Selasa, 16 Maret 2010

KINTI SUTTA

KINTI SUTTA
103

Demikianlah yang telah kudengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava tinggal di dekat Kusinara di hutan tempat orang membuat persembahan. Pada waktu itu Sang Bhagava menyapa para bhikkhu:
"Para bhikkhu."
"Yang Mulia," para bhikkhu menjawab Sang Bhagava dengan segera. Sang Bhagava berkata demikian :
"Lalu apa yang ada padaku untuk dirimu, para bhikkhu? Apakah Pertapa Gotama mengajarkan Dhamma, untuk mendapatkan bahan jubah yang baik. Atau apakah Pertapa Gotama mengajarkan Dhamma untuk mendapatkan makanan yang baik. Atau apakah Pertapa Gotama mengajarkan Dhamma untuk mendapatkan tempat tinggal yang baik. Atau apakah Pertapa Gotama mengajarkan Dhamma untuk mendapatkan kesuksesan atau kemunduran suatu masalah?"
"Tidak, Sang Bhagava, kami pikir Pertapa Gotama tidak mengajarkan Dhamma untuk mendapatkan makanan yang baik.... untuk mendapatkan kesuksesan atau kemunduran dalam suatu masalah."
"Tentu saja, para bhikkhu, Pertapa Gotama tidak mengajarkan Dhamma untuk mencari makanan ... mencari kesuksesan atau kemunduran dalam suatu masalah. Lalu apa yang akan kuberikan kepadamu para Bhikkhu?"
"Begini, Yang Mulia, bagi kami, Yang Mulia, penuh kasih sayang, mencar¬ikan kesejahteraan, mengajarkan Dhamma karena kasih sayang."
"Tentu, para bhikkhu, demikian aku bagimu: “Yang Mulia, penuh kasih sa¬yang, mencarikan kesejahteraan, mengajarkan Dhamma karena kasih sayang."
"Karenanya, para bhikkhu, hal-hal yang kuajarkan kepadamu penuh dengan pengetahuan yang tinggi, yaitu empat pelaksanaan dari kesadaran, empat usaha benar, empat dasar kekuatan pikiran, lima pengontrolan kesulitan, lima kekua¬tan, tujuh [239] tahapan kewaspadaan, seluruh Ariya Atthangika Magga, dengan rukun dan tanpa perselisihan, engkau harus berlatih sendiri semuanya hal tersebut. Tetapi, para bhikkhu, bila engkau, dengan rukun dan tanpa perselisihan telah melatih dirimu hal-hal tersebut, kemungkinan ada dua orang bhikkhu yang berka¬ta berbeda tentang Abhidhamma. Apabila terjadi pada kalian seperti ini: “Di an¬tara para bhikkhu ada perbedaan dalam denotasi dan dalam konotasi, lalu engkau mendekati seorang bhikkhu yang kata-katanya engkau anggap lebih menyenangkan, engkau akan berkata demikian kepadanya: “Di antara para bhikkhu ada perbedaan dalam denotasi dan dalam konotasi, karenanya para bhikkhu harus mengetahui ada perbedaan dalam denotasi dan dalam konotasi. Jangan sampai para bhikkhu jatuh dalam perselisihan.” Lalu engkau mendekati seorang bhikkhu kelompok lain di seberang yang kata-katanya engkau anggap lebih menyenangkan, engkau harus berkata kepadanya: “Di antara para bhikkhu ada perbedaan dalam denotasi dan dalam konotasi, karenanya para bhikkhu harus mengetahui ada perbedaan dalam denotasi dan dalam konotasi. Jangan sampai para bhikkhu jatuh dalam perselisi¬han.” Dalam hal ini, apa yang sulit dimengerti harus dianggap sebagai suatu yang sulit dimengerti. Setelah mengerti apa yang sulit dimengerti harus dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dimengerti, yaitu Dhamma, dan Vinaya harus ditegakan.
Apabila terjadi pada kalian seperti ini: “Di antara para bhikkhu ada perbedaan dalam denotasi dan ada persamaan dalam konotasi, lalu engkau mende¬kati seorang bhikkhu yang kata-katanya engkau angggap lebih menyenangkan, engkau akan berkata begini kepadanya: Walaupun diantara para bhikkhu ada perbedaan dalam denotasi dan ada persamaan dalam konotasi, karenanya para bhikkhu harus mengetahui ada perbedaan dalam denotasi dan ada persamaan dalam konotasi. Jangan sampai para bhikkhu jatuh dalam perselisihan. Lalu engkau mendekati seorang bhikkhu kelompok lain di seberang yang kata-katanya engkau anggap lebih menyenangkan, engkau harus berkata kepadanya: Walaupun diantara para bhikkhu ada perbedaan dalam denotasi ... Jangan sampai para bhikkhu jatuh dalam perselisihan. [240] Dalam hal ini, apa yang sulit dimengerti harus dianggap sebagai suatu yang sulit dimengerti; Setelah mengerti apa yang sulit dimengerti harus dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dimengerti, yaitu Dhamma, yaitu Vinaya harus ditegakan.
Apabila terjadi pada kalian seperti ini: Walaupun diantara para bhikkhu ada persamaan dalam denotasi dan ada perbedaan dalam konotasi, lalu engkau mendekati seorang bhikkhu yang kata-katanya engkau angggap lebih menyenang¬kan, engkau akan berkata begini kepadanya: Diantara para bhikkhu ada persamaan dalam denotasi dan ada perbedaan dalam konotasi, karenanya para bhikkhu harus mengetahui ada persamaan dalam denotasi dan ada perbedaan dalam konotasi. Tetapi ini adalah masalah sepele, yaitu konotasi. Jangan sampai para bhikkhu jatuh dalam perselisihan. Lalu engkau mendekati seorang bhikkhu kelompok lain di seberang yang kata-katanya engkau anggap lebih menyenangkan, engkau harus berkata kepadanya: Diantara para bhikkhu ada persamaan dalam denotasi dan ada perbedaan dalam konotasi ... Jangan sampai para bhikkhu jatuh dalam perselisi¬han terhadap hal yang sepele ini. Dalam hal ini, apa yang sulit dimengerti harus dianggap sebagai suatu yang sulit dimengerti; setelah mengerti apa yang sulit dimengerti harus dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dimengerti, yaitu Dhamma, yaitu Vinaya harus ditegakan.
Apabila terjadi pada kalian seperti ini: Diantara para bhikkhu ada persamaan dalam denotasi dan ada persamaan dalam konotasi, lalu engkau mende¬kati seorang bhikkhu yang kata-katanya engkau angggap lebih menyenangkan, engkau akan berkata demikian kepadanya: “Di antara para bhikkhu ada persamaan dalam denotasi dan ada persamaan dalam konotasi, karenanya para bhikkhu harus mengetahui ada persamaan dalam denotasi dan ada persamaan dalam konotasi. Jangan sampai para bhikkhu jatuh dalam perselisihan.” Lalu engkau mendekati seorang bhikkhu kelompok lain di seberang yang kata-katanya engkau anggap lebih menyenangkan, engkau harus berkata kepadanya: “Di antara para bhikkhu ada persamaan dalam ...[241] Jangan sampai para bhikkhu jatuh dalam perselisihan.” Dalam hal ini, apa yang sulit dimengerti harus dianggap sebagai suatu yang sulit dimengerti, setelah mengerti apa yang sulit dimengerti harus dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dimengerti, yaitu Dhamma, dan Vinaya harus ditegakan.
Dan bila engkau, para bhikkhu , bersama-sama dengan rukun dan tanpa perselisihan, berlatih hal tersebut, seorang bhikkhu bisa saja melanggar atau melewati aturan Vinaya. Tentang hal ini, seorang tidak perlu terburu-buru mengkritik, setiap orang harus di uji. Engkau mungkin berpikir: “Dalam diriku tak akan ada kekhawatiran dan tak ada pula kejengkelan dalam diri orang lain, karena bila orang lain itu tidak mempunyai rasa marah dan keinginan jahat, cepat mengerti dan mudah dirawat, aku mempunyai kekuatan untuk mengangkat orang yang tak pandai ini menjadi pandai. Bila terjadi padamu demikian, para bhikkhu, maka tepat untuk dijawab.
Tetapi bila engkau berpikir, para bhikkhu, tak ada kekawatiran padaku tetapi mungkin ada kejengkelan dalam diri orang lain, karena walau orang lain itu mempunyai rasa marah, keinginan jahat, sulit mengerti tetapi mudah dira¬wat, aku mempunyai kekuatan untuk mengangkat orang yang tak pandai ini menjadi pandai. Karena ini semata-mata hanyalah sepele, yaitu kejengkelan orang lain. Dan ini adalah waktu yang baik, dimana aku mempunyai kekuatan untuk mengang¬kat orang yang tak pandai ini menjadi pandai. Bila terjadi padamu demikian, para bhikkhu, maka tepat untuk dijawab.
Tetapi bila engkau berpikir, para bhikkhu, ada kekawatiran dalam diriku tetapi tak ada kejengkelan dalam diri orang lain, karena bila orang lain itu tidak mempunyai kemarahan dan keinginan jahat, cepat mengerti, tetapi susah dirawat, aku mempunyai kekuatan untuk mengangkat orang yang tak pandai ini menjadi pandai. Karena ini semata-mata hanyalah sepele, yaitu rasa kawatirku terhadap orang lain. Dan ini adalah waktu yang baik, dimana aku mempunyai kekuatan untuk mengangkat orang yang tak pandai ini menjadi pandai. Bila terjadi padamu demikian, para bhikkhu, maka tepat untuk dijawab.
Tetapi bila engkau berpikir, para bhikkhu, ada kekawatiran dalam diriku dan ada kejengkelan dalam diri orang lain, [242] walaupun orang itu tidak mempunyai rasa marah dan keinginan jahat, sulit mengerti, tetapi susah dira¬wat, aku mempunyai kekuatan untuk mengangkat orang yang tak pandai ini menjadi pandai. Karena ini semata-mata hanyalah sepele, yaitu rasa kawatirku dan kejengkelan orang itu. Dan ini adalah waktu yang baik, di mana aku mempunyai kekuatan untuk mengangkat orang yang tak pandai ini menjadi pandai. Bila terjadi padamu demikian, para bhikkhu, maka tepat untuk dijawab.
Tetapi bila engkau berpikir, para bhikkhu, ada kekuwatiran dalam diriku dan ada kejengkelan dalam diri orang lain, karena orang itu mempunyai rasa marah dan keinginan jahat, sulit mengerti dan sulit untuk dirawat, aku tidak mempunyai kekuatan untuk mengangkat orang yang tak pandai ini menjadi pandai, para bhikkhu janganlah meremehkan ketenangan bathin orang seperti itu.
Dan bila engkau, para bhikkhu, bersama-sama, dengan rukun dan tanpa pertentangan berlatih sendiri hal-hal seperti ini maka akan muncul dalam dirimu perbuatan ucapan, pandangan salah, pikiran salah, ketidaksenangan, ketidakpuasan. Dalam hal ini, setelah mendekat pada bhikkhu dari kelompok lain yang kau anggap lebih mudah menangkap kata-katamu , engkau harus berkata begini padanya: “Yang Mulia, walaupun kami telah berlatih bersama dengan rukun dan tanpa perselisihan, telah timbul perbuatan ucapan, pandangan salah, pikiran salah, ketidak-senangan dan ketidak-puasan dalam diri kami, di mana bila diketahui oleh Sang Buddha, kami dapat dipersalahkan. Jawablah dengan benar para bhikkhu, seorang bhikkhu seharusnya menjawab demikian: “Yang Mulia, walau¬pun, kami telah berlatih bersama ... yang mana bila diketahui oleh Sang Bud¬dha, kami dapat dipersalahkan. Tetapi tanpa terbebas dari kondisi ini (perse¬lisihan tersebut), yang Mulia, bagaimana Nibbana dapat dicapai? Jawablah dengan benar para bhikkhu, seorang bhikkhu seharusnya menjawab demikian: tanpa terbebas dari kondisi ini tidak mungkin Nibbana dapat dicapai.” Lalu engkau mendekati seorang bhikkhu kelompok lain di seberang yang kata-katanya engkau anggap lebih menyenangkan, engkau harus berkata kepadanya: “Yang Mulia, walau¬pun kami telah berlatih bersama dengan rukun dan tanpa perselisihan, telah timbul perbuatan ucapan, pandangan salah, pikiran salah, ketidak-senangan dan ketidak-puasan dalam diri kami, di mana bila diketahui oleh Sang Buddha, kami dapat dipersalahkan.” Jawablah dengan benar para bhikkhu, seorang bhikkhu seha¬rusnya menjawab demikian [243]: “Yang Mulia, walaupun, kami telah berlatih bersama ... yang mana bila diketahui oleh Sang Buddha, kami dapat dipersalah¬kan.” Tetapi tanpa terbebas dari kondisi ini (perselisihan tersebut), yang Mulia, bagaimana Nibbana dapat dicapai? Jawablah dengan benar para bhikkhu, seorang bhikkhu seharusnya menjawab begini: tanpa terbebas dari kondisi ini tidak mungkin Nibbana dapat dicapai.
Bila para bhikkhu, orang lain berkata pada bhikkhu itu demikian: “Apakah para bhikkhu diangkat dari keadaan tidak pandai dan menjadi pandai oleh yang mulia?” Jawablah dengan benar para bhikkhu, seorang bhikkhu seharusnya menjawab demikian: “Yang Mulia, saya mendekati Sang Bhagava, Sang Bhagava mengajarkan Dhamma-Nya, setelah mendengarkan Dhamma itu, saya meneruskannya kepada para bhikkhu, dan bila mereka mendengarkan Dhamma itu mereka terangkat dari keadaan tidak pandai menjadi pandai. Jawablah demikian para bhikkhu. Seorang bhikkhu tidak mengagungkan dirinya sendiri, tidak pula meremehkan orang lain, ia menjelaskan sesuai dengan Dhamma, dan tak ada pengikutnya yang mencela sewaktu ia bicara.
Demikian yang dikatakan oleh Sang Bhagava, para bhikkhu bhikkhu berse¬nang hati dengan apa yang telah dikatakan Sang Bhagava.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar