LATUKIKOPAMA SUTTA
( 66 )
Pendahuluan
Berawal dengan ungkapan rasa bahagia dalam ajaran Sang Buddha, Sutta ini menceritakan serta memperlihatkan berapa banyak hal-hal yang menyakitkan dan tak menguntungkan yang Sang Buddha bersihkan dari kita dan berapa banyak hal-hal yang menyenangkan dan bermanfaat yang Sang Buddha telah membawakan kita. Tema Sutta ini adalah penolakan, yang pertama rintangan yang sulit seperti suka pada makanan dan makan pada saat tidak cocok, kemudian kemelekatan pada keinginan hawa napsu, dan kemudian melalui jhana yang berturut-turut hingga mencapai dasar adanya mengenai persepsi maupun bukan persepsi - semuanya harus dibuang dan diatasi dengan tahap lebih lanjut mengenai pencapaian. Pembuangan atau penolakan ini dari jhana tidak dapat, dengan jelas, dilatih sebelum jhana dicapai, juga tidak dapat mencapai kemajuan Dhamma menjadi berhasil bila seseorang belum mencapai Dhamma yang lebih rendah. Sutta ini ditujukan pada seorang bhikkhu, yang masih banyak kehendak dan mudah dipuaskan. Karena dia ditunjang oleh bhikkhu lainnya , maka dia makan hanya cukup untuk menjaga badannya segar sambil menghindari kesulitan bagi mereka.
Dia menginginkan badannya menjadi ringan dan nyaman sewaktu siang hari, sore hari dan malam hari, sehingga dia dapat bermeditasi tanpa mengantuk, maka dia tidak makan pada saat tersebut. Selain itu, membatasi makanan yang diten-tukan oleh peraturan Vinaya (dari fajar hingga siang hari waktu makan adalah satu atau dua kali), juga membatasi kemelekatan seseorang terhadap makanan, suatu kemelekatan hanyalah mendorong kekuatan keinginan hawa napsu. Bila makanan kita makan semaunya kita tidak dapat mencapai banyak kemajuan dalam Dhamma. Umat awam juga sebaiknya harus mencatat hal ini dan makan secukupnya, dan menjalankan delapan peraturan pada hari Uposatha demi keseimbangan badan dan pikiran.
Sutta ( 66 )
1. Demikianlah kudengar :
Pada suatu kesempatan Sang Buddha sedang berdiam di Negeri Anguttarapan. Ada suatu kota yang disebut Apana.
2. Kemudian pada saat pagi hari Sang Buddha setelah berpakaian, dan mengambil bokor dan jubah luarnya, Beliau pergi menuju Apana untuk mencari makanan. Ketika Beliau telah mengembara mencari makananan di Apana dan telah kembali dari berkeliling mencari makanan di Apana dan , Beliau pergi menuju hutan untuk beristirahat, dan Beliau masuk ke dalam hutan dan duduk di akar pohon untuk beristirahat.
3. Kemudian juga di pagi hari yang mulia Udayin setelah berpakaian, dan men¬gambil bokor dan jubah luarnya, dia pergi menuju Apana untuk mencari makanan. Ketika dia telah mengembara mencari makanan di Apana dan telah kembali dari berkeliling mencari makanan. Dia pergi menuju hutan untuk beristirahat, dan dia masuk ke dalam hutan dan duduk di akar pohon untuk beristirahat.
4. Kemudian selagi yang mulia Udayin sendirian bermeditasi masuklah suatu pendapat ke dalam pikirannya : "Betapa banyaknya hal yang menyusahkan (Dhamma) yang Sang Buddha telah bersihkan dari kita dan betapa banyaknya hal yang menyenangkan yang Sang Buddha telah bawakan bagi kita ! Betapa banyaknya hal yang tak menguntungkan yang Sang Buddha telah bersihkan dari kita dan betapa banyaknya hal yang menguntungkan yang Sang Buddha telah bawakan bagi kita !"
5. Kemudian pada saat malam tiba , yang mulia Udayin bangkit dari meditasi dan dia pergi menemui Sang Buddha, dan setelah memberikan penghormatan bagi Beliau dia duduk pada suatu sisi. Ketika dia telah melakukan hal itu, dia mencerita¬kan kepada Sang Buddha apa yang telah dia pikirkan, dan dia menambahkan :
6. Yang Mulia, dahulu kita biasa makan di malam hari dan di pagi hari dan dan di penghujung hari. Pada saat itulah kemudian Sang Buddha menyampaikan pada Bhikkhu itu demikian : "Bhikkhu, hindarilah makan di penghujung hari (tengah malam). "Yang Mulia, saya bingung dan sedih, (sambil berpikir :) "Bila perumah tangga yang setia dan jujur memberikan kita makanan yang baik dari berbagai jenis di penghujung hari, Sang Buddha memberi tahu kita untuk menghindarinya, Sang Buddha memberitahu kita untuk melepaskannya." Karena kita melihat dalam diri kita sendiri cinta dan penghormatan pada Sang Buddha, dan sadar dan malu, kita menghindari makanan tersebut di penghujung hari. Kemudian kita makan hanya (dalam dua waktu, begitulah yang dikatakan,) di malam hari dan di pagi hari. Kemudian pada saat itulah Sang Buddha menyampaikan pada Bhikkhu itu demikian : "Bhikkhu hindarilah makanan tersebut di penghujung malam. "Yang Mulia, saya bingung dan sedih (sambil berpikir :) "Sang Buddha memberitahukan kita untuk menghindari makanan yang dianggap berlebihan, Sang Buddha memberi¬tahukan kita untuk melepaskannya. "Pernah terjadi, Yang Mulia, bahwa seorang bhikkhu mendapat sejumlah bahan untuk saus, dan dia berkata : "Taruhlah bahan saus itu dan marilah kita semua memakannya di malam hari." (Hampir) semua masakan dilaksanakan di malam hari dan sedikit di siang hari. Karena kita melihat dalam diri kita sendiri cinta dan penghormatan pada Sang Buddha, dan sadar dan malu, kita menghindari makanan tersebut di penghujung malam hari. Pernah terjadi, Yang Mulia, bahwa para bhikkhu berkeliling untuk mencari makanan di kegelapan malam hari telah berjalan masuk ke dalam lubang jamban dan berjalan masuk selokan dan jatuh diatas semak berduri dan jatuh di atas seekor sapi dan berjumpa penjahat yang telah melakukan perbuatan jahat dan telah diperdaya oleh para wanita dengan apa yang bukan Dhamma Sejati. Pernah terjadi, Yang Mulia, bahwa saya ketika berkeliling mencari makanan di kegela¬pan malam hari, dan seorang wanita yang sedang mencuci piring melihat saya sekilas. Ketika melihat saya, dia berteriak ketakutan : "Kasihanilah saya, setan (yang telah datang) yang menghampiri saya !" Ketika dia mengatakan perkataan itu, saya memberitahukannya : "Saudariku, saya bukan setan, saya adalah bhikkhu yang sedang menunggu untuk makanan. "Ketika itu bhikkhu terse¬but adalah yang ibu dan ayahnya telah meninggal ! Bhikkhu lebih baik, anda membelah perut anda denga pisau tajam daripada berkeliling mencari makan di kegelapan malam demi perut anda !" "Yang Mulia, ketika saya mengingat kembali bahwa saya (berpikir :) "Betapa banyaknya hal yang menyedihkan yang Sang Buddha telah bersihkan dari kita; dan betapa banyaknya hal yang menyenangkan yang Sang Buddha telah bawakan bagi kita ! Betapa banyaknya hal yang tak bermanfaat yang Sang Buddha telah bersihkan dari kita; dan betapa banyaknya hal yang bermanfaat yang Sang Buddha telah bawakan bagi kita !"
7. Begitulah Udayin, pernah ada seorang bhikkhu yang salah jalan di sini, yang ketika saya ceritakan padanya "Hindarilah ini" berkata : "Apa, untuk hal yang remeh, untuk hal yang remeh sedemikian rinci ? Bhikkhu itu seorang pelupa sekali !" dan mereka tidak menghindari hal itu dan memperlihatkan ketidakso¬panan pada saya maupun para bhikkhu yang haus latihan. Hal itu menjadi tamba¬tan yang kuat, kokoh, kasar, yang tidak pernah lapuk bagi mereka dan kokoh bagaikan kalinga.
8. Misalkan seekor burung puyuh diikat dengan tali pohon, dengan demikian burung itu dapat diharapkan terluka atau tertangkap atau mati. Sekarang misal¬kan seorang berkata : "Tali pohon yang menjerat burung puyuh dan dengan demi¬kian diharapkan terluka, tertangkap atau mati, adalah lemah, tak bertenaga, lapuk, tanpa isi mengikat burung puyuh itu," apakah dia bicara dengan benar ?"
"Tidak, Yang Mulia, tali pengikat yang olehnya si burung puyuh diikat dan dengan demikian dapat diharapkan terluka, tertangkap atau mati adalah kuat, kokoh, kasar, tidak pernah rusak mengikat burung puyuh itu dan kokoh bagaikan kalinga.
"Begitu juga, ada bhikkhu tertentu .... Yang tidak pernah tali itu lapuk bagi mereka dan kokoh bagaikan kalinga.
9. "Udayin, ada beberapa suku bangsa di sini, yang, ketika diberitahu oleh saya "Hindari ini" berkata : "Apa, untuk hal yang remeh, sedemikian rinci untuk dihindari seperti ini, Sang Buddha ((secara resmi) menggunakan pelepasan itu ?" Namun mereka menghindari dan tidak memperlihatkan kekasaran kepada saya seperti bhikkhu yang haus latihan. Setelah menghindari makanan, mereka berdiam tanpa terlihat dalam kegiatan, tenang, mendapat makanan dari pemberian orang lain, dengan pikiran (menjauhkan diri) seperti rusa liar. Itu adalah tali yang lemah, tanpa tenaga, rusak, tanpa isi bagi mereka.
10. "Misalkan seekor gajah kerajaan yang bertaring panjang seperti tiang, berpakaian yang indah, keturunan yang mulia dan pernah digunakan dalam pertem¬puran, yang diikat, yang dengan mudah menundukkan badannya sedikit dia dapat merobek dan menghancurkan tali itu dan kemudian pergi kemana saja yang dia sukai, adalah lemah, tidak bertenaga, rusak, tanpa isi baginya."
"Begitu juga, pernah ada beberapa kaum disini .... Lemah, tak bertenaga. busuk, tali tanpa isi bagi mereka."
11. Andaikan ada seorang yang miskin, tanpa uang sepeserpun, serba kekurangan, dan dia mempunyai gubuk yang sudah sangat buruk, bukan jenis yang terbaik, dan mempunyai papan ranjang yang sudah reyot, bukan jenis yang terbaik, dan mem-punyai sedikit jagung dan biji labu dalam pot, bukan jenis yang terbaik, dan istri yang menjemukan, bukan jenis yang terbaik, dan dia pergi ke taman biara dan melihat seorang bhikkhu sedang duduk di bawah bayangan pohon dengan tangan dan kaki yang sudah tercuci bersih setelah makan suatu undangan makan, mencu¬rahkan dirinya menuju pemikiran yang lebih tinggi. Dia mungkin (berpikir :) "Alangkah senangnya keadaan si biarawan itu, dan betapa sehatnya dia ! Sean¬dainya saya menjadi seorang yang dapat menggunduli rambut dan jenggot, memakai jubah kuning dan meninggalkan kehidupan rumah tangga menjadi orang yang bebas!" tetapi dia tidak dapat meninggalkan gubuk yang sudah sangat buruk itu, bukan jenis yang terbaik, dan mempunyai ranjang yang reot, bukan jenis yang terbaik, dan sejumlah jagung dan biji labu dalam pot, bukan jenis yang ter¬baik, dan mempunyai istri yang menjemukan, bukan jenis yang terbaik, dan dia tidak dapat menggunduli rambut dan jenggot, memakai jubah kuning dan mening¬galkan kehidupan rumah tangga menjadi orang bebas. Sekarang seandainya seo¬rang berkata : "Ikatan (tambatan) yang mengikat orang ini sehingga dia tidak dapat meninggalkan hal-hal tersebut dan meninggalkan kehidupan rumah tangga menjadi orang bebas adalah seorang yang lemah, tanpa daya, busuk, tali tanpa isi baginya," apakah dia bicara yang benar ?"
"Tidak, Yang Mulia, ikatan yang mengikat orang itu sehingga dia tidak dapat meninggalkan hal-hal tersebut dan meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjadi bebas adalah kuat, kokoh, teguh, tidak pernah tali itu busuk baginya dan kokoh bagaikan kalinga."
"Begitu juga, ada orang tertentu yang salah bimbingan .... Tidak pernah tali itu busuk bagi mereka dan kokoh bagaikan kalinga.
12. Seandainya ada seorang anak perumah tangga atau perumah tangga yang kaya, dengan kekayaan yang banyak dan harta yang berlimpah, banyak kodian batangan emas dan banyak kodian lumbung dan banyak kodian sawah dan banyak kodian pakaian dan banyak kodian istri dan banyak kodian orang jaminan (laki-laki) dan orang laminan (perempuan), dan dia pergi ke taman biara dan melihat seo¬rang bhikkhu yang sedang duduk di bawah naungan pohon dengan tangan dan kaki yang tercuci bersih setelah makan dari suatu undangan makan, mencurahkan dirinya menuju konsentrasi yang lebih tinggi. Dia mungkin (berpikir :) Betapa bahagianya biarawan itu, dan betapa sehatnya dia ! Seandainya saya menjadi orang yang dapat menggunduli rambut dan mencukur jenggot saya, memakai jubah kuning dan meninggalkan kehidupan rumah tangga menjadi orang bebas !" dan dia sanggup meninggalkan banyak kodian batang emas dan banyak kodian lumbung padi dan banyak kodian sawah dan banyak kodian pakaian dan banyak kodian istri dan banyak kodian tanggungan pria dan wanita, dan dia sanggup mencukur rambut dan jenggotnya, memakai jubah kuning dan meninggalkan kehidupan rumah tangga menjadi orang bebas. Sekarang andaikata seseorang berkata : "Ikatan-ikatan itu yang mengikat perumah tangga dan anak perumah tangga sehingga dia dapat men¬inggalkan hal-hal tersebut dan dapat meninggalkan kehidupan rumah tangga menjadi orang bebas merupakan ikatan yang lemah, tanpa daya, busuk, tanpa inti baginya."
"Begitu juga, pernah ada beberapa suku bangsa .... Yang ikatan itu menjadi lemah, tanpa daya, busuk, tanpa inti bagi mereka."
13. "Ada empat jenis orang yang ditemukan berada dalam dunia ini. Apa empat jenis orang yang ditemukan berada dalam dunia ini. Apa empat jenis orang itu?"
14. "Satu jenis orang ini mempraktikkan cara uuntuk meninggalkan unsur-unsur pokok kehidupan, untuk melepaskan diri dari unsur-unsur pokok kehidupan. Bila hal itu dilaksanakan demikian, kenangan-kenangan dan maksud-maksud yang berga¬bung dengan unsur-unsur pokok kehidupan itu akan menimpanya. Dia tahan hal-hal itu, dia tidak meninggalkan hal-hal itu atau memindahkan hal tersebut atau menjauhinya dan menghancurkannya. Orang macam itu saya sebut "yang bergabung" bukan jenis "yang menceraikan". Mengapa demikian ? Sebab saya telah mengetahui perbedaan khusus dari kemampuan orang ini.
15. "Satu jenis orang ini mempraktikkan cara untuk meninggalkan unsur-unsur pokok kehidupan, untuk melepaskan diri dari unsur-unsur pokok kehidupan. Bila hal itu dilaksanakan, kenangan-kenangan dan maksud-maksud yang bergabung dengan unsur-unsur kehidupan itu menimpanya. Dia tidak tahan hal-hal itu, dia meninggalkannya, memindahkan hal-hal itu, menjauhinya dan menghancurkannya. Orang macam itu saya sebut "yang bergabung" bukan "yang menceraikan". Mengapa demikian ? Sebab saya telah mengetahui perbedaan khusus dari kemampuan orang ini.
16. Satu jenis orang ini mempraktikkan cara meninggalkan unsur-unsur pokok kehidupan, untuk melepaskan diri dari unsur-unsur pokok kehidupan itu. Bila hak itu dilaksanakan, kenangan-kenangan dan maksud-maksud yang bergabung dengan unsur-unsur pokok kehidupan menimpanya sekarang dan kemudian karena perubahan-perubahan kesadaran. Walaupun kesadarannya mungkin muncul dengan perlahan, sungguhpun demikian dia segera meninggalkan hal-hal itu, memindah¬kannya, menjauhinya dan menghancurkannya. Tepat seolah-olah seorang yang membiarkan dua atau tiga tetes air jatuh ke dalam penggorengan besi yang panas selama sehari, walaupun mungkin tetesan-tetesan itu jatuh perlahan, meskipun demikian tetesan air itu akan segera habis dan hilang. Begitu juga, satu orang jenis ini yang mempraktikkan .... Dan memusnahkannya. Orang macam itu saya sebut "yang bergabung" bukan "yang menceraikan". Mengapa demikian ? Sebab saya telah mengetahui perbedaan khusus dari kemampuan orang ini.
17. Satu orang jenis ini, yang telah mengetahui bahwa unsur-unsur pokok kehid¬upan merupakan akar dari penderitaan, dibebaskan dari unsur-unsur pokok kehid¬upan. Orang macam ini saya sebut "yang menceraikam" bukan "yang bergabung". Mengapa demikian ? Sebab saya telah mengetahui perbedaan khusus dari kemampuan orang ini.
18. "Ada lima bagian tubuh yang berkeinginan hawa napsu. Apa lima bagian tubuh itu ? Bentuk-bentuk yang dapat dikenali oleh mata sehingga menimbulkan kehen¬dak, keinginan, yang menyenangkan dan menggembirakan, yang berhubungan dengan keinginan hawa napsu dan godaan yang merangsang. Suara-suara yang dapat diken¬ali oleh telinga .... Wangi lidah .... Sentuhan-sentuhan yang dapat dirasakan oleh badan sehingga menimbulkan kehendak, keinginan, yang menyenangkan dan menggembirakan, yang berhubungan dengan keinginan hawa napsu dan godaan yang merangsang. Hal-hal ini merupakan lima bagian tubuh yang berkeinginan hawa napsu.
19. "Kini kenikmatan dan kegembiraan yang muncul tergantung pada lima bagian tubuh yang berkeinginan hawa napsu disebut kenikmatan dalam keinginan yang berhawa napsu, kenikmatan dalam kemesuman, biasanya kenikmatan manusia, kenik¬matan tercela; kenikmatan itu tidak harus diulangi atau dikembangkan atau diperbanyak : orang yang seharusnya takut terhadap kenikmatan semacam itu, begitulah kata saya."
20. "Di sini ada seorang bhikkhu yang sungguh menyepi dari keinginan berhawa napsu, menyepi dari hal yang tak menguntungkan Dhamma, memulai dan berdiam dalam jhana pertama, yang diikuti dengan penerapan awal dan penerapan terus menerus, dengan rasa bahagia dan penuh nikmat timbul dalam hidup nyepi."
21. "Meskipun dengan penerapan awal dan terus menerus dia memulai dan berdiam dalam jhana kedua, yang mempunyai rasa percaya diri dan kesendirian dalam pikiran tanpa penerapan awal dan penerapan terus menerus, dengan rasa bahagia dan rasa nikmat timbul dalam konsentrasi."
22. Bersama kelayuan maupun kebahagiaan dia berdiam dalam ketenangan, dan berhati-hati dan penuh waspada, meskipun berperasaan nikmat dengan badan, dia memulai dan berdiam dalam jhana ketiga oleh karena para Muliawan mengumumkan "Dia menyatu dengan kenikmatan bagi yang mempunyai ketenangan dan berhati-hati."
23. "Bersama ditinggalkannya kenikmatan dan kesakitan, dan bersama dengan musnahnya kegembiraan dan kesedihan sebelumnya, dia memulai dan berdiam dalam jhana keempat yang tidak mempunyai kenikmatan maupun kesakitan dan mempunyai kemurnian kesadaran karena ketenangan.
24. Hal ini disebut kenikmatan dalam penolakan, kenikmatan dalam nyepi, kenik¬matan dalam keheningan, kenikmatan dalam penerangan sempurna; hal itu harus diulangi dan dikembangkan dan diperbanyak : orang seharusnya tidak perlu takut terhadap kenikmatan macam itu, begitulah kata saya.
25. "Di sini .... Seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam jhana pertama .... Dengan rasa bahagia dan rasa nikmat timbul dalam hidup nyepi.
"Sekarang hal itu, saya katakan, menjadi milik kegelisahan. Apakah kegelisahan itu ? Apa saja yang diterapkan sejak awal dan terus menerus belum berhenti disanalah kegelisahan berada.
26. Disini .... Seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam di jhana kedua .... Dengan kebahagiaan dan kenikmatan yang muncul dalam konsentrasi.
Sekarang saya katakan bahwa hal itu menjadi milik kegelisahan. Kegeli¬sahan apa yang ada di sana ? Kebahagiaan dan kenikmatan apa saja yang belum berhenti di sanalah kegelisahan berada.
27. Disini .... Seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam jhana ketiga .... Yang mempunyai ketenangan hati dan penuh kesadaran. Sekarang saya katakan bahwa keadaan itu menjadi milik kegelisahan. Kegelisahan apa yang ada disana ? Kenikmatan ketenangan hati apa saja yang belum berhenti di sanalah kegelisahan berada.
28. Disini .... Seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam jhana keempat .... Dan memiliki kesucian kesadaran pikiran karena ketenangan hati.
Saya katakan keadaan ini ketenangan.
29. Di sini seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam jhana pertama .... Bersama dengan kebahagiaan dan kenikmatan yang muncul dari nyepi.
Saya katakan keadaan itu belum cukup. Saya katakan hindarilah keadaan itu ; saya katakan lebihi keadaan itu.
Dan apa yang melebihi keadaan itu ?
30. Di sini .... Seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam jhana kedua .... Bersama kebahagiaan dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi keadaan itulah yang melebihinya.
Saya katakan juga bahwa keadaan itu belum cukup. Saya katakan hindari¬lah keadaan itu ; saya katakan lebihi.
Apa yang melebihi keadaan itu ?
31. Di sini .... Seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam jhana ketiga .... Yang memiliki ketenangan hati dan penuh kesadaran. Keadaan itulah yang melebihinya.
Saya katakan juga juga bahwa keadaan itu belum cukup.
Saya katakan bahwa keadaan itu belum cukup. Saya katakan hindarilah -
Keadaan itu; saya katakan lebihi keadaaan itu.
Dan apa yang melebihi keadaan itu ?
32. Di sini .... Seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam jhana keempat .... Yang memiliki kesucian kesadaran pikiran karena ketenangan hati. Keadaan itulah yang melebihinya.
Saya katakan juga bahwa keadaan itu belum cukup.
Saya katakan hindarilah keadaan itu; saya katakan lebihi keadaan itu.
Apa yang melebihi keadaan itu ?
33. Inilah dengan bentuk peresepsi yang lebih sempurna, bersama dengan lenyap¬nya persepsi daya tahan, bersama dengan tidak diberikannya perhatian pada perbedaan persepsi, (sadar bahwa) "ruang adalah tak terbatas" seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dengan dengan dasar adanya ruang yang tak terbatas. Itulah yang melebihinya.
Saya katakan juga bahwa keadaan itu belum cukup.
Saya katakan hindarilah keadaan itu; saya katakan lebihi keadaan itu.
Dan apa yang melebihi keadaaan itu ?
34. Sekarang ini dengan menyempurnakan kelebihan dasar adanya ruang yang tak terbatas, (sadar bahwa) "kesadaran adalah tidak terbatas", seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam dasar adanya kesadaran yang tak terbatas. Itulah yang melebihi keadaan itu.
Saya katakan juga bahwa keadaan itu belum cukup.
Saya katakan hindari keadaan itu ; saya katakan lebihi keadaan itu.
Dan apa yang melebihi keadaan itu ?
35. Sekarang ini dengan menyempurnakan kelebihan dasar adanya kesadaran yang tak terbatas, (sadar bahwa) "tak ada sesuatu", seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam dasar adanya ketiadaan. Itulah yang melebihi keadaan itu.
Saya katakan juga bahwa keadaan itu belum cukup.
Saya katakan lebihi keadaan itu. Dan apa yang melebihi keadaan itu ?
36. Sekarang ini dengan menyempurnakan kelebihan dasar adanya ketiadaan, seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam dasar adanya ketiadaan persepsi maupun bukan persepsi. Itulah yang melebihi keadaan itu.
Saya katakan juga bahwa keadaan itu belum cukup.
Saya katakan hindari keadaan itu. Saya katakan lebihi keadaan itu.
37. Sekarang ini dengan menyempurnakan dasar adanya ketiadaan persepsei maupun bukan persepsi, seorang bhikkhu yang memulai dan berdiam dalam terhentinya persepsi dan perasaan. Itulah yang melebihi keadaan itu.
"Begitulah saya juga katakan mengenai penghindaran dari dasar adanya ketiadaan persepsi maupun bukan persepsi. Apakah anda mengerti, Udayin, bahwa belenggu, kecil atau besar dari orang yang menghindar yang tidak saya bicara¬kan ?
"Tidak, Yang Mulia."
Itulah apa yang Sang Buddha katakan. Yang mulia Udayin sangat puas, dan dia berbahagia dengan ajaran Sang Buddha.
Catatan :
Kalinga : kata ini merujuk pada kayu yang kuat yang ditambatkan pada leher sapi untuk mencegah hewan itu kabur.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar