Minggu, 28 Februari 2010

SABBĀSAVA SUTTA

SABBĀSAVA SUTTA

(2)

1-- Demikianlah saya dengar:

Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savathi. Di sana Beliau menyapa para bhikkhu:

"Para bhikkhu".

"Ya, Bhante", jawab mereka.

2-- Selanjutnya Sang Bhagava berkata sebagai berikut:

"Para bhikkhu, saya akan menerangkan kepada kamu sekalian tentang 'cara mengendalikan' (samvarapariyaya) 'semua kotoran batin' (sabbāsava), maka dengar dan perhatikan baik-baik apa yang akan saya katakan."

"Baiklah, Bhante", jawab para bhikkhu menyetujuinya.

3-- Lalu Sang Bhagava berkata:

"Para bhikkhu, Saya nyatakan bahwa 'kotoran batin' (asava) itu akan lenyap pada diri seseorang yang mengerti dan melihat, bukan pada diri seseorang yang tidak mengerti dan tidak melihat.

Apakah yang dimengerti dan dilihat untuk melenyapkan kotoran batin itu? Yaitu adalah perhatian benar (yoniso manasikara) dan perhatian tidak benar (ayoniso manasikara)”.

“Bila seorang berperhatian tidak benar, maka kotoran batin yang belum muncul, menjadi muncul; di samping itu kotoran batin (yang tidak benar) dan yang telah muncul akan lebih berkembang. Sedangkan, bila seseorang berperhatian benar, maka kotoran batin (yang tidak benar) dan yang telah muncul akan dilenyapkan”.

4-- Para bhikkhu ada kotoran batin yang, ditinggalkan (pahatabba) dengan 'penglihatan' (dassana). Ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan 'pengendalian diri' (samvara). Ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan 'penggunaan' (patisevana). Ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan 'penahanan' (adhisevana). Ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan 'penghindaran' (parivajjana). Ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan ‘penghapusan' (vinodana). Juga ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan 'pengembangan' (bhavana) batin.

5-- Para bhikkhu, apakah kotoran batin dapat dilenyapkan dengan penglihatan?

Para bhikkhu, dalam hal ini, seorang awam (puthujjana) yang tidak mempedulikan para ariya, tidak terlatih dan tidak disiplin dalam ariyadhamma, tidak mengerti ariyadhamma yang pantas diperhatikan dan dhamma apa yang tidak pantas diperhatikan. Karena bersikap seperti itu, ia memperhatikan dhamma yang tidak pantas diperhatikan, tidak memperhatikan dhamma yang pantas diperhatikan.

6-- "Apakah dhamma yang tidak pantas diperhatikan namun ia perhatikan?

Dhamma itu adalah hal-hal yang bila ia perhatikan maka akan memunculkan 'kotoran batin nafsu indera' (kama-asava) yang (tadinya) belum muncul, sedangkan kotoran batin nafsu indera’ yang telah muncul menjadi lebih berkembang; memunculkan 'kotoran batin menjadi' (bhava-asava) yang (tadinya) belum muncul, sedangkan 'kotoran batin menjadi' yang telah muncul menjadi lebih berkembang (pavaddhati); memunculkan 'kotoran batin kebodohan' (avijja-asava) yang (tadinya) belum muncul, sedangkan ‘kotoran batin kebodohan’ yang telah muncul menjadi lebih berkembang. Inilah dhamma yang tidak perlu diperhatikan namun ia perhatikan."

"Apakah dhamma yang perlu ia perhatikan namun tidak ia perhatikan?

“Dhamma itu adalah hal-hal yang bila ia perhatikan, maka tidak memunculkan 'kotoran batin nafsu indera', sedangkan 'kotoran batin nafsu indera' yang telah muncul ditinggalkannya (pahiyati); tidak memunculkan 'kotoran batin menjadi', sedangkan 'kotoran batin menjadi' yang telah muncul ditinggalkan; tidak memunculkan 'kotoran batin kebodohan', sedangkan 'kotoran batin kebodohan' yang telah muncul ditinggalkannya. Inilah dhamma yang perlu ia perhatikan namun ia tidak perhatikan”.

“Dengan memperhatikan dhamma yang tidak perlu diperhatikan dan dengan tidak memperhatikan dhamma yang perlu diperhatikan, kedua kotoran batin yang belum muncul dan kotoran batin yang telah muncul menjadi berkembang padanya."

7-- "Beginilah bagaimana ia yang tidak bijaksana memperhatikan: 'Apakah saya ada pada masa yang lampau (atita)?

Apakah saya tidak ada pada waktu yang lampau?

Apakah saya pada waktu yang lampau?

Bagaimana saya pada masa yang lampau?

Telah menjadi apa, dan saya menjadi apa pada waktu yang lampau?

Apakah saya akan ada pada masa yang akan datang (anagatam)?

Apakah saya akan tidak ada pada masa yang akan datang?

Apa yang akan terjadi dengan diri saya pada masa yang akan datang?

Bagaimana keberadaan saya pada masa yang akan datang?

Telah menjadi apa, dan saya akan menjadi apa pada masa yang akan datang?

Atau, juga dari 'dalam' (ajjhattam) ia bingung tentang masa sekarang: 'Adakah saya? Tidak adakah saya? Apakah saya? Bagaimanakah saya? Dari manakah makhluk (satta) ini datang? Ke manakah ia akan pergi?'

8-- "Ketika ia tidak bijaksana memperhatikan dengan cara seperti ini, salah satu dari enam pandangan muncul padanya:

Pandangan 'aku (atta) ada untukku' muncul sebagai suatu hal yang benar dan tetap.

Atau pandangan 'tidak aku untukku’ muncul sebagai suatu hal yang benar dan tetap.

Atau pandangan 'saya mencerap aku dengan aku' muncul sebagai suatu hal yang benar dan tetap.

Atau pandangan 'saya mencerap bukan-aku dengan aku' muncul sebagai suatu hal yang benar dan tetap.

Atau pandangan 'saya mencerap aku dengan bukan-aku' muncul sebagai suatu hal yang benar dan tetap.

Atau pandangan 'aku milikku ini yang berbicara, merasakan dan mengalami 'akibat' (vipaka) dari 'perbuatan baik dan buruk' (kalyanapapakanam kammanam) di sini maupun di sana; namun aku milikku ini kekal, abadi, tetap, tidak berubah, akan bertahan sampai selamanya.'

Para bhikkhu, inilah yang disebut 'spekulasi pandangan' (ditthigata), 'belukar-pandangan' (ditthigahana), 'belantara-pandangan' (ditthikantara), 'pemutarbalikkan pandangan' (ditthivisuka), 'kebimbangan-pandangan' (ditthivipphandita) dan 'belenggu-pandangan' (ditthisanyojana). Terbelenggu oleh 'belenggu-pandangan', maka 'orang awam yang tak-terdidik' (assutava puthujjano) tidak akan terbebas dari kelahiran, usia tua, kematian, penderitaan, kesedihan, kesakitan, kesusahan, dan putus-asa; saya nyatakan ia tidak terbebas dari 'dukkha' (penderitaan).

9-- 'Aku mencerap ketidakakuan dan keakuan’ sebagai suatu hal yang benar dan mutlak, atau dia akan berpandangan bahwa akulah yang bicara dan merasakan serta mengalami akibat dari perbuatan baik atau buruk: tetapi milikku ini adalah kekal, selama-lamanya, abadi, tak dapat berubah dan akan berlangsung selamanya."

"Pandangan macam ini disebut kekaburan pandangan, kebuasan pandangan, kerusakan pandangan, keragu-raguan pandangan, belenggu pandangan. Orang awam yang tak terpelajar dan terikat dengan belenggu pandangan-pandangan ini, tidak akan ada yang terbebas dari kelahiran, umur tua dan kematian dengan penderitaan serta ratap tangis, rasa sakit, takut dan putus asa; saya nyatakan ia tidak terbebas dari penderitaan.”

"Orang yang terpelajar, yang menghargai, memahami dan berdisiplin dengan ajaran orang-orang pandai serta bijaksana. Mengerti hal-hal yang penting untuk diperhatikan atau hal-hal apakah yang tidak penting untuk diperhatikan. Sehingga dia tidak memperhatikan hal-hal yang tidak penting untuk diperhatikan dan dia memperhatikan hal-hal yang penting untuk diperhatikan."

"Apakah hal-hal yang ia tidak perhatikan?"

“Adalah hal-hal yang menyebabkan munculnya dukkha yang baru atau bertambahnya dukkha yang sudah ada yang berasal dari nafsu indera, keakuan dan ketidaktahuan. Inilah hal-hal yang tidak seharusnya ia diperhatikan.

"Apakah hal-hal yang ia perhatikan?"

Adalah hal-hal yang tidak menyebabkan munculnya dukkha yang baru atau bertambahnya dukkha yang sudah ada yang berasal dari nafsu indera, keakuan dan ketidaktahuan. Inilah hal-hal yang seharusnya ia diperhatikan.

"Dengan memperhatikan hal-hal yang perlu diperhatikan dan tidak memperhatikan hal-hal yang tidak perlu untuk diperhatikan, dukkha yang baru tidak muncul dan dukkha yang lama dapat dihilangkan."

"Beginilah bagaimana ia berpikir dengan bijaksana: 'Ini adalah dukkha (penderitaan), ini adalah asal mula dukkha, ini adalah terhentinya dukkha dan ini adalah jalan yang menuju terhentinya dukkha'."

"Ketika dia memperhatikan jalan ini dengan bijaksana, tiga belenggu dapat ditinggalkannya: keinginan untuk bertumimbal lahir, ketidakpastian dan kemelekatan terhadap upacara-upacara."

"Ini disebut sebagai dukkha yang dapat dihentikan dengan cara melihat".

"Apakah dukkha yang dapat dihentikan dengan pengendalian diri?"

"Seorang bhikkhu berpikir dengan bijaksana dapat mengendalikan kesulitan matanya". Bila dukkha jasmani dan perasaan bisa timbul pada seorang bhikkhu yang tidak dapat mengendalikan kesulitan matanya, maka tidak ada dukkha atau beban emosi yang timbul jika dia dapat mengendalikan kesulitan matanya.'

"Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan matanya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.

"Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan penciumannya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.

"Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan pengecapannya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.

"Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan pendengarannya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.

"Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan badannya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.

"Berpikir dengan bijaksana ia dapat mengendalikan kesulitan pikirannya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.

Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang pikirannya tidak terkendali, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang pikirannya terkendali. Inilah yang disebut penderitaan yang dapat dihentikan dengan pengendalian diri."

"Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penggunaan?" Seorang bhikkhu berpikir dengan bijaksana menggunakan sebuah jubah sebagai pelindung dari dingin, panas dan untuk melindungi diri dari lalat, angin, panas yang membakar serta serangga tanah, juga hanya bertujuan untuk menutupi bagian tubuh yang vital."

"Berpikir dengan bijaksana ia tidak menggunakan patta (mangkuk)-nya untuk hiburan atau kesombongan, tidak pula untuk keelokan dan hiasan. Tetapi sekedar untuk kelangsungan hidupnya, untuk menghilangkan rasa sakit dan membantu perkembangan batin (berpikir): 'Beginilah aku akan menghentikan kesadaran lama tanpa menimbulkan kesadaran baru dan terhindar dari kesalahan, aku akan hidup dengan benar dan sehat'."

"Berpikir dengan bijaksana ia menggunakan tempat peristirahatan untuk melindungi diri dari dingin, gangguan lalat, angin, panas terik dan serangga tanah. Dan hanya sekedar menghindar dari bahaya-bahaya cuaca dalam menikmati istirahat.”

"Berpikir dengan bijaksana dia menggunakan obat-obatan untuk menyembuhkan diri dari sakit, sekedar untuk melindungi diri dari rasa sakit vang timbul dan mengurangi rasa sakit itu."

"Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak menggunakan segala sesuatunya dengan baik, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang menggunakan segala sesuatunya dengan baik."

"Ini yang disebut penderitaan yang dapat dihentikan dengan penggunaan".

"Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penahanan?"

"Seorang bhikkhu dengan bijaksana berpikir menahan dingin, panas lapar, haus dan gangguan dari lalat, angin, panas dan serangga tanah, dia menahan diri dari menghina, kata-kata kasar dan perasaan yang menyakitkan, menyiksa, yang menusuk hati, yang mengkhawatirkan, mengancam dan membahayakan kehidupan."

"Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat menahan, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang dapat menahan." "Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penghindaran?"

"Seorang bhikkhu dengan bijaksana berpikir menghindar dari seekor gajah liar, kuda liar, banteng liar, anjing liar, ular, batang pohon yang roboh, semak belukar, tanah berlubang, tebing batu, lubang dan lubang bawah tanah; berpikir dengan bijaksana untuk menghindar: duduk di kursi yang tidak menyenangkan, berkelana di tempat yang tidak cocok, bergaul dengan orang bodoh; yang mana hal-hal ini dianggap merupakan perbuatan salah oleh orang bijaksana".

"Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat menghindar, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang dapat menghindar."

"Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penghapusan?"

"Seorang bhikkhu dengan bijaksana berpikir tidak membiarkan pikiran yang ditimbulkan oleh nafsu indera ... oleh kekesalan ... oleh penderitaan; dia tinggalkan, benar-benar menghilangkannya dan memusnahkannya. Dia tidak membiarkan hal-hal yang salah dan tidak berguna untuk timbul; dia meninggalkannya, benar-benar menghilangkannya dan memusnahkan hal-hal itu."

"Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat menghapus pikiran-pikiran ini, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang dapat menghapus mereka."

"Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan pengembangan?"

"Seorang bhikkhu dengan bijaksana berpikir, mengembangkan perhatian dari faktor-faktor penerangan sempurna (satisambojjhanga) yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu dan menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."

"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor penerangan sempurna (dhammavicayasambojjhanga)"

"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor semangat (viriya) penerangan sempurna yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."

"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor kegiuran (piti) penerangan sempurna yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."

"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor ketenangan (passaddhi) penerangan sempurna yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."

"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor konsentrasi (samadhi) penerangan sempurna yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."

"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor keseimbangan batin (upekha) penerangan sempurna, yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."

"Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat mengembangkan hal-hal itu, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang mengembangkannya."

"Segera setelah penderitaan seorang bhikkhu dapat ditinggalkan dengan cara melihat (ke dalam) (dassana), menahan, menggunakan, menghindar, menghilangkan dan mengembangkan telah dapat ditinggalkan, dia akan disebut sebagai seorang bhikkhu yang dapat menghentikan semua penderitaan: dia menghentikan keinginan (tanha), melepaskan belenggu (samyojana) dan telah mengakhiri penderitaan dengan penembusan kesombongan (mana)."

Demikian yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa puas dan gembira dengan kata-kata Sang Bhagava.

MULAPARIYAYA SUTTA

MULAPARIYAYA SUTTA

Sutta 1

1. Demikianlah saya dengar:

Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di bawah pohon Sala-raja, di hutan Subhaga, Ukkhattha. Di tempat itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikku."

"Bhante," jawab para bhikkhu.

Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, saya akan mengajarkan dasar metode (mulapariyaya) semua dhamma, dengarkan, perhatikan dengan seksama, saya akan bicara."

"Ya, bhante," jawab para bhikkhu menyetujuinya.

2. Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, dalam hal orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun mengetahui (sanjanati) 'pathavi' (padat) sebagai pathavi. Ia mengetahui pathavi sebagai pathavi, ia berpikir tentang pathavi; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia memikirkan (dirinya) sebagai pathavi; ia berpikir bahwa 'pathavi milikku', ia gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'apo' (cairan) sebagai apo, setelah mengetahui apo sebagai apo, ia berpikir tentang apo; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan apo; ia memikirkan (dirinya) sebagai apo; ia berpikir 'apo milikku', ia gembira dalam apo. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'tejo' (panas) sebagai tejo, setelah mengetahui tejo sebagai tejo, ia berpikir tentang tejo; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan tejo; ia memikirkan (dirinya) sebagai tejo; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam tejo. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'vayo' (angin) sebagai vayo, setelah mengetahui vayo sebagai vayo, ia berpikir tentang vayo; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vayo; ia memikirkan (dirinya) sebagai vayo; ia berpikir 'vayo milikku', ia gembira dalam vayo. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'butha ' (makhluk) sebagai butha , setelah mengetahui butha sebagai butha , ia berpikir tentang butha ; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan butha ; ia memikirkan (dirinya) sebagai butha ; ia berpikir 'butha milikku', ia gembira dalam butha . Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'deva' (dewa) sebagai deva, setelah mengetahui deva sebagai deva, ia berpikir tentang deva; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan deva; ia memikirkan (dirinya) sebagai deva; ia berpikir 'deva milikku', ia gembira dalam deva. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Pajapati' sebagai Pajapati, setelah mengetahui Pajapati sebagai Pajapati, ia berpikir tentang Pajapati; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Pajapati; ia memikirkan (dirinya) sebagai Pajapati; ia berpikir 'Pajapati milikku', ia gembira dalam Pajapati. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Brahma' (Dewa Brahma) sebagai Brahma, setelah mengetahui Brahma sebagai Brahma, ia berpikir tentang Brahma; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Brahma; ia memikirkan (dirinya) sebagai Brahma; ia berpikir 'Brahma milikku', ia gembira dalam Brahma. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Abhassara' (Brahma Aabhasara) sebagai Abhassara, setelah mengetahui Abhassara sebagai Abhassara, ia berpikir tentang Abhassara; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Abhassara; ia memikirkan (dirinya) sebagai Abhassara; ia berpikir 'Abhassara milikku', ia gembira dalam Abhassara. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Subhakinna' (Brahma Subhakinna) sebagai Subhakinna, setelah mengetahui Subhakinna sebagai Subhakinna, ia berpikir tentang Subhakinna; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Subhakinna; ia memikirkan (dirinya) sebagai Subhakinna; ia berpikir 'Subhakinna milikku', ia gembira dalam Subhakinna. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Vehapphala' (Brahma Vehapphala) sebagai Vehapphala, setelah mengetahui Vehapphala sebagai Vehapphala, ia berpikir tentang Vehapphala; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vehapphala; ia memikirkan (dirinya) sebagai Vehapphala; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Vehapphala. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Abhibhu' (Brahma Asannasatta) sebagai Abhibhu, setelah mengetahui Abhibhu sebagai Abhibhu, ia berpikir tentang Abhibhu; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Abhibhu; ia memikirkan (dirinya) sebagai Abhibhu; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Abhibhu. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Akasanancayatana' (…) sebagai Akasanancayatana, setelah mengetahui Akasanancayatana sebagai Akasanancayatana, ia berpikir tentang Akasanancayatana; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akasanancayatana; ia memikirkan (dirinya) sebagai Akasanancayatana; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Akasanancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Vinnanancayatana' (…) sebagai Vinnanancayatana, setelah mengetahui Vinnanancayatana sebagai Vinnanancayatana, ia berpikir tentang Vinnanancayatana; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vinnanancayatana; ia memikirkan (dirinya) sebagai Vinnanancayatana; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Vinnanancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Akincannayatana N’evasannanasannayatana' (cairan) sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana, setelah mengetahui Akincannayatana N’evasannanasannayatana sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana, ia berpikir tentang Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia memikirkan (dirinya) sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Akincannayatana N’evasannanasannayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'dittha ' (pandangan yang dilihat) sebagai dittha , setelah mengetahui dittha sebagai dittha , ia berpikir tentang dittha ; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan dittha ; ia memikirkan (dirinya) sebagai dittha ; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam dittha . Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Isuta' (sesuatu yang didengar) sebagai Isuta, setelah mengetahui Isuta sebagai Isuta, ia berpikir tentang Isuta; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Isuta; ia memikirkan (dirinya) sebagai Isuta; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Isuta. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'muta' (sesuatu yang dirasakan) sebagai muta, setelah mengetahui muta sebagai muta, ia berpikir tentang muta; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan muta; ia memikirkan (dirinya) sebagai muta; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam muta. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Ia mengetahui 'vinnata' (diketahui) sebagai vinnata, setelah mengetahui vinnata sebagai vinnata, ia berpikir tentang vinnata; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vinnata; ia memikirkan (dirinya) sebagai vinnata; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam vinnata. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'lekatta' (persatuan) sebagai lekatta, setelah mengetahui lekatta sebagai lekatta, ia berpikir tentang lekatta; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan lekatta; ia memikirkan (dirinya) sebagai lekatta; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam lekatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'nanatta' (perbedaan) sebagai nanatta, setelah mengetahui nanatta sebagai nanatta, ia berpikir tentang nanatta; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nanatta; ia memikirkan (dirinya) sebagai nanatta; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam nanatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'sabba' (universal) sebagai sabba, setelah mengetahui sabba sebagai sabba, ia berpikir tentang sabba; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan sabba; ia memikirkan (dirinya) sebagai sabba; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam sabba. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Nibbana' (…) sebagai Nibbana, setelah mengetahui Nibbana sebagai Nibbana, ia berpikir tentang Nibbana; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Nibbana; ia memikirkan (dirinya) sebagai Nibbana; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

3. Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi; karena mengetahui dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir 'pathavi milikku', ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘apo’ (cairan) sebagai apo; karena mengetahui dengan baik tentang apo sebagai apo, maka ia tidak memikirkan tentang apo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan apo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai apo; ia tidak berpikir ' apo milikku', ia tidak gembira dalam apo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘tejo’ (panas) sebagai tejo; karena mengetahui dengan baik tentang tejo sebagai tejo, maka ia tidak memikirkan tentang tejo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan tejo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai tejo; ia tidak berpikir ' tejo milikku', ia tidak gembira dalam tejo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘vayo’ (angin) sebagai vayo; karena mengetahui dengan baik tentang vayo sebagai vayo, maka ia tidak memikirkan tentang vayo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vayo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai vayo; ia tidak berpikir ' vayo milikku', ia tidak gembira dalam vayo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘butha’ (mahluk) sebagai butha; karena mengetahui dengan baik tentang butha sebagai butha, maka ia tidak memikirkan tentang butha, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan butha; ia tidak memikirkan dirinya sebagai butha; ia tidak berpikir ' butha milikku', ia tidak gembira dalam butha. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘devo’ (dewa) sebagai devo; karena mengetahui dengan baik tentang devo sebagai devo, maka ia tidak memikirkan tentang devo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan devo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai devo; ia tidak berpikir ' devo milikku', ia tidak gembira dalam devo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Pajapati(?) sebagai Pajapati; karena mengetahui dengan baik tentang Pajapati sebagai Pajapati, maka ia tidak memikirkan tentang Pajapati, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Pajapati; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Pajapati; ia tidak berpikir ' Pajapati milikku', ia tidak gembira dalam Pajapati. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Brahma’ (Dewa Barahma) sebagai Brahma; karena mengetahui dengan baik tentang Brahma sebagai Brahma, maka ia tidak memikirkan tentang Brahma, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Brahma; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Brahma; ia tidak berpikir ' Brahma milikku', ia tidak gembira dalam Brahma. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘AAbhassara’ (Brahma Abhassara) sebagai AAbhassara; karena mengetahui dengan baik tentang AAbhassara sebagai AAbhassara, maka ia tidak memikirkan tentang AAbhassara, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan AAbhassara; ia tidak memikirkan dirinya sebagai AAbhassara; ia tidak berpikir ' AAbhassara milikku', ia tidak gembira dalam AAbhassara. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Subhakinna’ (Brahma Subhakinna) sebagai Subhakinna; karena mengetahui dengan baik tentang Subhakinna sebagai Subhakinna, maka ia tidak memikirkan tentang Subhakinna, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Subhakinna; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Subhakinna; ia tidak berpikir ' Subhakinna milikku', ia tidak gembira dalam Subhakinna. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Vehapphala’ (Brahma Vehapphala) sebagai Vehapphala; karena mengetahui dengan baik tentang Vehapphala sebagai Vehapphala, maka ia tidak memikirkan tentang Vehapphala, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vehapphala; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Vehapphala; ia tidak berpikir ' Vehapphala milikku', ia tidak gembira dalam Vehapphala. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Abhibhu’ (Brahma Asannasatta) sebagai Abhibhu; karena mengetahui dengan baik tentang Abhibhu sebagai Abhibhu, maka ia tidak memikirkan tentang Abhibhu, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Abhibhu; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Abhibhu; ia tidak berpikir ' Abhibhu milikku', ia tidak gembira dalam Abhibhu. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Akasanancayatana(?) sebagai Akasanancayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Akasanancayatana sebagai Akasanancayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Akasanancayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akasanancayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Akasanancayatana; ia tidak berpikir ' Akasanancayatana milikku', ia tidak gembira dalam Akasanancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Vinnananancayatana sebagai Vinnannaancayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Vinnannaancayatana sebagai Vinnannaancayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Vinnannaancayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vinnannaancayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Vinnannaancayatana; ia tidak berpikir ' Vinnannaancayatana milikku', ia tidak gembira dalam Vinnannaancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Akincannayatana N’evasannanasannayatana sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Akincannayatana N’evasannanasannayatana sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Akincannayatana N’evasannanasannayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia tidak berpikir'Akincannayatana N’evasannanasannayatana milikku', ia tidak gembira dalam Akincannayatana N’evasannanasannayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Dittha’ (Pandangan yang dilihat) sebagai Dittha; karena mengetahui dengan baik tentang Dittha sebagai Dittha, maka ia tidak memikirkan tentang Dittha, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Dittha; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Dittha; ia tidak berpikir ' Dittha milikku', ia tidak gembira dalam Dittha. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Isuta’ (sesuatu yang didengar) sebagai Isuta; karena mengetahui dengan baik tentang Isuta sebagai Isuta, maka ia tidak memikirkan tentang Isuta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Isuta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Isuta; ia tidak berpikir ' Isuta milikku', ia tidak gembira dalam Isuta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘muta’ (sesuatu yang dirasakan) sebagai muta; karena mengetahui dengan baik tentang muta sebagai muta, maka ia tidak memikirkan tentang muta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan muta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai muta; ia tidak berpikir ' muta milikku', ia tidak gembira dalam muta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘vinnata’ (yang diketahui) sebagai vinnata; karena mengetahui dengan baik tentang vinnata sebagai vinnata, maka ia tidak memikirkan tentang vinnata, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vinnata; ia tidak memikirkan dirinya sebagai vinnata; ia tidak berpikir ' vinnata milikku', ia tidak gembira dalam vinnata. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘lekatta’ (persatuan) sebagai lekatta; karena mengetahui dengan baik tentang lekatta sebagai lekatta, maka ia tidak memikirkan tentang lekatta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan lekatta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai lekatta; ia tidak berpikir ' lekatta milikku', ia tidak gembira dalam lekatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘nanatta’ (perbedaan) sebagai nanatta; karena mengetahui dengan baik tentang nanatta sebagai nanatta, maka ia tidak memikirkan tentang nanatta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nanatta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai nanatta; ia tidak berpikir ' nanatta milikku', ia tidak gembira dalam nanatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘sabba’ (universal) sebagai sabba; karena mengetahui dengan baik tentang sabba sebagai sabba, maka ia tidak memikirkan tentang sabba, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan sabba; ia tidak memikirkan dirinya sebagai sabba; ia tidak berpikir ' sabba milikku', ia tidak gembira dalam sabba. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Nibbana(?) sebagai Nibbana; karena mengetahui dengan baik tentang Nibbana sebagai Nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang Nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Nibbana; ia tidak berpikir ' Nibbana milikku', ia tidak gembira dalam Nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

3. Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' sebagai pathavi; karena mengerti dengan baik mengenai pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir 'pathavi milikku', ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘apo’ (cairan) sebagai apo; karena mengetahui dengan baik tentang apo sebagai apo, maka ia tidak memikirkan tentang apo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan apo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai apo; ia tidak berpikir ' apo milikku', ia tidak gembira dalam apo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘tejo’ (panas) sebagai tejo; karena mengetahui dengan baik tentang tejo sebagai tejo, maka ia tidak memikirkan tentang tejo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan tejo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai tejo; ia tidak berpikir ' tejo milikku', ia tidak gembira dalam tejo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘vayo’ (angin) sebagai vayo; karena mengetahui dengan baik tentang vayo sebagai vayo, maka ia tidak memikirkan tentang vayo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vayo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai vayo; ia tidak berpikir ' vayo milikku', ia tidak gembira dalam vayo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘butha’ (mahluk) sebagai butha; karena mengetahui dengan baik tentang butha sebagai butha, maka ia tidak memikirkan tentang butha, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan butha; ia tidak memikirkan dirinya sebagai butha; ia tidak berpikir ' butha milikku', ia tidak gembira dalam butha. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘devo’ (dewa) sebagai devo; karena mengetahui dengan baik tentang devo sebagai devo, maka ia tidak memikirkan tentang devo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan devo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai devo; ia tidak berpikir ' devo milikku', ia tidak gembira dalam devo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Pajapati(?) sebagai Pajapati; karena mengetahui dengan baik tentang Pajapati sebagai Pajapati, maka ia tidak memikirkan tentang Pajapati, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Pajapati; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Pajapati; ia tidak berpikir ' Pajapati milikku', ia tidak gembira dalam Pajapati. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Brahma’ (Dewa Barahma) sebagai Brahma; karena mengetahui dengan baik tentang Brahma sebagai Brahma, maka ia tidak memikirkan tentang Brahma, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Brahma; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Brahma; ia tidak berpikir ' Brahma milikku', ia tidak gembira dalam Brahma. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Abhassara’ (Brahma Abhassara) sebagai Abhassara; karena mengetahui dengan baik tentang Abhassara sebagai Abhassara, maka ia tidak memikirkan tentang Abhassara, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Abhassara; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Abhassara; ia tidak berpikir ' Abhassara milikku', ia tidak gembira dalam Abhassara. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Subhakinna’ (Brahma Subhakinna) sebagai Subhakinna; karena mengetahui dengan baik tentang Subhakinna sebagai Subhakinna, maka ia tidak memikirkan tentang Subhakinna, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Subhakinna; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Subhakinna; ia tidak berpikir ' Subhakinna milikku', ia tidak gembira dalam Subhakinna. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Vehapphala’ (Brahma Vehapphala) sebagai Vehapphala; karena mengetahui dengan baik tentang Vehapphala sebagai Vehapphala, maka ia tidak memikirkan tentang Vehapphala, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vehapphala; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Vehapphala; ia tidak berpikir ' Vehapphala milikku', ia tidak gembira dalam Vehapphala. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Abhibhu’ (Brahma Asannasatta) sebagai Abhibhu; karena mengetahui dengan baik tentang Abhibhu sebagai Abhibhu, maka ia tidak memikirkan tentang Abhibhu, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Abhibhu; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Abhibhu; ia tidak berpikir ' Abhibhu milikku', ia tidak gembira dalam Abhibhu. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Akasanancayatana(?) sebagai Akasanancayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Akasanancayatana sebagai Akasanancayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Akasanancayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akasanancayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Akasanancayatana; ia tidak berpikir ' Akasanancayatana milikku', ia tidak gembira dalam Akasanancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Vinnanancayatana(?) sebagai Vinnanancayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Vinnanancayatana sebagai Vinnanancayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Vinnanancayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vinnanancayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Vinnanancayatana; ia tidak berpikir ' Vinnanancayatana milikku', ia tidak gembira dalam Vinnanancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Akincannayatana N’evasannanasannayatana(?) sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Akincannayatana N’evasannanasannayatana sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Akincannayatana N’evasannanasannayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia tidak berpikir'Akincannayatana N’evasannanasannayatana milikku', ia tidak gembira dalam Akincannayatana N’evasannanasannayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Dittha’ (Pandangan yang dilihat) sebagai Dittha; karena mengetahui dengan baik tentang Dittha sebagai Dittha, maka ia tidak memikirkan tentang Dittha, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Dittha; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Dittha; ia tidak berpikir ' Dittha milikku', ia tidak gembira dalam Dittha. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Isuta’ (sesuatu yang didengar) sebagai Isuta; karena mengetahui dengan baik tentang Isuta sebagai Isuta, maka ia tidak memikirkan tentang Isuta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Isuta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Isuta; ia tidak berpikir ' Isuta milikku', ia tidak gembira dalam Isuta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘muta’ (sesuatu yang dirasakan) sebagai muta; karena mengetahui dengan baik tentang muta sebagai muta, maka ia tidak memikirkan tentang muta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan muta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai muta; ia tidak berpikir ' muta milikku', ia tidak gembira dalam muta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘vinnata’ (yang diketahui) sebagai vinnata; karena mengetahui dengan baik tentang vinnata sebagai vinnata, maka ia tidak memikirkan tentang vinnata, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vinnata; ia tidak memikirkan dirinya sebagai vinnata; ia tidak berpikir ' vinnata milikku', ia tidak gembira dalam vinnata. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘lekatta’ (persatuan) sebagai lekatta; karena mengetahui dengan baik tentang lekatta sebagai lekatta, maka ia tidak memikirkan tentang lekatta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan lekatta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai lekatta; ia tidak berpikir ' lekatta milikku', ia tidak gembira dalam lekatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘nanatta’ (perbedaan) sebagai nanatta; karena mengetahui dengan baik tentang nanatta sebagai nanatta, maka ia tidak memikirkan tentang nanatta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nanatta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai nanatta; ia tidak berpikir ' nanatta milikku', ia tidak gembira dalam nanatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘sabba’ (iniversal) sebagai sabba; karena mengetahui dengan baik tentang sabba sebagai sabba, maka ia tidak memikirkan tentang sabba, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan sabba; ia tidak memikirkan dirinya sebagai sabba; ia tidak berpikir ' sabba milikku', ia tidak gembira dalam sabba. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Nibbana(?) sebagai Nibbana; karena mengetahui dengan baik tentang Nibbana sebagai Nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang Nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Nibbana; ia tidak berpikir ' Nibbana milikku', ia tidak gembira dalam Nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

4. Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ia tidak gembira dalam pathavi, ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ia tidak gembira dalam pathavi, ia pun mengerti dengan baik tentang 'apo' ia tidak gembira dalam apo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'tejo' ia tidak gembira dalam tejo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'vayo' ia tidak gembira dalam vayo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'butha' ia tidak gembira dalam butha, ia pun mengerti dengan baik tentang 'deva' ia tidak gembira dalam deva, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Pajapati' ia tidak gembira dalam Pajapati, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Brahma' ia tidak gembira dalam Barhma, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Abhassaara' ia tidak gembira dalam Abhassara, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Subbhakinna' ia tidak gembira dalam Subhakinna, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Vehapphala' ia tidak gembira dalam Vehapphala, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Abhibhu' ia tidak gembira dalam AaAbhibhu, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Akasanancayatana' ia tidak gembira dalam Akasanancayatana, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Vinnanancayatana' ia tidak gembira dalam Vinnanancayatana ia pun mengerti dengan baik tentang 'Akincannayatana N’evasannanasannayatana' ia tidak gembira dalam Akincannayatana N'evasannanasannaya-tana, ia pun mengerti dengan baik tentang ' dittha' ia tidak gembira dalam dittha, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Isuta' ia tidak gembira dalam Isuta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'muta' ia tidak gembira dalam 'muta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'vinnata' ia tidak gembira dalam 'vinnata', ia pun mengerti dengan baik tentang 'lekatta' ia tidak gembira dalam ‘lekatta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'nanatta' ia tidak gembira dalam nanatta, ia pun mengerti dengan baik tentang 'sabba' ia tidak gembira dalam sabba, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Nibbana' ia tidak gembira dalam Nibbana'. Mengapa begitu? Karena ia 'tanpa keinginan nafsu' (vitaragatta), sebab telah 'melenyapkan (semua) keinginan nafsu' (khaya ragassa). ia 'tanpa kebencian' (vitadosatta), sebab telah 'melenyapkan (semua) kebencian' (khaya dosassa), ia 'tanpa kebodohan' (vitamohatta), sebab telah melenyapkan (semua) kebodohan' (khaya mohassa).

5. Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ia tidak gembira dalam pathavi, ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ia tidak gembira dalam pathavi, ia pun mengerti dengan baik tentang 'apo' ia tidak gembira dalam apo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'tejo' ia tidak gembira dalam tejo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'vayo' ia tidak gembira dalam vayo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'butha' ia tidak gembira dalam butha, ia pun mengerti dengan baik tentang 'deva' ia tidak gembira dalam deva, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Pajapati' ia tidak gembira dalam Pajapati, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Brahma' ia tidak gembira dalam Barhma, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Abhassaara' ia tidak gembira dalam Abhassara, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Subbhakinna' ia tidak gembira dalam Subhakinna, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Vehapphala' ia tidak gembira dalam Vehapphala, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Abhibhu' ia tidak gembira dalam AaAbhibhu, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Akasanancayatana' ia tidak gembira dalam Akasanancayatana, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Vinnanancayatana' ia tidak gembira dalam Vinnanancayatana ia pun mengerti dengan baik tentang 'Akincannayatana N’evasannanasannayatana' ia tidak gembira dalam Akincannayatana N'evasannanasannaya-tana, ia pun mengerti dengan baik tentang ' dittha' ia tidak gembira dalam dittha, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Isuta' ia tidak gembira dalam Isuta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'muta' ia tidak gembira dalam 'muta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'vinnata' ia tidak gembira dalam 'vinnata', ia pun mengerti dengan baik tentang 'lekatta' ia tidak gembira dalam ‘lekatta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'nanatta' ia tidak gembira dalam nanatta, ia pun mengerti dengan baik tentang 'sabba' ia tidak gembira dalam sabba, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Nibbana' ia tidak gembira dalam Nibbana'. Mengapa begitu? Karena hal itu telah dimengerti dengan baik oleh Tathagata.

6. Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang 'pathavi' sebagai pathavi; karena mengerti dengan baik mengenai pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir 'pathavi milikku', ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Karena ia telah mengetahui dengan baik bahwa 'kenikmatan (nandi) dasarnya adalah pada dukkha', mengetahui bahwa karena adanya 'menjadi' (bhava) maka terjadilah 'kelahiran' (jati), maka muncullah 'usia tua dan kematian' (jaramarana) makhluk. Para bhikkhu itulah sebabnya maka saya nyatakan bahwa Tathagata karena telah melenyapkan, terbebas dan 'melenyapkan semua keinginan' (tanha khaya) dan 'tanpa nafsu' (viraga), sempurna kesadarannya dengan mencapai 'penerangan agung tertinggi' (anuttaram sammasambodhi).

Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang 'apo', 'tejo', 'vayo', 'butha', 'deva', 'Pajapati', ‘Brahma’, ‘Abhassara’, Subhakinna’, ‘Vehapphala’, ‘Abhibhu’, ‘Akasanancayatana’, ‘Vinnanancayatana, ‘Akincannayatana N’evasannanasannayatana,’ 'dittha', Isuta', 'muta, 'vinnata', ‘lekatta’, ‘nanatta’, ‘sabba’ , Nibbana' ia tidak gembira dalam 'apo', 'tejo', 'vayo', 'butha', 'deva', 'Pajapati', ‘Brahma’, ‘Abhassara’, Subhakinna’, ‘Vehapphala’, ‘Abhibhu’, ‘Akasanancayatana’, ‘Vinnanancayatana, ‘Akincannayatana N’evasannanasannayatana,’ 'dittha', Isuta', 'muta, 'vinnata', ‘lekatta’, ‘nanatta’, ‘sabba’ , Nibbana'. Para bhikkhu itulah sebabnya maka saya nyatakan bahwa Tathagata karena telah melenyapkan, terbebas dan melenyapkan semua keinginan dan tanpa nafsu sempurna kesadarannya dengan mencapai penerangan agung tertinggi.

Itulah yang diuraikan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu senang dan gembira pada apa yang dikatakan Sang Bhagava.