Selasa, 16 Maret 2010

DEVADAHA SUTTA

DEVADAHA SUTTA
(101)

1. Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di negara suku Sakya. Ada sebuah kota tempat tinggal suku Sakya yang disebut Devadaha dan di sana beliau menyapa para bhikkhu demikian: “Para bhikkhu.”
“Bhante,” jawab mereka.
Sang Bhagava berkata:
2. “Para bhikkhu, ada sebagian petapa dan brahmana yang berkeras demikian, yang pandangannya demikian: "Apapun yang dirasakan se-seorang, apakah kesenangan ataukah kesakitan ataupun bukan kesenan-gan dan bukan kesakitan, semua ini disebabkan oleh apa yang dilakukan di masa lampau. Maka dengan menghapus melalui penyiksaaan diri kamma buruk yang lampau, dan dengan tidak melakukan kamma buruk yang baru, tidak akan ada akibatnya di masa yang akan datang. Dengan tidak adanya akibat di masa yang akan datang terhentilah kamma. Dengan terhentinya kamma terhentilah penderitaan. Dengan terhentinya penderitaan terhentilah perasaan. Dengan terhentinya perasaan semua penderitaan akan lenyap." Demikianlah ucapan kaum Nigantha (petapa lain).
3. “Aku menemui Nigantha yang berkeras demikian dan aku berka¬ta: "Sahabat, benarkah, sebagaimana yang nampak, engkau berkeras demikian, bahwa pandanganmu demikian: “Apapun yang dirasakan seseorang ... semua penderitaan akan berakhir'?" Ketika, setelah ditanya demikian, kaum Nigantha mengakuinya, dan mengatakan " Ya," aku katakan pada mereka:
4. “Namun, sahabat, tahukah engkau bahwa engkau ada pada masa yang lampau, dan bukannya tidak ada?”
“Tidak, sahabat.”
“Namun, sahabat, tahukah engkau bahwa engkau melakukan kamma buruk di masa lampau dan bukannya tidak melakukan kamma buruk?”
“Tidak, sahabat.”
“Namun, sahabat, tahukah engkau melakukan kamma buruk seperti ini dan seperti itu?”
“Tidak, sahabat.”
“Namun, sahabat, tahukah engkau sekian banyak penderitaan telah dilenyapkan, atau bahwa sekian banyak penderitaan masih harus dilenyapkan, atau bahwa, ketika sekian banyak penderitaan telah dilen-yapkan, semua penderitaan akan lenyap?”
“Tidak, sahabat.”
“Namun, sahabat, tahukah engkau apakah penghindaran diri dari dhamma yang tidak menguntungkan dan pemupukan dhamma yang menguntungkan di sini dan sekarang juga?”
“Tidak, sahabat.”
5. “Jadi, sahabat, nampaknya engkau tidak mengetahui bahwa engkau ada di masa lampau dan bahwa engkau bukannya tidak ada; atau bahwa engkau melakukan kamma buruk di masa lampau dan bukannya tidak melakukannya; atau bahwa engkau melakukan kamma buruk seperti ini dan itu; atau bahwa sekian banyak penderitaan telah dilenyapkan; atau bahwa sekian banyak penderitaan masih harus dilenyapkan; atau bahwa ketika sekian banyak penderitaan telah dilenyapkan, semua penderitaan akan lenyap; atau apakah penghindaran diri dari dhamma yang tidak menguntungkan dan pemupukan dhamma yang menguntungkan di sini dan sekarang juga. Dengan demikian, tidaklah sesuai bagi petapa Ni-gantha untuk menyatakan: "Apapun yang dirasakan seseorang, apakah kesenangan atau kesakitan ataupun bukan kesakitan dan bukan kesenan-gan, semua ini disebabkan oleh apa yang dilakukan di masa lampau. Sehingga dengan menghapus melalui penyiksaan diri kamma buruk yang lampau dan dengan tidak melakukan kamma buruk yang baru, tidak akan ada akibatnya di masa depan, terhentilah kamma ... semua penderitaan akan lenyap."
6. “Jika, sahabat Nigantha, engkau mengetahui bahwa engkau ada di masa yang lampau dan bukannya tidak ada; atau bahwa engkau melaku-kan kamma buruk di masa lampau dan bukannya tidak melakukannya; atau bahwa engkau melakukan kamma buruk seperti ini dan itu; atau bahwa sekian banyak penderitaan telah dilenyapkan; atau bahwa sekian banyak penderitaan masih harus dilenyapkan; atau bahwa ketika sekian banyak penderitaan telah dilenyapkan, maka semua penderitaan akan lenyap; atau apakah penghindaran diri dari dhamma yang tidak mengun-tungkan dan pemupukan dhamma yang menguntungkan di sini dan sekar¬ang juga; bila demikian, mungkin sesuai bagi petapa Nigantha untuk menyatakan: "Apapun yang dirasakan seseorang ... semua penderitaan akan habis."
7. "Saudara Nigantha, andaikan seseorang terluka oleh sebuah anak panah yang terlapis tebal oleh racun dan ia merasakan kesakitan, tersik¬sa, perasaan menusuk karena tikaman anak panah. Kemudian rekan dan sahabatnya, sanak dan saudara membawa seorang ahli bedah dan si ahli bedah memotong sekitar permukaan luka dengan sebuah pisau, dan ia merasakan kesakitan, tersiksa, perasaan tertusuk karena sayatan sekitar permukaan luka dengan sebuah pisau. Kemudian si ahli bedah memeriksa anak panah dengan alat pemeriksa dan ia merasa kesakitan, tersiksa, perasaan tertusuk karena pemeriksaan anak panah tersebut dengan alat pemeriksa.
Kemudian si ahli bedah mencabut ke luar anak panah tersebut dan ia merasakan kesakitan, tersiksa, perasaan tertusuk karena penarikan ke luar anak panah tersebut. Kemudian si ahli bedah memborehkan obat bakar untuk permukaan luka dan ia merasakan kesakitan, tersiksa, pera-saan tertusuk karena pemborehan obat bakar di permukaan luka.
Kemudian pada lain waktu, ketika lukanya sudah sembuh dan tertutup kulit dan ia merasa sehat, bahagia, bebas, menguasai dirinya sendiri dan mampu pergi ke manapun ia suka, ia berpikir: "Sebelumnya aku tertusuk oleh panah yang terlapis tebal oleh racun dan aku merasa-kan kesakitan, tersiksa, perasaan tertusuk karena tikaman panah ... kemudian si ahli bedah memborehkan obat bakar pada permukaan luka ... Sekarang luka itu telah sembuh dan tertutup kulit. Aku sehat, bahagia, bebas, menguasai diri sendiri dan aku pergi ke mana aku suka ."
8. “Demikian pula, rekan Nigantha, jika engkau tahu bahwa engkau ada di masa lampau dan bukannya tidak ada ... atau apakah penghin-daran diri dari dhamma yang tidak menguntungkan dan pengembangan dhamma yang menguntungkan di sini dan sekarang juga, dengan demi-kian, mungkin sesuai bagi petapa Nigantha untuk menyatakan: "Apapun yang dirasakan seseorang ... semua penderitaan akan lenyap."
9. “Tetapi karena, rekan Nigantha, engkau tidak mengetahui apakah engkau ada di masa lampau dan bukannya tidak ada ... atau apakah penghindaran diri dari dhamma yang tidak menguntungkan dan pengem¬bangan dhamma yang menguntungkan dalam kehidupan ini; maka tidak¬lah sesuai bagi petapa Nigantha untuk menyatakan: "Apapun yang dira¬sakan seseorang ... penderitaan akan lenyap."
10. “Ketika ini dikatakan, para pengikut Nigantha berkata kepadaku: "Sang Nigantha Nataputta, sahabat, yang Maha Tahu, yang Maha meli¬hat, mengaku mempunyai pengetahuan dan pandangan lengkap demikian: "Berjalan, berdiri dan berbaring pada saat dasar pengetahuan dan pandanganku terpelihara terus menerus, tanpa terputus.” Beliau berkata demikian: "Kaum Nigantha, engkau telah melakukan perbuatan jahat di masa lampau; lenyapkanlah dengan penyiksaan diri yang menusuk. Dan apabila engkau sekarang dan di sini juga menahan diri dalam perbuatan, ucapan dan pikiran, maka tidak timbul kamma buruk di masa yang akan datang. Maka dengan menghapus melalui penyiksaan diri kamma buruk yang lampau, dan dengan tidak melakukan kamma baru, tidak akan ada akibatnya di masa yang akan datang. Dengan tidak ada akibatnya di masa yang akan datang maka terhentilah kamma ... semua penderitaan akan lenyap. Inilah yang kita sukai, yang kita senangi, dan kita merasa puas.”
11. “Ketika ini dikatakan, aku berkata kepada kaum Nigantha: "Ada lima dhamma, kaum Nigantha, yang mempunyai dua macam akibat di sini dan sekarang juga. Apakah kelimanya tersebut? Kelimanya tersebut adalah: Keyaki¬nan, kesukaan, tradisi (yang diucapkan dari mulut ke mulut) berdebat terhadap bukti dan suka merenungkan pandangan-pandangan. Kelima dhamma ini mempunyai dua macam akibat di sini dan sekarang juga. Sekarang, bagaimanakah kepercayaan kaum Nigantha, bagaimanakah kesukaan mereka, bagaimanakah tradisi (lisan) mereka, bagaimanakah mereka berdebat terhadap bukti-bukti, bagaimanakah mereka merenung¬kan pandangan-pandangan, sebagaimana yang berkuasa di masa lampau?" Berkata demikian, para bhikkhu, aku tidak melihat pembelaan yang masuk akal dari kaum Nigantha.
12. “Kemudian, para bhikkhu, aku berkata kepada kaum Nigantha: "Bagaimana menurut kalian, Kaum Nigantha, apabila ada perjuangan yang padat, usaha yang keras, apakah engkau lalu merasakan kesakitan, tersiksa, perasaan tertusuk karena perjuangan yang keras; namun apabila tidak ada perjuangan keras, usaha yang keras, apakah engkau lalu mera-sakan kesakitan, tersiksa, perasaan tertusuk karena perjuangan yang keras?"
“Apabila ada perjuangan yang keras, sahabat Gotama, usaha yang keras, maka kita merasakan kesakitan, tersiksa, perasaan tertusuk karena perjuangan yang keras, namun apabila tidak ada perjuangan yang keras, usaha yang keras, maka kita tidak merasakan kesakitan, tersiksa, pera-saan tertusuk karena perjuangan yang keras.”
13. “Demikianlah nampaknya, kaum Nigantha, bahwa apabila ada perjuangan yang keras ... perasaan tertusuk akibat perjuangan yang keras; namun apabila tidak ada perjuangan yang keras, tidak ada kesaki¬tan, tersiksa dan perasaan tertusuk akibat perjuangan yang keras. Dengan demikian, tidaklah sesuai bagi petapa Nigantha untuk menyatakan: "Apapun yang dirasakan seseorang, apakah kesenangan ataupun kesaki-tan atau bukan kedua-duanya, semua ini disebabkan oleh apa yang dila-kukan di masa lampau. Maka dengan menghapus melalui penyiksaan diri kamma buruk di masa lampau, dan dengan tidak melakukan kamma buruk yang baru, tidak akan ada akibatnya di masa yang akan datang. Dengan tidak adanya akibat di masa yang akan datang terhentilah kamma. Dengan terhentinya kamma terhentilah penderitaan, dengan terhentinya penderitaan terhentilah perasaan, dengan terhentinya pera-saan semua penderitaan akan habis.
14. “Jika, sahabat Nigantha, ketika ada perjuangan berat, usaha keras, maka perasaan sakit, tersiksa, tertusuk akibat perjuangan yang berat (tidak) terjadi, dan ketika tidak ada perjuangan yang berat, usaha yang keras, maka tidak ada perasaan sakit, tersiksa, tertusuk akibat perjuangan berat, dengan demikian, maka mungkin sesuai bagi petapa Nigantha untuk menyatakan: "Apapun yang dirasakan seseorang ... semua penderitaan akan lenyap."
15. “Namun karena, kaum Nigantha, apabila ada perjuangan yang berat, usaha yang keras, maka engkau merasakan perasaan sakit, tersik¬sa, tertusuk akibat perjuangan yang berat, namun apabila tidak ada perjuangan yang berat, usaha yang keras, maka engkau tidak merasakan perasaan sakit, tersiksa, tertusuk akibat perjuangan yang berat, maka (karenanya) engkau hanya merasakan kesakitan, nyeri, tertusuk dari perjuangan berat yang engkau sendiri lakukan, dan akibat ketidak-tahuan dan kebodohan, engkau salah menyangka bahwa: "Apakah yang seseor-ang rasakan ... semua penderitaan akan lenyap."
“Setelah mengatakan demikian, para bhikkhu, akan tidak mene-mukan perlawanan yang beralasan di antara kaum Nigantha.”
16. “Kemudian juga, para bhikkhu, aku berkata kepada kaum Ni¬gantha: "Bagaimana menurutmu, kaum Nigantha, mungkinkah bahwa kamma (dengan akibatnya) yang dirasakan pada kehidupan sekarang dapat, melalui perjuangan dan usaha, menjadi (bersama akibatnya) dira¬sakan di masa yang akan datang?"
“Tidak, Sahabat."
“Namun mungkinkah kamma (dengan akibatnya) yang dirasakan dalam kehidupan yang akan datang, melalui perjuangan dan usaha, menjadi (bersama akibatnya) dirasakan pada kehidupannya yang sekar-ang?”
“Tidak, sahabat.”
“Bagaimana menurutmu, kaum Nigantha, mungkinkah bahwa kamma (dengan akibatnya) yang dirasakan sebagai suatu kesenangan, melalui perjuangan dan usaha, menjadi (bersama akibatnya) dirasakan sebagai suatu kesakitan?”
“Tidak, sahabat.”
“Namun, mungkinkah bahwa kamma (dengan akibatnya) yang dirasakan sebagai kesakitan dapat, melalui perjuangan dan usaha, menja-di (bersama akibatnya) dirasakan sebagai kesenangan?”
“Tidak, sahabat.”
18. “Bagaimana menurutmu, kaum Nigantha, mungkinkah bahwa kamma (dengan akibatnya) yang dirasakan dalam sebuah (kepribadian) yang matang dapat, karena perjuangan dan usaha, menjadi (bersama akibatnya) dirasakan dalam sebuah (kepribadian) tidak matang?”
“Tidak, sahabat.”
“Namun mungkinkah bahwa kamma (dengan akibatnya) yang dialami dalam sebuah (kepribadian) yang tidak matang dapat, dengan perjuangan dan usaha, menjadi (bersama akibatnya) dialami dalam suatu (kepribadian) yang matang?”
“Tidak, sahabat.”
19. “Bagaimana menurutmu, kaum Nigantha, mungkinkah kamma (dengan akibatnya) yang banyak dialami dapat, melalui perjuangan dan usaha, menjadi (bersama akibatnya) sedikit dialami?”
“Tidak, Sahabat.”
“Tetapi mungkinkah bahwa kamma (dengan akibatnya) yang sedikit dialami dapat, melalui perjuangan dan usaha, menjadi (bersama akibatnya) banyak dialami?”
“Tidak, sahabat.”
20. “Bagaimana menurutmu, kaum Nigantha, mungkinkah kamma (dengan akibatnya) yang dialami dapat, melalui perjuangan dan usaha, menjadi (bersama akibatnya) tidak dialami?”
“Tidak, sahabat.”
“Tetapi mungkinkah kamma (dengan akibatnya) yang tidak diala¬mi dapat, melalui perjuangan dan usaha, menjadi (bersama akibatnya) dialami?”
“Tidak, sahabat.”
21. “Jadi nampaknya, kaum Nigantha, tidaklah mungkin bahwa kamma yang dialami di sini dan sekarang dapat, melalui perjuangan dan usaha, menjadi kamma yang dialami pada kehidupan berikutnya ... tidak¬lah mungkin bahwa kamma yang dialami pada kehidupan berikutnya mungkin bahwa kamma yang dialami pada kehidupan berikutnya ... kamma yang dialami di sini dan sekarang ... tidak mungkin bahwa kamma yang dialami sebagai menyenangkan ... dialami sebagai menya-kitkan: ... tidaklah mungkin bahwa kamma yang dialami sebagai menya-kitkan ... kamma yang dialami sebagai menyenangkan; ... tidaklah mungkin bahwa kamma yang dialami dalam suatu (kepribadian) yang matang ... dialami dalam suatu (kepribadian) yang matang ... dialami dalam suatu (kepribadian) yang tidak matang; ... tidaklah mungkin bahwa kamma yang dialami dalam satu (kepribadian) yang tidak matang ... dialami dalam suatu (kepribadian) yang matang; ... tidaklah mungkin bahwa kamma yang banyak dialami ... sedikit dialami; tidaklah mungkin bahwa kamma yang sedikit dialami ... banyak dialami; ... tidaklah mungkin bahwa kamma yang dialami ... tidak dialami; bahwa¬sanya tidaklah mungkin kamma yang tidak dialami dapat, melalui per¬juangan dan usaha, menjadi dialami. Dengan demikian, perjuangan petapa Nigantha tidak ada hasilnya, usaha mereka tidak ada hasilnya.
22. “Itulah yang dikatakan Kaum Nigantha, para bhikkhu. Dan ketika mereka mengatakan demikian ada sepuluh macam pengurangan atas ketegasan pernyataan mereka yang menjadi dasar untuk mengecam (mereka).”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk, disebabkan oleh apa yang dilakukan di masa lampau, maka kaum Ni-gantha pastilah para pelaku kejahatan di masa lampau, karena mereka sekarang merasakan perasaan sakit, tersiksa, tertusuk sedemikian.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk diciptakan oleh Tuhan (pencipta), maka kaum Nigantha pastilah dicipta-kan oleh seorang Tuhan (Pencipta) yang jahat, karena mereka sekarang merasakan perasaan sakit, tersiksa, tertusuk sedemikian.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan nasib, maka kaum Nigantha pastilah mempunyai nasib buruk, karena mereka sekarang merasakan perasaan sakit, tersiksa, tertusuk sedemikian.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh golongan (di antara enam golongan kelahiran), maka kaum Nigantha pastilah termasuk dalam golongan yang buruk, karena mereka sekarang merasakan perasaan sakit, tersiksa, tertusuk sedemi-kian.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para mahluk disebabkan oleh perjuangan di saat sekarang dan di sini juga, maka kaum Nigantha pastilah berjuang dengan buruk saat ini dan di sini (dalam kehidupan ini), karena mereka sekarang merasakan perasaan sakit, ter-siksa, tertusuk sedemikian.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh apa yang dilakukan di masa lampau, maka kaum Ni-gantha harus dikecam; jika tidak, maka kaum Nigantha harus dikecam.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh makhluk-makhluk ciptaan Tuhan (pencipta), maka kaum Nigantha haruslah dikecam; jika tidak mereka haruslah dikecam.
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan keadaan nasib, maka kaum Nigantha haruslah dikecam; jika tidak, mereka haruslah dikecam.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh golongan, maka kaum Nigantha haruslah dikecam; jika tidak, mereka haruslah dikecam.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh perjuangan saat ini dan di sini juga, maka kaum Ni-gantha haruslah dikecam; jika tidak, mereka haruslah dikecam.”
“Demikian apa yang dikatakan kaum Nigantha, para bhikkhu. Dan ketika mereka mengatakan demikian ada sepuluh pengurangan yang sah dalam usaha mereka yang menimbulkan kutukan (bagi mereka).”
“Maka perjuangan mereka tidak ada hasilnya, usaha mereka tidak ada hasilnya.”
23. “Dan bagaimana perjuangan berbuah, para bhikkhu, bagaimana¬kah usaha berbuah?”
“Begini, para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu tidak dikuasai penderitaan ia tidak membiarkan dirinya dikuasai penderitaan; dan ia tidak mengorbankan kesenangan yang sesuai dengan Dhamma namun ia tidak tenggelam dalam kesenangan. Ia mengetahui demikian: "Apabila saya membuat suatu usaha untuk mencapai keinginan, akan memudar sumber-sumber penderitaan (tertentu) ini dalam diriku yang disebabkan oleh usaha untuk mencapai keinginan; tetapi apabila aku memandang dengan keseimbangan bathin, terjadi memudarnya sumber-sumber pen-deritaan (tertentu) ini dalam diriku sementara aku mengembangkan keseimbangan bathin."
“Ia membuat suatu usaha untuk mencapai keinginan sehubungan dengan sumber penderitaan tertentu tadi yang mana, apabila ia melaku-kan suatu usaha untuk mencapai keinginan, terjadi memudarnya dalam dirinya disebabkan usaha untuk mencapai keinginan; namun ia mengem-bangkan keseimbangan bathin sehubungan dengan sumber penderitaan tersebut yang mana, apabila ia memandang padanya dengan keseimban-gan bathin, terjadi memudarnya dalam dirinya sementara ia mengem-bangkan keseimbangan bathin.”
“Pada saat ia melakukan usaha untuk mencapai keinginan terjadi memudarnya sumber penderitaan yang begini dan begitu disebabkan usaha untuk mencapai keinginan. Demikianlah penderitaan itu habis dalam dirinya. Ketika ia memandang dengan keseimbangan bathin, terja-di memudarnya sumber penderitaan yang begini dan begitu sementara ia mengembangkan keseimbangan bathin; sedemikian sehingga penderitaan lenyap dari dalam dirinya.”
24. “Seandainya, para bhikkhu, seorang laki-laki bernafsu terhadap seorang wanita dengan pikirannya dipenuhi dengan keinginan dan nafsu yang kuat, dan ia melihat wanita tersebut berdiri dengan seorang laki-laki lainnya, bercakap-cakap, bergurau dan tertawa, bagaimana menurutmu, para bhikkhu, akankah kesedihan dan ratapan, sakit, duka-cita, putus-asa muncul dalam diri laki-laki itu ketika ia melihat si wanita berdiri dengan laki-laki lain, bercakap-cakap, bergurau dan tertawa?”
“Ya, bhante. Mengapa demikian? Karena silaki-laki bernafsu terhadap wanita itu dengan pikirannya terikat pada keinginan dan nafsu yang kuat, itulah mengapa kesedihan, ratapan, kesakitan, duka cita dan putus asa akan muncul dalam diri laki-laki itu ketika ia melihat si wanita berdiri dengan laki-laki lain, bercakap-cakap, bergurau dan tertawa.”
25. “Kemudian, para bhikkhu, laki-laki itu berpikir: "Saya bernafsu terhadap wanita ini dengan pikiranku terikat oleh keinginan dan nafsu yang kuat, dan kesedihan, ratapan, kesakitan, duka-cita dan putus-asa muncul dalam diriku ketika saya melihat wanita ini berdiri dengan laki-laki lain, bercakap-cakap, bergurau dan tertawa. Bagaimana bila saya menyingkirkan keinginan dan nafsu terhadap wanita tersebut?" Ia mela-kukannya dan pada saat lain ia melihat wanita itu berdiri dengan laki-laki lain, bercakap-cakap, bergurau dan tertawa. Bagaimana menurutmu, para bhikkhu, akankah kesedihan, ratapan, kesakitan, duka-cita dan putus-asa muncul dalam diri laki-laki itu ketika ia melihat si wanita berdiri dengan laki-laki ...?”
“Tidak, bhante. Mengapa demikian? Karena si laki-laki tanpa nafsu terhadap si wanita ... bercakap-cakap, bergurau dan tertawa.”
26. “Demikian pula, para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu tidak dikuasai penderitaan, ia tidak membuat dirinya dikuasai oleh penderi-taan; dan ia tidak mengorbankan kesenangan yang sesuai dengan Dhamma namun ia juga tidak terikat pada kesenangan tersebut ... (Sebagaimana pada alinea 23 di atas sampai pada ) ... demikian sehingga penderitaan lenyap dari dirinya.
“Demikianlah maka perjuangan mencapai hasilnya, usaha ber¬buah.”
27. “Kemudian para bhikkhu, seorang bhikkhu berpikir demikian: "Selama saya hidup dengan senang dhamma yang tidak menguntungkan bertambah dalam diriku dan dhamma yang menguntungkan berkurang; tetapi ketika aku memaksa diriku dalam apa yang menyakitkan, dhamma yang tidak menguntungkan berkurang dari diriku, dan dhamma yang menguntungkan bertambah. Bagaimana bila aku memaksa diriku sendiri dalam apa yang menyakitkan?"
“Ia memaksa dirinya sendiri dalam apa yang menyakitkan. Ketika ia melakukannya, dhamma yang tidak menguntungkan berkurang dari dirinya dan dhamma yang menguntungkan bertambah. Kemudian harinya ia tidak memaksa dirinya dalam apa yang menyakitkan. Mengapa demi¬kian? Tujuan untuk mana ia memaksa dirinya sendiri dalam apa yang menyakitkan telah tercapai; itulah mengapa kemudian harinya ia tidak memaksa dirinya dalam apa yang menyakitkan.”
28. “Seandainya, para bhikkhu, seorang pandai besi sedang menghan-gatkan dan memanaskan sebatang panah di antara dua nyala api, dan membuatnya lurus dan dapat digunakan; segera setelah anak panah si pandai besi menjadi hangat dan panas di antara dua nyala api dan telah lurus dan dapat digunakan, maka berikutnya si pandai besi tidak akan (lagi) menghangatkan dan memanaskan anak panah itu dan membuatnya lurus dan dapat digunakan.”
29. “Demikian pula, seorang bhikkhu berpikir demikian: "Selama aku hidup dalam kesenangan ... (sebagaimana dalam alinea 27 di atas) ..." ia tidak memaksa dirinya dalam apa yang menyakitkan.”
“Demikianlah pula, perjuangan mencapai hasilnya, usaha ber¬buah.”
30-38. “Kemudian, para bhikkhu, di sini seorang Tathagata muncul di dunia ... (sebagaimana dalam sutta 27 alinea 13-21) ...menyucikan pikiran dari ketidak pastian.”
39. “Setelah menyingkirkan ke lima rintangan bathin, kekotoran pikiran yang melemahkan pengertian, menjauhkan diri dari nafsu indria, menjauhkan diri dari dhamma yang tidak menguntungkan, ia memasuki jhana pertama ... (seperti dalam Sutta 4, aline 23) ... lahir dari penjau¬han diri.
“Demikianlah pula, perjuangan mencapai hasilnya, usaha ber¬buah.”
40. “Kemudian, dengan menenangkan penerapan awal dan lanjutan ... jhana kedua ... lahir dari pemusatan pikiran.”
“Demikianlah pula, perjuangan mencapai hasilnya, usaha ber¬buah.”
41. “Kemudian, dengan memudarnya kebahagiaan pula ... jhana ketiga ... "Ia mencapai kediaman yang menyenangkan bagi mereka yang memiliki keseimbangan bathin dan kewaspadaan."
“Demikianlah pula, perjuangan mencapai hasilnya, usaha ber¬buah.
42. “Dengan mengabaikan kesenangan dan kesakitan (jasmani) ... jhana keempat ... dan memiliki kesucian dari kesadaran pikiran hasil dari keseimbangan bathin.”
“Demikianlah pula, perjuangan mencapai hasil, usaha berbuah.”
43. “Ketika pikirannya yang terpusat telah suci sedemikian ... ia mengarahkan, ia mencondongkan pikirannya pada pengetahuan tentang ingatan akan kehidupan lampau ... sedemikian dengan rincian dan hal-hal khusus ia mengingat kembali banyak kehidupan yang lampau.”
“Demikianlah pula, perjuangan mencapai hasilnya, usaha ber¬buah.”
44. “Ketika pikirannya yang terpusat telah suci sedemikian ... ia mengarahkan, ia mencondongkan pikirannya pada pengetahuan tentang lenyap dan timbulnya para makhluk ... ia mengerti bagaimana para makhluk hidup sesuai dengan kamma mereka.”
“Demikianlah pula, perjuangan mencapai hasilnya, usaha ber¬buah.”
45. “Ketika pikirannya yang terpusat telah suci sedemikian ... ia mengarahkan, ia mencondongakan pikirannya pada lenyapnya noda ... (seperti pada sutta 4, alinea 31) ... "Inilah jalan menuju lenyapnya noda-noda."
46. “Mengetahui demikian, melihat demikian, pikirannya terbebas dari noda-noda lobha, dari noda-noda dosa dan dari noda-noda moha. Ketika telah terbebas, terdapatlah pengetahuan: "Ini telah terbebas". Ia mengerti: "Kelahiran telah dihentikan, kehidupan luhur telah dijalani, apa yang dapat dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang akan datang."
“Demikianlah pula, perjuangan mencapai hasilnya usaha berbuah.”
47. “Demikianlah Sang Tathagata berkata, para bhikkhu, terdapatlah sepuluh landasan untuk mengecamnya.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh apa yang dilakukan di masa lampau, maka Sang Tatha-gata pastilah merupakan pelaku tindakan-tindakan yang dilakukan dengan baik di masa lampau, karena beliau sekarang merasakan perasaan senang yang tanpa noda.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh Makhluk ciptaan Tuhan (Pencipta), maka Sang Tathaga¬ta pastilah diciptakan oleh Tuhan (Pencipta) yang baik, karena beliau sekarang merasakan perasaan senang tanpa noda.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan nasib, maka sang Tathagata pastilah bernasib baik, karena beliau sekarang merasakan perasaan senang tanpa noda.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh kelas (di antara enam kelas kelahiran), maka Sang Tathagata pastilah memiliki kelas yang baik, karena beliau sekarang merasakan perasaan senang tanpa noda.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh kelas (di antara enam kelas kelahiran), maka Sang Tathagata pastilah memiliki kelas yang baik, karena beliau sekarang merasakan perasaan senang tanpa noda.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh perjuangan sekarang dan di sini juga, maka Sang Tatha-gata pasti berjuang dengan baik di sini dan sekarang juga, karena Beliau sekarang merasakan perasaan senang tanpa noda.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan apa yang dilakukan di masa lampau, maka Sang Tathagata harus dikecam; jika tidak, maka Sang Tathagata haruslah dikecam.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh Tuhan (Pencipta), maka Sang Tathagata haruslah dike-cam; jika tidak, maka Sang Tathagata haruslah dikecam.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh nasib, maka Sang Tathagata haruslah dikecam; jika tidak, Sang Tathagata haruslah dikecam.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh kelas, maka Sang Tathagata haruslah dikecam; jika tidak sang Tathagata haruslah dikecam.”
“Jika kesenangan dan kesakitan yang dirasakan para makhluk disebabkan oleh perjuangan di sini dan sekarang juga, maka Sang Tatha-gata harus dikecam; jika tidak, Sang Tathagata harus dikecam.”
“Begitulah Sang Tathagata berkata, para bhikkhu. Dan ketika Sang Tathagata berkata demikian, maka ada sepuluh alasan yang masuk di akal yang dapat dijadikan landasan untuk mengecamnya-Nya.”
“Inilah apa yang dikatakan Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa puas dan senang dalam kata-kata Sang Buddha.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar