorang tuanya dan berkata: "Ibu dan ayah, sebagaimana aku ketahui ajaran yang Sang Bhagava berikan, adalah tak mungkin, sambil hidup berumah tangga, menuntut penghidupan suci sesempurna dan semurni chitin layaknya. Aku ingin mencukur gundul kepala dan jenggotku, mengenakan jubah kuning, dan pergi meninggalkan penghidupan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah. Berilah aku permisi untuk meninggal¬kan penghidupan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah". Ketika ia telah mengatakan ini orang tuanya menjawab: "Ratthapala tercinta, kamu adalah satu-satunya putera kami, terkasih dan tersayang; kamu telah dibesarkan dalam kesenangan, dididik dalam kesenangan. Kamu sama sekali tak mengenal derita, Ratthapala sayang. Bahkan dalam hal kematianmu, hanya bukan kehendaklah yang mengharuskan kami berpisah darimu (kehilangan kamu). Namun selagi kamu masih hidup, apakah mungkin kami memberimu permisi untuk meninggalkan penghidupan berumah- tangga kepenghidupan tanpa rumah?"
Untuk kedua kalinya ... untuk ketiga kalinya siterpandang Ratthapala berkata kepada orang tuanya: "Ibu dan ayah, ... Berilah aku permisi untuk meninggalkan penghidupan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah".
Untuk ketika kalinya orang tuanya menjawab: "Ratthapala sayang, ... Namun selagi kamu masih hidup, bagaimana mungkin kami memberikan izin untuk meninggalkan penghidupan berumah-tangga kepenghidupan tanpa rumah?"
Kemudian, karena tak mendapatkan izin orang-tuanya untuk menjadi saman¬era, si terpandang Ratthapala mengelumpruk bersimpuh di sana di lantai tanpa alas (dan berkata), "Disinlah aku akan mati atau mendapatkan izin menjadi Samanera".
Kemudian orang tua si terpandang Ratthapala berkata kepadanya: "Rathapa¬la sayang, kamu adalah satu-satunya anak kami, kesayangan dan kecintaan; kamu telah dibesarkan dalam kesenangan, dibimbing dalam kesenangan. Kamu sama sekali tak mengenal penderitaan, Ratthapala sayang. Bangunlah, Ratthapala sayang, makan, minum dan bersenanglah dirimu. Sambil makan, minum dan perse¬nanglah dirimu, kamu dapat menikmati kenikmatan-kenikmatan indera, dan menger¬jakan hal-hal yang berguna. Bahkan dalam hal kematianmu, hanya bukan kehendak¬lah yang menharuskan kami berpisah darimu. Namun selagi kamu masih hidup, bagaimana mungkin kami memberi izin untuk meninggal kan penghidupan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah?"
Ketika ini diucapkan, si terpandang Ratthapala diam saja.
Untuk kedua kalinya ... untuk ketiga kalinya orang tuanya berkata kepa¬danya: "Ratapala sayang, kamu adalah satu-satunya anak kami ... bagaimana mungkin kami akan memberimu izin meninggalkan ...? untuk ketiga kalinya Rat¬thapala berdiam saja.
Kemudian teman-teman si terpandang Ratthapala menemui nya dan berkata: Ratthapala sayang, kamu adalah satu-satunya putera dari ayahmu, dikasihi dan dicintai; kamu telah dibesarkan dalam kesenangan, dibimbing dalam kesenangan. Kamu sama sekali tak mengenal penderitaan, Ratthapala sayang. Bangun Ratthapa¬la, makan minum serta mempersenang dirimu, kamu dapat menikmati kenikmatan- kenikmatan indera serta mengerjakan hal-hal yang berguna. Orang tuamu tak mengijinkanmu untuk pergi selama-lamanya meninggalkan penghidupan berumah tangga ke penghidupan tanpa rumah. Bahkan dalam hal kematianmu, orang tuamu akan kehilangan kamu karena terpaksa. Tetapi selagi kamu masih hidup, bagaima¬na mungkin mereka mengizinkanmu pergi selama-lamanya meninggalkan penghidupan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah?"
Ketika hal ini dikatakan, si terpandang Ratthapala diam saja.
Untuk kedua kalinya ... untuk ketiga kalinya teman-temannya berkata kepadanya: Ratthapala sayang, kamu adalah hanya satu- satunya putera ... bagaimana mungkin mereka mengizinkanmu untuk pergi selama-lamanya meninggalkan penghidupan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah?"
Untuk ketiga kalinya Ratthapala berdiam saja.
Kemudian teman-teman Ratthapala pergi ke orang tuanya dan berkata kepa¬danya: "Ibu dan ayah, si terpandang Ratthapala telah mengelumpruk (ndeprok, duduk sesukanya) di sana di atas lantai tanpa alas (sambil berpikir), di sinilah aku akan mati atau mendapatkan ke samaneraan. Sekarang bila kamu tak memberikan izin untuk pergi selama-lamanya meninggalkan penghidupan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah, ia akan mati disana. Tetapi bila kamu mem¬beri izin, kamu akan melihatnya setelah ia menjadi samanera. Dan bila tak menyukai kesamaneraannya, apa lagi yang akan ia perbuat selainnya kembali ke sini? Jadi berilah ia ijinmu untuk pergi meninggalkan penghidupan berumah-tangga kepenghidupan tanpa rumah".
"Kemudian kami memberi Ratthapala ijin kami untuk pergi meninggalkan penghidupan berumah tangga, kepenghidupan tanpa rumah. Tetapi apabila ia telah menjadi bhikkhu, ia harus mengunjungi orang tuanya".
Demikianlah teman-teman Ratthapala menemuinya dan memberitahukannya: "Bangunlah sayang, Ratthapala, orang tuamu telah memberikan izin untuk pergi meninggalkan penghidupan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah. Tetapi bila kamu telah menjadi bhikkhu, kamu harus mengunjungi orang-tuamu".
Si terpandang Ratthapala kemudian bangkit, dan ketika kekuatannya telah pulih, ia pergi menghadap Sang Bhagava, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, duduk kesamping. Setelah ia berbuat demikian, ia berkata: "Bhante, hamba telah mendapatkan ijin orang tua hamba untuk pergi meninggalkan penghid¬upan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah. Sudilah Sang Bhagava membiarkan hamba menjadi Samanera". Demikianlah si terpandang Ratthapala diterima menjadi Samanera oleh Sang Bhagava, dan ia menerima kebhikkhuannya.
Kemudian segera setelah peresmian ke bhikkhuan Y.A.Ratthapala, ketika ia telah diijinkan penuh selama dua minggu, Sang Bhagava, telah berdiam di Thul¬lakotthita selama Beliau kehendaki, merencanakan dalam perjalanan keliling ke Savatthi. Berkelana dengan terhenti-henti, beliau sampai di Savatthi dan berdiam di sana dalam Hutan Jetavana dalam taman Anathapindika.
Sementara itu Yang Aria Ratthapala hidup menyendiri dan terasing, tekun, rajin dan dengan teguh hati. Dan demi tujuan akhir dari manusia yang berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah, yakni kesempurnaan tertinggi dari kehidupan suci, yang belum lama beliau ingin ketahui secara langsung, dalam hidup ini pula, menghayatinya meyelaminya dan bertahan di dalamnya: "Kelahiran telah terhenti, kehidupan suci telah tumbuh, selesailah sudah tugas dan tak adalah kelanjutan yang menanti sesudah ini". Demikianlah beliau tahu.
Dan Yang Aria Ratthapala telah mencapai tingkat arahat.
Kemudian Y.A. Ratthapala pergi mendapatkan Sang Bhagava, dan setelah memberi salam kepada Beliau, duduk di samping, kemudian beliau berkata: "Bhante, hamba ingin menjenguk orang tua hamba, bila Sang Bhagava mengijinkan-nya".
Kemudian Sang Bhagava, setelah menembus bathin Y.A. Ratthapala, mengeta¬hui demikian: "Si terpandang Ratthapala, mengetahui demikian: "Si terpandang Ratthapala tak mungkin meninggalkan latihan dan kembali pada apa yang telah terikat, dan Beliau menganjurkannya" Perbuatlah sekarang, Ratthapala, apa yang kamu rasa pantas pada saat ini."
Y.A. Ratthapala bangkit, dan setelah memberi hormat kepada Sang Bhagava, ia berangkat dengan mengambil langkah lewat sebelah kiri Beliau. Kemudian ia merencanakan tempat-tempat istirahatnya terperinci, dan mengambil mangkuk dan mengenakan jubah luarnya, ia berangkat ke Thullakotthita. Berkelana dengan terhenti-henti, ia kebetulan sampai di Thullakotthita.
Di sana ia berdiam di taman Migacira milik raja Koravya. Kemudian apabi¬la pagi telah tiba, beliau mengenakan pakaian, dan sambil membawa mangkuk dari jubah luarnya, pergilah ke Thullakotthita untuk mencari sedekah. Demikian beliau berkelana dari satu rumah ke rumah lain, beliau sampai kerumah orang tuanya.
Sekarang pada kesempatan tadi ayah Y.A. Ratthapala sedang duduk diruan¬gan tengah menyisir rambutnya. Ia melihat Y.A. Ratthapala datang dari jauh, dan memapahnya, ia berkata: "Putera kami yang satu-satunya, begitu sayang dan berbakti kepada kami, menjadi rahib dengan cukuran seperti kera ini". Demiki¬anlah Y.A. Ratthapala tak mendapatkan sedekah maupun penolakan yang sopan dalam rumah orang-orang tuanya sendiri, dan malah hanya mendapat caci maki.
Sekarang pada saat itu seorang budak milik keluarga Y.A. Ratthapala, telah hampir membuang sejumlah bubur yang basi. (melihat ini) Y.A. Ratthapala berkata kepadanya: "Adik, bila itu akan dibuang, baiklah dituangkan ke dalam mangkuk kami ini".
Ketika ia sedang melakukan begitu, ia mengenal sifat-sifat dari bentuk tangan, kaki dan suara beliau. Seketika ia pergi menghadap ibu Y.A. dan berka¬ta: "Sekiranya hal ini menyenangkan- mu, nyonya", nyonya seharusnya mengetahui bahwa sang putera Rathapala kembali.
Oh, begitu? Bila bicara benar, kamu akan bebas sebagai budak."
Kemudian ibu Y.A. Ratthapala menghadap ayah beliau dan berkata:
"Bila hal ini menyenangkanmu, kepala keluarga, kamu seharusnya mengeta¬hui bahwa si terpandang Ratthapala kembali."
Tepat pada saat itu Y.A. Ratthapala sedang makan bubur basi dekat dind¬ing yang terlindung. Ayah beliau pergi mendapatkannya dan berkata: "Ratthapala sayang, tentu saja ada ... dan kamu sedang memakan bubur basi. Tak adakah rumahmu tempat kau tuju?"
"Dimanakah ada rumah untuk kami yang telah pergi selama- lamanya mening¬galkan penghidupan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah, kepala rumah tangga. Kami adalah orang-orang yang tanpa rumah, kepala rumah tangga. Kami telah sengaja datang ke rumahmu, kepala rumah tangga, namun kami tak mendapat¬kan sedekah maupun penolakan yang sopan, hanya caci-maki yang kami dapatkan".
"Ke sinilah, Ratthapala sayang, marilah kita masuk ke rumah".
"cukuplah, kepala rumah tangga, aku telah menyelesaikan makanku untuk hari ini".
"Baiklah, Ratthapala sayang, terimalah makan untuk besok".
Yang Ariya menerimanya dengan diam.
Mengetahui bahwa puteranya telah menerima, ayah Ratthapala pulang kemba¬li ke rumah. Di sana ia telah mempunyai sejumlah gundukkan besar dari mata uang emas dan emas yang bukan berupa mata uang serta telah disembunyikan dengan tirai. Kemudian ia mengatakan kepada isteri pertama Y.A. Ratthapala: "Kesinilah, menantuku, berpakaianlah seperti biasanya dimana kamu paling dicintai dan disayangi oleh Ratthapala".
Ketika malam telah berakhir, ayah Y.A., Ratthapala telah siap dengan penyediaan mekanan yang baik di rumahnya, dan tibalah waktu untuk mengumumkan¬nya (mengundang) kepada Y.A. Ratthapala: "Inilah saatnya, Ratthapala, sayang, makanan telah siap"
Demikianlah, pada pagi itu, Y.A. Ratthapala berpakaian, membawa mangkuk serta jubahnya, beliau pergi kerumah ayah beliau, dan duduk pada tempat yang telah disediakan.
Kemudian ayah beliau membuka timbunan mata uang emas dan emas yang tak berupa mata-uang serta berkata: "Ini, Ratthapala sayang, adalah kekayaan ibumu, yang lainnya ini adalah kekayaan ayahmu, dan itu adalah kekayaan mo¬yangmu. Ratthapala sayang, kamu dapat menggunakan kekayaan-kekayaan itu dan berbuat jasa. Kemarilah, tinggalkan latihan itu, gunakan kekayaan itu dan buatlah jasa."
"Kepala rumah tangga, bila kamu menurut tawaranku, baik muatlah mata uang emas dan emas-emas yang berupa mata uang tadi ke dalam kereta serta bawa dan buanglah ke dalam pusat arus sungai Gangga. Dan mengapa (kamu sebaiknya melakukan itu)? Sebab, kepala rumah tangga, itu akan menjadikanmu sumber penyesalan dan ratap tangis, penderitaan, dukacita dan keputusasaan".
Kemudian isteri pertama Y.A. Ratthapala menangkap kaki beliau, serta berkata: "Seperti apakah mereka itu, tuan muda, demi kepentingan bidadarikah yang membawamu kepenghidupan suci?"
"Kami tak terbimbing ke Penghidupan suci demi bidadari, nyonya".
"Tuan muda Ratthapala menyebut kami "nyonya", mereka menjerit, dan mereka jatuh pingsan ditempat itu.
Kemudian Y.A. Ratthapala berkata kepada ayah beliau; 'Kepala rumah tangga, jika ada makanan yang akan diberikan, baik berikanlah. Janganlah menggoda kami".
"Makanlah, Ratthapala sayang, makanan telah siap".
Demikianlah dengan tangannya sendiri ayah Y.A. Ratthapala melayani dan memuaskan beliau dengan makanan yang mewah, yang padat dan yang lunak.
Ketika Y.A. Ratthapala telah selesai makan dan menarik tangan beliau dari mahluk, beliau berdiri seraya menggunakan sajak-sajak ini:
"Lihatlah ke sini sebuah boneka yang diperagakan,
suatu jasmani yang terbuat dari duka nestapa,
Sakit, dan menjadi tumpuan banyak soal,
Di mana tak ada ke stabilan berdiam.
Lihatlah ke sini suatu tampang yang diperagakan,
Dengan permata dan hiasan-hiasan telinga pula,
Suatu tulang yang terbungkus dalam kulit,
Membikin terpercaya dalam pakaiannya.
Kaki-kakinya dihiasi dengan cat henna,
Dan bedak-bedak disemirkan pada mukanya,
Itu boleh mengecohkan yang bodoh, tapi tidak
Seorang pencari pantai - seberang.
Suatu jasmani yang tercemar, tanpa dek (selaput)
Bagaikan sebuah kendi yang ter-cat dengan salep;
Itu boleh mengecohkan si-bodoh, namun tidak
Seorang pencari pantai - seberang.
Pemburu kijang berdiri tepat pada perangkap,
Namun si kijang belum melompat masuk perangkap;
Kami telah makan umpannya, dan berangkatlah kami,
Meninggalkan pemburu-pemburu meratap".
Ketika Y.A. Ratthapala telah mengucapkan sajak-sajak ini sambil berdiri, kemudian beliau pergi ke taman Koravya Migacira dan duduk pada akar suatu pohon untuk melewatkan waktu.
Kemudian raja Koravya menyapa tukang kebunnya: "Tukang kebun yang baik, bersihkan taman Migacira, hingga kita dapat pergi ke kebun yang menyenangkan untuk melihat tempat-tempat yang menyenangkan". Ya, tuan hamba" si tukang kebun menjawab.
Sekarang ketika ia telah mendapatkan taman Migacira bersih, ia melihat Y.A. Ratthapala duduk pada akar dari suatu pohon untuk melewatkan waktu. Oleh karena melihat beliau pergilah ia menghadap raja Korava dan bersembah:
"Tuan-hamba, taman Migacira telah bersih. Tetapi sang terpandang Rattha¬pala berada di sana, anak dari kepala marga dari Thullakotthita ini, yang mana tuan hamba telah selalu menyanjung- nyanjung, ia duduk pada akar dari suatu pohon untuk melewatkan waktu".
"Baiklah, tukang kebun yang baik, cukuplan bersenang-senang di kebun hari ini. Kita sekarang akan menghormat Guru Ratthapala tadi".
Dan ia berkata lebih lanjut; "Berikan semua makanan padat dan lunak yang telah disediakan" Demikianlah raja Korava telah mempunyai sejumlah kereta kerajaan yang siap dan menaiki salah satu di antaranya, ia mengendarainya keluar dari Thullakotthita dengan penuh keindahan dan kemegahkan untuk menemui Y.A. Ratthapala. Ia mengendarai kereta tadi sejauh jalan yang masih dapat dilaluinya, dan kemudian ia turun dari keretanya dan dengan disertai keresmian berjalanlah ia menuju di mana Y.A. Ratthapala berada. Ia bertukar salam dengan Y.A. Ratthapala berada. Ia bertukar salam Y.A. Ratthapala, dan ketika pembica¬raan keramah- tamahan telah selesai ia berdiri di samping. Kemudian ia berka¬ta: "Ini adalah alas duduk dari kulit gajah. Silahkan Bhante Ratthapala duduk di situ".
"Tak perlukah, raja agung. Duduklah, aku duduk pada tikarku sendiri".
Raja Koravya duduk pada tempat duduklah, aku duduk pada tikarku sendiri".
Raja Koravya duduk pada tempat duduk yang telah di siapkan, dan setelah begitu ia berkata:
Bhante Ratthapala, ada empat macam kehilangan. Setelah mengalami kehi¬langan ini, beberapa orang di sini mencukur gundul kepala dan jenggotnya, mengenakan jubah kuning dan pergi selama- lamanya meninggalkan penghidupan berumah tangga ke penghidupan tanpa rumah. Apakah keempatnya itu? Mereka kehilangan melalui umur tua, kehilangan melalui kesakitan, kehilangan ke¬kayaan/milik, serta kehilangan kerabat".
Dan apa itu kehilangan melalui umur tua? Di sinilah seorang itu berumur, tua, dibebani umur, makin lanjut dalam hidup dan sampai ke taraf akhir. Ia memikir begini, "aku seorang tua, dibebani oleh umur, makin lanjut dalam hidup dan sampai pada akhir. Adalah tak mungkin dalam hidup dan sampai pada akhir. Adalah tak mungkin lagi bagiku untuk memenuhi milik-milik yang belum tercapai maupun menambah milik-milik yang belum tercapai maupun menambah milik yang telah termiliki. Baiklah aku mencukur gundul kepala dan jenggotku, mengenakan jubah kuning, dan pergi selama-lamanya meninggalkan penghidupan berumah-tangga kepenghidupan tanpa rumah?" Demikianlah siapa-siapa yang telah hilang melalui umur tua, mencukur gundul kepala dan jenggotnya, mengenakan jubah kuning dan pergi selama-lamanya meninggalkan penghidupan berumah tangga kepenghidupan tanpa rumah. Inilah yang disebut hilang melalui umur tua. Tetapi bhante, penuh dengan berkah keremajaan, dalam hidup yang berkembang ini. Tak adalah hilang melalui umur tua pada bhante Ratthapala. Apakah yang telah bhante Ratthapala ketahui atau lihat ataupun dengar hingga beliau pergi menjadi seorang bhikkhu?"
Dan apa itu kehilangan melalui penyakitan? Inilah orang-orang yang ditimpa penyakit, menderita dan menyedihkan. Ia berpikir demikian, "Aku ditim¬pa penyakit (penyakitan), aku menderita, penuh kesedihan. Adalah tak mungkin untukku untuk memenuhi ... baiklah aku menjadi Bhikkhu. Tetapi bhante Rattha¬pala sekarang tak kesusahan dan penyakitan, mempunyai pencernaan yang baik yang tak begitu dingin maupun begitu panas tetapi tengah-tengah. Tak adalah kehilangan melalui penyakitan. Apakah yang telah bhante Ratthapala ketahui. Lihat maupun dengar hingga beliau pergi menjadi bhikkhu?
Dan apakah kehilangan melalui kekayaan? Inilah orang-orang yang kaya, dengan harta dan kekayaan yang bertumpuk-tumpuk. Pelan- pelan miliknya tadi berkurang. Berpikirlah ia begini, "Semula aku kaya dengan harta benda dan hak milik yang besar. Perlahan-lahan milikku tadi telah berkurang. Adalah tak mungkin untukku guna memenuhi milik-milik yang belum terpenuhi maupun menambah milik yang telah dipunyai. Baiklah aku menjadi seorang bhikkhu". Inilah yang disebut kehilangan melalui kekayaan. Tetapi bhante Ratthapala adalah anak dari ketua marga dari Thullakotthita ini. Tak adalah kehilangan kekayaan bagi bhante Ratthapala. Apakah yang telah bhante Ratthapala ketahui, lihat ataupun dengar hingga beliau menjadi bhikkhu?"
"Dan apakah yang dinamakan kehilangan melalui kerabat? Inilah orang-orang yang mempunyai banyak teman dan sahabat, kerabat dan keluarga. Perlahan-lahan para kerabat ini berkurang. Berpikirlah ia, "Semula, aku mempunyai banyak teman, sahabat, kerabat dan keluarga. Perlahan-lahan para kerabat tadi berkurang. Adalah tak mungkin bagiku untuk memenuhi milik yang belum terpenuhi ataupun menambah milik yang telah dipunyai. Andaikan, aku mencukur gundul kepala dan jenggotku, mengenakan jubah kuning. Baiklah aku pergi menjadi bhikkhu". Inilah yang dinamakan kehilangan melalui kerabat. Tetapi bhante Ratthapala mempunyai banyak teman-sahabat, keluarga dan kerabat dalam Thulla¬kotthita ini juga. Tak adalah yang dinamakan kehilangan melalui kerabat pada bhante Ratthapala. Apakah yang telah bhante Ratthapala ketahui atau lihat maupun dengar hingga beliau pergi menjadi bhikkhu".
Inilah semua, bhante Ratthapala, ke-empat kehilangan tadi penyebab dari orang-orang yang mencukur gundul kepala dan jenggot, mengenakan jubah kuning dan pergi menjadi seorang bhikkhu.
Bhante Ratthapala tak memiliki salah satu pun. Apakah yang telah bhante ketahui atau lihat maupun dengar hingga sang Ratthapala pergi menjadi bhikkhu?"
"Raja agung, ada empat pokok ajaran (dhammuddesa), yang telah diberikan oleh Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, yang telah mencapai tujuan dan penuh penerangan. Mengetahui dan melihat dan mendengar itu semua, kami pergi selama-lamanya meninggalkan penghidupan berumah-tangga kepenghidupan tanpa rumah. Apakah ke- empat ajaran tadi?"
Upaniyati loko addhuvo 'ti
"(Kehidupan dalam) alam (manapun juga) tidak kokoh, tersapu habis: inilah pokok ajaran yang pertama yang diberikan oleh Sang Bhagava yang menge¬tahui dan melihat serta mendengarkan inilah, kami pergi meninggalkan penghidu¬pan berumah tangga ke penghidupan tanpa rumah".
Attano loko anabhissaro'ti
"(Kehidupan dalam) alam (manapun juga) tak memiliki pernaungan dan tak memiliki perlindungan': Inilah pokok ajaran kedua yang diberikan ... ."
Assako loko, sabbang Pahayagamani yan'ti
"(Kehidupan dalam) alam (manapun juga) tak memiliki apapun juga; semua¬nya tertinggalkan dan berlangsung terus': Inilah pokok ajaran ketiga yang diberikan ... ."
Unoloko atittotanhadaso'ti
"(Kehidupan dalam ) alam (manapun juga) tidak lengkap, tak dapat dipuas¬kan dan merupakan budak dari nafsu': inilah pokok ajaran yang ke-empat yang diberikan Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, yang telah mencapai tujuan serta penuh penerangan. Mengetahui dan melihat serta mendengarkan itulah, kami pergi meninggalkan penghidupan berumah tangga ke penghidupan tanpa rumah.
"Inilah semua, Raja Agung Maharaja, keempat pokok ajaran yang diberikan oleh Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, yang telah mencapai tujuan serta penuh penerangan. Mengetahui dan melihat serta mendengarkan itulah, kami pergi meninggalkan penghidupan berumah-tangga ke penghidupan tanpa rumah".
"(Kehidupan dalam) alam (manapun juga) tidak kokoh, tersapu habis' seperti apa yang Guru Ratthapala katakan; tetapi bagaimanakah seharusnya pernyataan itu diartikan dan dimengertikan?"
"Apa yang Sri Baginda pikiran tentang ini: ketika tuan berumur 20 tahun dan sampai 25 tahun Sri Baginda merupakan seorang ahli penunggang gajah, ahli penunggal kuda, seorang ahli pengemudi kereta perang, seorang ahli pemanah, seorang ahli pedang, kuat dalam berpanah dan bertangan kuat, kuat dan tangkas dalam berperang?"
"Tentu saja, bhante Ratthapala, pada umur 20 dan 25 tahun, kami merupa¬kan seorang pengendara gajah yang mahir ... kuat dan tangkas dalam berperang; kadang-kadang kami berpikir bahwa kami ini adalah manusia yang maha kuat (16) kami tak melihat seorang pun yang menyamai kekuatan kami".
"Dan sekarang, maharaja, pikirkanlah: apakah kaki dan tangan Sri Baginda masih begitu kuat: serta kuat dan tangkas dalam berperang?"
"Tidak bhante Ratthapala. Sekarang kami telah tua, lanjut, dibebani umur, makin lanjut dalam hidup, dan makin dekat hari akhir; umur kami telah delapan puluh. Kadang-kadang kami tak dapat melangkahkan kaki dengan tepat".
"Oleh karena inilah, maharaja, Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, yang telah mencapai tujuannya serta penuh penerangan pepandang, bersabda, alam tidak tetap kokoh, tersapu habis, dan ketika kami mengetahui dan melihat serta mendengarkan itu, kami pergi meninggalkan penghidupan berumah tangga ke penghidupan tanpa rumah".
"Mengagumkan sekali, bhante Ratthapala, mengagumkan, mengherankan, bagaimana tepatnya apa yang telah dikatakan Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, yang telah mencapai tujuannya serta penuh penerangan: '(Kehidupan dalam) alam (manapun juga) tidak stabil, tersapu bersih', sebab demikianlah adanya!"
Bhante Ratthapala, ada dalam istana ini pasukan-pasukan gajah, kuda, kereta perang dan infantri, yang manakah yang akan diajukan untuk menaklukkan setiap gempuran kepada kami. Sekarang bhante Ratthapala telah mengatakan bahwa '(Kehidupan dalam) alam (manapun juga) tak memiliki pernaungan dan tak memi¬liki perlindungan'. Bagaimanakah menangkap arti pernyataan itu?"
"Apa yang Sri Baginda pikirkan tentang ini: punyakah Sri Baginda suatu penyakit yang akut/kronis?"
"Kami amat sering terkena masuk angin, bhante Ratthapala. Kadang teman dan kawan-kawan kami, saudara-saudara dan keluarga kami, berdiri mengelilingi kami (berpikir): "Sekarang Raja Koravya hampir mangkat, sekarang raja Koravya hampir mangkat".
"Sekarang, maharaja, apa yang Sri Baginda pikir: dapatkah Sri Baginda berbuat demikian dengan teman-teman serta kawan Sri Baginda, saudara-saudara dan keluarga Sri Baginda 'Kemarilah teman-teman dan kawan-kawan yang baik, saudara-saudara serta keluargaku! Silahkan kamu sekalian mengambil bagian penyakit rasa sakit ini, sehingga rasa sakitku akan berkurang, atau apakah rasa sakit tadi Sri Baginda derita seorang diri?"
"Tidak, Bhante Ratthapala, kami tak dapat membuat agar teman- teman dan kawan-kawan kami, saudara serta keluarga kami mengambil bagian rasa sakit kami), tetapi semua rasa sakit kami, kami derita sendiri".
"Inilah sebabnya, maharaja, Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, yang telah mencapai tujuan serta penuh penerangan, bersabda, '(Kehidupan dalam) alam (manapun juga) tak mempunyai pernaungan dan perlindungan', dan ketika kami mengetahui dan melihat serta mendengar itu, kami pergi meninggal¬kan penghidupan berumah-tangga ke penghidupan tanpa rumah".
"Mengagumkan sekali, bhante Ratthapala, mengherankan bagaimana tepat apa yang dinyatakan oleh Sang Bhagava ... '(Kehidupan dalam) alam mana pun juga) tak mempunyai pernaungan dan perlindungan', sebab demikianlah adanya!"
Bhante Ratthapala, dalam istana ini ada mata-uang mas dan emas yang bukan berupa mata-uang tersimpan dalam tanah maupun di atasnya. Sekarang bhante Ratthapala telah berkata bahwa '(Kehidupan dalam) alam (manapun juga) tak memiliki apapun jua, semuanya akan lampau dan berlangsung terus.'
Bagaimanakah mestinya pernyataan ini harus dimengerti?"
"Apa yang Sri Baginda pikirkan tentang ini: Sri Baginda sekarang ter¬lengkapi dan terjamin akan kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-kesenangan panca indera. Namun dapatkah Sri Baginda menentukan kehidupan ini. 'Semoga kami terlengkapi dan terjamin akan kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-kese¬nangan panca indera, atau orang lainkah yang akan mengambil alih harta tadi sementara kami sendiri masih menginginkannya".
"Inilah sebabnya, maharaja, Sang Bhagava bersabda ..., '(kehidupan dalam) alam (manapun juga) tak memiliki apapun juga, semuanya akan berlalu dan berlangsung terus, 'dan ketika kami mengetahui dan melihat serta mendengar itu, pergilah kami meninggalkan penghidupan berumah tangga ke penghidupan tanpa rumah".
"Menakjubkan sekali bhante Ratthapala, ... bagaimana tepat apa yang telah Sang Bhagava nyatakan ... ' (Kehidupan dalam) alam (manapun juga) tak memiliki apapun juga, semuanya akan berlalu dan berlangsung terus,' sebab demikianlah adanya'
"(Kehidupan dalam) alam (mana pun juga) tidak lengkap, tidak dapat dipuaskan dan merupakan budak dari nafsu', seperti bhante Ratthapala telah katakan; namun bagaimanakah pernyataan ini seharusnya dimengerti?"
"Apa yang Sri Baginda pikirkan, bukankah Sri Baginda merupakan seorang penguasa negeri Kuru yang makmur?" "Benar, demikian".
"Apa pula yang Sri Baginda pikirkan tentang ini? Apabila ada seorang yang jujur dan dapat dipercaya datang kepada Sri Baginda dari arah timur serta berkata, 'Ketahuilah, maharaja, bahwa kami datang dari timur, dan di sana kami melihat suatu negeri yang luas, kuat serta kaya, sangat besar rakyatnya dan ramai penuh orang. Di sana banyak pasukkan-pasukkan gajah, kavaleri, kereta perang, dan banyak pasukan infantri; di sana terdapat banyak gading, emas dan perak baik yang terkerjakan maupun yang tidak, serta banyak perempuan-perem¬puan yang dapat dijadikan isteri. Dengan suatu kekuatan begini Sri Baginda dapat menaklukkannya dan berdiam di sana sebagai pemegang pemerintahan, bhante Ratthapala".
"Apa yang Sri Baginda pikirkan tentang ini: apabila ada seorang jujur dan dapat dipercaya datang dari barat dan menghadap Sri Baginda dari utara ... dari selatan, dan di sana kami melihat sebuah negeri yang luas ... Taklukkan¬lah negeri itu, maharaja!' Apa yang akan Sri Baginda lakukan?"
"Kami akan menaklukkannya juga, dan berdiam di sana sebagai pemerintah, bhante Ratthapala.
"Disebabkan inilah, maharaja, Sang Bhagava yang mengtahui dan melihat '(Kehidupan dalam) alam (mana pun juga) tidak lengkap, tak dapat dipuaskan serta diperbudak oleh nafsu', dan ketika kami mengetahui dan melihat serta, mendengarnya, kami pergi meninggalkan penghidupan berumah tangga ke penghidu¬pan tanpa rumah"
"Mengagumkan sekali, bhante Ratthapala mengherankan bagaimana tepat apa yang telah dinyatakan oleh Sang Bhagava mengetahui dan melihat, yang telah mencapai tujuan serta penuh pepandangan/penerangan: (Kehidupan dalam) alam (manapun juga) tidak lengkap, tak dapat dipuaskan serta diperbudak oleh naf¬su', sebab demikian adanya."
Itulah apa yang telah Y.A. Ratthapala katakan dan bicarakan, beliau berkata lebih lanjut:
1. "Aku melihat orang-orang kaya dalam dunia yang belum, terlepaskan.
Dari kebodohan, mereka kumpulkan kekayaan-kekayaan
Namun ketamakkannya menyebabkan mereka menumpuk harta,
Dengan kerinduan mereka terus-menerus mempersenang rangsangan-rangsangan indera.
2. Seorang raja yang dengan kekuatannya menaklukkan dunia.
Dan bahkan bangsawan-bangsawan dari daratan maupun lautan,
Belum dipuaskan dengan lautan dekat pantai,
Disertai kelaparan untuk menambah pantai lagi.
3. Kebanyakkan orang juga, tak terkecuali seorang raja,
Menemui ajal dengan kehausan yang tak mereda;
Dengan rencana yang belum lengkap mereka tinggalkan maya;
Keinginan-keinginan yang tinggal tak terpuaskan dalam dunia.
4. Sanak keluarga menangisinya, menarik-narik rambut mereka,
Menangis 'ah, aku! Oh, Tuhan, kecintaanku menemui ajal.'
Kemudian tak tahan, jasmani dibungkus dengan kain kafan,
Untuk diletakkannya pada pancaka (timbunan kayu pembakar mayat) serta membakarnya di sana.
5. Bergumpal dalam sepotong kain kafan, ia tertinggal,
Kepunyaannya, tertombak dalam tonggak ia terbakar,
Dan selagi ia mati, tak ada saudara maupun sanak keluarga.
Atau kawan-kawan dapat menawarkan perlindungan di sini untuknya.
6. Sementara ahli waris menambah kekayaannya, mahluk ini harulah sekarang bangkit sesuai dengan karmanya; Dan selagi ia mati tak sesuatupun dapat men¬gikutinya; Tidak anak maupun isteri ataupun kekayaan dan derajat.
7. Dirgahayu tak dibutuhkan dengan kekayaan, Maupun kesejahteraan mengha¬puskan umur tua; Sekejaplah hidup ini, sebagai para bijaksana katakan, Keaba¬dian tak terketahui, hanyalah perubahan belaka.
8. Orang kaya dan miskin semuanya akan merasa sentuhan (kematian), seba¬gaimana si tolol dan Sang Bijaksana;
Namun selagi si tolol tetap terpukul oleh ketololannnya,
Tak demikian dengan Sang Bijaksana akan selalu tergetar pada (tiap) persentuhan tadi.
9. Lebih baik pengertian dari pada kekayaan, kemudian,
Dengan mana hasil terakhir di sini dapat dicapai, sebab banyak;
Sebab, mengerjakan kamma buruk dalam banyak kehidupan,
Manusia gagal, karena kebodohan, untuk mengejar tujuan.
10. Sebagai seseorang pergi kedalam rahim dan ke lain dunia,
Memperbaharui kembali perputaran ini, demikian pulalah yang lainnya.
Dengan tanpa pengertian lagi, mempercayainya,
Pergi juga ke dalam rahim dan lain dunia.
11. Persis seperti perampok tertangkap karena rampokkannya,
Si pelakau kejahatan, menderita karena perbuatannya,
Demikianlah manusia sesudah kematiaannya, dalam dunia berikutnya,
Si pelaku-pelaku kejahatan karena kamma-kamma nya.
12. Kesenangan-kesenangan indera, macam-macam, manis menyenangkan,
Dalam banyak macam cara mengganggu pikiran,
Melihat betapa bahayanya penikmatan-penikmatan indera ini,
Oh, raja! Kami memilih penhidupan tanpa rumah tangga.
13. Bagaikan buah-buah jatuh dari pohon, begitu pula manusia.
Baik muda mupun tua, jatuhlah bila jasmani ini rusak.
Melihat ini pula, kami telah pergi selama-lamanya, Oh Baginda!
Sebegitu jauh lebih baik mengambil penghidupan yang pasti terjamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar