PANCATTAYASUTTA
102
Demikianlah yang telah saya dengar :
Pada satu waktu ketika Sang Bhagava sedang menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Ketika Beliau di sana, Sang Bhagava menyapa bhikkhu: “Para Bhikkhu."
“Bhante," jawab para bhikkhu.
Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, ada para pertapa dan para brahmana yang memperkirakan tentang masa depan, berspekulasi mengenai masa depan, dengan banyak cara mempertahankan pernyataan dengan tegas mengenai masa depan. Mereka memperta¬hankan bahwa dengan bermati raga adalah tidak berkurang dan terasakan. Mereka mempertahankan bahwa dengan bermati raga adalah tidak berkurang dan tidak terasakan. Mereka mempertahankan bahwa dengan bermati raga adalah tidak berku¬rang dan baik tidak terasakan maupun juga tidak tak tersakan. Mereka menyata¬kan dengan tegas, dengan memotong, merusak, menghilangkan sifat-sifat dasar dari mahluk. Atau mereka mempertahankan bahwa di sini dan sekarang adalah Nibbana. Maka mereka menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah tidak berkurang, adalah ada. Atau mereka yang menyatakan dengan tegas, dengan memotong, merusak dan menghilangkan sifat-sifat dasar dari mahluk. Atau mereka yang mempertahankan bahwa di sini dan sekarang adalah Nibbana. Demikianlah teori-teori ini, setelah lima menjadi tiga, setelah tiga menjadi lima. Hal ini adalah penjelasan dari tiga kali lipatan lima.”
Para bhikkhu, dalam hal ini para pertapa dan para brahmana [229] yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah tidak berkurang dan terasakan - Para pertapa dan para brahmana yang pantas ini menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah terasakan dan tidak berkurang, adalah mempunyai bentuk, atau para pertapa dan para brahmana yang pantas ini menyata¬kan dengan tegas bahwa setelah bermati raga yang adalah terasakan dan tidak berkurang, adalah tidak mempunyai bentuk ... baik yang berbentuk dan tidak berbentuk ... tidak yang berbentuk juga tidak pula yang tidak berbentuk. Atau para pertapa dan para brahmana yang pantas ini menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah terasakan dan tidak berkurang, merasakan kesa¬tuan ... perbedaan ... keterbatasan ... yang tidak terbatas. Tetapi beberapa diantara mereka mempertahankan bahwa ketika telah melampauinya, alat kesada¬ran adalah tidak terbatas dan tidak terganggu. Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengerti bahwa di sana, para pertapa dan para brahmana ini yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah tidak berkurang dan terasakan; dan juga para pertapa dan para brahmana itu yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah terasakan dan tidak berkurang, adalah mempunyai bentuk; atau para pertapa dan para brahmana menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah terasakan dan tidak berkurang, adalah tidak mempunyai bentuk; atau ... baik yang berbentuk dan tidak berbentuk; atau ... tidak yang berbentuk dan juga tidak yang tak berbentuk; atau ... perasaan kesatuam; atau ... perasaan perbedaan; atau ... perasaan keterbatasan; atau ... perasaan tak terbatas. Atau Beliau mengerti dalam bentuk persepsi ini menjelaskan kemurnian yang mutlak, yang tertinggi, yang terbaik, yang terung¬gul : [230] persepsi mengenai jasmaniah yang halus, ataukah persepsi mengenai di luar jasmaniah, ataukah persepsi mengenai kesatuan, ataukah juga persepsi mengenai perbedaan. Para pertapa dan para brahmana yang dengan latar belakang atas tidak adanya nilai, mempertahankan adanya tidak terbatas dan tidak tergo¬yahkan, mengatakan, 'Ini adalah bukan.' Tathagata mengerti bahwa bahan kotor yang membangunnya, tetapi dalam hal ini, Beliau menemukan jalan keluar dari masalah ini, telah melampauinya.
Para bhikkhu, dalam hal ini, para pertapa dan para brahmana yang menya¬takan dengan tegas bahwa setelah bermati-raga adalah tidak berkurang dan tidak terasakan para pertapa dan para brahmana yang pantas ini menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati-raga adalah tidak terasakan dan tidak berku¬rang, adalah mempunyai bentuk ... tidak mempunyai bentuk ... baik yang berben¬tuk dan tidak berbentuk ... tidak yang berbentuk dan tidak juga yang tak berbentuk. Para bhikkhu, dalam hal ini, beberapa orang mencela para pertapa dan para brahmana ini yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah merasakan dan tidak berkurang. Apakah penyebab dari hal ini ? Mereka berkata, “Persepsi adalah suatu yang menyakitkan, persepsi adalah membisul, persepsi adalah suatu duri; ini adalah suatu kenyataan, ini adalah yang baik sekali, maka dikatakan bukan persepsi.” Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengerti bahwa di sinilah, para pertapa dan para brahmana ini yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati-raga adalah tidak berkurang dan tidak terasakan; dan juga para pertapa dan para brahmana ini yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah tidak merasakan dan tidak berkurang, adalah mempunyai bentuk; atau para pertapa dan para brahmana ini yang menya¬takan dengan tegas bahwa setelah bermati-raga adalah tidak terasakan dan tidak berkurang, adalah tidak mempunyai bentuk; atau ... baik yang terbentuk dan tidak berbentuk; atau ... tidak yang berbentuk dan tidak juga yang tak berben-tuk. Para bhikkhu, keadaan ini tidaklah terpikirkan oleh para pertapa dan para brahamana yang dapat berkata demikian : “Terlepas dari keadaan jasmaniah, terlepas dari perasaan, terlepas dari persepsi, terlepas dari kebiasaan yang bertahan kuat, terlepas dari kesadaran, saya akan menyatakan dengan tegas suatu kedatangan atau suatu kepergian atau suatu kematian atau suatu kenaikan atau perluasan atau kedewasaan. Dengan mengerti bahwa yang dibentuk adalah jasmaniah yang kasar, [231] tetapi inilah jalan untuk menghentikan pembentuk¬kan, Sang Tathagata mengerti jalan keluarnya dan telah melampauinya.
Para bhikkhu, dalam hal ini, para pertapa dan para brahmana yang menya¬takan dengan tegas bahwa setelah bermati-raga adalah tak berkurang, tidak terasakan dan juga tidak tak terasakan para pertapa dan para bhikkhu yang pantas ini menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati-raga adalah tidak terasakan dan juga tidak tak terasakan, dan tidak berkurang, adalah mempunyai bentuk ... tidak mempunyai bentuk ... baik yang berbentuk dan tidak berbentuk ... tidak yang berbentuk dan tidak juga yang tak berbentuk. Para bhikkhu, dalam hal ini, beberapa orang mencela para pertapa dan para brahmana yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah tak berkurang, dan beberapa orang juga mencela para pertapa dan para brahmana yang pantas ini yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah tak berkurang dan tidak terasakan. Apakah penyebab dari hal ini ? Mereka berkata, “Persepsi adalah suatu yang menyakitkan, membisul, suatu duri, berkurangnya suatu per¬sepsi adalah kekacauan; ini adalah suatu kenyataan, ini adalah yang baik sekali, maka dikatakan bukan persepsi dan juga bukan tidak persepsi.” Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengerti bahwa di sana, para pertapa dan para brahmana yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati-raga adalah tak berkurang dan tidak terasakan dan juga tidak terasakan; dan para pertapa dan para brahmana ini yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati raga adalah tak berkurang, dan tidak terasakan dan juga tidak tak terasakan, adalah juga mempunyai bentuk; atau ... tidak mempunyai bentuk; atau ... baik yang berbentuk dan tidak berbentuk; atau ... tidak yang berbentuk dan tidak juga yang tidak tak berbentuk. Siapapun para pertapa dan para brahmana yang masih menyatakan dengan tegas yang mendapatkan dengan latar belakang tak ada nilai, hanya melalui kegiatan-kegiatan dari yang dilihatnya, didengar, dipraktikkan, dikenal para bhikkhu, hal ini terlihat seperti merusak latar belakang yang didapatkan. [232] Para bhikkhu, dikarenakan tidak adanya latar belakang, hal ini terlihat dicapai dengan pencapaian dari susunan yang diberikan; para bhikkhu, latar belakang ini terlihat, dapat dicapai dengan pencapaian dimana tidak ada susunan yang tersisa. Dengan mengerti bahwa yang disusun adalah jasmaniah yang kotor, tetapi inilah jalan untuk menghentikan susunan itu, Sang Tathagata mengerti jalan keluarnya dan telah melampauinya.
Para bhikkhu, dalam hal ini, para pertapa dan para brahmana yang menya¬takan dengan tegas, dengan memotong, dengan merusak, dengan menghilangkan sifat-sifat dasar dari mahluk, para bhikkhu, dalam hal ini, beberapa orang mencela para pertapa dan para brahmana yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati-raga adalah tak berkurang dan terasakan; dan mereka juga mencela para petapa dan para brahmana ini yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati-raga adalah tak berkurang, tak terasakan; dan mereka juga mencela para pertapa dan para brahmana yang menyatakan dengan tegas bahwa setelah bermati-raga adalah tak berkurang, tidak terasakan dan juga tidak tak terasakan. Apakah penyebab dari hal ini ? Hal demikian dikarenakan para perta¬pa dan para brahmana yang pantas ini, dengan angkuh mempertahankan kecintaan diri atas pencapaian, berkata : “Kami akan berada di alam baka itu, kami akan berada di alam baka itu.” Adalah seperti pikiran dari seorang pedagang yang keluar untuk berdagang, akan berpikir, “Saya akan mendapatkannya di sini, saya akan mendapatkannya di sana.” Bahkan kelihatannya, para pertapa dan para brahmana yang pantas ini adalah seperti para pedagang, ketika mereka berkata, “ kami akan berada di alam baka itu, kami akan berada di alam baka itu.” Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengerti : “Para pertapa dan para brahmana yang pantas ini yang menyatakan dengan tegas, dengan memotong, dengan merusak, dengan menghilangkan sifat-sifat dasar dari mahluk, dalam hal ini, khawatir atas tubuh mereka sendiri, jijik atas tubuh mereka sendiri, secara sederhana adalah tetap berjalan terus dan berputar-putar di sekitar tubuh mereka. Seper¬ti seekor anjing yang diikat dengan pengikat binatang pada tempat atau pancang yang kuat [233], hanya berjalan terus menerus dan berputar-putar di sekitar tempat atau pancang itu. Dengan mengerti bahwa yang disusun adalah jasmaniah yang kotor, tetapi inilah jalan untuk menghentikan susunan itu, Sang Tathagata mengerti jalan keluarnya, dan telah melampauinya.”
Para bhikkhu, siapa saja, para pertapa dan para brahmana yang memperki¬rakan tentang masa depan, berspekulasi mengenai masa depan, dengan banyak cara mempertahankan pernyataan dengan tegas mengenai masa depan, semua para pertapa dan para brahmana ini mempertahankan dengan tepat kelima keadaan ini, atau salah satu dari kelima itu.
Para bhikkhu, ada beberapa para pertapa dan para brahmana yang memperki¬rakan tentang masa lampau, dengan banyak cara mempertahankan pernyataan dengan tegas mengenai masa lampau. Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah abadi, hal demikian tentu saja adalah benar, semua yang lainnya adalah bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah tidak abadi, hal demikian tentu saja adalah benar, semua yang lainnya adalah bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan jiwa adalah abadi dan tidak abadi ... bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia tidak¬lah abadi dan juga tidak tak abadi ... bohong belaka.” Beberapa orang memperta¬hankan, “Diri dan dunia adalah ada setelah semuanya berakhir ... bohong bela¬ka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah tidak ada setelah semuanya berakhir ... bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah ada dan tidak ada setelah semuanya berakhir ... bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah bukan ada dan juga bukan tidak ada setelah semuanya berakhir ... bohong belaka.” Beberapa orang memper¬tahankan, “Diri dan dunia adalah persepsi dari kesatuan ... bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah persepsi dari perbedaan ... bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah persepsi keterbatasan ... bohong belaka.” Beberapa orang berkata, “Diri dan dunia adalah persepsi tak terbatas ... bohong belaka, hal demikian tentu saja adalah benar, semua yang lainnya adalah bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah kebahagiaan yang eksklusif ... bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah kesedihan yang eksklusif [234]... bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah kebahagiaan dan kesedihan yang eksklusif ... bohong belaka.” Beberapa orang mempertahankan, “Diri dan dunia adalah bukan kebahagiaan dan bukan kesedihan, hal demikian tentu saja adalah benar, semua yang lainnya adalah bohong belaka.” Para bhikkhu, mengenai para pertapa dan para brahmana yang berbicara demikian dalam pandangan ini : “Diri dan dunia adalah abadi, hal demikian tentu saja adalah benar, semua yang lainnya adalah bohong belaka.” Keadaan ini tidaklah dapat terjadi sehingga terlepas dari keyaki¬nan, terlepas dari penurunan, terlepas dari tradisi, terlepas dari pertimban¬gan sebab dan alasan, terlepas dari refleksi dan terlepas dari persetujuan atas pandangan-pandangan mereka ini. Pengetahuan sepenuhnya menjadi suci dan sepenuhnya membersihkan untuk setiap orang. Para bhikkhu, seandainya pengeta¬huan tidak sepenuhnya menyucikan dan tidak sepenuhnya membersihkan setiap orang, bahkan hanya sedikit pengetahuan dari para pertapa dan para brahmana ini yang sepenuhnya membersihkan, bahkan dijelaskan seperti mencengkram atas bagian dari para pertapa dan para brahmana yang pantas ini. Dengan mengerti bahwa yang disusun adalah jasmaniah yang kotor, tetapi inilah jalan untuk menghentikan susunan itu, Sang Tathagata mengerti jalan keluarnya dan telah melampauinya.
Para bhikkhu, mengenai para pertapa dan para brahmana yang berbicara demikian dalam pandangan ini : “Diri dan dunia adalah tidak abadi ... Diri dan dunia adalah abadi dan tidak abadi ... Diri dan dunia bukan abadi dan juga bukan tidak abadi ... Diri dan dunia adalah ada setelah semuanya berakhir ... Diri dan dunia adalah tidak ada ... Diri dan dunia adalah ada dan tidak ada ... Diri dan dunia bukan ada dan juga bukan tidak ada setelah semuanya berakhir ... Diri dan dunia adalah kesadaran atas persatuan ... adalah kesada¬ran atas perbedaan ... adalah kesadaran atas keterbatasan ... Diri dan dunia adalah kesadaran atas ketidakterbatasan ... Diri dan dunia adalah kebahagiaan yang eksklusif ... adalah kesedihan yang eksklusif ... adalah kebahagiaan dan kesedihan ... Diri dan dunia adalah tidak kebahagiaan dan juga tidak kesedihan yang eksklusif, hal demikian tentu saja adalah benar, semua yang lainnya adalah bohong belaka - keadaan ini tidaklah dapat terjadi sehingga terlepas dari keyakinan, terlepas dari ... terlepas dari refleksi dan terlepas dari persetujuan atas pandangan-pandangan mereka ini. Pengetahuan sepenuhnya menjadi tidak suci dan sepenuhnya tidak membersihkan untuk setiap orang. [235] Para bhikkhu, seandainya pengetahuan sepenuhnya tidak menjadi suci dan sepenuhnya tidak membersihkan untuk setiap orang, bahkan dijelaskan seperti mencengkram atas bagian dari para pertapa atau para brahmana yang pantas ini. Dengan mengerti bahwa yang disusun adalah jasmaniah yang kotor, tetapi inilah jalan untuk menghentikan susunan itu, Sang Tathagata mengerti jalan keluarnya dan telah melampauinya.
Para bhikkhu, dalam hal ini, para pertapa dan para brahmana yang mengha¬lau spekulasi mengenai masa lampau dan menghalau spekulasi mengenai masa depan, dengan tidak memperbaiki pikirannya secara menyeluruh pada belenggu-belenggu atas indera-indera, memasuki rasa jauh dalam keterpencilan, berdiam di dalamnya. Dia berpikir, “Ini adalah nyata, ini adalah sangat baik, maka hal ini dikatakan, memasuki rasa jauh dalam keterpencilan, saya berdiam di dalam¬nya.” Tetapi, seandainya rasa jauh dalam keterpencilan telah dihentikannya, dari penghentian akan rasa jauh dalam keterpencilan, kesedihan muncul; dari penghentian kesedihan, rasa jauh dalam keterpencilan muncul. Para bhikkhu, seperti naungan yang menutupi apa saja dari panasnya matahari yang dilepas, para bhikkhu, meskipun demikian dari penghentian rasa jauh dalam keterpencilan, kesedihan muncul, dari penghentian kesedihan, rasa jauh dalam keterpencilan muncul. Para bhikkhu, dalam hal ini, Sang Tathagata mengerti: “Para pertapa dan para brahmanan yang pantas ini menghalau spekulasi mengenai masa lampau, menghalau spekulasi mengenai masa depan, dengan tidak memperbaiki pikirannya secara menyeluruh pada belenggu-belenggu atas indera-indera ... dari penghentian kesedihan, rasa jauh dalam keterpencilan muncul. Dengan mengerti bahwa yang disusun adalah jasmaniah yang kotor, tetapi inilah jalan untuk menghentikan susunan itu, Sang Tathagata mengerti jalan keluarnya dan telah melampauinya.”
Para bhikkhu, dalam hal ini, para pertapa dan para brahmana menghalau spekulasi mengenai masa lampau dan menghalau spekulasi mengenai masa depan, dengan tidak memperbaiki pikirannya secara menyeluruh pada belenggu-belenggu atas indera-indera, dengan melampaui alam baka dari rasa jauh dalam keterpenci¬lan, berdiam di dalamnya. Dia berpikir, “Ini adalah nyata, ini adalah sangat baik, maka hal ini dikatakan, memasuki kegembiraan bathin, saya berdiam di dalamnya.” Tetapi seandaianya kegembiraan bathin telah dihentikannya, dari penghentian kegembiraan bathin di sini muncul rasa jauh dalam keterpencilan; dari penghentian rasa jauh dalam keterpencilan [236], kebahagiaan muncul. Para bhikkhu, adalah seperti panasnya matahari yang menutupi apa saja dari naungan yang dilepas, seperti naungan yang menutupi apa saja dari panasnya mata¬hari, para bhikkhu, meskipun demikian, dari penghentian kebahagiaan bathin di sini muncul rasa jauh dalam keterpencilan; dari penghentian rasa jauh dalam keterpencilan, kebahagiaan bathin muncul. Para bhikkhu, dalam hal ini, Sang Tathagata mengerti : “Para pertapa dan para brahmana yang pantas ini menghalau spekulasi ... dari penghentian rasa jauh dalam keterpencilan, kebahagiaan bathin muncul.” Dengan mengerti bahwa yang disusun adalah jasmaniah yang kotor, tetapi inilah jalan untuk menghentikan susunan itu, Sang Tathagata mengerti jalan keluarnya dan telah melampauinya.
Para Bhikkhu, dalam hal ini, para pertapa dan para brahmana menghalau spekulasi mengenai masa lampau dan menghalau spekulasi mengenai masa depan, dengan tidak memperbaiki pikirannya secara menyeluruh pada belenggu-belenggu atas indera-indera, dengan melampaui alam baka dari jauh dalam keterpencilan, dengan melampau alam baka dari kebahagiaan bathin memasuki perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan, berdiam di dalamnya. Dia berpikir, “Ini adalah nyata, ini adalah sangat baik, maka hal ini dikatakan, memasuki perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan, di sini kebaha¬giaan bathin muncul; dari penghentian kebahagiaan bathin, di sini muncul perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan. Para bhikkhu, seperti panasnya sinar matahari yang menutupi apa saja dari naungan yang dilepas, seperti naungan yang menutupi apa saja dari panas matahari yang dilepas, para bhikkhu, meskipun demikian, dari penghentian perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan, di sini kebahagiaan bathin muncul; dari penghentian kebahagiaan bathin, perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan muncul. Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengerti: “Para pertapa dan para brahmana yang pantas ini menghalau spekulasi mengenai masa lampau dan menghalau spekulasi mengenai masa depan, dengan tidak menyertai sepenuhnya belenggu atas indera-indera, dengan melampaui alam baka dari rasa jauh dalam keterpencilan, dengan melampau alam baka dari kebahagiaan bathin, memasuki perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan, berdiam di dalamnya.” Dia berpikir, “Ini adalah nyata, ini adalah sangat baik, maka hal ini dikatakan, [237] memasuki perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan, saya berdiam di dalamnya.” Seandainya perasaannya yang tidak menyenangkan dan juga tidak menyakitkan itu berhenti, dari penghen¬tian perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan, di sini kebahagiaan bathin muncul; dari penghentian kebahagiaan bathin, di sini muncul perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan. Dengan mengerti bahan yang disusun adalah jasmaniah yang kotor, tetapi inilah jalan untuk menghentikan susunan itu, Sang Tathagata mengerti jalan keluarnya dan telah melampauinya.
Para bhikkhu, dalam hal ini, para pertapa dan para brahmana menghalau spekulasi mengenai masa lampau dan menghalau spekulasi mengenai masa depan, dengan tidak memperbaiki pikirannya secara menyeluruh pada belenggu-belenggu atas indera-indera, dengan melampaui alam baka dari jauh dalam keterpencilan, dengan melampaui alam baka dari kebahagiaan bathin, dengan melampaui alam baka dari perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan, saya meli¬hat, “Saya sedang tenang, saya sedang menenangkan, saya sedang tak mencengk¬ram.” Tentu saja pertapa yang mulai ini, ialah yang mempertahankan jalan yang pasti dan sesuai untuk mencapai Nibbana. Pada sisi yang lain, para pertapa dan para brahmana yang pasti ini mencengkram, juga mencengkram setelah berspekula¬si mengenai masa lampau, atau mencengkram setelah berspekulasi mengenai masa depan, atau mencengkram setelah belenggu-belenggu dari indera-indera, atau mencengkram dari jauh dalam keterpenci¬lan, atau mencengkram kebahagiaan bathin, atau mencengkram perasaan yang tidak menyakitkan dan juga tidak menyenangkan. Dan karena itu pertapa yang mulia melihat seperti ini, “Saya sedang tenang, saya sedang menenangkan, saya sedang tak mencengkram,” hal demikian terlihat juga seperti suatu cengkraman pada bagian dari para pertapa atau dari para brahmana yang pasti ini. Dengan mengerti bahan yang disusun adalah jasmaniah yang kotor, tetapi inilah jalan untuk menghentikan susunan itu, Sang Tathagata mengerti jalan keluarnya dan telah melampauinya.
Para bhikkhu, tetapi sekarang, jalan perdamaian yang tiada tara bandin¬gannya telah terbangun oleh Tathagata, maka dikatakan, telah mengerti kemuncu¬lan dan keadaan kepuasan hati, penghargaan atas enam bidang yang berke¬naan dengan panca indera dan jalan keluar itu seperti sungguh-sungguh, di sinilah pelepasan tanpa cengkraman.”
Demikianlah yang telah Sang Buddha katakan. Dalam kesenangan, para bhikkhu ini gembira terhadap apa yang telah Sang Buddha katakan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar