DHATUVIBHANGA SUTTA
( 140 )
1. Demikian telah saya dengar :
Pada suatu ketika Sang Bhagava mengembara di negeri Magadha, dan pada akhirnya Beliau tiba di rajagaha tempat Beliau mengunjungi Bhag¬gava si pembuat tembikar dan berkata kepadanya:
2. 'Apabila tidak mengganggu dirimu, Bhagava, Aku tinggal di bengkel kerjamu untuk satu malam.
'Sama sekali tidak mengganggu, Bhante. Tetapi, seorang petapa telah terlebih dahulu tinggal di situ. Apabila ia setuju, Bhante, maka tinggallah selama yang Anda mau.
3. Di sana terdapatlah seorang yang bernama Pukkusati yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi bhikkhu karena keya¬kinannya pada Sang Bhagava. Pada saat itu ia telah terlebih dahulu tinggal di bengkel kerja si pembuat tembikar. Maka, Sang Bhagava menemui bhante Pukkusati dan berkata kepadanya" 'Apabila tidak mengganggu. Aku, bhikkhu, akan tinggal di bengkel kerja ini untuk satu malam.'
'Bengkel kerja si pembuat tembikar ini cukup besar, kawan. Silakan Bhante tinggal selama yang diinginkan.
4. 'Kemudian Sang Bhagava pergi menuju bangkel si pembuat tembikar, dan sesudah membentangkan sehelai tikar rumput pada satu sudut, Beliau duduk, kaki bersila, tubuh tegak, dan memusatkan pikiran dihadapannya: Kemudian ketika Sang Bhagava menghabiskan hampir sepanjang malam itu dengan duduk, dan juga bhante Pukkusati mengha¬biskan hampir sepanjang malam dengan duduk, Sang Bhagava berpikir: 'Sikap orang ini mengilhami keyakinan. Bagaimana kalau Aku menan-yainya?' Kemudian Belaiu bertanya kepada Bhante Pukkusati:
5. 'Di bawah ajaran siapa engkau menjadi petapa, bhikkhu? Siapa¬kah Gurumu? Atau Dhamma siapa yang engaku tekuni?'
'Ada seorang bhikkhu Gotama, kawan, seorang putra dari suku Sakya, yang meninggalkan keluarga suku Sakya. Sekarang suatu berita baik tentang Sang Bhagava Gotama itu telah tersebar sedemikian : "Sang Bhagava adalah demikian karena Beliau seorang arahat, yang telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan dan tindak-tanduknya, yang Maha Mulia, pengenal segenap alam, pemimpin yang tiada taranya yang dapat menjinakkan manusia, guru dari para dewa dan manusia, yang sadar, yang penuh berkah." Aku menjadi petapa di bawah Sang Bhagava dan Beliaulah Guruku. Aku menekuni Dhamma dari Sang Bhagava itu.'
'Tetapi, bhikkhu manakah Sang Bhagava, arahat dan yang telah mencapai penerangan sempurna, sekarang berdiam?'
'Ada sebuah kota bernama Savatthi, kawan, di Negara bagian Utara. Sang Bhagava, arahat dan yang telah mencapai penerangan sempurna. Sekarang tinggal di sana.'
'Tetapi, bhikkhu, pernahkah engkau melihat Sang Bhagava itu? Lalu, akankah engkau mengenali Beliau apabila engkau melihatnya?'
'Tidak, kawan, saya belum pernah melihat Sang Bhagava. saya tidak akan mengenali Beliau apabila saya melihat-Nya.
6. 'Kemudian Sang Bhagava berpikir: 'Orang ini menjadi petapa di bawah ajaran-Ku. Bagaimana apabila Aku mengajarkan Dhamma kepa¬danya?' Kemudian Beliau menyapa Bhante Pukkusati demikian:
7. 'Bhikkhu, Aku akan membabarkan Dhamma kepadamu. Den¬garkan dan camkan baik-baik apa yang akan Aku katakan.'
'Baiklah, kawan,' Bhante Pukkusati menjawab. Sang Bhagava berkata demikian:
8. 'Bhikkhu, (1) seseorang (yang) memiliki enam unsur, (2) enam landasan kontak, (3) dan delapan belas macam pandangan mental, (4) mempunyai empat dasar, (6) yang setelah dimantapkan tidak ada lagi kepalsuan dalam dirinya, dan apabila tidak ada lagi kepalsuan dalam dirinya, ia disebut seorang petapa yang damai, (maka) (5) biarlah ia (i) tidak mengabaikan pengertian, biarlah ia (ii) menjaga kebenaran, biarlah ia (iii) meningkatkan penyerahan diri dan biarlah ia (iv) melatih diri hanya untuk kedamaian. Inilah ringkasan dari suatu pengungkapan dari unsur-unsur itu.
9. (1) "Bhikkhu, orang ini memiliki enam unsur": demikian dikata¬kan. Lalu, mengenai apakah hal ini dikatakan? Terdapatlah unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur udara, unsur ruang dan unsur kesadaran. Jadi mengenai inilah dikatakan: "Bhikkhu, orang ini memiliki enam unsur."
10. (2) '"Bhikkhu, orang ini mempunyai enam landasan kontak": dikatakan. Lalu, mengenai apakah hal ini dikatakan? Terdapatlah landa¬san kontak-mata, landasan kontak-telinga, landasan kontak-hidung, landasan kontak-lidah, landasan kontak-tubuh, dan landasan kontak pikiran. Jadi mengenai inilah dikatakan: "Bhikkhu, orang ini memiliki enam landasan kontak."
11. (3) '"Bhikkhu, orang ini memiliki delapan belas macam pandan¬gan mental": demikian dikatakan. Dan mengenai apakah hal ini dikata¬kan?
'Apabila melihat suatu bentuk dengan mata ia memandangnya sebagai bentuk yang menghasilkan kesenangan, ia memandangnya seba¬gai bentuk yang menghasilkan kesedihan, ia memandangnya sebagai bentuk yang menghasilkan keseimbangan.
'Apabila mendengar suara dengan telinga ....
'Apabila mencium suatu bau dengan hidung ....
'Apabila mengecap rasa dengan lidah ......
'Apabila menyentuh sesuatu yang dapat disentuh dengan
tubuh ....
'Apabila menerima suatu dhamma dengan pikiran, ia meman¬dangnya sebagai suatu dhamma yang menghasilkan kesenangan, ia memandangnya sebagai suatu dhamma yang menghasilkan kesedihan, ia memandangnya sebagai suatu dhamma yang menghasilkan keseimban¬gan.
'Demikianlah ada enam macam pandangan dengan kesenangan, enam macam pandangan dengan kesedihan, dan enam macam pandangan dengan keseimbangan batin. 'Jadi mengenai inilah dikatakan : "Bhikkhu, orang ini mempunyai delapan belas pandangan mental."
12. (4) '"Bhikkhu, orang ini mempunyai empat dasar": demikian dikatakan. Dan mengenai apakah hal ini dikatakan? Terdapatlah (i) dasar pengertian, (ii) dasar kebenaran, (iii) dasar penyerahan diri, dan (iv) dasar kedamaian. Jadi mengenai inilah dikatakan: "Bhikkhu, orang ini memiliki empat dasar."
13. (5) '"(Maka) biarlah (i) tidak mengabaikan pengertian, biarlah ia (ii) menjaga kebenaran, biarlah ia (iii) meningkatkan penyerahan diri, dan biarlah ia (iv) melatih hanya untuk kedamaian": demikianlah dikata¬kan. Lalu, mengenai apakah hal ini dikatakan?
14. (i) 'Lalu, bagaimana seorang bhikkhu tidak mengabdikan penger¬tian? Terdapatlah enam unsur-unsur ini : unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur ruang, dan unsur kesadaran.
15. 'Lalu, apakah unsur tanah? Unsur tanah dapat berada baik di dalam maupun di luar diri seseorang ..... (sebagaimana pada Sutta 28, alinea 8) .... ia memudarkan hawa nafsu terhadap unsur tanah ke luar pikirannya.
16. 'Lalu, apakah unsur air? Unsur air dapat berada baik di dalam maupun di luar diri seseorang ..... (sebagaimana pada Sutta 28, alinea 8) .... ia memudarkan hawa nafsu terhadap unsur air ke luar pikirannya.
17. 'Lalu, apakah unsur api? Unsur api dapat berada baik di dalam maupun di luar diri seseorang .... (sebagaimana pada Sutta 28, alinea 8) ... ia memudarkan hawa nafsu terhadap unsur api ke luar pikirannya.
18. 'Lalu, apakah unsur udara? Unsur udara dapat berada baik di dalam maupun di luar diri seseorang .... (sebagaimana pada Sutta 28, alinea 8) ..... ia memudarkan hawa nafsu terhadap unsur udara ke luar pikirannya.
19. 'Lalu, apakah unsur ruang? Unsur ruang dapat berada baik di dalam maupun di luar diri seseorang. Apakah unsur ruang di dalam diri seseorang? Apa pun yang ada di dalam diri seseorang, milik seseorang, adalah ruang atau rongga dan lobang-lobang kosong, misalnya, lobang telinga, lobang hidung, pintu mulut, dan saluran-saluran di mana apa yang dimakan, diminum, dikunyah dan dirasakan ditelan, dan di mana apa yang dimakan, diminum, dikunyah dan dirasakan terkumpul, dan di mana apa yang dimakan, diminum, dikunyah dan dirasakan dikeluarkan dari bagian bawah, atau apapun lainnya yang berada di alam diri seseor¬ang, miliknya sendiri, adalah ruang, rongga dan lobang-lobang: ini disebut unsur ruang dalam diri seseorang. 'Sekarang unsur ruang dalam diri seseorang dan unsur ruang di luar singkatnya adalah unsur ruang. Itu haruslah dilihat dengan pengertian benar sebagaimana adanya demikian: "Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku." Apabila seseorang melihatnya demikian dengan pengertian benar sebagaimana adanya, ia menjadi tidak terpengaruh oleh unsur ruang dan ia memudarkan hawa nafsunya terhadap unsur ruang ke luar dari pikirannya.
20. 'Kemudian di sana hanya tersisa kesadaran yang telah menjadi suci dan jernih. Apakah yang dikendalinya? Yang dikendalinya adalah yang menyenangkan, yang menyakitkan, yang tidak menyakitkan dan tidak menyenangkan. Tergantung pada kontak yang dirasakan sebagai menyenangkan timbullah perasaan menyenangkan. Dengan merasakan perasaan menyenangkan, ia mengerti "Saya merasakan perasaan menye-nangkan". Dengan terhentinya kontak tersebut yang dirasakan sebagai menyenangkan, apa yang telah cukup dirasakan, perasaan menyenangkan yang muncul berdasarkan kontak yang dirasakan sebagai menyenangkan, (juga): ia mengerti "Itu telah ditenangkan". Tergantung pada kontak yang dirasakan sebagai menyakitkan timbullah perasaan menyakitkan. Dengan merasakan perasaan menyakitkan, ia mengerti "Saya merasakan perasaan menyakitkan". Dengan terhentinya kontak sebagai yang dirasa¬kan sebagai menyakitkan, apa yang telah cukup dirasakan, perasaan menyakitkan yang muncul berdasarkan kontak yang dirasakn sebagai menyakitkan, berhenti (juga): ia mengerti "Itu telah dihentikan". Tergan¬tung pada kontak untuk dirasakan sebagai tidak menyakitkan dan tidak menyenangkan timbullah perasaan tidak menyakitkan dan tidak menye-nangkan. Dengan merasakan perasaan tidak menyakitkan dan tidak menyenangkan ia mengerti "Saya merasakan perasaan tidak menyakitkan dan tidak menyenangkan". Dengan terhentinya kontak tersebut yang dirasakan sebagai tidak menyakitkan dan tidak menyenangkan, apa yang telah cukup dirasakan, perasaan tidak menyakitkan dan tidak menye-nangkan, berhenti (juga): ia mengerti "Itu telah dihentikan". Seperti halnya dengan kontak, pertemuan antara dua kayu (api), panas dikem¬bangkan dan api dihasilkan, dan dengan dipisahkannya kedua kayu terse¬but, dengan tercerainya keduanya panas yang telah ada hilang, terhenti, demikian juga, tergantung pada kontak yang dirasakan sebagai menye¬nangkan ...... dirasakan sebagai tidak menyenangkan dan tidak menya-kitkan dan tidak terhenti (juga): ia mengerti "Itu telah dihentikan".
21. 'Kemudian yang tertinggal hanya keseimbangan, yang telah suci dan jernih, terkendali, dapat dibentuk dan bercahaya. Seandainya ada seorang tukang emas yang ahli atau seorang anak didiknya menyiapkan sebuah tungku, dan setelah itu, ia memanaskan mangkok peleburan, dan setelah itu ia mengambil emas dengan tang dan memasukkannya ke dalam mangkok peleburan, dan ia meniupnya dari waktu ke waktu dan memercikan air dari waktu ke waktu dan mengamatinya dari waktu ke waktu, kemudian emas itu menjadi lebih murni, cukup murni, murni sama sekali, tanpa cela, bebas dari kekotoran, terkendali, dapat dibentuk dan bercahaya; kemudian perhiasan apapun yang ingin dijadikannya, apakah sebuah rantai atau sebuah cincin atau sebuah kalung atau sebuah pengikat rambut emas, dapat terpenuhi; demikian juga, yang tinggal hanya keseimbangan, yang telah suci dan jernih, terkendali, dapat diben¬tuk dan bercahaya. Ia mengerti demikian: "Saya dapat menghubungkan keseimbangan ini yang suci dan cemerlang dengan kesadaran yang terdiri atas ruang tanpa batas, dan saya dapat mengembangkan pikiran saya sehubungan dengan itu. Kemudian, keseimbangan saya akan mendapat-kannya sebagai penunjang, untuk bergantung pada, dan (dengan demi¬kian) akan bertahan selama beberapa lama. Saya dapat menghubungkan keseimbangan ini yang suci dan cemerlang dengan landasan yang terdiri atas kesadaran tanpa batas ..... dengan landasan yang terdiri dari keham¬paan .... dengan landasan yang terdiri dari bukan pencerapan dan bukan tanpa pencerapan, dan saya dapat mengembangkan pikiranku sehubungan dengan itu, dan kemudian keseimbanganku akan mendapatkannya sebagai penunjang, untuk bergantung pada, dan (dengan demikian) akan bertahan selama beberapa lama." Ia mengerti demikian: "Saya dapat menghu¬bungkan keseimbangan ini yang suci dan cemerlang dengan landasan yang terdiri atas ruang tanpa batas, dan saya dapat mengembangkan pikiranku sehubungan dengan itu, (walaupun) hal itu bersyarat (dalam suatu cakupan). Saya dapat menghubungkan keseimbangan ini yang suci dan cemerlang dengan dasar yang terdiri atas kesadaran tanpa batas .... dengan landasan yang terdiri dari kehampaan .... dengan landasan yang terdiri dari bukan pencerapan dan bukan tanpa pencerapan, dan saya dapat mengembangakan pikiranku sehubungan dengan hal itu, (walau¬pun) hal itu bersyarat (dalam suatu cakupan)." Ia tidak membentuk (kamma) untuk menjadi sesuatu atau tidak menjadi sesuatu dan juga tidak mempunyai tujuan ke arah itu; ia tidak melekat pada apapun di dunia ini. Dengan tidak melekatnya pada apapun, ia tidak memiliki kecemasan. Dengan tidak memiliki kecemasan, ia mencapai Nibbana (yang sesung-guhnya) dalam dirinya sendiri. Ia mengerti : " Kelahiran telah diakhiri, kehidupan luhur telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi kelahiran yang berikutnya."Apabila ia merasakan perasaan menyenangkan, ia mengerti: "Itu tidak kekal", ia mengerti: "Itu tidak dapat dilekati", ia mengerti: "Itu tidak dapat dinikmati". Apabila ia merasakan perasaan menyakitkan, ia mengerti: "Itu tidak kekal", ia mengerti: "Itu tidak dapat dilekati", ia mengerti: "Itu tidak dapat dinik¬mati". Apabila ia merasakan perasaan tidak menyakitkan dan tidak menyenangkan, ia mengerti: "Itu tidak dapat dilekati", ia mengerti: "Itu tidak dapat dinikmati". Apabila ia merasakan perasaan menyenangkan, ia merasakannya seperti orang yang terpisah dari hal itu; apabila ia merasa¬kan perasaan menyakitkan, ia merasakannya seperti orang yang terpisah dari hal itu; apabila ia merasakan perasaan tidak menyakitkan dan tidak menyenangkan, ia merasakannya seperti orang yang terpisah dari hal itu. Apabila ia merasa perasaan tubuhnya berakhir, ia mengerti: "Saya merasa perasaan tubuh berakhir". Apabila ia merasa perasaan hidup berakhir, ia mengerti: "Saya merasa perasaan hidup berakhir". Ia mengerti: "Dengan terhentinya kehidupan karena musnahnya badan jasmani, semua yang dirasakan akan, tidak dapat dinikmati, didinginkan dalam (kehidupan) ini juga. Bagaikan sebuah lampu, yang nyalanya tergantung pada minyak dan sumbu, dengan habisnya minyak dan sumbu, tercapailah kematian (nibbayati) apabila tidak di tambahkan lagi bahan bakar, demikian juga, apabila ia merasakan perasaan berakhirnya hidup ..... diinginkan dalam (kehidupan) ini juga". Maka diberikahi dengan hal itu berarti seorang bhikkhu diberkahi dalam tingkatan yang tertinggi dengan dasar pengertian; karena pengertian Sang Bhagava pada tingkatannya yang tertinggi adalah pengetahuan tentang terhentinya segala penderitaan.
22. (ii) 'Pembebasannya, yang diperoleh berdasarkan kebenaran, tidak dapat terserang; karena kepalsuan adalah apa yang bersifat palsu, dan kebenaran adalah Nibbana yang tidak bersifat palsu. Karenanya diberkahi dengan hal ini seorang bhikkhu dalam tingkat tertinggi dengan dasar kebenaran ini; karena kebenaran Sang Bhagava dalam tingkat yang tertinggi adalah Nibbana, yang bersifat palsu.
23. (iii) 'Setelah sebelumnya dalam kebodohan menyetujui dan menerima inti-inti kehidupan, sekarang ia meninggalkannya, mem¬otongnya pada akarnya, membuatnya bagaikan bonggol kayu palem, yang tidak ada apa-apanya lagi sehingga kemunculannya di masa yang akan datang tidak ada lagi. Diberkahi sedemikian seorang bhikkhu berar¬ti diberkahi dalam tingkat tertinggi dengan dasar penyerahan diri ini; karena penyerahan diri Sang Bhagava dalam tingkat tertinggi adalah penglepasan dari semua inti kehidupan.
24. (iv) 'Setelah sebelumnya dalam kebodohan mempunyai kekikiran dari keinginan dengan hawa nafsu, ia telah meningglkannya, mem¬otongnya pada akarnya, membuatnya bagaikan bonggol kayu palem, yang tidak ada apa-apanya lagi, sehingga kemunculannya pada masa yang akan datang tidak ada lagi. Setelah sebelumnya dalam kebodohan mengalami kecemasan dari keinginan jahat dengan kebencian, ia telah meninggalkannya .... kemunculannya di masa yang akan datang tidak ada lagi. Setelah sebelumnya dalam kebodohan memilki kebodohan dari ketidaktahuan, ia telah meninggalkannya .... kemunculannya di masa yang akan datang tidak ada lagi. Diberkahi demikian seorang bhikkhu berarti diberkahi dalam tingkat tertinggi dengan dasar kedamaian: karena kedamaian Sang Bhagava dalam tingkat tertinggi adalah penenangan keserakahan, kebencian dan kebodohan.
25. 'Maka, sehubungan dengan inilah dikatakan: "(Maka) biarlah ia (i) tidak mengabaikan pengertian, biarlah ia (ii) menjaga kebenaran, biarlah ia (iii) meningkatkan penyerahan diri, biarlah ia (iv) melatih hanya untuk kedamaian."
26. (6) '"Dengan memantapkan panna tidak ada lagi kesombongan dalam dirinya, dan apabila kesombongan tidak ada lagi dalam dirinya, ia disebut seorang Petapa yang Tenang": demikianlah dikatakan. Lalu, sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
27. '"Adalah" merupakan kesombongan, "Saya adalah ini" merupa¬kan kesombongan, "akan menjadi" merupakan kesombongan, tidak akan menjadi" merupakan kesombongan, akan tidak berbentuk" merupakan kesombongan, "akan menjadi tidak sadar" merupakan kesombongan, "akan menjadi bukan sadar dan bukan tidak sadar" merupakan kesom¬bongan. Kesombongan adalah penyakit, kesombongan adalah kanker, kesombongan adalah anak panah. Dengan mengatasi segala kesombongan itulah ia dinamakan seorang Petapa yang Tenang. Sang Petapa yang tenang tidak akan terlahir kembali, maupun mengalami usia tua, maupun meninggal, ia tidak dapat diserang dan bebas dari keinginan. Ia tidak akan terlahir di manapun juga. Dengan tidak terlahir kembali, bagaiama¬na ia dapat menjadi tua? Dengan tidak menjadi tua, bagaimana ia dapat meninggal? Dengan tidak meninggal, bagaimana ia dapat diserang? Dengan tidak dapat diserang, apa yang diinginkannya lagi?
28. 'Maka sehubungan dengan itu dikatakan: "Mantapkanlah sehingga tiada lagi kesombongan dalam dirinya, dan apabila tiada lagi kesombon¬gan dalam dirinya, ia disebut petapa yang tenang."
29. 'Bhikkhu, camkanlah dalam benakmu pengungkapan-Ku tentang unsur-unsur secara secara ringkas ini.'
30. Kemudian Bhante Pukkusati (berpikir): 'Sang Guru sesungguhnya yang telah datang padaku, Yang Mahasuci pasti yang datang padaku, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna pasti yang telah datang padaku! dan ia bangkit dari duduknya dan mengatur jubahnya pada satu sisi, ia menyembah dengan kepalanya di kaki Sang Bhagava dan berkata: " Bhante, saya telah melakukan kesalahan, saya telah keterlaluan, bagai-kan seorang dungu bingung dan melakukan kekeliruan, saya telah menganggap Sang Bhagava sebagai "teman". Bhante, semoga Sang Bhagava memaafkan kesalahan saya (yang terlihat) sedemikian untuk pengendakian pada masa yang akan datang.
'Tentu, bhikkhu, engkau melakukan kesalahan, engkau keterla¬luan bagaikan seorang dungu bingung dan melakukan kekeliruan, engkau menganggap Aku sebagai "teman". Tetapi, karena engkau melihat keke¬liruanmu sedemikian dan memperbaikinya sesuai Dhamma, kami memaafkanmu; karena merupakan perkembangan dalam Vinaya bagi Orang Suci apabila seseorang melihat kesalahannya sendiri sedemikian dan melakukan perbaikan sesuai Dhamma dengan mengendalikan diri untuk masa yang akan datang.'
31. 'Bhante, saya mohon penabisan di bawah Sang Bhagava.'
'Tetapi, bhikkhu, apakah mangkok dan jubahmu sudah lengkap?'
'Bhante, mangkok dan jubah saya belum lengkap.'
'Bhikkhu, para Tathagata tidak memberikan penabisan
kepada seseorang yang mangkok dan jubahnya tidak lengkap.'
32. Kemudian Bhante Pukkusati, puas dan merasa bahagia dengan kata-kata Sang Bhagava, bangkit dari duduknya, dan setelah memberi hormat pada Beliau, dengan Beliau tetap di sisi kanan, ia mengundurkan diri untuk mencari sebuah mangkok dan jubah. Kemudian, sementara Bhante Pukkusati berkeliling mencari sebuah mangkok dan jubah, seekor sapi yang tersasar membunuhnya.
33. `Kemudian, sejumlah bhikkhu menemui Sang Bhagava, dan setelah memberi hormat pada Beliau, mereka duduk di satu sisi. Setelah melakukan hal itu mereka bertanya kepada Sang Bhagava: 'Warga yang bernama Pukkusati, yang kepadanya Sang Bhagava memberikan nasehat secara ringkas, telah meninggal dunia. Ke manakah ia pergi, bagaimana perjalanan hidupnya pada masa mendatang?'
'Para bhikkhu, warga yang bernama Pukkusati bijaksana mema¬suki jalan Dhamma, dan ia tidak merepotkan Aku dalam menginterpreta¬sikan Dhamma. Dengan penghancuran lima rintangan tingkat rendah ia telah muncul secara langsung (di alam Sudhavasa) untuk mencapai Nibbana di sana, tidak akan kembali lagi dari alam tersebut.'
Inilah yang disabdakan Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa puas dan bahagia atas kata-kata Sang Bhagava.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar