Selasa, 16 Maret 2010

BAHITIKA SUTTA

BAHITIKA SUTTA
88

1. Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu waktu Sang bhagava berada di Jetavana, taman milik Anathapindika, di Savatthi.

2. Pada waktu pagi Bhikkhu Ananda mengenakan jubahnya, mengambil patta dan civara, ia pergi ke Savatthi umtuk pindapata. Setelah pindapata di Savatthi dan selesai makan, ia pergi Pubbarama, pasangrahan Migaramata, untuk istirahat siang.

3. Di tengah hari itu Raja Pasenadi Kosala sedang me-nunggang gajah Ekapundarika ke luar dari Savatthi. Dari jauh ia melihat Bhikkhu Ananda datang. Ketika ia melihat dia, ia berkata kepada Menteri Sirivaddha: "Itu Bhikkhu Ananda, bukan?"
"Ya, Maharaja. Itu Bhikkhu Ananda."

4. Kemudian Raja Pasenadi Kosala berkata kepada seseo-rang: "Ayo, orang yang baik, pergi temui Bhikkhu Ananda dan atas namaku bernamaskaralah di kakinya dan katakan: 'Bhante, Raja Pasenadi Kosala menyampaikan namaskaranya kepada bhante.' Juga katakan ini: 'Bhante, jika bhante tidak ada urusan penting, harap bhante tunggu sebentar?"

5. "Ya, Maharaja," jawab orang itu dan ia pergi menemui Bhikkhu Ananda, setelah memberikan hormat kepadanya, ia berdiri di samping. Kemudian ia berkata kepada Bhikkhu Anan-da: "Bhante, Raja Pasenadi Kosala menyampaikan namaskaranya kepada bhante. Juga ia berkata: 'Bhante, jika bhante tidak ada urusan penting, harap bhante tunggu sebentar.'"

6. Bhikkhu Ananda menyetujuinya dengan bersikap diam. Kemudian Raja Pasenadi pergi dengan menunggang gajah sejauh yang dapat dilalui gajah, lalu ia turun dari gajah dan berja¬lan untuk menemui Bhikkhu Ananda, setelah memberi hormat ia berdiri di samping. Ia berkata kepada Bhikkhu Ananda: "Bhante, jika bhante tidak ada urusan penting, mohon bhante pergi ke tepi sungai Aciravati."

7. Bhikkhu Ananda menyetujuinya dengan bersikap diam. Ia pergi ke tepi sungai Aciravati dan duduk di bawah sebuah pohon pada tempat duduk yang telah disediakan. Kemudian Raja Pasenadi pergi dengan menunggang gajahnya sejauh yang dapat dilalui gajah, lalu ia turun dari gajah dan berjalan untuk menemui Bhikkhu Ananda, setelah memberi hormat, ia berdiri di samping. Selanjutnya ia berkata kepada Bhikkhu Ananda:
"Bhante, ini permadani gajah, silahkan duduk di atasnya."
"Tidak perlu maharaja. Duduklah. Saya duduk di atas tikar¬ku."
8. Raja Pasenadi Kosala duduk di tempat duduk yang telah disediakan. Setelah duduk, ia berkata: "Bhante Ananda, apakah Sang Bhagava akan melakukan suatu perilaku yang menyebabkan dicela oleh para petapa dan brahmana?"
"Tidak, Maharaja, Sang Bhagava tidak akan melakukan suatu prilaku yang menyebabkan dicela dari para petapa dan brahmana."
"Bhante Ananda, apakah Sang Bhagava akan mengucapkan kata-kata yang menyebabkan dicela oleh para petapa dan brah¬mana?"
"Tidak Maharaja, ....
"Bhante Ananda, apakah Sang Bhagava akan melakukan perbuatan pikiran yang menyebabkan dicela oleh dari para petapa dan brahmana?"
"Tidak, Maharaja, ....

9. "Bhante, menakjubkan dan mengagumkan! Karena apa yang kami tidak bisa penuhi dengan pertanyaan, telah terpenuhi oleh Bhikkhu Ananda dengan menjawab pertanyaan. Kami tidak mempercayai orang-orang yang bodoh yang memuji dan menghina orang lain tanpa terlebih dahulu memikirkannya dan menyeli¬dikinya. Tetapi kami percaya kepada orang-orang bijaksana yang terpelajar dan berpengetahuan yang memuji dan menghina orang lain setelah memikirkannya dan menyelidikinya. Bhikkhu Ananda, perbuatan jasmani apakah yang dicela oleh para petapa dan brahmana?"

10. "Setiap perbuatan jasmani yang tidak baik (akusala), maharaja."
"Bhante, perbuatan jasmani apakah yang tidak baik?"
"Setiap perbuatan jasmani yang salah, maharaja?"
"Bhante, apakah perbuatan jasmani yang salah?"
"Setiap perbuatan jasmani yang menyebabkan kesakitan, maharaja."
"Bhante, apakah perbuatan jasmani yang menyebabkan kesakitan?"
"Setiap perbuatan jasmani yang mengakibatkan penderi¬taan, maharaja."
"Bhante, apakah perbuatan jasmani yang mengakibatkan penderitaan?"

"Maharaja, setiap perbuatan jasmani yang menyebabkan kesakitan pada diri sendiri, kesakitan pada orang lain, atau kesakitan pada diri sendiri maupun kesakitan pada orang lain, berdasarkan pada hal ini akusala dhamma berkembang, sedangkan kusala dhamma berkurang. Perbuatan jasmani seperti ini yang dicela oleh para petapa dan brahmana."

11. "Bhante Ananda, apakah ucapan yang menyebabkan dicela oleh para petapa dan brahmana?"
"Setiap ucapan yang tidak baik (akusala), maharaja."
"Bhante, apakah ucapan yang tidak baik?"
"Setiap ucapan yang salah, ...."
"Maharaja, setiap ucapan yang menyebabkan kesakitan pada diri sendiri, kesakitan pada orang lain, atau kesakitan pada diri sendiri maupun kesakitan pada orang lain, berdasar¬kan pada hal ini akusala dhamma berkembang, sedangkan kusala dhamma berkurang. Ucapan seperti ini yang dicela oleh para petapa dan brahmana."

12. "Bhante Ananda, apakah (perbuatan) pikiran yang menyebabkan dicela oleh para petapa dan brahmana?"
"Setiap (perbuatan) pikiran yang tidak baik, maharaja."
"Bhante, apakah (perbuatan) pikiran tidak baik ...."
"Maharaja, setiap (perbuatan) pikiran yang menyebabkan kesakitan pada diri sendiri, .... Pikiran seperti ini yang dicela oleh para petapa dan brahmana."

13. "Bhante Ananda, apakah Sang Bhagava hanya menerang-kan tentang pelenyapan semua dhamma yang tidak baik (akusala dhamma) ?"
"Maharaja, Tathagata telah melenyapkan semua akusala dhamma, ia memiliki semua dhamma yang baik (kusala dhamma)."

14. "Bhante Ananda, apakah perbuatan jasmani yang tidak dicela oleh para petapa dan brahmana?"
"Setiap perbuatan jasmani yang bermanfaat (kusala), maharaja."
"Bhante Ananda, apakah perbuatan jasmani yang bermanfaat?"
"Setiap perbuatan jasmani yang tak salah, maharaja?"
"Bhante Ananda, apakah perbuatan jasmani yang tidak salah ?"
"Setiap perbuatan jasmani yang tidak menyebabkan kesakitan, maharaja."
"Bhante Ananda, apakah perbuatan jasmani yang tidak menyebab¬kan kesakitan?"
"Setiap perbuatan yang mengakibatkan kebahagiaan, maharaja."
"Bhante Ananda, apakah perbuatan jasmani yang menyebabkan kebahagiaan ?"
"Maharaja, setiap perbuatan jasmani yang tidak menyebabkan kesakitan pada diri sendiri, tidak menyebabkan kesakitan pada orang lain atau tidak menyebakan kesakitan pada diri sendiri maupun pada orang lain, juga berdasarkan pada berkurangnya akusala dhamma dan bertambahnya kusala dhamma. Perbuatan jasmani seperti ini tidak dicela oleh para petapa dan brahma¬na."

15. "Bhante Ananda, apakah ucapan yang tidak dikritik oleh para petapa dan brahmana?" "Setiap ucapan yang berman¬faat (kusala), maharaja."
"Bhante Ananda, apakah ucapan yang bermanfaat?"
"Setiap ucapan yang tidak salah ...."
"Maharaja. setiap ucapan yang tidak menyebabkan kesak¬itan pada diri sendiri, .... Ucapan seperti ini tidak dicela oleh para petapa dan brahmana."

16. "Bhante Ananda, apakah (perbuatan) pikiran yang tidak dikritik oleh para petapa dan brahmana?"
"Setiap (perbuatan) pikiran yang bermanfaat, maharaja."
"Bhante Ananda, apakah (perbuatan) pikiran yang bermanfaat....?"
"Maharaja, setiap (perbuatan) pikiran yang tidak menyebabkan kesakitan pada diri sendiri, .... Ucapan seperti ini tidak dicela oleh para petapa dan brahmana."

17. "Bhante Ananda, apakah Sang Bhagava hanya menerangkan tentang memiliki semua kusala dhamma ?"
"Maharaja, Tathagata telah melenyapkan semua akusala dhamma; Beliau memiliki semua kusala dhamma."

18. "Bhante, menakjubkan dan mengagumkan apa yang telah diterangkan oleh bhante ! Kami puas dan senang dengan apa yang telah diterangkan oleh beliau. Bhante, kami sangat puas dan senang dengan apa yang telah diterangkan dengan begitu baik oleh Bhikkhu Ananda sehingga jikalau Gajah Permata (Hatthiratana) diijinkan dimilikinya, kami akan memberikannya kepada beliau. Jikalau desa yang makmur diijinkan dimiliki¬nya, kami akan memberikannya kepada beliau. Bhante, tetapi kami mengetahui bahwa hal-hal itu tidak diijinkan untuk dimiliki oleh bhante. Namun ada kain yang telah dikirimkan dalam kemasan dipayungi dengan payung kerajaan oleh Raja Ajatasattu kepada saya dari Magadha. Kain itu panjang 16 hasta dan lebar 8 hasta. Mohon Bhikkhu Ananda menerimanya.
"Maharaja, itu tidak perlu. Tiga jubahku (Ticivara) lengkap."

19. "Bhante, Sungai Arciravati ini telah kita berdua lihat ketika awan besar yang tebal menghujani gunung-gunung sehing¬ga sungai ini meluap di dua tepinya -- demikian juga Bhikkhu Ananda dapat membuat Ticivara untuknya dari kain ini, sedang-kan ticivaranya yang lama dapat dibagikannya kepada kawan-kawannya dalam penghidupan suci (brahmacari). Dengan cara ini saya senang, dana kami akan meluap. Bhante, mohon menerima-nya."

20. Bhikkhu Ananda menerima kain itu. Lalu, Raja Pasenandi Kosala berkata: "Bhante, sekarang kami pulang, kami sibuk dan banyak pekerjaan yang akan dikerjakan."
"Maharaja, sudah waktunya, lakukanlah yang yang pantas bagimu."
Karena senang dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Bhikkhu Ananda, Raja Pasenadi Kosala bangkit dari duduk, setelah menghormat, dengan berjalan disamping kanan Bhikkhu Ananda, ia pergi.

21. Segera setelah Raja Pasenadi Kosala pergi, Bhikkhu Ananda pergi menemui Sang Bhagava, setelah memberikan hormat, ia duduk di tempat yang tersedia. Setelah duduk, ia menceri¬takan semua percakapannya dengan Raja Pasenadi Kosala. Ia menyerahkan kain itu kepada Sang Bhagava.

22. Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikk-hu, suatu pendapatan yang besar bagi Raja Pasenadi Kosala karena ia mendapat kesempatan bertemu dan menghormat Ananda."

Itulah yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa puas dan gembira dengan kata-kata Sang Bhagava.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar