Selasa, 16 Maret 2010

KITAGIRI SUTTA

KITAGIRI SUTTA
70

Demikianlah telah aku dengar:
Pada suatu ketika Sang Buddha sedang melakukan perjalanan di Kasi bersa¬ma-sama dengan sejumlah besar bhikkhu Sangha. Ketika Beliau sedang berada di sana, Sang Buddha menyapa para bhikkhu dan berkata: "Aku, para bhikkhu, tidak makan makanan pada malam hari. Dengan tidak makan-makanan pada malam hari, Aku, para bhikkhu, sadar akan kesehatan-ku yang baik dan tidak mempunyai penyakit serta memiliki keceriaan dan kekuatan dan hidup layak. Marilah, kamu juga, para bhikkhu, janganlah makan makanan pada malam hari. Dengan tidak makan makanan pada malam hari itu, kamu juga, para bhikkhu, akan sadar tentang kesehatan yang baik dan tanpa memiliki penyakit serta keceriaan dan kekuatan dan hidup layak (kepenak)."
"Ya, Yang Mulia," para bhikkhu ini menjawab menyetujuinya. Kemudian Sang Buddha, ketika sedang berjalan-jaan di Kasi, pada waktu itu tibalah pada Kitagiri, sebuah kota besar di dalam Kasi. Kemudian Sang Buddha tinggal di Kitagiri, kota pasa di dalam Kasi. Pada waktu itu para bhikkhu bernama Assaji dan Punabbasuka sedang menetap di Kitagiri. Kemudian beberapa bhikkhu datang mendekati bhikkhu Assaji dan Punabbasuka; sesudah mendatanginya, mereka berbi¬cara demikian kepada kedua bhikkhu itu: "Sang Buddha, para bhante, tidak makan makanan pada malam hari, demikian juga para bhikkhu Sangha; dan karena itu, ara bhante, mereka itu tidak makan makaan pada malam hari mereka sadar akan kesehatan mereka yang baik dan tidak mempunyai penyakit dan mempunyai kece¬riaan dan kekuatan dan hidup dalam kepenakan. Marilah, kamu juga, para bhante, janganlah makan makanan pada malam hari. Dengan tidak makan makanan pada malam hari itu, kamu juga para Bhante, akan sadar akan kesehatan yang baik dan tidak mempunyai penyakit dan memiliki keceriaan dan kekuatan serta hidup kepenak(?)" [474] Ketika hal ini telah diucapkan, bhikkhu Assaji dan Punabbasuka bicara demikian kepada para bhikkhu itu:
"Kita, para bhante, makan pada malam hari juga pada pagi hari serta sepanjang hari pada waktu yang salah, Tetapi walaupun kita makan pada malam hari begitu juga di pagi hari serta sepanjang hari pada waktu yang salah kita sadar akan kesehatan serta tidak mempunyai penyakit dan memiliki keceriaan dan kekuatan dan hidup kepenak. Mengapa kita harus, menghentikan atau melepaskan hal-hal dari keadaan sekarang ini, mengajar apa-apa dari waktu yang akan datang itu. Kita akan makan di malam hari begitu juga di pagi hari dan sepan¬jang hari pada waktu yang salah."
Dikarenakan para bhikkhu ini tidak bisa menyakinkan bhikkhu Assaji dan Punabbasuka, mereka kemudian mendatangi Sang Buddha; setelah mendatangi, setelah memberikan hormat kepada Sang Buddha, mereka duduk pada suatu jarak yang cukup hormat, para bhikkhu ini bicara demikian kepada Sang Buddha: "Pada waktu itu kita, Yang Mulia, mendatangi bhikkhu Assaji dan Punabbasukka; sete¬lah mendatangi, kita bicara demikian kepada bhikkhu Assaji dan Punabbhasuka: 'Sang Buddha, para muliawan, tidak makan makanan pada malam hari, demikian juga dengan para bhikkhu Sangha ... dan hidup kepenak(?) (dalam kesenangan).' Ketika kata-kata ini telah kita ucapkan, Yang Mulia, bhikkhu Assaji dan Punab¬basuka bicara demikian kepada kita: 'Kita, para bhikkhu yang mulia, makan pada malam hari ... pada waktu yang salah.' Dikarenakan kita, Yang Mulia, tidak bisa meyakinkan bhikkhu Assaji dan Punabbasuka, maka kita menceritakan hal ini kepada Yang Mulia."
Kemudian Sang Buddha memanggil seseorang bhikkhu, dan berkata: Hai kamu, bhikkhu, atas nama-ku panggilan bhikkhu Assaji dan Punabbasuka, dan katakan: 'Sang Guru memanggil kamu sekalian.'"
"Baiklah, Yang Mulia," dan bhikkhu ini, setelah menjawab Sang Buddha menyetujuinya, mendatangi bhikkhu Assaji dan Punabbasuka; setelah datang, ia berkata demikian kepada bhikkhu Assaji dan Punabasuka: "Sang Guru memanggil kamu sekalian."
"Ya, Yang Mulia," dan kedua bhikkhu Assaji dan Punabbasuka setelah menjawab bhikkhu itu menyetujuinya, datang mendekati Sang Buddha; sesudah tiba, dan sesudah memberi hormat kepada Sang Buddha, mereka duduk pada suatu jarak yang hormat. Ketika mereka sudah duduk pada suatu jarak yang hroamt, sang Buddha bicara demikian kepada kedua bhikkhu Assaji dan Punabbasuka demi¬kian:
"Apakah benar, seperti apa yang dikatakan, kamu kedua bhikkhu, bahwa beberapa bhikkhu, setelah mendatangi kamu bicara demikian: 'Sang Buddha, kamu kedua bhikkhu, tidaklah makan makanan pada malam hari, demikian juga para anggota bhikkhu Sangha; dan dikarenakan , hai kamu kedua bhikkhu, sesudah mendatangi kamu bicara demikian: 'Sang Buddha, kamu kedua Bhikkhu, tidak makan makanan pada walam hari, demikian juga para bhikkhu Sangha: dan karena, hai kamu kedua bhikkhu, mereka itu tidak makan pada malam hari mereka sadar akan kesehatan mereka yang baik dan tidak mempunyai penyakit dari memiliki kece¬riaan dan kekuatan serta hidup dalam kesenangan. Marilah, kamu juga, kedua bhikkhu, janganlah kamu makan-makanan pada malam hari. Dengan tidak makan-makan pada malam hari, kamu juga, kedua bhikkhu [475] akan sadar akan keseha¬tan baik ... dan hidup dalam kesenagan.' Dikatakan bahwa apabila hal iu telah diucapkan, kedua bhikkhu, kamu berdua bicara demikian kepada para bhikkhu itu: 'Kita, para muliawan, makan makanan pada malam hari begitu juga di pagi hari serta sepanjang hari pada waku yang salah. Tetapi walaupun kita makan pada malam hari begitu juga pada pagi hari serta sepanjang hari pada waktu yang salah kita sadar akan kesehatan baik dan tidak mempunyai penyakit serta memi¬liki keceriaan serta pula hidup dalam kesenangan. Mengapa kita harus, mening-galka hal-hal dari keadaan sekarang ini. Mengajar apa-apa yang akan terjadi pada waktu yang akan datang itu ? Kita akan makan-makanan pada malam hari begitu pada pagi hari serta sepanjang hari pada waktu yang salah."
"Ya, Yang Mulia."
"Apakah kamu, kedua bhikkhu, pernah mengerti bahwa dhamma telah aku ajarkan demikian: Apapun seorang individu mengamalinya apakah ia itu menye¬nangkan atau menyakitkan atau tidak menyakitkan. Apakah ia itu menyenangkan atau menyakitkan atau tidak menyakitkan maupun pula tidak menyenangkan kea¬daan-keadaan tidak terampil akan menurun pada dirinya, keadaan-keadan yang terlatih akan tumbuh lebih banyak ?'
"Tidak, Bhante."
"Apakah kamu, kedua bhikkhu tidak mengerti bahwa dhamma yang diajarkan oleh-Ku demikian: Bagi seseorang di sini yang merasakan suatu perasaan menye¬nangkan dari satu jenis keadaan-keadaan tidak terlatih banyak keadaan-keadan terlatih berkurang, tetapi bagi seseorang di sini yang merasakan suatu pera¬saan menyenangkan dari jenis lain keadaan-keadaan tidak terlatih mundur, keadaan-keadaan terampil maju banyak; bagi seseorang di sini merasakan suatu perasaan menyakitkan dari satu jenis keadaan-keadaan tidak terampil tumbuh banyak, keadaan-keadaan terampil mundur, tetapi bagi seeorang disini yang merasakan perasaan menyakitkan dari jenis lain keadaan-keadaan tidak terampil mundur, keadaan-keadaan terampil maju; banyak seseorang di sini yang merasakan suatu perasaaan yang bukan menyakitkan maupun pula bukan menyenangkan dari suatu jenis keadaan-keadaan tidak terampil berkembang banyak, keadaan-keadaan terampil mundur, tetapi bagi seseorang di sini yang merasakan suatu perasaan yang bukan menyakitkan maupun pula bukan menyenangkan dari jenis lain keadaan-keadaan tidak terampil mundur, keadaan-keadaaan terampil berkembang banyak."
"Itu bagus, para bhikkhu, apabila, para bikkhu, tidak pernah dipahami olehku, apabila ia tidak dilihat, diketahui, di sadari, dipahami dengan cara kebijaksanaan bahwasanya: bagi seseorang di sini yang merasa akan suatu pera¬saan menyenangkan dari satu jenis keadaan-keadaan yang merasa akan suatu perasaan menyenangkan dari suatu jenis keadaan-keadaan tidak terampil berkem¬bang banyak, keadaan-keadaan terampil mundur - dapatkah Aku, para bhikkhu, dengan tidak mengerti-nya demikian, mengatakan lenyapkanlah perasaan menye¬nangkan dari jenis ini dan apakah hal ini akan cocok bagiku, para bhikkhu?"
"Tidak, yang Mulia."
"Tetapi, para bhikkhu, sejak hal ini telah dimengerti oleh ku, dilihat, diketahui, disadari dan dipahami dengan cara-cara bijaksana bahwa: bagi seseo¬rang di sini yang merasakan suatu perasaan menyenangkan dari satu jenis, keadaan tidak terlatih terampil [476] berkembang banyak, keadaan-keadaan terampil mundur - oleh sebab itu aku berkata: lenyapkanlah perasaan menyenang¬kan dari jenis ini.
Dan apabila ini, para bhikkhu, tidak dimengerti oleh-ku, apabila tidak dilihat, diketahui, disadari, dipahami dengan cara-cara kebijaksanaan bahwa: Bagi seseorang di sini yang merasakan suatu perasaan menyenangkan dari jenis lain keadaan-keadaan tidak terampil mundur, keadaan-keadaan terampil berkem¬bang pesat-dapatkah Aku, para bhikkhu, tidak mengertinya demikian, dengan mengatakan: "Masukilah perasaan menyenangkan dari jenis ini (yang lain) teku¬nilah - dan apakah ini telah menjadi cocok bagi-Ku, para bikkhu?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Tetapi, para bhikkhu, sejak hal ini telah dimengerti oleh-Ku, dilihat, diketahui, disadari dan dipahami dengan cara kebijaksanan bahwa: Bagi seseo¬rang di sini yang mengalami merasakan suatu perasaan menyenangkan dari jenis lain ini, keadaan-keadaan tidak terampil mundur, keadaan-keadaan terampil berkembang banyak oleh sebab itu aku berkata: Masuklah perasaan menyenangkan dari (lain) jenis ini, tekunilah.
Dan apabila ini, para bhikkhu, tidak dimengerti oleh diri-ku, apabila ia tidak dilihat, diketahui, disadari, dipahami dengan cara kebijaksanaan bahwa: bagi seseorang di sini yang merasakan perasaan menyakitkan dari satu jenis ... suatu perasaan yang yang baik bukan menyakitkan maupun pula bukan menyenangkan dari satu jenis, keadaan-keadaan tidak terampil berkembang banyak, keadaan-keadaaan terampil mundur - dapatkah Aku, para bhikkhu, dengan tidak mengerti¬nya demikian, berkata: Lenyapkan perasaan yang baik menyakitkan maupun pula bukan menyenangkan dari jenis ini dan apakah ini akan cocok bagi-Ku, para bhikkhu ?
"Tidak, Yang Mulia."
"Tetapi, para bhikkhu, sejak ini telah dimengerti olehku, dilihat dike¬tahui, disadari dan dipahami dengan cara-cara kebijaksanaan bahwa: Bagi seo¬rang disini yang merasakan suatu perasaan yang baik bukan menyakitkan maupun pula bukan menyenangkan dari jenis ini keadaan-keadaan tidak terampil berkem¬bang banyak, keadaan-keadaan terampil mundur oleh seh (?) itu aku berkata: lenyapkanlah perasaan yang baik bukan menyakitkan maupun pula bukan menyenang¬kan dari jenis ini.
Dan apabila ini, para bhikkhu, tidak dimengerti oleh-Ku apabila ia tidak dilihat ini, para bhikkhu, tidak dimengerti dengan cara-cara kebijaksa¬naan bahwa: Bagi seseorang di sini yang merasakan suatu perasaan yang baik bukan menyakitkan maupun pula bukan menyenangkan dari jenis lain keadaan-keadaan tidak terampil mundur, keadaan-keadaan terampil berkembang banyak dapatkah Aku, para bhikkhu, dengan tidak mengerti hal itu demikian lalu menga¬takan: Masukilah perasaan yang baik bukan menyakitkan maupun pula bukan menye-nangkan dari jenis ini, tekunilah hal ini - dan apakah hal ini akan cocok bagi-Ku?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Tetapi, para bhikkhu sejak ini telah dimengerti oleh-Ku, dilihat, diketahui, disadari dan dipahami dengan cara-cara kebijaksanaan bahwa: Bagi seseorang di sini yang merasakan suatu perasaan yang baik bukan menyakitkan maupun bukan menyenangkan dari jenis ini, keadaan-keadaan tidak terampil mundur, keadaan-keadaan terampil berkembang pesat oleh sebab itu aku berkata [477]: Masukilah perasaan baik yang bukan menyakitkan maupun pula bukan bukan menyenangkan dari (lain) jenis ini, tekuni serta abdikan dirimu di dalamnya".
Aku, para bhikkhu, tidak mengatakan tentang semua bhikkhu bahwasanya di sana terdapatlah sesuatu yang harus dikerjakan melalui kerajinan atau keteku¬nan; namun begitu, aku, para bhikkhu, tidak mengatakan tentang semua bhikkhu bahwasanya di sana tidak terdapat sesuatu yang harus dikerjakan melalui keraj¬inan atau ketekunan. Para bhikkhu, bhikkhu-bhikkhu tersebut, yang telah menja¬di sempurna, penyakit kanker menjadi sembuh, yang telah menjalani hidupnya, melakukan apa yang harus dilakukan, melepaskan beban, yang telah mencapai tujuan mereka sendiri, penggoda-penggoda dari kelahiran sama sekali telah dihancurkan, yang telah dibebaskan oleh pengetahuan agung yang benar, bhikkhu-bhikkhu semacam ini aku tidak mengatakan, para bhikkhu, bahwasanya di sana ada sesuatu yang harus dikerjakan melalui kerajinan atau ketekunan. Apa alasannya? Ia telah dikerjakan oleh mereka melalui jalan kerajinan atau ketekunan, mereka itu tidak mungkin bisa menjadi ceroboh atau acuh. Tetapi, para bhikkhu, bhikk¬hu-bhikkhu itu yang merupakan pelajar atau yang sedang belajar, tidak mencapai kesempurnaan, tetapi yang hidup berusaha keras untuk memperoleh keselamatan yang tiada banding dari ikatan-ikatan, bhikkhu-bhikkhu semacam ini Aku menga¬takan, para bhikkhu, bahwasanya di sana terdapat sesuatu yang harus dikerjakan melalui kerajinan atau ketekunan. Apa alasannya ini?
Sekalipun sementara para bhante ini sedang mengunjungi rumah-rumah yang cocok, berhubungan dengan teman-teman yang menyenangkan, dan sedang melakukan pengontrolan diri mereka dan sekarang oleh pengetahuan luar biasa mereka sendiri tujuan tanpa tanding dari kelana-brahmana demi kepentinan anak-anak muda dari keluarga yang besar supaya pergi memasuki kehidpan berumah tangga ke penghidupan tanpa rumah tangga, dengan memasukinya, mereka dapat mengabdikan diri padanya. Demikian aku, para bhikkhu, memperhatikan buah dari kerajaan bagi bhikkhu-bhikkhu ini, katakanlah bahwa di sana terdapat sesuatu yang harus dikerjakan melalui kerajinan atau ketekunan itu.
Para bhikkhu, terdapatlah tujuh macam orang di dunia ini. Apa ketujuhnya itu? yang ke satu adalah siapa yang terbebaskan dalam kedua- dua jalan, ia adalah seseorang yang terbebaskan dengan cara kebijaksanaan , penyadar mental, ia yang memenangkan pandangan, ia yang terbebaskan karena keperyaan, pengejar dhamma, pengejar kepercayaan.
Dan yang mana, para bhikkhu, adalah orang yang terbebaskan dari kedua jalan itu ? Orang semacam ini, para bhikkhu, beberapa orang sedang menekuni dan mengabdikan diri, setelah memahami dengan orang pembebasan-pembebasan damai tersebut yang mana adalah tidak berwujud yang telah melampaui bentuk-bentuk materi, dan setelah melihat dengan kebijaksanaan kanker-kankernya telah dihancurkan sama sekali. Ini, para bhikkhu, dinamakan seseorang yang telah terbebaskan kedua-dua jalan. Aku, para bhikkhu, tidaklah mengatakan tentang bhikkhu ini bahwasanya terdapatlah sesuatu yang harus dikerjakan melalui kerajinan atau ketekunan itu. Apa alasannya ? Hal itu telah dilakukan olehnya melalui kerajinan dan ketekunan, ia tidak bisa menjadi ceroboh atau acuh lagi.
Dan yang mana, para bhikkhu, adalah seseorang yang terbebaskan dengan cara kebijaksanaan intuisi itu? yang termasuk ini, para bhikkhu, beberapa orang sedang menekuni dan mengabdikan diri tanpa memahami dengan orang tentang pembebasan-pembebasan damai tersebut yang tanpa bentuk yang telah melampaui bentuk-bentuk materiil; namun begitu, setelah dilihat dengan cara kebijaksa¬naan kanker-kankernya telah dihancurkan sama sekali. Ini, para bhikkhu, dina¬makan [478] Seseorang yang terbebas dengan cara kebijaksanaan intuitip. Aku, para bhikkhu, tidak mengatakan tentang bhikkhu ini bahwasanya di sana terdapat sesuatu yang harus dikerjakan melalui kerajinan atau ketekunan. Apa alasannya? Ia telah dikerjakan olehnya melalui kerajinan, ia tidak mungkin bisa menjadi ceroboh atau acuh.
Dan yang mana, para bhikkhu adalah seseorang yang merupakan penyadar mental itu ? yang semacam ini, para bhikkhu, beberapa orang menekuni, setelah memahami dengan orang pembebasan-pembebasan damai tersebut yang tidak berben¬tuk dan yang telah melampaui bentuk-bentuk materiil; dan setelah melihat dengan cara kebijaksanaan beberapa kanker-kankernya sama sekali telah dihan¬curkan. Hal ini, para bhikkhu, dinamakan seorang yang merupakan penyadar mental. Aku, para bhikkhu, mengatakan tentang bhikkhu ini bahwasanya disana ada sesuatu yang harus dikerjakan melalui kerajinan. Apa alasannya untuk itu ? Sekalipun sementara orang mulia itu sedang mengunjungi tempat-tempat tinggal yang cocok, berhubungan dengan teman-teman menyenangkan, dan dirinya sendiri sedang mengekang organ-organ inderanya, telah menyadari di sini dan sekarang dengan pengetahuan luar biasa miliknya sendiri tujuan yang tiada banding tentang kelana Brahmana bagi kepentingan anak-anak muda dari keluarga besar agar pergi dari kehidupan keluarga ke penghidupan tanpa keluarga, dengan memasukinya ia dapat memperhatikan buah dari kerajinan bhikkhu itu, (maka) katakanh bahwa di sana terdapatlah sesuatu yang harus dikerjakan melalui (dengan cara) kerajinan atau ketekunan.
Dan yang manakah, para bhikkhu, orang yang telah memenangkan pandangan itu? Dan bagi ia itu, para bhikkhu, beberapa orang sedang menekuni tanpa memahami dengan orang pembebasan-pembebasan damai tersebut yang tidak berben¬tuk yang telah melampaui bentuk-bentuk materiil; namun begitu, setelah melihat dengan cara kebijaksanaan beberapa dari kanker-kankernya telah dihancurkan sama sekali, dan hal-hal yang diproklamirkan oleh Sang Tathagata telah sepe¬nuhnya dilihat olehnya melalui kebijaksanaan intuitip dan sepenuhnya dilaksa-nakan. Ini, para bhikkhu, katakan bahwa dari bhikkhu ini terdapatlah beberapa hal yang harus dikerjakan melalui kerajinan. Apa alasan untuk itu? Sekalipun sementara bhikkhu mulia itu sedang mengunjungi tempat-tempat tinggal yang cocok ... ia boleh menekuni serta mengabdikan diri di dalamnya. Oleh sebab itu Aku, para bhikkhu, dengan memperhatikan buah dari kerajinan bagi bhikkhu itu, katakanlah bahwasanya ada sesuatu yang harus dikerjakan olehnya melalui keraj¬inan atau ketekunan itu.
Dan yang mana, para bhikkhu, adalah orang yang terbebas oleh kepercayaan itu? Untuk itu, para bhikkhu adalah beberapa orang yang menekuni tanpa memaha¬mi dengan orang pembebasan-pembebasn damai tersebut yang tanpa bentuk yang telah melampaui bentuk-bentuk materiil; namun, setelah melihat dengan cara-cara kebijaksanaan beberapa kanker-kankernya telah lama sama sekali dihancur¬kan, dan kepercayaan terhadap Sang Tathagata telah dimantapkan. Ini, para bhikkhu, dinamakan seseorang yang telah terbebas melalui kepercayaan. Aku, para bhikkhu, mengatakan tentang bhikkhu itu bahwasanya di sana ada sesuatu yang harus dikerjakan melalui kerajinan. Apa alasan untuk itu? Sekalipun sementara bhikkhu mulia itu sedang mengunjungi rumah-rumah yang cocok [479] ... Dengan memasukinya ia bisa menekuninya di dalamnya. Oleh karena itu, aku, para bhikkhu, memperhatikan buah dari kerajinan bhikkhu ini, mengatakan bahwa di sana ada beberapa hal yang harus dikerjakan melalui kerajinan atau ketekunan.
Dan yang mana, para bhikkhu, orang yang berusaha keras mencari dhamma itu? Untuk hal ini, para bhikkhu, beberapa orang sedang menekuni serta mengab¬dikan diri tanpa mempunyai pengertian dengan orang di mana Pembebasan-Pembeba¬san damai yang tidak berbentuk yang telah melampaui bentuk-bentuk materiil; tetapi (walaupun) ia telah melihat dengan cara-cara kebijaksanaan, kanker-kanker tidak sepenuhnya dihancurkan; dan hal-hal yang diproklamirkan oleh
Sang Tathagata adalah disetujuinya dengan sedang-sedang saja dengan cara kebijaksa¬naan intuitip, walaupun ia telah melihat dengan cara-cara kebijaksanaan, kanker-kankernya tidak sepenuhnya dihancurkan; dan hal-hal yang diproklamirkan oleh Sang Tathagata adalah disetujuinya dengan sedang-sedang saja dengan cara kebijaksanaan intuitip, walaupun ia memiliki keadaan-keadaan itu, yakni daya kemampuan tentang kepercayaan, daya kemampuan tentang energi, daya kemampuan tentang perhatian, daya kemampuan tentang konsentrasi, daya kemampuan tentang kebijaksanaan. Hal ini, para bhikkhu, dinamakan seseorang yang sedang berusaha sekuat tenaga mencari dhamma. Aku, para bhikkhu, mengatakan tentang bhikkhu itu bahwasanya di sana terdapat sesuatu yang harus dikerjakan melalui keraji¬nan atau ketekunan. Apa alasan itu? Sekalipun bhikkhu mulia itu sedang menga¬dakan kunjungan ke rumah-rumah yang cocok ... dengan memasukinya ia bisa menekuni serta mengabdikan diri di dalamnya. Oleh karena itu aku, para bhikk¬hu, dengan memperhatikan buah dari kerajinan bagi bhikkhu itu, mengatakan bahwa disana ada sesuatu yang harus dikerjakan olehnya dengan cara kerajinan.
Dan yang manakah, para bhikkhu, orang yang berusaha keras berada di belakang kepercayaan itu? untuk itu, para bhikkhu, beberapa orang sedang menekuni tanpa mempunyai pengertian dengan orang di mana pembebasan-pembebasan yang tidak berbentuk itu telah melampaui bentuk-bentuk materiil; namun begitu, dengan dihancurkan sama sekali; tetapi apabila ia memiliki cukup kepercayaan kepada Sang Tathagata, cukup banyak hormat maka ia akan memiliki hal-hal ini, hal itu apa yang dikatakan daya kemampuan tentang kepercayaan, daya kemampuan tentang energi, daya kemampuan tentang keperhatiannya, daya kemampuan tentang konsentrasi, daya kemampuan tentang kebijaksanaan. Inilah, para bhikkhu, yang dinamakan seseorang yang berusaha keras mencari kepercayaan. Aku, para bhikk¬hu, mengatakan tentang bhikkhu itu bahwasanya ada sesuatu yang harus dikerja¬kan melalui kerajinan atau ketekunan. Apa alasan untuk itu? Sekalipun sementa¬ra bhikkhu mulia itu sedang mengadakan kunjungan ke tempat-tempat tinggal yang sesuai, berhubungan dengan teman-teman yang menyenangkan, dan dirinya sendiri sedang mengadakan pengontrolan organ-organ inderanya. Setelah menyadari di sini dan sekarang melalui pengetahuan luar biasa dari dirinya sendiri tujuan yang tidak ada bandingannya itu dari kelana Brahmana bagi kepentingan yang mana anak-anak muda serta keluarga benar untuk pergi dari kehidupan berumah tangga ke penghidupan tanpa rumah tangga, dengan memasukinya ia bisa menekuni di dalamnya. Oleh karena itu, para bhikkhu, dengan memperhatikan buah keraji¬nan bagi bhikkhu itu, mengatakan atau ketekunan.
Aku para bhikkhu, tidaklah mengatakan bahwa pencapaian pengetahuan agung atau luar biasa itu datangnya secara langsung saja; namun begitu para bhikkhu, pencapaian pengetahuan agung itu diperoleh dengan cara latihan sedikit demi sedikit, dikerjakan sedikit demi sedikit, suatu pelajaran sedikit demi sedikit [480] Dan bagaimana, para bhikkhu, pencapaian pengetahuan agung itu datangnya dari latihan sedikit demi sedikit, melalui perbuatan sedikit demi sedikit, pelajaran sedikit demi sedikit itu? Untuk hal ini, para bhikkhu, seseorang yang mempunyai kepercayaan menarik dekat-dekat; dengan menarik dekat-dekat itu, ia duduk didekatnya; dengan duduk didekatnya itu ia memasang kuping; dengan memasang telinga ia mendengar dhamma; dengan mendengar dhamma ia men¬gingatnya; ia menguji arti dari hal-hal yang telah tersalur masuk ke dalam telinga; sementara menguci arti hal-hal itu akan disetujui; karena terdapat persetujuan tentang hal-hal itu maka terlahirlah keinginan; dengan terlahirnya keinginan ia membuat suatu usaha; setelah membuat suatu usaha ia mempertim¬bangkannya; dengan mepertimbangkanya ia berusaha dengan keras; dengan mengada¬kan keputusan sendiri ia menyadari dengan orangnya kebenaran tertinggi itu sendiri dan, dengan menyelami atau penetrasi dengan cara-cara kebijaksanaan, maka ia melihat. Tetapi, para bhikkhu, seandainya di sana tidak ada keper¬caaan, di sana pasti tidak bakal ada, para bhikkhu, menarik dekat-dekat itu; di sana pasti tidak bakal ada, para bhikkhu , telinga yang mendengarkan; di sana pasti tidak ada, para bhikkhu, mendengarkan dhamma; di sana pasti tidak bakal ada, para bhikkhu, mengingat dhamma; di sana pasti tidak ada, para bhikkhu, pengujian arti dari dhamma itu; disana pasti tidak bakal ada, para bhikkhu, keinginan itu; di sana pasti tidak bakal ada, para bhikkhu, perjuan¬gan atau usaha keras. Para bhikkhu, kamu berada pada jalan salah, kamu berada pada jalan palsu, para bhikkhu, sejauh mana, para bhikkhu, orang-orang bodoh itu telah tersesat dari dhamma dan disiplin.
Terdapatlah empat kelipatan tentang pengungkapan, para bhikkhu, arti dari padanya ialah, apabila ia dibaca, seorang berintelgesia tinggi akan segera dapat mengerti dengan cara kebijaksanaan. Aku akan membacanya untukmu, para bhikkhu, kamu akan mengetinya dari-ku."
Siapakh kita ini, yang Mulia, dan siapakah adalah yang mengetahui ten¬tang dhamma?"
"Para bhikkhu, sekalipun seorang guru yang menyimpan atau mengumpulkan benda-benda material, ia adalah pewaris terhadap benda-benda material, dan hidup dalam hubungan dengan benda-benda material, mengapa, sekalipun baginya, jenis tawar-menawar tidaklah berlaku, bahwa (para pengikutnya) mau atau tidak mau berbuat ini atau itu yang sesuai dengan apakah mereka suka atau tidak. Oleh karena itu apa hubungannya dengan Sang Tathagata yang hidup tidak berhu¬bungan dari benda-benda material itu? Bagi siswa yang mempunyai kepercayaan dalam instruksi-instruksi dari Sang Guru dan hidup dalam keselarasan dengan ianya para bhikkhu, ia adalah merupakan prinsip bahwa: 'Sang Guru adalah Tuhan, aku adalah seorang siswa: Tuhan tahu, aku tidak tahu. Bagi seorang siswa yang mempunyai kepercayaan dalam instruksi-instruksi Sang Guru dan hidup dalam keselarasan dengan lainnya, para bhikkhu, instruksi-instruksi Sang Guru adalah suatu perkembangan lebih lanjut, memberikan daya kekuatan. Bagi seorang siswa yang mempunyai kepercayaa di dalam instruksi Sang Guru adalah suatu pekerbangan lebih lanjut, memberikan daya kekuatan. Bagi seorang siswa yang mempunyai kepercayaan di dalam instruksi-instruksi Sang Guru dan hidup dalam keselarasan dengan ianya, para bhikkhu, [481] Ia adalah merupakan suatu prin¬sip bahwa: 'Dengan senang aku akan dikurangi hingga kulit dan urat dan tulang dan membiarkan daging tubuhku serta darah mengering apabila di sana akan datang suatu pusaran energi sehingga apa yang belum dimenangkan agar dapat dimenangkan oleh kekuatan manusia, dengan energi manusa, dengan perjuanan atau usaha keras manusia.' Bagi seorang siswa yang memiliki kepercayaan dalam isntruksi-instruksi Sang Guru serta hidup di dalam keselarasan dengan lainnya, para bhikkhu, satu di antara dua buah itu dapat diharapkan; pengetahuan agung di sini dan sekarang, atau apabila terdapat suatu landasan (bagi sisa kelahi¬ran kembali), keadaan tidak akan kembal lagi."
Demikian kata Sang Buddha. Merasakan senang, para bhikkhu ini mensyukuri apa yang dikatakan oleh Sang Buddha itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar