Selasa, 16 Maret 2010

CULA RAHULOVADA SUTTA

CULA RAHULOVADA SUTTA
(147)

Demikianlah telah saya dengar:

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di dekat Savatthi di Jetavana di vihara Anathapindika. Ketika Sang Buddha sedang bermedi¬tasi dengan tenang, suatu pemikiran timbul dalam pikiran Beliau demi¬kian: "Sekarang telah matang di dalam diri Rahula hal-hal yang menda¬tangkan kebebasan bagi kematangan. Bagaimana seandainya aku melatih Rahula lebih lanjut dalam penghancuran kekotoran-kekotoran bathin?" Dan setelah mengenakan jubah pada pagi hari, sambil membawa mang¬kok serta jubah luar, Beliau memasuki Savatthi untuk menerima dana makanan. Setelah Beliau berkeliling Savatthi untuk menerima dana makanan, sekembalinya dari Pindapata setelah makan Beliau menyapa Rahula dengan berkata: "Ambilah sehelai kainmu untuk duduk, Rahula; kita akan pergi menuju hutan orang-orang buta untuk tinggal sepanjang hari ini."

"Baik, Yang Mulia" jawab bhante Rahula menyetujui Sang Buddha dan, dengan membawa sehelai kain untuk duduk, ia mengikuti dekat belakang Sang Buddha. Pada saat itu ribuan macam dewa mengiku¬ti Sang Buddha sambil berpikir: "Hari ini Sang Buddha akan melatih bhante Rahula lebih lanjut tentang penghancuran kekotoran-kekotoran bathin. "Kemudian Sang Buddha memasuki hutan orang-orang buta dan duduk pada tempat duduk yang telah disiapkan di atas akar dari sebatang pohon. Dan bhante Rahula, setelah memberi hormat kepada Sang Buddha, duduk pada jarak yang cukup pantas. Sang Buddha berkata demikian kepada bhante Rahula setelah ia duduk pada jarak yang cukup pantas:

"Bagaimana menurutmu, Rahula? Apakah mata ... apakah ben¬tuk-bentuk materi ... apakah kesadaran penglihatan ... [279] ... apakah kontak pada mata kekal ataukah tidak kekal? ... Apakah telinga ... hidung ... lidah ... tubuh ... pikiran ... apakah keadaan-keadaan mental ... apakah kontak pada pikiran kekal ataukah tidak kekal?"

"Tidak kekal, bhante."

"Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan atau kebahagiaan?"

"Penderitaan, bhante."

"Tetapi apakah benar untuk memandang apa yang tidak kekal, membawa penderitaan, selalu berubah-rubah sebagai, 'Ini milikku, itu adalah aku, ini adalah diriku'?"

"Tidak, bhante."

"Bagaimana menurutmu, Rahula? Apakah sesuatu yang timbul seperti perasaan, pencerapan, kecenderungan-kecenderungan dari kebia¬saan, kesadaran akibat kontak pada mata ... telinga ... hidung ... lidah ... tubuh ... pikiran kekal ataukah tidak kekal?"

"Tidak kekal, bhante."

"Apakah sesuatu yang tidak kekal, penderitaan atau kebahagiaan?"

"Penderitaan, bhante."

"Dan apakah benar untuk memandang apa yang tidak kekal, membawa penderitaan, selalu berubah-ubah sebagai, 'Ini milikku, itu adalah aku, ini adalah diriku'?

"Tidak, bhante."

"Dengan melihat demikian, Rahula, siswa yang telah diberi petunjuk dari para orang suci mengalihkan diri dari mata, ia mengalihkan diri dari bentuk-bentuk materi, ia mengalihkan diri dari kesadaran pen¬glihatan, ia mengalihkan diri dari kontak pada mata; dan demikian juga ia mengalihkan diri dari apa yang timbul akibat kontak dari mata seperti perasaan, pencerapan, kecenderungan-kecenderungan dari kebiasaan, kesadaran. Ia mengalihkan diri dari telinga, ia mengalihkan diri dari suara; ia mengalihkan diri dari hidung, ia mengalihkan diri dari bau-bauan; ia mengalihkan diri dari lidah, ia mengalihkan diri dari rasa kecapan; ia mengalihkan diri dari badan, ia mengalihkan diri dari sentu¬han-sentuhan; ia mengalihkan diri dari pikiran, ia mengalihkan diri dari keadaan-keadaan mental, ia mengalihkan diri dari kesadaran, ia menga¬lihkan diri dari kontak pada pikiran; dan demikian juga ia mengalihkan diri dari apa yang timbul [280] akibat kontak pada pikiran seperti pera¬saan, pencerapan, kecenderungan-kecenderungan dari kebiasaan, kesa¬daran. Dalam mengalihkan diri ia bebas dari hawa nafsu; dengan bebas dari hawa nafsu ia terbebaskan, dalam kebebasan timbullah pengetahuan bahwa ia terbebas, dan ia merenungkan: Kelahiran telah dihancurkan, dibawa mendekati jalan Brahma, telah dilakukan apa yang harus dilaku¬kan, tidak akan ada lagi kelahiran yang berikutnya."

Demikianlah kata-kata dari Sang Buddha. Bhante Rahula bergem¬bira dalam apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Ketika pembabaran ini dilakukan pikiran bhante Rahula terbebas dari kekotoran-kekotoran bathin tanpa melekat. Dan pada ribuan macam dewa yang ada di sana timbul pandangan dhamma yang bebas dari debu, bebas dari noda bahwa, 'apapun yang timbul semuanya akan lenyap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar