BALAPANDITASUTTA
(129)
[163] Demikian telah saya dengar: Pada suatu ketika, Sang Bhagava tinggal di dekat Savatthi di Hutan Jeta di vihara yang dibangun Anathapindika. Saat berada di sana Sang Bhagava bersabda kepada para bhikkhu dengan berkata: "Para bhikkhu." "Yang Mulia," jawab para bhikkhu. Sang Bhagava berkata demikian:
"Para bhikkhu, terdapat tiga ciri orang bodoh 1, tanda orang bodoh, sifat orang bodoh. Apakah ketiga hal itu ? Terhadap hal ini, para bhikkhu, orang bodoh adalah orang yang memiliki pikiran yang tidak benar 2, mengatakan kata-kata yang tidak benar 3, seorang yang melakukan hal-hal yang tidak benar 4. Apabila, para bhikkhu, seorang yang bodoh bukanlah orang yang memiliki pikiran yang tidak benar, mengatakan kata-kata yang tidak benar, dan seorang yang melakukan hal-hal yang tidak benar, bagaimana mung¬kin para bijaksana dapat mengetahui tentang dirinya: orang ini adalah seorang yang bodoh, bukan orang yang baik.
Para bhikkhu, ia yang bodoh mengalami tiga penderitaan dan kesedihan yang mendalam di segala waktu dan tempat. Apabila, para bhikkhu, seorang bodoh sedang duduk di ruang pertemuan atau di tepi jalanan kereta ataupun di tepi jalan persimpangan dan apabi¬la orang-orang di sana mengadakan pembicaraan yang sesuai tentang dirinya dan apabila, para bhikkhu, orang bodoh itu adalah orang yang membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, orang yang berkelakuan salah sehubungan dengan kesenangan inder¬awi, seorang pembohong, dan seorang yang tidak dapat menahan dirinya untuk bermalas-malasan setelah (minum) arak, tuak dan minuman keras, dan apabila, para bhikkhu, timbul dalam pikiran orang bodoh itu: 'orang-orang ini sedang mengadakan pembicaraan yang sesuai tentang diriku, karena hal-hal ini terdapat dalam diriku dan aku memang melakukan hal-hal ini 5, inilah, para bhikkhu, yang merupakan penderitaan dan kesedihan yang mendalam (jenis) pertama yang dialami oleh orang bodoh itu di segala waktu dan tempat.
Dan kemudian, para bhikkhu, seorang bodoh melihat para raja yang setelah menahan seorang pencuri, seorang pelaku kejahatan, memberikan berbagai hukuman: 6 [164] mereka mencambuknya dengan cemeti dan mereka mencambuknya dengan tongkat dan mereka mencam¬buknya dengan batang pohon, dan mereka memotong tangannya ... kakinya, ... tangan dan kakinya ... telinganya ... hidungnya ... telinga dan hidungnya, dan mereka memberinya hukuman 'belanga makanan cair' ... hukuman 'menguliti batok kepala' ... hukuman 'mulut Rahu' ... hukuman 'kalung-api' ... hukuman 'tangan memba¬ra' ... hukuman 'memelintir jerami' ... hukuman 'baju kulit pohon' ... hukuman 'kijang-bertanduk' ... hukuman 'tusukan ke daging' ... hukuman 'irisan cakram' ... hukuman 'proses pengawe¬tan' ... hukuman 'mengelilingi peniti' ... dan mereka memberinya tempat tidur jerami, dan mereka menyirami dirinya dengan minyak mendidih, memberikan dirinya sebagai makanan kepada anjing-anjing, membakarnya hidup-hidup di tiang pembakaran, dan mereka memenggal kepalanya dengan pedang. Oleh karena itu, para bhikkhu, timbullah dalam pikiran orang bodoh itu: 'Karena perbuatan yang sedemikian jahatnya, para raja yang setelah menahan seorang pencuri, seorang pelaku kejahatan, memberikan berbagai hukuman: mereka mencambuknya dengan cemeti ... dan mereka memenggal kepa¬lanya dengan pedang. Tetapi hal-hal ini terdapat pada diriku dan aku memang melakukan hal-hal ini. Maka apabila para raja mengeta¬hui tentang diriku, mereka mungkin akan menahan diriku juga, dan memberikan berbagai hukuman: mereka mungkin mencambukku dengan cemeti dan mereka mungkin mencambukku dengan tongkat ... dan mereka mungkin memenggal kepalaku dengan pedang. Hal inilah, para bhikkhu, yang merupakan penderitaan dan kesedihan yang mendalam (jenis) kedua yang dialami oleh orang bodoh itu di segala waktu dan tempat.
Dan kemudian, para bhikkhu, ketika seorang bodoh sedang duduk di bangku atau terbaring di tempat tidur atau terbaring di tanah, pada saat seperti ini perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukannya dengan tidak benar melalui badan, ucapan dan pikiran akan muncul pada dirinya, terdapat pada dirinya, tampak pada dirinya 7. Para bhikkhu, seperti halnya pada senja hari tatkala bayang-bayang dari puncak gunung yang megah muncul, terdapat dan tampak di bumi, demikian pula, para bhikkhu, perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukan orang bodoh itu dengan tidak benar melalui badan, ucapan dan pikiran akan muncul, terdapat dan tampak pada dirinya saat ia sedang duduk di bangku atau terbaring di tempat tidur atau terbaring di tanah. [165] Oleh karena itu, para bhikkhu, timbullah dalam pikiran orang bodoh itu: 'Sesung¬guhnyalah apa yang baik belum kulakukan 8, apa yang terlatih belum kulakukan, tiada perlindungan terhadap (akibat-akibat) 9 yang menakutkan telah kuperbuat, kejahatan telah kulakukan, kekejaman telah kulakukan, kekerasan telah kulakukan. Sepanjang terdapat tempat tujuan bagi mereka yang belum melakukan apa yang baik, yang belum melakukan apa yang terlatih, yang belum membuat perlindungan terhadap (akibat-akibat) yang menakutkan, yang telah melakukan kejahatan, kekejaman dan kekerasan, ke tempat tujuan itulah aku akan pergi'. Ia bersedih, berduka, meratap, memukul dadanya, meraung dan terjatuh dalam kekecewaan. Hal ini, para bhikkhu, merupakan penderitaan dan kesedihan yang mendalam (jenis) ketiga yang dialami oleh orang bodoh itu di segala waktu dan tempat.
Ia, para bhikkhu 10, yang merupakan orang bodoh, setelah berlaku tidak benar melalui tubuh, setelah berlaku tidak benar melalui ucapan, setelah berlaku tidak benar melalui pikiran, saat kehancuran tubuhnya setelah mati ia akan terlahir dengan cara dan di tempat yang menyedihkan, di Alam Kehancuran, Neraka Niraya. Setiap orang, para bhikkhu, yang berkata dengan benar tentang orang itu akan mengatakan bahwa ia benar-benar tidak menyenang¬kan, benar-benar tidak bersahabat, benar-benar tidak mengenakkan. Terhadap hal ini, para bhikkhu, sebuah kiasan sekalipun sukar dibuat karena terdapat begitu banyak penderitaan di Neraka Ni¬raya."
Ketika hal tersebut selesai dikatakan, salah seorang bhikkhu berkata demikian kepada Sang Bhagava: "Akan tetapi apakah mungkin untuk membuat sebuah kiasan bagiku, Yang Mulia ?"
"Hal itu mungkin, o bhikkhu," jawab Sang Bhagava. "Hal itu dapat diumpamakan, o bhikkhu, seperti orang-orang menangkap seorang pencuri, seorang pelaku kejahatan dan membawanya ke hadapan raja dengan pedang dan berkata: 'Ini, paduka, adalah seorang pencuri, seorang pelaku kejahatan terhadap paduka. Umum¬kanlah untuknya hukuman apapun yang paduka inginkan,' dan sang raja berkata demikian sehubungan dengan orang itu: 'Pergilah, tuan-tuan yang baik, tikamlah 11 orang ini pagi-pagi dengan seratus tombak.' Dan pagi-pagi mereka menikamnya dengan seratus tombak. Kemudian pada tengah hari sang raja berkata demikian: 'Teman-temanku yang baik, bagaimana keadaan orang tersebut ?' 'Ia masih hidup, paduka.' Kemudian sang raja berkata demikian sehu¬bungan dengan orang itu: 'Pergilah, tuan-tuan yang baik, tikamlah orang ini pada tengah hari dengan seratus tombak. Dan pada tengah hari mereka menikamnya dengan seratus tombak. Kemudian menjelang malam sang raja berkata demikian: 'Teman-temanku yang baik, bagaimana keadaan orang tersebut ?' 'Ia masih hidup, paduka.' Kemudian sang raja berkata demikian sehubungan dengan orang itu: 'Pergilah, tuan-tuan yang baik, tikamlah orang ini menjelang malam dengan seratus tombak.' Dan menjelang malam [166] mereka menikamnya dengan seratus tombak. Apakah pendapat kalian, para bhikkhu, apakah orang itu, ketika ia ditikam dengan tiga ratus tombak, dari hal ini tidak akan mengalami penderitaan dan kesedi¬han yang mendalam ?"
"Orang itu, Yang Mulia, dengan ditikam satu tombak pun akan mengalami penderitaan dan kesedihan yang mendalam. Berapa kali lebih banyakkah 12 yang akan terjadi dengan tiga ratus tombak ?"
Kemudian Sang Bhagava, setelah mengambil sebuah batu kecil seukuran tangannya, berkata kepada para bhikkhu: "Apakah pendapat kalian tentang hal ini, para bhikkhu ? Sekarang, manakah yang lebih banyak, batu kecil ini yang seukuran tanganKu, yang telah Kuambil, ataukah Himalaya 13, raja gunung-gunung ?"
"Batu kecil ini, Yang Mulia, yang telah diambil Sang Bhagava seukuran tangannya, adalah tidak berarti; dibandingkan dengan Himalaya, raja gunung-gunung, batu itu tidak bernilai, batu itu juga tidak sebanding dengan bagian yang sangat kecil (dari gunung itu) sekalipun, batu itu tidak dapat dibandingkan (dengan gunung itu)." 14
"Kendatipun demikian, para bhikkhu, penderitaan dan kesedi¬han yang mendalam yang dialami orang itu saat ia ditikam dengan tiga ratus tombak, dibandingkan dengan penderitaan di Neraka Niraya tidaklah sebanding, juga tidak sebanding dengan bagian yang sangat kecil (dari penderitaan di Neraka Niraya), juga tidak dapat dibandingkan sama sekali (dengan penderitaan di Neraka Niraya). Para bhikkhu, para penjaga di Neraka Niraya menyiksanya dengan apa yang disebut lima sayap burung 15. Para penjaga itu menusukkan pancang besi membara melalui tiap tangan dan tiap kaki serta sebuah pancang besi membara menembus di tengah dadanya. Di sana ia merasakan perasaan yang menyakitkan, menusuk, menderita hebat. Akan tetapi ia tidak akan selesai 16 sampai ia mengakhiri perbuatan jahatnya itu.
Kemudian para penjaga Neraka Niraya membaringkannya dan menggerusnya dengan beliung. Di sana ia merasakan perasaan yang menyakitkan, menusuk, menderita hebat. Akan tetapi ia tidak akan selesai sampai ia mengakhiri perbuatan jahatnya itu.
Kemudian, para bhikkhu, para penjaga Neraka Niraya meme¬ganginya dengan kaki di atas dan kepala di bawah dan menggerus tubuhnya dengan pisau-pisau. Di sana ...
Kemudian, para bhikkhu, para penjaga Neraka Niraya mengikat¬nya ke sebuah kereta perang dan menyeretnya naik turun di atas tanah yang membakar, membara, menyala. [167] Di sana ...
Kemudian, para bhikkhu, para penjaga Neraka Niraya mendorong tubuhnya kesana kemari melalui gundukan besar bara pembakaran yang berpijar, membakar, membara, menyala. Di sana ...
Kemudian, para bhikkhu, para penjaga Neraka Niraya membawa¬nya dengan kaki di atas dan kepala di bawah, dan mencelupkannya ke dalam belanga kuningan yang berpijar, membakar, membara, menyala. Di sana ia direbus dan setelah itu muncul ke permukaan dengan buih. Setelah direbus di sana dan muncul ke permukaan dengan buih, ia naik satu kali dan turun satu kali dan ia lewat di atasnya satu kali. Di sana ia merasakan perasaan yang menya¬kitkan, menusuk, menderita hebat. Akan tetapi ia tidak akan selesai sampai ia mengakhiri perbuatan jahatnya itu.
Kemudian, para bhikkhu, para penjaga Neraka Niraya melempar¬kannya ke dalam Neraka Niraya Raya. Sekarang, para bhikkhu, Neraka Niraya Raya 17 (digambarkan seperti ini):
Memiliki empat pojok dan dengan empat gerbang, 18
Dibagi atas bagian yang sama besar,
Dikelilingi dengan dinding besi, dengan beratapkan besi di atas;
Lantainya yang berpijar terbuat dari besi pijar;
Luasnya seratus yojana persegi 19.
Dengan banyak cara yang mendalam dapatlah Aku, para bhikkhu, menceritakan tentang Neraka Niraya, akan tetapi tidaklah mudah untuk menceritakannya secara lengkap, 20 para bhikkhu, karena terdapat terlalu banyak penderitaan yang mendalam di Neraka Niraya.
Terdapat, para bhikkhu, binatang-binatang, makhluk-makhluk bernafas yang merupakan pemakan rumput. Mereka hidup dari kelem¬baban dan rumput kering, serta mengunyahnya dengan gigi. Dan yang manakah, para bhikkhu, yang merupakan binatang-binatang, makhluk-makhluk bernafas yang merupakan pemakan rumput ? Kuda, lembu / sapi, keledai, domba, kijang, dan binatang apa pun lainnya, makhluk-makhluk bernafas yang ada yang merupakan pemakan rumput. Para bhikkhu, orang bodoh yang dulunya mengumbar nafsunya, dan setelah melakukan perbuatan-perbuatan jahat, saat kehancuran tubuhnya setelah mati ia akan terlahir di antara makhluk-makhluk pemakan rumput tersebut.
Terdapat, para bhikkhu, binatang-binatang, makhluk-makhluk bernafas yang merupakan pemakan kotoran. Setelah mencium bau kotoran dari kejauhan mereka datang mendekatinya, sambil berpi¬kir: 'Kami akan makan di sini, kami akan makan di sini.' Para bhikkhu, hal itu diibaratkan sebagai brahmana yang datang mende¬kati bau persembahan sambil berpikir: 'Kami akan makan di sini, kami akan makan di sini' - kendatipun demikian, para bhikkhu, terdapat binatang-binatang, makhluk-makhluk bernafas yang merupa¬kan pemakan kotoran. Mereka ini setelah mencium [168] bau kotoran dari kejauhan, datang mendekatinya sambil berpikir: 'Kami akan makan di sini, kami akan makan di sini.' Dan yang manakah, para bhikkhu, yang merupakan binatang-binatang, makhluk-makhluk berna¬fas yang merupakan pemakan kotoran ? Ayam jantan, babi, anjing, serigala, dan binatang-binatang lain apapun juga yang ada yang merupakan pemakan kotoran. Para bhikkhu, orang bodoh itu yang dulunya mengumbar nafsunya dan setelah melakukan perbuatan-perbuatan jahat, saat kehancuran tubuhnya setelah mati ia akan terlahir di antara makhluk-makhluk pemakan kotoran tersebut.
Terdapat, para bhikkhu, binatang-binatang, makhluk-makhluk bernafas yang terlahir di kegelapan, menjadi tua di kegelapan dan mati di kegelapan. Dan yang manakah, para bhikkhu, yang merupakan binatang-binatang, makhluk-makhluk bernafas yang terlahir, menja¬di tua dan mati di kegelapan ? Kumbang, ulat, cacing tanah dan binatang-binatang apapun lainnya, makhluk-makhluk bernafas yang ada yang terlahir, menjadi tua dan mati di kegelapan. Para bhikk¬hu, orang bodoh yang dulunya mengumbar nafsunya ... setelah mati ia akan terlahir di antara makhluk-makhluk yang terlahir, menjadi tua dan mati di kegelapan.
Terdapat, para bhikkhu, binatang-binatang, makhluk-makhluk bernafas yang terlahir di air, menjadi tua di air, mati di air. Dan yang manakah, para bhikkhu, yang merupakan binatang-binatang, makhluk-makhluk bernafas yang terlahir, menjadi tua dan mati di air ? Ikan, kura-kura, buaya dan binatang-binatang apa pun lain¬nya, makhluk-makhluk bernafas yang ada yang terlahir, menjadi tua dan mati di air. Para bhikkhu, orang bodoh yang dulunya mengumbar nafsunya ... setelah mati ia akan terlahir di antara makhluk-makhluk yang terlahir, menjadi tua dan mati di air.
Terdapat, para bhikkhu, binatang-binatang, makhluk-makhluk bernafas yang terlahir di tempat busuk, menjadi tua di tempat busuk, mati di tempat busuk. Dan yang manakah, para bhikkhu, yang merupakan binatang-binatang, makhluk-makhluk bernafas yang terla¬hir, menjadi tua dan mati di tempat busuk ? MAkhluk-makhluk tersebut, para bhikkhu, yang terlahir pada ikan yang membusuk atau yang menjadi tua pada ikan yang membusuk atau yang mati pada ikan yang membusuk; atau pada mayat yang membusuk; atau pada nasi yang membusuk; atau pada genangan air pada jalan masuk desa; atau yang terlahir pada genangan air kotor di dekat desa ... atau yang mati pada genagan air kotor di dekat desa. Para bhikkhu, orang bodoh itu [169] yang dulunya mengumbar nafsunya, yang setelah melakukan perbuatan-perbuatan jahat, saat kehancuran tubuhnya setelah mati ia akan terlahir di antara makhluk-makhluk yang terlahir di tempat busuk, menjadi tua di tempat busuk, mati di tempat busuk.
Dengan banyak cara yang mendalam Aku, para bhikkhu, dapat menceritakan tentang kelahiran binatang, akan tetapi tidaklah mudah untuk menceritakannya secara lengkap, para bhikkhu, karena terlalu banyak penderitaan yang mendalam pada kelahiran binatang.
Para bhikkhu, hal tersebut dapat diibaratkan seperti seorang laki-laki yang melemparkan sebuah penggandaran yang berlubang satu 21 ke samudera. Angin timur membawanya ke barat, angin barat membawanya ke timur, angin utara membawanya ke selatan, angin selatan membawanya ke utara. Seekor kura-kura buta akan muncul ke permukaan sekali dalam seratus tahun. Bagaimana pendapat kalian tentang hal ini, para bhikkhu ? Apakah kura-kura buta itu dapat memasukkan lehernya melalui lubang pada penggandaran itu ?"
"Bila memang mungkin 22, Yang Mulia, maka hal itu akan jarang sekali terjadi."
"Cepat atau lambat, para bhikkhu, kura-kura buta itu dapat memasukkan lehernya melalui lubang pada penggandaran itu; akan tetapi jauh lebih sulit daripada hal tersebut, Kukatakan, para bhikkhu, adalah bagi orang bodoh yang telah terjatuh ke Alam Kehancuran untuk terlahir kembali sebagai manusia. Apakah yang menjadi penyebabnya ? Para bhikkhu, tidak terdapat pelaksanaan Dhamma, tidak ada keadilan, tidak ada pelaksanaan apa yang terla¬tih, tidak ada pelaksanaan apa yang baik. Para bhikkhu, di sana terdapat saling memangsa dan memakan yang lemah 23. Para bhikkhu, apabila suatu ketika setelah waktu yang lama sekali orang bodoh tersebut kembali terlahir sebagai manusia (lagi), ia akan terla¬hir dalam keluarga yang rendah 24: keluarga berkasta rendah atau keluarga pemburu atau keluarga penganyam bambu atau keluarga pembuat pedati atau keluarga pemungut sampah 25, dalam keluarga demikian selalu terdapat kekurangan, tanpa makanan atau minuman yang cukup, dan dalam keadaan sulit untuk memperoleh jubah. Terlebih lagi, ia akan dijauhi, berwajah buruk, bertubuh kerdil, sakit-sakitan, buta atau cacat atau pincang atau lumpuh; ia tidak akan dapat memperoleh makanan, minuman, [170] pakaian, kendaraan, karangan bunga, harum-haruman dan wewangian, tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan; ia akan berkelakuan tidak benar melalui tubuh, ucapan, pikiran. Karena ia berkelakuan tidak benar melalui tubuh, ucapan dan pikiran, saat kehancuran tubuhnya setelah mati ia akan terlahir dengan cara dan di tempat yang menyedihkan, di Alam Kehancuran, Neraka Niraya.
Para bhikkhu, hal tersebut dapat diibaratkan seperti seorang penjudi yang pada lemparan (dadu) yang pertama kali menyebabkan kekalahannya harus kehilangan puteranya, isterinya dan semua harta bendanya dan, lebih jauh, dirinya sendiri harus di penjara. Para bhikkhu, lemparan dadu tersebut yang pertama kali menyebab¬kan kekalahannya yang menyebabkannya harus kehilangan puteranya, isterinya dan semua harta bendanya dan, lebih jauh, dirinya sendiri harus di penjara tersebut tidaklah terlalu berarti apa-apa. Jauh lebih berat daripada hal ini adalah kekalahan yang dialami seorang bodoh, yang setelah berkelakuan tidak benar melalui tubuh, ucapan, pikiran, pada saat kehancuran tubuhnya setelah mati ia akan terlahir dengan cara dan di tempat yang menyedihkan, di Alam Kehancuran, Neraka Niraya. Hal inilah, para bhikkhu, yang merupakan keadaan orang bodoh, lengkap secara keseluruhan 26.
Terdapat, para bhikkhu, tiga ciri orang bijaksana, tanda orang bijaksana, sifat orang bijaksana. Apakah ketiga hal itu ? Terhadap hal ini, para bhikkhu, orang bijaksana adalah orang yang memiliki pikiran yang benar, mengatakan kata-kata yang benar, dan seorang yang melakukan hal-hal yang benar. Apabila, para bhikkhu, seorang bijaksana bukanlah orang yang memiliki pikiran benar, mengatakan kata-kata benar, melakukan hal-hal benar, bagaimana mungkin para bijaksana dapat mengetahui tentang dirinya: orang yang patut dihormati ini adalah orang bijaksana, orang yang baik.
Para bhikkhu, ia yang bijaksana mengalami tiga kebahagiaan dan kegembiraan di segala waktu dan tempat. Apabila, para bhikk¬hu, orang bijaksana itu sedang duduk di ruang pertemuan atau di tepi jalanan kereta ataupun di tepi jalan persimpangan dan orang-orang di sana mengadakan pembicaraan yang sesuai tentang dirinya, dan apabila, para bhikkhu, orang bijaksana itu menjauhkan diri dari pembunuhan terhadap makhluk hidup, dari mengambil apa yang tidak diberikan, dari berkelakuan tidak benar sehubungan dengan kesenangan inderawi, [171], dari berbohong, dan dari bermalas-malasan setelah (minum) arak, tuak, dan minuman keras, dan apabi¬la, para bhikkhu, timbul dalam pikiran orang bijaksana itu: 'Orang-orang ini sedang mengadakan pembicaraan yang sesuai ten¬tang diriku dan aku merasa sesuai dengan hal-hal itu' - inilah, para bhikkhu, yang merupakan kebahagiaan dan kegembiraan (jenis) pertama yang dialami oleh orang bijaksana itu di segala waktu dan tempat.
Dan kemudian, para bhikkhu, seorang bijaksana melihat para raja yang setelah menahan seseorang pencuri, seorang pelaku kejahatan, memberikan berbagai hukuman: mereka mencambuknya dengan cemeti ... (seperti pada halaman 164 vol.iii) ... dan mereka memenggal kepalanya dengan pedang. Oleh karena itu, para bhikkhu, timbullah dalam pikiran orang bijaksana itu: 'Karena perbuatan yang sedemikian jahatnya para raja yang setelah menahan seorang pencuri, seorang pelaku kejahatan, memberikan berbagai hukuman: mereka mencambuknya dengan cemeti ... mereka memenggal kepalanya dengan pedang. Akan tetapi hal-hal ini tidak terdapat pada diriku dan aku tidak melakukan hal-hal ini.' Inilah, para bhikkhu, yang merupakan kebahagiaan dan kegembiraan (jenis) kedua yang dialami oleh orang bijaksana itu di segala waktu dan tempat.
Dan kemudian, para bhikkhu, ketika seorang bijaksana sedang duduk di bangku atau terbaring di tempat tidur atau terbaring di tanah, pada saat seperti ini perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukannya dengan benar melalui badan, ucapan dan pikiran akan muncul pada dirinya, terdapat pada dirinya, tampak pada dirinya. Para bhikkhu, seperti halnya pada senja hari tatkala bayang-bayang dari puncak gunung yang megah muncul, terdapat dan tampak di bumi, demikian pula, para bhikkhu, perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukan orang bijaksana itu dengan benar melalui badan, ucapan dan pikiran akan muncul, terdapat dan tampak pada dirinya saat ia sedang duduk di bangku atau terbaring di tempat tidur atau terbaring di tanah. Oleh karena itu, para bhikkhu, timbullah dalam pikiran orang bijaksana itu: 'Sesungguhnyalah apa yang jahat belum kulakukan, kekejaman belum kulakukan, kekerasan belum kulakukan, apa yang baik telah kulakukan, apa yang terlatih telah kulakukan, perlindungan terhadap (akibat-akibat) yang menakutkan telah kutemukan. Sepanjang terdapat tempat tujuan bagi mereka yang belum melakukan kejahatan, kekejaman atau kekerasan, yang telah melakukan apa yang baik, yang terlatih, dan yang telah menemukan perlindungan terhadap (akibat-akibat) yang menakutkan, ke tempat tujuan itulah aku akan pergi.' Ia tidak bersedih, tidak berduka, tidak meratap, tidak memukul dadanya, tidak meraung ataupun terjatuh ke dalam kekecewaan. Inilah, para bhikkhu, yang merupakan kebahagiaan dan kegembiraan (jenis) ketiga yang dialami oleh orang bijaksana itu di segala waktu dan tempat.
Ia, para bhikkhu, yang merupakan orang bijaksana, setelah berlaku benar melalui tubuh, ucapan dan pikiran, [172] saat kehancuran tubuhnya setelah mati ia akan terlahir pada tempat yang baik, surga. Tiap orang, para bhikkhu, yang berkata dengan benar tentang orang itu akan mengatakan: 'Sangat menyenangkan, sangat bersahabat, sangat mengenakkan.' Terhadap hal ini, para bhikkhu, sebuah kiasan sekali pun sukar dibuat karena terdapat begitu banyak kebahagiaan di surga.
Ketika hal tersebut selesai dikatakan, salah seorang bhikkhu berkata demikian kepada Sang Bhagava: "Akan tetapi apakah mung¬kin, Yang Mulia, untuk membuat sebuah kiasan ?" 27
"Hal itu mungkin, O, bhikkhu," jawab Sang Bhagava. "Hal itu dapat diumpamakan, O, bhikkhu, seperti seorang raja 28 yang memerintah dengan roda dhamma, yang dikaruniai tujuh Harta dan empat berkah 29, mengalami kebahagiaan dan kegembiraan darinya. Ketujuh Harta manakah yang menjadi sumber kebahagiaan dan kegem¬biraannya ?
Terhadap hal ini, para bhikkhu, ketika seorang raja agung yang telah diminyaki telah mencuci kepalanya pada hari Uposatha, tanggal 15, dan telah pergi ke bagian atas istananya untuk menja¬lankan Uposatha, muncullah kemudian Harta Roda yang seperti dewa, dengan bagian tengahnya, rodanya serta seribu jari-jari rodanya secara lengkap. Saat melihat hal ini, muncullah dalam pikiran raja agung yang telah diminyaki itu: 'Aku pernah mendengar hal ini, bahwa apabila seorang raja agung yang telah diminyaki telah mencuci kepalanya pada hari Uposatha, tanggal 15, dan telah pergi ke bagian atas istananya untuk menjalankan Uposatha, dan di sana kemudian muncul Harta Roda yang seperti dewa, dengan bagian tengahnya, rodanya, dan seluruh jari-jarinya secara lengkap, maka ia akan menjadi raja yang memerintah dengan roda dhamma. Kemud¬ian, para bhikkhu 30, raja agung yang telah diminyaki itu bangkit dari duduknya sambil membawa botol air upacara di tangan kirinya, dan dengan tangan kanannya memercikkan (air) pada 31 Harta Roda sambil berkata: 'Semoga Harta Roda yang dihormati dapat bergulir, semoga Harta Roda yang dihormati dapat mengalahkan seluruh dunia.' Kemudian, para bhikkhu, Harta Roda tersebut bergulir menuju bagian timur dan diikuti oleh raja yang memerintah dengan roda dhamma itu bersama dengan pasukan yang besarnya empat kali lipat. Dan dimanapun, para bhikkhu, Harta Roda tersebut berhenti, di situlah raja yang memerintah dengan roda dhamma itu beristira-hat bersama dengan pasukannya yang besarnya empat kali lipat itu. Dan, [173] para bhikkhu, raja-raja saingan dari timur, setelah mendekati raja yang memerintah dengan roda dhamma itu, berkata demikian: 'Datanglah, paduka, kami menyambutmu, paduka, (semua¬nya) milikmu, paduka, perintahlah (kami), paduka.' Raja yang memerintah dengan roda dhamma itu berkata demikian: 'Makhluk-makhluk yang bernafas tidak seharusnya dibunuh, apa yang tidak diberikan tidak seharusnya diambil, pengumbaran nafsu inderawi tidak seharusnya dituruti, kebohongan tidak seharusnya dikatakan, minuman keras tidak seharusnya diminum, dan engkau harus makan secukupnya saja.' 32 Dan, para bhikkhu, para raja saingan dari timur tersebut menjadi pengikut dari raja yang memerintah dengan roda dhamma itu. Dan kemudian, para bhikkhu, Harta Roda, setelah terjun ke samudera timur dan keluar (dari samudera itu lagi), bergulir ke arah selatan ... terjun ke samudera selatan dan keluar (dari samudera itu lagi), bergulir ke arah barat ... terjun ke samudera barat dan keluar (dari samudera itu lagi), bergulir ke arah utara dan diikuti oleh raja yang memerintah dengan roda dhamma itu bersama dengan pasukan yang besarnya empat kali lipat. Dan dimanapun, para bhikkhu, Harta Roda tersebut berhenti, di situlah raja yang memerintah dengan roda dhamma itu beristirahat bersama dengan pasukannya yang besarnya empat kali lipat itu. Dan, para bhikkhu, para raja saingan dari utara, setelah mendekati raja yang memerintah dengan roda dhamma itu, berkata demikian: 'Datanglah, paduka, kami menyambutmu, paduka, (semuanya) milikmu, paduka, perintahlah (kami), paduka.' Raja yang memerintah dengan roda dhamma itu berkata demikian: 'Makh¬luk-makhluk yang bernafas tidak seharusnya dibunuh ... dan engkau harus makan secukupnya saja. ' Dan, para bhikkhu, para raja saingan dari utara tersebut menjadi pengikut dari raja yang memerintah dengan roda dhamma itu. Dan kemudian, para bhikkhu, setelah Harta Roda telah mengalahkan semua bagian di bumi yang dihubungkan oleh samudera, setelah sendiri kembali ke ibukota kerajaan, Harta Roda itu berdiri seolah-olah bertumpu pada gan¬dar33 yang terdapat pada gerbang istana raja yang memerintah dengan roda dhamma itu, dan menghiasi gerbang istana dari raja yang memerintah dengan roda dhamma itu. Demikianlah, para bhikk¬hu, munculnya Harta Roda di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma itu.
Dan kemudian, para bhikkhu, Harta Gajah muncul di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma tersebut; keseluruhan badannya putih, kekuatannya tujuh kali lipat, dan dapat terbang ke angkasa dengan kekuatan batiniah, seekor gajah yang bernama Uposatha 34. Saat melihat gajah itu, raja yang memerintah dengan roda dhamma itu merasa berbahagia dan berpikir: 'Benar-benar kendaraan gajah yang agung, seandainya gajah itu mau dijinakkan.' Kemudian, para bhikkhu, [174] Harta Gajah itu, laksanakan seekor gajah yang telah lama jinak, pada saat itu juga mau dijinakkan. Pada suatu waktu, para bhikkhu, raja yang memerintah dengan roda dhamma itu sewaktu memeriksa Harta Gajahnya, menungganginya pada suatu pagi dan melayang di atas bumi yang dihubungkan oleh samu¬dera dan kembali sendiri ke ibukota tepat saat sarapan pagi. Demikianlah, para bhikkhu, munculnya Harta Gajah di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma itu.
Dan kemudian, para bhikkhu, Harta Kuda muncul di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma tersebut; keseluruhan badannya putih, dengan kepala (sehitam) burung gagak, bulu teng¬kuk yang gelap, dan dapat terbang ke angkasa dengan kekuatan batiniah, raja dari para kuda yang bernama Valaha 35. Saat meli¬hat kuda itu, raja yang memerintah dengan roda dhamma itu merasa berbahagia dan berpikir: 'Benar-benar kendaraan kuda yang agung, seandainya kuda itu mau dijinakkan.' Kemudian, para bhikkhu, ... (seperti di atas, dengan mengganti gajah menjadi kuda) ... Demi¬kianlah, para bhikkhu, munculnya Harta Kuda di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma itu.
Dan kemudian, para bhikkhu, Harta Permata 36 muncul di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma tersebut. Harta itu adalah batu zamrud, sebening air, terasah dengan baik pada kedelapan sisinya. Dan cahaya dari Harta Permata tersebut, para bhikkhu, terpancarkan ke sekelilingnya sejauh satu yojana. Pada suatu waktu, para bhikkhu, raja yang memerintah dengan roda dhamma itu sewaktu memeriksa Harta Permatanya, membariskan pasu¬kannya yang empat kali lipat, mengangkat tinggi-tinggi permata itu di atas sebuah tiang dan berjalan di kegelapan malam. Dan, para bhikkhu, semua penduduk desa di sekitarnya mulai bekerja oleh sinar yang dipancarkannya karena berpikir bahwa hari sudah siang. Demikianlah, para bhikkhu, munculnya Harta Permata di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma itu.
Dan kemudian, para bhikkhu, Harta Wanita muncul di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma tersebut. Wanita itu elok, menyenangkan untuk dipandang, mempesona, dikaruniai kecan¬tikan kulit yang tertinggi, tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek, [175] tidak terlalu kurus, tidak terlalu gemuk, tidak terlalu hitam ... tidak terlalu pucat; melebihi kecantikan manu¬sia, walaupun ia belum mencapai kecantikan laksana dewa. Dan sentuhan tubuh dari Harta Wanita ini adalah sedemikian rupa, para bhikkhu, sehingga terasa seolah-olah seperti sentuhan seberkas kapas atau halusnya bunga widuri. Dan, para bhikkhu, kaki dan lengan dari Harta Wanita ini terasa hangat saat (cuaca) sejuk dan terasa sejuk saat cuaca hangat. Wewangian dari kayu cendana terpancar dari tubuh Harta Wanita ini, para bhikkhu; dari mulut¬nya memancar harum teratai. Dan Harta Wanita ini, para bhikkhu, adalah orang yang bangun lebih pagi daripada raja yang memerintah dengan roda dhamma itu dan yang paling akhir beristirahat, dan merupakan pelayan setia yang memuaskan sang raja, serta memiliki tutur kata yang lembut 37. Dan, para bhikkhu, Harta Wanita itu tidak pernah tidak setia kepada raja yang memerintah dengan roda dhamma itu kendati pun dalam pikirannya, dengan demikian bagaima¬na mungkin ia melakukannya secara fisik ? Demikianlah, para bhikkhu, munculnya Harta Wanita di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma itu.
Dan kemudian, para bhikkhu, Harta Kepala Rumah 38 muncul di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma tersebut. Akibat dari kamma ia memiliki penglihatan laksana dewa yang dapat dipa¬kainya untuk melihat harta, baik yang ada pemiliknya ataupun tidak. Setelah mendekati raja yang memerintah dengan roda dhamma itu, ia berkata demikian: 'Damai bagimu, paduka, aku akan mengu¬rus kekayaan paduka sebagaimana kekayaan seharusnya diurus.' Pada suatu waktu, para bhikkhu, raja yang memerintah dengan roda dhamma itu, sewaktu akan memeriksa Harta Kepala Rumah ini, naik di atas perahu, mendayungnya ke tengah arus sungai Gangga, dan berkata demikian kepada Harta Kepala Rumah: 'Aku membutuhkan, kepala rumah, keping emas dan emas.' 'Baiklah, paduka, dayunglah perahu ke salah satu tepi sungai.' 'Di sinilah, kepala rumah, kuperlukan keping emas dan emas.' Kemudian, para bhikkhu, Harta Kepala Rumah itu, setelah menyentuh air sungai dengan kedua tangannya, ia menarik satu kendi penuh uang emas dan emas dan berkata demikian kepada raja yang memerintah dengan roda dhamma itu: 'Apakah ini cukup, paduka, apakah sudah cukup apa yang kulakukan, paduka, apakah pelayananku cukup, paduka ?' Raja yang memerintah dengan roda dhamma tersebut berkata demikian: 'Sudah cukup, kepala rumah, engkau sudah cukup melakukannya, kepala rumah, pelayananmu cukup, kepala rumah.' Demikianlah, para bhikk¬hu, munculnya Harta Kepala Rumah di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma itu.
Dan kemudian, para bhikkhu, Harta Penasehat 39 muncul di hadapan raja yang memerintah dengan roda dhamma tersebut. [176] Ia pandai, berpengalaman, bijaksana; ia sangat cakap dalam menye¬diakan apa yang seharusnya disediakan untuk raja yang memerintah dengan roda dhamma itu, sangat cakap dalam menyisihkan apa yang seharusnya disisihkan, sangat cakap dalam mempertahankan apa yang seharusnya dipertahankan 40. Setelah mendekati raja yang memerin¬tah dengan roda dhamma itu, ia berkata demikian: 'Damai bagimu, paduka, aku akan memberi (paduka) nasehat.' Demikianlah, para bhikkhu, munculnya Harta Penasehat di hadapan raja yang memerin¬tah dengan roda dhamma itu.
Raja yang memerintah dengan roda dhamma itu, para bhikkhu, dikaruniai dengan ketujuh Harta ini.
Dan dikaruniai dengan empat berkah apakah raja itu ? 41 Terhadap hal ini, para bhikkhu, seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma akan berparas elok, menyenangkan untuk dipan¬dang, mempesona, dikaruniai ketampanan kulit yang tertinggi yang melampaui orang-orang lain. Para bhikkhu, seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma dikaruniai dengan berkah pertama ini.
Dan kemudian, para bhikkhu, seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma memiliki umur panjang, hidup lama, yang me¬lampaui orang-orang lain. Para bhikkhu, seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma dikaruniai dengan berkah kedua ini.
Dan kemudian, para bhikkhu, seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma memiliki sedikit penyakit, tidak sakit-sakitan, memiliki pencernaan yang baik yang tidak terlalu dingin atau terlalu panas 42 yang melampaui orang-orang lain. Para bhikkhu, seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma dika¬runiai dengan berkah ketiga ini.
Dan kemudian, para bhikkhu, seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma akan disayangi oleh brahmana dan kepala rumah serta dicintai mereka. Sebagaimana halnya, para bhikkhu, seorang ayah disayangi dan dicintai oleh anak-anaknya, demikian pula, para bhikkhu, seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma disayangi dan dicintai oleh brahmana dan kepala rumah. Dan, para bhikkhu, brahmana dan kepala rumah disayangi dan dicintai oleh raja yang memerintah dengan roda dhamma itu. Sebagaimana halnya, para bhikkhu, anak-anak disayangi dan dicintai oleh ayahnya, demikian pula, para bhikkhu, brahmana dan kepala rumah disayangi dan dicintai oleh raja yang memerintah dengan roda dhamma itu. Pada suatu waktu, para bhikkhu, raja yang memerintah dengan roda dhamma pergi bergembira dengan pasukan yang berjumlah empat kali lipat. Kemudian, para bhikkhu, brahmana dan kepala rumah, setelah mendekati raja yang memerintah dengan roda dhamma itu, berkata demikian: 'Berjalanlah perlahan-lahan, paduka, agar kami dapat memandangmu lebih lama.' Dan, para bhikkhu, raja yang memerintah dengan roda dhamma itu menyapa kusir kereta dengan berkata: [177] 'Berjalanlah perlahan-lahan, kusir kereta, agar aku dapat meman¬dang brahmana dan kepala rumah itu lebih lama.' Para bhikkhu, seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma dikaruniai dengan berkah keempat ini.
Para bhikkhu, seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma dikaruniai dengan keempat berkah ini.
Apakah pendapat kalian tentang hal ini, para bhikkhu ? Apakah seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma, yang dikaruniai dengan tujuh Harta dan empat berkah ini tidak mengala¬mi kebahagiaan dan kegembiraan darinya ?"
"Seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma, Yang Mulia, bila memiliki satu saja dari Harta tersebut sudah akan mengalami kebahagiaan dan kegembiraan darinya. Berapa kali lebih bahagiakah yang didapat dari tujuh Harta dan empat berkah itu ?
Kemudian Sang Bhagava, setelah mengambil sebuah batu kecil seukuran tangannya, berkata kepada para bhikkhu: "Apakah pendapat kalian tentang hal ini, para bhikkhu ? Sekarang, manakah yang lebih banyak, batu kecil ini yang seukuran tanganKu, yang telah Kuambil, ataukah Himalaya, raja gunung-gunung ?"
"Batu kecil ini, Yang Mulia, yang telah diambil Sang Bhagava seukuran tangannya, adalah tidak berarti; dibandingkan dengan Himalaya, raja gunung-gunung, batu itu tidak sebanding dengan bagian yang sangat kecil (dari gunung itu) sekalipun, batu itu tidak dapat dibandingkan (dengan gunung itu)."
"Kendati pun demikian, para bhikkhu, kebahagiaan dan kegem¬biraan tersebut yang dialami raja yang memerintah dengan roda dhamma itu dari tujuh Harta dan empat berkah tersebut, bila dibandingkan dengan kebahagiaan dewa tidaklah sebanding, juga tidak sebanding dengan bagian yang sangat kecil (dari kebahagiaan dewa), juga sama sekali tidak dapat dibandingkan (dengan kebaha¬giaan dewa). Para bhikkhu, apabila pada suatu ketika setelah waktu yang amat lama orang bijaksana itu terlahir kembali sebagai manusia, ia akan terlahir ke dalam salah satu keluarga yang mulia: keluarga orang mulia yang kaya atau keluarga brahmana yang kaya atau keluarga kepala rumah tangga yang kaya, dalam keluarga demikian yang kaya raya, memiliki banyak harta, memiliki banyak sumber kekayaan, dengan emas dan perak berlimpah ruah, kekayaan yang berlimpah ruah, padi yang berlimpah ruah. Lebih dari itu, ia akan berparas elok, tampan, menawan, dikaruniai kecantikan kulit tertinggi; ia akan dapat memperoleh makanan, minuman, pakaian, kendaraan, karangan bunga, harum-haruman dan wewangian, tempat tidur, tempat tinggal dan penerangan; ia akan berkelakuan benar melalui tubuh, ucapan, pikiran. Karena [178] ia berkelakuan benar melalui badan, ucapan dan pikiran, saat kehancuran tubuhnya setelah mati ia akan terlahir di tempat yang baik, di surga.
Para bhikkhu, hal tersebut dapat diibaratkan seperti seorang penjudi yang pada lemparan (dadu) yang pertama kali menyebabkan kemenangannya akan memenangkan banyak harta benda. Para bhikkhu, lemparan dadu tersebut yang pertama kali menyebabkan kemenangan¬nya yang mengakibatkan penjudi itu memenangkan banyak harta benda tersebut tidaklah terlalu berarti apa-apa. Jauh lebih agung daripada hal ini adalah kemenangan yang dialami seorang bijaksa¬na, yang setelah berkelakuan benar melalui tubuh, ucapan, piki¬ran, pada saat kehancuran tubuhnya setelah mati ia akan terlahir di tempat yang baik, di surga. Inilah, para bhikkhu, yang merupa¬kan keadaan orang bijaksana, lengkap secara keseluruhan."
Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu bergembira terhadap apa yang telah dikatakan oleh Sang Bhagava.
-----------------------------------------------------------------
1. Uraian yang mengenai orang bodoh ini juga terdapat pada A.i.102.
2. Pikiran yang berkenaan dengan sifat iri hati, kehendak jahat dan pandangan keliru, M.A.iv.210.
3. Kata-kata bohong dan sebagainya.
4. Membunuh makhluk-makhluk hidup dan sebagainya.
5. sandissami, atau menyetujui, hidup dengan nyaman dengan, atau bersekutu dengan.
6. Seperti pada M.i.87. Lihat M.L.S.i.115 untuk referensi lebih jauh.
7. olambanti ajjholambanti abhippalambanti. Kata kedua dari kalimat tersebut terdapat pada S.iii.137 dan diterjemahkan pada K.S.iii.116 sebagai "bergantung" yang dicocokkan pada konteks di sini.
8. Bandingkan bagian ini dengan A.ii.174, Iti. halaman 25.
9. bhiruttana; bandingkan dengan Iti. halaman 25, Vin.iii.72. Lihat B.D.i.124, n.1; VinA.436, AA.iii.161.
10. Penerjemah (dari bahasa Pali ke bahasa Inggris) merasa bahwa bhikkhu di sini seharusnya berbunyi bhikkhave seperti pada teks halaman 171.
11. hanatha di sini tidak dapat berarti membunuh atau melenyap-kan, sebagaimana selanjutnya, walaupun mereka dapat menikam atau menyerang, haneyyum, sang pencuri, mereka tidak berusaha untuk membunuhnya seketika. Pikiran tentang menikam atau menusuk muncul pada M.A.iv.211 yang diterangkan sebagai "telah menembus tempat dimana tombak muncul, sehingga pada tiap kejadian dua luka terjadi.
12. ko pana vado, siapa yang (dapat) mengatakan ?
13. Himava.
14. Bandingkan dengan S.ii.263, v.457; Ud.23.
15. Disebutkan dalam Ja.i.174. Gambaran selanjutnya pada teks di atas mengenai Niraya juga ditemui pada M.iii.183, A.i.141-142.
16. na ca tava kalam karoti yava na tam papam kammam byantihoti. Artinya adalah bahwa ia harus melalui waktu karma yang cukup untuk melenyapkan pengaruh-pengaruh buruk dari perbuatan-perbuatan jahatnya. Sepanjang kalam karoti diterjemahkan sebagai "mati", maka akan terdapat gambaran yang keliru. Seseorang dapat mati dan mati terus-menerus (marati) sebelum orang tersebut melalui waktu karmanya karena pengaruh dari suatu perbuatan dapat tetap terasa dalam "kelahiran-kelahiran" berikutnya atau sesudahnya.
17. Pada MA.iv.234, AA.ii.232 Mahaniraya disebut Avici.
18. Bandingkan dengan Vin.ii.203: aviciniraya catudvara.
19. MA.iv.234 mengatakan bahwa Avici ini panjangnya 100 yojana dan lebarnya 100 yojana. Lantai dan atapnya terbuat dari perunggu, dan masing-masing dinding 99 yojana. Bandingkan dengan Mhvu.i.9. Kalimat terakhir tersebut dikutip pada DhA.i.127.
20. Kendatipun seseorang berbicara selama seratus atau seribu tahun, MA.iv.213.
21. ekacchigala yuga. Perumpamaan ini dihubung-kembalikan pada Thig.500, dimana benda tersebut disebut yugacchida. Deskripsi ini juga dapat ditemui pada S.v.455 dimana kata-katanya tidak sama persis dengan yang di atas. Juga dihubung-kembalikan pada Miln.204, Asl.60. Chiggala adalah alat yang berlubang yang dipakai para pemanah untuk melewatkan anak-panahnya. Bandingkan dengan talachiggala pada S.v.453.
22. yadi nuna.
23. dubbalamarika, dengan v.l. dubbalakhadika.
24. Bandingkan dengan A.i.107.
25. Penjabaran tentang kelima jenis kelahiran rendah ini terdapat pada M.ii.152, 183, Vin.iv.6, S.i.93, A.i.107, ii.85, Pug.51.
26. MA.iv.214: orang bodoh itu, setelah melakukan tiga kelakuan tidak benar (dalam bertindak, berkata, dan berpikir), terla¬hir di Niraya. Karena "pendewasaan" ia terlahir kembali sebagai manusia, dan terlahir pada salah satu dari lima keluarga rendah; kemudian setelah melakukan lagi tiga kela¬kuan tidak benar ia terlahir kembali di alam Niraya. Inilah keseluruhan balabhumi yang lengkap, taraf, tingkat, keadaan, posisi atau situasi dari seorang bodoh.
27. me, berarti: untukku, seperti halnya pada teks halaman 165 di sini bagian tersebut dihilangkan juga.
28. Teks dari bagian ini sampai bagian atas pada halaman 177 juga terdapat pada D.ii.174-178. Lihat catatan pada Dial.ii.hala-man 202 ff.
29. iddhi. Sebagaimana yang akan dilihat pada konteks di bawah "tidak ada yang bersifat adibatiniah pada Iddhi-iddhi ini" (Dial.ii.208, n.2). Hal-hal tersebut adalah sifat, atau karunia, kemampuan, kecakapan atau kekhususan yang merupakan tambahan terhadap berkah, daya, atau martabat seorang raja.
30. Perhatikanlah perubahan dari bhikkhu menjadi bhikkhave.
31. abbhukkirati. Lihat P.E.D.s.v.
32. yathabhuttan ca bhunjatha; lihat P.E.D.s.v. bhutta.
33. Bandingkan dengan A.i.112.
34. Bandingkan dengan Ja.iv.232. Comys. memberi nama bagi kedua kelompok gajah tempat asal datangnya Harta Gajah ke hadapan seorang raja yang memerintah dengan roda dhamma; bila berasal dari kelompok Uposatha, gajah itu adalah gajah tertua, dan bila berasal dari kelompok Chaddanta maka gajah itu adalah gajah termuda. Lihat D.P.P.N.
35. Lihat Ja.iv.232.
36. Permata ini berasal dari Gunung Vepulla, Ja.iv.232, dan lain-lain.
37. Seperti pada M.ii.84.
38. Dial.ii.206, n.3 memberikan alasan-alasan menarik untuk menerjemahkan kata gahapati di sini sebagai Bendahara. Akan tetapi, seraya berharap bahwa penerjemah (dari Pali ke Ing¬gris ini) tidak "menyampaikan kesan yang keliru" tentang fungsi gahapati itu, sang penerjemah lebih cenderung untuk menggunakan terjemahan yang lebih umum, yaitu "kepala rumah".
39. Ia bagaikan putra sulung dari raja, MA.iv.229.
40. Arti dari tiga kata pada alinea ini yaitu: upatthapetum (D.ii.177 upayapetum), apayapetum dan thapetum, adalah meragukan. Tanpa adanya pertolongan dari Comys., kata-kata itu juga dapat berarti: menunjuk, memberhentikan dan memper¬tahankan orang seperti ini sebagaimana ia seharusnya ditun¬juk, diberhentikan atau dipertahankan untuk melayani raja.
41. Tampaknya ada sebuah kalimat yang hilang di sini, yang mirip dengan yang terjadi pada D.ii.177.
42. Hal ini diceritakan mengenai Ratthapala pada M.ii.67.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar