Selasa, 16 Maret 2010

SUBHA SUTTA

SUBHA SUTTA
99

PENDAHULUAN

Sutta ini agak seperti keranjang karena di sini kita mendapatkan bahwa Subha, seorang pemuda pelajar brahma, bertanya kepada Sang Buddha mengenai sesuatu yang dia pikirkan tentang berbagai ajaran kaum brahmana-seperti man¬faat yang besar dari kehidupan berumah tangga dan kebalikannya manfaat yang sedikit dari kehidupan tanpa rumah tangga. Karena para brahmana (dan beberapa) adalah rohaniwan perumah tangga, orang tak memuji kehidupan tanpa berumah tangga. Seperti di dalam Canki Sutta [95], Sang Buddha menolak pelajaran dan praktik kaum brahmana yang tidak didasarkan pada pengetahuan dan pengelihatan (penembusan), tetapi hanya didasarkan pada akal dan spekulasi. Perumpamaan tentang sebarisan orang buta pun muncul, namun dalam hal ini Subha menjadi marah dan dengan ceroboh mencoba membuktikan bahwa tuntutan Sang Buddha akan penghormatan yang lebih tinggi daripada keadaan manusia' adalah salah. Sang Buddha dengan tenang menunjukkan di mana anggapan Subha salah dan mengapa mereka brahmana dibatasi oleh kekayaan dan kesenangan yang mereka miliki dan nikmati, sehingga mereka tidak dapat mengalami apa yang terdapat di atas lima ikatan nafsu indera. Inilah kasus yang meluas pada kebanyakan masyarakat dan selalu demikian.

Subha mengemukakan lima faktor yang para brahmana mengajarkan melakukan kamma baik (jasa) dan Sang Buddha bertanya kepadanya di mana kelima faktor itu kebanyakan ditemukan, di antara perumah tangga atau Subha mengakui bahwa kelima faktor itu kebanyakan dilihat diantara para bhikkhu yang tidak berumah tangga, yang dengan demikian bertentangan dengan dalilnya semula.

Setelah perdebatan itu, tampaknya Subha memiliki keyakinan terhadap Sang Buddha tentang jalan untuk mencapai kelompok (Dewa) Brahma. Sang Buddha menga¬jarkan kepadanya kediaman (Dewa) Brahma, dan setelah itu Subha datang berlin-dung kepada Tiga Permata dan memuji kebijaksanaan Sang Buddha kepada brahmana lain, dengan cara yang sama seperti yang kita temukan di dalam perumpamaan Telapak kaki Gajah (Sutta 27).


No. 99

SUBHA SUTTA


1. Demikianlah telah saya dengar: Pada satu kesempatan Sang Bhagava menetap di Savatthi di hutan Jeta, di Taman Anathapindika.
2. Pada kesempatan itu, siswa (brahmana) Subha, putra Todeyya, tinggal di kediaman seorang perumah tangga tertentu di Savatthi untuk suatu urusan atau lainnya. Kemudian, ia bertanya kepada perumah tangga pemilik kediaman yang ditinggalinya: 'Perumah tangga, Saya telah mendengar bahwa Savatthi tidak kekurangan para Arahat. Pertapa atau Brahmana yang mana yang boleh kita hor¬mati saat ini?' 'Yang Mulia di sini ada Sang Bhagava yang sedang menetap di hutan Jeta di Taman Anathapindika. Kamu dapat menghormati Sang Bhagava, Yang Mulia.
3. Kemudian, setelah mendengar (apa yang dikatakan) perumah tangga itu, siswa (brahmana) putera Todeyya pergi menemui Sang Bhagava, dan saling bertu¬kar salam, dan setelah kata-kata ramah dan sopan diucapkan, ia duduk di satu sisi. Setelah hal itu dilakukan, ia bertanya kepada Sang Bhagava:
4. 'Yang Mulia Gotama, para brahmana mengatakan hal ini: "Seorang perumah tangga adalah orang yang telah mulai berada di atas Dhamma jalan benar yang bermanfaat; seorang yang menempuh kehidupan tanpa rumah tangga belum mulai berada di atas Dhamma jalan benar yang bermanfaat," Apakah yang dapat Yang Mulia Gotama katakan mengenai hal itu?' 'Dalam hal ini, siswa (brahmana), Aku adalah orang yang menjawab setelah membuat analisis, Aku tidak menjawab sepi¬hak, Aku tidak memuji cara yang salah baik pada seorang perumah tangga maupun orang yang menempuh kehidupan tanpa perumah tangga, karena baik perumah tangga maupun orang yang menempuh kehidupan tanpa rumah tangga yang telah memasuki jalan yang salah bukanlah orang yang mulai berada di atas Dhamma jalan benar yang bermanfaat. Aku memuji cara yang benar baik pada seorang perumah tangga maupun yang menempuh kehidupan tanpa rumah tangga, karena baik perumah tangga maupun orang yang menempuh kehidupan tanpa rumah tangga yang telah memasuki jalan yang benar karena alasan tersebut adalah seorang telah mulai berada di atas Dhamma jalan benar yang bermanfaat.
5. 'Yang Mulia Gotama, para brahmana mengatakan hal ini: "Bidang pekerjaan di dalam kehidupan berumah tangga, karena banyak berkaitan dengan urusan (masyarakat), fungsi, ikatan, usaha, amat bermanfaat; bidang pekerjaan di dalam kehidupan tanpa rumah tangga, karena sedikit berkaitan dengan urusan (masyarakat), fungsi, ikatan, usaha, tidak bermanfaat." Apakah yang dapat Yang Mulia Gotama katakan mengenai hal ini?' 'Dalam hal ini juga, siapa (brahmana), Aku adalah seorang yang menjawab setelah membuat analisis, Aku tidak menjawab secara sepihak. Terdapat satu bidang pekerjaan yang banyak berkaitan dengan urusan (masyarakat), fungsi, ikatan, usaha, dan apabila gagal, hal itu tidak bermanfaat. Terdapat satu bidang pekerjaan yang banyak berkaitan dengan urusan (masyarakat), fungsi, ikatan, usaha, dan apabila berhasil, hal itu sangat bermanfaat.
6. 'Bidang pekerjaan apa yang banyak berkaitan dengan urusan apabila (masyarakat), fungsi, ikatan, usaha, dan apabila gagal, hal itu tidak berman¬faat? Pertanian adalah bidang pekerjaan yang demikian. 'Bidang pekerjaan apa yang banyak berkaitan dengan urusan (masyarakat), ..... , usaha, dan apabila berhasil, hal itu bermanfaat? Pertanian jugalah bidang pekerjaan yang demiki¬an. 'Bidang pekerjaan apa yang sedikit berkaitan dengan urusan (masrakat), ..., usaha, dan apabila gagal, hal itu tidak bermanfaat? Perdagan¬gan adalah bidang pekerjaan yang demikian. 1). 'Bidang pekerjaan apa yang sedikit berkaitan dengan bidang urusan (masyarakat), ...... usaha, dan apabila berhasil, hal ini bermanfaat? Perdagangan jugalah bidang pekerjaan yang demi¬kian.
7. 'Seperti bidang pekerjaan yang dilakukan dalam pertanian, yang banyak berkaitan dengan urusan (masyarakat), fungsi, ikatan, usaha, tidak bermanfaat apabila gagal, demikian pula kehidupan berumah tangga yang merupakan bidang pekerjaan demikian tidak bermanfaat apabila gagal. 'Seperti bidang pekerjaan yang dilakukan dalam pertanian, yang banyak berkaitan dengan urusan (masyar¬kat), ....., usaha, bermanfaat apabila berhasil, demikian pula kehidupan berumah tangga yang merupakan bidang pekerjaan demikian bermanfaat apabila berhasil. 'Seperti bidang pekerjaan yang dilakukan dalam perdangangan, yang sedikit berkaitan dengan urusan (masyarakat), fungsi, ikatan, usaha, tidak bermanfaat apabila, demikian pula kehidupan tak berumah tangga yang merupakan bidang pekerjaan demikian tak bermanfaat bila gagal. 'Seperti bidang pekerjaan yang dilakukan dalam perdagangan, yang sedikit berkaitan dengan urusan (masya¬rakat), ....., usaha, bermanfaat apabila berhasil, demikian pula kehidupan tak berumah tangga yang merupakan bidang pekerjaan demikian bermanfaat bila berha¬sil.
8. 'Yang Mulia Gotama, para brahmana menetapkan lima Dhamma untuk pelaksa¬naan perbuatan berjasa, untuk mulai berada di atas jalan yang bermanfaat. 'Apabila tidak ada kamu tetap di dalam kelompok ini dengan lima Dhamma yang ditetapkan oleh para brahmana untuk pelaksanaan perbuatan berjasa, untuk mulai berada di atas jalan yang bermanfaat. 'Tidak ada masalah bagi saya, Yang Mulia Gotama, (berada di dalam kelompok) di mana Yang Mulia, atau orang seperti Yang Mulia, duduk. 'Oleh karenanya, kamu dapat menetapkannya, siswa (brahmana).
9. 'Yang Mulia Gotama, para brahmana menetapkan Kebenaran sebagai Dhamma pertama untuk pelaksanaan perbuatan berjasa, untuk mulai berada di atas jalan yang bermanfaat. Para brahmana di atas jalan yang bermanfaat. Para brahmana menetapkan pengendalian diri sebagai Dhamma menetapkan pengendalian diri sebagai Dhamma kedua untuk pelaksanaan perbuatan berjasa, untuk mulai berada di atas jalan yang bermanfaat. Para brahmana menetapkan kehidupan luhur seba¬gai Dhamma ketiga untuk pelaksanaan perbuatan berjasa, untuk mulai berada di atas jalan yang bermanfaat.
Para brahmana menetapkan belajar 2) (khususnya dalam hal Tigaveda) sebagai Dhamma keempat untuk pelaksaan perbuatan berjasa, untuk mulai berada di atas jalan yang bermanfaat. Para brahmana menetapkan kedermawanan sebagai Dhamma kelima untuk pelaksanaan perbuatan berjasa, untuk mulai berada di atas jalan yang bermanfaat. Inilah lima Dhamma yang ditetapkan oleh para brahmana untuk pelaksanaan perbuatan berjasa, untuk mulai berada di atas jalan yang bermanfaat. Apakah yang dapat dikatakan oleh Yang Mulia Gotama tentang hal ini?' 'Lalu bagaimana, brahmana, apakah para brahmana, apakah para brahmana mempunyai seorang di antara mereka yang mengatakan demikian : "Saya menetapkan yang pematangan kelima dhamma ini, setelah mengalaminya melalui abhinna"?'' Tidak, Yang Mulia Gotama, 'Lalu bagaimana, apakah para brahmana mempunyai seorang guru atau dari tujuh generasi para guru ke belakang di antara mereka yang mengatakan demikian :
"Saya menetapkan pematangan lima dhamma ini, setelah mengalaminya mela¬lui abhinna"?' 'Tidak, Yang Mulia Gotama,'Kemudian bagaimana, apakah para brahmana yang lebih dulu, pembuat nyanyian pujian (hymne), pembabar puji-pujian, yang puji-pujian kunonya itu telah dinyanyikan, diceritakan dan dihim¬pun, dan para brahmana masih tetap menyanyikan dan menghafalkan sekarang, lafalan yang tetap masih mereka lafalkan dan bacakan, yaitu, Atthaka, Vamaka, Vamadeva, Vessamitta, Yamataggi, Agirasa, Bharadvaja, Vasettha, Kassapa dan Bhagu mengatakan demikan : "Kami menetapkan pematangan kelima dhamma ini, setelah mengalaminya melalui abhinna"? 'Tidak, Yang Mulia Gotama. 'Dengan demikian para brahmana, tampaknya, tidak ada seorang brhamana pun di antara mereka yang mengatakan demikian :
Saya menetapkan kelima dhamma ini, setelah mengalaminya melalui abhinna"; dan para brahmana tidak mempunyai seorang guru pun, atau guru dari generasi ketujuh di belakang yang mengatakan demikian: "Saya menetapkan pema-tangan kelima dhamma ini, setelah merealisasinya melalui abhinna"; dan para bijaksana brahmana yang lebih dulu, pembuat nyanyian pujian, pembabar puji-pujian, yang puji-pujian kunonya itu telah dinyanyikan, dibicarakan, dan dihimpun, yang para brahmana masih tetap menyanyikan dan melafalkan sekarang, lafalan yang tetap masih mereka lafalkan - yaitu Atthaka, Vamaka, Vamadeva, Vessamitta, Yamataggi, Angisara, Bharadvaja, Vasettha, Kassapa dan Bhagu juga tidak mengatakan demikian : "Kami menetapkan pematangan kelima dhamma ini, setelah mengalaminya melalui abhinna," Andaikan terdapat sebaris orang buta yang masing-masing saling menyentuh: orang pertama tidak melihat dan yang ditengah tidak melihat dan yang terakhir tidak melihat. Demikian pula, menge¬nai pernyataan-pernyataan para brahmana: brahmana pertama tidak melihat, yang ditengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat.
10. Setelah hal ini dikatakan, Subha, Siswa brahmana, putera Todeyya, Subha, siswa brahmana, putera Todeyya, marah dan tidak senang akan sebutan dari perumpamaan barisan orang buta itu, dan mencaci, meremehkan, dan mengecam Sang Bhagava demikian: "pertapa Gotama akan (terbukti) bersalah,' Ia berkata kepa¬danya: 'Yang Mulia Gotama, pokkharasati brahmana dari Opamanna dan (penguasa) hutan Subhaga (di Ukkattha) telah berkata demikian : "Tentu terdapat para bhikkhu dan brahmana tertentu yang menuntut penghormatan lebih daripada itu keadaan manusia yang patut karena pengetahuan dan pandangan seorang suci; namun, apa yang mereka katakan, menjadi buah tertawaan, kosong, kata-kata sia-sia. Karena bagaimana mungkin seorang manusia mengetahui atau melihat atau merealisasi suatu penghormatan yang lebih luhur daripada pengetahuan dan pandangan seorang suci? Hal itu tidak mungkin "
11. 'Kemudian bagaimana, brahmana Pokkhrasati dari Opamanna dan (penguasa) hutan Subbhaga (di Ukkattha) memahami bagaimana meliputi batin-batin para bhikkhu dan brahmana dengan batin?' 'Yang Mulia Gotama, Pokkhrasati dari Opamanna dan (penguasa) hutan Subbhaga (di Ukkattha) bahkan tidak memahami bagaimana meliputi batin dari perempuan tanggungannya, Punnika, sehingga bagaimana mungkin ia dapat meliputi batin para bhikkhu dan brahmana dengan batin?'
12. 'Andaikata, terdapat seorang buta sejak lahir yang tidak dapat melihat gelap dan terang, atau warna biru atau kuning atau warna merah atau dadu, atau bahkan (tempat) yang tidak rata, atau bintang-bintang, atau bulan dan mata¬hari, dan berkata: "Tidak terdapat terang dan gelap, tidak ada warna biru, kuning, merah atau dadu, dan bahkan tidak ada (tempat) tak rata, tak ada binatang, bulan dan matahari, dan ada yang melihat hal tersebut. Saya tidak mengetahuinya, tak melihatnya, Oleh karena itu tidak ada satu pun benda terse¬but", apakah ia akan berbicara benar?' 'Tidak, Yang Mulia Gotama. Dengan kata-kata begitu ia tidak berbicara benar.
13. 'Demikian pula, Pokkhrasati brahmana dari Opamana dan (penguasa) hutan Subbhaga (di Ukkattha) itu buta dan tak memiliki penglihatan. Ia tidak mungkin mengetahui dan menyadari penghormatan yang lebih tinggi daripada keadaan manusia yang patut karena pengetahuan dan pandangan seorang suci. Bagaimana dengan hal ini, siswa (brahmana), di antara brahmana Kosala yang memiliki kekayaan berlimpah, seperti brahmana Canki, brahmana Tarukkha, brahmana Janus¬soni, brahmana Todeyya, ayahmu, mana yang lebih baik, apakah perkataan yang mereka utarakan (berkenaan dengan) kebiasaan yang berlaku di dalam dunia atau (apakah) tidak (berkenaan dengan) kebiasaan yang berlaku di dalam dunia?'
'Kebiasaan yang berlaku di dalam dunia, Yang Mulia Gotama.'
'Mana yang lebih baik bagi mereka ; perkataan yang diucapkan
sebagai nasehat baik atau nasehat buruk?'
'Nasehat baik, Yang Mulia Gotama.'
'Mana yang lebih baik bagi mereka atau tidak setelah perenungan?'
'Setelah perenungan, Yang Mulia Gotama.'
'Mana yang lebih baik bagi mereka; perkataan yang diutarakan
berhubungan dengan kebaikan atau tidak?'
'Berhubungan dengan kebaikan, Yang Mulia Gotama.'
'Bagaimana mengenai hal ini, siswa (brahmana), apabila
demikian, apakah perkataan yang diutarakan oleh Pokkhrasati
brahmana dari Opamana dan (penguasa) hutan Subbhaga
(di Ukkattha) merupakan kebiasaan yang berlaku di dunia atau
tidak berlaku di dunia?'
'Tidak berlaku di dunia, Yang Mulia Gotama.'
'Nasehat baik atau nasehat buruk'
'Nasehat buruk, Yang Mulia Gotama.'
'Setelah perenungan atau tidak setelah perenungan?'
'Tidak setelah perenungan, Yang Mulia Gotama.'
'Berhubungan dengan kebaikan atau tidak?'
'Tidak berhubungan dengan kebaikan, Yang Mulia Gotama.'
15. 'Sekarang, terdapat lima rintangan batin. Apakah lima rintangan batin itu? Terdapat rintangan berupa kesenangan nafsu indera, rintangan berupa keinginan jahat, rintangan berupa kemalasan dan kelambanan, rintangan berupa kegelisahan dan kekhawatiran rintangan berupa keraguan skektis. Inilah lima rintangan batin tersebut. Pokkhrasati brahmana dari Opamanna dan (penguasa) hutan Subbhaga (di Ukkattha) Dirintangi dan ditutupi dan dikejar dan diselimu¬ti oleh kelima rintangan batin tersebut.
Oleh karena itu, tidaklah mungkin ia mengetahui atau melihat atau menya¬dari penghormatan yang lebih tinggi daripada keadaan manusia yang patut karena pengetahuan dan pandangan seorang suci. Sekarang terdapat lima ikatan dari nafsu indera. Apakah lima ikatan tersebut? Terdapat bentuk-bentuk yang dapat diterima melalui mata yang diharapkan, dihasrati, disetujui dan disukai, berhubungan dengan nafsu indera dan rangsangan dari nafsu. Terdapat suara-suara yang dapat diterima melalui telinga ..... Terdapat bebauan yang dapat diterima melalui hidung .... Terdapat objek kecapan yang dapat diterima mela¬lui lidah .... Terdapat objek sentuhan yang dapat diterima melalui badan yang diharapkan, dihasrati, disetujui dan disukai, berhubungan dengan nafsu indera dan rangsangan nafsu.
Pokkhrasati brahmana dari Opamanna dan (penguasa) hutan Subbhaga (di Ukkattha) terjerat, dan tanpa waspada melakukan sesuatu menuruti ikatan nafsu indera, menikmatinya, tanpa melihat bahaya yang terkandung di dalamnya atau memahami pembebasan daripadanya. Oleh karena itu, tidak mungkin baginya menge¬tahui atau melihat atau menyadari penghormatan lain yang lebih tinggi daripada keadaan manusia yang patut karena pengetahuan dan pandangan seorang suci. Bagaimana mengenai hal ini, siswa (brahmana), api yang menyala karena tak dikondisikan oleh rumput dan kayu (dan sejenisnya), mana yang memiliki lidah dan warna dan cahaya (yang lebih baik)?' 'Apabila hal itu tak mungkin, Yang Mulia Gotama, api yang menyala karena dikondisikan oleh bahan bakar yang bukan rumput dan kayu (dan sejenisnya) akan memiliki lidah dan warna dan cahaya (yang lebih abik).
17. 'Tidak mungkin, tak akan terjadi, bahwa api menyala dikondisikan oleh bakar bukan rumput dan kayu (dan sejenisnya) kecuali oleh seseorang yang memiliki kemajuan (supernormal/dipandangan seorangnya katakan. Kebahagaiaan yang dikondisikan oleh lima ikatan nafsu indera seperti api yang menyala karena dikondisikan oleh bahan bakar yang terdiri atas rumput dan kayu. Keba¬hagiaan yang benar-benar terbebas dari nafsu indera, terbebas dari dhamma yang tak bermanfaat, ibarat api yang menyala karena dikondisikan oleh bahan bakar yang terbebas dari rumput dan kayu. Lalu, apakah kebahagiaan yang benar-benar terbebas dari nafsu indera, terbebas dari dhamma yang tak bermanfaat itu? Di sini, setelah benar-benar terlepas dari nafsu indera, terlepas dari dhamma yang tak bermanfaat, seorang bhikkhu memasuki dan berada dalam Jhana pertama yang berhubungan dengan perenungan permulaan dan perenungan penopang, dengan kegiuran dan kesenangan (jasmani) yang lahir dari penyingkiran diri. Sekarang, kebahagiaan ini benar-benar terpisah dari nafsu indera, terpisah dari dhamma yang tak bermanfaat. Lagi, dengan menyingkirkan perenungan permulaan dan perenungan penopang, seorang bhikkhu memasuki dan berdiam dalam Jhana kedua, yang memiliki keyakinan kemantapan batin, dengan kegiuran dan kesenangan (jasmani) yang lahir dari konsentrasi. Sekarang, jenis kebahagiaan ini juga benar-benar dari nafsu indera, terpisah dari dhamma yang tak bermanfaat.
18. 'Setelah para brahmana menetapkan lima dhamma untuk pelaksanaan perbua¬tan baik. Untuk mulai berada di atas jalan yang bermanfaat, yang manakah dari lima dhamma yang mereka tetapkan itu sebagai yang paling bermanfaat bagi pelaksanaan perbuatan baik, untuk memulai berada di atas jalan yang berman-faat?' 'Di antara yang mereka tetapkan itu, kedermawanan adalah yang paling bermanfaat, Yang Mulia Gotama.'
19. 'Bagaimana mengenai hal ini, siswa (brahmana), beberapa persembahan korban besar mungkin (dibuat) jatuh ke tangan beberapa brahmana, dan kemudian dua brahmana pergi (ke sana, berpikir): "Kita akan berpartisipasi dalam korban besar dari brahmana yang bernama si anu", dan setelah itu seorang brahmana berpikir: "Hanya apabila saya dapat tempat duduk terbaik, air terbaik, dana makanan terbaik di dalam ruang makan (vihara), dan brahmana lain terbaik, dana makanan terbaik di dalam ruang (vihara)", dan ia, tidak memperolehnya, mungkin marah dan tidak senang. Sekarang, bagaimana para brahmana menetapkan pematan¬gan dari (kamma) brahmana itu?'
'Yang Mulia Gotama, para brahmana tidak memberi hadiah demikian; seba¬liknya, para brahmana memberi hadiah dengan penuh belas kasihan.' Oleh karena demikian, bukanlah para brahmana memiliki contoh keenam dari pelaksanaan perbuatan baik, yaitu berbuat sesuatu dengan penuh belas kasihan?' 'Memang begitu, Yang Mulia Gotama, para brahmana memilikinya sebagai contoh keenam dari pelaksanaan perbuatan baik, untuk berada di atas jalan yang bermanfaat, yaitu berbuat sesuatu dengan penuh belas kasihan.' 'Dimanakah kamu melihat kebanyakan lima hal yang ditetapkan brahmana untuk pelaksanaan perbuatan baik, untuk memulai berada di atas jalan yang bermanfaat: di antara perumah tangga atau diantara mereka yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga?' 'Yang Mulia Gotama, Lima dhamma yang ditetapkan oleh para brahmana untuk pelaksanaan perbuatan baik, untuk mulai berada di atas jalan yang bermanfaat, kebanyakan dijumpai pada mereka yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga dan sedikit dijumpai di antara perumah tangga.
Bagi seorang perumah tangga, banyak berkaitan dengan urusan (masyarakat), fungsi, ikatan, usaha, tidak terus menerus dan selalu menjadi seorang pembabar kebenaran, namun seorang yang hidup tak berumah tangga yang sedikit berkaitan dengan urusan masyarakat, fungsi, ikatan, usaha, terus menerus dan selalu menjadi seorang pembabar kebenaran. Oleh karena alasan yang sama, seorang perumah tangga tidak melaksanakan latihan pengendalian diri terus menerus dan tetap, tidak menempuh kehidupan luhur, tidak belajar banyak atau memiliki kermurahan hati yang besar; sementara itu, seorang yang hidup tak berumah tangga melakukan latihan pengendalian diri terus menerus dan tetap, menempuh kehidupan luhur, belajar banyak, dan memiliki banyak kemurahan hati. Lima Dhamma yang ditetapkan oleh para brahmana untuk pelaksanaan perbua¬tan baik ini, untuk berada di atas Dhamma yang bermanfaat, Aku lihat banyak di jumpai di antara mereka yang tak berumah tangga, dan sedikit di antara para perumah tangga.
21. 'Sekarang, Aku katakan, lima Dhamma yang ditetapkan para brahmana untuk pelaksanaan perbuatan baik, untuk di atas Dhamma yang bermanfaat merupakan perlengkapan batin, yaitu untuk pengembangan batin yang bebas dari permusuhan dan bebas dari keinginan jahat. 'Dalam hal ini, seorang Bhikkhu adalah seorang pembabar Kebenaran. (Dengan berpikir): 'Saya adalah seorang pembabar Kebena¬ran", ia menemukan inspirasi di dalam makna, ia menemukan kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma 5) dan kegiuran yang berhubungan dengan sesuatu yang bermanfaat ini yang Aku katakan sebagai perlengkapan batin untuk pengembangan batin yang bebas dari permusuhan dan bebas dari keinginan jahat. 'Dalam hal ini, seorang bhikkhu adalah seorang pertapa, (Dengan berpikir): "Saya adalah seorang pertapa", ia menemukan inspirasi di dalam makna .... untuk pengemban¬gan batin yang bebas dari permusuhan dan bebas dari keinginan jahat.
'Dalam hal ini, seorang bhikkhu adalah seorang yang menempuh kehidupan luhur. (Dengan berpikir: "Saya adalah seorang yang menempuh kehidupan luhur", ia menemukan inspirasi di dalam makna, .... untuk pengembangan batin yang bebas dari permusuhan dan keinginan jahat. 'Dalam hal ini, seorang bhikkhu adalah seorang yang banyak belajar. (Dengan berpikir): "Saya adalah seorang yang belajar banyak", ia menemukan inspirasi di dalam makna, .... untuk pen¬gembangan batin yang bebas dari permusuhan dan bebas dari keinginan jahat. 'Dalam hal ini, seorang bhikkhu adalah seorang yang murah hati. (Dengan berpi¬kir): "Saya memiliki banyak kemurahan hati", ia menemukan inspirasi di dalam makna, ia menemukan inspirasi di dalam Dhamma, ia menemukan kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma; dan itulah kegiuran yang berhubungan dengan sesuatu yang bermanfaat ini yang Aku namakan perlengkapan batin untuk pengembangan batin yang bebas dari permusuhan dan keinginan jahat. 'Mengenai lima Dhamma yang ditetapkan oleh para brahmana ini ..... Aku namakan perlengkapan batin untuk pengembangan batin yang bebas dari permusuhan dan bebas dari keinginan jahat.
22. Setelah hal ini telah dikatakan, Subha siswa (brahmana), putra Todeyya, berkata kepada Sang Bhagava: 'Yang Mulia Gotama, Saya telah mendengar (demiki¬an) bahwa pertapa Gotama mengetahui jalan menuju Kediaman Luhur (Brahma). 'Bagaimana mengenai hal ini, siswa (brahmana) apakah desa Nalakara dekat dari sini ataukah jauh dari sini?'
'Baik, Yang Mulia, desa Nalakara dekat dari sini, tidak jauh dari sini.'
'Bagaiamana mengenai hal ini, siswa (brahmana), andaikata seorang manu¬sia dilahirkan dan dibesarkan di desa Nalakara, dan kemudian ketika ia baru saja meninggalkan desa Nalakara mereka bertanya kepadanya tentang jalan menuju desa itu, apakah ia akan lambat atau ragu-ragu (dalam menjawabnya)?'
'Tidak, Yang Mulia Gotama.
Mengapa begitu? Karena orang itu telah dilahirkan dan dibesarkan di desa Nalakara; ia telah mengenal dengan baik semua jalan ke desa itu.' 'Mungkin seorang manusia walaupun telah dilahirkan dan dibesarkan di desa Nalakara, ketika ditanya tentang jalan menuju desa itu, masih lambat dan ragu-ragu dalam menjawab, tetapi Sang Tathagata, apabila ditanya tentang jalan menuju Kediaman Luhur (Brahmana) tidak akan pernah menjawab dengan lamban atau ragu-ragu. Aku memahami dewa (brahma) dan alam para dewa (brahma) dan aku pun mengerti bagai¬mana seseorang melakukan sesuatu untuk tumimbal lahir di alam dewa (brahma).'
23. 'Yang Mulia Gotama, Saya telah mendengar (demikian) bahwa pertapa Gotama mengajarkan jalan menuju Kediaman Brahma. Sangatlah bermanfaat apabila Yang Mulia Gotama berkenan mengajarkan kepada saya mengenai jalan menuju Kediaman Brahma.' 'Dengarkanlah dan perhatikanlah dengan jalan baik apa yang akan aku katakan.' 'Baiklah, Yang Mulia Gotama,' ia menjawab Sang Bhagava berkata demikian:
24. 'Apakah jalan menuju kediaman Brahma itu? Dalam hal ini, seorang bhikk¬hu berdiam dengan pikiran diliputi oleh cinta kasih yang memancar ke satu arah, ke arah kedua, ke arah ketiga, ke arah keempat dan ke segala atas, ke bawah, ke sekeliling dan kesegala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti terhadap dirinya sendiri: ia berdiam dengan batin yang diliputi cinta kasih, yang luhur, tak terukur, tanpa permusuhan atau keinginan jahat yang dipancar¬kan ke segenap penjuru dunia. Ketika batin yang bebas dengan cinta kasih dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang dibatasi oleh ukuran-ukuran terbatas 6) (berdasarkan objek indera); tak satu pun ada di sana. Mirip seperti pemain terhormat yang kuat dapat membuat dirinya terdengar di keempat arah tanpa kesulitan, demikian pula setelah batin yang bebas dengan cinta kasih dikembangkan demikian, tak ada perbuatan yang dibatasi oleh ukuran-ukuran yang ditemukan di sana; tak satu pun tersisa di sana. Inilah jalan menuju Kediaman Brahma.
25. 'Dalam hal ini seorang bhikkhu berdiam dengan batin diliputi oleh belas kasihan .... Inilah jalan menuju kediaman Brahma.
26. 'Dalam hal ini, seorang bhikkhu berdiam dengan batin diliputi perasaan simpati (turut berbahagia atas kebagaiaan makhluk lain) .... Inilah jalan menuju Kediaman Brahma.'
27. 'Dalam hal ini, seorang bhikkhu berdiam dengan batin diliputi oleh keseimbangan .... Inilah merupakan satu jalan menuju Kediaman Brahma.'
28. Setelah hal ini dikatakan, siswa (brahmana) Subha, putera Todeyya, berkata kepada Sang Bhagava: 'Menakjubkan, Yang Mulia Gotama! Menakjubkan, Yang Mulia Gotama! Dhamma telah dibabarkan dengan jelas dengan berbagai cara Yang Mulia Gotama, sehingga menegakkan yang telah terjatuh, menemukan yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, memberikan penerangan bagi yang kegelapan sehingga mereka dapat melihat bentuk-bentuk.' 'Saya datang berlindung kepada Yang Mulia Gotama, kepada Dhamma dan kepada Sangha. sejak hari ini, biarlah Yang Mulia Gotama berkenan mengingat saya sebagai seorang pengikut yang berlindung kepada-Nya selama hidup.'
29. 'Lalu, sekarang, Yang Mulia Gotama, kami akan pamit (pergi); kami sedang dan banyak hal harus dilakukan.' 'Sekarang, tiba saatnya, siswa (brahmana), melakukan sesuatu yang kamu anggap baik.'
Kemudian, siswa (brahmana) Subha, putera Todeyya, demikian gembira dan setuju dengan kata-kata Sang Bhagava, bangkit dari tempat duduknya, dan sete¬lah memberikan penghormatan kepada Sang Bhagava dengan tetap menjaga agar Sang Bhagava selalu di sebelah kanannya, ia pun pergi berlalu.
30. Maka, ketika itu, saat tengah hari, brahmana Janussoni sedang menuju Savatthi dengan kereta yang ditarik kuda betina, semuanya putih 7) Brahmana Janussoni melihat siswa (brahmana) Subha, putera Todeyya, sedang datang. Ketika ia melihat Subha, ia berkata:
'Di tengah hari ini, darimana Tuan Bharadvaja datang?'
'Tuan, saya datang karena kehadiran pertapa Gotama.'
'Bagaimana pandangan Tuan Bharadvaja mengenai kemampuan pengertian
pertapa Gotama? Apakah ia bijaksana, apakah tidak bijaksana?'
'Tuan, siapakah saya ini sehingga layak mengetahui kemampuan pengertian pertapa Gotama? Tentu, untuk mengetahui kemampuan pengertian pertapa Gotama seseorang harus memiliki kemampuan yang setara dengan-Nya.'
'Tuan Bharadvaja memuji pertapa Gotama dengan pujian yang begitu tinggi.'
'Tuan, siapakah saya ini yang harus memuji pertapa Gotama?
Pertapa Gotama dipuji oleh yang terpuji - sebagai terbaik di antara para dewa dan manusia. Lalu, Tuan, lima Dhamma yang ditetapkan oleh para brahmana untuk pelaksanaan perbuatan baik, untuk berada di atas jalan yang bermanfaat, pertapa Gotama namakan perlengkapan untuk pengembangan batin yang bebas dari permusushan dan bebas dari keinginan jahat.
31. Setelah hal ini dikatakan, brahmana Janussoni turun dari kereta kuda betinanya yang serba putih, menata pakaiannya pada satu bahu, merangkapkan tangannya dan mengangkatnya ke arah Sang Bhagava berada, dan ia berseru demi¬kian: 'Suatu keberuntungan bagi Raja Pasenadi dari Kosala, karena seorang Tathagata, Arahat dan yang telah merealisasi pencerahan sempurna berdiam (tinggal) di nergerinya!
catatan :
1. Waktu telah berubah! Sang Buddha hidup pada zaman kebanyakan orang berusaha dalam pertanian (masih tepat di beberapa negara saat ini), sementara perdagangan merupakan suatu urusan perorangan menjual barangnya. Namun, para pedagang kaya dan besar pun kerap di sebutkan, misalnya Antahapindika sebagai contoh terkemuka.
2. Khususnya dari Tiga Veda.
3. Pematangan lima sila ini merupakan hasilnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang mengikutinya menetapkan bahwa para brahmana tidak ada yang melihat sendiri tentang apa yang dihasilkan. Sang Buddha tidak menolak latihan itu (lihat paragraf 21), namun berkeberatan atas kenyataan bahwa semua itu disajikan atas dasar teori dan spekulasi.
4. Untuk mencapai Jhana yang menyedihkan itu, dapat saja bertumimbal lahir kembali di alam manusia setelah kematiannya jika karma baiknya berubah. Dengan demikian, tumimbal lahir itu akan berlangsung terus menerus sampai suatu saat nanti, makhluk itu berhasil mencapai kesucian arahat yang berarti pula menca¬pai Nibbana atau Nirvana. Dengan tercapainya Nibbana atau Nirvana, berakhirlah roda samsara atau lingkaran kelahiran dan kematian. Dengan demikian, ia akan lahir lagi dalam alam mana pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar