MULA SUTTA
Sutta 1
1. Demikianlah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di bawah pohon Sala-raja, di hutan Subhaga, Ukkhattha. Di tempat itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikku."
"Bhante," jawab para bhikkhu.
Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, saya akan mengajarkan dasar metode (mulapariyaya) semua dhamma, dengarkan, perhatikan dengan seksama, saya akan bicara."
"Ya, bhante," jawab para bhikkhu menyetujuinya.
2. Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, dalam hal orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun mengetahui (sanjanati) 'pathavi' (padat) sebagai pathavi. Ia mengetahui pathavi sebagai pathavi, ia berpikir tentang pathavi; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia memikirkan (dirinya) sebagai pathavi; ia berpikir bahwa 'pathavi milikku', ia gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'apo' (cairan) sebagai apo, setelah mengetahui apo sebagai apo, ia berpikir tentang apo; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan apo; ia memikirkan (dirinya) sebagai apo; ia berpikir 'apo milikku', ia gembira dalam apo. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'tejo' (panas) sebagai tejo, setelah mengetahui tejo sebagai tejo, ia berpikir tentang tejo; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan tejo; ia memikirkan (dirinya) sebagai tejo; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam tejo. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'vayo' (angin) sebagai vayo, setelah mengetahui vayo sebagai vayo, ia berpikir tentang vayo; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vayo; ia memikirkan (dirinya) sebagai vayo; ia berpikir 'vayo milikku', ia gembira dalam vayo. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'butha ' (makhluk) sebagai butha , setelah mengetahui butha sebagai butha , ia berpikir tentang butha ; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan butha ; ia memikirkan (dirinya) sebagai butha ; ia berpikir 'butha milikku', ia gembira dalam butha . Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'deva' (dewa) sebagai deva, setelah mengetahui deva sebagai deva, ia berpikir tentang deva; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan deva; ia memikirkan (dirinya) sebagai deva; ia berpikir 'deva milikku', ia gembira dalam deva. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Pajapati' sebagai Pajapati, setelah mengetahui Pajapati sebagai Pajapati, ia berpikir tentang Pajapati; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Pajapati; ia memikirkan (dirinya) sebagai Pajapati; ia berpikir 'Pajapati milikku', ia gembira dalam Pajapati. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Brahma' (Dewa Brahma) sebagai Brahma, setelah mengetahui Brahma sebagai Brahma, ia berpikir tentang Brahma; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Brahma; ia memikirkan (dirinya) sebagai Brahma; ia berpikir 'Brahma milikku', ia gembira dalam Brahma. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Abhassara' (Brahma Aabhasara) sebagai Abhassara, setelah mengetahui Abhassara sebagai Abhassara, ia berpikir tentang Abhassara; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Abhassara; ia memikirkan (dirinya) sebagai Abhassara; ia berpikir 'Abhassara milikku', ia gembira dalam Abhassara. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Subhakinna' (Brahma Subhakinna) sebagai Subhakinna, setelah mengetahui Subhakinna sebagai Subhakinna, ia berpikir tentang Subhakinna; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Subhakinna; ia memikirkan (dirinya) sebagai Subhakinna; ia berpikir 'Subhakinna milikku', ia gembira dalam Subhakinna. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Vehapphala' (Brahma Vehapphala) sebagai Vehapphala, setelah mengetahui Vehapphala sebagai Vehapphala, ia berpikir tentang Vehapphala; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vehapphala; ia memikirkan (dirinya) sebagai Vehapphala; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Vehapphala. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Abhibhu' (Brahma Asannasatta) sebagai Abhibhu, setelah mengetahui Abhibhu sebagai Abhibhu, ia berpikir tentang Abhibhu; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Abhibhu; ia memikirkan (dirinya) sebagai Abhibhu; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Abhibhu. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Akasanancayatana' (…) sebagai Akasanancayatana, setelah mengetahui Akasanancayatana sebagai Akasanancayatana, ia berpikir tentang Akasanancayatana; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akasanancayatana; ia memikirkan (dirinya) sebagai Akasanancayatana; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Akasanancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Vinnanancayatana' (…) sebagai Vinnanancayatana, setelah mengetahui Vinnanancayatana sebagai Vinnanancayatana, ia berpikir tentang Vinnanancayatana; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vinnanancayatana; ia memikirkan (dirinya) sebagai Vinnanancayatana; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Vinnanancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Akincannayatana N’evasannanasannayatana' (cairan) sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana, setelah mengetahui Akincannayatana N’evasannanasannayatana sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana, ia berpikir tentang Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia memikirkan (dirinya) sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Akincannayatana N’evasannanasannayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'dittha ' (pandangan yang dilihat) sebagai dittha , setelah mengetahui dittha sebagai dittha , ia berpikir tentang dittha ; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan dittha ; ia memikirkan (dirinya) sebagai dittha ; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam dittha . Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Isuta' (sesuatu yang didengar) sebagai Isuta, setelah mengetahui Isuta sebagai Isuta, ia berpikir tentang Isuta; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Isuta; ia memikirkan (dirinya) sebagai Isuta; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Isuta. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'muta' (sesuatu yang dirasakan) sebagai muta, setelah mengetahui muta sebagai muta, ia berpikir tentang muta; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan muta; ia memikirkan (dirinya) sebagai muta; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam muta. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Ia mengetahui 'vinnata' (diketahui) sebagai vinnata, setelah mengetahui vinnata sebagai vinnata, ia berpikir tentang vinnata; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vinnata; ia memikirkan (dirinya) sebagai vinnata; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam vinnata. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'lekatta' (persatuan) sebagai lekatta, setelah mengetahui lekatta sebagai lekatta, ia berpikir tentang lekatta; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan lekatta; ia memikirkan (dirinya) sebagai lekatta; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam lekatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'nanatta' (perbedaan) sebagai nanatta, setelah mengetahui nanatta sebagai nanatta, ia berpikir tentang nanatta; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nanatta; ia memikirkan (dirinya) sebagai nanatta; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam nanatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'sabba' (universal) sebagai sabba, setelah mengetahui sabba sebagai sabba, ia berpikir tentang sabba; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan sabba; ia memikirkan (dirinya) sebagai sabba; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam sabba. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
Orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat ‘orang-orang suci’ (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun Ia mengetahui 'Nibbana' (…) sebagai Nibbana, setelah mengetahui Nibbana sebagai Nibbana, ia berpikir tentang Nibbana; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Nibbana; ia memikirkan (dirinya) sebagai Nibbana; ia berpikir 'tejo milikku', ia gembira dalam Nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.
3. Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi; karena mengetahui dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir 'pathavi milikku', ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘apo’ (cairan) sebagai apo; karena mengetahui dengan baik tentang apo sebagai apo, maka ia tidak memikirkan tentang apo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan apo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai apo; ia tidak berpikir ' apo milikku', ia tidak gembira dalam apo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘tejo’ (panas) sebagai tejo; karena mengetahui dengan baik tentang tejo sebagai tejo, maka ia tidak memikirkan tentang tejo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan tejo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai tejo; ia tidak berpikir ' tejo milikku', ia tidak gembira dalam tejo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘vayo’ (angin) sebagai vayo; karena mengetahui dengan baik tentang vayo sebagai vayo, maka ia tidak memikirkan tentang vayo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vayo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai vayo; ia tidak berpikir ' vayo milikku', ia tidak gembira dalam vayo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘butha’ (mahluk) sebagai butha; karena mengetahui dengan baik tentang butha sebagai butha, maka ia tidak memikirkan tentang butha, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan butha; ia tidak memikirkan dirinya sebagai butha; ia tidak berpikir ' butha milikku', ia tidak gembira dalam butha. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘devo’ (dewa) sebagai devo; karena mengetahui dengan baik tentang devo sebagai devo, maka ia tidak memikirkan tentang devo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan devo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai devo; ia tidak berpikir ' devo milikku', ia tidak gembira dalam devo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Pajapati’ (?) sebagai Pajapati; karena mengetahui dengan baik tentang Pajapati sebagai Pajapati, maka ia tidak memikirkan tentang Pajapati, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Pajapati; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Pajapati; ia tidak berpikir ' Pajapati milikku', ia tidak gembira dalam Pajapati. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Brahma’ (Dewa Barahma) sebagai Brahma; karena mengetahui dengan baik tentang Brahma sebagai Brahma, maka ia tidak memikirkan tentang Brahma, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Brahma; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Brahma; ia tidak berpikir ' Brahma milikku', ia tidak gembira dalam Brahma. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘AAbhassara’ (Brahma Abhassara) sebagai AAbhassara; karena mengetahui dengan baik tentang AAbhassara sebagai AAbhassara, maka ia tidak memikirkan tentang AAbhassara, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan AAbhassara; ia tidak memikirkan dirinya sebagai AAbhassara; ia tidak berpikir ' AAbhassara milikku', ia tidak gembira dalam AAbhassara. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Subhakinna’ (Brahma Subhakinna) sebagai Subhakinna; karena mengetahui dengan baik tentang Subhakinna sebagai Subhakinna, maka ia tidak memikirkan tentang Subhakinna, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Subhakinna; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Subhakinna; ia tidak berpikir ' Subhakinna milikku', ia tidak gembira dalam Subhakinna. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Vehapphala’ (Brahma Vehapphala) sebagai Vehapphala; karena mengetahui dengan baik tentang Vehapphala sebagai Vehapphala, maka ia tidak memikirkan tentang Vehapphala, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vehapphala; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Vehapphala; ia tidak berpikir ' Vehapphala milikku', ia tidak gembira dalam Vehapphala. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Abhibhu’ (Brahma Asannasatta) sebagai Abhibhu; karena mengetahui dengan baik tentang Abhibhu sebagai Abhibhu, maka ia tidak memikirkan tentang Abhibhu, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Abhibhu; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Abhibhu; ia tidak berpikir ' Abhibhu milikku', ia tidak gembira dalam Abhibhu. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Akasanancayatana’ (?) sebagai Akasanancayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Akasanancayatana sebagai Akasanancayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Akasanancayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akasanancayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Akasanancayatana; ia tidak berpikir ' Akasanancayatana milikku', ia tidak gembira dalam Akasanancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Vinnananancayatana’ sebagai Vinnannaancayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Vinnannaancayatana sebagai Vinnannaancayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Vinnannaancayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vinnannaancayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Vinnannaancayatana; ia tidak berpikir ' Vinnannaancayatana milikku', ia tidak gembira dalam Vinnannaancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Akincannayatana N’evasannanasannayatana’ sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Akincannayatana N’evasannanasannayatana sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Akincannayatana N’evasannanasannayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia tidak berpikir'Akincannayatana N’evasannanasannayatana milikku', ia tidak gembira dalam Akincannayatana N’evasannanasannayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Dittha’ (Pandangan yang dilihat) sebagai Dittha; karena mengetahui dengan baik tentang Dittha sebagai Dittha, maka ia tidak memikirkan tentang Dittha, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Dittha; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Dittha; ia tidak berpikir ' Dittha milikku', ia tidak gembira dalam Dittha. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Isuta’ (sesuatu yang didengar) sebagai Isuta; karena mengetahui dengan baik tentang Isuta sebagai Isuta, maka ia tidak memikirkan tentang Isuta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Isuta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Isuta; ia tidak berpikir ' Isuta milikku', ia tidak gembira dalam Isuta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘muta’ (sesuatu yang dirasakan) sebagai muta; karena mengetahui dengan baik tentang muta sebagai muta, maka ia tidak memikirkan tentang muta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan muta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai muta; ia tidak berpikir ' muta milikku', ia tidak gembira dalam muta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘vinnata’ (yang diketahui) sebagai vinnata; karena mengetahui dengan baik tentang vinnata sebagai vinnata, maka ia tidak memikirkan tentang vinnata, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vinnata; ia tidak memikirkan dirinya sebagai vinnata; ia tidak berpikir ' vinnata milikku', ia tidak gembira dalam vinnata. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘lekatta’ (persatuan) sebagai lekatta; karena mengetahui dengan baik tentang lekatta sebagai lekatta, maka ia tidak memikirkan tentang lekatta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan lekatta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai lekatta; ia tidak berpikir ' lekatta milikku', ia tidak gembira dalam lekatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘nanatta’ (perbedaan) sebagai nanatta; karena mengetahui dengan baik tentang nanatta sebagai nanatta, maka ia tidak memikirkan tentang nanatta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nanatta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai nanatta; ia tidak berpikir ' nanatta milikku', ia tidak gembira dalam nanatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘sabba’ (universal) sebagai sabba; karena mengetahui dengan baik tentang sabba sebagai sabba, maka ia tidak memikirkan tentang sabba, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan sabba; ia tidak memikirkan dirinya sebagai sabba; ia tidak berpikir ' sabba milikku', ia tidak gembira dalam sabba. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Nibbana’ (?) sebagai Nibbana; karena mengetahui dengan baik tentang Nibbana sebagai Nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang Nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Nibbana; ia tidak berpikir ' Nibbana milikku', ia tidak gembira dalam Nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
3. Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' sebagai pathavi; karena mengerti dengan baik mengenai pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir 'pathavi milikku', ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘apo’ (cairan) sebagai apo; karena mengetahui dengan baik tentang apo sebagai apo, maka ia tidak memikirkan tentang apo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan apo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai apo; ia tidak berpikir ' apo milikku', ia tidak gembira dalam apo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘tejo’ (panas) sebagai tejo; karena mengetahui dengan baik tentang tejo sebagai tejo, maka ia tidak memikirkan tentang tejo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan tejo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai tejo; ia tidak berpikir ' tejo milikku', ia tidak gembira dalam tejo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘vayo’ (angin) sebagai vayo; karena mengetahui dengan baik tentang vayo sebagai vayo, maka ia tidak memikirkan tentang vayo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vayo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai vayo; ia tidak berpikir ' vayo milikku', ia tidak gembira dalam vayo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘butha’ (mahluk) sebagai butha; karena mengetahui dengan baik tentang butha sebagai butha, maka ia tidak memikirkan tentang butha, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan butha; ia tidak memikirkan dirinya sebagai butha; ia tidak berpikir ' butha milikku', ia tidak gembira dalam butha. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘devo’ (dewa) sebagai devo; karena mengetahui dengan baik tentang devo sebagai devo, maka ia tidak memikirkan tentang devo, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan devo; ia tidak memikirkan dirinya sebagai devo; ia tidak berpikir ' devo milikku', ia tidak gembira dalam devo. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Pajapati’ (?) sebagai Pajapati; karena mengetahui dengan baik tentang Pajapati sebagai Pajapati, maka ia tidak memikirkan tentang Pajapati, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Pajapati; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Pajapati; ia tidak berpikir ' Pajapati milikku', ia tidak gembira dalam Pajapati. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Brahma’ (Dewa Barahma) sebagai Brahma; karena mengetahui dengan baik tentang Brahma sebagai Brahma, maka ia tidak memikirkan tentang Brahma, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Brahma; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Brahma; ia tidak berpikir ' Brahma milikku', ia tidak gembira dalam Brahma. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Abhassara’ (Brahma Abhassara) sebagai Abhassara; karena mengetahui dengan baik tentang Abhassara sebagai Abhassara, maka ia tidak memikirkan tentang Abhassara, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Abhassara; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Abhassara; ia tidak berpikir ' Abhassara milikku', ia tidak gembira dalam Abhassara. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Subhakinna’ (Brahma Subhakinna) sebagai Subhakinna; karena mengetahui dengan baik tentang Subhakinna sebagai Subhakinna, maka ia tidak memikirkan tentang Subhakinna, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Subhakinna; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Subhakinna; ia tidak berpikir ' Subhakinna milikku', ia tidak gembira dalam Subhakinna. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Vehapphala’ (Brahma Vehapphala) sebagai Vehapphala; karena mengetahui dengan baik tentang Vehapphala sebagai Vehapphala, maka ia tidak memikirkan tentang Vehapphala, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vehapphala; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Vehapphala; ia tidak berpikir ' Vehapphala milikku', ia tidak gembira dalam Vehapphala. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Abhibhu’ (Brahma Asannasatta) sebagai Abhibhu; karena mengetahui dengan baik tentang Abhibhu sebagai Abhibhu, maka ia tidak memikirkan tentang Abhibhu, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Abhibhu; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Abhibhu; ia tidak berpikir ' Abhibhu milikku', ia tidak gembira dalam Abhibhu. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Akasanancayatana’ (?) sebagai Akasanancayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Akasanancayatana sebagai Akasanancayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Akasanancayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akasanancayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Akasanancayatana; ia tidak berpikir ' Akasanancayatana milikku', ia tidak gembira dalam Akasanancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Vinnanancayatana’ (?) sebagai Vinnanancayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Vinnanancayatana sebagai Vinnanancayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Vinnanancayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Vinnanancayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Vinnanancayatana; ia tidak berpikir ' Vinnanancayatana milikku', ia tidak gembira dalam Vinnanancayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Akincannayatana N’evasannanasannayatana’ (?) sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana; karena mengetahui dengan baik tentang Akincannayatana N’evasannanasannayatana sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana, maka ia tidak memikirkan tentang Akincannayatana N’evasannanasannayatana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Akincannayatana N’evasannanasannayatana; ia tidak berpikir'Akincannayatana N’evasannanasannayatana milikku', ia tidak gembira dalam Akincannayatana N’evasannanasannayatana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Dittha’ (Pandangan yang dilihat) sebagai Dittha; karena mengetahui dengan baik tentang Dittha sebagai Dittha, maka ia tidak memikirkan tentang Dittha, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Dittha; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Dittha; ia tidak berpikir ' Dittha milikku', ia tidak gembira dalam Dittha. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Isuta’ (sesuatu yang didengar) sebagai Isuta; karena mengetahui dengan baik tentang Isuta sebagai Isuta, maka ia tidak memikirkan tentang Isuta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Isuta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Isuta; ia tidak berpikir ' Isuta milikku', ia tidak gembira dalam Isuta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘muta’ (sesuatu yang dirasakan) sebagai muta; karena mengetahui dengan baik tentang muta sebagai muta, maka ia tidak memikirkan tentang muta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan muta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai muta; ia tidak berpikir ' muta milikku', ia tidak gembira dalam muta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘vinnata’ (yang diketahui) sebagai vinnata; karena mengetahui dengan baik tentang vinnata sebagai vinnata, maka ia tidak memikirkan tentang vinnata, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan vinnata; ia tidak memikirkan dirinya sebagai vinnata; ia tidak berpikir ' vinnata milikku', ia tidak gembira dalam vinnata. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘lekatta’ (persatuan) sebagai lekatta; karena mengetahui dengan baik tentang lekatta sebagai lekatta, maka ia tidak memikirkan tentang lekatta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan lekatta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai lekatta; ia tidak berpikir ' lekatta milikku', ia tidak gembira dalam lekatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘nanatta’ (perbedaan) sebagai nanatta; karena mengetahui dengan baik tentang nanatta sebagai nanatta, maka ia tidak memikirkan tentang nanatta, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nanatta; ia tidak memikirkan dirinya sebagai nanatta; ia tidak berpikir ' nanatta milikku', ia tidak gembira dalam nanatta. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘sabba’ (iniversal) sebagai sabba; karena mengetahui dengan baik tentang sabba sebagai sabba, maka ia tidak memikirkan tentang sabba, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan sabba; ia tidak memikirkan dirinya sebagai sabba; ia tidak berpikir ' sabba milikku', ia tidak gembira dalam sabba. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, namun Ia mengerti dengan baik tentang ‘Nibbana’ (?) sebagai Nibbana; karena mengetahui dengan baik tentang Nibbana sebagai Nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang Nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Nibbana; ia tidak berpikir ' Nibbana milikku', ia tidak gembira dalam Nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan babwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
4. Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ia tidak gembira dalam pathavi, ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ia tidak gembira dalam pathavi, ia pun mengerti dengan baik tentang 'apo' ia tidak gembira dalam apo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'tejo' ia tidak gembira dalam tejo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'vayo' ia tidak gembira dalam vayo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'butha' ia tidak gembira dalam butha, ia pun mengerti dengan baik tentang 'deva' ia tidak gembira dalam deva, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Pajapati' ia tidak gembira dalam Pajapati, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Brahma' ia tidak gembira dalam Barhma, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Abhassaara' ia tidak gembira dalam Abhassara, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Subbhakinna' ia tidak gembira dalam Subhakinna, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Vehapphala' ia tidak gembira dalam Vehapphala, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Abhibhu' ia tidak gembira dalam AaAbhibhu, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Akasanancayatana' ia tidak gembira dalam Akasanancayatana, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Vinnanancayatana' ia tidak gembira dalam Vinnanancayatana ia pun mengerti dengan baik tentang 'Akincannayatana N’evasannanasannayatana' ia tidak gembira dalam Akincannayatana N'evasannanasannaya-tana, ia pun mengerti dengan baik tentang ' dittha' ia tidak gembira dalam dittha, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Isuta' ia tidak gembira dalam Isuta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'muta' ia tidak gembira dalam 'muta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'vinnata' ia tidak gembira dalam 'vinnata', ia pun mengerti dengan baik tentang 'lekatta' ia tidak gembira dalam ‘lekatta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'nanatta' ia tidak gembira dalam nanatta, ia pun mengerti dengan baik tentang 'sabba' ia tidak gembira dalam sabba, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Nibbana' ia tidak gembira dalam Nibbana'. Mengapa begitu? Karena ia 'tanpa keinginan nafsu' (vitaragatta), sebab telah 'melenyapkan (semua) keinginan nafsu' (khaya ragassa). ia 'tanpa kebencian' (vitadosatta), sebab telah 'melenyapkan (semua) kebencian' (khaya dosassa), ia 'tanpa kebodohan' (vitamohatta), sebab telah melenyapkan (semua) kebodohan' (khaya mohassa).
5. Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telah melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ia tidak gembira dalam pathavi, ia pun mengerti dengan baik tentang 'pathavi' ia tidak gembira dalam pathavi, ia pun mengerti dengan baik tentang 'apo' ia tidak gembira dalam apo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'tejo' ia tidak gembira dalam tejo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'vayo' ia tidak gembira dalam vayo, ia pun mengerti dengan baik tentang 'butha' ia tidak gembira dalam butha, ia pun mengerti dengan baik tentang 'deva' ia tidak gembira dalam deva, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Pajapati' ia tidak gembira dalam Pajapati, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Brahma' ia tidak gembira dalam Barhma, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Abhassaara' ia tidak gembira dalam Abhassara, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Subbhakinna' ia tidak gembira dalam Subhakinna, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Vehapphala' ia tidak gembira dalam Vehapphala, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Abhibhu' ia tidak gembira dalam AaAbhibhu, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Akasanancayatana' ia tidak gembira dalam Akasanancayatana, ia pun mengerti dengan baik tentang ' Vinnanancayatana' ia tidak gembira dalam Vinnanancayatana ia pun mengerti dengan baik tentang 'Akincannayatana N’evasannanasannayatana' ia tidak gembira dalam Akincannayatana N'evasannanasannaya-tana, ia pun mengerti dengan baik tentang ' dittha' ia tidak gembira dalam dittha, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Isuta' ia tidak gembira dalam Isuta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'muta' ia tidak gembira dalam 'muta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'vinnata' ia tidak gembira dalam 'vinnata', ia pun mengerti dengan baik tentang 'lekatta' ia tidak gembira dalam ‘lekatta', ia pun mengerti dengan baik tentang 'nanatta' ia tidak gembira dalam nanatta, ia pun mengerti dengan baik tentang 'sabba' ia tidak gembira dalam sabba, ia pun mengerti dengan baik tentang 'Nibbana' ia tidak gembira dalam Nibbana'. Mengapa begitu? Karena hal itu telah dimengerti dengan baik oleh Tathagata.
6. Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang 'pathavi' sebagai pathavi; karena mengerti dengan baik mengenai pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir 'pathavi milikku', ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Karena ia telah mengetahui dengan baik bahwa 'kenikmatan (nandi) dasarnya adalah pada dukkha', mengetahui bahwa karena adanya 'menjadi' (bhava) maka terjadilah 'kelahiran' (jati), maka muncullah 'usia tua dan kematian' (jaramarana) makhluk. Para bhikkhu itulah sebabnya maka saya nyatakan bahwa Tathagata karena telah melenyapkan, terbebas dan 'melenyapkan semua keinginan' (tanha khaya) dan 'tanpa nafsu' (viraga), sempurna kesadarannya dengan mencapai 'penerangan agung tertinggi' (anuttaram sammasambodhi).
Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang 'apo', 'tejo', 'vayo', 'butha', 'deva', 'Pajapati', ‘Brahma’, ‘Abhassara’, Subhakinna’, ‘Vehapphala’, ‘Abhibhu’, ‘Akasanancayatana’, ‘Vinnanancayatana, ‘Akincannayatana N’evasannanasannayatana,’ 'dittha', Isuta', 'muta, 'vinnata', ‘lekatta’, ‘nanatta’, ‘sabba’ , Nibbana' ia tidak gembira dalam 'apo', 'tejo', 'vayo', 'butha', 'deva', 'Pajapati', ‘Brahma’, ‘Abhassara’, Subhakinna’, ‘Vehapphala’, ‘Abhibhu’, ‘Akasanancayatana’, ‘Vinnanancayatana, ‘Akincannayatana N’evasannanasannayatana,’ 'dittha', Isuta', 'muta, 'vinnata', ‘lekatta’, ‘nanatta’, ‘sabba’ , Nibbana'. Para bhikkhu itulah sebabnya maka saya nyatakan bahwa Tathagata karena telah melenyapkan, terbebas dan melenyapkan semua keinginan dan tanpa nafsu sempurna kesadarannya dengan mencapai penerangan agung tertinggi.
Itulah yang diuraikan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu senang dan gembira pada apa yang dikatakan Sang Bhagava.
MARASACCAKA SUTTA
36
1 Demikianlahyangsayadengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang menginap di Kutagarasala, Mahavana, Vesali.
2. Ketika hari masih pagi, setelah Sang Bhagava selesai berpakaian dan mengambil patta sertajubah luar (civara), beliau akan pergi ke Vesali untuk pindapata.
3. Pada saat itu Saccaka Niganthaputta sedang cankamana (berjalan mondar-mandir melakukan latihan), ia pergi ke Kutagarasala, Mahavana. Bhikkhu Ananda melihat dia datang dari jauh. Ketika beliau melihatnya, beliau berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, Saccaka Niganthaputta sedang ke sini, ia adalah seorang pedebat, seorang pembicara yang pandai dan dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci. Ia ingin mencela Sang Buddha. Dhamma dan Sangha. Lebih baik apabila yang Bhagava mau duduk sebentar demi kasih sayang".Sang Bhagava duduk di tempat duduk yang ada. Kemudian Saccaka Niganthaputta pergi menemui beliau, saling memberikan salam, setelah kata-kata pembuka yang penuh hormat serta lemah lembut itu dilakukan, ia duduk ditempat duduk yang tersedia. Setelah dududk ia berkata Sang Bhagava:
4. 'Guru Gotama, ada beberapa petapa dan brahmana yang melibatkan diri untuk mengejar praktik pengembangan jasmani tanpa mengembangkan pikiran. Mereka itu tersentuh oleh perasaan sakit jasmani menjadi lumpuh dipaha atau jantung meledak atau darah panas menyembur keluar dari mulutnya atau ia'menjadi gila, hilang kesadarannya. Begitulah karena pikiran tunduk pada jasmaninya dan membiarkan jasmani menguasainya. Mengapa? Sebab pikiran tidak dikembangkan. Tetapi ada pula beberapa petapa dan brahmana yang terlibat dalam mengejar mengembangkan pikiran tanpa mengembangkan jasmani.
Mereka itu tersentuh oleh perasaan sakit dari mentalnya, juga menjadi lumpuh pada pahanya ataujantungnya meledak, darah segar menyembur keluar dari mulutnya atau ia menjadi gila, hilang kesadarannya. Begitulah karena jasmani tunduk pada pikiran, membiarkan pikiran menguasainya. Mengapa? Sebab jasmani itu tidak dikembangkan. Guru Gotama, saya berpendapat bahwa sudah pasti siswa-siswa Guru Gotama adalah mengutamakan mengembangkan pikiran tanpa mengembangkan jasmani?.
5--"Aggivessana, tetapi bagaimana cara mengembangkan jasmani kamu pelajari?"
"Ada contohnya, yaitu: Nanda Vaccha, Kisa Sankicca, Makkhali Gosala. Mereka itu berjalan dengan telanjang, mereka menolak kaidah-kaidah peraturan, menjilati tangan-tangan mereka, tidak mau memenuhi undangan, tidak berhenti apabila diminta, mereka tidak apapun yang dibawa (kepadanya), atau sesuatu yang khusus dibuat (untuk dirinya), atau suatu undangan: mereka tidak akan menerima segala sesuatu yang dikeluarkan dari panci, dari mangkok, melewati daun pintu, melewati tongkat, melewati alu (alat penumbuk), dari dua orang makan bersama, dari seorang wanita dengan anak, dari wanita menyusui, dari (dimana) seorang wanita sedang merebahkan diri dengan seorang laki-laki, dari makanan yang telah diumumkan untuk dibagibagikan, dari tempat dimana seekor anjing sedang menunggu, darimana lalat-lalat sedang beterbangan: mereka tidak menerima ikan atau daging, mereka tidak minum anggur, arak atau minuman yang diragikan. Mereka menerima makanan hanya dari satu rumah untuk sesuap nasi: mereka menerima makanan hanya dari dua rumah untuk dua suap nasi .... tujuh rumah untuk tujuh suap nasi. Mereka hidup hanya dengan sepiring, dengan dua piring ... tujuh piring sehari. Mereka hanya makan satu kali sehari, satu kali dalam dua hari .... satu kaii dalam tujuh hari; dan sedemikian selanjutnya hingga satu kali dalam empat belas hari, mereka berkelana mengabdikan diri kepada praktik semacam itu tentang mengambil makanan pada waktu-waktu yang telah dikemukakan itu".
6--"Aggivessana, tetapi apakah mereka itu., selalu hidup atas dasar hal itu?" 'Tidak,Guru Gotama, kadang-kadang mereka mengunyah makanan keras yang baik, makanan-makanan baik yang lembut, mencicipi cemilan-cemilan enak, minum-minuman enak. Dengan itu mereka mendapat kekuatan, pertumbuhan dan lemak'.
Agivessana, apa yang dahulu mereka tinggalkan, mereka mengumpulkannya kembali. Itulah mengapa terdapat pengumpulan dan pembuangan dari badan ini. Sekarang bagaimana pengembangan pikiran yang telah kamu pelajari?'. Ketika Saccaka Niganthaputta ditanya oleh Sang Bhagava tentang pengembangan pikiran, ia tidak dapat menjawabnya.
7. Kemudian Sang Bhagava berkata kepadanya: "Aggivessana, apa yang baru saja kamu bicarakan sebagai pengembanganjasmani, adalah bukan pengembangan jasmani sesuai dengan Dhamma dan Vinaya Ariya. Sedangkan pengembangan jasmani kamu tidak tahu, apalagi tentang pengembangan pikiran itu! Namun demikian, dengarkan bagaimana seseorang tidak mengembangkan jasmani dan tidak mengembangkan pikiran, juga bagaimana ia mengembangkan jasmani dan pikiran, perhatikan baik-baik apa yang akan saya katakan".
"Baiklah. Bhante," jawab Saccaka Niganthaputta. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:
"Bagaimana seseorang tidak mengembangkan jasmani serta tidak mengembangkan pikiran? Aggivessana, dalam hal ini perasaan menyenangkan timbul dalam di dalam diri seorang awam Yang tidak diajar sebagaimana orang-orang biasa pada umumnya. itu, ia bernafsu terhadap perasaan Disentuh oleh Pcrasaan menyenangkan menyenangkan tersebut, ia tetap saja bernafsu terhadap perasaan menyenangkan itu. Perasaan menyenangkan itu berhenti, dengan berhentinya perasaan menyenangkan itu maka timbullah perasaan menyakitkan (dikemudian hari). Disentuh oleh perasaan menyakitkan itu maka ia berduka, sedih, meratapi, memukul-mukul dadanya, ia menangis dan meniadi Putus asa. Ketika perasaan menyenangkan itu timbul padanya, perasaan itu masuk dalam pikiran dan tinggal disana karena badan jasmaninya tidak dikembangkan. Dalam hal ini, setiap yang dalam cara atau gaya ganda ini, perasaan menyenangkan timbul dan masuk dalam pikiran serta tinggal di sana karena badan jasmani itu tidak dikembangkan; perasaan menyakitkan timbul dan masuk dalam pikiran serta tinggal di sana sebab pikiran itu tidak dikembangkan. Beginilah jasmani yang tidak dikembangkan dan pikiran yang tidak dikembangkan.
9-- Bagaimana sescorang mengembangkan jasmani dan pikiran? menyenangkan timbul pada ariya Aggivessana, dalam hal ini perasaan savaka yang terpelajar dengan baiknya. Disentuh oleh perasaan menyenangkan itu, ia tidak bernafsu terhadap perasaan menyenangkan itu, ia tidak tetap mempertahankan nafsunya terhadap perasaan menyenangkan itu. Perasaan menyenangkannya itu berhenti. Karena perasaan menyenangkan berhenti, maka timbullah perasaan menyakitkan, ia tidak berduka, tidak bersedih atau meratapinya, ia tidak memukuli dirinya, tidak menangis dan tidak putus asa. Ketika perasaan menyenangkan itu timbul Padanya, perasaan menyenangkan itu tidak masuk dalam pikiran dan tidak tetap tinggal di sana sebab badan jasmaninya telah dikembangkan. Ketika perasaan menyakitkan itu timbul padanya, perasaan menyakitkan tidak masuk dalam pikiran dan ganda ini, perasaan menyenangkan tsiedtiaakptionrgagnaglddeinsgaannacserbaabatpaiukigraayn telah dikembangkan. Dalain hal ini, timbul tidak masuk dalain pikiran dan tidak tinggal di sana sebab badan jasmani telah dikembangkan, dan perasaan menyakitkan timbul dan tidak masuk dalam pikiran Saya serta tinggal di sana".
10-- `Saya mempunyai kepercayaan kepada Guru Gotama demikian: "Beliau telah mengembangkan jasmani dan pikiran".
"Aggivessana, sudah tentu kata-kata yang telah kamu ucapkan itu adalah pernyataan pribadi. Namun begitu Saya akan menjawabmu. Sejak aku mencukur rwnbut dan jenggot, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa, maka tidak mungkin perasaan menyenangkan muncul dan masuk dalam pikiran yang telah dikembangkan.
Apakah barangkali tidak pemah timbul di dalam diri Guru Gotama suatu perasaan begitu menyenangkan yang dapat masuk dalam pikiran serta tetap tinggal di sana? Apakah tidak pernah timbul di dalam diri Guru Gotama suatu perasaan yang begitu menyakitkan sehingga masuk dalain pikiran dan tetap tinggal di sana?"
"Aggivessana, mengapa tidak? Sekarang, sebelum aku mencapai Penerangan Sempuma, ketika aku masih sebagai Bodhisatva yang belum mencapai penerangan sempuma itu, saya berpikir: "Hidup berumah tangga itu adalah tidak leluasa dan merupakan tempat yang kotor; hidup itu berjalan terus menerus tak henti. Adalah tidak mungkin sementara masih hidup berumah tangga dan menjalani hidup suci yang sempurna dan mumi seperti kerang yang digosok. Seandai aku mencukur rambut dan jenggotku, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa?"
13-16-- Selanjutnya, ketika masih muda, sebagai seorang anak laki laki dengan rambut hitam kelam, yang diliputi keremajaan, pada phase pertama dari kehidupan ... walaupun ayah dan ibu ... (dan seterusnya seperti di dalam M.26 para. 14-17 hingga) ... di sana terdapat sebidang tanah yang cocok, ada tainan yang menyenangkan, ada sungai jernih yang mengalir dengan tepinya yang bagus dan didekatnya ada dusun sebagai tempat pindapata. Semua ini menyediakan sarana usaha bagi orang yang mau berusaha. Saya duduk di sana dan berpikir: "Ini akan menjadi sarana untuk usaha".
17-- "Sekarang, tiga perumpamaan muncul padaku secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalnya, ada sepotong kayu basah, lapuk terletak di dalam air, dan seseorang datang dengan membawa kayu-api, sambil berpikir: 'aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas. 'Bagaimana pendapatmu Aggivessana, apakah orang itu akan (dapat) menyalakan api dan menghasilkan panas dengan membenamkan kayu-api yang ia bawa itu dan digosokgosokan pada kayu lapuk basah tersebut, yakni kayu yang terletak di dalam air itu?"
"Tidak, Guru Gotama. Mengapa? sebab kayu itu basah, lapuk dan disamping itu pula, terletak di dalam air. Oleh karena itu orang tersebut akan memetik hasil kelelahan serta kekecewaan".
"Demikianlah. Aggivessana, sementara seorang petapa dan brahmana yang hidup dengan jasmani dan mental mereka belum menghindar dari keinginan indera, juga sementara nafsu-nafsunya, cinta kasih, kasih sayang, haus dan demam terhadap kesenangan indera belum ditinggalkannya dengan tuntas, makajikalau petapa maupun brahmana merasakan sakit. Tersiksa, perasaan yang menusuk, ia tidak mampu mendapat pengetahuan (nana), pandangan (dassana) dan penerangan sempuma itu. Sama pulajikalau seorang petapa maupun brahmana yang baik merasakan rasa sakit, tersiksa maupun rasa sakit hingga menusuk yang disebabkan oleh usahanya, ia tidak mampu mendapatkan pengetahuan dan penglihatan dan penerangan sempuma. Ini adalah persamaan pertama yang terjadi padaku, belum pernah mendengar sebelumnya.
18-- Begitu pula, umpamanya ada sepotong kayu yang basah dan lapuk tergeletak diatas tanah keringjauh dari air dan seseorang datang dengan membawa tongkat kayu-api, dan berpikir: "aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas. 'Aggivessana, bagaimana pendapatmu, apakah orang itu akan dapat menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosok-gosokkan kayu-api itu pada sebatang kay' u yang basah serta lapuk itu. Walaupun kayu terletak di tanah kering j auh dari air?" "Tidak Guru Gotama. Mengapa? Sebab kayu itu basah, lapuk, walaupun terletak di tanah kering yang jauh dari air. Olch karena itu orang tersebut akan memetik hasil yang melelahkan dan mengecewakan".
"Aggivessana, demikianlah sementara seorang petapa dan brahmana masih saja hidup hanya meninggalkan pemuasan nafsu inderajasmaniah; sedangkan nafsu-nafsunya, cinta kasih, nafsu kerasnya, haus dan demam untuk keinginan-keinginan indera tidak sepenuhnya ditinggalkan serta ditenangkan di dalam dirinya, sekalipun jikalau seorang petapa dan brahmana merasakan sakit, tersiksa dan tertusuk oleh perasaan-perasaan yang disebabkan oleh usaha kerasnya itu, ia tidak akan mampu mendapat pengetahuan, pandangan dan penerangan sempurna.
Demikian pula jikalau petapa maupun brahmana yang baik tidak merasakan sakit, tersiksa, perasaan-perasaan yang menusuk yang disebabkan karena keinginan atau usaha kerasnya itu, ia tidak akan mampu mendapat pengetahuan, pandangan dan penerangan sempuma. Ini adalah perumpamaan kedua yang muncul pada- Ku secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya.
19-- Sekali lagi, umpainanya ada sepotong kayu yang tidak bergetah atau yang kering terletak diatas tanah yang kering jauh dari air, Ialu ada orang datang dengan sepotong kayu-api, sambil berpikir: "Aku akan menyalakan api, aku akan membuat panas".
Aggivessana, bagaimana pendapatmu: 'Apakah orang itu akan bisa menyalakan api itu pada sebatang kayu kering, tanpa getah yang terletak di atas tanah keringjauh dari air'.
"Ya, Guru Gotaina. Mengapa? Sebab kayu itu adalah kering, tanpa getah disamping itu, kayu itu tergeletak di atas tanah kering jauh dari air!"
"Aggivessana, demikianlah sementara seorang petapa dan brahmana yang baik dengan jasmani serta mentalnya meninggalkan keinginankeinginannya, kasih sayangnya, nafsunya, haus dan demam untuk keinginan-keinginan indera telah sama sekali ditinggalkan dan ditenangkan dalam dirinya, kemudian, sekalipun jika kalau seorang petapa maupun brahmhna merasakan rasa sakit, rasa menyiksa, rasa menusuk disebabkan karena keinginan atau usaha-usahanya itu, ia mampu mendapat pengetahuan, pandangan dan penerangan sempurna agung. Sekalipun apabila scorang pendeta baik atau orang suci tidak merasakan rasa menyakitkan, rasa menyiksa, rasa yang menusuk-nusuk disebabkan karena usahanya itu, ia m'ainpu mendapat pengetahuan, pandangan dan penerangan sempurna. Inilah tiga perumpainaan yang terjadi padaku secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya".
20-- Aku berpikir: "Seandainya dengan gigi-gigiku tertutup rapat dan lidahku ditekan kuat-kuat pada langit-langit mulut, aku mengalahkan, memaksa dan menghancurkan pikiran dengan pikiran?" Oleh karena itu, dengan gigi tertutup rapat dan lidah tertekan pada langit-langit mulut, aku mengalahkan, memaksa dan menghancurkan pikiran dengan pik.iran. Sementara aku ' berbuat demikian, keringat mengalir dari ketiakku. Sama seperti halnya seorang kuat akan menangkap orang yang lebih lemah pada kepalanya atau pada pundaknya dan mengalahkannya, memaksa serta menghancurkannya; demikian juga, sementara gigi-gigiku tertutup rapat dan lidah ku tertekan pada langit-langit mulut, aku mengalahkan, memaksa dan menghancurkan, pikiran dengan pikiran, keringat mengalir dari ketiakku. Tetapi walaupun semangat yang tiada habis-habisnya itu telah timbul dalam diriku dan kesadaran yang tidak dapat dibatalkan kembali telah dibentuk, namun tubuhku telah dipaksakan dan tidak tenang, saya kelelahan disebabkan aku oleh usaha yang menyakitkan itu. Tetapi perasaan menyakitkan yang tedadi pada diriku seperti itu, tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana".
21-- Aku berpikir: "Seandainya aku melatih meditasi tanpa bemafas?" Maka saya menghentikan nafas masuk dan nafas keluar dari mulut dan hidungku. Sementara aku berbuat demikian, terjadilah suara yang amat keras oleh angin yang datang dari lubang-lubang telingaku. Sama seperti adanya suara keras dari teriakan seseorang, demikianjuga halnya, ketika 25. aku menghentikan nafas masuk dan nafas kcluar dari mulut dan dari hidungku, tedadilah suara keras dari angin yang datang dari lubang telingaku. Tetapi walaupun semangat yang tiada habis-habisnya telah timbul di dalam diriku perasaan menyaldtkan tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana.
22-- Aku berpikir: "Seandainya aku mempraktikkan lebih lanjut meditasi tanpa bemafas?" Oich karena itu aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar dari mulut dan dari hidungku serta telingaku. Sementara aku berbuat demikian, angin mengganggu kepalaku. Sama seperti halnya ada orang kuat sedang membelah kepalaku pecah dengan pedang tajam, demikian juga, ketika aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar di dalam mulutku, hidung dan telinga, angin dahsyat mengganggu kepalaku. Tetapi walaupun semangat yang tanpa habis-habisnya telah timbul di dalam diriku perasaan menyakitkan tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana. Aku berpikir: "Seandainya lebih lanjut saya mempraktikkan meditasi tanpa bemafas?" Oleh sebab itu aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar di dalam mulutku, hidung dan telinga. Sementara aku berbuat demikian,tedadilah rasa sakit nan dahsyat di dalain kepalaku. Sama seperti halnya seseorang yang kuat sedang mengikat erat-erat ikat pinggang kulit dikepalaku, demikianjuga ketika aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar di dalam mulutku, hidung dan telinga, terjadi rasa sakit yang luar biasa dalam kepalaku itu. Tetapi walaupun semangat yang tanpa habis-habisnya telah timbul didalain diriku perasaan menyakitkan tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana.
Aku berpikir: "Seandainya aku melatih meditasi lebih lanjut tanpa bemafas?" Oleh karetia itu aku berhenti menarik dan mengeluarkan nafas di dalain mulutku, hidung dan telinga. Sementara saya berbuat demikian, angin dahsyat mengukir-ukir di dalain perutku. Tepat seperti seorang panjagal pandai atau anak buahn ya mengores-gores isi perut lembu tajam dengan pisau tajam, demiikian juga, ketika aku berhenti menarik dan mengeluarkan nafas di dalam mulut, hidung dan telinga, angin dahsyat menyayat-nyayat perutku. Tetapi walaupun energi yang tiada habis-habisnya itu di bangkitkan di dalam diriku .... perasaan menyakitkan tidak menjajah pikiranku dan tinggal di sana dewa melihat diriku, mereka berkata: "Samana Gotama telah mati". Dewa-dewa lain berkata: "Samana Gotaina tidak mati, ia hainpir mati". Para dewa yang lain berkata: "Sainana Gotama itu tidak mati dan bukan dalain keadaan mau mati; ia seorang Arahat. inilah c;ara para Arahat".
26-- Aku berpikir: "Seandainya aku sama sekali tidak makan?" Kemudian datanglah para dewa kepadaku dan berkata: "Saudara yang baik, janganlah tidak makan sama sekali.
Apabila kamu berbuat demikian, kita akan memasukkan makanan surgawi melalui pori-porimu dan kamu akan hidup atas makanan surgawi itu". Aku berpikir: "Jika aku memaksa untuk berpuasa total dan para dewa ini memasukkan makanan surgawi melalui pori-poriku dan saya hidup atas dasar itu, maka aku akan berbohong". Maka saya menolak para dewa itu: "Tidak perlu".
27. Aku berpikir: "Seandainya aku hanya makan sedikit saja, katakanlah, setiap kali satu kepal, apakah makan itu adalah sop kacang atau sop miju-miju atau sop kacang-kacangan dan lain-lain. Ketika aku berbuat demikian, badanku menjadi kurus kering luar biasa. Disebabkan karena makan begitu sedikitnya tulang-tulangku menjadi semacam sambungan dari batang tumbuh-tumbuhan atau seperti sambungan bambu-bambu. Disebabkan karena makan begitu sedikit punggungku menjadi melengkung bagaikan pungguk onta. Disebabkan karena makan begitu sedikit sehingga penampilan dari tulang-tulang belakangku mirip dengan manik-manik yang diikat dengan tali. Disebabkan makan begitu sedikit tulang-tulang igaku menonjol keluar bagaikan kayu kaso dari sebuah gudang yang tidak mempunyai atap. Disebabkan karena makan begitu sedikit cahaya dari sinar mataku tenggelam jauh ke bawah masuk ke dalam kelopaknya seperti pancaran air yang tenggelain jauh ke dalam sumur yang amat dalam. Disebabkan karena makan begitu sedikit kulit kepalaku mengkerut dan layu bagaikan buah labu hijau yang mengkerut dan layu terkena angin dan matahari. Disebabkan makan begitu sedikitnya, apabila aku menyentuh kulit perutku, aku dapat menyentuh tulang belakangku akujuga menyentuh kulit perutku. Disebabkan makan begitu sedikitnya, apabila aku membuang air kecil atau air besar, aku jatuh terjungkal di atas mukaku di sana. Disebabkan makan begitu sedikitnya, apabila aku mencoba untuk mengusap tubuhku tercabut sampai keakar-akamya, berjatuhan dari tubuhku ketika saya mengusap.
28. Pada waktu itu apabila orang-orang melihat diriku seperti itu, mereka berkata: "Samana Gotama adalah seorang hitam". Orang -orang lain berkata: "Samana Gotama adalah bukan orang hitam, ia adalah orang coklat". Orang lain pula berkata: "Samana Gotama adalah bukan orang hitam maupun pula bukan orang coklat, tetapi ia adalah orang kulit cerah". Begitu banyaknya warna kulitku yang biasanya terang, cerah menjadi rusak tidak karuan karena makan begitu sedikitnya. Aku berpikir: "Apabila seorang petapa atau brahmana merasakan rasa sakit, bergetar, menu@uk dikarenakan keinginan kerasnya, rasa itu dapat menyamai keadaanku ini tetapi tidak dapat melampauinya. Kapanpun seorang peta'pa atau brahmana pada waktu yang akan datang akan merasakan sakit, bergetar dan perasaan menusuk yang amat tajam disebabkan keinginan-keinginan kerasnya. Keadaan itu dapat menyamai perasaanku itu tapi bukan melebihinya. Kapanpun seorang petapa atau brahmana pada waktu sekarang merasakan sakit, bergetar atau perasaan yang menusuk disebabkan karena keinginan kerasnya, keadaan sakit itu bisa menyamai perasaanku itu namun tidak melebihinya. Tetapi dengan melaksanakan hal yang amat menyakitkan ini saya mencapai tingkat yang tidak beda dengan keadaan manusia biasa yang belum mencapai p engetahuan dan pandangan ariya. Apakah masih ada jalan lain untuk pencapaian penerangan sempurna?.
'Aku berpikir: "Ketika ayahku Sakya sedang sibuk, ketika aku sedang duduk di bawah rindangnya pohon apel-jingga Gambuddhaya), jauh dari pemuasan nafsu indera, jauh dari akusala dhamma, saya memiliki pengetahuan mencapai dan berada dalam Jhana I dengan memiliki vitakka, vicara, piti yang dihasilkan oleh ketenangan. Apakah jalan ini mencapai penerangan sempurna? "Kemudian, ingatan berikut muncul dan mengenal: "Inilah jalan pencapaian Penerangan Sempurna".
Aku berpikir: "Mengapa aku takut pada kesenangan? Itu adalah kesenangan yang tidak ada hubungannya dengan keinginan-keinginan indera-indera dan akusala dhamma. Aku berpikir: "Saya tidak takut terhadap kesenangan-kesenangan itu, karena kesenangan-kesenangan itu tidak ada hubungannya dengan keinginan-keinginan indera dan akusala dhamma. Aku berpikir: "Adalah tidak mungkin niencapai kesenangan semacam itu dengan badan yang sangat kurus. Seandainya aku makan sedikit makanan padat sedikit nasi dan roti? Saya makan sedikit makanan padat - sedikit nasi dan roti, tetapi pada waktu itu ada lima bhikkhu yang sedang menemani saya, sambil berpikir: "Apabila Samana Gotama mencapai suatu kemajuan ia akan memberitahukan kepada kita". Segera setelah aku makan nasi dan roti, kelima bhikkhu menjadi muak dan meninggalkan aku (sambil berpikir): "Samana Gotama telah berbalik menjadi memuaskan diri sendiri, ia telah meninggalkan usaha dan hidup mewah".
33. Ketika saya telah makan makanan padat dan menemukan kembali kekuatanku, karena jauh dari pemuasan nafsu indera dan akusala dhanuna saya mencapai dan berada dalam Jhana I yang disertai oleh vitakka, vicara dan piti yang muncul karena ketenangan. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul adalah tidak masuk ke dalain pikiranku dan tinggal di sana.
34. Dengan vitakka dan vicara lenyap, saya mencapai dan berada dalam Jhana II ....
35--Dengan piti lenyap Jhana III Tetapi perasaan menye-nangkan yang muncul itu tidak masuk ke dalam pikiranku dan tidak tinggal di sana.
36. Dengan melenyapkan kebahagiaan (sukha) dan ketidak senangan (dhultkha), saya mencapai dan berada dalam Jhana IV. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul itu tidak masuk, ke dalam pikiranku dan tidak tinggal di sana.
37. Ketika pikiranku yang terkonsentrasi menjadi murni, jemih, tanpa cacat, ketidak sempurnaan lenyap, menjadi tak tertundukkan, kuat, mantap, mencapai keadaan yang tidak dapat diganggu, saya mengarahkan pikiranku kepada pengetahuan mengingat kehidupan pada masa yang lampau (pubbenivasanussatinana) .... (seperti dalam M.4.27) jadi dengan rinci dan khusus saya mengingat banyaknya kehidupanku pada masa yang lampau itu.
38. Ini adalah pengetahuan benar pertama bagiku yang saya capai pada masa pertama di malam hari. Kebodohan telah dimusnahkan dan pengetahuan sejati timbul; kegelapan telah dilenyapkan dan cahaya terang timbul; seperti (yang tedadi) pada orang yang menyenangkan yang muncul itu tidak masuk dalain pikiranku dan tidak tinggal di sana.
39. Ketika pikiranku yang terkonsentrasi menjadi mumi, jemih ... saya mengarahkan pikiranku kepada meninggal dan terlahir kembali makhluk-makhluk .... (seperti di dalam M.4.29) .... jadi dengan mata dewa (dibba cakkhu), yang telah dimurnikan dan melampaui kemampuan mata manusia biasa. Saya melihat bagaimana makhlukmakhluk itu mati sesuai dengan kamma-kamma mereka.
40. Ini adalah pengetahuan benar kedua yang telah saya capai pada masa kedua di malam hari. Kebodohan telah dilenyapkan dan timbullah pengetahuan sejati; kegelapan telah dilenyapkan dan terang telah timbul; seperti yang terjadi pada diri orang yang rajin, tekun dan menguasai diri sendiri. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul itu tidak masuk dalam pikiranku dan tidak tinggal di sana.
41-42. Ketika pikiranku yang terkonsentrasi menjadi murni, jemih
saya mengarahkan pikiranku kepada pengetahuan pemusnahan kekotoran batin noda-noda (asavakkayanana). Saya mempunyai abhinna (pengetahuan batin) 'apa adanya' tentang: "Inilah dukkha seperti dalam M.4.31-32 Tidak ada lagi kehidupan berikut yang akan muncul".
43. Ini adalah pengetahuan benar ketiga yang telah saya capai pada masa ketiga di malam hari. Kebodohan telah dilenyapkan dan kebenaran sejati timbul; kegelapan telah dilenyapkan cahaya terang timbul; seperti tedadi pada diri orang yang rajin, tekun dan menguasai diri sendiri. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul itu tidak masuk dalain pikiran dan tidak tinggal di sana.
44. Saya mempunyai pengetahuan langsung untuk mengajarkan Dhamma kepada sekumpulan orang yang terdiri dari beberapa ratus orang. Barangkali seseorang atau orang lain telah membayangkan: "Samana Gotama sedang mengajarkan Dhamma kepadaku". Tetapi hal itu harap jangan menganggap bahwa Tathagata mengajarkan Dhamma kepada orang-grang hanya untuk memberikan pengetahuan kepada mercka., Ketika pembicaraan telah selesai, maka selapjutnya saya memusatkan pikiranku ke dalam diriku sendiri, menenangkannya, memusatkannya pada obyek yang s,ama seperti pada pemusatan pikiran yang Ialu, yang selalu saya hayati. Itu dapat dipercaya (sebagai suatu pemyataan) dari Samana Gotama karena ia adalah Arahat Samana Sambuddha. Tetapi barangkali Samana Gotama mempunyai abhinna tentang tidur di siang hari?
45. "Aggivessana, di akhir bulan pada musim panas setelah kembali dari pindapata dan setelah makan, saya mempunyai pengetahuan melipat jubah (sanghati) saya empat kali, membaringkan tubuh pada sisi kanan, tertidur dengan penuh perhatian dan sadar".
"Beberapa petapa dan brahmana menamakan itu sebagai cara orang bodoh, Guru Gotama".
46. "Itu adalah bukan bagaimana seseorang bodoh atau tidak bodoh , ditipu. Dengarkan dengan penuh perhatian apa yang akan saya katakan tentang bagaimana seseorang itu bodoh atau tidak bodoh. "Baiklah". jawab Saccaka Niganthaputta. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:
47. "Ia saya sebut bodoh karena dirinya dikotori noda-noda batin, menghasilkan kelahiran baru, menyebabkan kesusahan, matang dalam penderitaan, mengarah pada kelahiran diwaktu yang akan datang, menjadi tua dan kematian adalah tidak dapat dihindari; di karenakan tidak adanya penghindaran dari noda-noda, itulah yang dinamakan orang bodoh. Ia saya namakan tidak bodoh, karena dirinya tidak dikotori oleh noda-noda batin yang menyebabkan kelahiran baru, menyebabkan kesusahan, matang dalam penderitaan, mengarah pada kelahiran diwaktu yang akan datang, menjadi tua dan mati, telah ditinggalkan; dikarenakan dengan meninggalkan noda-noda batin, maka seseorang itu adalah tidak bodoh. Dalam diri Tathagata, noda-noda semacam itu yang menyebabkan kelahiran baru, seperti memberikan kesusahan, seperti menjadi matang di dalam penderitaan, mengarah pada kelahiran kembali diwaktu yang akan datang, menjadi tua dan kematian, telah ditinggalkan, dipotong pada akarnya, dibuat seperti batang pohon palem, dibuat sedemikian rupa sehingga naluri untuk tumbuh kembali diwaktu yang akan datang sudah tidak ada lagi. Sama seperti pohon palem yang ujungnya dipotong sehingga tidak bisa lagi tumbuh: demikianjuga dalam diri Tathagata noda-noda yang mengotori. Yang menyebabkan kelahiran baru, memberikan kesusahan, matang dalam penderitaan dan mengarah pada kelahiran yang akan datang, menjadi tua dan kematian, telah ditinggalkan, dipotong hingga akarnya, dibuat seperti batang pohon palem, dibuat sedemikian rupa sehingga kemampuan untuk tumbuh lagi adalah suatu tidak mungkin".
48. Ketika hal ini telah dikatakan, Saccaka Nigantaputta berkata: "Mengagumkan, Guru Gotama, bagus sekali, bagaimana, ketika Guru Gotama memiliki kata-kata pribadi yang ditujukan berkali-kali kepada dirinya sendiri, wama kulitnya menjadi cemerlang, dan wama kulit muka menjadi jelas, seperti (yang diharapkan) di dalam diri seorang Arahat Sainma Sambuddha. Aku telah memiliki pengalaman berdebat dengan Purana Kassapa, ia memutar balikkan pembicaraan, membiarkan pembicaraan menyimpang, menunjukkan amanah, benci dan kebengisan. Namun ketika Guru Gotama menyatakan kata-kata yang bersifat pribadi yang ditujukan berkali-kali kepada dirinya sendiri, wama kulit beliau menjadi cerah dan warna muka-Nya menjadi terang, seperti (yang diharapkan) di dalam diri seorang Arahat dan mencapai Penerangan Sempurna. Aku mempunyai pengalaman berdebat dengan Makkhali Gossala .... Ajita Kesakambali Kakuddha Kaccayana........ Sanjaya Belatthiputta....... Nigantha Nataputta, ia memutar balikkan pembicaraan, membiarkan pembicaraan beralih, dan menunjukkan amarah, kebencian dan kebengisan. Tetapi ketika Guru Gotama menyatakan kata-kata pribadi yang ditujukan berkali-kali ditujukan kepada diri-Nya sendiri, warna kulit beliau menjadi cerah dan warna kulit muka menjadi terang, seperti (yang diharapkan) di dalam diri seorang Arahat dan mencapai Penerangan Sempurna. Guru Gotama, sekarang kita berpisah; kami sangat sibuk dan banyak pekerjaan".
"Sekarang adalah waktunya untuk kamu melakukan pekerjaan yang cocok bagimu, Aggivessana".
"Saccaka Niganthaputta menjadi puas, dan sangat senang atas katakata Sang Bhagava, ia bangkit dari duduknya dan pergi".
DRAMMADAYADA SUTTA
(3)
1-- Demikianiah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para Bhikkhu."
"Ya, Bhante,"jawab para bhikkhu. Selanjutnya Sang Buddha berkata:
2-- "Para bhikkhu, jadilah pewarisku dalam Dhamma (Dhammadayada), bukan pewarisku dalam materi. Berdasarkan pada kasih sayang pada anda sekalian saya berpikir: 'Bagaimana para siswaku menjadi pewarisku dalam dhamma, bukan pewaris-ku dalain materi?' Bilamana anda sekalian adalah pewarisku dalam materi, bukan pewarisku dalam Dhamma, anda sekalian akan dicela: 'Para siswa Sang Guru hidup sebagai pewaris dalam materi, bukan sebagai pewaris dalam Dhamma', dan saya akan dicela: 'Para siswa Sang Guru hidup sebagai pewarisnya dalam materi, bukan sebagai pewarisnya dalam Dhamma.’ Bilamana anda sekalian adalah pewarisku dalam Dhamma, bukan pewaris-ku dalam materi, anda sekalian tidak akan dicela: 'Para siswa Sang Guru hidup sebagai pewaris dalam materi, bukan sebagai pewaris dalam Dhamma'; dan saya tidak akan dicela: 'Para siswa Sang Guru hidup sebagai pewarisnya dalam materi, bukan sebagai pewarisnya dalam Dhamma.’ Para bhikkhu, jadilah pewarisku dalam Dhamma, bukan pewarisku dalam materi. Berdasarkan pada kasih sayang untuk anda sekalian saya berpikir: 'Bagaimana para siswaku akan menjadi pewarisku dalam Dhamma, bukan perwarisku dalam materi?"'
3-- "Para bhikkhu, misalnya saya telah makan, tidak makan lagi karena telah kenyang, selesai, telah cukup, sesuai dengan apa yang diperlukan, namun ada makanan sisa yang akan dibuang. Kemudian ada dua orang bhikkhu tiba, lapar dan lemah. Saya berkata kepada mereka: 'Bhikkhu saya telah makan, tidak makan lagi, karena telah kenyang, selesai, telah cukup, sesuai dengan apa yang diperlukan, namun ada makanan sisa yang akan dibuang. Makanlah bila anda mau; bila anda tidak makan, maka saya akan membuangnya ke tempat yang tak berumput atau ke air yang tidak ada binatang'. Kemudian seorang bhikkhu berpikir: 'Sang Bhagava telah makan, tidak makan lagi, karena telah kenyang, selesai, telah cukup, sesuai dengan apa yang diperlukan, namun ada makanan sisa dari Sang Bhagava yang akan dibuang; bila kita tidak memakannya Sang Bhagava akan membuangnya ke tempat yang tak berumput atau ke air yang tidak ada binatang.’ Tetapi Sang Bhgava pernah berkata: 'Para bhikkhu, jadilah pewarisku dalam dhamma, bukan pewarisku dalam materi,' dalam hal ini makanan adalah salah satu materi. Kiranya, lebih baik daripada makan makanan itu, saya akan menghabiskan waktu siang dan malam ini dengan lapar dan lemah.' Namun bhikkhu kedua berpikir: 'Sang Bhagava telah makan tidak makan lagi, karena telah kenyang selesai, telah cukup, sesuai dengan apa yang diperlukan, namun ada sisa makanan dari Sang Bhagava yang akan dibuang, bila kita tidak memakannya Sang Bhagava akan membuangnya ke tempat tak berumput atau ke air yang tidak ada binatang’. Sekiranya saya makan makanan ini, maka saya akan menghabiskan waktu siang dan malam ini dengan tanpa lapar dan tidak lemah.' Setelah makan makanan itu, ia menghabiskan siang dan malam tanpa lapar dan lemah. Walaupun bhikkhu itu makan makanan itu menghabiskan siang dan malam tanpa lapar dan lemah, namun bhikkhu pertama adalah lebih dihormati dan dipuji olehku. Mengapa begitu? Sebab itu akan berlangsung lama bagi keinginannya yang sedikit, puas, mudah dilayani dan bersemangat. Para bhikkhu, jadilah pewarisku dalam Dhamma, bukan pewarisku dalam materi. Berdasarkan pada kasih sayang untuk anda sekalian Saya berpikir: 'Bagaimana para siswaku akan menjadi pewarisku dalam Dhamma, bukan perwarisku dalam materi?"'
4-- Itulah yang dikatakan Sang Bhagava. Setelah mengatakan hal ini, Sang Sugata bangkit dari duduknya dan pergi ke kuti. Segera setelah Beliau pergi, Bhikkhu Sariputta berkata kepada para bhikkhu:
"Avuso, bhikkhu."
“Avuso", jawab mereka.
Bhikkhu Sariputta berkata:
5-- "Para avuso, dengan cara apa para siswa Sang Guru yang hidup menyepi tidak terlatih dalam ketenangan? Dengan cara apa para siswa Sang Guru yang hidup menyepi terlatih dalam ketenangan?"
“Avuso, sesungguhnya kami datang dari jauh untuk belajar dari Bhikkhu Sariputta tetang arti dari penyataan ini. Sangat baik, bilamana Bhikkhu Sariputta akan menerangkan arti dari pernyataan ini. Setelah mendengarnya dari beliau, para bhikkhu akan mengingatnya.”
"Para Avuso, dengarlah dan perhatikanlah apa yang akan saya katakana.
"Avuso, baiklah." jawab para bhikkhu.
Bhikkhu Sariputta berkata:
6-- "Para avuso, dengan cara apa para siswa Sang Guru yang hidup menyepi tidak terlatih dalam ketenangan? Dalam hal ini, para siswa Sang Guru yang hidup menyepi tidak terlatih dalam ketenangan, karena mereka tidak meninggalkan apa yang Sang Guru katakan pada mereka untuk ditinggalkan, mereka hidup mewah, tidak waspada, melakukan kesalahan, tidak menyukai ketenangan.
Dalam hal ini, para bhikkhu thera harus dicela berdasarkan tiga alasan. Sebagai siswa-siswa Sang Guru yang hidup menyepi, mereka tidak terlatih dalam ketenangan, mereka dicela karena alasan pertama ini. Mereka tidak meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan, mereka dicela karena alasan kedua ini. Mereka hidup mewah, tidak waspada, melakukan kesalahan dan pemimpin yang tidak menyukai ketenangan: mereka dicela karena alasan ketiga ini. Para bhikkhu thera dicela karena tiga alasan ini.
Dalam hal ini, para bhikkhu majjhima harus dicela berdasarkan tiga alasan. Sebagai siswa-siswa Sang Guru yang hidup menyepi, mereka tidak terlatih dalam ketenangan, mereka dicela karena alasan pertama ini. Mereka tidak meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan, mereka dicela karena alasan kedua ini. Mereka hidup mewah, tidak waspada, melakukan kesalahan dan tidak menyukai ketenangan, mereka dicela karena alasan ketiga ini. Para bhikkhu Majhima dicela karena tiga alasan ini.
Dalam hal ini, para bhikkhu navaka (baru) harus dicela berdasarkan tiga alasan. Sebagai siswa-siswa Sang Guru yang hidup menyepi, mereka tidak terlatih dalam ketenangan, mereka dicela karena alasan pertama ini. Mereka tidak meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan, mereka dicela karena alasan kedua ini. Mereka hidup mewah, tidak waspada, melakukan kesalahan dan tidak menyukai ketenangan, mereka dicela karena alasan ketiga ini.
Para bhikkhu thera dicela karena tiga alasan ini. Dengan cara ini para siswa Sang Guru yang hidup menyepi tidak terlatih dalam ketenangan."
7-- "Para avuso, dengan cara apa para siswa Sang Guru yang hidup menyepi terlatih dalam ketenangan? Dalam hal ini, para siswa Sang Guru yang hidup menyepi terlatih dalam ketenangan; mereka meninggalkan apa yang Sang Guru katakan pada mereka untuk ditinggalkan; mereka hidup tidak mewah, waspada, menghindari melakukan kesalahan dan menyukai ketenangan.
Dalam hal ini, para bhikkhu thera harus dipuji berdasarkan tiga alasan. Sebagai siswa-siswa Sang Guru yang hidup menyepi, mereka terlatih dalam ketenangan, mereka dipuji karena alasan pertama ini. Mereka meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan, mereka dipuji karena alasan kedua ini. Mereka hidup tidak mewah, waspada, menghindari melakukan kesalahan dan pemimpin yang menyukai ketenangan, mereka dipuji karena alasan ketiga ini. Para bhikkhu thera dipuji karena tiga alasan ini.
Dalam hal ini, para bhikkhu majjhima harus dipuji berdasarkan tiga alasan. Sebagai siswa-siswa Sang Guru yang hidup menyepi, mereka terlatih dalam ketenangan, mereka dipuji karena alasan pertama ini. Mereka meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan, mereka dipuji karena alasan kedua ini. Mereka hidup tidak mewah, waspada, menghindari melakukan kesalahan dan menyukai ketenangan, mereka dipuji karena alasan ketiga ini. Para bhikkhu majjhima dipuji karena tiga alasan ini.
Dalam hal ini, para bhikkhu navaka harus dipuji berdasarkan tiga alasan. Sebagai siswa-siswa Sang Guruyang hidup menyepi, mereka terlatih dalam ketenangan, mereka dipuji karena alas an pertama ini. Mereka meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan, mereka dipuji karena alasan kedua ini. Mereka hidup tidak mewah, waspada, menghindari melakukan kesalahan dan menyukai ketenangan, mereka dipuji karena alasan ketiga ini. Para bhikkhu navaka dipuji karena tiga alasan ini.
Dengan ini cara para siswa Sang Guru yang hidup menyepi terlatih dalam ketenangan."
8-- "Para avuso, dalam hal ini kejahatan adalah keserakahan (lobha) dan kebencian (dosa). Untuk meninggalkan (pahaya) keserakahan dan kebencian adalah dengan Jalan Tengah (Majjhima Patipada), yang menghasilkan penglihatan (cakkhu-karani), pengetahuan (nanakarani), ketenangan (upasamaya), kemampuan batin (abhinnaya), penerangan agung (sambodhaya) dan Nibbana. Apakah Jalan Tengah itu? Jalan Tengah itu adalah: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan meditasi benar. Inilah Jalan Tengah yang menghasilkan penglihatan, pengetahuan, ketenangan, kemampuan batin, penerangan agung dan Nibbana.
9-- "Para avuso, dalam hal ini kejahatan adalah marah dan balas dendam. Untuk meninggalkan (pahaya) marah dan balas dendam adalah dengan Jalan Tengah (Majjhima Patipada), yang menghasilkan penglihatan (cakkhu-karani), pengetahuan (nanakarani), ketenangan (upasamaya), kemampuan batin (abhinnaya), penerangan agung (sambodhaya) dan Nibbana. Apakah Jalan Tengah itu? Jalan Tengah itu adalah: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan meditasi benar. Inilah Jalan Tengah yang menghasilkan penglihatan, pengetahuan, ketenangan, kemampuan batin, penerangan agung dan Nibbana.”
10-- "Para avuso, dalam hal ini kejahatan adalah memandang rendah dan menguasai. Untuk meninggalkan (pahaya) memandang rendah dan menguasai adalah dengan Jalan Tengah (Majjhima Patipada), yang menghasilkan penglihatan (cakkhu-karani), pengetahuan (nanakarani), ketenangan (upasamaya), kemampuan batin (abhinnaya), penerangan agung (sambodhaya) dan Nibbana. Apakah Jalan Tengah itu? Jalan Tengah itu adalah: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan meditasi benar. Inilah Jalan Tengah yang menghasilkan penglihatan, pengetahuan, ketenangan, kemampuan batin, penerangan agung dan Nibbana.”
11-- "Para avuso, dalam hal ini kejahatan adalah iri hati dan dan kikir. Untuk meninggalkan (pahaya) iri hati dan dan kikir adalah dengan Jalan Tengah (Majjhima Patipada), yang menghasilkan penglihatan (cakkhu-karani), pengetahuan (nanakarani), ketenangan (upasamaya), kemampuan batin (abhinnaya), penerangan agung (sambodhaya) dan Nibbana. Apakah Jalan Tengah itu? Jalan Tengah itu adalah: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan meditasi benar. Inilah Jalan Tengah yang menghasilkan penglihatan, pengetahuan, ketenangan, kemampuan batin, penerangan agung dan Nibbana.”
12-- "Para avuso, dalam hal ini kejahatan adalah menipu dan memaksa. Untuk meninggalkan (pahaya) menipu dan memaksa adalah dengan Jalan Tengah (Majjhima Patipada), yang menghasilkan penglihatan (cakkhu-karani), pengetahuan (nanakarani), ketenangan (upasamaya), kemampuan batin (abhinnaya), penerangan agung (sambodhaya) dan Nibbana. Apakah Jalan Tengah itu? Jalan Tengah itu adalah: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan meditasi benar. Inilah Jalan Tengah yang menghasilkan penglihatan, pengetahuan, ketenangan, kemampuan batin, penerangan agung dan Nibbana.”
13-- "Para avuso, dalam hal ini kejahatan adalah keras kepala dan lancang. Untuk meninggalkan (pahaya) keras kepala dan lancang adalah dengan Jalan Tengah (Majjhima Patipada), yang menghasilkan penglihatan (cakkhu-karani), pengetahuan (nanakarani), ketenangan (upasamaya), kemampuan batin (abhinnaya), penerangan agung (sambodhaya) dan Nibbana. Apakah Jalan Tengah itu? Jalan Tengah itu adalah: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan meditasi benar. Inilah Jalan Tengah yang menghasilkan penglihatan, pengetahuan, ketenangan, kemampuan batin, penerangan agung dan Nibbana.
14-- "Para avuso, dalam hal ini kejahatan adalah kesombongan dan kecongkakkan. Untuk meninggalkan (pahaya) kesombongan dan kecongkakkan adalah dengan Jalan Tengah (Majjhima Patipada), yang menghasilkan penglihatan (cakkhu-karani), pengetahuan (nanakarani), ketenangan (upasamaya), kemampuan batin (abhinnaya), penerangan agung (sambodhaya) dan Nibbana. Apakah Jalan Tengah itu? Jalan Tengah itu adalah: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan meditasi benar. Inilah Jalan Tengah yang menghasilkan penglihatan, pengetahuan, ketenangan, kemampuan batin, penerangan agung dan Nibbana.
15-- "Para avuso, dalam hal ini kejahatan adalah kesia-siaan dan kelalaian. Untuk meninggalkan (pahaya) kesia-siaan dan kelalaian adalah dengan Jalan Tengah (Majjhima Patipada), yang menghasilkan penglihatan (cakkhu-karani), pengetahuan (nanakarani), ketenangan (upasamaya), kemampuan batin (abhinnaya), penerangan agung (sambodhaya) dan Nibbana. Apakah Jalan Tengah itu? Jalan Tengah itu adalah: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan meditasi benar. Inilah Jalan Tengah yang menghasilkan penglihatan, pengetahuan, ketenangan, kemampuan batin, penerangan agung dan Nibbana
Itulah yang dikatakan Bhikkhu Sariputta. Para bhikkhu puas dan gembira dengan apa yang dikatakan Bhikkhu Sariputta.
BHAYABHERAVASUTTA
(4)
Demikianlah yang saya dengar:
1-- Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi.
2-- Kemudian Brahmana Janussoni pergi menemui Sang Bhagava, setelah bertemu, ia bersalaman dengan Sang Bhagava; setelah saling bersalaman dengan rasa persahabatan dan hormat, ia duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah duduk, ia berkata kepada Sang Bhagava :
"Saudara Gotama, ketika para perumah tangga pabbaja (meninggalkan kehidupan berkeluarga menjadi petapa) karena yakin kepada Saudara Gotama, apakah mereka menjadikan Saudara Gotama sebagai pemimpin, penolong dan pembimbing mereka? Apakah orang-orang ini mengikuti pengertian pandangan Saudara Gotama?"
"Brahmana, begitulah. Ketika para perumah tangga pabbaja karena yakin kepada saya, mereka menjadikan saya pemimpin, penolong dan pembimbing mereka. Mereka mengikuti pengertian pandangan saya."
"Saudara Gotama, tetapi tinggal di hutan yang terpencil adalah sulit dipertahankan, kesepian adalah sulit dicapai dan sulit menikmati keterpencilan. Seseorang berpikir bahwa hutan akan mengacaukan pikiran seorang bhikkhu, bila ia ti bersamadhi.”
“Brahmana, begitulah. Tinggal di hutan yang terpencil adalah sulit dipertahankan, kesepian adalah sulit dicapai dan sulit menikmati keterpencilan. Seseorang berpikir bahwa hutan akan mengacaukan pikiran seorang bhikkhu, bila ia tidak bersamadhi”.
3. "Sebelum saya mencapai penerangan agung (sambhodi), ketika saya masih Bodhisatta yang belum mencapai penerangan agung, saya pun bepikir : 'Tinggal di hutan yang terpencil adalah sulit dipertahankan, kesepian adalah sulit dicapai dan sulit menikmati keterpencilan. Seseorang berpikir bahwa hutan akan mengacaukan pikiran seorang bhikkhu, bila ia tidak bersamadhi."
4.-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana (petapa) atau brahmana tinggal di hutan yang terpencil dengan “perbuatan jasmani yang tidak suci" (aparisuddha-kayakammanta), dan karena mereka memiliki kekurangan dalam perbuatan, yaitu perbuatan jasmani yang tidak suci, maka muncul rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada para samana dan brahmana ini. Tetapi saya tinggal di hutan yang terpencil dengan "perbuatan jasmani yang suci" (parisuddhakaya-kammanta). Saya tinggal di hutan yang terpencil, sebagai seorang ariya dengan perbuatan jasmani suci. 'Dengan melihat kesucian perbuatan jasmani pada diriku, saya sangat terhibur tinggal dalam hutan."
5-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di hutan yang terpencil dengan ucapan yang tidak suci (aparisuddhavacikammanta), karena mereka memiliki kekurangan dalam perbuatan, yaitu ucapan yang tidak suci, maka muncul rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada para samana dan brahmana ini. Tetapi saya tinggal di hutan yang terpencil dengan ucapan yang suci. Saya tinggal di hutan yang terpencil, sebagai seorang ariya dengan ucapan suci. Dengan melihat kesucian ucapan pada diriku, saya sangat terhibur tinggal dalam hutan."
6.-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana serakah, sangat bernapsu dengan keinginan-keinginan mereka, namun sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar, maka para samana dan brahmana ini karena serakah, bernapsu dengan keinginan-keinginan, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tanpa keserakahan maupun tanpa napsu pada keinginan-keinginan, juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Saya tanpa keserakahan, saya adalah salah seorang ariya yang tanpa keserakahan, juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri sendiri yang tanpa keserakahan, sangat terhibur hidup di hutan.
7-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran yang tidak suci (byapannacitta), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada ketidaksenangan' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikir buruk yang didasarkan pada ketidaksenangan, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tanpa 'pikiran yang tidak suci', tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada ketidaksenangan', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Saya diliputi oleh 'pikiran cinta kasih' (mettacitta). Saya adalah salah seorang ariya yang diliputi pikiran cinta kasih (mettacitta), juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', sangat terhibur hidup di hutan.
8-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'diliputi kelesuan dan ngantuk (thinamaddhapariyutthita), yang 'didasarkan pada ketidaksenangan' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena diliputi kelesuan dan ngantuk yang didasarkan pada ketidaksenangan, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tidak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tanpa 'diliputi kelesuan dan ngantuk yang didasarkan pada ketidaksenangan'. Saya adalah salah seorang ariya yang tanpa 'diliputi kelesuan dan ngantuk' juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'diliputi kelesuan dan ngantuk , sangat terhibur hidup di hutan.
9-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran gelisah dan tidak tenang' (uddhata avupasantacitta), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi saya tanpa ‘pikiran gelisah dan tidak tenang', tidak 'berpikiran didasarkan pada kebencian'. Saya berpikir tenang', tidak berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah. seorang ariya yang 'berpikiran tenang’, juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
10-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran khawatir dan tidak pasti' (kankhi vecikicchi), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tanpa 'pikiran khawatir dan tidak pasti', tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang ariya yang tanpa 'pikiran khawatir dan tidak pasti', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
11-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain' (attukkamsaka paravambhi), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian '(sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya 'tidak memuji diri sendiri dan tidak merendahkan orang lain' dan tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang ariya yang tidak memuji diri sendiri dan tidak merendahkan orang lain', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
12-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: 'Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'diliputi ketakutan dan kegentaran' (chamba bhiruka-jatika), yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tanpa 'diliputi ketakutan dan kegentaran', 'tidak berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang ariya yang tanpa 'diliputi ketakutan dan kegentaran', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
13-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'diliputi keinginan mendapat pemberian, kehormatan dan kemasyhuran' (labhasakkarasilokam nikamayamano), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tidak diliputi keinginan mendapat pemberian, kehormatan dan kemasyhuran', tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah seorang ariya yang hanya berkeinginan sedikit, juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
14-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'malas dan kurang semangat' (kusita hinaviriya), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya tidak malas dan bersemangat, tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang ariya yang 'bersemangat', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
15-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'sifat pelupa dan tidak teliti (muttahassati asampajana), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya 'berperhatian dan berpengertian', tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang ariya yang 'berperhatian dan berpengertian', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
16-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran tak terpusat dan liar' (asamahita vibhantacitta), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya berpikiran yang terpusat dengan baik dan tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian. Saya adalah salah seorang ariya yang berpikiran terpusat dengan baik, juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang tanpa' pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
17-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'tanpa pengertian dan dungu' (dupanna elamuga), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, saya berpengertian yang sempurna. Saya adalah salah seorang ariya yang 'berpengertian sempurna', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, saya mengamati diri saya sendiri yang berpengertian sempurna', saya mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
18-- Sehubungan dengan hal itu, saya berpikir: "Seandainya saya pada malam tertentu, yaitu: malam keempat belas, kelima belas dan kedelapan pada pertengahan bulan, saya bermalam di tempat-tempat yang menakutkan dan menggentarkan, seperti di Aramacetiya, Vanacetiya atau Rukkhacetiya, maka saya dapat melihat ketakutan dan kegentaran. Ketika saya sedang tinggal di tempat-tempat itu, binatang liar mendatangiku, atau burung merak mematahkan ranting, atau angin menggoyangkan dedauanan. Saya berpikir:' Sekarang, apakah ketakutan dan kegentaran muncul? Mengapa dengan tinggal di sini saya selalu mengharapkan ketakutan dan kegentaran? Bagaimana, bila saya melenyapkan ketakutan dan kegentaran yang muncul pada diriku, ketika saya dalam posisi apapun?’”
“Brahmana, ketika saya sedang berjalan, ketakutan dan kegentaran muncul pada diriku; saya tidak berdiri, duduk atau berbaring hingga saya dapat melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu. Ketika saya sedang berdiri, ketakutan dan kegentaran muncul pada diriku; saya tidak berjalan, duduk atau berbaring hingga saya dapat melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu. Ketika saya sedang duduk, ketakutan dan kegentaran muncul pada diriku; saya tidak berjalan, berdiri atau berbaring hingga saya dapat melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu. Ketika saya sedang berbaring, ketakutan dan kegentaran muncul pada diriku; saya tidak berjalan, berdiri atau duduk hingga saya dapat melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu.”
19-- Brahmana, ada beberapa samana dan brahmana menganggap malam sebagai siang, sedangkan siang dianggap sebagai malam. Para samana dan brahmana ini saya nyatakan mereka hidup dalam kebodohan. Brahmana, karena bagi saya, malam adalah malam, dan siang adalah siang. Brahmana, siapapun yang berbicara benar: "Sesosok makhluk yang tidak dikuasai kebodohan telah muncul di dunia untuk kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan banyak orang, karena kasih sayangnya kepada dunia demi manfaat, kesejahteraan dan kebahagiaan pada dewa dan manusia", pernyataan seperti itu adalah tepat dinyatakan untukku.
20-- Semangat tanpa lelah telah muncul dalam diriku, perhatian tanpa lupa telah mantap, tubuhku telah tenang dan tanpa gangguan, pikiranku telah terkonsentrasi dan terpusat (ekagata).
21-- Agak bebas dari nafsu indera, bebas dari dhamma yang tak berguna, saya mencapai dan berada dalam Jhana I yang disertai oleh vitakka (usaha pikiran untuk menangkap obyek), vicara (obyek telah tertangkap), kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) karena pemusatan pikiran.
22-- Dengan meninggalkan vitakka dan vicara, saya mencapai dan berada dalam Jhana II yang disertai "percaya diri" (sampasadanam), pemusatan pikiran, kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) karena pemusatan pikiran, tanpa vitakka dan tanpa vicara.
23-- Dengan lenyapnya kegiuran (piti), saya diliputi ketenangan, penuh perhatian (sati) dan kebahagiaan jasmani saya mencapai dan berada dalam Jhana III, yang dinyatakan oleh para Ariya sebagai: "Ia senang karena memiliki ketenangan dan perhatian (sati)."
24-- Dengan lenyapnya kebahagiaan (sukha) dan penderiaan (dukkha) jasmani, yang didahului oleh lenyapnya "Kebahagiaan dan penderitaan batin (somanassadomanassa), saya mencapai dan berada pada Jhana IV, yang tanpa dukkha (adukkha) dan tanpa sukha (asukha) disertai "perhatian dan keseimbangan suci" (upekhasatiparisuddhi).
25-- Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak ternoda, bersih dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mencapai ketenangan, saya mengarahkan batin (citta) pada 'pengetahuan tentang kehidupan-kehidupan yang lampau' (pubbenivasanussa-tinana).
Saya mengingat banyak kehidupanku yang lampau, yaitu: satu kelahiran, dua kelahiran ... lima kelahiran, sepuluh kelahiran ... lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, scribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penjadian dunia (samvattakappa), banyak kappa penghancuran dunia (vivattakappa), dan banyak kappa penjadian dan penghancuran dunia (samvattavivatta-kappa): "Di sana saya bernama, ras, penampilan, makanan, mengalami kesenangan serta penderitaan, panjang usia seperti itu; meninggal dari sana, saya terlahir kembali di tempat-tempat lain; di sana pun saya bernama, ras, penampilan, makanan, mengalami kesenangan serta penderitaan, panjang usia seperti itu; dan meninggal dari alam itu, saya terlahir di sini. Demikianlah, dengan rinci dan khusus, saya mengingat banyak kelahiranku yang lampau.
26-- Inilah pengetahuan pertama yang saya capai pada masa- pertama di malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vija) muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
27-- Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak temoda, bersih dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mencapai ketenangan, saya mengarahkan batin (citta) pada' pengetahuan tentang lenyap dan munculnya makhluk-makhluk' (cutupapata-nana). Dengan pandangan mata dewa (dibbacakkhu) yang suci dan melampaui kemampuan manusia biasa, saya melihat makhluk-makhluk lenyap (meninggal) dan muncul (lahir) kembali sebagai terhormat atau hina, berwajah cakap atau jelek, berprilaku baik atau jahat; saya mangerti bagaimana makhluk-makhluk hidup sesuai dengan karma mereka, sebagai berikut: "Makhluk-makhluk ini yang melakukan perbuatan baik melalui ucapan perbuatan dan pikiran, menghina para ariya, berpandangan keliru, melakukan perbuatan berdasarkan pandangan keliru mereka, setelah mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali dalam keadaan yang tidak menyenangkan, di alam yang menyedihkan, bahkan di neraka; sedangkan makhluk-makhluk yang melakukan perbuatan baik melalui ucapan, perbuatan dan pikiran, tidak menghina para ariya, berpandangan benar, melakukan perbuatan berdasarkan pada pandangan benar, setelah mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali dalam keadaan menyenangkan, di alam yang membahagiakan, bahkan di surga. "Demikianlah dengan dibba cakku yang suci dalam melampaui kemampuan manusia biasa, saya melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali sebagai terhormat atau hina, berwajah cakap atau jelek, berprilaku baik atau jahat; saya mengerti bagaimana makhluk-makhluk hidup sesuai dengan karma mereka.
28-- Inilah pengetahuan kedua yang saya capai pada masa-kedua di malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
29-- Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak temoda, bersih dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mancapai ketenangan, saya mengarahkan batin (citta) pada 'pengetahuan tentang pelenyapan kotoran batin' (asavanam khayanana). Saya memiliki pengetahuan: "Inilah Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah sebab Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah lenyapnya Dukkha.” Saya memiliki pengetahuan: "Inilah jalan untuk melenyapkan Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah kekotoran-kekotoran batin." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah sebab kekotoran-kekotoran batin." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah lenyapnya kekotoran-kekotoran batin." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah jalan untuk melenyapkan kekotoran-kekotoran batin."
30-- Ketika saya mengetahui dan melihat seperti itu, batinku terbebas dari 'kekotoran-batin nafsu indera' (kamasava), 'kekotoran-batin untuk menjadi' (bhavasava) dan 'kekotoran - batin kebodohan' (avijjasava). Ketika terbebas, muncul pengetahuan: "Telah terbebas". Saya memiliki pengetahuan: "Kelahiran telah dilenyapkan, kehidupan suci telah direalisasi, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada lagi sesuatu di seberang sana."
31-- Inilah pengetahuan ketiga yang saya capai pada masa-ketiga di malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
32-- Brahmana, mungkin anda berpikir: "Barangkali saat ini petapa Gotama tidak terbebas dari nafsu (raga), kebencian (dosa) dan kebodohan (avijja), itulah sebabnya maka beliau tetap tinggal di belukar terpencil di hutan. Tetapi anda tidak perlu berpikir begitu, karena saya melihat dua manfaat tinggal di belukar terpencil di hutan: 'Saya melihat hal yang menyenangkan bagiku sendiri di sini dan sekarang, serta saya memiliki kasih sayang terhadap generasi akan datang."'
33-- Benar, karena saudara Gotama adalah arahat sammasambuddha yang memiliki kasih sayang kepada generasi mendatang.
34-- Mengagumkan saudara Gotama Mengagumkan saudara Gotama dhamma telah dijelaskan dengan banyak cara oleh saudara Gotama, ia bagaikan meluruskan yang bengkok, mengungkap yang tersembunyi, menunjuk jalan bagi yang tersesat, menerangi kegelapan dengan lampu sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat obyek.
35-- Saya berlindung pada Gotama, kepada Dhamma dan kepada Sangha. Sejak hari ini semoga Gotama mengingat saya sebagai upasaka (umat) yang berlindung kepadanya selama hidup.
ANANGANA SUTTA
(5)
1 Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Ketika beliau berada di sana, Bhikkhu Sariputta berkata kepada para bhikku:
"Para bhikkhu ".
Para bhikkhu menjawab: "Ya, bhante".
Selanjutnya bhikkhu Sariputta berkata:
2— “Avuso, ada empat macam orang di dunia; siapakah mereka? Avuso, di dunia ini ada orang yang 'bermental ternoda' (angana) dan yang tidak mengetahui dengan benar: 'Saya bermental ternoda. Ada orang yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya bermental ternoda.’ Ada orang tidak bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda.’ Ada orang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda.’
3-- Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang bermental ternoda, ia yang bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya bermental ternoda’ adalah disebut inferior.
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang bermental ternoda, ia yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya bemental teroda’ adalah disebut superior.
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang tidak bermental ternoda, ia yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’ adalah disebut inferior.
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang tidak bermental ternoda, ia yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’ adalah disebut superior.
4— Setelah hal ini dikatakan, maka Bhikkhu Mahamoggallana bertanya kepada Bhikkhu Sariputta: "Avuso Sariputta! Dari dua macam orang yang bermental ternoda, seorang disebut inferior dan yang lain disebut superior. Apakah alasan dan apa sebabnya?
Avuso Sariputta! Dari dua macam orang yang ‘tidak bermental ternoda’, seorang disebut inferior dan yang lain disebut superior.
Apakah alasan dan sebabnya?"
5.— “Avuso, di antara dua macam orang, orang yang ‘bermental ternoda’ dan tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya bermental ternoda’, tidak akan memunculkan keinginan, tidak berusaha, atau tidak mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Ia akan meninggal dunia dengan batin dipenuhi kemelekatan, kemarahan, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh sebuah 'wadah perunggu' (kamsapati) yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang diliputi oleh abu dan kotoran, yang mungkin dibiarkan tidak digunakan oleh pemiliknya, tidak dibersihkan dan dibiarkan dipenuhi debu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu wadah perunggu itu akan lebih ternoda dan kotor oleh kotoran?”
"Ya, avuso."
“Avuso, dengan cara yang sama, orang yang bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya bermental ternoda’, tidak akan memunculkan keinginan, tidak berusaha, atau tidak mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Ia akan meninggal dunia dengan batin dipenuhi kemelekatan, kemarahan, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
6-- Avuso, di antara mereka, orang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya bemental ternoda’, akan memunculkan keinginan, berusaha atau mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Akan meninggal dunia dengan pikiran tanpa kemelekatan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan, tanpa noda-noda mental dan tanpa ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh, sebuah 'wadah perunggu' (kamsapati) yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang diliputi oleh debu dan kotoran, yang mungkin dibersihkan oleh pemiliknya, tidak dibiarkan diliputi debu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu wadah perunggu itu menjadi bersih dan tanpa noda?”
"Ya, avuso."
“Avuso, sama halnya, orang yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya bermental ternoda’, akan memunculkan keinginan, berusaha atau mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Akan meninggal dunia dengan pikiran tanpa kemelekatan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan, tanpa noda-noda mental dan tanpa ketidaksucian. Pasti, hal inilah yang akan terjadi padanya.
7-- Avuso, di antara mereka, orang yang tidak bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’ akan tertarik pada hal-hal yang menyenangkan, karena tertarik pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya akan ternoda karena kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang agak bersih dan tidak ternoda, tetapi yang mungkin tidak digunakan dan tidak dibersihkan oleh pemiliknya dan dibiarkan di tempat berdebu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu wadah perunggu itu ternoda dan kotor oleh kotoran?”
"Ya, avuso."
“Avuso, sama halnya orang yang tidak bermental ternoda tetapi tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’, akan tertarik pada hal-hal yang menyenangkan, karena tertarik-pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya akan ternoda oleh kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin diliputi kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
8— Avuso, di antara mereka, orang yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’ tidak akan tertarik padahal-hal menyenangkan, maka batinnya tidak akan ternoda oleh kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin tidak diliputi kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang agak bersih dan agak tidak ternoda, tetapi yang mungkin digunakan dan dibersihkan oleh pemiliknya dan tidak dibiarkan di tempat berdebu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu wadah perunggu itu menjadi lebih bersih dan tidak ternoda?”
"Ya, avuso."
“Avuso, sama halnya, orang yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’ tidak akan tertarik pada hal-hal menyenangkan, karena tidak tertarik pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya tidak akan ternoda oleh kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin tanpa kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidak sucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.”
9.— “Avuso Moggallana! Inilah alasan dan sebab dari pernyataan bahwa dari dua macam yang bermental ternoda, seorang disebut inferior dan orang yang lain disebut superior.
Avuso Moggallana! Inilah alasan dan sebab dari pernyataan bahwa dari dua macam orang yang tidak bermental ternoda, seorang disebut inferior dan orang yang lain disebut superior.”
10-- "Avuso, telah tersebut: 'Noda, noda.' Apa yang dimaksud dengan 'noda’?”
“Avuso, 'noda’ ini adalah sebutan untuk ‘faktor-faktor jahat' (papakanam) yang muncul dari ‘keinginan-keinginan buruk’ (akusalaiccha).”
“Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Saya akan melakukan 'pelanggaran peraturan' (apatti), mungkin para bhikkhu tidak mengetahui perbuatanku." Kemudian bhikkhu itu berpikir: ‘Para bhikkhu tahu bahwa saya telah melakukan apatti.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Saya akan melakukan apatti, mungkin para bhikkhu akan menuduhku secara pribadi dan tidak di tengah-tengah sangha.’ Avuso, tetapi mungkin para bhikkhu menuduhnya di tengah-tengah sangha dan bukan secara pribadi. Kemudian bhikkhu itu berpikir: ‘Para bhikkhu menuduhku di tengah-tengah sangha, bukan secara pribadi.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
11-- Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Saya akan melakukan apatti, mungkin saya akan dituduh oleh teman (yang telah melakukan apatti) dan bukan oleh 'bukan temanku' (yang tidak melakukan apatti).’ Avuso, mungkin ia tidak dituduh oleh temannya, tetapi oleh bukan temannya. Bhikkhu itu berpikir: ‘Saya dituduh oleh 'bukan temanku', namun bukan oleh temanku.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sangat baik bila Guru (sattha) membabarkan dhamma kepada para bhikkhu, hanya bertanya kepada saya dan bukan kepada bhikkhu lain.’ Avuso, tetapi mungkin Guru membabarkan dhamma kepada para bhikkhu dan bertanya kepada bhikkhu lain dan tidak bertanya kepada bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir: ‘Guru mengajar dhamma kepada para bhikkhu dan bertanya kepada bhikkhu lain, tetapi tidak kepadaku.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
12-- Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila para bhikkhu memasuki desa untuk menerima makanan dengan saya selalu sebagai pemimpin dan bukan bhikkhu lain yang memimpin.’ Avuso, tetapi mungkin para bhikkhu memasuki desa untuk menerima makanan dengan dipimpin oleh bhikkhu lain dan bukan bhikkhu itu yang me-mimpin. Bhikkhu itu berpikir: ‘Para bhikkhu memasuki desa untuk menerima makanan dengan dipimpin oleh bhikkhu lain dan bukan saya yang memimpin.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noada batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila saya sendiri mendapat tempat terbaik, air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu yang lain tidak mendapat hal-hal itu.’ Avuso, tetapi mungkin bhikkhu yang lain mendapat tempat terbaik, air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu itu tidak mendapat hal-hal itu. Bhikkhu itu berpikir, "Para bhikkhu mendapat tempat terbaik, air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan, sedangkan saya tidak mendapat hal-hal itu." Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
13-- Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila saya sendiri membabarkan dhamma sebagai pernyataan "anumodana" (membabar dhamma setelah menerima dana), setelah makan dana-makanan, di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu lain tidak melakukannya. Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain membabarkan dhamma setelah makan dana-makanan di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir: ‘Bhikkhu lain membabarkan dhamma setelah makan dana-makanan di tempat makan yang ditentukan, sedangkan saya tidak melakukannya.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila saya sendiri yang membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang mengunjungi vihara dan tidak ada bhikkhu lain yang melakukannya.’ Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain yang membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang mengunjungi vihara, sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir: ‘Bhikkhu lain membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang mengunjungi vihara, sedangkan saya tidak melakukannya.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
14- Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila saya sendiri yang membabarkan dhamma kepada para bhikkhuni ... dst... ... kepada upasaka yang mengunjungi vihara ... dst...... kepada para upasika yang mengunjungi vihara, sedangkan bhikkhu lain tidak melakukannya." Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain yang membabarkan dhamma kepada para upasika yang mengunjungi vihara, sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir: ‘Bhikkhu lain membabarkan dhamma kepada para upasika yang mengunjungi vihara, sedangkan saya tidak melakukannya.’ Ialu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila para bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai saya sendiri, sedangkan para bhikkhu tidak menghormat, memuja, memuji atau menghargai bhikkhu lain.’ Avuso, tetapi mungkin para bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan para bhikkhu tidak menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir: ‘Para bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan saya tidak dihomat, dipuja, dipuji dan dihargai oleh para bhikkhu.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
15-- Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila para bhikkhuni ... para upasaka menghormat, memuja, memuji dan menghargai saya sendiri, sedangkan para upasika tidak menghormat, memuja, memuji atau menghargai bhikkhu lain.’ Avuso, tetapi mungkin para upasika menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan para upasika tidak menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir: ‘Para upasika menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan saya tidak dihormat, dipuja, dipuji dan dihargai oleh para upasika.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila hanya saya sendiri menerima jubah yang bagus, sedangkan bhikkhu lain tidak menerima jubah yang bagus.’ Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain menerima jubah yang bagus, sedangkan bhikkhu itu tidak menerima jubah yang bagus. Bhikkhu itu berpikir: ‘Bhikkhu lain menerima jubah yang bagus, sedangkan saya tidak menerima jubah yang bagus.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan tidaksenangan adalah noda-noda batin.
16-- Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila hanya saya sendiri menerima dana-makanan yang baik ... tempat tinggal saya bagus ... obat-obatan yang bagus dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan bhikkhu yang lain tidak menerima hal itu.’ Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain menerima obat-obatan dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan bhikkhu itu tidak menerima hal-hal itu. Bhikkhu itu berpikir: ‘Bhikkhu lain menerima obat-obatan yang bagus dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan saya tidak menerima hal-hal itu.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, 'noda' ini adalah sebutan untuk faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
17-- Avuso, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu tidak melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun bhikkhu itu melakukan 'praktik keras', seperti, 'tinggal di hutan' (arannako) atau 'tempat terpencil' (pantasenasano), menerima dana-makanan (pindapatiko) atau 'menerima makanan dari rumah-rumah' (sapadanacari), mengenakan jubah yang dibuat dari kain bekas pembungkus mayat' (pamsukuliko) atau jubah yang dibuat dari kain-kain kasar yang kurang berharga' (lukhacivara), ia tidak akan dihormat, dipuja, dipuji atau dihargai oleh rekan-rekannya yang' melaksanakan penghidupan suci' (sabrahmacari). Apa alasannya? karena melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu belum melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Avuso, sebagai contoh, sebuah 'wadah perunggu' (kamsapati) bersih dan tidak ternoda yang dibeli dari toko atau tukang perunggu dan pemiliknya pergi ke pasar mengisinya dengan (potongan) bangkai ular membusuk, bangkai anjing atau potongan mayat manusia dan menutupi wadah itu dengan wadah perunggu lain. Orang-orang yang melihat wadah perung-gu itu, mungkin berkata: ‘Kawan! mengapa anda membawa hadiah bagus ini?’ bangkit dari duduk, membukanya dan melihat kedalamnya. Namun, segera setelah mereka melihat isinya, mereka akan merasa mau muntah, jijik dan muak, sehingga orang yang lapar pun tidak berkeinginan untuk makan, apalagi mereka yang kenyang.’
Avuso, begitu pula halnya, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu tidak melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun bhikkhu itu melakukan 'praktik keras', seperti, 'tinggal dihutan' (arannako) atau 'tempat terpencil' (pantasenasano), menerima dana-makanan (pindapatiko) atau 'menerima makanan dari rumah-rumah' (sapadanacari), mengenakan 'jubah yang dibuat dari kain pembungkus mayat '(pamsukuliko) atau jubah yang dibuat dari kain-kain kasar yang kurang berharga' (lukhacivara), ia tidak akan dihormat, dipuja, dipuji atau dihargai oleh rekan-rekannya yang 'melaksanakan penghidupan suci' (sabrahmacari). Apa alasannya? karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu belum melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
18-- Avuso, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun ia menetap di sebuah vihara desa, menerima dana-makanan dari mereka yang mengundangnya dan mengenakan jubah yang di danakan para umat, ia akan dihormat, di puja, di puji dan di hargai oleh para rekannya yang melaksanakan penghidupan suci. Apakah alasannya? karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu bersih dan tak ternoda yang dibeli dari toko atau tukang perunggu, lalu pemiliknya pergi ke pasar, mengisinya dengan nasi matang yang bagus, tanpa bijian hitam, bersama banyak kari kacang, daging dan ikan, setelah itu menutupinya dengan wadah perunggu lain. Orang-orang yang melihat wadah perunggu itu, mungkin berkata: ‘Kawan! mengapa anda membawa hadiah bagus ini?’ bangkit dari duduk, membukanya dan melihat kedalamnya. Segera setelah mereka melihat isinya, mereka akan merasa gembira, tanpa merasa muak atau jijik. Sehingga orang yang telah kenyang pun berkeinginan untuk makan, apalagi mereka yang lapar.
Avuso, begitu pula halnya, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan factor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun ia menetap di sebuah vihara desa, menerima dana-makanan dari mereka yang mengundangnya dan mengenakan jubah yang didanakan para umat, ia akan dihormat, dipuja, dipuji dan dihargai oleh para rekannya yang melaksanakan penghidupan suci. Apakah alasannya? Karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.”
19-- Setelah hal ini dikatakan, lalu Bhikkhu Moggallana berkata kepada Bhikkhu Saruputta: "Avuso Sariputta, sebuah perumpamaan muncul dalam pikiranku.”
"Avuso Moggallana, ungkapkanlah perumpamaan itu."
“Avuso, saya pernah menetap di Giribbaje, dekat kota Rajagaha. Pada suatu pagi, setelah saya mengenakan jubah dan membawa patta serta civara, pergi ke Rajagaha untuk pindapata (menerima makanan), ketika itu, Samiti, putra pembuat kereta, sedang membentuk bagian sisi roda kereta, sedangkan petapa telanjang (ajiviko) bernama Panduputta, mantan pembuat kereta, sedang berdiri didekatnya. Avuso, kemudian muncul ide pada petapa telanjang Panduputta: ‘Akan baik bila Samiti memperbaiki lengkungan, bagian yang bengkok dan kerusakan dari bagian sisi roda kereta. Dengan demikian maka bagian sisi roda kereta akan tanpa lengkungan, bagian yang bengkok dan rusak, maka bagian sisi roda kereta akan tanpa cacad dan bagus.’
Avuso, Samiti memperbaiki lengkungan, bagian yang bengkok dan yang rusak, sesuai dengan ide petapa telanjang Panduputta. Kemudian petapa telanjang Panduputta gembira, dengan mengucapkan teriakan kegembiraan: ‘Nampaknya ia melakukan perbaikan (bagian luar dari roda) bagaikan ia, melalui pikirannya, mengetahui pikiran orang lain.’
Avuso, begitu pula halnya, orang-orang yang tanpa keyakinan (kepada Tiratana), meninggalkan kehidupan berumah-tangga menjadi petapa yang bukan karena berdasarkan pada kepercayaan (pada hukum kamma), tetapi sebagai mata pencaharian. Mereka licik, penipu, pemalsu, bingung, arogan, keji, pesolek dan cerewet; mereka tidak menjaga indera-indera, makan tidak sederhana (bhojane amattannuta), tidak selalu waspada (jagariya ananuyutta), tidak berkehidupan samana dengan baik (samane anapekhavanto), tidak melaksanakan peraturan dengan baik (sikkhaya na tibbagarava), ingin hidup mewah, lalai, kemauan-baik menurun, tak bertanggung jawab dalam usaha untuk melenyapkan dukkha (nibbana), malas, kurang bersemangat, tidak berperhatian, tidak berpengertian, tidak menenangkan pikiran, pikiran tidak tetap, pikiran tak terkendali, tidak bijak dan pikiran tumpul. Nampaknya seperti ayasma (saudara) Sariputta mengetahui pikiran mereka melalui pikiran yang mengatur (membentuk) pikiran mereka dengan uraian dhamma.
Tetapi, ada pula orang-orang dengan keyakinan (kepada Tiratana) meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa, yang tidak licik, tidak menipu, bukan memalsu, tidak bingung, tidak arogan, tidak keji, tidak pesolek dan tidak cerewet; menjaga indera-indera, makan sederhana, selalu waspada, berkehidupan samana dengan baik, melaksanakan peraturan dengan baik, hidup sederhana, bersemangat, berkemauan baik, berusaha untuk melenyapkan dukkha, rajin, berperhatian, berpengertian, pikiran tenang, pikiran tetap, pikiran terkendali, bijak dan pintar. Setelah mereka mendengar uraian dhamma dari ayasma Sariputta, bagaikan mereka minum (saripati) ungkapannya dan makan makananya, dengan berkata: ‘Baik sekali! Ayasma Sariputta telah menyebabkan rekan brahmacari-nya meninggalkan hal-hal buruk (akusala) dan mengembangkan hal-hal yang baik (kusala).
Avuso, seperti seorang wanita atau pria, remaja dan berusia muda yang biasa merias diri, mandi, mengambil bunga teratai, melati, akasia dan membawanya dengan kedua tangan atau menaruh itu di kepala, begitu pula orang-orang itu dengan keyakinan meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa, yang tidak licik, tidak menipu, bukan memalsu, tidak bingung, tidak arogan, tidak keji, tidak pesolek dan tidak cerewet; menjaga indera-indera, makan sederhana, selalu waspada, berkehidupan samana dengan baik, melaksanakan peraturan dengan baik, hidup sederhana, bersemangat, berkemauan baik, berusaha untuk melenyapkan dukkha, rajin, berperhatian, berpengertian, pikiran tenang, pikiran tetap, pikiran terkendali, bijak dan pintar. Setelah mereka mendengar uraian dhamma dari ayasma Sariputta, bagaikan mereka minum (saripati) ungkapannya dan makan maknanya, dengan berkata: ‘Baik sekali! Ayasma Sariputta telah menyebabkan rekan brahmacarinya meninggalkan hal-hal buruk (akusala) dan mengembangkan halhal yang baik (kusala).’”
Dengan cara ini kedua maha arahat (mahanaga) gembira dalam pembicaraan mereka.
AKANKHEYYA SUTTA
(6)
Demikianlah yang saya dengar:
1. Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Ketika itu, Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu."
Para bhikkhu menjawab: "Ya, Bhante."
“Para bhikkhu, hiduplah dengan sila dan laksanakanlah patimokkha. Hidup dan kendalikan diri sesuai Patimokkha, berprilaku baik (acara) dan ‘selalu berada di tempat yang pantas' (gocara), melihat bahaya pada kesalahan kecil sekalipun, serta melaksanakan 'peraturan latihan' (sikkhapada).
2. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin' (akankheyya): ‘Semoga saya disayangi, disukai, dihormati dan dipuji oleh teman-teman brahmacari’, maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
3. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu ingin: ‘Semoga saya dengan mudah mendapat kebutuhan-kebutuhan: jubah, makanan, tempat menginap dan obat-obatan yang digunakan sewaktu sakit,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
4. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu ingin: ‘Semoga orang-orang yang berdana jubah, makanan, tempat menginap dan obat-obatan yang saya butuhkan, akan menerima buah karma yang besar dan kemajuan berdasarkan dana-dana itu,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
5. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga berdasarkan pada keyakinan dan kepatuhan dari sanak keluargaku yang telah meninggal, mereka akan menerima buah karma dan manfaat yang besar,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana melaksanakan rneditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
6. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya menjadi seorang yang mengatasi ketidakbahagiaan (dalam kebhikkhuan) atau kesenangan (menikmati pemuasan nafsu) dan bukan orang yang dikuasai oleh ketidakbahagiaan, namun sebagai seorang yang selalu mengatasi ketidakbahagiaan yang muncul,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat terpencil dan sunyi (sunnagara).
7. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga menjadi seorang yang mengatasi kebencian dan kesukaan, dan bukan orang yang dikuasai oleh kebencian dan kesukaan, serta selalu mengatasi kebencian dan kesukaan,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosainatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
8. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya menjadi seorang yang mengatasi ketakutan dan kegentaran, dan bukan orang yang dikuasai oleh ketakutan dan kegentaran,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
9. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya menjadi seorang yang dapat mencapai pencapaian sesuai keinginan, tanpa kesulitan atau tanpa ganguan mengenai Empat Rupajhana, yang dihasilkan oleh batin yang bersih, sehingga seseorang dapat hidup dengan bahagia pada kehidupan ini,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
10. Para bhikkhu, jika scorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga setelah saya melampaui Rupajhana, dengan pencapaian batin dan tetap berada dalam kedamaian Arupajhana yang dihasilkan berdasarkan 'pembebasan' (vimokkha),’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
11. Para bhikkhu, jika seseorang bhikkhu 'ingin: ‘Semoga saya menjadi Sotapanna dengan melenyapkan tiga 'belenggu' (samyojana) dan tidak akan terlahir kembali di alam menyedihkan dan menderita, yang pasti dan akan mencapai 'penerangan agung' (bodhi),’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
12. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya menjad' Sakadagami dengan melenyapkan tiga 'belenggu' (samyojana) dan melemahkan kemelekatan pada nafsu (raga), kebencian (dosa) serta kebodohan (moha), akan terlahir sekali lagi demi melenyapkan dukkha,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
13. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Dengan melenyapkan lima belenggu (samyojana) yang rendah (orambhagiya), semoga saya terlahir secara 'langsung' (opapatika) dan tidak akan terlahir kembali di alam lain, serta akan mencapai nibbana di alam itu,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
14. Para bhikkhu, jika seseorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya memiliki bermacam-macam 'kemampuan batin phisik' (iddhividdha) seperti: dari satu tubuh menjadi banyak tubuh, dari banyak tubuh menjadi satu, saya menjadi terlihat atau tidak terlihat (menghilang); saya tanpa rintangan menembus dinding, pagar maupun gunung bagaikan berjalan di tempat terbuka; saya dapat menyelam dan keluar dari tanah bagaikan menyelam dan keluar dari air; saya berjalan di atas air bagaikan berjalan di tanah; saya dapat terbang ke angkasa dengan posisi duduk bagaikan burung terbang; saya dapat menyentuh matahari dan bulan yang sangat perkasa itu; saya dapat menguasai tubuh saya hingga dapat pergi ke alam para Brahma,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
15. Para bhikkhu, jika seseorang bhikkhu 'ingin': "Semoga saya dapat mendengar dua macam suara, yaitu suara para dewa dan manusia, jauh atau dekat, dengan kemwnpuan mendengar yang melampaui kemampuan mendengar manusia biasa, kemampuan mendengar yang sangat jelas seperti kemwnpuan para dewa," maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
16. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya, dengan pikiran saya sendiri, mengetahuai dengan jelas pikiran-pikiran para makhluk atau individu lain; semoga saya mengetahui pikiran yang 'diliputi napsu indera' (saraga); semoga saya mengetahui pikiran 'tanpa napsu indera' (vitaraga) sebagai pikiran tanpa napsu indera; semoga saya mengetah pikiran yang 'diliputi oleh kebencian' (sadosa); semoga saya mengetahui pikiran tanpa diliputi kebencian sebagai pikiran tanpa diliputi kebencian; semoga saya mengetahui pikiran yang 'diliputi kebodohan' (samoha); semoga saya mengetahui pikiran tanpa diliputi kebodohan sebagai pikiran tanpa diliputi kebodohan; semoga saya mengetahui pikiran kebingungan (sankhitta); semoga saya mengetahui pikiran tanpa kebingungan sebagai pikiran tanpa kebingungan; semoga saya mengetahui pikiran mulia (mahaggata) sebagai pikiran mulia; semoga saya mengetahui pikiran tidak mulia (amahaggata) sebagai pikiran tidak mulia; semoga saya mengetahui pikiran inferior (sa-uttara) sebagai pikiran rendah; semoga saya mengetahui pikiran superior (anuttara) sebagai pikiran superior; semoga saya mengetahui pikiran terkonsentrasi (samahita) sebagai pikiran terkonsentrasikan; semoga saya mengetahui pikiran tak terkonsentrasi (asamahita) sebagai pikiran tak terkonsentrasi; semoga saya mengetahui pikiran telah terbebas (vimutta) sebagai pikiran telah bebas; semoga saya mengetahui pikiran belum bebas (avimutta) sebagai pikiran belum bebas,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
17. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya dapat mengingat 'banyak dan bermacam-macam kehidupan yang lampau' (anekavihita pubbenivasa), seperti: mengingat satu kelahiran lampau, dua, tiga, empat, lima, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, seratus, seribu, seratus ribu kelahiran lampau, atau dalam banyak kali penghancuran bumi (samvattakappa), dalam banyak kali pembentukan bumi (vivattakappa), atau dalam banyak masa pembentukan dan penghancuran bumi, ketika itu: pada kehidupan itu saya memiliki nama, terlahir pada keluarga, memiliki penampilan, makan makanan, menikmati kenikmatan, saya menderita sakit; masa usiaku sepanjang itu, saya meninggal dari kehidupan itu dan kemudian saya terlahir pada kehidupan yang lain; pada kehidupan (baru) itu saya bernama, terlahir pada keluarga, memiliki penampilan, makan makanan, menikmati kenikmatan, saya menderita sakit, masa usiaku sepanjang itu, saya meninggal dari kehidupan itu dan saya lahir kembali pada kehidupan ini. Semoga saya dapat mengingat banyak dan macam-macam kelahiranku yang lampau seperti itu bersama dengan semua karakter dan keadaan yang berhubungan dengan kehidupan-kehidupan itu,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
18. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya memiliki kemampuan batin mata dewa (dibba cakkhu) yang sangat tajam dan melebihi kemampuan mata manusia biasa, dapat melihat makhluk-makhluk dalam proses meninggal dan lahir kembali, makhluk-makhluk inferior atau superior, makhluk-makhluk cantik atau buruk, serta makhluk-makhluk dengan kehidupan baik atau buruk. Semoga saya mengetahui bagaimana makhluk-makhluk lahir sesuai dengan karma-karma mereka: 'Kawan-kawan! Makhluk-makhluk ini dipenuhi perbuatan jahat yang dilakukan dengan jasmani, ucapan dan pikiran. Mereka kejam kepada para ariya, berpandangan keliru dan melakukan perbuatan-perbuatan berdasarkan pandangan keliru mereka. Setelah meninggal, mereka terlahir kembali di alam penderitaan (duggati), alam menyedihkan (apaya), alam penuh kesakitan dan kesediban (vinipata), di alam neraka (niraya). Tetapi, kawan-kawan, ada pula makhluk-makhluk yang diliputi oleh perbuatan baik yang dilakukan dengan jasmani, ucapan dan pikiran. Mereka tidak kejam kepada para ariya, memiliki pandangan benar. Setelah mereka meninggal, mereka terlahir kembali di alam menyenangkan, alam kebahagiaan para dewa. Dengan demikian, semoga saya memiliki kemampuan mata dewa (dibbacakkhu) yang sangat tajam dan melebihi kemampuan mata manusia biasa seperti itu,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
19. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya dengan kemampuan batin (abhinnaya) melenyapkan semua kekotoran batin (asava) pada kehidupan sekarang ini, mencapai dan tetap berada dalam batin suci (cetovimutti) dan kesucian kebijaksanaan (pannavimutti),’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (sunnagara).
20. Itulah berdasarkan hal ini, maka kata-kata ini telah dinyatakan: ‘Para bhikkhu, hiduplah dengan sila dan laksanakanlah patimokkha. Hidup dan kendalikan diri sesuai patimokkha, berprilaku baik (acara) dan 'selalu berada di tempat yang pantas' (gocara), melihat bahaya pada kesalahan kecil sekalipun, serta melaksanakan 'peraturan latihan' (sikkhapada).”
Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagava. Para bhikkhu itu senang dan gembira dengan apa yang dikatakan Sang Bhagava.
VATTHUPAMA SUTTA
(7)
Demikian telah saya dengar:
"Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Beliau berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu."
Mereka menjawab: "Ya, Bhante."
Selanjutnya Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, andaikata ada sepotong kain kotor dan bernoda, dan seorang pencelup merendamnya di dalam celupan atau lainnya, yang berwama biru, kuning, merah atau dadu, akan tetap jelek dan warnanya tak cemerlang. Mengapa demikian? Karena kain itu tidak bersih, demikian pula apabila batin kotor, maka masa depan tak menyenangkan yang mungkin terjadi.
Para bhikkhu, andaikata sepotong kain bersih dan terang, lalu seorang pencelup merendamnya di dalam bahan celupan atau lainnya, apakah biru, kuning, merah atau dadu, maka akan tampak indah dan terang warnanya. Mengapa demikian? Karena kain itu bersih, demikian pula apabila batin tidak kotor, maka masa depan menyenangkan yang mungkin tedadi. 'Apakah ketidaksempurnaan yang mengotori batin itu? Ketamakan dan keserakahan adalah ketidaksempurnaan yang mengotori batin. Keinginan jahat ... Kemarahan .... Kekikiran .... Penipuan .... Kecurangan …. Keras kepala .... Praduga .... Keangkuhan .... Kesombongan …. Kelalaian adalah ketidaksempurnaan yang mengotori batin.
Apabila seorang bhikkhu mengetahui bahwa ketamakan dan keserakahan adalah suatu ketidaksempurnaan yang mengotori batin, ia akan meninggalkan semua itu.'
'Setelah seorang bhikkhu mengetahui bahwa keinginan jahat ... kelalaian adalah ketidaksempumaan yang mengotori batin, maka ia akan meninggalkan semua itu.'
'Segera setelah hal itu diketahui dengan pandangan terang bahwa ketamakan dan keserakahan adalah suatu ketidak-sempurnaan yang mengotori batin, sifat itu terkikis dalam batinnya. Segera setelah hal itu diketahui dengan pandangan terang bahwa keinginan jahat ... kelalaian adalah ketidaksempumaan yang mengotori batin, semua itu terkikis di dalam batinnya.
'Dengan demikian, ia memiliki keyakinan sempurna terhadap Buddha, sebagai berikut: "Sang Bhagava adalah Arahat, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan dan tindak-tanduknya, luhur, pengenal segenap alam, pemimpim manusia tanpa banding, guru para dewa dan manusia, yang mencapai penerangan sempuma, Buddha." 'Juga, ia memiliki keyakinan sempurna terhadap Dhamma, sebagai berikut: "Dhamma Sang Bhagava telah dibabarkan dengan baik; berada sangat dekat, tak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan; menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing."
'Selanjutnya, ia memiliki keyakinan sempurna terhadap Sangha, sebagai berikut: "Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak baik, Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak lurus, Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak patut; mereka adalah empat pasang makhluk yang terdiri dari delapan jenis makhluk suci. Itulah siswa Sang Bhagava yang patut menerima pemberian, tempat bernaung, persembahan dan penghormatan; tempat untuk menanam jasa, yang tiada taranya di alam semesta."
Apapun (dari ketidaksempurnaan itu) yang telah, sesuai dengan batasannya (diatur oleh tiga tingkat kesucian pertama yang telah dicapainya), diatasi, dihentikan (selamanya), dibiarkan, ditinggalkan dan dilepaskan.
'Ia (merenung) demikian: "Saya memiliki keyakinan sempurna terhadap Buddha" dan ia memperoleh pengalaman berarti, ia memperoleh pengalaman Dhamma, oleh karenanya ia menemukan kesenangan berkenaan dengan Dhamma. Karena kesenangan ini maka ia diliputi kegiuran, dengan adanya kegiuran maka tubuhnya menjadi tenang, ketika tubuhnya tenang ia merasa bahagia, karena kebahagiaan itu, batinnya menjadi terkonsentrasi.’
'Ia (merenung) demikian: "Saya memiliki keyakinan sempurna terhadap Dhamma" dan ia memperoleh pengalaman berarti, ia memperoleh pengalaman Dhamma, oleh karenanya ia menemukan kesenangan berkenaan dengan Dhamma. Karena kesenangan ini maka ia diliputi kegiuran, dengan adanya kegiuran maka tubuhnya menjadi tenang, ketika tubuhnya menjadi tenang ia merasa bahagia, karena kebahagiaan itu, batinnya terkonsentrasi.’
'Ia (merenung) demikian: "Saya memiliki keyakinan sempurna terhadap Sangha" dan ia memperoleh pengamalan berarti, ia memperoleh pengalaman Dhamma, oleh karenanya ia menemukan kesenangan yang berkenaan dengan Dhamma. Karena kesenangan ini maka ia diliputi kegiuran, dengan adanya kegiuran maka tubuhnya menjadi tenang, ketika tubuhnya menjadi tenang ia merasa bahagia, karena kebahagiaan itu, batinnya terkonsentrasi.’
'Ia (merenung) demikian: "Apapun yang dimiliki, sesuai batasannya, telah diatasi, dihentikan, dibiarkan, ditinggalkan dan dilepaskan, maka ia memperoleh pengalaman berarti, ia memperoleh pengalaman Dhamma, oleh karenanya ia menemukan kesenangan yang berkenaan dengan Dhamma. Karena kesenangan ini maka ia diliputi kegiuran .... batinnya terkonsentrasi.
'Jika seorang bhikkhu memiliki sila, dhamma dan panna seperti itu, makan makanan pindapatta yang terdiri dari nasi dan kacang-kacangan hitam yang dicampur dengan saus dan kari, ia tidak merasa terganggu makan makanan seperti itu.
Bagaikan kain yang kotor dan bemoda menjadi bersih dan cerah dengan bantuan air yang jernih, atau seperti emas mepjadi murni dan berkilau dengan bantuan tungku perapian, demikian pula bagi seorang bhikkhu dengan sila, dhamma dan panna seperti itu, makan makanan pindapatta yang terdiri dari nasi dan kacang-kacangan hitam yang dicampur dengan saus dan kari, ia tidak merasa terganggu makan makanan seperti itu.
Ia hidup dengan batin yang diliputi dengan cinta kasih yang dipancarkan ke arah yang pertama, kedua, ketiga dan keempat; juga ke atas, ke bawah, ke sekeliling dan segala penjuru dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri; ia hidup dengan batinnya yang diliputi cinta kasih, murni, tak terukur, tanpa keserakahan atau keinginan jahat, yang memancar ke segenap penjuru dunia.
Ia hidup dengan batin yang diliputi dengan kasih sayang yang dipancarkan ke arah yang pertama ... ke segenap penjuru dunia.
Ia hidup dengan batin yang diliputi dengan empati yang dipancarkan ke arah yang pertama, ... ke segenap penjuru dunia.
Ia hidup dengan batin diliputi dengan keseimbangan batin yang dipancarkannya ke arah yang pertama ... kesegenap penjuru dunia. (Berdasarkan hal itu) ia mengerti tentang: "Terdapat (Brahma vihara) ini, terdapat (kekotoran-kekotoran batin vang telah ditinggalkan) yang lebih rendah, terdapat (tujuan dari Jalan Arahat yang telah dicapai) yang lebih tinggi, terdapat pembebasan (yaitu Nibbana) dari (semua) pencerapan (sanna)."
'Ketika ia mengetahui dan melihat cara tersebut, batinnya terbebas dari ikatan nafsu indera, terbebas dari ikatan yang mengikat makhluk dan terbebas dari ikatan kebodohan. Ketika telah terbebas, terdapat pengetahuan: "Ini terbebas." la mengerti: "Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci (brahmanacari) telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilaksanakan, tak ada lagi yang melebihi hal ini." Bhikkhu, inilah yang disebut: "Dimandikan dengan mandi di dalam (sinato antarena sinanenati)."’
Ketika itu, brahmana Sundarika Bharadvaja duduk tak jauh dari Sang Bhagava. Kemudian Ia berkata kepada Sang Bhagava: "Namun, apakah petapa Gotama pergi ke sungai Bahuka untuk mandi?"
"Brahmana, mengapa ke sungai Bahuka? Apakah yang dapat dilakukan oleh sungai Bahuka?"'
"Petapa Gotama, sungai Bahuka dimanfaatkan oleh banyak orang karena sungai itu memberikan kebebasan dan jasa (punna). Banyak orang memanfaatkan sungai Bahuka karena sungai itu dapat mencuci semua karma buruk yang telah kita buat."
Kemudian, Sang Bhagava berkata kepada brahmana Sundarika Bharadvaja, dalam syair:
Bahuka dan Andhikka
Gaya dan Sundarika, juga Pavaga dan Sarassati
Dan aliran sungai Bahumati
Tak akan pernah mencuci kamma hitam menjadi putih.
Apakah arti yang dapat diberikan Sundarika?
Apakah juga Payaga? Apakah Bahuka?
Mereka tak dapat menyucikan seorang pelaku kejahatan,
Seorang yang telah berbuat kejam dan brutal.
Seorang dengan batin murni, mempunyai lebih dari
Pesta musim semi, Hari Suci;
Seorang yang murni dalam perbuatan,
Yang murni dalam batin,
Memiliki setiap kesempurnaan moral.
Di sinilah brahmana, kamu layak
Datang untuk dimandikan,
Untuk membuat dirimu sebagai sarana
Perlindungan yang benar bagi semua makhluk.
Apabila ucapanmu tak ada yang tak benar,
Tak ada perbuatan yang menyakiti makhluk hidup,
Juga tak mengambil sesuatau yang tak diberikan,
Dengan keyakinan dan tanpa kejahatan,
Apakah yang akan kamu lakukan dengan pergi ke Gaya?
Andaikan Gaya itu baik.
Setelah hal ini dikatakan, brahmana Sundarika Bharadvaja berkata: "Menakjubkan, Gotama! Menakjubkan, Gotama! Dhamma telah dijelaskan dengan berbagal cara oleb Gotama, seakan-akan Beliau menegakkan sesuatu yang telah roboh, menyibak yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada yang tersesat, menyalakan lampu dalam kegelapan bagi seseorang agar dapat melihat."
"Saya berlindung kepada Gotama, Dhamma dan kepada Sangha. Saya ingin di-pabbajja (meninggalkan kehidupan berumah tangga) di bawah (bimbingan) Gotama, Saya ingin di-upasampada (menjadi bhikkhu). Brahmana Sundarika Bharadvaja di-pabbajja dan selanjutnya di-upasampada di bawah bimbingan Sang Bhagava. Tak lama setelah ia di-upasampada, ia hidup menyendiri di tempat yang sepi, rajin, bersemangat dan penuh pengendalian diri. Bhikkhu Bharadvaja dengan kemampuan sendiri merealisasikan abhinna (kemampauan batin) pada kehidupan sekarang ini, ia mencapai tujuan tertinggi dari kehidupan suci, yang merupakan tujuan bagi orang-orang yang hidup pabbajja. Ia memiliki pengetahuan langsung tentang: 'Kelahiran telah berakhir, brahmanacari (kehidupan suci) telah dijalani, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada yang melebihi hal ini lagi. Bhikkhu Bharadvaja menjadi salah seorang di antara para arahat.
SALLECCHA-SUTTA
(8)
Demikianlah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Di waktu malam Bhikkhu Mahacunda bangun dari meditasi, ia pergi menemui Sang Bhagava, memberi hormat kepada Beliau dan ia duduk. Setelah ia duduk ia berkata:
"Bhante, ada banyak pandangan yang muncul di dunia, di antaranya adalah pandangan-pandangan yang berkaitan dengan atta ditthi (pandangan tentang ada jiwa kekal) dan loka ditthi (pandangan tentang dunia). Apakah pelenyapan atau pemusnahan pandangan-pandangan seperti itu dilakukan oleh bhikkhu karena ia hanya memperhatikan tentang permulaan ini?”
“Bagaimanapun pandangan-pandangan itu muncul, dasarnya dan pelaksanaannya, bilamana seorang melihat (dasarnya) sebagaimana itu apa adanya, dengan pengertian benar seperti: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan jiwaku,’ maka dengan cara ini ia membuang pandangan itu, demikian pula ia melenyapkan pandangan-pandangan itu.’
Mungkin seseorang bebas dari nafsu indera, bebas dari dhamma yang tak berguna, mencapai dan berada pada Jhana I dengan vitakka, vicara, piti, sukkha dan ekagata karena ketenangan. Ia mungkin berpikir: "Saya berada dalam pemusnahan" (nibbana). 'Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut 'pemusnahan' dalam ariya vinaya; hal ini disebut: ‘keadaan yang menyenangkan di sini dan sekarang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan menghilangkan vitaka dan vicara, ia mencapai dan berada pada Jhana II dengan keyakinan, pikiran terpusat (ekagata), piti, sukha yang muncul karena meditasi, tanpa vitaka dan vicara. Ia mungkin berpikir: "Saya berada dalam pemusnahan" (nibbana). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut "pemusnahan" dalam ariya vinaya; hal ini disebut ‘keadaan menyenangkan di sini dan sekarang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melenyapkan piti, ia barada dalam keadaan seimbang, sadar dan sangat waspada, bahagia dengan jasmani ia mencapai dan berada pada Jhana III. Ia mungkin berpikir: "Saya berada dalam pemusnahan" (nibbana). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut ‘pemusnahan’ dalam ariya vinaya, hal ini disebut ‘keadaan menyenangkan di sini dan sekarang, dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melenyapkan kebahagiaan dan ketidak bahagiaan, dengan lebih dahulu melenyapkan kesenangan dan kesusahan. Ia mencapai dan berada pada Jhana IV dengan tanpa kebahagiaan, tanpa ketidakbahagiaan, kesadarannya bersih karena keseimbangan ia mungkin berpikir: "Saya berada dalam pemusnahkan" (nibbana). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut ‘pemusnahan’ dalam ariya vinaya; hal ini disebut ‘keadaan menyenangkan di sini dan sekarang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melampaui penerangan tentang jasmani (rupa) dengan lenyapnya pencerapan ... tanpa perhatian pada pencerapan dan perbedaan (menyadari bahwa) "ruang tanpa batas", ia mencapai dan berada pada "kondisi ruang tanpa batas." Ia mungkin berpikir: “Saya berada dalam pemusnahan” (nibbana). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut pemusnahan dalam ariya vinaya; hal ini disebut ‘keadaan tenang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melampaui kondisi ruang tanpa batas' (menyadari bahwa): "kesadaran tanpa batas", ia mencapai dan barada pada keadaan kesadaran tanpa batas", ia berpikir: “Saya berada dalam pemusnahan” (nibbana). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut ‘pemusnahan’ dalam ariya vinaya; hal ini disebut ‘keadaan tenang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melampau kondisi kesadaran tanpa batas; (menyadari bahwa) "kekosongan", ia mencapai dan berada pada "kondisi kekosongan". Ia berpikir: ‘Saya berada dalam pemusnahan’ (nibbana). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut keadaan pemusnahan dalam ariya vinaya; hal ini disebut ‘keadaan tenang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melampaui alam kekosongan, ia mencapai dan berada pada kondisi 'bukan pencerapan atau bukan tidak pencerapan' ia berpikir: ‘Saya berada dalam pemusnahan’ (nibbana). Tetapi pencapaian ini bukan disebut pemusnahan dalam ariya dhamma; ini disebut 'keadaan tenang' dalam ariya vinaya.
Pemusnahan akan efektif dalam keadaan:
1. Orang lain kejam; kita tidak akan kejam.
2. Orang lain membunuh; kita menghindar dari membunuh.
3. Orang lain mengambil barang yang tak diberikan, kita tidak mengambil barang yang tidak diberikan.
4. Orang lain tidak mau hidup brahmacari, kita hidup brahmacari.
5. Orang lain bicara bohong, kita menghindarkan diri dari berbohong.
6. Orang lain memfitnah, kita menghindarkan diri dari memfitnah.
7. Orang lain bicara kasar, kita menhindarkan diri dari bicara kasar.
8. Orang lain melakukan gosip, kita menghindarkan diri dari melakukan gosip.
9. Orang lain serakah, kita tidak serakah.
10. Orang lain iri hati, kita tidak iri hati.
11. Orang lain berpandangan salah, kita berpandangan benar.
12. Orang lain berpikir salah, kita berpikir benar.
13. Orang lain berucap salah, kita berucap benar.
14. Orang lain berperbuatan salah, kita berperbuatan benar.
15. Orang lain bermatapencaharian salah, kita bermata pencaharian benar.
16. Orang lain berusaha salah, kita berusaha benar.
17. Orang lain berperhatian salah, kita berperhatian benar .
18. Orang lain bermeditasi salah, kita bermeditasi benar .
19. Orang lain berpengetahuan salah, kita berpengetahuan benar.
20. Orang lain berpembebasan salah, kita berpembebasan benar.
21. Orang lain dikuasai ngantuk dan tidur, kita tidak dikuasi ngantuk dan tidur .
22. Orang lain kacau, kita tidak kacau .
23. Orang lain tidak tentu, kita pasti .
24. Orang lain marah, kita tidak marah.
25. Orang lain bermusuhan, kita bersahabat .
26. Orang lain menghina, kita tidak menghina .
27. Orang lain menguasai, kita tidak menguasai .
28. Orang lain cemburu, kita tidak cemburu .
29. Orang lain kikir, kita tidak kikir .
30. Orang lain penipu, kita tidak menipu .
31. Orang lain pembohong, kita tidak membohong.
32. Orang lain keras kepala (bandel), kita tidak keras kepala .
33. Orang lain angkuh, kita tidak angkuh .
34. Orang lain sulit dinasehati, kita mudah dinasehati.
35. Orang lain berkawan dengan orang jahat, kita berkawan dengan orang baik .
36. Orang lain lalai, kita rajin .
37. Orang lain tak berkeyakinan, kita berkeyakinan .
38. Orang lain tidak hati-hati, kita hati-hati .
39. Orang lain tidak tahu malu, kita tahu malu .
40. Orang lain belajar sedikit, kita belajar banyak.
41. Orang lain malas, kita bersemangat.
42. Orang lain tak waspada, kita waspada .
43. Orang lain berpengertian kurang, kita berpengertian .
44. Orang lain salah mengerti sesuai dengan pandangan-pandangan pribadinya, bersikeras mempertahankan pandangan seperti itu dan sulit memusnahkan pandangan itu; kita tidak akan salah mengerti pada pandangan-pandangan pribadi itu dan akan mudah memusnahkan pandangan-pandangan itu.
Walaupun perkembangan batin dalam kusala dhamma (dhamma yang baik) adalah sangat penting, maka apakah yang harus dikatakan untuk aktivitas tubuh dan ucapan sebagai akibat hal-hal itu? Kita harus berpikir sebagai berikut:
1. Orang lain kejam, kita tidak akan kejam ….
2. Orang lain membunuh; kita menghindar dari membunuh.
3. Orang lain mengambil barang yang tak diberikan, kita tidak mengambil barang yang tidak diberikan.
4. Orang lain tidak mau hidup brahmacari, kita hidup brahmacari.
5. Orang lain bicara bohong, kita menghindarkan diri dari berbohong.
6. Orang lain memfitnah, kita menghindarkan diri dari memfitnah.
7. Orang lain bicara kasar, kita menhindarkan diri dari bicara kasar.
8. Orang lain melakukan gosip, kita menghindarkan diri dari melakukan gosip.
9. Orang lain serakah, kita tidak serakah.
10. Orang lain iri hati, kita tidak iri hati.
11. Orang lain berpandangan salah, kita berpandangan benar.
12. Orang lain berpikir salah, kita berpikir benar.
13. Orang lain berucap salah, kita berucap benar.
14. Orang lain berperbuatan salah, kita berperbuatan benar.
15. Orang lain bermatapencaharian salah, kita bermata pencaharian benar.
16. Orang lain berusaha salah, kita berusaha benar.
17. Orang lain berperhatian salah, kita berperhatian benar .
18. Orang lain bermeditasi salah, kita bermeditasi benar .
19. Orang lain berpengetahuan salah, kita berpengetahuan benar.
20. Orang lain berpembebasan salah, kita berpembebasan benar.
21. Orang lain dikuasai ngantuk dan tidur, kita tidak dikuasi ngantuk dan tidur .
22. Orang lain kacau, kita tidak kacau .
23. Orang lain tidak tentu, kita pasti .
24. Orang lain marah, kita tidak marah.
25. Orang lain bermusuhan, kita bersahabat .
26. Orang lain menghina, kita tidak menghina .
27. Orang lain menguasai, kita tidak menguasai .
28. Orang lain cemburu, kita tidak cemburu .
29. Orang lain kikir, kita tidak kikir .
30. Orang lain penipu, kita tidak menipu .
31. Orang lain pembohong, kita tidak membohong.
32. Orang lain keras kepala (bandel), kita tidak keras kepala .
33. Orang lain angkuh, kita tidak angkuh .
34. Orang lain sulit dinasehati, kita mudah dinasehati.
35. Orang lain berkawan dengan orang jahat, kita berkawan dengan orang baik .
36. Orang lain lalai, kita rajin .
37. Orang lain tak berkeyakinan, kita berkeyakinan .
38. Orang lain tidak hati-hati, kita hati-hati .
39. Orang lain tidak tahu malu, kita tahu malu .
40. Orang lain belajar sedikit, kita belajar banyak.
41. Orang lain malas, kita bersemangat.
42. Orang lain tak waspada, kita waspada .
43. Orang lain berpengertian kurang, kita berpengertian .
44. Orang lain salah mengerti sesuai dengan pandangan-pandangan pribadinya, bersikeras mempertahankan pandangan seperti itu dan sulit memusnahkan pandangan itu; kita tidak akan salah mengerti pada pandangan-pandangan pribadi itu dan akan mudah memusnahkan pandangan-pandangan itu.
Misalnya, ada jalan tak rata dan tak ada jalan rata yang dapat digunakan untuk menghindari jalan tak rata itu. Maka begitu pula:
1. Orang kejam, karena tak memiliki sifat tak kejam untuk menghindarkannya.
2. Orang pembunuh, karena tak memiliki pantangan membunuh untuk menghindarkannya.
3. Orang mengambil barang yang tak diberikan, karena tak memiliki pantangan untuk tak mengambil barang yang tak dibenakan untuk menghindarkannya.
4. Orang tidak hidup brahmacari, karena tak memilm hidup brahmacari untuk menghindarkannya.
5. Orang yang berbohong, karena tak memiliki kejujuran untuk menghindarkannya.
6. Orang yang memfitnah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri dari memfitnah.
7. Orang yang bicara kasar, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri dari bicara kasar, atau tidak memiliki sopan santung
8. Orang yang melakukan gosip, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri dari melakukan gosip.
9. Orang yang serakah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak serakah.
10. Orang yang iri hati, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak iri hati.
11. Orang yang berpandangan salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berpandangan benar.
12. Orang yang berpikir salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berpikir benar.
13. Orang yang berucap salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berucap benar.
14. Orang yang berperbuatan salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berperbuatan benar.
15. Orang yang bermatapencaharian salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk bermata pencaharian benar.
16. Orang yang berusaha salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berusaha benar.
17. Orang yang berperhatian salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berperhatian benar .
18. Orang yang bermeditasi salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk bermeditasi benar .
19. Orang yang berpengetahuan salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berpengetahuan benar.
20. Orang yang berpembebasan salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berpembebasan benar.
21. Orang yang dikuasai ngantuk dan tidur, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak dikuasi ngantuk dan tidur .
22. Orang yang kacau, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak kacau .
23. Orang yang tidak tentu, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk pasti .
24. Orang yang marah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak marah.
25. Orang yang bermusuhan, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk bersahabat .
26. Orang yang menghina, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menghina .
27. Orang yang menguasai, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menguasai .
28. Orang yang cemburu, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak cemburu .
29. Orang yang kikir, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak kikir .
30. Orang yang penipu, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menipu .
31. Orang yang pembohong, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak membohong.
32. Orang yang keras kepala (bandel), karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak keras kepala .
33. Orang yang angkuh, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak angkuh .
34. Orang yang sulit dinasehati, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk mudah dinasehati.
35. Orang yang berkawan dengan orang jahat, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berkawan dengan orang baik .
36. Orang yang lalai, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk rajin .
37. Orang yang tak berkeyakinan, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berkeyakinan .
38. Orang yang tidak hati-hati, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk hati-hati .
39. Orang yang tidak tahu malu, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tahu malu .
40. Orang yang belajar sedikit, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk belajar banyak.
41. Orang yang malas, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk bersemangat.
42. Orang yang tak waspada, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk waspada .
43. Orang yang berpengertian kurang, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berpengertian .
44. Orang yang salah mengerti sesuai dengan pandangan-pandangan pribadinya, bersikeras mempertahankan pandangan seperti itu dan sulit memusnahkan pandangan itu; karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak akan salah mengerti pada pandangan-pandangan pribadi itu dan akan mudah memusnahkan pandangan-pandangan itu.
Bagaimana pun akusala dhamma (dhamma tak baik) itu, dhamma seperti itu mengarah ke kondisi yang rendah; sebaliknya, bagaimana pun kusala dhamma (dhamma baik) itu, dhamma seperti itu mengarah ke kondisi lebih tinggi.
Dengan demikian:
1. Orang yang kejam, tidak memiliki tanpa-kekejaman sebagai kondisi lebih tinggi.
2. Orang yang membunuh, tidak memiliki pantangan membunuh sebagai kondisi lebih tinggi.
3. Orang mengambil barang yang tak diberikan, tidak memiliki pantangan untuk tak mengambil barang yang tak diberikan sebagai kondisi lebih tinggi.
4. Orang tidak hidup brahmacari, tidak memiliki hidup brahmacari sebagai kondisi lebih tinggi.
5. Orang yang berbohong, tidak memiliki kejujuran sebagai kondisi lebih tinggi.
6. Orang yang memfitnah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri dari memfitnah sebagai kondisi lebih tinggi.
7. Orang yang bicara kasar, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri bicara kasar, atau tidak memiliki sopan santun sebagai kondisi lebih tinggi
8. Orang yang melakukan gosip, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri dari melakukan gosip sebagai kondisi lebih tinggi.
9. Orang yang serakah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak serakah sebagai kondisi lebih tinggi.
10. Orang yang iri hati, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak iri hati sebagai kondisi lebih tinggi.
11. Orang yang berpandangan salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berpandangan benar sebagai kondisi lebih tinggi.
12. Orang yang berpikir salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berpikir benar sebagai kondisi lebih tinggi.
13. Orang yang berucap salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berucap benar sebagai kondisi lebih tinggi.
14. Orang yang berperbuatan salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berperbuatan benar sebagai kondisi lebih tinggi.
15. Orang yang bermatapencaharian salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk bermata pencaharian benar sebagai kondisi lebih tinggi.
16. Orang yang berusaha salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berusaha benar sebagai kondisi lebih tinggi.
17. Orang yang berperhatian salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berperhatian benar sebagai kondisi lebih tinggi.
18. Orang yang bermeditasi salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk bermeditasi benar sebagai kondisi lebih tinggi.
19. Orang yang berpengetahuan salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berpengetahuan benar sebagai kondisi lebih tinggi.
20. Orang yang berpembebasan salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berpembebasan benar sebagai kondisi lebih tinggi.
21. Orang yang dikuasai ngantuk dan tidur, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak dikuasi ngantuk dan tidur sebagai kondisi lebih tinggi.
22. Orang yang kacau, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak kacau sebagai kondisi lebih tinggi.
23. Orang yang tidak tentu, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk pasti sebagai kondisi lebih tinggi.
24. Orang yang marah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak marah sebagai kondisi lebih tinggi.
25. Orang yang bermusuhan, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk bersahabat sebagai kondisi lebih tinggi.
26. Orang yang menghina, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menghina sebagai kondisi lebih tinggi.
27. Orang yang menguasai, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menguasai sebagai kondisi lebih tinggi.
28. Orang yang cemburu, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak cemburu sebagai kondisi lebih tinggi.
29. Orang yang kikir, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak kikir sebagai kondisi lebih tinggi.
30. Orang yang penipu, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menipu sebagai kondisi lebih tinggi.
31. Orang yang pembohong, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak membohong sebagai kondisi lebih tinggi.
32. Orang yang keras kepala (bandel), tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak keras kepala sebagai kondisi lebih tinggi.
33. Orang yang angkuh, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak angkuh sebagai kondisi lebih tinggi.
34. Orang yang sulit dinasehati, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk mudah dinasehati sebagai kondisi lebih tinggi.
35. Orang yang berkawan dengan orang jahat, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berkawan dengan orang baik sebagai kondisi lebih tinggi.
36. Orang yang lalai, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk rajin sebagai kondisi lebih tinggi.
37. Orang yang tak berkeyakinan, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berkeyakinan sebagai kondisi lebih tinggi.
38. Orang yang tidak hati-hati, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk hati-hati sebagai kondisi lebih tinggi.
39. Orang yang tidak tahu malu, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tahu malu sebagai kondisi lebih tinggi.
40. Orang yang belajar sedikit, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk belajar banyak sebagai kondisi lebih tinggi.
41. Orang yang malas, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk bersemangat sebagai kondisi lebih tinggi.
42. Orang yang tak waspada, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk waspada sebagai kondisi lebih tinggi.
43. Orang yang berpengertian kurang, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berpengertian sebagai kondisi lebih tinggi.
44. Orang yang berpengertian salah karena pandangan-pandangan pribadinya, bersikeras mempertahankan pandangan seperti itu; tidak memiliki pengertian salah sesuai dengan pandangan pribadi, tidak bersikeras dan mudah memusnahkannya, adalah kondisi lebih tinggi.
Orang yang menggapai-gapai (untuk menyelamatkan diri) dalam rawa demi menyelamatkan orang lain yang mengapai-gapai dalam rawa adalah tidak mungkin; orang yang tidak berada dalam rawa dapat menyelamatkan orang yang menggapai-gapai dalam rawa adalah mungkin.
Orang tidak terlatih, tidak disiplin dan tidak mencapai nibbana akan melatih, mendisiplinkan dan membimbing orang lain untuk mencapai nibbana adalah tidak mungkin; namun orang yang terlatih, disiplin dan telah mencapai nibbana, bila melatih, mendisiplinkan dan membimbing orang lain untuk mencapai nibbana adalah mungkin.
Begitu pula:
1. Orang kejam berubah menjadi tanpa kekejam merupakan cara untuk mencapai nibbana.
2. Pembunuh berubah menjadi pantang membunuh merupakan cara untuk mencapai nibbana.
3. Orang berubah menjadi pantang mengambil barang yang tak diberikan, merupakan cara untuk mencapai nibbana
4. Orang berubah menjadi hidup brahmacari, merupakan cara untuk mencapai nibbana
5. Orang berubah menjadi pantang berbohong, tidak memiliki kejujuran merupakan cara untuk mencapai nibbana.
6. Orang berubah menjadi pantang memfitnah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
7. Orang berubah menjadi pantang bicara kasar, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
8. Orang berubah menjadi pantang melakukan gosip, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
9. Orang berubah menjadi pantang serakah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
10. Orang berubah menjadi pantang iri hati, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
11. Orang berubah menjadi pantang berpandangan salah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
12. Orang berubah menjadi pantang berpikir salah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
13. Orang berubah menjadi pantang berucap salah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
14. Orang berubah menjadi pantang berperbuatan salah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
15. Orang berubah menjadi pantang bermatapencaharian salah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
16. Orang berubah menjadi pantang berusaha salah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
17. Orang berubah menjadi pantang berperhatian salah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
18. Orang berubah menjadi pantang bermeditasi salah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
19. Orang berubah menjadi pantang berpengetahuan salah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
20. Orang berubah menjadi pantang berpembebasan salah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
21. Orang berubah menjadi pantang dikuasai ngantuk dan tidur, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
22. Orang berubah menjadi pantang kacau, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
23. Orang berubah menjadi pantang tidak tentu, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
24. Orang berubah menjadi pantang marah, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
25. Orang berubah menjadi pantang bermusuhan, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
26. Orang berubah menjadi pantang menghina, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
27. Orang berubah menjadi pantang menguasai, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
28. Orang berubah menjadi pantang cemburu, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
29. Orang berubah menjadi pantang kikir, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
30. Orang berubah menjadi pantang penipu, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
31. Orang berubah menjadi pantang pembohong, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
32. Orang berubah menjadi pantang keras kepala (bandel), merupakan cara untuk mencapai nibbana.
33. Orang berubah menjadi pantang angkuh, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
34. Orang berubah menjadi pantang sulit dinasehati, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
35. Orang berubah menjadi pantang berkawan dengan orang jahat, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
36. Orang berubah menjadi pantang lalai, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
37. Orang berubah menjadi pantang tak berkeyakinan, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
38. Orang berubah menjadi pantang tidak hati-hati, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
39. Orang berubah menjadi pantang tidak tahu malu, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
40. Orang berubah menjadi pantang belajar sedikit, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
41. Orang berubah menjadi pantang malas, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
42. Orang berubah menjadi pantang tak waspada, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
43. Orang berubah menjadi pantang berpengertian kurang, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
44. Orang berubah menjadi pantang berpengertian salah karena pandangan-pandangan pribadinya dan bersikeras mempertahankan pandangan seperti itu, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
Demikianlah, jalan untuk memusnahkan, jalan untuk mengembangkan batin, jalan untuk menghindari, jalan untuk mencapai pencapaian lebih tinggi dan jalan untuk mencapai nibbana telah saya tunjukkan.
Apa yang harus dilakukan untuk siswanya berdasarkan pada kasih sayang Guru yang mengharapkan kesejahteraan dan kasihnya, telah saya kerjakan untukmu, Cunda. Itulah akar dari pohon-pohon, ini pondok-pondok kosong. Cunda kembangkan-lah Jhana, jangan menunggu, itu akan mengakibatkan penyesalan. Inilah pesan kami untukmu.
Itulah yang dikatakan Sang Bhagava. Bhikkhu Mahacunda puas dan gembira mendegar uraian Sang Bhagava.
SAMMADITTHI SUTTA
(9)
Demikianlah saya dengar.
1. Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap berada di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Bhikkhu Sariputta menyapa para bhikkhu: "Para bhikkhu".
"Avuso," jawab mereka.
Bhikkhu Sariputta berkata: "Para avuso mengatakan: 'Seseorang berpandangan benar sebagai pandangan benar (samma ditthi)'. Dalam cara apa siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada Dhamma serta hidup sesuai dengan dhamma.”
“Sesungguhnya, kami datang dari jauh untuk belajar dari Bhikkhu Sariputta. Setelah mendengarkan Dhamma ini, para bhikkhu akan mengingatnya." Demikianlah yang dimohon para bhikkhu kepada Bhikkhu Sariputta.
2. "Para avuso, dengar dan perhatikanlah baik-baik apa yang akan saya sampaikan.”
Para bhikkhu menjawab: "Baiklah avuso".
Selanjutnya Bhikkhu Sariputta berkata: "Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti hal-hal yang tidak bermanfaat (akusala), akar dari hal-hal yang tidak bermanfaat, hal-hal yang bermanfaat (kusala), dan akar dari hal-hal yang bermanfaat. Melalui cara ini, dia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki."
Apakah hal-hal yang tidak membawa manfaat, akar dari hal-hal yang tidak membawa manfaat; apakah hal-hal yang membawa manfaat, akar dari hal-hal yang membawa manfaat?
Hal-hal yang tidak membawa manfaat itu adalah:
1. Membunuh makhluk-makhluk (panatipata).
2. Mengambil apa yang tidak diberikan (adinadana).
3. Melakukan pemuasan nafsu dengan cara yang salah (kamesumicchacara).
4. Berdusta (musavada).
5. Menfitnah (pisunavaca)
6. Mengucapkan kata-kata kasar (pharusavaca)
7. Pergunjingan (samphappalapa)
8. Keserakahan (abhijjha)
9. Kebencian (byapada)
10. Berpandangan salah (micchaditthi)
Inilah hal-hal yang tidak membawa manfaat (akusala).
3. Apakah akar dari hal yang tidak membawa manfaat (akusalamula)?
Keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan (moha) adalah akar hal-hal yang tidak bennanfaat. Inilah akar dari hal yang tidak membawa manfaat (akusala).
Apakah hal yang membawa manfaat (kusala)? Hal yang membawa manfaat adalah:
1. Tidak membunuh makhluk-makhluk hidup
2. Tidak mengambil apa yang tidak diberikan
3. Tidak memuaskan nafsu dengah cara yang salah
4. Tidak berdusta
5. Tidak menfitnah
6. Tidak berkata kasar
7. Tidak bergunjing
8. Tidak serakah
9. Tidak membenci
10. Tidak memiliki pandangan salah
Inilah hal-hal yang membawa manfaat (kusala).
4. Apakah akar dari perbuatan yang membawa manfaat (keuntungan)?
Tidak serakah (alobha), tidak membenci (adosa), kebijaksanaan (amoha) adalah akar dari hal-hal yang bermanfaat (kusala). Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya hal-hal yang tidak bermanfaat (akusala) serta akarnya dan hal-hal yang bermanfaat (kusala) serta akarnya, dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama dari kecenderungan nafsu-nafsu, menolak, membasmi pandangan dan konsep tentang diri (atta). Dengan melenyapkan kegelapan batin (avijja) dan mengembangkan pengetahuan benar (vijja), maka dengan ini ia mengakhiri penderitaan (dukkha nirodha). Dengan cara ini, seorang siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso", kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
5. Kemudian mereka bertanya lagi: "Avuso, tetapi adakah cara lain bagi seorang siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki."
"Ada", jawab Bhikkhu Sariputta.
"Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang makanan yang menunjang kehidupan (ahara), munculnya, lenyapnya, jalan untuk melenyapkan ahara. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus, memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Apakah makanan (ahara) yang menunjang kehidupan, sumbernya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya?"
Ada 4 (empat) jenis makanan yang menunjang kehidupan (cattaro ahara) untuk memelihara dan menunjang kelangsungan hidup makhluk-makhluk dan bagi mereka yang mencari pembaruan dalam kehidupan. Apakah keempat hal itu ? Keempat hal itu adalah:
1. Makanan jasmani (Kabalimkara ahara)
2. Kesan-kesan (Phassa ahara)
3. Kehendak pikiran (Manosancetana ahara)
4. Kesadaran (Vinnana ahara)
Dengan munculnya keinginan (tanha), maka muncullah ahara. Dengan lenyapnya keinginan (tanha), maka lenyaplah ahara.
Jalan utama untuk melenyapkan ahara hanyalah Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga), yaitu:
1. Pandangan Benar (Samma Ditthi)
2. Pikiran Benar (Samma Sankappa)
3. Ucapan Benar (Samma Vaca)
4. Perbuatan Benar (Samma Kammanta)
5. Mata Pencaharian Benar (Samma Ajiva)
6. Usaha Benar (Samma Vayama)
7. Perhatian Benar (Samma Sati)
8. Konsentrasi Benar (Samma Samadhi)
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia berpandangan benar, ia berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso", kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
6. Kemudian mereka bertanya lagi: "Avuso, tetapi adakah cara lain bagi seorang siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus, memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang penderitaan (dukkha), sumber dari penderitaan (dukkha samudaya), lenyapnya penderitaan (dukkha nirodha) dan jalan untuk melenyapkan penderitaan (dukkha nirodha gaminipati-pada). Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus, berkeyakinan teguh pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah penderitaan (dukkha), sumber dari penderitaan, lenyapnya penderitaan, jalan untuk melenyapkan penderitaan, kelahiran, usia tua, kesakitan, kematian, duka cita, ratap tangis, sakit, susah hati, putus asa, tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan. Singkatnya, melekat pada lima kelompok kehidupan (pancakkhanda) adalah penderitaan. Inilah apa yang dinamakan penderitaan (dukkha).
Apakah sumber dari penderitaan?
Keinginan (tanha) yang tiada hentinya, disertai kegembiraan dan nafsu, menyukai ini dan itu, inilah yang dinamakan:
1. Keinginan terhadap nafsu indera (kama tanha)
2. Keinginan untuk menjadi kembali (bhava tanha)
3. Keinginan untuk tidak menjadi kembali (vibhava tanha) Inilah asal mula dari penderitaan (dukkha samudaya).
Apakah yang dimaksud dengan lenyapnya penderitaan?
Menyingkirkan, menghilangkan sedikit demi sedikit dan menghentikan, menyerahkan, melepaskan, membiarkan pergi dan menolak nafsu-nafsu keinginan (tanha). Inilah yang dinamakan lenyapnya penderitaan (dukkha nirodha).
Apakah Jalan untuk melenyapkan penderitaan?
Jalan untuk melenyapkan penderitaan adalah Jalan Mulia berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga), yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang makanan apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso", kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira terhadap uraian Bhikkhu Sariputta.
7. Kemudian mereka bertanya kembali: "Avuso, tetapi apakah ada cara lain bagi seorang siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki."
“Ada", jawab Bhikkhu Sariputta.
“Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti usia tua (jara) dan kematian (marana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkan usia tua dan kematian. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki”.
“Tetapi apakah usia tua dan kematian, sumbemya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkan usia tua dan kematian? “
“Dalam berbagai proses dari makhluk-makhluk, usia tua (jara), gigi yang patah (danta), rambut yang memutih (kesa), keriput, tua renta dan lemah tak berdaya, inilah yang dinamakan usia tua”.
Dalam berbagai proses dari makhluk-makhluk, mati kematian, meninggal dunia, perpisahan, kehilangan, ditinggalkan, berakhirnya waktu kehidupan, khandha-khandha terpisah - inilah yang dinamakan kematian.
Jadi, inilah usia tua dan kematian yang disebut jara marana. Dengan adanya kelahiran, maka muncul usia tua dan kematian. Dengan tidak adanya kelahiran, maka tidak ada usia tua dan kematian. Jalan untuk mengakhiri usia tua dan kematian hanyalah Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga) yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
“Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang makanan apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuh-nya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakin-an yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Avuso, sungguh baik," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
8. Kemudian mereka bertanya lagi: "Tetapi, avuso adakah cara lain bagi seorang siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki."
Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang kelahiran (jati), sebabnya, dan jalan untuk menghentikan kelahiran. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus, memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah kelahiran, sebab dari kelahiran, lenyapnya dan jalan untuk menghentikan kelahiran?
Dalam proses kehidupan setiap makhluk, kelahiran makhluk-makhluk, mereka terlahir, keguguran, penerus, perwujudan dari kelompok kehidupan (khanda), dan indera memiliki kesan. Inilah yang dinamakan kelahiran (jati). Dengan timbulnya penjadian (bhava) maka timbullah kelahiran (jati). Dengan lenyapnya bhava, maka lenyaplah kelahiran (jati). Jalan utama untuk menghentikan kelahiran hanyalah Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga) yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
“Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Avuso, sungguh baik," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
9. Kemudian mereka bertanya lagi: "Avuso, tetapi adakah cara lain bagi siswa ariya yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin seorang siswa yang mulia mengerti tentang penjadian (bhava), sebabya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah penjadian (bhava), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya?
Ada tiga jenis dari penjadian (bhava), yaitu:
1. Penjadian di alam yang penuh napsu (Kama Bhava)
2. Penjadian di alam Rupa Brahma (Rupa Bhava)
3. Penjadian di alam Arupa Brahma (Arupa Bhava)
Dengan timbulnya kemelekatan (upadana) maka timbul penjadian (bhava). Dengan lenyapnya upadana, maka lenyap pula bhava. Jalan untuk melenyapkannya hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
10. Kemudian mereka bertanya lagi: "Tetapi, avuso adakah cara lain bagi siswa ariya yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki."
"Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang kemelekatan (upadana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah kemelekatan, apakah sebabnya dari kemelekatan, apakah lenyapnya kemelekatan, apakah jalan untuk melenyapkan kemelekatan? Ada 4 (empat) jenis kemelekatan, yaitu:
1. Kemelekatan terhadap nafsu indera (Kamupadana)
2. Kemelekatan terhadap pandangan salah (Ditthupadana)
3. Kemelekatan terhadap upacara-upacara agama (Silabbatupadana)
4. Kemelekatan terhadap adanya diri (atta) yang kekal (Attavadupadana).
Dengan munculnya keinginan (tanha), maka muncullah kemelekatan (upadana).
Jalan untuk melenyapkan kemelekatan (upadana) hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaltu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
11. Kemudian mereka bertanya lagi: "Tetapi, avuso adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sepurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang keinginan untuk mengulangi lagi (tanha), sebab lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah keinginan (tanha), apakah sebab keinginan, apakah yang melenyapkan tanha, dan apakah jalan untuk melenyapkan tanha.
Ada enam jenis tanha, yaitu:
1 . Keinginan akan bentuk-bentuk (Rupa Tanha)
2. Keinginan akan suara (Sadda Tanha)
3. Keinginan akan aroma (Gandha Tanha)
4. Keinginan akan rasa (Rasa Tanha)
5. Keinginan akan sentuhan (Photthabba Tanha)
6. Keinginan akan obyek-obyek pikiran (Dhamma Tanha)
Dengan timbulnya perasaan (vedana), maka timbuilah keinginan (tanha). Jalan untuk melenyapkan tanha hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
12. Kemudian mereka bertanya lagi: "Avuso, tetapi adakah cara lain dimana siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan mempunyai keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang harus ia miliki.”
"Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang perasaan (vedana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan mempunyai keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah perasaan (vedana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya ?
Ada enam macam yang mengakibatkan timbulnya perasaan yaitu:
1. Perasaan yang timbul karena mata melihat (Cakkhusam-phasajja vedana)
2. Perasaan yang timbul karena telinga mendengar (sota-samphasajja vedana)
3. Perasaan yang timbul karena hidung mencium (Ghana-samphasajja vedana)
4. Perasaan yang timbul karena lidah mengecap (Jivhasamphasajja vedana)
5. Perasaan yang timbul karena jasmani menyentuh (Kaya-samphasajja vedana)
6. Perasaan yang timbul karena pikiran berpikir (Manosamphasajja vedana).
Dengan timbulnya sentuhan (phassa), maka timbullah perasaan (vedana). Dengan lenyapnya kesan-kesan (phassa), maka lenyaplah perasaan (vedana). Jalan untuk melenyapkan perasaan hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
“Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
13. Kemudian mereka bertanya lagi: "Tetapi, avuso adakah cara lain di mana siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki,"
"Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin scorang siswa ariya mengerti tentang, kesan-kesan (phasa), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannva. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Ada enam hal yang menyebabkan sentuhan (phassa), yaitu:
1. Mata melihat (Cakkhusamphassa)
2. Telinga mendengar (Sotasamphassa)
3. Hidung mencium (Ghanasamphassa)
4. Lidah mengecap (Jivhsamphassa)
5. Jasmani menyentuh (Kayasamphassa)
6. Pikiran berpikir (Manosamphassa)
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
14. Kemudian mereka bertanya lagi: "Avuso, tetapi adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan semurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang enam landasan indera (salayatana), sebabnva, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah enam landasan indera (salayatana), sumbemya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya ?
Ada enam landasan yang mengakibatkan timbulnya enam landasan indera, yaitu:
1. Landasan mata (Cakkhayatana)
2. Landasan telinga (Sotayatana)
3. Landasan hidung (Ghanayatana)
4. Landasan lidah (Jivhayatana)
5. Landasan (seluruh permukaan) tubuh (Kayayatana)
6. Landasan pikiran (Manayatana)
Dengan timbulnya jasmani dan batin (nama rupa), maka-timbullah enam landasan indera (salayatana). Dengan lenyapnya jasmani dan batin, maka lenyaplah enam landasan indera (salayatana). Jalan untuk melenyapkan enam landasan indera hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaltu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian dan konsentrasi benar.
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Denan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
15. Kemudian mereka bertanya lagi: "Avuso, tetapi adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang jasmani dan batin (nama rupa), sumbernya, lenyapnva dan jalan untuk melenyapkannya. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah jasmani dan batin (nama rupa), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya?
Perasaan (vedana), pencerapan (sanna), kehendak (cetana), sentuhan (phassa) dan perhatian (manasikara), inilah yang dinamakan batin (nama).
Empat unsur (catu dhatu) dan bentuk yang berasal dari empat unsur utama (mahabhuta rupa), inilah yang dinamakan jasmani (rupa).
Dengan timbulnya kesadaran (vinnana), maka timbullah jasmani dan batin (nama rupa). Dengan lenyapnya kesadaran (vinnana), maka lenyaplah jasmani dan batin. Jalan untuk melenyapkan jasmani dan batin hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
16. Kemudian mereka bertanya lagi: "Avuso, tetapi adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
“Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin scorang siswa ariya mengerti tentang kesadaran (vinnana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Dengan cara ini, ia adalah berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah kesadaran (vinnana), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya ? Ada enam macam yang mengakibatkan timbulnya kesadaran, yaitu:
1. Kesadaran yang timbul karena mata melihat (cakkhu vinnana).
2. Kesadaran yang timbul karena telinga mendengar (sota vinnana).
3. Kesadaran yang timbul karena hidung mencium (ghana vinnana).
4. Kesadaran yang timbul karena lidah mengecap (jivha vinnana).
5. Kesadaran yang timbul karena jasmani menyentuh (kaya vinnana).
6. Kesadaran yang timbul karena pikiran berpikir (mano vinnana).
Dengan timbulnya bentuk-bentuk kamma (sankhara), maka timbulah kesadaran (vinnana). Dengan lenyapnya bentuk-bentuk kamma (sankhara), maka lenyaplah kesadaran (vinnana). Jalan untuk melenyapkan kesadaran hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
“Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sunguh baik, avuso," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengar uraian Bhikkhu Sariputta.
17 Kemudian mereka bertanya lagi: "Avuso, tetapi adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang bentuk-bentuk kamma (sankhara), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah bentuk-bentuk kamma (sankhara), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya?
Ada tiga macam yang mengakibatkan timbulnya bentuk-bentuk kamma (sankhara), yaitu:
1. Pembentukan badan jasmani (kaya sankhara)
2. Pembentukan kata-kata (vaci sankhara)
3. Pembentukan pikiran (citta sankhara)
Dengan timbulnya kegelapan batin (avijja), maka timbullah bentuk-bentuk kamma (sankhara). Dengan lenyapnya kegelapan batin (avijja), maka lenyaplah bentuk-bentuk kamma (sankhara). Jalan untuk melenyapkan bentuk-bentuk kamma hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
18. Kemudian mereka bertanya lagi: "Tetapi, avuso adakah cara lain di mana siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan mempunyai keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki."
"Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang kegelapan batin (avijja) sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Dengan cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah kegelapan batin (avijja), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya?.
Tidak mengetahui adanya penderitaan (dukkha), sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, jalan untuk melenyapkan penderitaan. Dengan timbulnya noda (asava), maka timbullah kegelapan batin (avijja). Dengan lenyapnya noda (asava), maka lenyaplah kegelapan batin (avijja). Jalan untuk melenyapkan kegelapan batin hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang apa yang menunjang kehidupan (ahara), dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama (dukkha). Dengan cara ini, ia adalah orang yang berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Sungguh baik, avuso," kata para bhikkhu dengan perasaan puas dan gembira setelah mendengarkan uraian Bhikkhu Sariputta.
19. Kemudian mereka bertanya lagi: "Tetapi, avuso adakah cara lain bagi siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.”
"Ada," jawab Bhikkhu Sariputta.
Sedapat mungkin seorang siswa ariya mengerti tentang kekotoran batin (asava), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkannya. Melalui cara ini, ia berpandangan benar, berpandangan lurus dan memiliki keyakinan sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
Apakah kekotoran batin (asava), sebabnya, lenyapnya dan jalan untuk melenyapkan kekotoran batin (asava)?
Ada 3 (tiga) jenis kekotoran batin (asava), yaitu:
1. Noda dari keinginan memuaskan nafsu indera (Kamasava).
2. Nodadari keinginan untuk menjadi (Bhavasava).
3. Noda dari ketidaktahuan (Avijjasava).
Dengan timbulnya kegelapan batin (avijja), maka timbuilah kekotoran batin (asava). Dengan lenyapnya kegelapan batin (avijja), maka lenyaplah kekotoran batin (asava). Jalan untuk melenyapkan kekotoran batin hanyalah Ariya Atthangika Magga, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.
Setelah siswa ariya mengerti sepenuhnya tentang kekotoran batin, kekotoran batin serta akarnya, dia telah melenyapkan sepenuhnya sebab utama dari kecenderungan napsu-napsu, menolak, membasmi pandangan dan konsep tentang diri (atta). Dengan melenyapkan kegelapan batin (avijja) dan menumbuhkan pengetahuan benar (vijja), maka di sinilah ia mengakhiri penderitaan (dukkha nirodha).
Dengan cara ini, seorang siswa ariya berpandangan benar, berpandangan lurus, memiliki keyakinan yang sempurna pada dhamma. Inilah keyakinan benar yang ia miliki.
SATIPATTHANA SUTTA
10
1-- Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di daerah orang kuru, di Kammasadhana, sebuah kota niaga suku Kuru. Di sana Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu."
"Ya, Bhante," jawab para bhikkhu.
Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, hanya ada sebuah jalan untuk mensucikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi kesedihan dan ratap tangis, untuk mengakhiri derita dan duka cita, menjalani jalan benar, untuk mencapai nibbana, yaitu Empat 'Satipatthana' (Landasan Perhatian).
“Apakah empat hal itu?
Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu terus-menerus melakukan
(1) 'pengamatan-jasmani pada jasmani' (kaye kayanupassi), tekun, sadar, mengendalikan diri, mengatasi keserakahan dan kesedihan dalam dirinya.
(2) 'pengamatan perasaan pada perasaan' (vedanasuvedananupassi), tekun, sadar, mengendalikan diri, mengatasi keserakahan dan kesedihan dalam dirinya.
(3) 'pengamatan-pikiran pada pikiran' (citte cittanupassi), tekun, sadar, mengendalikan diri, mengatasi keserakahan dan kesedihan dalam dirinya.
(4) 'pengamatan-obyek-mental pada obyek mental' (dhammesu dhammanupassi), tekun, sadar, mengendalikan diri, mengatasi keserakahan dan kesedihan dalam dirinya.
2— Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani'?
Dalam hal ini, seorang bhikkhu masuk hutan, pergi ke bawah sebatang pohon atau ke suatu tempat yang sepi; lalu ia duduk bersila dengan badan tegak dan senantiasa sadar terhadap apa yang dilakukannya.
• Dengan sadar ia menarik napas, dengan sadar ia mengeluarkan napas.
• Jika ia menarik napas panjang, ia mengetahui: ‘Saya menarik napas panjang,’
• Jika ia mengeluarkan napas panjang, ia mengetahui: ‘Saya mengeluarkan napas panjang.’
• Jika ia menarik napas pendek, ia mengetahui: ‘Saya menarik napas pendek,’
• Jika ia mengeluarkan napas pendek, ia mengetahui: ‘Saya mengeluarkan napas pendek,’
• Ia melatih dirinya dengan berpikir: ‘Saya akan menarik napas yang dirasakan seluruh tubuh.’
• Ia melatih dengan berpikir: ‘Saya akan mengeluarkan napas yang dirasakan seluruh tubuh.’
• Ia melatih dirinya dengan berpikir: ‘Saya akan menarik napas yang menenangkan seluruh aktivitas tubuh.’
• Ia melatih dirinya dengan berpikir: ‘Saya akan mengeluarkan napas yang menenangkan seluruh aktivitas tubuh.’
• Bagaikan scorang ahli pembuat kendi atau muridnya, sewaktu membuat putaran panjang, ia mengetahui: ‘Saya membuat putaran panjang.’
• Jika ia membuat putaran pendek, ia mengetahui: ‘Saya membuat putaran pendek.’
• Begitu pula, jika seorang bhikkhu menarik napas panjang, ia mengetahui: ‘Saya menarik napas panjang;
• Begitu pula jika ia mengeluarkan napas pendek, ia mengetahui: ‘Saya mengeluarkan napas pendek.’
• Ia melatih dirinya dengan berpikir: ‘Saya akan menarik napas yang dirasakan seluruh tubuh.’ ... Saya akan mengeluarkan napas yang menenangkan seluruh aktivitas tubuh.’
• Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajjhatta);
• ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha); atau
• ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam. Atau
• ia melakukan pengamatan terhadap ‘proses munculnya segala sesuatu’ (samuda-yadhammanupassi) dalam jasmani;
• ia melakukan pengamatan terhadap proses lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau
• ia melakukan pengamatan terhadap ‘proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani. Atau
• ia berpikir: ‘Ada jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apapun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
3-- Para bhikkhu,
• jika seorang bhikkhu berjalan, ia menyadari: ‘Saya berjalan’;
• jika ia berdiri diam, ia menyadari: ‘Saya berdiri diam’;
• jika ia duduk, ia menyadari: ‘Saya duduk’; atau
• jika ia berbaring, ia menyadari: ‘Saya berbaring.’
• Jadi, dalam posisi tubuh apapun ia menyadari posisi itu seperti itu.
• Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajjhatta);
• ia melakukan pengamatan-jassmani pada pada jasmani di luar (bahiddha) atau
• ia melakukan pengamatan-jasmani di dalam dan di luar. Atau
• ia melakukan pengamatan terhadap proses munculnya segala sesuatu (samudayadhamma-nupassi) dalam jasmani;
• ia melakukan pengamatan terhadap proses lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau
• ia melakukan pengamatan terhadap proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu dalam jasmani. Atau
• ia berpikir: ‘Ada jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk dingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apapun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
4— Para bhikkhu, begitu pula seorang bhikkhu menyadari jika ia berjalan maju atau mundur; jika ia melihat ke depan atau melihat ke sekeliling ... jika ia membungkukkan badan atau meluruskan badan ... jika ia membawa sanghati (jubah luar), patta dan civara ... jika ia makan, minum, mengunyah, mengecap ... jika ia membuang air besar atau air kecil ... jika ia berjalan, berdiri, duduk, berbaring, bangun, bicara, diam, ia menyadari gerakan-gerakan ini.
• Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan jasmani pada jasmani di dalam (ajjhatta);
• ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di iuar (bahiddha); atau
• ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam. Atau
• ia melakukan pengamatan terhadap, proses munculnya segala sesuatu (samuda-yadhammanupassi) dalam jasmani;
• ia melakukan pengamatan terhadap proses lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau
• ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani. Atau
• ia berpikir: ‘Ada jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apapun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
5-- Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu ‘merenung' (paccavekkhati) apa adanya tubuh itu, yang dibungkus oleh kulit dan diliputi oleh bermacam-macam kotoran, dari telapak kaki ke atas dan dari ubun-ubun kepala ke bawah, bahwa: ‘Ada hubungan jasmani dengan rambut badan, rambut kepala, kuku-kuku, gigi-geligi, kulit, daging, urat, tulang, sum-sum, ginjal, jantung, hati, membran, limpa, paru-paru, usus, selaput usus, perut, tinja, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan sendi dan kencing.’
Para bhikkhu, bagaikan karung yang memiliki dua tempat terbuka (mulut) yang berisi penuh dengan beracam-macam biji-bijian, seperti padi ladang, padi sawah, kacang merah, kacang polong, sesame dan beras; kemudian seorang yang bermata tajam mencurahkan biji-bijian itu ke luar, dengan merenung: ‘Itu padi ladang, itu padi sawah, itu kacang merah, itu kacang polong, itu sesame dan itu beras.’
Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu 'merenung' (paccavekkhati) apa adanya tubuh itu yang dibungkus oleh kulit dan diliputi oleh bermacam-macam kotoran, dari telapak kaki ke atas dan dari ubun-ubun kepala ke bawah, bahwa: ‘Ada hubungan jasmani dengan rambut badan, rambut kepala, kukukuku, gigi-geligi, kulit, daging, urat, tulang, sum-sum, ginjal, jantung, hati, membran, limpa, paru-paru, usus, selaput usus, perut, tinja, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan sendi dan kencing.’
Demikianlah seorang bhikkhu terusmenerus melakukan pengamatan-jasmani dalam jasmani.
6-- Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu merenungkan tubuh ini sesuai dengan bagaimana tubuh itu ditempatkan atau dibentuk, tubuh ini terdiri dari empat elemen, yaitu: ‘Dalam tubuh ini ada elemen padat, cairan, api dan udara.’
Para bhikkhu, bagaikan ahli jagal sapi atau muridnya, setelah menyembelih seekor sapi, mungkin ia akan duduk memperlihatkan bangkai sapi di perempatan jalan; demikian pula, seorang bhikkhu merenungkan tubuh ini sesuai dengan bagaimana tubuh itu ditempatkan atau dibentuk, tubuh ini terdiri dari empat elemen, yaitu: ‘Dalam tubuh ini ada elemen padat, cairan, api dan udara.’
• Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajjhatta);
• ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha); atau
• ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam. Atau
• ia melakukan pengamatan terhadap ‘proses munculnya segala sesuatu (samuda-yadhammanupassi)’ dalam jasmani;
• ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau
• ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani. Atau
• ia berpikir: ‘Ada Jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
7-- Para bhikkhu, begitu pula, jika seorang bhikkhu, melihat sesosok mayat di dalam kuburan, yang telah mati sehari, dua hari atau tiga hari, bengkak, membiru, membusuk, ia merenungkan tubuh ini apa adanya, ia berpikir: ‘Tubuh ini memiliki sifat yang sama, akan menjadi seperti itu, tidak akan terkecuali dari keadaan seperti itu.’
Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajhatta), ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha) atau ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam. Atau ia melakukan pengamatan jasmani terhadap 'proses munculnya segala sesuatu’ (samudayadhammanupassi) dalam jasmani; ia melakukan pengamatan terhadap, ‘proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani. Atau ia berpikir : ‘Ada Jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
8-- Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu mungkin melihat sesosok mayat dalam kuburan, sedang dimakan oleh burung gagak, burung nasar, anjing liar, srigala atau bermacam-macam binatang kecil; ia merenung tubuh ini apa adanya, ia berpikir: ‘Tubuh ini memiliki sifat yang sama, akan menjadi seperti itu, tidak akan terkecuali dari keadaan seperti itu.’
Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajhatta) ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha) atau ia melakukan pengamtan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam. Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu’ (samuda-yadhanunanupassi) dalam jasmani; ia melakukan pengamatan tehadap 'proses lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani. Atau ia berpikir: ‘Ada Jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya kbusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
9-- Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu melihat sesosok mayat dalam kuburan, berupa kerangka dengan darah, daging dan urat pengikat, ia merenung tubuh ini apa adanya ... atau sorang bhikkhu melihat sesosok mayat dalam kuburan, berupa kerangka tanpa daging tetapi ada bercak-bercak darah dan urat pengikat; ... atau seorang bhikkhu melihat tulang belulang yang tercerai di sana dan di sini, yang tidak bersatu lagi: di sini ada tulang tangan, di situ ada tulang kaki, di sini ada tulang tungkai kaki, di sana ada tulang rusuk, di sini ada tulang paha, di sana ada tulang punggung dan di sini ada tulang tengkorak, ia merenung jasmani ini apa adanya.
Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajjhatta), ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha) atau ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam. Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu’ (samuda-yadhammanupassi) dalam jasmani; ia melakukan pengamatan terhadap ‘proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani. Atau ia berpikir: ‘Ada Jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
10-- Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu melihat sesosok mayat yang ada dalam kuburan, berupa tulang-tulang putih dan sesuatu seperti kulit kerang ... setumpuk tulang kering yang telah setahun lebih ... tulang belulang menjadi rapuh dan menjadi bubuk; ia merenung tubuh ini apa adanya, ia berpikir : ‘Tubuh ini memiliki sifat yang sama, akan menjadi seperti itu, tidak akan terkecuali dari keadaan seperti itu.’
Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajhatta), ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha), atau ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam. Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu' (samuda-yadhammanupassi) dalam jasmani'; ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani. Atau ia berpikir: ‘Ada Jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
11— Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-perasaan pada perasaan (vedanasuveda-nanupassi)?
Para bhikkhu, dalam hal ini,
• ketika ia mengalami perasaan menyenangkan, ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan menyenangkan’;
• ketika ia mengalami perasaan menyakitkan, ia menyadari: ‘Saya mengalami perasan menyakitkan’;
• ketika ia mengalami perasaan-bukan menyakitkan-atau-tidak-menyenangkan (adukkham-asukkham), ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan-bukan menyakitkan-atau-bukan-menyenangkan’.
• Ketika ia mengalami perasaan menyenangkan yang berkaitan dengan materi (amisa), ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan menyenangkan yang berkaitan dengan materi;
• ketika ia mengalami perasaan menyenangkan berkaitan dengan non-materi (niramisa), ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan menyenangkan berkaitan dengan non-materi.’
• Ketika ia mengalami perasaan menyakitkan yang berkaitan dengan materi, ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan menyakitkan yang berkaitan dengan materi’.
• Ketika ia mengalami perasaan menyakitkan yang berkaitan dengan non-materi, ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan menyakitkan yang berkaitan dengan non materi’
• Ketika ia mengalami perasaan bukan menyakitkan atau bukan menyenangkan yang berkaitan dengan non-materi, ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan bukan menyakitkan atau bukan menyenangkan yang berkaitan dengan non-materi.’
Demikianlah, ia melakukan pengamatan-perasaan pada perasaan di dalam (ajjhatta); ia melakukan pengamatan-perasaan pada perasaan di luar (bahiddha); atau ia melakukan pengamatan-perasaan pada perasaan di luar dan di dalam. Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu (samuda-yadhammanupassi) dalam perasaan: ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam perasaan; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam perasaan. Atau ia berpikir : ‘Ada perasaan,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-perasaan pada perasaan.
12-- Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-menerus melakukan ‘pengamatan-pikiran pada pikiran' (citte cittanupassi)?
Para bhikkhu, dalam hal ini, seorang bhikkhu mengetahui:
• pikirannya diliputi oleh nafsu indera (saraga) sebagai pikiran diliputi nafsu indera; pikiran tidak diliputi nafsu indera sebagai pikiran tidak diliputi nafsu indera.
• Ia mengetahui pikirannya diliputi kebencian (sadosa) sebagai pikiran diliputi kebencian; pikiran tidak diliputi kebencian sebagai pikiran tidak diliputi kebencian (vitadosam),
• Ia mengetahui pikiran diliputi kebodohan (samoha) sebagai pikiran diliputi kebodohan, pikiran tidak diliputi kebodohan (vitamoha) sebagai pikiran tidak diliputi kebodohan.
• Ia mengetahui pikiran diliputi pikiran tidak diliputi kebodohan, Ia mengetahui pikiran diliputi kelemahan atau kemalasan (sankhittam) sebagai pikiran diliputi kekacauan (vikkhitam)
• Ia mengetahui pikiran diliputi pikiran berkembang (mahaggatam) seabagai pikiran tidak berkembang (amahaggam)
• Ia mengetahui pikiran diliputi pikiran luhur (sa-uttaram) seabagai pikiran tidak luhur (anuttara)
• Ia mengetahui pikiran diliputi pikiran terpusat (samahitam)
• Ia mengetahui pikiran tidak terpusat (asamahitam) sebagai pikiran tidak terpusat.
Demikianlah, ia melakukan pengamatan pikiran pada pikiran di dalam (ajjhata); ia melakukan pengamatan pikiran di luar (bahiddha); atau ia melakukan pengamatan pikiran pada pikiran di luar atau di dalam. Atau ia melakukan pengamatan terhadap proses munculnyha segala sesuatu (samuda yadhammanupassi) dalam pikiran, ia melakukan pengamatan terhadap proses lenyapnya segala sesuatu (vajadhammnaupassi) dalam pikiran; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu’ dalam pikiran; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam pikiran. Atau ia berpikir: "Ada Pikiran," pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus menerus melakukan pengamatan-pikiran pada pikiran.
13.-- Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-mnerus melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek-mental' (dhamme dhammanupassi)?
Para bhikkhu, dalam hal ini, seorang bhikkhu terus-menerus mengamati obyek-mental pada obyek mental yang berhubungan dengan 'lima rintangan' (panca nivarana).
Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-menerus melakukan 'pengamatan obyek-mental pada obyek-mental' yang berkenaan dengan 'lima rintangan'?
Para bhikkhu, jika dalam diri seorang bhikkhu ada 'keinginan nafsu indera' (kamacchanda) dan ia menyadari: ‘Dalam diriku ada keinginan nafsu indera’; atau dalam diri seorang bhikkhu tidak ada keinginan nafsu indera dan ia menyadari: ‘Dalam diriku tidak ada keinginan nafsu indera.’ Juga, ia menyadari munculnya 'keinginan nafsu indera' yang tidak ada sebelumnya, ia menyadari bahwa ia telah melenyapkan 'keinginan nafsu indera' yang tadinya telah muncul, ia menyadari 'keinginan nafsu indera' yang telah dilenyapkan tidak akan muncul lagi di kemudian hari.
Para bhikkhu, begitu pula, jika dalam diri seorang bhikkhu ada 'kebencian' (byapada) dan ia menyadari: ‘Dalam diriku ada kebencian’; atau dalam diri seorang bhikkhu tidak ada kebencian dan ia menyadari: ‘Dalam diriku tidak ada kebencian,’ yang tidak ada sebelumnya, ia menyadari bahwa ia telah melenyapkan' kebencian' yang tadinya telah muncul, ia menyadari 'kebencian' yang telah dilenyapkannya tidak akan muncul lagi di kemudian hari.
Para bhikkhu, begitu pula, jika dalam diri seorang bhikkhu ada 'kelesuan dan kemalasan' (thinamiddha) dan ia menyadari: ‘Dalam diriku ada kelesuan dan kemalasan’; atau dalam diri seorang bhikkhu tidak ada kelesuan dan kemalasan dan ia menyadari: ‘Dalam diriku tidak ada kelesuan dan kemalasan. Juga, ia menyadari munculnya' kelesuan dan kemalasan' yang tidak ada sebelumnya, ia menyadari bahwa ia telah melenyapkan 'kelesuan dan kemalasan' yang tadinya telah muncul, ia menyadari 'kelesuan dan kemalasan' yang telah dilenyapkannya tidak akan muncul lagi di kemudian hari.
Para bhikkhu, begitu pula, jika dalam diri scorang bhikkhu ada 'kegelisahan dan kekhawatiran' (uddhaccakukkucca) dan ia menyadari: ‘Dalam diriku ada kegelisahan dan kekhawatiran’; atau dalam diri seorang bhikkhu tidak ada kegelisahan dan kekhawatiran dan ia menyadari: ‘Dalam diriku tidak ada kegelisahan dan kekhawatiran.’ Juga, ia menyadari munculnya 'kegelisahan dan kekhawatiran' yang tidak ada sebelumnya, ia menyadari bahwa ia telah melenyapkan 'kegelisahan dan kekhawatiran' yang tadinya telah muncul, ia menyadari 'kegelisahan dan kekhawatiran' yang telah dilenyapkannya tidak akan muncul lagi di kemudian hari.
Para bhikkhu, begitu pula, jika dalam diri seorang bhikkhu ada 'keragu-raguan' (vicikiccha) dan ia menyadari: ‘Dalam diriku ada keragu-raguan’; atau dalam diri seorang bhikkhu tidak ada keragu-raguan dan ia menyadari: ‘Dalam diriku tidak ada keragu-raguan.’ Juga, ia menyadari munculnya 'keragu-raguan' yang tidak ada sebelumnya, ia menyadari bahwa ia telah melenyapkan 'keragu-raguan' yang tadinya telah muncul, ia menyadari bahwa 'keragu-raguan yang telah dileyapkannya tidak akan muncul lagi di kemudian hari.
Demikianlah, ia melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental (dhammesu dhammanupassi) di dalam (ajjhatta); ia melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental di luar (bahiddha); atau ia melakukan pengamatan-obyek mental pada obyek mental di luar dan di dalam. Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu’ (samuda-yadhammanupassi) dalam obyek mental'; ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam obyek-mental; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam obyek mental. Atau ia berpikir: ‘Ada obyek-mental,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan obyek-mental pada obyek mental.
14-- Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu terus-menerus mengamati obyek-mental pada obyek mental yang berhubungan dengan 'kemelekatan pada lima kelompok kehidupan' (pancas'upadanakkhandhesu). Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-menerus melakukan 'pengamatan-obyek-mental pada obyek mental' yang berkenaan dengan 'kemelekatan pada lima kelompok kehidupan'? Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu (mengetahui): ‘Ini jasmani (rupa), ini munculnya jasmani, ini lenyapnya jasmani; ini perasaan (vedana), ini munculnya perasaan, ini lenyapnya perasaan; ini pencerapan (sanna), ini munculnya pencerapan, ini lenyapnya pencerapan; ini bentuk-bentuk pikiran (sankhara), ini munculnya bentuk-bentuk pikiran, ini lenyapnya bentuk-bentuk pikiran; ini kesadakran (vinnana), ini munculnya kesadaran, ini lenyapnya kesadaran.
Demikianlah, ia melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental (dhammesu dhammanupassi) di dalam (ajjhatta); ia melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental di luar (bahiddha); atau ia melakukan pengamatan-obyek mental pada obyek mental di luar dan di dalam. Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu (samuda-yadhainmanupassi) dalam obyek mental'; ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam obyek-mental; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam obyek mental. Atau ia berpikir: ‘Ada Obyek-mental,' pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya unuk diingat, hidup bebas tanpa melekat pada apapun di dunia. Demikianlah seorang bhikkhu terus menerus melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental.
15— Para bhikkhu, begitu pula seorang bhikkhu terus menerus mengamati obyek-obyek mental pada obyek yang berhubungan dengan Enam Landasan Indera dalam dan luar (chasu ajjhattikabahiresu ayatanesu).
Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus menerus melakukan pengamatan obyek mental yang berkenaan dengan enam landasan indera dalam dan luar? Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu mengerti indera penglihatan (cakkhu), mengerti objek penglihatan (rupa), mengerti setiap belenggu (samyojana) yang timbul dari dua hal tersebut, mengerti timbulnya belenggu yang tidak ada sebelumnya, ia mengerti bahwa ia telah melenyapkan belenggu yang tadinya muncul, ia mengerti bahwa belenggu yang telah dilenyapkan tidak akan muncul lagi di kemudian hari. Jika seorang bhikkhu mengerti indera pendengar (sota), mengerti suara (saddha)…. mengerti indera penciuman (ghana), mengerti bau (gandha) …. mengerti indera penyentuh (kaya), mengerti sentuhan (photthabba) juga mengerti setiap belenggu (arayojana) yang timbul dari dua hal tersebut, mengerti timbulnya belenggu yang tidak ada sebelumnya, ia mengerti bahwa ia telah melenyapkan belenggu yang tadinya telah muncul, ia mengerti bahwa belenggu yang dilenyapkan tidak akan muncul lagi di kemudian hari.
Demikianlah, ia melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental (dhammesu dhammanupassi) di dalam (ajjhatta); ia melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental di luar (bahiddha); atau ia melakukan pengamatan-obyek mental pada obyek mental di luar dan di dalam. Atau ia melakukan pengainatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu’ (samuda-yadhammanupassi) dalam obyek mental; ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam obyek-mental; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam obyek mental. Atau ia berpikir: ‘Ada obyek-mental, pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan obyek mental pada obyek mental.
16-- Para bhikkhu, begitu pula seorang bhikkhu terus-menerus mengamati obyek-mental pada obyek mental yang berhubungan dengan 'Tujuh Faktor Penerangan Agung' (sattasu bhojjhangesu).
Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-menerus melakukan 'pengamatan obyek-mental pada obyek mental' yang berkenaan dengan 'tujuh faktor penerangan agung'? Para bhikkhu, jika dalam diri seorang bhikkhu ada ‘faktor penerangan agung-perhatian' (satisambhojhango), ia mengerti: ‘Ada faktor penerangan agung-perhatian’ dalam diriku’; jika dalam diri seorang bhikkhu tidak ada faktor penerangan-agung-perhatian, ia mengerti: ‘Tidak ada faktor penerangan-agung-perhatian dalam diriku’, ia mengerti timbulnya faktor penerangan-agung-perhatian yang tidak ada sebelumnya, ia mengerti bagaimana faktor penerangan agung-perhatian yang telah muncul dikembangkan dan disempurnakan. Jika dalam diri seorang bhikkhu ada 'faktor penerangan-agung-penelitian dhamma' (dhammavicaya-sambhojhango), ia mengerti: ‘Ada faktor penerangan-agung-penelitian dhama' dalam diriku; ada 'faktor penerangan agung-semangat' (viriyasambhojjhango) …. ada 'faktor penerangan agung-kegiuran' (pitisambhojjango) .... ada 'faktor penerangan agung-ketenangan' (passaddhisambhojjhango) ada 'faktor penerangan agung-meditasi' (samadhisambhojjhango). Jika dalam diri seorang bhikkhu ada 'faktor penerangan agung keseimbangan-batin' (upekhasambhojjhango), ia mengerti: ‘Ada faktor penerangan agung-keseimbangan-batin dalam diriku'; jika dalam diri seorang bhikkhu tidak ada faktor penerangan agung-keseimbangan batin, ia mengerti: ‘Tidak ada faktor penerangan agung-keseimbangan batin dalam diriku; ia mengerti timbulnya faktor penerangan agung keseimbangan batin yang tidak ada sebelumnya, ia mengerti bagaimana faktor penerangan agung-keseimbangan batin yang telah muncul dikembangkan dan disempurnakan.
Demikianlah, ia melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental (dhammesu dhammanupassi) di dalam (ajjhatta); ia melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental di luar (bahiddha); atau ia melakukan pengamatan-obyek mental pada obyek mental di luar dan di dalam. Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu’ (samuda-yadhammanupassi) dalam obyek mental; ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam obyek-mental ; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam obyek mental. Atau ia berpikir: ‘Ada Obyek-mental,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apapun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan obyek-mental pada obyek mental.
17— Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu terus-menerus mengamati obyek-mental pada obyek mental yang berhubungan dengan 'Empat Kebenaran Mulia' (Catusu Ariyayasaccesu).
Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental 'yang berkenaan dengan 'Empat Kebenaran Mulia'? Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu mengerti 'apa adanya’ (yathabhuta): 'Ini dukkha’ ; ia mengerti apa adanya: ‘Ini Sebab Dukkha’ , ia mengerti apa adanya: ‘Ini Lenyapnya Dukkha’; ia mengerti apa adanya: ‘Ini Cara untuk Melenyapkan Dukkha."
Demikianlah, ia melakukan pengamatan-obyek-mental pada obyek mental (dhammesu dhammanupassi) di dalam (ajjhatta); ia melakukan pengamatan-obyek-mental di luar (bahiddha); atau ia melakukan pengamatan-obyek mental pada obyek mental di luar dan di dalam. Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu’ (samuda-yadhammanupassi) dalam obyek mental; ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam obyek-mental; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam obyek mental. Atau ia berpikir: ‘Ada obyek-mental,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan obyek-mental pada obyek mental.
Para bhikkhu, barang siapa yang mengembangkan Empat Satipatthana ini selama tujuh tahun, maka salah satu dari dua pahala yang dapat diharapkannya, yaitu 'pengetahuan sempurna’ (nana) pada kehidupan sekarang atau (keadaan) masih ada sisa kemelekatan, sebagai Anagami.
Para bhikkhu, jangankan tujuh tahun, barang siapa yang mengembangkan Empat Satipatthana ini selama enam tahun …. lima tahun …. empat tahun …. tiga tahun .… dua tahun …. setahun ... tujuh bulan ….. enam bulan ... lima bulan ... empat bulan tiga bulan ... dua bulan …. satu bulan, ... setengah bulan ... jangankan setengah bulan, barang siapa yang mengembangkan Empat Satipatthana ini selama tujuh hari, maka salah satu dari dua pahala yang dapat diharapkan, yaitu pengetahuan sempurna' (nana) pada kehidupan sekarang atau (keadaan) masih ada sisa kemelekatan, sebagai Anagami.
Berdasarkan pada hal ini, maka dikatakan: ‘Para bhikkhu, hanya ada sebuah jalan untuk mensucikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi kesedihan dan ratap tangis, untuk mengakhiri derita dan duka cita, menjalani jalan benar, untuk mencapai nibbana, yaitu Empat 'Satipatthana' (Landasan Perhatian).’”
Demikianlah kata-kata Sang Bhagava. Para bhikkhu gembira dan senang dengan apa yang uraikan Sang Bhagava.
CULASIHANADA SUTTA
(11)
Demikianlah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Kemudian Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu."
"Ya, Bhante,” jawab mereka.
Selanjutnya Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, hanya di sini ada samana (sotapanna), hanya di sini ada samana kedua (sakadagami), hanya di sini ada samana ketiga (anagami) dan hanya di sini ada samana keempat (arahat). Dalam ajaran yang lain tidak ada samana; beginilah hal itu harus diraungkan (sihanada)."
Mungkin para pertapa dari ajaran lain bertanya: "Apakah sebabnya maka anda mengatakan demikian?"
Pertanyaan itu harus dijawab: "Saudara, empat dhamma telah dinyatakan oleh Bhagava, yaitu: (1) Kami yakin pada guru (sattha, Sang Buddha), (2) kami yakin kepada Dhamma, (3) kami memiliki sila yang sempurna, (4) kami mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma (saha-dhammika) apakah mereka umat awam (gahattha) atau pabbaja (meninggalkan kehidupan berumah-tangga menjadi petapa-bhikkhu)."
Berdasarkan hal-hal itu kami menyatakan begitu.
Namun, para pertapa dari ajaran lain dapat berkata: "Kami juga yakin kepada guru, yaitu guru kami; kepada dhamma yaitu dhamma kami; sila kami sempurna, sesuai dengan sila kami dan kami mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbaja. Apakah perbedaannya?"
Hal itu harus dijawab dengan bertanya: "Apakah tujuannya hanya satu atau banyak?"
Mereka akan menjawab dengan benar: "Tujuan hanya satu, bukan banyak."
"Apakah tujuan itu bebas dari napsu, kebencian, kebodohan, keinginan dan kemelekatan?"
"Ya, tujuan itu bebas dari napsu, kebencian, kebodohan, keinginan dan kemelekatan."
"Apakah tujuan itu disertai penglihatan, tanpa menyukai dan menolak, maupun perbedaan?"
"Ya, tujuan itu disertai penglihatan, tanpa menyukal, menolak maupun perbedaan," jawab mereka dengan benar.
Ada dua ditthi (pandangan) yaitu bhava ditthi (pandangan tentang ada makhluk) dan vibhava ditthi (pandangan tanpa ada makhluk). Para samana atau brahmana yang berpaham bhava ditthi menentang paham vibhava ditthi. Sedangkan para samana atau brahmana yang berpaham vibhava ditthi menentang paham bhava ditthi.
Para samana dan brahmana yang tidak mengerti 'sebagaimana apa adanya tentang asal mula' (yatthabhutam), lenyapnya, kesenangan, bahaya dan jalan keluar dari dua ditthi (pandangan) itu adalah diliputi oleh nafsu, kebencian, kebodohoan, keinginan, kemelekatan, tanpa penglihatan, terlibat dalam pro dan kontra, menyenangi dan menikmati perbedaan. Mereka tidak dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap-tangis, kesakitan, duka-cita dan putus asa. Mereka tidak dapat terbebas dari dukkha (penderitaan).
Para samana dan brahmana yang mengerti sebagaimana apa adanya tentang asal mula, lenyapnya, kesenangan, bahaya dan jalan keluar dari dua ditthi itu adalah tidak diliputi oleh napsu, kebencian, kebodohan, keinginan, kemelekatan, berpenglihatan, tidak terlibat dalam pro dan kontra, tidak menyenangi dan tidak menikmati perbedaan. Mereka dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kesakitan, duka cita dan putus asa. Mereka dapat terbebas dari dukkha.
Ada empat macam kemelekatan (upadana): Kemelekatan pada napsu indera (kama-upadana), kemelekatan pada pandangan salah (ditthi-upadana), kemelekatan pada upacara dan ritual (silabbataupadana), kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal (attavada-upadana).
Ada samana dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi tidak rinci menerangkan 'pengetahuan jelas tentang semua kemelekatan' itu. Mereka menerangkan 'pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada napsu indera, tetapi tidak rinci menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada upacara dan ritual, dan kemelekatan pada pandangan adanya jiwa. Mengapa begitu? Karena mereka itu tidak mengerti dengan jelas sebagaimana apa adanya tentang tiga kemelekatan itu. Maka, walaupun mereka itu menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi mereka hanya menerangkan tentang pengetahuan jelas mengenai napsu indera, tanpa menerangkan tiga kemelekatan yang lain.
Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi tidak rinci menerangkan ‘pengetahuan jelas tentang semua kemelekatan’ itu. Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu indera dan kemelekatan pada pandangan salah, tetapi tanpa menerangkan tentang, kemelekatan pada upacara dan ritual serta kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal. Karena mereka itu tidak mengerti dengan jelas sebagaimana apa adanya tentang dua kemelekatan itu. Maka walaupun mereka itu menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi mereka hanya menerangkan tentang pengetahuan jelas mengenal nafsu indera dan kemelekatan pada pandangan salah, tanpa menerangkan dua kemelekatan yang lain.
Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi tidak rinci menerangkan ‘pengetahuan jelas tentang semua kemelekatan’. Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu indera, kemelekatan pada pandangan salah dan kemelekatan ' pada upacara serta ritual, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal. Karena mereka tidak mengerti dengan jelas sebagaimana apa adanya tentang dua kemelekatan itu. Maka walaupun mereka itu menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi mereka hanya menerangkan tentang pengetahuan jelas mengenal nafsu indera dan kemelekatan pada pandangan salah, tanpa menerangkan dua kemelekatan yang lain.
Para bhikkhu, dalam 'dhammavinaya' seperti itu adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan dhamma, namun tidak terarah dengan benar; pelaksanaan sila-sempurna tidak terarah dengan benar; mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbaja juga tidak terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena dhammavinaya itu salah diuraikan, salah dinyatakan, tanpa tujuan, tidak mengarah ke kedamaian dan dibabarkan oleh bukan Samma Sambuddha.
Para bhikkhu, ketika Tathagata, Arahat Samma Sambuddha membabarkan pengetahuan jelas tentang semua macam kemelekatan, ia dengan sempurna menguraikan semua macam kemelekatan, yaitu: kemelekatan pada nafsu indera, kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada upacara dan ritual serta kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal.
Para bhikkhu, dalam 'dhammavinaya' seperti itu adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan dhamma yang terarah dengan benar, pelaksanaan sila sempurna yang terarah dengan benar, mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbaja yang terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena 'dhammavinaya' itu benar diuraikan, benar dinyatakan, bertujuan, mengarah ke kedamaian dan dibabarkan oleh Samma Sambuddha.
Apakah sumber, asal mula, tempat kelahiran dan yang menghasilkan empat kemelekatan?
Empat kemelekatan ini bersumber dari keinginan (tanha), berasal mula dari keinginan, lahir dari keinginan dan dihasilkan oleh keinginan.
Apakah sumber keinginan?
Keinginan bersumber dari perasaan (vedana), berasal mula dari perasaan, lahir dari perasaan dan dihasilkan oleh perasaan.
Apakah sumber perasaan?
Perasaan bersumber mula dari kontak (phassa), berasal mula dari kontak, lahir dari kontak dan dihasilkan oleh kontak.
Apakah sumber kontak?
Kontak bersumber dari enam indera (salayatana), berasal mula dari enam indera, lahir dari enam indera dan dihasilkan oleh enam indera.
Apakah sumber enam indera?
Enam indera bersumber dari batin dan jasmani (nama-rupa), berasal mula dari batin dan jasmani, dilahirkan oleh batin dan jasmani, serta dihasilkan oleh batin dan jasmani.
Apakah sumber batin dan jasmani?
Batin dan asmani bersumber dari kesadaran (vinnana), berasal mula dari kesadaran, dilahirkan oleh kesadaran serta dihasilkan oleh kesadaran.
Apakah sumber kesadaran?
Kesadaran bersumber dari bentuk-bentuk kamma (sankhara), berasal mula dari bentuk-bentuk kamma, dilahirkan oleh bentuk-bentuk kamma dan dihasilkan oleh bentuk-bentuk kamma.
Apakah sumber bentuk-bentuk kamma?
Bentuk-bentuk kamma bersumber dari kebodohan (avijja), berasal mula dari kebodohan, dilahirkan oleh kebodohan dan dihasilkan oleh kebodohan.
Para bhikkhu, segera setelah kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, maka ia tidak lagi melekat pada nafsu indera, pandangan salah, pada upacara dan ritual serta pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Ketika tidak ada kemelekatan, maka ia tidak menderita. Ketika ia tidak menderita maka ia mencapai nibbana. Ia mengerti: kelahiran telah lenyap, kehidupan suci telah dicapai, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada sesuatu melebihi ini.
MAHASIHANDA SUTTA
(12)
Demikianlah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di hutan kecil, yang terletak di sebelah barat kota Vesali.
Ketika itu Sunakkhatta Licchaviputta baru saja meninggalkan Dhamma dan Vinaya. Ia membuat pernyataan ini di hadapan kelompok orang Vesali: "Petapa Gotama tidak memiliki nilai-nilal yang patut bagi pengetahuan maupun pandangan ariya suci yang lebih tinggi daripada kemampuan manusia biasa (uttari manussadhamma). Petapa Gotama mengajarkan Dhamma sekedar menjejali pikiran manusia, mengikuti keingintahuannya sendiri sebagaimana yang terjadi pada dirinya, siapa pun yang diajarkan Dhamma demi kepentingannya itu hanya membawa langsung pada penghentian penderitaan dalam dirinya ketika ia melaksanakannya, namun tidak untuk hal-hal lainnya.”
Kemudian, ketika menjelang pagi, Bhikkhu Sariputta mengenakan jubah dan dengan membawa patta (mangkuk) serta jubah beliau menuju ke Vesali untuk menerima dana makanan. Kemudian beliau mendengar tentang apa yang dikatakan oleh Sunakkhatta Licchaviputta.
Ketika beliau selesai ber-pindapata di Vesali dan kembali dari menerima dana makanan, setelah makan, beliau menemui Sang Bhagava, dan setelah memberi hormat padanya, beliau duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah melakukan hal itu, beliau mengatakan pada Sang Bhagava apa yang telah terjadi.
"Sariputta, orang bodoh bernama Sunakkhata sedang marah, dan kata-katanya diucapkan berdasarkan pada kemarahan. Dengan berpikir untuk menghina Tathagata, namun ia sebenarnya memuji Sang Tathagata; karena merupakan suatu pujian terhadap Sang Tathagata dengan mengatakan tentang dirinya, "karena siapapun yang, diajari Dhamma adalah bagi kepentingannya, ajaran itu (hanya) mengarah langsung pada penghentian penderitaan dalam diri yang melaksanakannya."
"Sariputta, orang bodoh bernama Sunakkhatta ini tidak pernah akan dapat menjatuhkan martabatku, karena menurut Dhamma: "Demikianlah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna pengetahuan serta tindak-tanduk-Nya, Sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing manusia yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, Buddha, Bhagava."
Juga ia tidak akan pernah menjatuhkan martabatku menurut Dhamma karena: "Demikianlah Sang Bhagava, sehingga beliau menikmati berbagal jenis kemampuan batin (iddhi); dari satu beliau menjadi banyak, dari banyak beliau menjadi satu; beliau muncul dan lenyap; beliau dapat menembus tembok, menembus dinding-dinding, menembus gunung, bagaikan menembus ruang kosong; beliau menyelam masuk dan keluar dari tanah bagaikan di air; beliau berjalan di atas air seolah-olah di atas tanah; dengan duduk bersila beliau melakukan perjalanan di angkasa bagaikan burung; dengan tangannya beliau menyentuh dan mengusap bulan dan matahari yang sangat perkasa dan hebat; beliau ahli mengendalikan tubuh sehingga ia dapat pergi dengan tubuhnya sejauh alam Brahma."
"Demikiaii pula, ia tidak akan pernah menjatuhkan martabatku, karena sesuai Dhamma: "Demikianlah Sang Bhagava, sehingga dengan Telinga Dewa (Dibba Sota), yang suci dan melebihi kemampuan orang biasa, beliau mendengar kedua jenis suara, suara para dewa dan suara manusia, baik yang jauh maupun dekat."
Ia pun tidak akan pemah menjatuhkan martabatku karena sesuai Dhamma: "Demikianlah Sang Bhagava, sehingga dengan Kemampuan Pikirannya beliau dapat Mengetaahui Pikiran Makhluk atau Orang Lain (Cetopariyanana), beliau mengerti pikiran dikuasai nafsu sebagai pikiran dikuasal nafsu dan pikiran tidak dikuasai nafsu sebagai pikiran tidak dikuasai nafsu; beliau mengerti pikiran dikuasai kebencian sebagai pikiran dikuasai kebencian dan pikiran tidak dikuasai kebencian sebaga pikikiran tidak dikuasai kebencian; beliau mengerti pikiran dikuasai kebodohan sebagai pikiran dikuasai kebodohan dan pikiran tidak dikuasai kebodohan sebagai pikiran tidak dikuasai kebodohan; beliau mengerti pikiran terpusat sebagai pikiran terpusat dan pikiran tercerai berai sebagai pikiran tercerai-berai; beliau mengerti pikiran luhur sebagai pikiran luhur dan pikiran tidak luhur sebagai pikiran tidak luhur; beliau mengerti pikiran luar biasa sebagai pikiran luar biasa dan pikiran biasa sebagai pikiran biasa; beliau mengerti pikiran terkonsentrasi sebagai pikiran terkonsentrasi dan pikiran tidak terkonsentrasi sebagai tidak terkonsentrasi; beliau mengerti pikiran terbebas sebagai pikiran terbebas dan pikiran tidak terbebas sebagai pikiran tidak terbebas.”
Dasa Bala
Sariputa, Tathagata memiliki Dasa Tathagata Bala (Sepuluh Kekuatan Tathagata), dengan memiliki kekuatan-kekuatan ini (bala) beliau menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya di hadapan banyak orang dan memutar roda-brahma (brahmacakka) maju ke depan. Apakah kesepuluh kekuatan (Dasa Bala) itu?
Tathagata mengerti, sebagaimana apa adanya, yang 'mungkin sebagai yang mungkin dan yang tidak mungkin sebagai yang tidak mungkin' (Thana-athana). Ini merupakan kekuatan Tathagata, dengan memiliki kekuatan ini, Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya di hadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Tathagata mengerti, sebagaimana apa adanya, matangnya kamma (kamma-vipaka) yang dilakukan di masa lampau, di masa mendatang dan masa sekarang, dengan kemungkinan-kemungkinan dan sebab-sebabnya. Ini merupakan kekuatan Tathagata, dengan memiliki kekuatan ini, Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya dihadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Tathagata, mengerti, sebagaimana apa adanya, ‘ke mana tujuan semua jalan’ (sabbatthagamani patipada). Ini merupakan kekuatan Tathagata, dengan memiliki kekuatan ini, Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya di hadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Tathagata mengerti, sebagaimana apa adanya, ‘dunia ini dengan unsur-unsurnya yang banyak dan berbeda-beda’ (anekadhatu nanadhatu lokam). Ini merupakan kekuatan Tathagata, dengan memiliki kekuatan ini, Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya di hidapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Tathagata mengerti, sebagaimana apa adanya, bagaimana ‘para makhluk memiliki kecenderungan yang berbeda-beda’ (sattanam nanadimuttikam). Ini merupakan kekuatan Tathagata, dengan memiliki kekutan ini, Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya di hadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Tathagata mengerti, sebagaimana apa adanya, ‘watak dari indera para makhluk lain dan orang-orang lain’ (parasattanam parapuggalam indriyaparopariyattam). Ini merupakan kekuatan Tathagata, dengan memiliki kekuatan ini, Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin mengaumkan auman singanya di hadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Tathagata mengerti, sebagaimana apa adanya, ‘kekotoran-kekotoran batin, cara membersihkan dan timbulnya jhana, kebebasan, pemusatan pikiran dan pencapaian’ (jhana vimokha samadhi samapattinam sankilesam vodanam vutthanam). Ini merupakan kekuatan Tathagata, dengan memiliki kekuatan ini, Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya di hadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Tathagata ‘mengingat banyak kehidupannya yang lampau’, (pubbenivasanussatinana) yakni, satu kelahiran, dua kelahiran ... lima kelahiran, sepuluh kelahiran ... lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa kehancuran alam semesta (samvattakappa) dan banyak kappa pembentukan alam semesta (vivattakappa): Pada kelahiran itu saya bernama, ber-ras, berkelas masyarakat anu, makan makanan anu, mengalami susah dan senang, berusia sekian; setelah meninggal di sana, saya terlahir kembali di tempat lain, dengan nama, ras, kelas masyarakat, makanan, mengalami susah dan senang; setelah meninggal di tempat itu, saya terlahir kembali di tempat lain dengan nama ... ; akhirnya saya meninggal dan terlahir kembali di sini. Demikianlah dengan rinci dan hal-hal khusus beliau mengingat kembali banyak kehidupannya yang lampau. Ini merupakan kekuatan Tathagata, dengan memiliki kekuatan ini, Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya di hadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Tathagata dengan kemampuan Mata Dewa (Dibba Cakkhu) yang suci dan melampaui kemampuan manusia biasa, melihat makhluk-makhluk meninggal dan terlahir kembali, rendah atau mulia, baik atau buruk, berkelakuan baik atau buruk; mengerti bagaimana makhluk-makhluk meninggal berdasarkan pada kamma-kamma mereka, yakni: "Makhluk-makhluk yang berharga ini berperilaku buruk dengan tubuh, ucapan dan pikiran, mencaci maki orang-orang suci, memiliki pandangan salah yang mengakibatkan kamma, setelah meninggal, mereka lahir kembali di alam yang menyedihkan, ditakdirkan di alam yang buruk, di alam menyakitkan, di alam neraka; namun makhluk-makhluk baik ini yang berprilaku baik dengan jasmani, ucapan dan pikiran, tidak mencaci orang-orang suci, memiliki pandangan benar yang mengakibatkan kamma, setelah meninggal, mereka lahir kembali di alam menyenangkan, di alam surga. Ini merupakan kekuatan Tathagata, dengan memiliki kekuatan ini, Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya di hadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Tathagata, pada kehidupan sekarang dengan ‘kemampuan batinnya merealisasi kebebasan batinnya’ (asavakkhayanana), melenyapkan kotoran batin (asava) dengan cara Cetovimutti (pembebasan melalui ketenangan batin) dan Pannavimutti (pembebasan melalui kebijaksanaan). Ini merupakan kekuatan Tathagata, dengan memiliki kekuatan ini, Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya di hadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Karena Tathagata memiliki sepuluh Tathagata Bala ini, beliau menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya dihadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
'Sariputta, apabila seseorang mengetahui dan melihat saya lalu berkata: "Petapa Gotama tidak mempunyai perbedaan yang berharga tentang pengetahuan dan pandangan ariya yang lebih tinggi daripada kemampuan manusia biasa. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma sekedar menjejali pikiran, mengikuti keingintahuannya seperti yang terjadi padanya," kecuali ia membatalkan pernyataan dan pikiran seperti itu serta ia membetulkan pandangan itu, ia akan lahir di neraka karena terbawa oleh pikirannya itu. Bagaikan seorang bhikkhu yang memiliki sila, samadhi dan panna yang sempurna, pada kehidupan sekarang akan menikmati pengetahuan tertinggi, saya nyatakan; namun sesuatu akan terjadi bilamana ia (orang yang mengatakan tentang saya) tidak membatalkan pernyataan dan pikiran seperti itu serta ia membetulkan pandangan itu, maka ia akan lahir di neraka karena terbawa oleh pikirannya itu.'
Cattaro Vesarajja
'Sariputta, Tathagata memiliki Empat Macam Integritas Diri (Cattaro Vesarajja) dengan memilikinya Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singanya di hadapan banyak orang dan memutar roda-brahma.
Apakah empat Integritas Diri itu?
Saya tidak melihat alasan mengapa seorang bhikkhu, brahmana, dewa, mara atau dewa brahma di seluruh alam semesta ini dapat menuduh saya, sesuai dengan Dhamma: "Sementara anda menyatakan menemukan penerangan sempurna, tetapi anda tidak menemukan penerangan sempurna dalam dhamma-dhamma ini." Karena tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup dengan aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas.
Saya tidak melihat alasan mengapa seorang bhikkhu, brahmana, dewa, mara, atau dewa brahma di seluruh alam semesta ini dapat menuduh saya, sesuai dengan Dhamma: "Sementara anda menyatakan telah melenyapkan noda-noda batin, tetapi noda-noda batin belum dilenyapkan dari diri anda." Karena tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup dengan aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas.
Saya tidak melihat alasan mengapa seorang bhikkhu, brahmana, dewa, mara, atau dewa brahma di seluruh alam semesta ini dapat menuduh saya, sesuai dengan Dhamma: "Dhamma-dhamma seperti itu yang anda katakan bersifat obstruktif, namun pada kenyataannya tidak bersifat obstruktif bagi mereka yang melaksanakannya." Karena tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup dengan aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas.
Saya tidak melihat alasan mengapa seorang bhikkhu, brahmana, dewa, mara, atau dewa brahma di seluruh alam semesta ini dapat menuduh saya, sesuai dengan Dhamma: "Bagi siapapun yang anda ajarkan Dhamma bagi kepentingannya, hal ini tidak langsung membawa pada lenyapnya penderitaan dalam dirinya ketika ia melaksanakannya." Karena tidak melihat alasan untuk itu, maka Saya dengan aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas.
Inilah empat Integritas Diri yang dimiliki oleh Tathagata, dengan memilikinya maka Tathagata menjadi pemimpin dari semua pemimpin, mengaumkan auman singa di depan banyak orang dan memutar roda brahma.
'Sariputta, apabila seseorang mengetahui dan melihat saya lalu berkata: "Petapa Gotama tidak mempunyai perbedaan yang berharga tentang pengetahuan dan pandangan ariya yang lebih tinggi daripada kemampuan manusia biasa. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma sekedar menjejali pikiran, mengikuti keingintahuannya seperti yang terjadi padanya," kecuali ia membatalkan pernyataan dan pikiran seperti itu serta ia membetulkan pandangan itu, ia akan lahir di neraka karena terbawa oleh pikirannya itu. Bagaikan seorang bhikkhu yang memiliki sila, samadhi dan panna yang sempurna, pada kehidupan sekarang akan menikmati pengetahuan tertinggi, saya nyatakan; namun sesuatu akan terjadi bilamana ia (orang yang mengatakan tentang saya) tidak membatalkan pernyataan dan pikiran seperti itu serta ia membetulkan pandangan itu, maka ia akan lahir di neraka karena terbawa oleh pikirannya itu.'
Attha Parisa
'Sariputta, ada delapan kelompok (attha parisa). Apakah delapan kelompok itu? Kelompok kesatria, brahmana, perumah-tangga, petapa, dewa Catummaharajika, dewa Tavatimsa, Mara dan Brahma. Dengan memiliki empat Integritas Diri, seorang Tathagata mendekati dan memasuki delapan jenis kelompok ini.
Saya telah memiliki pengetahuan langsung, sebagai seorang pengunjung, dari beratus-ratus kelompok kesatria. Dulu, saya telah duduk, berbicara dan berdialog dengan mereka. Saya tidak melihat alasan mengapa takut atau malu. Karena saya tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas diri.
'Saya telah memiliki pengetahuan langsung, sebagai seorang pengunjung, dari beratus-ratus kelompok brahmana. Dulu, saya telah duduk, berbicara dan berdialog dengan mereka. Saya tidak melihat alasan mengapa takut atau malu. Karena saya tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas diri.
'Saya telah memiliki pengetahuan langsung, sebagai seorang pengunjung, dari beratus-ratus kelompok perumah-tangga. Dulu, saya telah duduk, berbicara dan berdialog dengan mereka. Saya tidak melihat alasan mengapa takut atau malu. Karena saya tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas diri.
'Saya telah memiliki pengetahuan langsung, sebagai seorang pengunjung, dari beratus-ratus kelompok petapa. Dulu, saya telah duduk, berbicara dan berdialog dengan mereka. Saya tidak melihat alasan mengapa takut atau malu. Karena saya tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas diri.
'Saya telah memiliki pengetahuan langsung, sebagai seorang pengunjung, dari beratus-ratus kelompok dewa Catummahara- jika. Dulu, Saya telah duduk, berbicara dan berdialog dengan mereka. Saya tidak melihat alasan mengapa takut atau malu. Karena saya tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas diri.
Saya telah memiliki pengetahuan langsung, sebagai seorang pengunjung, dari beratus-ratus kelompok dewa Tavatimsa. Dulu, saya telah duduk, berbicara dan berdialog dengan mereka. Saya tidak melihat. alasan mengapa takut atau malu. Karena saya tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas diri.
Saya telah memiliki pengetahuan langsung, sebagai seorang pengunjung, dari beratus-ratus kelompok Mara. Dulu, saya telah duduk, berbicara dan berdialog dengan mereka. Saya tidak melihat alasan mengapa takut atau malu. Karena saya tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas diri.
Saya telah memiliki pengetahuan langsung, sebagai seorang pengunjung, dari beratus-ratus kelompok Brahma. Dulu, saya telah duduk, berbicara dan berdialog dengan mereka. Saya tidak melihat alasan mengapa takut atau malu. Karena saya tidak melihat alasan untuk itu, maka saya hidup aman, tanpa rasa takut dan penuh integritas diri.
'Sariputta, apabila seseorang mengetahui dan melihat saya lalu berkata: "Petapa Gotama tidak mempunyai perbedaan yang berharga tentang pengetahuan dan pandangan ariya yang lebih tinggi daripada kemampuan manusia biasa. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma sekedar menjejali pikiran, mengikuti keingintahuannya seperti yang terjadi padanya," kecuali ia membatalkan pernyataan dan pikiran seperti itu serta ia membetulkan pandangan itu, ia akan lahir di neraka karena terbawa oleh pikirannya itu. Bagaikan seorang bhikkhu yang memiliki sila, samadhi dan panna yang sempurna, pada kehidupan sekarang akan menikmati pengetahuan tertinggi, saya nyatakan; namun sesuatu akan terjadi bilamana ia (orang yang mengatakan tentang saya) tidak membatalkan pernyataan dan pikiran seperti itu serta ia membetulkan pandangan itu, maka ia akan lahir di neraka karena terbawa oleh pikirannya itu.
Catta Yoni
'Sariputta, ada Empat Cara Kelahiran (Catta Yoni). Apakah empat Cara Kelahiran itu? Kelahiran melalui telur (andaja yoni), kandungan (jalabuja yoni), tempat lembab (samsedaja yoni) dan kelahiran secara spontan (opapatika).
'Apakah kelahiran melalui telur? Ada makhluk-makhluk yang lahir dengan memecahkan kulit telur; ini yang disebut kelahiran melalui telur.
'Apakah kelahiran melalui kandungan? Ada makhluk-makhluk yang lahir melalui kandungan; ini yang disebut kelahiran melalui kandungan.
'Apakah kelahiran pada tempat lembab? Ada makhluk-makhluk yang lahir dalam ikan yang membusuk, mayat yang membusuk, adonan yang membusuk, atau dalam jamban atau dalam saluran air kotor; ini yang disebut kelahiran pada tempat lembab.
'Apakah kelahiran secara spontan? Ada dewa-dewa, penghuni-penghuni neraka dan makhluk manusia tertentu dan para penghuni tertentu dari alam yang tidak menyenangkan, yang lahir (muncul) secara spontan; ini yang disebut kelahiran secara spontan.
Inilah empat Cara Kelahiran.'
'Sariputta, apabila seseorang mengetahui dan melihat saya lalu berkata: "Petapa Gotama tidak mempunyai perbedaan yang berharga tentang pengetahuan dan pandangan ariya yang lebih tirrggi daripada kemampuan manusia biasa. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma sekedar menjejali pikiran, mengikuti keingintahuannya seperti yang terjadi padanya," kecuali ia membatalkan pernyataan dan pikiran seperti itu serta ia membetulkan pandangan itu, ia akan lahir di neraka karena terbawa oleh pikirannya itu. Bagaikan seorang bhikkhu yang memiliki sila, samadhi dan panna yang sempurna, pada kehidupan sekarang akan menikmati pengetahuan tertinggi, saya nyatakan; namun sesuatu akan terjadi bilamana ia (orang yang mengatakan tentang saya) tidak membatalkan pernyataan dan pikiran seperti itu serta ia membetulkan pandangan itu, maka ia akan lahir di neraka karena terbawa oleh pikirannya itu.'
Panca Gati dan Nibbana
'Sariputta, ada Lima Alam Tempat Kelahiran (Panca Gati). Apakah lima alam itu? Alam neraka (niraya), binatang (tiracchana), alam setan (pittivisaya), alam manusia (manussa) serta dewa (deva).
'Saya mengerti tentang alam neraka; jalan serta cara yang membawa ke neraka, bagi dia yang akan memasukinya, setelah kematian, terlahir kembali dalam keadaan yang menyedihkan, dalam alam yang tidak menyenangkan, dalam alam penderitaan, dalam neraka; ini pun saya mengerti.
'Saya mengerti tentang alam binatang; jalan serta cara yang membawa ke alam binatang, bagi dia yang akan memasukinya, setelah kematian, terlahir kembali sebagai binatang di alam binatang; ini pun saya mengerti.
'Saya mengerti tentang alam setan; jalan serta cara yang membawa ke alam setan, bagi dia yang akan memasukinya, setelah kematian, terlahir kembali sebagai setan di alam setan,: ini pun saya mengerti.
'Saya mengerti tentang alam manusia; jalan serta cara membawa ke alam manusia, bagi dia yang akan memasukinya, setelah kematian, terlahir kembali sebagai manusia di alam manusia; ini pun saya mengerti.
'Saya mengerti tentang alam para dewa; jalan serta cara membawa ke alam para dewa, bagi dia yang akan memasukinya, setelah kematian, terlahir kembali sebagai dewa di alam dewa; ini pun saya mengerti.
'Saya mengerti tentang nibbana; jalan serta cara untuk mencapai nibbana, bagi dia yang akan mencapainya, berdasarkan pada kemampuan batin (abhinna) di sini dan pada kehidupan ini juga dia sendiri merealisasikan pembebasan batin melalui 'pencapaian pembebasan batin' (cetovimutti) dan 'pembebasan berdasarkan kebijaksanaan' (pannavimutti) serta melenyapkan semua kotoran batin (asava); ini pun saya mengerti.
Dengan meliputi pikiran orang (makhluk) tertentu dengan pikiran(ku), saya mengerti bahwa "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, bahwa setelah kematiannya, ia terlahir kembali dalam keadaan yang menyedihkan, dalam alam yang tidak menyenangkan, alam penderitaan, dalam neraka.” Kemudian dengan kekuatan mata-dewa (dibbacakku) yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa, saya melihat bahwa setelah orang (makhluk) itu meninggal, ia terlahir kembali di alam yang menyedihkan, alam tidak menyenangkan, alam penderitaan, dalam neraka dan mengalami penderitaan yang amat sangat, menyakitkan, tersiksa dan sengsara.
'Seandainya ada sebuah lobang yang dalamnya melebihi tinggi manusia, penuh dengan bara yang membara tanpa nyala dan asap; kemudian ada seseorang yang kepanasan dan kelelahkan karena udara panas, kepayahan, terpanggang dan kehausan, masuk melalui jalan satu arah dan menuju lobang bara tersebut; maka seseorang bermata (yang baik), ketika melihatnya, akan berkata: "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi lobang bara tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia telah jatuh ke dalam lobang penuh bara itu dan mengalami penderitaan yang amat sangat, menyakitkan, tersiksa dan sengsara.
Demikian pula dengan meliputi pikiran orang lain dengan pikiranku, saya mengerti bahwa 'orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi lobang bara tersebut'; kemudian orang itu melihat bahwa ia telah jatuh ke dalam lobang penuh bara itu mengalami penderitaan yang amat sangat, menyakitkan, tersiksa dan sengsara.
Dengan meliputi pikiran orang (makhluk) tertentu dengan pikiran(ku), saya mengerti brahwa "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, bahwa setelah kematiannya, ia akan terlahir kembali dalam kandungan binatang." Kemudian dengan kekuatan mata-dewa (dibbacakku) yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa, saya melihat bahwa setelah orang (makhluk) itu meninggal, ia terlahir kembali dalam kandungan binatang dan mengalami kesakitan, tersiksa dan sengsara.
'Seandainya ada sebuah lobang kakus yang dalamnya melebihi tinggi manusia, penuh dengan tahi; kemudian ada seseorang yang kepanasan dan kelelahkan karena udara panas, kepayahan, terpanggang dan kehausan, masuk melalui jalan satu arah dan menuju lobang kakus tersebut; maka seseorang bermata (yang baik), ketika melihatnya, akan berkata: "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi lobang kakus tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia telahjatuh ke dalam lobang kakus itu dan mengalami penderitaan yang amat sangat, menyakitkan, tersiksa dan sengsara. Demikian pula dengan meliputi pikiran orang lain dengan pikiranku, saya mengerti bahwa "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi lobang kakus tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia telahjatuh ke dalam lobang kakus itu dan mengalami penderitaan yang amat sangat, menyakitkan, tersiksa dan sengsara.
Dengan meliputi pikiran orang (makhluk) tertentu dengan pikiran(ku), saya mengerti bahwa "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, bahwa setelah kematiannya, ia akan terlahir kembali dalam alam setan." Kemudian dengan kekuatan matadewa (dibbacakku) yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa, saya melihat bahwa setelah orang (makhluk) itu meninggal, ia terlahir kembali di alam setan dan mengalami kesakitan, tersiksa dan sengsara.
Seandainya ada sebatang pohon yang tumbuh pada sebidang tanah yang tidak rata, hanya sedikit dedaunan dengan kerindangan yang terbatas; kemudian ada seseorang yang kepanasan dan kelelahkan karena udara panas, kepayahan, terpanggang dan kehausan, masuk melalui jalan satu arah dan menuju pohon tersebut; maka seseorang bermata (yang baik), ketika melihatnya, akan berkata: "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi. pohon tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia duduk atau berbaring di bawah pohon itu dan mengalami penderitaan yang amat sangat, menyakitkan, tersiksa dan sengsara.
Demikian pula dengan meliputi pikiran orang lain dengan pikiranku, saya mengerti bahwa "Orang ini berprilaku berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi. pohon tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia duduk atau berbaring di bawah pohon itu dan mengalami penderitaan yang amat sangat, menyakitkan, tersiksa dan sengsara.
Dengan meliputi pikiran orang (makhluk) tertentu dengan pikiran(ku), saya mengerti babwa "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, bahwa setelah kematiannya, la akan terlahir kembali dalam rahim ibu (manusia)." Kemudian dengan kekuatan mata-dewa (dibbacakku) yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa, saya melihat bahwa setelah orang (makhluk) itu meninggal, ia terlahir kembali di alam manusia dan mengalami banyak kesenangan.
Seandainya ada sebatang pohon yang tumbuh pada sebidang tanah yang rata, rimbun dengan dedaunan dan rindang sekali; kemudian ada seseorang yang kepanasan dan kelelahan karena udara panas, kepayahan, terpanggang dan kehausan, masuk melalui jalan satu arah dan menuju pohon tersebut; maka seseorang bermata (yang baik), ketika melihatnya, akan berkata: "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi pohon tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia duduk atau berbaring di bawah pohon itu dan mengalami banyak kesenangan.
Demikian pula dengan meliputi pikiran orang lain dengan pikiranKu, Saya mengerti bahwa "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi pohon tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia duduk atau berbaring di bawah pohon itu dan mengalami banyak kesenangan.
Dengan meliputi pikiran orang (makhluk) tertentu dengan pikiran(ku), saya mengerti bahwa "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, bahwa setelah kematiannya, ia akan terlahir kembali dalam alam yang menyenangkan, di alam dewa (deva)." Kemudian dengan kekuatan mata-dewa (dibbacakku) yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa, saya melihat bahwa setelah orang (makhluk) itu meninggal, ia terlahir kembali di alam dewa dan mengalami banyak kesenangan.
'Seandainya ada rumah peristirahatan yang sangat besar, di dalamnya ada sebuah ruang atas yang diplester di bagian dalam dan luar, tertutup, diamankan dengan jeruji, dengan jendela yang tertutup, di dalamnya ada sebuah sofa dengan karpet dan selimut serta sarung, berpenutup dari kulit rusa, dipayungi, berbantal merah muda untuk kepala dan kaki; kemudian ada seseorang yang kepanasan dan kelelahkan karena udara panas, kepayahan, terpanggang dan kehausan, masuk melalui jalan satu arah dan menuju rumah peristirahatan tersebut; maka seseorang bermata (yang baik), ketika melihatnya, akan berkata: "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi rumah peristirahatan tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia duduk atau berbaring di ruang atas dalam rumah peristirahatan itu dan mengalanii banyak kesenangan.
Demikian pula dengan meliputi pikiran orang lain dengan pikiranku, saya mengerti bahwa "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi rumah peristirahatan tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia duduk atau berbaring di ruang atas dalam rumah peristirahatan itu dan mengalami banyak kesenangan.
Dengan meliputi pikiran orang (makhluk) tertentu dengan pikiran(ku), saya mengerti bahwa "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, berdasarkan pada kemampuan batin (abhinna) di sini dan pada kehidupan ini juga dia sendiri merealisasikan pembebasan kotoran batin melalui 'pencapaian pembebasan batin' (cetovimutti) dan 'pembebasan berdasarkan kebijaksanaan' (pannavimutti) serta melenyapkan semua kotoran batin (asava). Kemudian Saya melihat bahwa berdasarkan pada kemampuan batin (abhinna) di sini dan pada kehidupan ini juga dia sendiri merealisasikan pembebasan kotoran batin melalai 'pencapaian pembebasan batin' dan ‘pembebasan berdasarkan kebijaksanaan' serta melenyapkan semua kotoran batin dan mengalami banyak kesenangan.
'Seandainya ada sebuah kolam yang bersih, menyenangkan, berair sejuk, bening, bertepi yang halus dan menyenangkan, di dekat pepohonan yang lebat; kemudian ada seseorang yang kepanasan dan kelelahkan karena udara panas, kepayahan, terpanggang dan kehausan, masuk melalui jalan satu arah dan menuju ke kolam tersebut; maka seseorang bermata (yang baik), ketika melihatnya, akan berkata: "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi kolam tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia telah pergi ke kolam, mandi, minum dan menghilangkan semua kepenatan, kelelahan serta kepanasannya, lalu ia keluar dari kolam serta duduk atau berbaring di bawah pepohonan yang lebat dan mengalami banyak kesenangan.
Demikian pula dengan meliputi pikiran orang lain dengan pikiranku, saya mengerti bahwa "Orang ini berprilaku, berpembawaan, mempunyai jalan hidup demikian, ia akan mendatangi kolam tersebut"; kemudian orang itu melihat bahwa ia telah pergi ke kolam, mandi, minum dan menghilangkan semua kepenatan, kelelahan serta kepanasannya, lalu ia keluar dari kolam serta duduk atau berbaring di bawah pepohonan yang lebat dan mengalami banyak kesenangan.
Inilah lima macam alam kelahiran dan nibbana.
'Sariputta, apabila seseorang mengetahui dan melihat Saya lalu berkata: "Petapa Gotama tidak mempunyai perbedaan yang berharga tentang pengetahuan dan pandangan ariya yang lebih tinggi daripada kemampuan manusia biasa. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma sekedar menjejali pikiran, mengikuti keingintahuannya seperti yang terjadi padanya", kecuali ia membatalkan pernyataan dan pikiran seperti itu serta ia membetulkan pandangan itu, ia akan lahir di neraka karena terbawa oleh pikirannya itu. Bagaikan seorang bhikkhu yang memiliki sila, samadhi dan panna yang sempurna, pada kehidupan sekarang akan menikmati pengetahuan tertinggi, saya nyatakan; namun sesuatu akan terjadi bilamana ia (orang yang mengatakan tentang saya) tidak membatalkan pernyataan dan pikiran seperti itu serta ia membetulkan pandangan itu, maka ia akan lahir di neraka karena terbawa oleh pikirannya itu.
"Sariputta, saya ingat pengalaman sendiri tentang empat cara penghidupan suci (Brahmacariya) karena telah melaksana-kannya. Saya pernah melaksanakan cara bertapa yang sangat ekstrim (paramatapa), keras (paramalukha), teliti (parama-jeguchi) dan pengasingan (paramapavivitta)."
'Beginilah pertapaanku, saya hidup telanjang, menolak berkumpul (dengan orang lain), menjilati tangan-tanganku, tidak memenuhi undangan, tidak berhenti walaupun ditanya; saya tidak menerima sesuatu yang dibawakan, sesuatu yang khusus dibuat atau suatu undangan; Saya tidak menerima apapun dari panci, dari mangkok, melalui nampan, melalui tongkat, melalui penumbuk padi, dari dua orang yang makan bersama, dari wanita yang berputra, dari wanita yang menyusui, dari (tempat) wanita berbaring bersama seorang pria, dari tempat di mana makanan diumumkan untuk disebarkan, dari tempat di mana seekor anjing sedang menunggu, dari tempat di mana lalat-lalat mendengung; saya tidak menerima ikan atau daging, saya tidak minum minuman keras, anggur atau minuman yang memabukkan. Saya hanya menerima sesuap makanan secara tetap dari satu rumah; Saya hanya menerima dua suap makanan secara tetap dari dua rumah; Saya hanya menerima tiga suap makanan secara tetap dari tiga rumah; Saya hanya menerima empat suap makanan secara tetap dari empat rumah; … lima suap makanan secara tetap dari lima rumag; ... enam suap makanan secara tetap dari enam rumah; Saya hanya menerima tujuh suap makanan dari tujuh rumah. Saya makan sepiring makanan sehari, ... sepiring makanan tiap dua hari, ... sepiring makanan tiap tujuh hari; Saya makan sekali sehari, ... makan sekali tiap dua hari, makan sekali tiap tiga hari, … makan sekali tiap empat hari, … makan sekali setiap lima hari, makan sekali setiap enam hari, saya makan sekali tiap tujuh hari dan seterusnya hingga makan sekali tiap dua minggu; saya melatih diri hanya makan pada waktu-waktu tersebut. Saya hanya makan yang hijau atau biji-bijian, nasi kasar, makanan dihaluskan, tumbuh-tumbuhan kecil, dedak, kismis, tepung sesame, rumput, atau kotoran sapi. Saya hidup di bawah pohon dan makan buah-buahan yang jatuh dari pohon karena angin. Saya mengenakan pakaian dari rami, pakaian rami dicampur dengan kain, kain pembungkus mayat (pamsukula), kain bekas, kulit pohon, kulit rusa, kain dari rumput kusa, kain dari serat kulit kayu, kain dari sayatan kayu, wol rambut, wol bulu binatang, kain dari sayap burung hantu. Saya mencabut rambut janggut, hidup dengan melaksanakan pencabutan rambut dan janggut. Saya berdiri terus dan menolak untuk duduk. Saya jongkok terus serta berusaha untuk tetap jongkok. Saya menggunakan kasur berpaku; saya membuat tikar paku untuk tempat tidur. Saya melatih mandi tiga kali di sungai menjelang malam. Demikianlah cara saya bertapa.
'Beginilah kekasaranku, bagaikan kulit batang pohon besar yang telah bertahun-tahun dilekati oleh debu dan telah bergumpal-gumpal; demikian pula, telah beberapa tahun debu dan daki terkumpul serta melekati tubuhku, debu telah berbentuk gumpalan pula. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa, "Saya akan menggosok debu dan daki agar terlepas dari tubuhku atau meminta orang lain menggosok debu dan daki ini." Demikianlah kekasaranku.
'Beginilah ketelitianku, saya selalu waspada ketika melangkah maju dan melangkah mundur; begitu pula, saya dipenuhi dengan belas kasihan walaupun hanya pada setetes air, dengan pikiran: "Semoga saya tidak menyakiti makhluk-makhluk kecil dalam air." Demikianlah ketelitian-Ku.
'Beginilah pengasinganku: Saya masuk ke dalam hutan dan tinggal di sana. Apabila saya melihat penggembala atau kawanan sapi, orang pengumpul rumput atau kayu, saya akan lari dari hutan ke hutan, dari belukar ke belukar, dari gua ke gua, dari bukit ke bukit. Mengapa demikian? Dengan begitu mereka tidak akan melihatku atau saya melihat inereka. Bagaikan seekor kijang hutan ketika melihat manusia akan berlari dari hutan ke hutan, dari belukar ke belukar, dari gua ke gua, dari bukit ke bukit, begitulah saya ketika melihat penggembala atau kawanan sapi, orang pengumpul rumput atau kayu, saya akan lari dari hutan ke hutan, dari belukar ke belukar, dari gua ke gua, dari bukit ke bukit. Demikianlah pengasinganku.
'Saya merangkak ke kandang-kandang ketika ternak dan lembu-lembu itu telah pergi, saya makan kotoran anak sapi yang masih menyusu. Selama kotoran dan air kencingku masih ada, saya makan dan minum kotoran dan air kencingku sendiri. Begitulah cara makanku yang menyimpang.
'Saya pergi ke hutan menyeramkan dan menetap di sana. Suatu hutan menyeramkan yang biasanya menyebabkan bulu kuduk orang berdiri karena ia belum bebas dari nafsu. Ketika udara dingin pada malam-malam di musim dingin tiba, selama delapan hari yang bersalju, maka pada malam hari saya menetap di tempat terbuka, sedangkan di waktu siang saya berada di butan. Di akhir bulan pada musim panas, saya menetap di tempat terbuka di siang hari, sedangkan di malam hari saya berada di hutan. Pada waktu itu secara spontan muncul syair yang sebelumnya tak pernah terdengar:
“Kedinginan di malam hari dan terpanggang di siang hari, Sendirian dalam hutan menyeramkan,
Bertelanjang, tanpa api untuk menghangatkan tubuh,
Petapa tetap mengejar cita-citanya.”
'Saya membuat pembaringan di tanah tempat kremasi dengan tulang-tulang sebagai bantal. Anak-anak penggembala sapi menghampiri, meludahi dan mengencingiku, melemparkan kotoran padaku, dan menusukkan ranting ke telingaku. Namun saya tidak pernah tahu munculnya pikiran buruk terhadap mereka. Demikianlah keseimbangan batin (upekha)-ku.
'Sariputta, ada beberapa petapa dan brahmana yang berteori dan berpandangan: "Kesucian dicapai melalui makanan", dan mereka berkata:"Marilah kita bidup dengan makan buah kola (Zizyphus jujuba) maka mereka makan buah kola, bubuk buah kola, meminum air buah kola dan mereka membuat berbagai macam adonan dari buah kola. Sekarang, saya ingat hanya makan sebuah kola sehari.”
Sariputta, tetapi anda mungkin berpikir bahwa buah kola pada saat itu lebih besar, namun janganlah menganggapnya demikian: buah kola pada saat itu umumnya sama ukurannya dengan sekarang. Dengan makan sebuah kola sehari, tubuhku menjadi kurus sekali. Karena hanya sedikit sekali, maka anggota tubuhku menjadi seperti batang tumbuhan merambat atau batang bambu. Karena hanya makan sedikit, maka punggungku bagaikan punuk Unta. Karena makan sedikit, maka susunan tulang belakangku bagaikan untaian manik-manik. Karena makan sedikit, maka tulang-tulang rusukku menonjol keluar bagaikan balok penglari atap dari gudang yang tak beratap. Karena makan sedikit, maka cahaya mataku tenggelam jauh dalam lobang mata bagaikan cahaya air yang berada jauh di sumur yang dalam. Karena makan sedikit, maka tempurung kepalaku berkerut dan mengisut bagaikan sebuah labu yang berkerut dan mengisut karena angin dan matahari. Karena makan sedikit, maka jika saya menyentuh kulit perutku, maka saya dapat menyentuh tulang belakangku juga; jika saya menyentuh tulang punggungku, maka saya menyentuh kulit perutku pula; jika saya membuang air kecil atau air besar, saya terjatuh dengan wajahku mengenainya. Karena makan sedikit, jika saya melemaskan tubuhku dengan mengusap anggota tubuhku, maka bulu-bulu tubuhku tercabut sampai ke akar-akar, jatuh dari tubuhku ketika saya mengusap.
'Sariputta, ada beberapa petapa dan brahmana yang berteori dan berpandangan: "Kesucian dicapai melalui makanan", dan mereka berkata: "Marilah kita hidup dengan makan kacang-kacangan....
'Sariputta, ada beberapa petapa dan brahmana yang berteori dan berpandangan: "Kesucian dicapai melalui makanan". dan mereka berkata: "Marilah kita hidup dengan makan Sesame, maka mereka makan buah sesame, bubuk buah sesame, meminum air buah sesame dan mereka membuat berbagai macam adonan dari bua sesame. Sekarang, saya ingat hanya makan sebuah sesame sehari.”
“Sariputta, tetapi anda mungkin berpikir bahwa buah sesame pada saat itu lebih besar, namun janganlah menganggapnya demikian: buah kola pada saat itu umumnya sama ukurannya dengan sekarang. Dengan makan sebuah kola sehari, tubuhku menjadi sangat kurus. Karena hanya sedikit sekali, maka anggota tubuhku menjadi seperti batang tumbuhan merambat atau batang bambu. Karena hanya makan sedikit, maka punggungku bagaikan punuk Unta. Karena makan sedikit, maka susunan tulang belakangku bagaikan untaian manik-manik. Karena makan sedikit, maka tulang-tulang rusukku menonjol keluar bagaikan balok penglari atap dari gudang yang tak beratap. Karena makan sedikit, maka cahaya mataku tenggelam jauh dalam lobang mata bagaikan cahaya air yang berada jauh di sumur yang dalam. Karena makan sedikit, maka tempurung kepalaku berkerut dan mengisut bagaikan sebuah labu yang berkerut dan mengisut karena angin dan matahari. Karena makan sedikit, maka jika saya menyentuh kulit perutku, maka saya dapat menyentuh tulang belakangku juga; jika saya menyentuh tulang punggungku, maka saya menyentuh kulit perutku pula; jika saya membuang air kecil atau air besar, saya terjatuh dengan wajahku mengenainya. Karena makan sedikit, jika saya melemaskan tubuhku dengan mengusap anggota tubuhku, maka bulu-bulu tubuhku tercabut sampai ke akar-akar, jatuh dari tubuhku ketika saya mengusap.
'Sariputta, ada beberapa petapa dan brahmana yang berteori dan berpandangan: "Kesucian dicapai melalui makanan," dan mereka berkata: "Marilah kita hidup dengan makan beras", maka mereka makan beras, makan tepung beras, minum air beras dan mereka membuat berbagai macam adonan beras. Sekarang, saya ingat saya hanya makan sebutir beras sehari.'
Sariputta, tetapi anda mungkin berpikir bahwa butir beras pada saat itu lebih besar, namun janganlah mengangapnya demikian: butir beras pada saat itu umumnya sama ukurannya dengan sekarang. Dengan makan sebutir beras sehari, tubuhku menjadi sangat kurus. Karena hanya makan sedikit sekali maka anggota tubuhku menjadi seperti batang tumbuhan merambat atau batang bambu. Karena hanya makan sedikit, maka punggungku bagaikan punuk Unta. Karena makan sedikit, maka susunan tulang belakangku bagaikan untaian manik-manik. Karena makan sedikit, maka tulang-tulang rusukku menonjol keluar bagaikan balok penglari atap dari gudang yang tak beratap. Karena makan sedikit, maka cahaya mataku tenggelam jauh dalam lobang mata bagaikan cahaya air yang berada jauh di sumur yang dalam. Karena makan sedikit, maka tempurung kepalaku berkerut dan mengisut bagaikan sebuah labu yang berkerut dan mengisut karena angin dan matahari. Karena makan sedikit, maka jika saya menyentuh kulit perutku, maka saya dapat menyentuh tulang belakangku juga; jika saya menyentuh tulang punggungku, maka saya menyentuh kulit perutku pula; jika saya membuang air kecil atau air besar, saya terjatuh dengan wajahku mengenainya. Karena makan sedikit jika saya melemaskan tubuhku dengan mengusap anggota tubuhku, maka bulu-bulu tubuhku tercabut sampai ke akar-akarnya, jatuh dari tubuhku ketika saya mengusap.
Sariputta, namun dengan menyiksa diri, praktik dan melaksanakan perbuatan seperti itu, saya tidak mencapai sesuatu yang bermanfaat untuk mencapai pengetahuan serta pengalaman sebagai orang suci yang melebihi keadaan manusia biasa. Mengapa begitu? Karena saya tidak mencapai Kebijaksanaan Ariya (Panna-Ariya) yang bila tercapai menjadi suci, cara ini merupakan jalan ke luar yang mengarah pada pelenyapan penderitaan (dukkha), bagi yang mempraktikkannya.
'Sariputta, ada beberapa petapa dan brahmana tertentu yang berteori dan berpandangan: "Kesucian dicapai melalui proses lingkaran kelahiran kembali (samsara suddhi))." Namun tidak mungkin untuk menemukan suatu kelahiran kembali yang belum pernah saya lalui selama dalam perjalanan kehidupan yang panjang ini, kecuali di alam dewa Suddhavasa; andaikan aya telah melalui lingkaran kelahiran kembali dan terlahir sebagai dewa Suddhavasa, maka saya tidak akan terlahir kembali ke dunia ini.
'Sariputta, ada beberapa petapa dan brahmana tertentu yang berteori dan berpandangan: "Kesucian dicapai melalui (beberapa jenis tertentu dari) kelahiran kembali." Namun tidak mungkin untuk menemukan jenis kelahiran kembali yang belum pernah saya lalui selama dalam perjalanan kehidupan yang panjang ini, kecuali di alam dewa Suddhavasa; andaikan saya telah melalui lingkaran kelahiran kembali dan terlahir sebagai dewa Suddhavasa, maka saya tidak akan terlahir kembali ke dunia ini.
'Sariputta, ada beberapa petapa dan brahmana tertentu yang berteori dan berpandangan: "Kesucian dicapai melalui alam (tertentu). "Namun tidak mungkin untuk menemukan jenis alam kelahiran kembali yang belum pernah saya lalui selama dalam perjalanan kehidupan yang panjang ini, kecuali di alam dewa Suddhavasa; andaikan saya telah melalul lingkaran kelahiran kembali dan terlahir sebagai dewa Suddhavasa, maka saya tidak akan terlahir kembali ke dunia ini.
'Sariputta, ada beberapa petapa dan brahmana tertentu yang berteori dan berpandangan: "Kesucian dicapai dengan pengorbanan." Namun tidak mungkin menemukan jenis pengorbanan yang belum pernah saya sajikan selama dalam perjalanan kehidupan yang panjang ini, baik sebagai raja kesatria atau sebagai brahmana kaya raya.
'Sariputta, ada beberapa petapa dan brahmana tertentu yang berteori dan berpandangan: "Kesucian dicapai melalui pemujaan api." Namun tidak mungkin menemukan jenis api yang belum pernah saya puja selama dalam perjalanan kehidupan yang panjang ini, baik sebagai raja kesatria atau sebagai brahmana yang kaya raya.
'Sariputta, ada beberapa petapa dan brahmana tertentu yang berteori dan berpandangan: "Selama orang ini masih muda, seorang pemuda berambut hitam yang diberkahi keremajaan, dalam kehidupan pada masa pertama ini, ia memiliki kesempurnaan dalam kebijaksanaannya. Tetapi apabila orang baik ini menjadi tua, berusia lanjut, dibebani tahun-tahun, maju dalam kehidupan, mencapai tahap terakhir, berusia delapan puluh tahun, sembilan puluh tahun atau seratus tahun, maka kebijaksanaannya hilang." Tetapi tidaklah seharusnya menganggap begitu. Sekarang, saya telah tua, berusia lanjut, dibebani tahun-tahun, maju dalam kehidupan dan mencapai pada tahap terakhir, usiaku sudah mendekati delapan puluh tahun. Sekarang seandainya saya memiliki empat siswa yang berusia seratus tahun, sempurna dalam kesadaran, perhatian, pandangan dan kebijaksanaan - bagaikan seorang pemanah yang dibekali peralatan yang lengkap, terlatih, melaksanakan dan teruji, dapat dengan mudah melepaskan anak panah yang ringan melalui bayangan pohon palem, demikian pula mereka sama sempurna dalam kewaspadaan, perhatian, perhatian, pandangan dan kebij aksanaan - andaikata mereka terus-menerus menanyakan tentang Empat Dasar Perhatian (Satipatthana) dan saya menjawabnya, maka mereka mengingat setiap jawabanku dan tidak pernah menanyakan pertanyaan lainnya atau berhenti kecuali untuk makan, minum, mengunyah, mengecap, buang air kecil atau air besar, dan istirahat demi menghilangkan ngantuk dan keletihan. Namun Tathagata tetap menguraikan dhamma, menerangkan faktor-faktor dhamma, menjawab pertanyaan-pertanyaan dan ia tidak kepayahan. Sementara itu empat siswaku dengan yang berusia seratusan tahun itu, telah meninggal pada akhir seratusan tahun tersebut. Sariputta, walaupun anda harus menggotongku di tandu, tetap tidak ada perubahan dalam kebijaksanaan (panna) Sang Tathagata.
Suatu pernyataan benar bilamana seseorang mengucapkan: "Sesosok makhluk yang bebas dari kebodohan (moha) telah muncul di dunia ini untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, karena kasih sayangnya pada dunia demi kepentingan, kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa dan manusia." Untuk sayalah pernyataan benar itu diucapkan.
Ketika itu Bhikkhu Nagasamala sedang berdiri di belakang Sang Bhagava dan mengipasi beliau. Kemudian ia berkata pada Sang Bhagava: "Bhante menakjubkan sekali, luar biasa! Sewaktu aku mendengarkan khotbah ini bulu-bulu romaku berdiri. Bhante, apakah nama khotbah Dhamma ini?"
"Nagasamala, sehubungan dengan hal ini, engkau dapat mengingat khotbah tentang Dhamma ini sebagai 'Khotbah yang mendirikan Bulu roma' (Lomahamsanapariyaya)."
Itulah yang dikatakan Sang Bhagava. Bhikkhu Nagasamala merasa puas, dan bergembira medengar uraian Sang Bhagava.
MARADUKKRAKRANDRASUTTA
(13)
Demikianlah saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap berada di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Di waktu pagi, beberapa bhikkhu mengenakan jubah dan mengambil patta dan jubah luar (civara), lalu mereka pergi pindapata ke Savatthi.
Kemudian mereka berpikir: "Terlalu pagi untuk pergi pindapata ke Savatthi, sebaiknya kita pergi ke tempat para petapa pengembara dari ajaran lain."
Maka mereka pergi ke tempat para petapa dari ajaran lain, mereka memberi salam kepada para petapa dari ajaran lain, setelah saling menyapa dengan baik, mereka duduk di tempat yang tersedia. Setelah mereka duduk, para petapa pengembara berkata kepada mereka:
"Samana Gotama memiliki 'pengetahuan jelas' tentang nafsu indera, begitu juga kami. Samana Gotama memiliki pengetahuan jelas tentang jasmani (rupa), begitu juga kami. Samana Gotama memiliki pengetahuan jelas tentang perasaan (vedana), begitu juga kami. Jadi apakah kekhususan, perbedaan dan variasi, antara ajaran dhamma dari Samana Gotama dengan kami; antara doktrinnya dengan doktrin kami?" Tanpa menerima atau menolak pertanyaan itu, para bhikkhu bangkit dari duduk dan pergi serta berpikir: "Kami akan mengetahui arti kata-kata ini di depan Sang Bhagava."
Setelah mereka pindapata di Savatthi dan selesai makan, mereka pergi menemui Sang Bhagava. Selesai memberi hormat kepada beliau, mereka duduk di tempat yang tersedia. Setelah duduk, mereka menyampaikan apa yang telah terjadi.
"Para bhikkhu, para pertapa dari ajaran lain yang berkata seperti itu harus ditanya: 'Apakah senang, bahaya, jalan keluar dari nafsu indera, jasmani dan perasaan?' Dengan pertanyaan seperti itu, para pertapa dari ajaran lain akan gagal dan mendapat kesulitan untuk menjawabnya. Mengapa begitu? Karena hal ini tidak mereka kuasai. Saya melihat dalam dunia ini termasuk para dewa, mara, brahma, samana dan brahmana, raja dan manusia lainnya, yang dapat menjawab pertanyaan ini dengan memuaskan hanya Tathagata atau siswa Tathagata yang telah mengetahui dari sumbernya yang dapat menjawab pertanyaan itu dengan memuaskan.
(Nafsu Indera)
Apakah yang menyenangkan pada nafsu indera?
Ada lima pengikat nafsu indera: Jasmani (bentuk) yang diinginkan, disenangi, sesuai dan disukai yang dilihat oleh mata, berhubungan dengan nafsu indera dan merangsang nafsu.
Suara yang diinginkan, disenangi, sesuai dan disukai yang didengar oleh telinga berhubungan dengan nafsu indera dan merangsangnafsu. Bau yang diinginkan, disenangi, sesuai dan disukai yang dibaui oleh hidung, berhubungan dengan nafsu indera dan merangsang nafsu. Rasa yang diinginkan, disenangi, sesuai dan disukai yang dikecap oleh lidah. Sentuhan yang diinginkan, disenangi, sesuai dan disukai yang dirasa oleh tubuh, berhubungan dengan nafsu indera dan merangsang nafsu.
Kegembiraan dan kenikmatan yang muncul berdasarkan pada lima pengikat nafsu ini adalah kesenangan pada nafsu indera.
Apakah bahaya dari nafsu indera?
Dalam hal ini, karena kehidupan maka seseorang bekerja sebagai pemeriksa, akuntan, juru hitung, pembajak, pedagang, peternak sapi, pegawai, atau pekerjaan lain; untuk pekerjaan itu ia kedinginan, kepanasan, diganggu nyamuk dan lalat, angin, matahari, binatang menjalar, haus, lapar dan risiko mati.
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Jika orang itu tidak mendapatkan hasil atau pendapatan karena ia bekerja dan berusaha seperti itu, maka kesedihan, ratap-tangis dan dukacita, dengan memukul dada ia menangis serta putus asa ia menjerit: 'Pekerjanku sia-sia, pekerjaanku tak berguna.'
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Jika orang itu mendapatkan hasil atau pendapatan karena ia bekeda dan berusaha seperti itu, ia mengalami kesusahan dan derita untuk menjaganya, maka kesedihan, ratap-tangis dan dukacita, dengan memukul dada ia menangis serta putus asa ia menjerit: 'Pekerjanku sia-sia, pekerjaanku tak berguna.'
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Demikian pula, karena nafsu indera ... raja bertengkar dengan raja, kesatria dengan kesatria, ibu dengan anak, anak dengan ibu, ayah dengan anak, anak dengan ayah, kakak dengan kakak, dll. dsb.. Karena bertengkar dan ribut, mereka saling menyerang dengan tinju, pemukul, tongkat dan pisau, hal ini menyebabkan derita dan kematian.
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Demikian pula, karena nafsu indera ... orang-orang mengambil pedang, perisai, gendewa dan anak panah, mereka pergi berperang, membuat dua barisan, panah dan lembing melayang, pedang berkelebat; maka ada yang luka karena panah dan lembing, kepala yang putus oleh pedang, ada yang menderita dan mati.
Inilah babaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Demikian pula, karena nafsu indera ... orang-orang mencuri, menjadi bandit, perampok, mengganggu istri orang lain; maka ketika meraka ditangkap, raja dapat memberikan bermacam-macam hukuman. Mereka dapat dicambuk, dipukul dengan tongkat atau pemukul; tangan, kaki, kaki dan tangan dipotong; telinga, hidung, telinga dan hidung dipotong; ... disiram dengan minyak panas, dilemparkan pada anjing kelaparan, selagi masih hidup ditusuk dengan tombak bercagak atau kepala dipancung, mereka menderita atau mati.
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Demikian pula, karena, sebab, bersumber dan berasal mula pada nafsu indera, maka orang-orang melakukan perbuatan salah dengan tubuh, ucapan dan pikiran; akibatnya setelah mereka meninggal, mereka teriahir kembali dalam keadaan menyedihkan, di alam sengsara, di neraka.
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu 'indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Apakah jalan keluar dari nafsu indera?
'Jalannya adalah menghilangkan dan melenyapkan keinginan nafsu untuk nafsu indera'.
Inilah jalan keluar dari nafsu indera.
Para samana dan brahmana yang tidak mengerti sebagaimana apa adanya tentang kesenangan sebagai kesenangan, bahaya sebagai bahaya dan jalan keluar sebagai jalan keluar dari nafsu indera, adalah tidak mungkin dapat mengetahui dengan jelas tentang nafsu indera atau mengajar agar orang lain mengetahui dengan jelas tentang nafsu indera. Para samana dan brahmana yang mengerti sebagaimana apa adanya tentang kesenangan sebagai kesenangan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan keluar sebagai jalan keluar dari nafsu indera, adalah mungkin dapat mengetahui dengan jelas tentang nafsu indera atau mengajar orang lain mengetahui dengan jelas tentang nafsu indera.
(Jasmani)
Apakah yang menyenangkan pada jasmani?
“Para bhikkhu, misalnya ada seorang gadis dari keluarga terhormat berusia 15 atau 16 tahun, tidak terlalu tinggi atau pendek, tidak terlalu gemuk atau kurus, tidak terlalu hitam atau putih kulitnya; apakah kecantikan dan keayuannya pada puncaknya?”
“Ya”, jawab para bhikkhu.
“Para bhikkhu, kegembiraan dan kenikmatan yang muncul tergantung pada kecantikan dan keayuaan adalah kesenangan pada jasmani.”
Apakah bahaya dari jasmani?
“Para bhikkhu, pada suatu waktu mendatang, seseorang dapat melihat wanita yang sama telah berusia 80, 90 atau 100 tahun, tua, bongkok, gemetar, terhuyun-huyun, bertongkat, lemah, kesegarannya lenyap, ompong, ubanan, rambut bau, botak, berkriput dan kaki kaku. Para bhikkhu, bagaimana pendapat kamu sekalian, apakah kecantikan dan keayuannya lenyap, serta bahayanya nampak?”
“Ya,” jawab para bhikkhu.
“Para bhikkhu, inilah bahaya dari jasmani.”
“Demikian pula, seseorang dapat melihat wanita yang sama sakit, menderita dan sakit parah, terbujur pada kencing dan kotorannya sendiri, hanya bangun atau berbaring oleh bantuan orang lain. Bagaimana pendapat kamu sekalian, apakah kecantikkan dan keayuaannya lenyap, serta bahayanya nampak?”
“Ya,” jawab para bhikkhu.
“Para bhikkhu, inilah bahaya dari jasmani.”
“Demikian pula, seseorang dapat melihat wanita yang sama telah meninggal, sebagai mayat yang diletakkan di tanah tempat kremasi, telah sehari meninggal, dua hari meninggal, tiga hari meninggal mengembung, kehitam-hitaman dan mengeluarkan cairan. Bagaimana pendapat kamu sekalian, apakah kecantikan dan keayuannya lenyap, serta bahayanya nampak?”
“Ya,” jawab para bhikkhu.
“Para bhikkhu, inilah bahaya dari jasmani.”
“Demikian pula, seseorang dapat melihat wanita yang sama telah rneninggal, sebagai mayat yang diletakkin di tanah tempat kremasi, dimakan oleh burung gagak, burung nasar, kumbang, anjing, serigala dan bermacam-macam belatung dan cacing. Bagaimana pendapat kamu sekalian, apakah kecantikan dan keayuannya lenyap, serta bahayanya nampak?”
“Ya,” jawab para bhikkhu.
“Para bhikhu, inilah bahaya dari jasmani.”
“Demikian pula, seseorang dapat melihat waniya yang sama...tulang-belulang dengan daging dan darah yang terikat oleh urat-urat ...”
“Demikian pula, seseorang dapat melihat waniya yang sama...tulang-belulang tanpa daging teroles darah yang terikat oleh urat-urat ...”
“Demikian pula, seseorang dapat melihat waniya yang sama...tulang-belulang tanpa daging atau darah yang terikat oleh urat-urat ...”
“Demikian pula, seseorang dapat melihat waniya yang sama...tumpukan tulang, lebih dari setahun ...”
“Demikian pula, seseorang dapat melihat wanita yang sama telah meninggal, sebagai mavat di tanah tempat kremasi; tulang telah kropos dan dipenuhi tanah. Bagaimana pendapat anda sekalian, apakah kecantikan dan keayuaannya telah hilang, serta bahayanya nampak?”
“Ya,” jawab para bhikkhu.
‘Para bhikkhu, inilah bahava dari jasmani.”
Apakah jalan keluar dari jasmani?
“Jalan keluar dari jasmani adalah menghilangkan dan melenyapkan keinginan nafsu untuk jasmani.”
Para samana dan brahmana yang tidak mengerti sebagaimana apa adanya tentang kesenangan sebagai kesenangan, bahaya sebagai bahaya dan jalan keluar sebagai jalan keluar dari jasmani, adalah tidak mungkin dapat mengetahui dengan jelas tentang jasmani atau mengajar agar orang lain mengetahui dengan jelas tentang jasmani.
Para samana dan brahmana yang mengerti sebagaimana apa adanya tentang kesenangan sebagai kesenangan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan keluar sebagai jalan keluar dari jasmani, adalah mungkin dapat mengetahui dengan jelas tentang jasmani atau mengajar orang lain mengetahui dengan jelas tentang njasmani.
(Perasaan)
Apakah yang menyenangkan pada perasaan?
“Para bhikkhu, agak bebas dari nafsu indera, agak bebas dari dhamma yang tidak berguna, seorang bhikkhu mencapai dan berada dalam Jhana I, disertai vitaka, vicara, piti dan sukha karena ketenangan. Pada keadaan seperti itu ia tidak menyakiti dirinya, atau menyakiti orang lain, atau menyakiti dirinya dan orang lain. Pada keadaan seperti itu ia merasa hanya merasakan bahwa ia bebas dari kesakitan. Aspek tertinggi dari menyenangkan pada perasaan adalah bebas dari kesakitan.”
“Demikian pula, dengan menghilangkan vitaka dan vicara, seorang bhikkhu mencapai dan berada dalam Jhana II, disertai keyakinan dan pikiran terpusat (ekagata) tanpa vitaka dan vicara, dengan piti dan sukha karena ketenangan.
Pada keadaan seperti itu ia tidak menyakiti dirinya, atau menyakiti orang lain, atau menyakiti dirinya dan orang lain. Pada keadaan seperti itu ia merasa hanya merasakan bahwa ia bebas dari kesakitan. Aspek tertinggi dari menyenangkan pada perasaan adalah bebas dari kesakitan.
Dengan lenyapnya kegiuran (piti), bhikkhu menjadi seimbang, sadar dan sangat sadar, merasa nikmat dengan tubuhnya ia mencapai dan berada dalam Jhana III, kondisi seperti ini disebut oleh para ariya sebagai: 'Ia memiliki kenikmatan, keseimbangan dan sadar.' Pada keadaan seperti itu ia tidak menyakiti dirinya, atau menyakiti orang lain, atau menvakiti dirinya dan orang lain. Pada keadaan seperti itu ia merasa hanya merasakan bahwa ia bebas dari kesakitan. Aspek tertinggi dari menyenangkan pada perasaan adalah bebas dari kesakitan.
Dengan melenyapkan kenikmatan dan kesakitan, dengan lenyapnya kegembiraan dan derita, bhikkhu mencapai dan berada dalam Jhana IV, disertai 'bukan sakit maupun bukan menyenangkan', dan tenangnya kesadaran karena keseimbangan.
Pada keadaan seperti itu ia tidak menyakiti dirinya, atau menyakiti orang lain, atau menyakiti dirinya dan orang lain. Pada keadaan seperti itu ia merasa hanya merasakan bahwa ia bebas dari kesakitan. Aspek tertinggi dari menyenangkan pada perasaan adalah bebas dari kesakitan.
Apakah bahaya dari perasaan?
“Perasaan adalah tidak kekal, menyakitkan, tak dapat terpisah dari perubahan.
Inilah bahaya dari perasaan.”
Apakah jalan keluar dari perasaan?
“Jalan keluar dari perasaan adalah menghilangkan dan melenyapkan nafsu indera pada perasaan
Inilah jalan keluar dari perasaan.”
Para samana dan brahmana yang tidak mengerti sebagaimana apa adanya tentang kesenangan sebagai kesenangan, bahaya sebagai bahaya dan jalan keluar sebagai jalan keluar dari perasaan, adalah tidak mungkin dapat mengetahui dengan jelas tentang perasaan atau mengajar agar orang lain mengetahui dengan jelas tentang perasaan. Para samana dan brahmana yang mengerti sebagaimana apa adanya tentang kesenangan sebagai kesenangan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan keluar sebagai jalan keluar dari perasaan, adalah mungkin dapat mengetahui dengan jelas tentang perasaan atau mengajar orang lain mengetahui dengan jelas tentang perasaan.
Itulah yang dikatakan Sang Bhagava. Para bhikkhu puas dan gembira pada apa yang diuraikan Sang Bhagava.
CULADUKKHAKHANDHA SUTTA
(14)
Demikianiah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Nigrodha Arama, Kapilavatthu, kerajaan Sakya. Kemudian, Mahanama Sakka menemui Sang Bhagava, setelah memberi hormat, ia duduk. Setelah ia duduk, ia berkata:
"Bhante, telah lama saya mengetahui dhamma yang diajarkan Sang Bhagava, yaitu: 'Keserakahan, kebencian dan kebodohan merupakan kotoran batin.' Namun, walaupun saya tahu dhamma yang telah diajarkan Sang Bhagava, keserakahan, kebencian dan kebodohan menguasai dan bertahan dalam batinku. Saya heran hal-hal (dhamma) apakah yang belum saya singkirkan, sehingga sifat-sifat buruk (upakilesa) itu menguasai dan bertahan dalam batinku?"
"Mahanama, masih ada hal-hal yang belum anda lenyapkan, sehingga keserakahan, kebencian dan kebodohan sering muncul dan menguasai dirimu; karena bilamana hal-hal itu telah anda singkirkan dari dirimu, maka anda tidak akan hidup berumah-tangga dan memuaskan nafsu indera. Itulah sebabnya dengan masih ada hal-hal dalam dirimu yang belum disingkirkan maka anda hidup berumah-tangga dan memuaskan nafsu indera.
Walaupun siswa ariya (ariyasavaka) yang telah mengetahui dengan jelas, sebagaimana apa adanya, dengan pengertian benar tentang bagaimana nafsu indera hanya memberikan sedikit kesenangan namun memberikan banyak penderitaan, kesakitan dan besar bahayanya. Juga, selama ia belum mencapai kebahagiaan dan kesenangan yang terbebas dari nafsu indera dan dari hal-hal yang tak berguna, atau keadaan yang lebih tenang daripada itu, maka ia belum bebas dari nafsu indera.
Tetapi, ketika siswa ariya telah mengetahui dengan jelas sebagaimana apa adanya, dengan pengertian benar tentang bagaimana nafsu indera hanya memberikan sedikit kesenangan namun memberikan banyak penderitaan, kesakitan dan besar bahayanya. Bilamana ia mencapai kebahagiaan dan kesenangan yang terbebas dari nafsu indera dan hal yang tak berguna, atau pada keadaan yang lebih tenang daripada itu, maka ia telah bebas dari nafsu indera.
Ketika saya masih sebagai bodhisatta dan belum mencapai pencapaian penerangan agung, saya juga mengetahui sesuatu sebagaimana apa adanya dengan pengertian benar, bagaimana nafsu indera hanya memberikan sedikit kesenangan namun memberikan banyak penderitaan, kesakitan dan besar bahayanya. Bilamana ia mencapai kebahagiaan dan kesenangan yang terbatas dari nafsu indera dan hal yang tak berguna atau pada keadaan yang lebih tenang daripada itu, saya sadar bahwa saya belum bebas dari nafsu indera.
Tetapi ketika saya memngetahui dengan jelas, sebagaimana apa adanya, dengan pengertian benar tentang bagaimana nafsu indera hanya memberikan sedikit kesenangan namun memberikan banyak penderitaan, kesakitan dan besar bahayanya. Bilamana ia mencapai kebahagiaan dan kesenangan yang terbebas dari nafsu indera dan hal yang tak berguna atau pada keadaan yang lebih tenang daripada itu, saya sadar bahwa saya telah bebas dari nafsu indera.
Apakah yang menyenangkan pada nafsu indera?
Ada lima pengikat nafsu indera:
Jasmani (bentuk) yang diinginkan, disenangi, sesuai dan disukai yang dilihat oleh mata, berhubungan dengan nafsu indera dan merangsang nafsu.
Suara yang diinginkan, disenangi, sesuai dan disukai yang didengar oleh telinga, berhubungan dengan nafsu indera dan merangsang nafsu.
Bau yang diinginkan, disenangi, sesuai dan disukai yang dicium oleh hidung, berhubungan dengan nafsu dan merangsang nafsu.
Rasa yang diinginkan, disenangi, sesuai dan disukai yang dikecap oleh lidah, berhubungan dengan nafsu dan merangsang nafsu.
Sentuhan yang diinginkan, disenangi, sesuai dan disukai yang dirasa oleht ubuh,berhubungan dengan nafsu indera dan merangsang nafsu.
Kegembiraan dan kenikmatan yang muncul berdasarkan pada lima pengikat nafsu ini adalah kesenangan pada nafsu indera.
Apakah bahaya dari nafsu indera?
Dalam hal ini, karena kehidupan maka seseorang bekerja sebagai pemeriksa, akuntan, juru hitung, pembajak, pedagang, peternak sapi, pegawai, atau pekerjaan lain; untuk pekerjaan itu ia kedinginan, kepanasan, diganggu nyamuk dan lalat, angin, matahari, binatang menjalar, haus, lapar dan risiko mati.
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh karena nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Jika orang itu tidak mendapatkan hasil atau pendapatan karena ia bekerja dan berusaha seperti itu, maka kesedihan, ratap-tangis dan dukacita, dengan memukul dada ia menangis serta putus asa ia menjerit: 'Pekerjaanku sia-sia, pekerjaanku tak berguna.'
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh karena nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Jika orang itu mendapatkan hasil pendapatan karena ia bekerja dan berusaha seperti itu, ia mengalami kesusahan dan derita untuk menjaganya, maka kesedihan, ratap-tangis dan dukacita, dengan memukul dada ia menangis serta putus asa ia menjerit: ‘Pekerjaanku sia-sia, pekerjaanku tak berhuna.
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh karena nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Demikian pula, karena nafsu indera ... raja bertengkar dengan raja, kesatria dengan kesatria, ibu dengan anak, anak dengan ibu, ayah dengan anak, anak dengan ayah, kakak dengan kakak, dll. dsb.. Karena bertengkar dan ribut, mereka saling menyerang dengan tinju, pemukul, tongkat dan pisau, hal ini menyebabkan derita dan kematian.
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh karena nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Demikian pula, karena nafsu indera ... orang-orang mengambil pedang, perisai, gendawa dan anak panah, mereka pergi berperang, membuat dua barisan, panah dan lembing melayang, pedang berkelebat; maka ada yang luka karena panah dan lembing, kepala yang putus oleh pedang, ada yang menderita dan mati.
Inilah bahaya dari nafsu indera timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh karena nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Demikian pula, karena nafsu indera ... orang-orang mencuri, menjadi bandit, perampok, mengganggu isteri orang lain; maka ketika mereka ditangkap, raja dapat memberikan bennacam-macam hukuman. Mereka dapat dicambuk, dipukul dengan tongkat atau pemukul; tangan, kaki, kaki dan tangan dipotong; telinga, hidung, telinga dan hidung dipotong; dilemparkan pada anjing kelaparan, ... disiram dengan minyak panas, dilemparkan selagi masih hidup ditusuk dengan tombak bercagak atau kepala dipancung, mereka menderita atau mati.
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh karena nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera, asal mulanya hanya nafsu indera.
Demikian pula, karena bersumber dan berasal mula pada nafsu indera, maka orang-orang melakukan perbuatan-perbuatan salah dengan tubuh, ucapan dan pikiran; akibatnva setelah mereka meninggal, mereka terlahir kembali dalam keadaan menyedihkan, di alam sengsara, di neraka.
Inilah bahaya dari nafsu indera, timbunan derita yang kelihatan di sini dan sekarang, yang disebabkan oleh karena nafsu indera, bersumber pada nafsu indera, dikarenakan oleh nafsu indera. asal mulanya hanya nafsu indera.”
"Mahanama, pada suatu waktu saya berada di gunung Gijjhakuta, Rajagaha. Pada waktu itu beberapa pengikut Nigantha berada di Kalasilaya, Isigili, sedang mempraktikkan tapa dengan cara berdiri terus dan menolak untuk duduk, sehingga mengalami kesakitan, tersiksa, merasakan kesakitan yang sangat karena usaha itu.
Ketika telah malam, saya bangkit dari meditasi dan pergi ke tempat para Nigantha. Saya menanyai mereka: 'Saudara-saudara, mengapa anda sekalian mempraktikkan tapa dengan cara berdiri terus dan menolak untuk duduk, sehingga mengalami kesakitan, tersiksa, merasa kesakitan yang sangat karena usaha itu."'
Mereka menjawab: "Saudara, Nigantha Nataputta, Maha Tahu, menyatakan memiliki pengetahuan dan penglihatan: 'Apakah saya berjalan, berdiri, tidur atau sadar, pengetahuan dan penglihatanku berlangsung terus, tetap dipertahankan.' Ia berkata: 'Para Nigantha, anda sekalian telah melakukan kamma buruk pada waktu yang lampau; lenyapkan (kamma buruk) itu dengan menyiksa diri. Pada waktu sekarang dan di sini anda sekalian mengendalikan perbuatan, ucapan dan pikiran, dengan demikian kamu sekalian tidak melakukan kamma buruk untuk masa yang akan datang. Jadi melenyapkan kamma buruk dengan penyiksaan diri, serta tanpa melakukan kamma buruk baru, maka tidak akan ada akibat pada masa akan datang. Dengan tanpa adanya akibat pada masa akan datang, maka kamma-kamma lenyap. Dengan lenyapnya kamma-kamma, maka penderitaan lenyap. Dengan lenyapnya penderitaan, maka lenyapnya perasaan. Dengan lenyapnya perasaan, maka semua penderitaan akan lenyap.' Inilah pilihan dan kesukaan kami, kami puas dengan itu."
Setelah mereka berkata begitu, saya berkata kepada mereka: "Saudara-saudara, tetapi anda sekalian tahu bahwa anda sekalian hidup pada masa kehidupan yang lampau, itu bukan berarti anda sekalian tidak hidup?"
"Ya, saudara."
"Tetapi, apakah anda sekalian tahu bahwa anda sekalian melakukan kamma buruk pada kehidupan yang lampau dan tidak pantang melakukannya?"
"Tidak, saudara."
"Apakah anda sekalian mengetahui bahwa telah banyak penderitaan yang telah dialami atau telah banyak penderitaan yang akan dialami, bilamana banyak penderitaan telah dialami atau semua penderitaan telah dialami?"
"Tidak, saudara."
"Saudara-saudara, apakah anda sekalian tahu bagaimana melenyapkan akusala dhamma dan mengembangkan kusala dhamma pada masa sekarang ini di sini?"
"Tidak, saudara."
"Bila demikian, maka para pembunuh, orang yang tangannya bergelimangan darah, pembuat kejahatan di dunia, jika mereka lahir kembali sebagai manusia akan menjadi petapa seperti para Nigantha?"
"Saudara Gotama, kesenangan tidak dapat dicapai dengan kesenangan; kesenangan dicapai melalui kesakitan. Karena bilamana kesenangan dicapai melalui kesenangan, maka Raja Magadha, Seniya Bimmbisara akan mendapat kesenangan karena ia hidup dalam kesenangan yang lebih besar daripada petapa Gotama."
"Sesungguhnya para petapa Nigantha telah mengucapkan kata-kata dengan gegabah dan tanpa pertimbangan. Agaknya saya yang harus bertanya: 'Siapakah yang hidup lebih menyenangkan, Raja Magadha, Seniya Bimbisara atau pertapa Gotama?"'
"Saudara Gotama, sesungguhnya kami berkata dengan gegabah dan tanpa pertimbangan. Tetapi biarkanlah itu begitu. Sekarang kami bertanya: 'Siapakah yang hidup lebih menyenangkan, Raja Magadha, Seniya Bimbisara atau petapa Gotama?"'
"Saudara-saudara, saya akan menjawabnya dengan pertanya-an. Jawablah pertanyaan itu sesukanya. Bagaimana pendapat anda sekalian tentang hal ini, dapatkah Raja Magadha, Seniya Bimbisara hidup tanpa bergerak atau tanpa bicara selama tujuh hari mengalami kesenangan terus-menerus?"
"Tidak, saudara."
"Bagaimana pendapat anda sekalian, dapatkah Raja Magadha, Seniya Bimbisara hidup tanpa bergerak atau tanpa bicara selama. enam hari ... lima hari ... empat hari ... tiga hari ... dua hari ... satu hari mengalami kesenangan terus-menerus?"
"Tidak, saudara."
"Saudara-saudara, saya dapat hidup tanpa bergerak dan tanpa bicara selama satu hari mengalami keseangan terus-menerus.... dua hari ... tiga hari ... empat ... lima ... enam ... tujuh hari mengalami kesenangan terus-menerus. Bagaimana pendapat anda sekalian, siapakah yang hidup lebih menyenangkan, Raja Magadha, Seniya Bimbisara atau saya?"
"Bila demikian, petapa Gotama, hidup lebih menyenangkan daripada Raja Magadha, Seniya Bimbisara.
Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagava. Mahanama merasa puas dan gembira dengan uraian Sang Bhagava.
ANUMANA SUTTA
( 15 )
Demikian telah saya dengar :
Pada suatu ketika Bhikkhu Mahamoggallana menginap di Sumsumaragira, hutan Bhesakala di Taman Rusa, di daerah suku Bhagga. Kemudian Bhikkhu Mahamoggallana menyapa para bhikkhu, dengan berkata : "Para bhikkhu."
"Ya, bhante” jawab para bhikkhu tersebut kepada Bhikkhu Mahamoggallana.
Kemudian Bhikkhu Mahamoggallana berkata sebagai berikut:
"Para bhikkhu, andaikata seorang bhikkhu mempersilahkan dengan berkata : 'Para bhikkhu, silahkan menegurku, saya patut diberitahu oleh para bhikkhu,' tetapi apabila ia merupakan seseorang yang sulit diajak bicara, disertai sifat-sifat yang membuatnya sulit diajak bicara, sukar diatur, tidak mampu menerima petunjuk, maka rekan-rekan peta¬panya akan menilai bahwa ia tidak sesuai untuk diajak bicara dan bahwa ia tidak sesuai untuk diberi petunjuk-petunjuk dan orang tersebut tidak patut diberi kepercayaan.”
“Para bhikkhu, apakah sifat-sifat yang membuatnya sukar diajak bicara? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu memiliki keinginan jahat dan dikuasai oleh keinginan-keinginan jahat. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang memiliki keinginan jahat dan dikuasai oleh keinginan-kein-ginan jahat, inilah sifat-sifat yang membuatnya sukar diajak bicara. Para bhikkhu, kemudian seorang bhikkhu memuji-muji dirinya sendiri dan merendahkan yang lainnya. Bhikkhu siapa pun yang memuji-muji dirinya sendiri dan merendahkan yang lainnya, inipun merupakan sifat-sifat yang membuatnya sukar diajak bicara. Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu sangat marah, dikuasai kemarahan, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sukar diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu menjadi sangat marah dan karena kemarahannya ia menjadi seseorang yang mencari-cari kesa¬lahan orang lain.5 Bhikkhu siapa pun yang sangat marah dan karena kema¬rahannya mencari-cari kesalahan pada diri orang lain, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sukar diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu menjadi sangat marah dan karena kemarahannya ia melakukan penyerangan. Bhikkhu siapa pun yang sangat marah dan karena kemarahannya melakukan penyerangan, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sukar diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu menjadi sangat marah dan karena kemarahannya mengeluarkan kata-kata kemarahan. Bhikkhu siapa pun yang sangat marah dan karena kemarahannya mengeluarkan kata-kata kemarahan, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu, yang ditegur, mengu-capkan kata-kata celaan tanpa dipikir terlebih dahulu terhadap orang yang menegur. Bhikkhu siapa pun yang setelah ditegur, mengucapkan kata-kata celaan tanpa dipikir terlebih dahulu terhadap orang yang menegur, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang ditegur, meren¬dahkan orang yang menegurnya karena ditegur. Bhikkhu apapun yang setelah ditegur merendahkan orang yang menegurnya karena ditegur, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang ditegur, berbalik menegur orang yang menegurnya karena ditegur itu. Bhikkhu siapa pun yang setelah ditegur, berbalik menegur orang yang menegurnya karena ditegur demikian, ini pun merupakan sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang ditegur, menutu¬pi pertanyaan dengan menanyakan orang yang menegurnya pertanyaan lain, menjawab yang tidak sesuai dengan permasalahan, dan menunjuk¬kan sikap tidak bersahabat dan itikad jahat dan kedongkolan. Para bhikkhu, siapa pun yang setelah ditegur, menutupi pertanyaan dengan menanyakan orang yang menegurnya pertanyaan lain, memberi jawaban yang menyimpang dari permasalahan, dan menunjukkan sikap tidak bersahabat dan itikad jahat dan kedongkolan, inipun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang ditegur, tidak berhasil menjelaskan tindakan-tindakannya kepada orang menegurnya. Bhikkhu siapa pun yang setelah ditegur tidak berhasil menjelaskan tinda¬kan-tindakannya kepada orang yang menegurnya, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu kasar, dan pendengki. Bhikkhu siapa pun yang setelah ditegur tidak berhasil menjelaskan tinda-kan-tindakannya kepada orang yang menegurnya, ini pun merupakan sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu pengiri dan penggerutu. Bhikkhu siapa pun yang setelah ditegur tidak berhasil menjelaskan tinda-kan-tindakannya kepada orang yang menegurnya, ini pun merupakan sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu curang dan menipu. Bhikkhu siapa pun yang curang dan menipu, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu keras kepala dan som¬bong. Bhikkhu siapa pun yang keras kepala dan sombong, inipun merupakan sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu, mengejar keduniawi¬an, menggenggamnya erat-erat, tidak mudah melepaskannya. Bhikkhu siapa pun yang mengejar keduniawian, menggenggamnya erat-erat, tidak mudah melepaskannya, ini pun merupakan sifat yang membuatnya sulit diajak bicara. Para bhikkhu, inilah yang disebut sifat-sifat yang mem¬buat (seorang bhikkhu) sulit diajak bicara.
Para bhikkhu, namun apabila seorang bhikkhu mempersilahkan dengan berkata: 'Para bhikkhu, mohon menegur saya, saya patut diberi petunjuk oleh para bhikkhu dan apabila ia seseorang yang mudah diajak bicara, penuh dengan sifat yang membuatnya mudah diajak bicara, penurut, mampu menerima petunjuk, maka rekan bhikkhunya akan menilai bahwa ia harus diajak bicara dan bahwa ia patut diberi petunjuk dan bahwa kepercayaan seharusnya diberikan kepada orang ini.’
Para bhikkhu, apakah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu tidak memi¬liki keinginan jahat ataupun di bawah pengaruh keinginan jahat. Bhikkhu siapa pun yang tidak memiliki keinginan jahat ataupun di bawah pengaruh keinginan jahat, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak mengangkat dirinya sendiri maupun merendahkan yang lain ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjadi sangat marah, dikuasai kemarahan yang sangat besar ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjadi sangat marah dan mencari-cari kesalahan orang lain karena kemarahannya ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjadi sangat marah sehingga melakukan penyerangan ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjadi sangat marah dan karena kemarahannya mengucapkan kata-kata kemarahan. Bhikkhu siapa pun yang tidak menjadi sangat marah dan karena kemara¬hannya mengucapkan kata-kata kemarahan, ini pun merupakan sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu, yang dicela, tidak membalas mencela terhadap orang yang mencelanya ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang dicela, tidak merendahkan orang yang mencelanya karena celaan itu ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu, yang dicela, tidak berbalik mencela orang yang mencelanya karena celaan itu ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu, yang dicela, tidak menutupi pertanyaan dengan menanyakan pertanyaan lain kepada orang yang mencelanya, tidak menjawab menyimpang dari masalahnya, tidak menunjukkan sikap tidak bersahabat dan itikad jahat dan kedongkolan. Bhikkhu siapa pun yang setelah dicela tidak menutupi pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lain kepada orang yang mencelanya, tidak menjawab dengan menyimpang dari masalah, tidak menunjukkan sikap tidak bersahabat, itikad jahat dan kedongkolan, inipun merupakan sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu, setelah dicela, berha¬sil menjelaskan tindakan-tindakannya kepada orang yang mencelanya ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjadi kasar, tidak dengki ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya, para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak iri, tidak sakit hati ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu bukan merupakan orang yang penuh tipu-muslihat, tidak suka menipu ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak keras kepala, tidak sombong ... mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak mengejar kedu-niawian yang bersifat sementara, tidak menggenggamnya erat-erat, mudah melepaskannya. Bhikkhu siapa pun yang tidak mengejar keduniawi¬an yang bersifat sementara, tidak menggenggamnya erat-erat, mudah melepaskannya, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, inilah yang disebut sifat-sifat yang membuat (seo¬rang bhikkhu) mudah diajak bicara.
Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu demikian : 'Orang yang memiliki keinginan jahat dan di bawah pengaruh keinginan jahat, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki keinginan jahat dan di bawah pengaruh keinginan jahat, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.' Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya demikian : 'Saya tidak mau mempunyai keingi¬nan jahat maupun di bawah pengaruh pikiran jahat.' Orang yang menga¬gungkan dirinya sendiri dan merendahkan orang lain tidak menyenang¬kan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya menga¬gungkan diri saya sendiri dan merendahkan orang lain, saya akan menja¬di tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.' Para bhikkhu, apabi¬la seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya dan berpikir: 'Saya tidak akan menjadi orang yang menga-gungkan diri sendiri dan merendahkan orang lain.'
Siapa pun yang menjadi sangat marah, dikuasai kemarahan ... saya tidak akan menjadi seseorang yang sangat marah maupun dikuasai kemarahan.'
Siapa pun yang menjadi sangat marah dan karena kemarahannya mencari-cari kesalahan orang lain ... saya tidak akan menjadi orang yang sangat marah maupun orang yang mencari-cari kesalahan pada orang lain karena kemarahan.'
Siapa pun yang menjadi sangat marah dan karena kemarahannya melakukan penyerangan ... saya tidak akan menjadi sangat marah maupun seseorang yang melakukan penyerangan karena kemarahan itu.'
Siapa pun yang menjadi sangat marah dan karena kemarahannya mengucapkan kata-kata kemarahan ... saya tidak akan menjadi sangat marah maupun seorang yang mengucapkan kata-kata kemarahan karena kemarahan itu.'
Siapa pun, yang dicela, membalas tanpa dipikir celaan terhadap orang yang mencela itu ... Saya, apabila dicela, tidak akan memba¬las tanpa dipikir celaan terhadap orang yang mencela itu.'
Siapa pun, yang dicela, merendahkan orang yang mencela karena celaan tersebut ... Saya, apabila dicela, tidak akan merendahkan orang yang mencela karena celaan tersebut.' '
Siapa pun, yang dicela, membalikkannya pada orang yang mence¬la atas celaan tersebut ... Saya, apabila dicela, tidak akan membalikkan¬nya pada orang yang mencela atas celaan tersebut.'
Siapa pun, yang dicela, menutupi pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lainnya kepada orang yang mencela, memberikan jawaban yang menyimpang dari permasalahan, dan menunjukkan air muka marah, itikad jahat dan kejengkelan ... Saya, apabila dicela, tidak akan menutupi pertanyaan dengan menanyakan pertanyaan lain kepada orang yang mencela, saya tidak akan memberikan jawaban yang menyimpang dari permasalahan, saya tidak akan menunjukkan air muka marah, itikad jahat dan kejengkelan. '
Siapa pun, yang dicela, tidak berhasil memberikan penjelasan mengenai tindakannya kepada orang yang mencela ... saya akan mem¬berikan penjelasan mengenai tindakanku kepada orang yang mencela.'
Siapa pun yang kasar dan dengki ... saya tidak akan menjadi kasar dan dengki ...'
Siapa pun, yang iri dan menggerutu ... saya tidak akan iri dan menggerutu.'
Siapa pun yang curang dan menipu ... saya tidak akan curang dan menipu.'
Siapa pun yang keras kepala dan sombong ... saya tidak akan keras kepala dan sombong.'
Siapa pun yang mengejar keduniawian, memegangnya erat-erat, tidak membiarkannya lepas, orang semacam itu tidak menyenangkan dan tidak dapat kusetujui; dan demikian pula halnya, apabila saya mengejar keduniawian, memegangnya erat-erat, tidak membiarkannya lepas, saya akan tidak menyenangkan dan tidak disetujui oleh orang lain. Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya dan berpikir: 'Saya tidak akan menjadi seseorang yang mengejar keduniawian, tidak memegangnya erat-erat, melepaskan¬nya dengan mudah.'
Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu demikian: 'Sekarang, apakah saya memiliki keinginan jahat, di bawah pengaruh keinginan jahat?' Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari demikian: 'Saya memiliki keinginan jahat, di bawah pengaruh keinginan jahat,' maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkir¬kan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut. Para bhikkhu, tetapi apabila bhikkhu tersebut, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian: 'Saya tidak memiliki keinginan jahat, tidak di bawah pengaruh keinginan jahat,' maka, dengan kegiuran dan kegembiraan, hal-hal itu (negatif) harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya pribadi haruslah diukur terhadap priba¬di oleh seorang bhikkhu demikian : 'Sekarang, apakah saya mengagung¬kan diri sendiri, merendahkan yang lainnya?' 'Para bhikkhu, apabila bhikkhu tersebut, sewaktu merenungkan, mengetahui bahwa ... bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut. Tetapi apabila, para bhante, ... [99] bhikkhu tersebut, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : 'Saya bukan orang yang mengagungkan diri sendiri, merendahkan yang lain' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya seorang yang penuh kemarahan, dikuasai kemarahan?'... 'Saya bukan seseorang yang penuh kemarahan, dikuasai oleh kemarahan' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terla¬tih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya merupakan seseorang yang penuh kemarahan dan mencari-cari kesalahan orang lain karena kemarahan tersebut' ... 'Saya bukan seseorang yang penuh kemarahan dan mencari-cari kesalahan orang lain karena kemarahan itu' ... dalam keadaan-keadaan yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya merupakan seseorang yang penuh kemarahan dan melakukan penyerangan karena kemarahan tersebut?' ... 'Saya bukan merupakan seseorang yang penuh kemarahan dan melaku¬kan penyerangan karena kemarahan tersebut' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya merupakan seseorang yang penuh kemarahan dan karenanya mengucapkan kata-kata penuh kemarahan?' ... 'Saya bukanlah seseorang yang penuh kemarahan dan karena kemara¬hanku mengucapkan kata-kata kemarahan' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya seseorang yang setelah dicela membalas celaan terhadap orang yang mencelaku? ... 'Apabila dicela, saya tidak membalas celaan orang yang mencela tersebut' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya, setelah dicela, merendahkan orang yang mencela karena celaan tersebut?' ... 'Apabila dicela, saya tidak merendahkan orang yang mencela karena celaannya.' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya, apabila dicela, berbalik menyerang yang mencela karena celaannya?' ... 'Apabila dicela, saya tidak berbalik menyerang orang yang mencela karena celaannya' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya, apabila dicela, menutupi perta¬nyaan dengan menanyakan pertanyaan lainnya kepada orang yang mence¬la, apakah saya memberi jawaban yang menyimpang dari permasalahan, apakah saya menunjukkan air muka marah, itikad jahat dan kejengkelan? ... 'Apabila dicela, saya tidak menutupi pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lainnya kepada orang yang mencela, saya tidak berbicara yang menyimpang dari permasalahan, saya tidak menunjukkan air muka marah dan kejengkelan' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya, setelah dicela berhasil menjelaskan tindakanku pada orang yang mencela? ... 'Apabila dicela, saya sanggup menjelaskan tindakanku kepada orang yang mencela' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya kasar dan pendendam?' ... 'Saya tidak kasar maupun pendendam' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terla¬tih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya pengiri dan penggerutu?' ... 'Saya bukan pengiri maupun penggerutu' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya penghianat dan penipu?' ... 'Saya bukan penghianat maupun penipu' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya ... 'Apakah saya keras kepala dan sombong?' ... 'Saya tidak keras kepala maupun sombong' ... dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, selanjutnya pribadi haruslah diukur terhadap priba¬di demikian oleh seorang bhikkhu: 'Apakah saya, mengejar keduniawian, memegangnya erat-erat, tidak mudah melepaskannya?' Para bhikkhu, apabila bhikkhu tersebut, sewaktu merenungkan mengetahui bahwa: 'Saya seseorang yang mengejar keduniawian, memegangnya erat-erat, tidak mudah melepaskannya,' maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut haruslah berjuang menyingkirkan keadaan-keadaan bathin jahat yang tidak terlatih. Tetapi apabila, para bhante, bhikkhu tersebut, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : 'Saya bukanlah seseorang yang mengejar keduniawian, tidak memegangnya erat-erat, mudah melepas¬kannya,' maka, para bhikkhu, dengan kegiuran dan kegembiraan, hal-hal (negatif) tersebut haruslah ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, apabila sewaktu merenungkan, seorang bhikkhu melihat bahwa semua keadaan bathin yang jahat dan tidak terla¬tih ini belum disingkirkan dari dalam dirinya, maka, para bhikkhu, bhikk¬hu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan semua keadaan bathin yang jahat dan tidak terlatih tersebut. Tetapi apabila, para bhikkhu, sewaktu merenungkan, seorang bhikkhu melihat bahwa semua keadaan bathin yang jahat dan tidak terlatih tersebut telah tersingkirkan dari dalam dirinya, maka, para bhikkhu, dengan kegiuran dan kegembiraan, hal-hal (negatif) tersebut haruslah ditinggalkan pleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih.
Para bhikkhu, bagaikan seorang wanita atau seorang pria, yang masih muda, dalam masa-masa awal kehidupannya dan menyenangi perhiasan-perhiasan, yang mengamati bayangannya sendiri dalam sebuah cermin yang jernih, murni, atau dalam semangkuk air. Apabila ia meli¬hat debu atau noda di sana, ia berusaha menyingkirkan debu atau noda tersebut. Tetapi apabila ia tidak melihat debu atau noda di sana, ia merasa senang karenanya dan berpikir: 'Sesungguhnya, ini baik untukku, sesungguhnya saya sangat bersih.' Demikian pula, para bhikkhu, apabila seorang bhikhu, sewaktu merenungkan, melihat bahwa semua keadaan bahtin yang jahat dan tidak terlatih dalam diri belum disingkir¬kan, maka, para bhikkhu, ia berjuang untuk menyingkirkan semua kejaha¬tan, keadaan-keadaan bathin yang tidak terlatih.
Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu, sewaktu mere¬nungkan, melihat bahwa semua keadaan-keadaan bathin yang jahat dan tidak terlatih dalam diri telah disingkirkan, maka, para bhikkhu, dengan kegiuran dan kegembiraan semua hal (negatif) harus bhikkhu tersebut tinggalkan, dengan berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan bathin yang terlatih."
Demikianlah apa yang diuraikan Bhikkhu Mahamoggallana. Para bhikkhu tersebut senang dan gembira degan apa yang diuraikan oleh Bhikkhu Mahamoggallana.
CETOKHILA SUTTA
( 16 )
Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Di sana Sang Bhagava menyapa para bhikkhu dengan berkata: "Para bhikkhu." "Bhante," jawab para bhikkhu.
Sang Bhagava berkata demikian: "Para bhikkhu, pada bhikkhu siapa pun di mana kelima ‘kegersangan batin’ (cetokhila) tidak disingkirkan, kelima ‘belenggu batin’ (cetaso vinibandha) tidak dicabut hingga ke akar-akarnya, maka ia akan bertumbuh, berkembang, matang dalam dhamma dan Vinaya, keadaan seperti ini tidak akan terjadi. Kelima kegersangan batin manakah yang tidak dilenyapkan olehnya? Para bhikkhu, dalam hal ini bhikkhu tersebut memiliki keragu-raguan, bingung, tidak yakin, tidak pasti terhadap Guru (Sattha). Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang memiliki keragu-raguan, bingung, tidak yakin, tidak pasti terhadap guru, maka pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang. Inilah kegersangan batin pertama yang apabila tidak disingkirkan olehnya pikirannya dan tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya, bhikkhu tersebut memiliki keragu-raguan, bingung, tidak yakin, tidak pasti terhadap dhamma. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang memiliki keragu-raguan, bingung, tidak yakin, tidak pasti terhadap dhamma, maka pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang. Inilah kegersangan batin kedua yang apabila tidak disingkirkan oleh pikirannya dan tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya, bhikkhu tersebut memiliki keragu-raguan, bingung, tidak yakin, tidak pasti terhadap sangha. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang memiliki keragu-raguan, bingung, tidak yakin, tidak pasti terhadap sangha, maka pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang. Inilah kegersangan batin ketiga yang apabila tidak disingkirkan olehnya pikirannya dan tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya, bhikkhu tersebut memiliki keragu-raguan, bingung, tidak yakin, tidak pasti terhadap sila. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang memiliki keragu-raguan, bingung, tidak yakin, tidak pasti terhadap sila, maka pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang. Inilah kegersangan batin keempat yang apabila tidak disingkirkan olehnya pikirannya dan tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu marah, tidak senang terhadap rekan bhikkhunya, pikirannya memburuk dan gersang. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang marah, tidak senang terhadap rekan bhikkhunya, pikirannya memburuk, gersang, maka pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, untuk bergiat, untuk berjuang. Inilah kegersangan batin kelima yang apabila tidak disingkirkan dari dirinya pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sunguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Selanjutnya, apakah kelima belenggu batin yang tidak tercabut dari akar-akarnya dalam dirinya? Para bhikkhu, dalam hal ini, seorang bhikkhu tidak bebas dari kemelekatan terhadap kesenangan indera, tidak bebas dari keinginan, tidak bebas dari cinta (nafsu indera), tidak bebas dari kehausan, tidak bebas dari demam, tidak bebas dari keserakahan.
Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang tidak terbebas dari kemelekatan pada kesenangan indera, tidak bebas dari keinginan, tidak bebas dari cinta, tidak bebas dari kehausan, tidak bebas dari demam dan tidak bebas dari keserakahan, pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah belenggu batin yang pertama yang apabila tidak dicabut hingga ke akar-akarnya dari dalam dirinya, maka pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak terbebas dari kemeleka¬tan pada badan jasmani, tidak bebas dari keinginan, tidak bebas dari cinta, tidak bebas dari kehausan, tidak bebas dari demam dan tidak bebas dari keserakahan, pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah belenggu batin kedua yang apabila tidak dicabut hingga ke akar-akarnya dari dalam dirinya, maka pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Selanjutnya, para bhikkhu, seorang bhikkhu, tidak terbebas dari kemelekatan pada bentuk-bentuk materi (di luar jasmani), tidak bebas dari keinginan, tidak bebas dari cinta, tidak bebas dari kehausan, tidak bebas dari demam dan tidak bebas dari keserakahan, pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah belenggu batin ketiga yang apabila tidak dicabut hingga ke akarnya dari dalam dirinya, maka pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu setelah makan sebanyak yang dapat ditampung perutnya, hidup dalam kenikmatan tidur di ranjang, berbaring dan bermalas-malasan. Bhikkhu siapa pun, yang setelah makan sebanyak yang dapat ditampung perutnya, hidup dalam kenikmatan tidur di ranjang, berbaring dan bermalas-malasan, pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus menerus, gi¬at dan berjuang.
Inilah belenggu batin keempat yang apabila tidak dicabut hingga ke akar-akarnya dari dalam dirinya pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu menjalani kehidupan brahmacari (selibat) berkeinginan untuk menjadi salah satu dari beberapa tingkatan deva, berpikir: 'Dengan kebiasaan dan adat-istiadat moral, bertapa atau melaksanakan kehidupan brahmacari, saya akan menjadi sesosok deva atau salah satu di antara tingkatan para deva. Bhikkhu siapa pun yang menjalani kehidupan brahmacari, berkeinginan menjadi salah satu dari beberapa tingkatan dewa, berpikir : 'Dengan kebiasaan dan adat istiadat moral, bertapa atau melaksanakan kehidupan suci, saya akan menjadi sesosok dewa, atau salah satu di antara tingkatan pada dewa,’ pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah belenggu batin kelima yang apabila tidak dicabut hingga ke akar-akarnya dari dalam dirinya pikirannya tidak cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah kelima belenggu batin yang tidak dicabut hingga ke akar-akarnya. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun dimana kelima kegersangan batin tidak dis¬ingkirkan, kelima belenggu batin tidak dicabut hingga ke akar-akarnya, maka ia akan bertumbuh, berkembang, matang dalam dhamma dan Vinaya - keadaan seperti ini tidak akan terjadi.
Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun di mana kelima kegersangan batin dis¬ingkirkan, kelima belenggu batin dicabut hingga ke akar-akarnya, maka ia akan bertumbuh, berkembang, matang dalam dhamma dan Vinaya - hal ini akan terjadi.
Apakah kelima kegersangan batin yang disingkirkan olehnya?
Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu tidak memiliki keragu-raguan, tidak bingung, yakin, pasti terhadap guru. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang tidak memiliki keragu-raguan, tidak bingung, yakin, pasti terhadap guru, maka pikirannya cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah kegersangan batin pertama disingkirkan oleh pikirannya yang cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu tidak memiliki keragu-raguan, tidak bingung, yakin, pasti terhadap dhamma. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang tidak memiliki keragu-raguan, tidak bingung, yakin, pasti terhadap dhamma, maka pikirannya cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah kegersangan batin kedua disingkirkan oleh pikirannya yang cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu tidak memiliki keragu-raguan, tidak bingung, yakin, pasti terhadap sangha. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang tidak memiliki keragu-raguan, tidak bingung, yakin, pasti terhadap sangha, maka pikirannya cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah kegersangan batin ketiga disingkirkan oleh pikirannya yang cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu tidak memiliki keragu-raguan, tidak bingung, yakin, pasti terhadap sila. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang tidak memiliki keragu-raguan, tidak bingung, yakin, pasti terhadap sila, maka pikirannya cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah kegersangan batin keempat disingkirkan oleh pikirannya yang cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak marah, senang terhadap rekan bhikkhunya, pikirannya tidak memburuk dan tidak gersang. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang tidak marah, senang terhadap rekan bhikkhunya, pikirannya tidak memburuk dan tidak gersang, maka pikirannya cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, untuk bergiat, untuk berjuang. Inilah kegersangan batin kelima yang disingkirkan oleh pikirannya yang cenderung untuk berusaha sungguh-sunguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah kelima kegersangan batin yang disingkirkan olehnya.
Apakah lima belenggu batin yang dicabut hingga ke akar-akarnya olehnya?
Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu bebas dari kemelekatan pada kesenangan indera, bebas dari keinginan, bebas dari cinta, bebas dari kehausan, bebas dari demam dan bebas dari keserakahan. Bhikkhu apapun yang terbe¬bas dari kesenangan indera, bebas dari keinginan, bebas dari cinta, bebas dari kehausan, bebas dari demam dan bebas dari keserakahan, pikirannya cenderung berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, gi¬at dan berjuang.
Inilah belenggu batin pertama yang apabila dicabut hingga ke akar-akarnya dari dalam dirinya pikirannya cenderung berusaha sung¬guh-sungguh, melaksanakan terus- menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu bebas dari kemelekatan pada badan jasmani, bebas dari keinginan, bebas dari cinta, bebas dari kehausan, bebas dari demam dan bebas dari keserakahan. Bhikkhu siapa pun yang terbe¬bas dari kesenangan indera, bebas dari keinginan, bebas dari cinta, bebas dari kehausan, bebas dari demam dan bebas dari keserakahan, pikirannya cenderung berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, gi¬at dan berjuang.
Inilah belenggu batin kedua yang apabila dicabut hingga ke akar-akarnya dari dalam dirinya pikirannya cenderung berusaha sung¬guh-sungguh, melaksanakan terus- menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu bebas dari kemelekatan pada bentuk-bentuk materi (di luar jasmani), bebas dari keinginan, bebas dari cinta, bebas dari kehausan, bebas dari demam dan bebas dari keserakahan. Bhikkhu siapa pun yang terbe¬bas dari bentuk-bentuk materi, bebas dari keinginan, bebas dari cinta, bebas dari kehausan, bebas dari demam dan bebas dari keserakahan, pikirannya cenderung berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, gi¬at dan berjuang.
Inilah belenggu batin ketiga yang apabila dicabut hingga ke akar-akarnya dari dalam dirinya pikirannya cenderung berusaha sung¬guh-sungguh, melaksanakan terus- menerus, giat dan berjuang.
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak makan sebanyak perutnya dapat menampung, tidak hidup dalam kenikmatan tidur di ranjang, berbaring dan kenikmatan bermalas-malasan. Bhikk¬hu siapa pun, yang tidak makan sebanyak perutnya dapat menampung, tidak hidup dalam kenikmatan tidur di ranjang, berbaring dan bermalas-malasan, pikirannya cenderung berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus menerus, giat dan berjuang.
Inilah belenggu batin keempat yang apabila dicabut hingga ke akar-akar¬nya dari dalam dirinya pikirannya cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
……………………………
Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjalani kehidupan brahmacari (selibat) berkeinginan untuk menjadi salah satu dari beberapa tingkatan deva, berpikir: 'Dengan kebiasaan dan adat-istiadat moral, bertapa atau melaksanakan kehidupan brahmacari, saya akan menjadi sesosok deva atau salah satu di antara tingkatan para deva. Bhikkhu siapa pun yang tidak menjalani kehidupan brahmacari, berkeinginan menjadi salah satu dari beberapa tingkatan dewa, berpikir : 'Dengan kebiasaan dan adat istiadat moral, bertapa atau melaksanakan kehidupan suci, saya akan menjadi sesosok dewa, atau salah satu di antara tingkatan pada dewa,’ pikirannya cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah belenggu batin kelima yang apabila dicabut hingga ke akar-akarnya dari dalam dirinya pikirannya cenderung untuk berusaha sungguh-sungguh, melaksanakan terus-menerus, giat dan berjuang.
Inilah kelima belenggu batin yang dicabut hingga ke akar-akarnya. Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun dimana kelima kegersangan batin disingkirkan, kelima belenggu batin dicabut hingga ke akar-akarnya, maka ia akan bertumbuh, berkembang, matang dalam dhamma dan Vinaya - keadaan seperti ini akan terjadi.
Ia mengembangkan dasar kekuatan batin (iddhipada) yang dihasilkan meditasi-keinginan (chanda-samadhi) yang disertai usaha-usaha perjuangan (padhanasankhara); ia mengembangkan dasar kekuatan batin yang dihasilkan meditasi-semangat (viriya-samadhi) yang disertai usaha-usaha perjuangan; ia mengembangkan dasar kekuatan batin yang dihasilkan oleh meditasi-kesadaran (citta-samadhi) yang disetai usaha-usaha perjuangan; ia mengembangkan dasar dari kekuatan batin yang didihasilkan meditasi-penyelidikan (vimamsa-samadhi) yang disertai dengan usaha-usaha perjuangan sebagai yang keempat.
Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu memiliki lima belas faktor terma¬suk semangat [104] ia akan menjadi seseorang yang berhasil menembus (abhinibbhidaya), ia menjadi seorang yang sadar (sambhodhaya), ia menjadi seorang pemenang kedamaian tiada taranya (anuttarassa yogakkhemassa) dari belenggu-belenggu tersebut.5
Para bhikkhu, sebagaimana jika ada delapan, sepuluh atau selusin telur ayam yang diduduki dengan baik, dierami dengan baik, ditetaskan dengan baik oleh induknya; harapan seperti ini tidak akan timbul pada ayam betina terse¬but: 'Semoga anak-anak ayamku, setelah menembus kulit telur dengan ujung cakar pada kaki mereka atau dengan paruh mereka, keluar dengan selamat,' karena anak-anak ayam ini merupakan hewan yang dapat keluar dengan selamat setelah menembus kulit telur dengan ujung dari cakar pada kaki mereka atau dengan paruh mereka. Para bhikkhu, demikian pula seorang bhikkhu yang memiliki lima belas faktor termasuk semangat menjadi seseorang yang berhasil menembus, ia menjadi seorang yang sadar, ia menjadi seorang pemenang kedamaian tiada taranya dari belenggu-belenggu tersebut.”
Demikianlah apa yang dikatakan Sang Bhagava. Para bhikkhu dengan senang dan gembira dengan apa yang diuraikan Sang Bhagava.
VANAPATTHA-SUTTA
(17)
Demikianlah saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Di sana Beliau berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu."
"Ya, Bhante", jawab para bhikkhu.
Selanjutnya Sang Bhagava berkata:
"Para bhikkhu, saya akan menguraikan secara rinci kepada kamu sekalian tentang Khotbah Hutan Belukar (Vanapatta Sutta). Dengarkan dan perhatikanlah dengan baik apa yang akan saya katakan."
"Baiklah, Bhante," jawab para bhikkhu.
Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dalam hutan belukar. Ketika tinggal di sana kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, makanan, tempat istirahat, obat-obatan guna menyembuhkan penyakit juga sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya meninggalkan hutan itu malam itu juga atau hari itu juga; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dalam hutan belukar. Ketika tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya tak memperoleh kemajuan (dalam dhamma) di sini. Ia selayaknya meninggalkan hutan itu setelah mempertimbangkannya dengan cermat; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dalam hutan belukar. Ketika tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan rumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya memperoleh kemajuan di sini". Ia selayaknya terus tinggal di hutan belukar itu setelah mempertimbangkannya dengan cermat; ia tak selayaknya meninggalkan tempat itu.
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dalam hutan belukar. Ketika tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang semula belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya terus tinggal di hutan itu; ia tak selayaknya meninggalkan tempat tersebut.
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di sebuah desa tertentu. Ketika ia di sana kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, dan juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya meninggalkan desa itu malam itu juga, atau hari itu juga; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di desa tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya tak memperoleh kemajuan (dalam dhamma) di sini. Ia selayaknya meninggalkan desa itu setelah mempertimbang-kannya dengan cermat; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di desa tertentu. Ketika tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, namun, kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya memperoleh kemajuan di sini." Ia selayaknya terus tinggal di desa itu. Setelah mempertimbangkannya dengan cermat; ia tak selayaknya meninggalkan tempat itu.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di desa tertentu. Ketika tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang semula belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya terus tinggal di desa itu; ia tak selayaknya meninggalkan tempat tersebut.'
'Para bbikkhu, seorang bhikkhu tinggal di kota kecil tertentu. Ketika tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya meninggalkan kota kecil itu malam itu juga, atau hari itu juga; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
'Para bhikkhu, seorang seorang bhikkhu tinggal di kota kecil tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya tidak memperoleh kemajuan (dalam dhamma) di sini.” Ia selayaknya meninggalkan kota kecil itu setelah mempertimbangkan dengan cermat; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di kota kecil tertentu. Ketika ia tinggal di sana kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya memperoleh kemajuan di sini.” Ia selayaknya terus tinggal di kota kecil itu setelah mempertimbangkannya dengan cermat,' ia tak selayaknya meninggalkan tempat itu.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di kota kecil tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi telah terkonsentrasi, noda batinnya yang semula belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya terus tinggal di kota kecil itu; ia tak selayaknya meninggalkan tempat tersebut.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di kota besar tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya meninggalkan kota besar itu malam itu juga, atau hari itu juga; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di kota besar tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya tak memperoleh kemajuan (dalam dhamma) di sini.” Ia selayaknya meningalkan kota besar itu setelah mempertimbangkannya dengan cermat; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di kota besar tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya memperoleh kemajuan di sini.” Ia selayaknya terus tinggal di kota besar itu setelah mempertimbangkannya dengan cermat; ia tak selayaknya meninggalkan tempat.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di kota besar tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya terus tinggal di kota besar itu; ia tak selayaknya meninggalkan tempat tersebut.
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di negeri tertentu. Ketika ia tinggal di sana kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit juga sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya meninggalkan negeri itu malam itu juga, atau hari itu juga; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di negeri tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya tak memperoleh kemajuan (dalam dhamma) di sini. Ia selayaknya meninggalkan negeri itu setelah mempertimbangkannya dengan cermat; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal di negeri tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya memperoleh kemajuan (dalam dhamma) di sini." Ia selayaknya terus tinggal di negeri itu setelah mempertimbangkannya dengan cermat; ia tak selayaknya meninggalkan tempat itu.'
'Para bbikkhu, seorang bhikkhu tinggal di negeri tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang semula belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya memperoleh kemajuan (dalam dhamma) di sini.” Ia selayaknya terus tinggal di negeri itu; ia tak selayaknya meninggalkan tempat tersebut.
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dengan orang tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya meninggalkan orang itu malam itu juga, atau hari itu juga tanpa pamit; ia tak selayaknya terus mengikutinya.
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dengan orang tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya tak memperoleh kemajuan (dalam dhamma) di sini. Ia selayaknya meninggalkan orang itu, setelah mempertimbangkannya dengan cermat dan pamit; ia tak selayaknya terus mengikutinya.
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dengan orang tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh. Bhikkhu harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya memperoleh kemajuan (dalam dhamma) di sini." Ia selayaknya terus tinggal bersama orang itu setelah mempertimbangkannya dengan cermat; ia tak selayaknya meninggalkan orang itu.’
'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dengan orang tertentu. Ketika ia tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, batinnya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang semula belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh. Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya terus tinggal bersama orang itu sepanjang hidup; ia tak selayaknya meninggalkan orang tersebut.
'Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu gembira dan senang dengan uraian Sang Bhagava.
MADHUPINDAKA SUTTA
(18)
1. Demikian yang saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di Nigrodha arama, Kapilavastthu, di kerajaan suku Sakka (Sakya).
2. Ketika menjelang pagi, Sang Bhagava selesai menyiapkan diri, sambil membawa mangkuk (patta) dan jubah luarnya (civara), beliau pergi ke Kapilavatthu untuk menerima dana makanan (pindapata). Seusai pindapata, dalam perjalanan pulang beliau pergi ke Mahavana (hutan besar) untuk beristirahat di situ pada hari itu. Setelah berada di Mahavana untuk beristirahat, beliau duduk di bawah pohon Beluvalatthika. Pada waktu itu, Dandapani, seorang Sakya, yang biasa jalan ke sana ke mari, bepergian dengan berjalan ke arah Mahavana. Setelah memasuki Mahavana ia menuju pohon Beluvalatthika di mana Bhagava berada; setelah mendekat ia memberi salam kepada Bhagava. Setelah saling memberi salam dan menyapa dengan santun, ia berdiri di samping sambil bertopang pada tongkatnya.
3. Kemudian ia bertanya kepada Bhagava: “Petapa, apakah ajaran (vada)-mu dan apa pandangan-pandanganmu?”
4. 'Kawan, sebagaimana seseorang mengatakan bahwa dia tidak berselisih dengan siapapun di dunia ini, yakni dengan para dewa, para mara, para mahluk suci, dalam generasi ini, para petapa orang-orang suci, para Raja, dan para rakyat jelata, sebagaimana seorang mengatakan bahwa pengertian tidak lagi menjadi landasan dari pengertian suci apabila seseorang hidup dari keinginan akan segala macam keadaan apapun, maka demikianlah apa yang Aku ucapkan, kawan, maka demikianlah apa yang Aku khotbahkan.
5. Setelah Yang Mulia mengucapkan kata-kata tersebut, si Pembawa Tongkat, seorang suku Sakya itu menggelengkan kepalanya, menggoyangkan lidahnya, mengerutkan dahinya sehingga menimbulkan tiga garis kerutan pada kening¬nya. Kemudian ia pergi sambil bertopang pada tongkatnya.
6. Ketika hari petang, Yang Mulia bangkit dari meditasinya dan Beliau pergi ke Taman Nigrodha dimana Beliau duduk pada sebuah bangku yang telah dipersiapkan untuknya, ketika Beliau duduk, Beliau mengatakan pada para bhikkhu apa gerangan yang telah terjadi, setelah itu salah seorang dian¬tara bhikkhu bertanya kepada Yang Mulia :
7. 'Tetapi Tuanku Yang Mulia, apakah artinya ucapan tadi ketika Yang Mulia mengatakan bahwa apabila seseorang tidak berselisih kepada siapapun di dunia ini, yakni dengan para dewa, para mara, para mahluk suci dan di dalam generasi ini, dengan para petapa dan orang-orang suci, para raja dan para rakyat jelata ? Dan Tuanku Yang Mulia, bagaimana mungkin penger¬tian tidak lagi menjadi landasan dari pengertian suci apabila seseorang hidup terlepas dari nafsu indra, dari keragu-raguan, dari kecemasan, dari keinginan akan segala macam bentuk apapun ?
8. 'Para bhikkhu, perihal penilaian tentang persepsi aneka ragam yang terja¬di pada seseorang, sumbernya adalah sebagai berikut : Apabila tiada sesuatupun yang diperoleh seseorang untuk bersenang-senang, untuk yakin begitu saja terhadap sesuatu dan menerima apa saja, maka hal ini adalah merupakan akhir dari semua kecendrungan akan timbulnya nafsu, keras kepala, pandangan-pandangan keliru, keragu-raguan, penipuan, keinginan akan sesuatu dan kebodohan; Inilah akhir dari upaya mengandalkan tongkat pemikul, upaya mengandalkan senjata, perselisihan pergulatan, pertengka¬ran, balas dendam, niat jahat, dan ucapan kotor; disinilah ajaran-ajaran yang tidak berguna hilang tanpa bekas'.
9. Demikianlah Jawaban Yang Mulia sesudah mengatakan demikian Yang Mulia bangkit dari duduknya pergi ke tempat tinggalnya.
10. Kemudian setelah Yang Mulia pergi, para bhikkhu berfikir: 'Saat ini, teman-teman, Yang Mulia telah bangkit dari duduknya dan pergi ke tempat tinggalnya, setelah memberikan wejangan singkat (intisari) tanpa terper¬inci, inilah yang diucapkan Beliau : "Para bhikkhu, perihal penilaian tentang persepsi aneka ragam yang terjadi pada seseorang, sumbernya adalah sebagai berikut : Apabila tiada sesuatupun yang diperolah seseo¬rang untuk bersenang-senang, untuk yakin begitu saja terhadap sesuatu dan menerima apa saja, maka hal ini adalah merupakan akhir dari semua ke¬cenderungan akan timbulnya nafsu, keras kepala, pandangan-pandangan keliru, keragu-raguan, penipuan, keinginan akan sesuatu dan kebodohan; "Ini adalah akhir dari upaya mengandalkan tongkat pemukul, upaya mengan¬dalkan senjata, perselisihan pergulatan, pertengakaran, balas dendam, niat jahat, dan ucapan kotor; disinilah ajaran-ajaran yang tidak berguna hilang tanpa bekas". 'Kini, siapa gerangan yang akan membabarkan secara terperinci ucapan tersebut ?' Para bhikkhu teringat akan Yang Arya Maha Kaccana, ia adalah seorang yang dipuji dan dihargai oleh Yang Mulia maupun oleh rekan-rekannya dalam menjalankan kesucian. Dia pasti sanggup menjelaskannya. 'Bagaimana kalau kita datang menghadap kepadanya untuk mohon penjelasan ?'
11. Kemudian mereka pergi ke Yang Arya Maha Kaccana, setelah mereka saling menyapa dalam suasana ramah tamah, para bhikkhu duduk pada satu sisi, lalu mereka menceriterakan apa yang terjadi pada Yang Arya Maha Kaccana, dan mereka menambahkan : 'Biarlah Yang Arya Maha-Kaccana membabarkan kepada kami'.
12. 'Wahai Teman-teman, bagaikan seseorang yang sedang memerlukan hati kayu, yang sedang mencari hati kayu, dan mengembara mencari hati kayu, kemudian mendapatkan pengertian bahwa hati kayu harus dicari diantara dahan-dahan dari sebuah pohon besar yang memiliki hati kayu, setelah sebelumnya mencari diantara akar dan batang pohon itu. Demikian pula dengan kalian, oh, para bhikkhu, karena kalian sudah memiliki pengertian maka kalian harus bertanya tentang arti ucapan tersebut, yang mana sebelumnya berta¬nya dan berhadapan langsung kepada Yang Mulia, karena dalam hal pengliha¬tan, Beliau dapat melihat semuanya; Beliau adalah sang Mata, Beliau adalah sang Pengetahuan, Beliau adalah Sang Dhamma, Beliau adalah Sang Suci; Sang Tathagata adalah seorang penyambung lidah (perantara), seorang pencetus, seorang yang memberi penjelasan tentang arti Dhamma, seorang pemberi Jalan Kehidupan kekal. Sesungguhnya kesempatan tadi adalah saat yang tepat untuk bertanya kepada Yang Mulia tentang arti ucapan tersebut. Sebagaimana Beliau menjelaskan kepada kalian maka beliaupun harus mengin¬gatnya.
13. 'Memang betul, teman Kaccana, dalam hal Pengetahuan, Yang Mulia mengeta¬huinya semua; dalam hal penglihatan; memang betul Beliau adalah sang mata, beliau adalah Sang Pengetahuan, beliau adalah Sang Dhamma; memang betul Sang Tathagata, adalah seorang penyambung Lidah, seorang pencetus, seorang yang memberi penjelasan tentang arti Dhamma, seseorang pemberi jalan ke kehidupan kekal. Memang betul kesempatan tadi adalah saat yang tepat untuk bertanya kepada Yang Mulia tentang arti ucapan tadi, dan sebagaimana beliau menjelaskan kepada kalian maka kalian pun harus men¬gingatnya. Tetapi Yang Arya Maha Kaccana adalah seorang yang dipuji dan dihargai oleh Yang Mulia maupun teman-teman dalam kehidupan suci. Dia pasti sanggup menjelaskan secara terperinci arti daripada intisari sing¬kat yang diberikan oleh Yang Mulia tanpa penjelasan terperinci. Biarkan¬lah Yang Arya Maha Kaccana membabarkannya dengan tidak bersusah payah.
14. 'Jikalau demikian, teman-teman dengarkanlah dan patuhilah apa yang aku katakan'. 'Memang seharusnya demikian, Sobat', para bhikkhu menjawab. Yang Arya Maha Kaccana mengatakan sebagai berikut :
15. 'Teman-teman, ketika Yang Mulia bangkit dari duduknya dan pergi ke tempat tinggalnya setelah memberi sebuah intisari singkat tanpa penjelasan terperinci, yakni beliau mengatakan :
"Para bhikkhu, perihal penilaian tentang persepsi aneka ragam yang terja¬di pada seseorang, sumbernya adalah sebagai berikut : Apabila tiada sesuatupun yang diperoleh seseorang untuk bersenang-senang, untuk yakin begitu saja terhadap sesuatu dan menerima apa saja, maka hal inilah adalah merupakan akhir dari semua kecenderungan akan timbulnya nafsu, keras kepala, pandangan-pandangan keliru, keragu-raguan, penipuan, kein¬ginan akan sesuatu dan kebodohan; "Inilah adalah akhir dari upaya men¬gandalkan tongkat pemukul, upaya mengandalkan senjata, perselihan pergula¬tan, pertengkaran, balas dendam, niat jahat, dan ucapan kotor; disinilah ajaran-ajaran yang berguna hilang tanpa bekas". Menurut pengertianku arti rincian tersebut adalah sebagai berikut :
16. 'Bergantung pada mata dan bentuk-bentuk benda maka kesadaran akan pengli¬hatan timbul. Kontak adalah sebagai penghubung ketiga unsur tadi secara kebetulan. Dengan adanya kontak sebagai keadaan maka timbullah perasaan. Apa yang dirasakan seseorang adalah apa yang dia pahami. Apa yang dia pahami apa yang dia kembangkan (diperluas). 'Dengan apa yang telah dia kembangkan sebagai sumber dari penafsiran akan beragam pengertian, maka itulah yang memberikan seseorang pengertian akan bentuk-bentuk benda pada masa lampau, masa akan datang dan masa kini, yang terlihat oleh mata.
'Bergantung pada telinga dan bentuk-bentuk suara maka kesadaran akan pengendaraan timbul. Kontak adalah sebagai penghubung ketiga unsur tadi secara kebetulan. Dengan adanya kontak sebagai keadaan maka timbullah perasaan. Apa yang dirasakan seseorang adalah apa yang dia pahami. Apa¬yang dia pahami adalah apa yang dia pikir. Apa yang dia pikir adalah apa yang dia kembangkan (diperluas). 'Dengan apa yang telah dia kembangkan sebagai sumber dari penafsiran akan beragam pengertian, maka itulah yang memberikan sesorang pengertian akan bentuk-bentuk suara pada masa lampau, masa akan datang dan masa kini, yang terdengar oleh telinga.
'Bergantung pada hidung dan aroma wangi-wangian maka kesadaran akan penciuman timbul. Kontak adalah sebagai penghubung ketiga unsur tadi secara kebetulan. Dengan adanya kontak sebagai keadaan maka timbullah perasaan. 'Apa yang dirasakan seseorang adalah apa yang dia pahami. Apa yang dia pahami adalah apa yang dia pikir. Apa yang dia pikir adalah apa yang dia kembangkan (diperluas). 'Dengan apa yang telah dia kembangkan sebagai sumber dari penafsiran akan beragam pengertian, maka itulah yang memberikan seseorang pengertian akan aroma wangi-wangian pada masa lam¬pau, masa akan datang dan masa kini, yang tercium oleh hidung.
'Bergantung pada lidah dan rasa maka kesadaran akan cita rasa timbul. Kontak adalah sebagai penghubung ketiga unsur tadi secara kebetulan. Dengan adanya kontak sebagai keadaan maka timbullah perasaan. Apa yang dirasakan seseorang adalah apa yang dia pahami. Apa yang dia pahami adalah apa yang dia pikir. Apa yang dia pikir adalah yang dia kembangkan sumber dari penafsiran akan beragam pengertian, maka itulah yang memberi¬kan seseorang pengertian akan cita rasa (jenis-jenis rasa) pada masa lampau, masa akan datang dan masa kini, yang terkecap/terasa oleh lidah.
'Bergantung pada badan jasmani maka kesadaran akan bentuk-bentuk jasmani timbul. Kontak adalah sebagai penghubung ketiga unsur tadi secara kebetu¬lan. Dengan adanya kontak sebagai keadaan maka timbullah perasaan. Apa yang dirasakan seseorang adalah apa yang dia pahami. Apa yang dia pahami adalah apa yang dia pikir. Apa yang dia pikir adalah apa yang dia kem¬bangkan (diperluas). 'Dengan apa yang telah dia kembangkan sebagai sumber dari penafsiran akan beragam pengertian, maka itulah yang memberikan seseorang pengertian akan bentuk-bentuk jasmani pada masa lampau, masa akan datang dan masa kini, yang terbentuk oleh badan jasmani.
'Bergantung pada pikiran dan ajaran-ajaran benar maka kesadaran pikiran timbul. Kontak adalah sebagai penghubung ketiga unsur tadi secara kebetu¬lan. Dengan adanya kontak sebagai keadaan maka timbullah perasaan. Apa yang dirasakan seseorang adalah apa yang dia pahami. Apa yang dia pahami adalah apa yang dia pikir. Apa yang dia pikir adalah apa yang dia kem¬bangkan (diperluas). 'Dengan apa yang telah dia kembangkan sebagai sumber dari penafsiran akan beragam pengertian, maka itulah yang memberikan seseorang pengertian tentang ajaran benar pada masa lampau, masa akan datang dan masa kini, yang terbentuk oleh pikiran.
17. Apabila terdapat mata dan bentuk-bentuk benda dan kesadaran penglihatan, maka hal ini mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari kontak. Apabila terdapat manifestasi kontak, hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengendal manifestasi perasaan, adalah hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pengertian. Apabila terdapat manifestasi pengertian maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pikiran. Apabila terdapat manifesta¬si pikiran maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk menge¬nal manifestasi dari keadaan dimana seseorang terjangkau oleh penilaian akan berbagai macam-macam pengertian.
'Apabila terdapat telinga dan suara dan kesadaran pendengaran, maka hal ini mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari kontak. Apabi¬la terdapat manifestasi kontak, hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi perasaan, adalah hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pengertian. Apabila terdapat ma¬nifestasi pengertian maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pikiran. Apabila terdapat manifestasi pikiran maka adalah hal ini mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi keadaan dimana seseorang terjangkau oleh penafsiran akan berbagai macam-macam pengertian.
'Apabila terdapat hidung dan aroma wangi-wangian dan kesadaran penciuman, maka hal ini mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari kontak. Apabila terdapat manifestasi kontak, hal ini adalah mungkin bagi sesorang untuk mengenal manifestasi pengertian. Apabila terdapat manifes¬tasi pengertian maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pikiran. Apabila terdapat manifestasi pikiran maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari keadaan dimana seseorang terjangkau oleh penafsiran akan beragai macam-macam pengertian.
'Apabila terdapat lidah dan cita rasa dan kesadaran pengecapan, maka hal ini mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifesi dari kontak. Apabila terdapat manifestasi kontak, hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi perasaan, adalah hal ini adalah mungkin bagi seseo¬rang untuk mengenal manifestasi pengertian. Apabila terdapat manifestasi pengertian maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk menge¬nal manifestasi pikiran. Apabila terdapat manifestasi pikiran maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi keadaan dimana seseorang terjangkau oleh penafsiran akan berbagai macam-macam pengertian.
'Apabila terdapat badan jasmani dan segala sesuatu yang berbentuk dan kesadaran akan bentuk jasmani, maka hal ini mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari kontak. Apabila terdapat manifestasi kontak, hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pera¬saan, adalah hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal ma¬nifestasi pengertian. Apabila terdapat manifestasi pengertian maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pikiran. Apabila terdapat manifestasi pikiran maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari keadaan dimana seseorang terjangkau oleh penafsiran akan berbagai macam-macam pengertian.
'Apabila terdapat pikiran dan ajaran benar kesadaran pikiran, maka hal ini mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari kontak. Apabi¬la terdapat manifestasi kontak, hal ini perasaan, adalah hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pengertian. Apabila terdapat manifestasi pengeritan maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pikiran. Apabila terdapat manifesta¬si pikiran maka dalam hal ini adalah mungkin bagi seseorang untuk menge¬nal manifestasi dari keadaan dimana seseoarang terjangkau oleh penilaian berbagai macam-macam pengertian.
18. Apabila tidak terdapat mata maupun bentuk maupun kesadaran akan pengliha¬tan maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi kontak. Apabila tidak terdapat manifestasi kontak maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi perasaan. Apabila tidak terdapat manifestasi perasaan maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pikiran. Apabila tidak terdapat manifestasi pikiran maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari keadaan dimana seseorang ter¬jangkau oleh penafsiran akan berbagai macam-macam pengertian.
'Apabila tidak terdapat telinga dan suara maupun kesadaran pendengaran maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi kontak. Apabila tidak terdapat manifestasi kontak maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi perasaan. Apabila tidak terdapat manifestasi perasaan maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pengertian. Apabila tidak mengenal manifestasi pengertian maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pikiran. Apabila tidak terdapat manifestasi pikiran maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseo¬rang untuk mengenal manifestasi dari keadaan dimana seseorang terjangkau oleh penafsiran akan berbagai macam-macam pengertian.
'Apabila tidak terdapat hidung maupun aroma wangi-wangian maupun kesada¬ran penciuman maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi kontak. Apabila tidak terdapat manifestasi kontak maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi perasaan. Apabila tidak terdapat manifestasi perasaan maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifes¬tasi pengertian. Apabila tidak mengenal manifestasi pengertian maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pikiran. Apabila tidak terdapat manifestasi pikiran maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari keadaan dimana seseorang terjangkau oleh penafsiran akan berbagai macam-macam penger¬tian.
'Apabila tidak terdapat lidah maupun cita rasa maupun kesadaran pengeca¬pan maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi kontak. Apabila tidak terdapat manifestasi kontak maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi perasaan. Apabila tidak terdapat manifestasi maka dalam hal ini adalah tidak mungkin seseorang untuk mengenal manifestasi pengertian. Apabila tidak mengenal manifestasi pengertian maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pikiran. Apabila tidak terdapat manifestasi pikiran maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari keadaan dimana seseorang terjangkau oleh manifestasi akan berbagai macam-macam pengertian.
'Apabila tidak terdapat badan jasmani maupun bentuk-bentuk maupun kesada¬ran akan bentuk badan jasmani maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi kontak. Apabila tidak terdapat manifestasi kontak maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi perasaan. Apabila tidak terdapat manifestasi pera¬saan maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk menge¬nal manifestasi pengertian. Apabila tidak mengenal manifestasi pengertian maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifesta¬si pikiran. Apabila tidak terdapat manifestasi pikiran maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari keadaan dimana seseorang terjangkau oleh penafsiran akan berbagai macam-macam pengertian.
'Apabila tidak terdapat pikiran maupun ajaran-ajaran benar maupun kesada¬ran pikiran maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi kontak. Apabila tidak terdapat manifestasi kontak maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifesta¬si perasaan. Apabila tidak terdapat manifestasi perasaan maka dalam hal ini adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi peng¬ertian. Apabila tidak mengenal manifestasi pengertian maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi pikiran. Apabila tidak terdapat manifestasi pikiran maka dalam hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk mengenal manifestasi dari keadaan dimana seseorang ter¬jangkau oleh penafsiran akan berbagai macam-macam pengertian.
19. 'Teman, ketika Yang Mulia bangkit dari duduknya dan pergi ke tempat tinggalnya setelah memberi sebuah intisari singkat tanpa penjelasan terperinci yakni beliau mengucapkan : "'Para Bhikkhu, perihal penilaian tentang persepsi aneka ragam yang terjadi pada seseorang sumbernya adalah sebagai berikut :
Apabila tiada sesuatupun yang diperoleh seseorang untuk bersenang-senang, untuk yakin begitu saja terhadap sesuatu dan menerima apa saja, maka hal ini adalah merupakan akhir dari semua kecenderungan akan timbulnya nafsu, keras kepala, pandangan-pandangan keliru, keragu-raguan, penipuan, kein¬ginan akan sesuatu dan kebodohan; "Inilah adalah akhir dari upaya mengan¬dalkan tongkat pemukul, upaya mengandalkan senjata, perselihan pergula¬tan, pertengkaran, balas dendam, niat jahat, dan ucapan kotor ; disinilah ajaran-ajaran yang berguna hilang tanpa bekas", Demikianlah menurut pengertianku arti dari rincian tersebut.
'Sekarang, teman-teman, apabila kalian mau, pergilah ke Yang Mulia dan tanyailah kepada Beliau tentang arti dari ucapan tersebut. Sebagaimana Yang Mulia menerangkan kepada kalian, demikian pula kalian harus mengin¬gatnya'.
20. Kemudian para bhikkhu merasa puas, dan bergembira akan kata-kata Yang Arya Maha Kaccana. Mereka bangkit dari duduknya dan pergi kepada Yang Mulia dan setelah memberi hormat kepada Beliau mereka duduk pada salah satu sisi, kemudian mereka menceriterakan kepada Beliau semua apa yang telah terjadi setelah Yang Mulia meninggalkan mereka, dan mereka menam¬bahkan : 'Kemudian, Yang Mulia, kami pergi ke Yang Arya Maha Kaccana dan bertanya kepadanya tentang arti ucapan tersebut dan Yang Arya Maha Kacca¬na telah menerangkan arti dari ucapan Yang Mulia secara jelas dengan alasan-alasannya serta ungkapan-ungkapannya hingga kesuku katanya.
21. 'Maha Kaccana adalah seorang yang bijaksana, oh para bhikkhu, Ia mempun¬yai pengertian yang hebat. Seandainya kalian bertanya kepadaku akan arti dari ucapan tadi akupun akan memberi jawaban yang sama seperti apa yang diterangkan oleh Maha Kaccana kepada kalian. Memang demikianlah arti ucapan tersebut sehingga harus mengingatnya'.
22. 'Setelah itu Yang Arya Ananda berkata kepada Yang Mulia ;
'Yang Mulia bagaikan seorang yang lelah karena lapar dan lemah, menemukan bola madu (kembang gula), dia akan menemukan rasa manis, dan murni ketika menyantapnya. Demikian pula Yang Mulia, setiap bhikkhu yang mempunyai kemampuan berfikir, sewaktu mengamati dengan penuh perhatian akan arti dari pembicaraan Dhamma ini, akan menemukan kepuasaan dan rasa percaya diri dengan hati yang teguh. Yang Mulia, apakah nama dari pembicaraan Dhamma ini ?'
"Untuk pertanyaan itu, Ananda, engkau boleh menamakan pembicaraan Dhamma ini dengan "Pembicaraan Kembang Gula" '
Itulah apa yang dikatakan oleh Yang Mulia. Yang Arya Ananda merasa puas, dan dia merasa senang akan ucapan-ucapan Yang Mulia.
DVEDHAVITAKKA SUTTA
(19)
1. Demikianlah saya dengar
Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Di sana Beliau menyapa para bhikkhu : "Para bhikkhu."
"Ya, Bhante," jawab mereka.
Selanjutnya, Sang Bhagava berkata:
"Para bhikkhu, sebelum saya mencapai penerangan sempurna, ketika saya masih seorang Bodhisatva yang belum mencapai penerangan sempurna, terpikir olehku: 'Seandainya saya membagi pikiranku menjadi dua bagian?' Kemudian aku mulai menerapkan satu sisi pemikiran dengan keinginan-keinginsn nafsu (kama), berpikir dengan kemauan jahat (byapada) serta berpikir dengan kekejaman (vihimsa), dan aku menerapkan sisi pemikiran yang lain dengan ‘meninggalkan pemuasan nafsu indera’ (nekhamma), berpikir tanpa kemauan jahat (abyapada) serta ‘berpikir tanpa kekejaman’ (avihimsa).
2. "Sementara saya hidup seperti itu, rajin, tekun dengan keteguhan hati, sebuah pikiran keinginan nafsu (kama) muncul kepadaku. Saya mengerti : 'Pikiran keinginan nafsu muncul padaku. Hal ini mengarah pada penderitaanku, penderitaan orang lain dan penderitaan kedua pihak; hal ini menghambat kebijaksanaan, menyebabkan kesukaran- kesukaran, dan berpaling dari arah mencapai nibbana.' Ketika saya mempertimbangkan: 'Ini mengarah pada penderitaanku sendiri,' hal itu mereda dalam diriku; ketika saya mempertimbangkan: 'Ini mengarah pada penderitaan orang lain,' hal itu mereda dalam diriku; ketika saya mempertimbangkan: 'Ini mengarah pada penderitaan kedua pihak,’ hal itu mereda dalam diriku; ketika saya mempertimbangkan: 'Ini menghambat kebijaksanaan, menyebabkan kesukaran-kesukaran, dan berpaling dari arah mencapai nibbana,’ hal itu mereda dalam diriku. Bilamana ada pikiran keinginan nafsu muncul dalam diriku, saya meninggalkannya, memindahkannya dan melenyapkannya."
3. "Sementara saya hidup seperti itu, rajin, tekun dengan keteguhan hati, sebuah pikiran kemauan jahat (vyapada) muncul padaku. Saya mengerti: 'Pikiran kemauan jahat muncul padaku. Hal ini mengarah pada penderitaanku, penderitaan orang lain dan penderitaan kedua pihak; hal ini menghambat kebijaksanan, menyebabkan kesukaran-kesukaran, dan berpaling dari arah mencapai nibbana.' Ketika saya mempertimbangkan: 'Ini mengarah pada penderitaanku sendiri,' hal itu mereda dalam diriku; ketika saya mempertimbangkan: 'Ini mengarah pada penderitaan orang lain,' hal itu mereda dalam diriku; ketika saya mempertimbangkan: 'Ini mengarah pada penderitaan kedua pihak,' hal itu mereda dalam diriku; ketika saya mempertimbangkan: 'Ini menghambat kebijaksanaan, menyebabkan kesukaran-kesukaran, dan berpaling dari arah mencapai nibbana,' hal itu mereda dalam diriku. Bilamana ada pemikiran kemauan jahat muncul dalam diriku, saya meninggalkannya, memindahkannya dan melenyapkannya.
4. "Sementara saya hidup seperti itu, rajin, tekun dengan keteguhan hati, sebuah pikiran kejam (vihimsa) muncul padaku. Saya mengerti: 'Pikiran kejam muncul padaku. Hal ini mengarah pada penderitaanku, penderitaan orang lain dan penderitaan kedua pihak; hal ini menghambat kebijaksanaan, menyebabkan kesukaran-kesukaran, dan berpling dari arah mencapai nibbana.' Ketika saya mempertimbangkan: 'Ini mengarah pada penderitaanku sendiri,' hal itu mereda dalam diriku. Ketika saya mempertimbangkan: 'Ini mengarah pada penderitaan orang lain,' hal itu mereda dalam diriku; ketika saya mempertimbangkan: 'Ini mengarah pada penderitaan kedua pihak,' hal itu mereda dalam diriku; ketika saya mempertimbangkan: 'Ini menghambat kebijaksanaan, menyebabkan kesukaran-kesukaran, dan berpaling dari arah mencapai nibbana,' hal itu mereda dalam diriku. Bilamana ada pikiran kejam muncul dalam diriku, saya meninggalkannya, memindahkannya dan melenyapkannya.
5. "Para bhikkhu, apapun yang sering dipikir atau direnungkan oleh seorang bhikkhu, itu akan menjadi kecenderungan pikirannya. Bilamana ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran nafsu indera, (berarti) ia telah ‘meninggalkan pikiran pemuasan nafsu indera' (nekkhamma), mengembangkan pikiran keinginan nafsu, dan pikirannya cenderung pada pikiran keinginan nafsu. Bilamana ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran kemauan jahat (byapada), (berarti) ia telah meninggalkan 'pikiran tanpa kemauan jahat (abyapada)', mengembangkan pikiran keinginan nafsu, dan pikirannya cenderung pada pikiran kemauan jahat. Bilamana ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran kejam (vihimsa), (berarti) ia telah meninggalkan pikiran tanpa kekejaman (avihimsa)', mengembangkan pikiran keinginan nafsu, dan pikirannya cenderung pada pikiran kejam.
6. Para bhikkhu, itu seperti pada akhir bulan musim hujan, di musim gugur ketika hasil panen itu menjadi matang, seorang gembala akan menjaga sapi-sapinya di sebidang tanah yang sempit di tengah-tengah tanaman yang akan dipanen, dan akan memukulkan tongkat di punggung atau di sisi tubuh mereka, mengendalikan serta memeriksa mereka. Mengapa hal itu dilakukan? Para bhikkhu, sebab ia mengetahui bahaya pembantaian, pengurungan, kehilangan atau celaan, bila (sapi-sapi) itu makan buah yang akan dipanen itu. Demikian pula, saya melihat kesalahan, keburukan dan kekotoran dalam pikiran buruk, serta manfaat yang muncul dari kesucian pikiran yang 'meninggalkan pemuasan nafsu' (nekkhamma).
8 . Para bhikkhu, sementara saya rajin, tekun dengan keteguhan hati, 'pikiran bebas dari keinginan pemuasan nafsu' (nekkhamavitakka) muncul dan saya mengerti: "Pikiran bebas dari keinginan pemuasan nafsu. Pikiran ini tidak mencelakakan saya, tidak mencelakakan orang lain, juga tidak mencelakakan saya maupun orang lain. Pikiran ini (memotivasikan) perkembangan kebijaksanaan (panna), tidak menyebabkan kesedihan, namun mengarah pada pencapaian nibbana (nibbanasamvattanika)."
Para bhikkhu, walaupun di waktu malam saya berpikir maupun merenung, saya tidak menemukan bahaya yang muncul dari 'pikiran bebas dari keinginan pemuasan nafsu indera'. Begitu pula, diwaktu siang saya berpikir maupun merenung, saya tidak menemukan bahaya yang muncul dari 'pikiran bebas dari keinginan pemuasan nafsu'. Demikian pula, diwaktu siang maupun malam ketika saya berpikir atau merenung, saya tidak menemukan bahaya yang muncul dari 'pikiran bebas dari keinginan pemuasan nafsu'.
Namun, setelah lama berpikir dan merenung, tubuh menjadi lelah; bila tubuh lelah, maka pikiran terganggu; jika pikiran terganggu, maka pemusatan pikiran' (samadhi) menghilang. Para bhikkhu, sehubungan dengan hal itu, maka saya menjaga pikiran dengan hanya memusatkan pada sebuah obyek yang ada dalam diriku, saya menenangkan pikiranku dengan baik, saya mengarahkan pikiranku menjadi terkonsentrasi; saya mengembangkan pikiranku dengan baik. Mengapa demikian? Karena dengan begitu pikiranku tidak terganggu.
Para bhikkhu, sementara saya rajin, tekun dengan keteguhan hati, 'pikiran tanpa kebencian' (abhyapadavitakka) muncul ... 'pikiran tanpa kekejaman' (avihimsavitakka) muncul dalam diriku dan saya mengerti: "Pikiran tanpa kekejaman telah muncul dalam diriku. Pikiran ini tidak mencelakakan saya, tidak mencelakakan orang lain, juga tidak mencelakakan saya maupun orang lain. Pikiran ini (memotivasikan) perkembangan kebijaksanaan (panna), tidak menyebabkan kesedihan, namun mengarah pada pencapaian nibbana (nibbanasamvattanika)."
Para bhikkhu, walaupun di waktu malam saya berpikir maupun merenung, saya tidak menemukan bahaya yang muncul dari 'pikiran tanpa kekejaman'. Begitu pula, di waktu siang saya berpikir maupun merenung, saya tidak menemukan bahaya yang muncul dari 'pikiran tanpa kekajaman'. Demikian pula, di waktu siang maupun malam ketika saya berpikir atau merenung, saya tidak menemukan bahaya yang muncul dari 'pikiran tanpa kekejaman'.
Namun, setelah lama berpikir dan merenung, tubuh menjadi lelah; bila tubuh lelah, maka pikiran terganggu; jika pikiran terganggu, maka ‘pemusatan pikiran' (samadhi) menghilang. Para bhikkhu, sehubungan dengan hal itu, maka saya menjaga pikiran dengan hanya memusatkan pada sebuah obyek yang ada dalam diriku, saya menenangkan pikiranku dengan baik, saya mengarahkan pikiranku menjadi terkonsentrasi; saya mengembangkan pikiranku dengan baik. Mengapa demikian? Karena dengan begitu pikiranku tidak terganggu.
10. Para bhikkhu, pikiran maupun perenungan apa pun yang dilakukan berulang-ulang kali, maka pikiran akan berkecenderungan pada apa yang dipikirkan maupun direnungkan itu. Jika seorang bhikkhu berulang-ulang kali berpikir dan merenungkan 'pembebasan dari keinginan memuaskan nafsu' (nekhammavitakka), ia telah meninggalkan pikiran untuk memuaskan nafsu dan menyibukkan diri dengan berulang-ulang kali memikirkan kebebasan (dari nafsu). Maka pikiran bhikkhu itu berkecenderungan hanya pada memikirkan kebebasan. Jika seorang bhikkhu berulang-ulang kali memikirkan dan merenungkan tentang 'tanpa kebencian' ... 'tanpa kekejaman', ia telah meninggalkan 'pikiran kejam' serta telah menyibukkan dirinya dengan berulang-ulang kali berpikir tanpa kekejaman. Maka pikiran bhikkhu itu cenderung hanya pada pikiran tanpa kekejaman.
Para bhikkhu, itu seperti pada bulan terakhir dari musim panas, ketika semua hasil panen telah diangkut ke desa, seorang pengembala akan menjaga sapi-sapi dengan berada di bawah pohon atau di tempat terbuka, maka ia hanya akan memperhatikan sapi-sapi yang digembalakannya. Para bhikkhu, begitu pula, saya hanya perlu memperhatikan apa yang muncul dalam pikiranku.
11. Para bhikkhu, semangat tanpa lelah telah muncul dalam diriku, perhatian tanpa lupa telah mantap, tubuhku telah tenang dan tanpa gangguan, pikiranku telah terkonsentrasi dan terpusat (ekagata).
Agak bebas dari nafsu indera, bebas dari dhamma yang tak berguna, saya mencapai dan berada dalam Jhana I yang disertai oleh vitakka (usaha pikiran untuk menangkap obyek), vicara (obyek telah tertangkap), kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) karena pemusatan pikiran. Dengan meninggalkan vitakka dan vicara, saya mencapai dan berada dalam Jhana II yang disertai ‘percaya diri’ (sampasadanam), pemusatan pikiran, kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) karena pemusatan pikiran, tanpa vitakka dan tanpa vicara.
Dengan lenyapnya kegiuran (piti), saya diliputi ketenangan, penuh perhatian (sati) dan kebahagiaan jasmani saya mencapai dan berada dalam Jhana III, yang dinyatakan oleh para ariya sebagai: "Ia senang karena memiliki ketenangan dan perhatian (sati)."
Dengan lenyapnya kebahagiaan (sukha) dan penderitaan (dukkha) jasmani, yang didahului oleh lenyapnya ‘kebahagiaan dan penderitaan batin’ (somanassadomanassa), saya mencapai dan berada pada Jhana IV, yang tanpa dukkha (adukkha) dan tanpa sukha (asukha) disertai 'perhatian dan keseimbangan suci’ (upekhasati-parisuddhi).
12. Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak ternoda, bersih dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mencapai ketenangan, saya mengarahkan batin (citta) pada 'pengetahuan tentang kehidupan-kehidupan yang lampau' (pubbenivasanussatinana).
Saya mengingat banyak kehidupanku yang lampau, yaitu: satu kelahiran, dua kelahiran ... lima kelahiran, sepuluh kelahiran ... lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penjadian dunia (samvattakappa), banyak kappa penghancuran dunia (vivattakappa), dan banyak kappa penjadian dan penghancuran dunia (samvattavivat-takappa): "Di sana saya bernama, ras, penampilan, makanan, mengalami kesenangan serta penderitaan, panjang usia seperti itu; meninggal dari sana, saya terlahir kembali di tempat-tempat lain; di sana pun saya bernama, ras, penampilan, makanan, mengalami kesenangan serta penderitaan, panjang usia seperti itu; dan meninggal dari alam itu, saya terlahir di sini. Demikianlah, dengan rinci dan khusus, saya mengingat banyak kelahiran yang lampau.
Inilah pengetahuan pertama yang saya capai pada masa pertama di malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
13. Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak ternoda, bersih dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mencapai ketenangan, saya mengarahkan batin (citta) pada 'pengetahuan tentang lenyap dan munculnya makhluk-makhluk' (cutupa-patanana). Dengan pandangan mata dewa (dibbacakkhu) yang suci dan melampaui kemampuan manusia biasa, saya melihat makhluk-makhluk lenyap (meninggal) dan muncul (lahir) kembali sebagai terhormat atau hina, berwajah cakap atau jelek, berprilaku baik atau jahat; saya mengerti bagaimana makhluk-makhluk hidup sesuai dengan karma mereka, sebagai berikut: "Makhluk-makhluk ini yang melakukan perbuatan baik melalui ucapan perbuatan dan pikiran, menghina para ariya, berpandangan keliru, melakukan perbuatan berdasarkan pandangan keliru mereka, setelah mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali dalam keadaan yang tidak menyenangkan, di alam yang menyedihkan, bahkan di neraka; sedangkan makhluk-makhluk yang melakukan perbuatan baik melalui ucapan, perbuatan dan pikiran, tidak menghina para ariya, berpandangan benar, melakukan perbuatan berdasarkan pada pandangan benar, setelah mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali dalam keadaan menyenangkan, di alam yang membahagiakan, bahkan di surga." Demikianlah dengan dibba cakku yang suci dan melampaui kemampuan manusia biasa, saya melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali sebagai terhormat atau hina, berwajah cakap atau jelek, berprilaku baik atau jahat; saya mengerti bagaimana makhluk-makhluk hidup sesuai dengan karma mereka.
Inilah pengetahuan kedua yang saya capai pada masa kedua di malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
14. Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak ternoda, bersih dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap, dan mencapai ketenangan, saya mengarah batin (citta) pada 'pengetahuan tentang pelenyapan kotoran batin' (asavanamkhayanana). Saya memiliki pengetahuan: "Inilah Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah Sebab Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah Lenyapnya Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah Jalan untuk melenyapkan Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah kekotoran-kekotoran batin." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah Sebab Kekotoran-kekotoran batin" Saya memiliki pengetahuan: "Inilah Lenyapnya kekotoran-kekotoran batin." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah Jalan untuk melenyapkan kekotoran-kekotoran batin."
Ketika saya mengetahui dan melihat seperti itu, batinku terbebas dari 'kekotoran-batin nafsu indera' (kamasava), 'Kekotoran-batin untuk menjadi' (bhavasava) dan 'kekotoran-batin kebodohan' (avijjasava). Ketika terbebas, muncul pengetahuan: "Telah terbebas". Saya memiliki pengetahuan: "Kelahiran telah dilenyapkan, kehidupan suci telah direalisasi, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada lagi sesuatu di seberang sana."
Inilah pengetahuan ketiga yang saya capai pada masa ketiga di malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
15. Para bhikkhu, misalnya, di sebuah hutan besar terdapat rawa besar dan didekatnya ada sekelompok rusa yang hidup di situ. Seandainya ada seseorang yang datang ke tempat itu dengan berkeinginan jahat, tidak bermanfaat dan mengganggu kelompok rusa itu. Ia menutup jalan yang aman dan baik, lalu membuka jalan jebakan dengan menempatkan umpan (benda berupa seperti) rusa jantan dan rusa betina sebagai pemikat. Setelah hal ini dilakukan, maka tidak seberapa lama kemudian, kelompok rusa itu akan menemui malapetaka dan kematian. Para bhikkhu, tetapi jika ada seseorang yang datang ke tempat itu dengan berkeinginan baik, aman demi ketenangan para rusa itu, maka ia akan membuka penutup jalan, mengamankan jalan dan menutupi jalan jebakan, membuang umpan (benda berupa seperti) rusa jantan dan betina sebagai pemikat. Setelah hal ini dilakukan, maka setelah beberapa waktu kemudian kelompok rusa itu akan berkembang biak, maju dan bertambah.
Para bhikkhu, untuk menerangkan arti perumpamaan ini, adalah sebagai berikut: Rawa besar adalah nafsu indera; kelompok rusa adalah makhluk-makhluk. Orang yang berkeinginan jahat, tidak bermanfaat dan mengganggu adalah Mara, Jahat. Jalan jebakan adalah Jalan Salah berunsur delapan. Apakah Jalan Salah Berunsur Delapan itu? Itu adalah Jalan yang terdiri dari Pandangan Salah, Pikiran Salah, Ucapan Salah, Perbuatan Salah, Mata Pencaharian Salah, Usaha Salah, Perhatian Salah dan Meditasi Salah. Umpan rusa jantan adalah Nandiraga, nafsu kemelekatan (pada obyek-indera). Rusa betina pemikat adalah kebodohan (avijja). Sedangkan, orang yang berkeinginan baik, aman dan ketenangan adalah Tahtagata, Arahat Samma Sambuddha. Jalan yang aman adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan. Apakah Jalan Mulia Berunsur Delapan itu? Itu adalah Jalan yang terdiri dari Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencaharian Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar dan Meditasi Benar.
Para bhikkhu, demikianlah saya telah membuka Jalan Mulia yang aman, damai dan meyenangkan, serta telah menutup Jalan Salah, dan telah membuang umpan Nandiraga, nafsu kemelekatan, juga telah melenyapkan betina pemikat, kebodohan, Avijja. Apapun yang harus dilakukan berdasarkan kasih sayang oleh seorang guru yang berkeinginan untuk mensejahterakan para siswanya, hal itu telah saya lakukan demi kasih sayangku pada anda sekalian. Para bhikkhu, di sini banyak naungan pohon, tempat yang tenang, bermeditasilah. Jangan lalai (pamadattha), agar tidak menyesal nanti. Inilah pesanku pada anda sekalian.
Demikianlah kata-kata Sang Bhagava. Para bhikkhu senang dan gembira terhadap uraian Sang Bhagava.
VITAKKASANTHANA SUTTA
(20)
1. Demikianlah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Di sana Beliau menyapa para bhikkhu:
"Para bhikkhu."
"Ya, Bhante." jawab mereka.
Selanjutnya, Sang Bhagava berkata:
2. "Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu sedang mengembangkan batin yang lebih tinggi, ada lima tanda yang dapat diperhatikan olehnya dari saat ke saat. Apakah kelima tanda tersebut?
3. '’Para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu memperhatikan beberapa tanda, dan berdasarkan pada tanda itu, muncul dalam dirinya pikiran-pikiran buruk dan jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan, maka ia harus memperhatikan beberapa tanda lain yang berhubungan dengan apa yang baik. Bilamana ia memperhatikan beberapa tanda lain yang berhubungan dengan apa yang baik, maka pikiran-pikiran buruk dan jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan akan ditinggalkan dan lenyap darinya. Dengan meninggalkan hal-hal itu, pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi. Bagaikan seorang tukang kayu atau pembantunya yang dapat mengeluarkan, memindahkan dan mengganti sebuah pasak kasar dengan pasak halus, begitu pula ketika seorang bhikkhu memperhatikan beberapa tanda, dan berdasarkan pada tanda itu, muncul dalam dirinya pikiran-pikiran buruk dan jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan, maka ia harus memperhatikan beberapa tanda lain yang berhubungan dengan apa yang baik. Bilamana ia memperhatikan beberapa tanda lain yang berhubungan dengan apa yang baik, maka pikiran-pikiran buruk dan jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan akan ditinggalkan dan lenyap darinya. Dengan meninggalkan hal-hal itu, maka pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi.
4. ’Apabila, ketika ia sedang memperhatikan tanda lain yang berhubungan dengan apa yang baik, namun dalam dirinya masih muncul pikiran-pikiran buruk yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan, maka ia harus memeriksa bahaya dalam pikiran-pikiran itu, sebagai berikut: 'Pikiran-pikiran ini buruk, patut dicela dan menyebabkan penderitaan.' Ketika ia memeriksa bahaya dalam pikiran-pikiran itu, maka pikiran-pikiran buruk jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan ditinggalkan dan lenyap darinya. Dengan meninggalkan hal-hal itu, pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi. Bagaikan seorang pria atau wanita, muda, remaja, yang menyenangi perhiasan, akan ketakutan, menderita dan muak jika bangkai ular, anjing atau mayat digantungkan dilehernya, begitu pula ... ketika seorang bhikkhu memeriksa bahaya dalam pikiran-pikiran itu ... maka pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi."
5. "Apabila, sementara ia memeriksa bahaya dari pikiran-pikiran itu, namun dalain dirinya masih muncul pikiran-pikiran buruk jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan, maka ia harus berusaha melupakan dan harus tidak memperhatikan pikiran-pikiran itu.
Ketika ia berusaha melupakan dan tidak memperhatikan pikiran-pikiran itu, maka pikiran-pikiran buruk jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan ditinggalkan dan lenyap darinya. Dengan meninggalkan hal-hal itu, pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi. Bagaikan orang bermata baik yang tidak mau melihat bentuk-bentuk yang terjangkau oleh pandangan akan menutup mata atau memalingkan pandangannya, begitu pula ... ketika seorang bhikkhu berusaha melupakan dan tidak memperhatikan pikiran-pikiran itu ... maka pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi.
6. "Apabila, sementara ia melupakan dan tidak memperhatikan pikiran-pikiran itu, namun dalam dirinya masih muncul pikiran-pikiran buruk jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan, maka ia harus memberi perhatian untuk menenangkan bentuk-betuk pikiran dari pikiran-pikiran itu. Ketika ia memberikan perhatian untuk menenangkan bentuk-bentuk pikiran dari pikiran-pikiran itu, maka pikirain-pikiran buruk jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan ditinggalkan dan lenyap darinya. Dengan meninggalkan hal-hal itu, pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi. Bagaikan seseorang berjalan cepat berpikir: ‘'Mengapa saya berjalan cepat? Bagaimana bila saya berjalan perlahan?' dan ia akan berjalan perlahan; kemudian ia berpikir: 'Mengapa saya berjalan perlahan? Bagaimana bila saya berdiri?' dan ia akan berdiri; kemudian ia berpikir: 'Mengapa saya berdiri? Bagaimana bila saya duduk?' dan ia akan duduk; kemudian ia berpikir: 'Mengapa saya duduk? Bagaimana bila saya berbaring?' dan ia akan berbaring. Dengan melakukan seperti itu, ia akan mengganti setiap posisi yang kasar dengan yang halus; begitu pula ketika ... ketika seorang bhikkhu memberi perhatian untuk menenangkan bentuk-bentuk pikiran dari pikiran-pikiran itu ... maka pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi.
7. "Apabila, ketika ia memberikan perhatian untuk menenangkan bentuk-bentuk pikiran dari pikiran-pikiran itu, namun dalam dirinya masih muncul pikiran-pikiran buruk jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan, maka dengan menggertak gigi dan lidah menekan langit-langit mulutnya, maka ia harus memukul, mendesak dan menghancurkan pikiran (buruk) dengan pikiran. Ketika, dengan menggertak gigi dan lidah menekan langit-langit mulutnya, ia memukul, mendesak dan menghancurkan pikiran dengan pikiran, maka pikiran-pikiran buruk jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodoban ditinggalkan dan lenyap darinya. Dengan meninggalkan hal-hal itu, pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi. Bagaikan seseorang kuat menangkap kepala atau bahu dari orang lemah dan memukulnya, memaksanya, dan menghancurkannya begitu pula ... ketika seorang bhikkhu memberi perhatian untuk menenangkan bentuk-bentuk pikiran dari pikiran-pikiran itu ... maka pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi."
8. "Para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada beberapa tanda, dan berdasarkan pada tanda itu dalam dirinya muncul pikiran-pikiran buruk jahat yang berhubungan dengan keinginan indera, kebencian dan kebodohan, kemudian ketika ia memberikan perhatian pada beberapa tanda lain yang berhubungan dengan apa yang baik, maka pikiran-pikiran buruk jahat ditinggalkan dan lenyap, dengan meninggalkan pikiran-pikiran itu pikirannya menjadi kokoh tenang, terpusat dan terkonsentrasi. Ketika ia memeriksa bahaya dari pikiran-pikiran itu .... Ketika ia berusaha melupakan dan tidak memperhatikan pikiran-pikiran itu .... Ketika ia memberikan perhatian untuk menenangkan bentuk-bentuk pikiran dari pikiran-pikiran itu .... Ketika, dengan menggertak gigi dan menekankan lidah pada langit-langit mulutnya, ia memukul, mendesak dan menghancurkan pikiran (buruk) dengan pikiran, maka pikiran-pikiran buruk jahat ditinggalkannya ... dan pikirannya menjadi kokoh, tenang, terpusat dan terkonsentrasi. Bhikkhu ini disebut sebagai ahli pikiran kasar. Ia akan memikirkan pikiran apa pun yang ingin ia pikirkan, dan ia tidak memikirkan apa yang ia tidak ingin pikirkan. Ia telah memutuskan keinginan (tanha), menghempaskan belenggu-belenggu (samyojana), dan dengan sempurna menembus kesombongan (mana), ia melenyapkan penderitaan.
Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Para bhikhu merasa senang dan gembira dengan apa yang diuraikan Sang Bhagava.
KAKACUPAMA SUTTA
(21)
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Ketika itu Bhikkhu Moliyaphagguna terlalu banyak berhubungan dengan para bhikkhuni. Karena terlalu banyak bergaul dengan bhikkhuni, maka jika ada bhikkhu yang merendahkan para bhikkhuni di depannya, ia marah dan menjadi tidak senang dan mengomelinya; demikian pula bila ada bhikkhu yang merendahkan Bhikkhu Moliyaphagguna di depan para bhikkhuni, maka mereka akan marah, tidak senang dan mengomeli bhikkhu itu. Begitulah hubungan Bhikkhu Moliyaphagguna dengan para bhikkhuni.
Kemudian, ada seorang bhikkhu pergi menemui Sang Bhagava, setelah menghormat beliau, ia duduk. Setelah ia duduk, ia menceritakan apa yang telah terjadi.
Maka Sang Buddha menyuruh seorang bhikkhu dengan berkata: "Bhikkhu, katakan kepada Bhikkhu Moliyaphagguna bahwa guru memanggilmu."
"Ya, Bhante," jawab bhikkhu itu, ia pergi menemui Bhikkhu Moliyaphagguna dan berkata: "Avuso, guru memanggilmu."
"Ya, avuso," jawabnya dan ia pergi menemui Sang Bhagava, mengormat beliau, ia duduk. Setelah duduk, Sang Bhagava berkata:
"Phagguna, apakah benar bahwa anda terlalu banyak berhubungan dengan para bhikkhuni, karena hubungan itu maka bila ada bhikkhu di depanmu merendahkan para bhikkhuni, anda marah, tidak senang dan mengomelinya; jika ada bhikkhu di depan para bhikkhuni merendahkan anda, maka mereka akan marah, tidak senang dan mengomeli bhikkhu itu, nampaknya begitu erat hubungan anda dengan para bhikkhuni."
"Ya, bhante."
"Phagguna, bukankah karena keyakinan (saddha) anda meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk menjadi bhikkhu (pabbaja)?"
"Ya, bhante."
"Phagguna, tidak pantas bagi anda sebagai bhikkhu untuk berhubungan terlalu erat dengan para bhikkhuni. Maka bila seseorang di depanmu merendahkan para bhikkhuni, anda harus menghilangkan keinginan dan pikiran yang didasarkan pada kehidupan berkeluarga. Anda harus melatih diri sebagai berikut: 'Pikiranku tidak akan terpengaruh, saya akan tidak mengucapkan kata-kata buruk, saya akan hidup dengan kasih sayang dengan pikiran diliputi cinta-kasih tanpa kebencian demi kesejahteraan banyak orang."'
"Demikianlah, jika di depanmu seseorang memukul para bhikkhuni dengan tangan, pemukul, tongkat atau memotong dengan pisau; anda harus menghilangkan keinginan dan pikiran yang didasarkan pada kehidupan berkeluarga Anda harus melatih diri sebagai berikut: 'Pikiranku tidak akan terpengaruh, saya akan tidak mengucapkan kata-kata buruk, saya akan hidup dengan kasih sayang dengan pikiran diliputi cinta-kasih, tanpa kebencian demi kesejahteraan banyak orang."
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu, pada suatu waktu para bhikkhu memuaskanku. Saya mengatakan kepada para bhikkhu: 'Saya makan sekali duduk. Dengan berbuat begitu saya mengalami gangguan sedikit, kesakitan sedikit, ringan, kuat dan menyenangkan.' Saya tidak perlu terus-terusan mengajar bhikkhu-bhkikkhu itu. Saya hanya membangkitkan perhatian mereka."
Misalnya ada sebuah kereta di atas tanah yang rata, berada di persimpangan jalan, ditarik oleh empat ekor kuda yang bagus, siap menunggu dengan cambuk, sehingga kusir yang mahir juga sebagai ahli penjinak kuda dapat naik dan memegang tali sais, mengendarai kereta ke depan atau ke belakang di jalan mana pun yang disukainya, begitu pula saya tidak perlu terus-terusan mengajar bhikkhu-bhikkhu itu. Saya hanya membangkitkan perhatian mereka.
Para bhikkhu, singkirkanlah akusala dhamma dan tekun melaksanakan kusala dhamma, dengan cara itu kamu sekalian akan berkembang, maju dan memenuhi dhamma-vinaya.
Para bhikkhu, dahulu kala ada seorang ibu bemama Vedehika di Savatthi. Popularitas baik Ibu Vedehika telah tersebar sebagai berikut: "Ibu Vehidika baik hati, lembut dan penuh kasih sayang."
Ibu Vedehika mempunyai seorang pembantu bernama Kali, yang pintar, cekatan dan bekerja dengan rapi.
Kali berpikir: "Popularitas nyonyaku telah tersebar, 'Ibu Vedehika baik hati, lembut dan penuh kasih sayang.' Apakah ketika ia tidak marah berarti sungguh-sungguh kemarahannya ada padanya atau tidak ada padanya. Atau mungkin karena pekerjaan saya rapi sehingga nyonya tidak marah padahal kemarahan itu ada adanya? Bagaimana kalau saya mengeceknya?"
Demikianlah, Kali bangun terlambat.
Ibu Vedehika berkata: "Hai Kali! Apa sebab kamu bangun terlambat?"
"Tidak apa-apa, nyonya."
"Tidak apa-apa. Kau gadis jahat, kamu bangun terlambat. Ia marah, tidak senang dan cemberut.
Kemudian Kali berpikir:
"Ternyata bila nyonya tidak marah, kemarahan itu ada padanya, bukan tidak ada; hanya karena pekerjaanku yang rapi maka nyonya tidak marah walaupun kemarahan itu ada padanya, bukan tidak ada padanya.
Bagaimana kalau saya mengecek nyonya sekali lagi?"
Demikianlah, Kali bangun lebih terlambat lagi.
Ibu Vedehika berkata: "Hai Kali! Apa sebab kamu bangun kesiangan?"
"Tidak apa-apa, nyonya."
"Tidak apa-apa, kau gadis jahat, kamu bangun kesiangan!" Ia marah, tidak senang dan mengucapkan katak-kata tidak menyenangkan.
Kali berpikir pula: "Ternyata bila nyonya tidak marah kemarahan itu ada padanya ... saya mengecek nyonya sekali lagi."
Demikianiah, Kali bangun kesiangan lagi.
Ibu Vedehika berkata: "Hai Kali! Apa sebab kamu bangun kesiangan?"
"Tidak apa-apa, nyonya."
"Tidak apa-apa, kau gadis jahat, kamu bangun kesiangan!" ia marah, tidak senang dan mengambil 'gulungan penjepit', memukulkannya ke kepala Kali yang mengakibatkan kepala Kali terluka dan berdarah.
Kemudian, Kali dengan kepala berdarah memberitahukan kepada para tetangga: "Ibu-ibu lihat, perbuatannya yang baik hati, lembut dan penuh kasih sayang. Lihatlah, karena pembantunya bangun kesiangan, ia marah, tidak senang dan memukulnya dengan 'gulungan penjepit' sehingga kepala pembantunya terluka dan berdarah."
Akibatnya nama buruk dari Ibu Vedehika tersebar: "Ibu Vedehika kasar, kejam dan tak memiliki kasih sayang."
Demikianlah beberapa bhikkhu agak baik hati, lembut dan diliputi cinta kasih selama tidak ada kata-kata yang tidak menyenangkan yang didengarnya. Tetapi segera setelah ia mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan tentang dirinya seorang bhikkhu harus bersikap baik hati, lembut dan penuh cinta kasih. Saya tidak mengatakan seorang bhikkhu itu mudah di koreksi, karena bhikkhu hanya mudah dikoreksi bila berkenaan dengan jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan untuk menyembuhkan sakit, yang didapatnya. Mengapa demikian? Sebab bhikkhu adalah sulit dikoreksi bila ia tidak mendapat jubah, makanan, tempat tingal dan obat-obatan.
Tetapi seorang bhikkhu mudah dikoreksi bila ia menghormat, memuja dan sujud pada Dhamma. Itulah sebabnya, para bhikkhu harus melatih diri: "Kami akan mudah dikoreksi karena menghormat, memuja dan sujud pada Dhamma."
Para bhikkhu, ada lima macam ucapan yang mungkin ditujukan orang lain kepadamu; mereka berbicara :
i) pada waktu tepat atau pada waktu tidak tepat.
ii) benar atau tidak benar.
iii) lembut atau kasar.
iv) berhubungan dengan kebaikan atau mencelakakan.
v) disertai dengan pikiran cinta kasih atau benci.
Bila ada orang berbicara dengan lima macam ucapan itu, para bhikhu harus melatih diri mereka: "Pikiran kami tidak akan terpengaruh, kami tidak akan mengucapkan kata-kata buruk dan kami akan tetap penuh kasih sayang demi kesejahteraan (banyak orang) dengan pikiran diliputi cinta kasih tak ada kebencian. Kami akan memancarkan pikiran cinta kasih kepada orang itu; kami akan meliputi diri dengan cinta kasih yang banyak, penuh dan tak terbatas tanpa kejahatan atau iri hati untuk semua makhluk di alam semesta ini sebagai obyeknya." Demikian pula, bila ada penjahat yang dengan buas memotong tangan dan kaki dengan gerjaji, ia yang membangkitkan kebencian karena hal itu tidak akan dapat melaksanakan ajaranku. Inilah caranya kamu sekalian harus melatih diri: “Pikiran kami tidak akan terpengaruh, kami kami tidak akan mengucapkan kata-kata buruk dan kami akan tetap penuh kasih sayang demi kesejahteraan (banyak orang) dengan pikiran diliputi cinta kasih tak ada kebencian. Kami akan memancarkan pikiran cinta kasih kepada orang itu; kami akan meliputi diri dengan cinta kasih yang banyak, penuh dan tak terbatas tanpa kejahatan atau iri hati untuk semua makhluk di alam semesta ini sebagai obyeknya.”
Para bhikkhu, ingatlah selalu uraian ini sebagai Perumpamaan Gerjaji (Kakacupama).
Para bhikkhu, apakah kamu sekalian melihat ucapan kasar, kecil atau besar yang tidak dapat kamu tahan?
“Tidak, Bhante”.
“Para bhikkhu, ingatlah selalu uraian ini sebagai Perumpamaan Gergaji. Hal ini cukup mensejahterakan dan membahagiaan kamu sekalian.”
ALAGADDUPAMASUTTA
(22)
1-- Demikianiah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi.
2-- Pada waktu itu suatu pandangan jahat (papaditthi) telah timbul di dalam diri seorang bhikkhu yang bemama Arittha, yang pada waktu lampau adalah seorang pembunuh burung Nasar (Burung Pemakan Bangkai).
"Sebagaimana saya mengerti dhamma diajarkan oleh Sang Bhagava, hal-hal yang disebut penghalang (antarayika) oleh Sang Bhagava adalah tidak dapat menghalangi seseorang yang sibuk dengan hal-hal itu.
3-- Beberapa bhikkhu setelah mendengar hal ini, menemui Bhikkhu Arittha dan bertanya kepadanya: "Avuso Arittha, apakah benar bahwa ada pikiran jahat muncul dalam dirimu?"
"Benar, para avuso. Sebagaimana saya mengerti dhamma diajarkan oleh Sang Bhagava, hal-hal yang disebut penghalang (antarayika) oleh Sang Bhagava adalah tidak dapat menghalangi seseorang yang sibuk dengan hal-hal itu.”
Kemudian, para bhikkhu ini berkeinginan untuk membebaskan dia dari pandangan jahat itu, menekan, bertanya dan menanyai dia berulang kali: "Avuso Arittha, jangan berkata begitu. Jangan salah mengerti mengenai Sang Bhagava. Sang Bhagava tidak akan mengatakan seperti itu. Karena di dalam banyak khotbah Sang Bhagava telah menyatakan bagaimana hal-hal penghalang menghalangi, dan bagaimana penghalang-penghalang ini dapat menghalangi seseorang yang sibuk dengan hal-hal itu. Sang Bhagava telah menyatakan bangaimana keinginan nafsu indera yang hanya menghasilkan kepuasan sedikit, namun banyak penderitaan, banyak keputusasaan, dan betapa besar bahaya dalam hal-hal itu. Dengan perumpamaan tengkorak ... dengan perumpamaan sepotong daging ... dengan perumpamaan rumput obor ... dengan perumpamaan lobang arang ... dengan perumpamaan mimpi ... dengan perumpamaan barang-barang dipinjam ... perumpamaan pohon sarat dengan buah ... perumpamaan rumah jagal ... perumpamaan pedang ... dengan perumpamaan kepala ular, Sang Bhagava telah menyatakan bagaimana keinginan nafsu indera yang hanya menghasilkan kepuasan sedikit, namun banyak penderitaan, banyak keputusasaan, dan betapa besar bahaya dalam hal-hal itu.
Namun, walaupun ditekan, ditanya, dan ditanya berulang kali oleh mereka dengan cara ini, Bhikkhu Arittha tetap teguh mempertahankan pandangan jahat itu dan bersikeras berlanjut dengan pandangan itu.
4-- Karena para bhikkhu tidak berhasil membebaskannya dari pandangan jahat, maka mereka pergi menemui Sang Bhagava, setelah memberi hormat kepada beliau, mereka duduk di tempat yang tersedia dan mengatakan kepada beliau semua yang telah terjadi, dan menambahkan: "Bhante, karena kami tidak dapat membebaskan Bhikkhu Arittha dari pandangan jahat ini, kami melaporkan hal ini kepada Sang Bhagava."
5-- Sang Bhagava berkata kepada seorang bhikkhu: "Bhikkhu, katakan kepada bhikkhu Arittha atas nama saya babwa guru (sattha) memanggilnya."
"Ya, Bhante," jawabnya. Ia pergi menemui Bhikkhu Arittha dan berkata kepadanya:
"Avuso Arittha, guru memanggilmu."
"Baiklah, avuso," jawabnya, dan ia pergi menemui Sang Bhagava, setelah menghormat beliau, ia duduk di tempat yang tersedia. Kemudian Sang Bhagava bertanya kepadanya: "Arittha, apakah benar bahwa pandangan jahat seperti ini telah muncul dalam dirimu: 'Sebagaimana saya mengerti Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagava, hal-hal yang disebut penghalang oleh Sang Bhagava adalah tidak dapat menghalangi seseorang yang sibuk dengan hal-hal itu'?"
"Benar, Bhante. Sebagaimana saya mengerti Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagava, hal-hal yang disebut penghalang oleh Sang Bhagava adalah tidak dapat menghalangi seseorang yang sibuk dengan hal-hal itu."
6-- "Orang yang salah arah, dari siapa anda mengetahui saya mengajarkan Dhamma dengan cara ini? Orang, yang salah arah, dalam banyak khotbah saya telah menyatakan bagaimana hal-hal penghalang menghalangi, dan bagaimana penghalang-penghalang ini dapat menghalangi seseorang yang sibuk dengan hal-hal itu. Saya telah menyatakan bangaimana keinginan nafsu indera yang hanya menghasilkan kepuasan sedikit, namun banyak penderitaan, keputusasaan, dan betapa besar bahaya dalam hal-hal itu. Dengan perumpamaan tengkorak ... dengan perumpamaan sepotong daging ... dengan perumpamaan rumput obor ... dengan perumpamaan lobang arang ... dengan perumpamaan mimpi ... dengan perumpamaan barang-barang dipinjam ... perumpamaan pohon sarat dengan buah ... perumpamaan rumah jagal ... perumpamaan pedang ... dengan perumpamaan kepala ular, saya telah menyatakan bagaimana keinginan nafsu indera yang hanya menghasilkan kepuasan sedikit, namun banyak penderitaan, banyak keputusasaan, dan betapa besar bahaya dalam hal-hal itu. Tetapi anda, orang yang salah arah, telah mengsalah-mengertikan kami dengan penangkapan salahmu dan merusak dirimu sendiri serta menimbun karma buruk; karena ini akan mengantarmu ke kecelakaan dan penderitaan untuk masa yang lama.
7-- Selanjutnva. Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu, bagaimana pendapat anda sekalian. Apakah Bhikkhu Arittha menyalakan seberkas kebijaksanaan dalam Dhamma dan Vinaya ini"
“Bagaimana mungkin, Bhante? Tidak, Bhante."
Ketika hal ini telah dikatakan, Bhikkhu Arittha duduk diam, malu, dengan bahu menurun dan kepala menunduk menerawang dan tak berkata apa-apa. Kemudian, setelah mengetahui keadaan ini, Sang Bhagava berkata kepadanya: "Orang yang salah arah, anda akan terkenal karena pandangan jahatmu. Saya akan menanyai para bhikkhu sehubungan dengan hal ini."
8-- Selanjutnva, Sang Bagava berkata kepada para bhikkhu: Para bhikkhu apakah anda sekalian mengerti Dhamma yang saya ajarkan seperti Bhikkhu Arittha ini lakukan ketika ia mensalah artikan kami dengan pengertiannya yang salah dan melukai dirinya sendiri serta menimbun karma buruk?"
"Tidak, bhante. Karena di dalam banyak khotbah Sang Bhagava telah menyatakan bagaimana hal-hal penghalang menghalangi, dan bagaimana penghalang-penghalang, ini dapat menghalangi seseorang yang sibuk dengan hal-hal itu. Sang Bhagava telah menyatakan bagaimana keinginan nafsu indera yang hanya menghasilkan kepuasan sedikit, namun banyak penderitaan, banyak keputusasaan, dan betapa besar bahaya dalam hal-hal itu. Dengan perumpamaan tengkorak ... dengan perumpamaan sepotong daging ... dengan perumpamaan rumput obor dengan perumpamaan lobang arang ... dengan perumpamaan mimpi … dengan perumpamaan barang-barang dipinjam... perumpamaan pohon sarat dengan buah ... perumpa-maan rumah jagal ... perumpamaan pedang ... dengan perumpamaan kepala ular, Sang Bhagava telah menyatakan bagimana keinginan nafsu indera yang hanya menghasilkan kepuasan sedikit, banyak penderitaan, banyak keputusasaan, dan betapa besar bahaya dalam hal-hal itu."
"Baik, para bhikkhu. Baik, karena anda sekalian mengerti Dhamma yang saya ajarkan seperti itu. Karena dalam banyak khotbah saya telah menyatakan bagaimana hal-hal penghalang menghalangi, dan bagaimana penghalang-penghalang ini dapat menghalangi seseorang yang sibuk dengan hal-hal itu. Saya telah menyatakan bangaimana keinginan nafsu indera yang hanya menghasilkan kepuasan sedikit, namun banyak penderitaan, banyak keputusasaan, dan betapa besar bahaya dalam hal-hal itu. Dengan perumpamaan tengkorak ... dengan perumpamaan sepotong daging ... dengan perumpamaan rumput obor dengan perumpamaan lobang arang ... dengan perumpamaan mimpi dengan perumpamaan barang-barang dipinjam ... perumpamaan pohon sarat dengan buah ... perumpamaan rumah jagal ... perumpamaan pedang ... dengan perumpamaan kepala ular, saya telah menyatakan bagimana keinginan nafsu indera yang hanya menghasilkan kepuasan sedikit, banyak penderitaan, banyak keputusasaan, dan betapa besar bahaya dalam hal-hal itu. Tetapi, anda orang yang salah arah, telah mengsalahmengertikan kami dengan penerimaan salahmu dan merugikan dirimu sendiri serta menimbun karma buruk; karena ini akan mengantarmu ke kecelakaan dan penderitaan untuk masa yang lama.
9. "Para bhikkhu, seseorang yang sibuk dengan pemuasan nafsu indera tanpa keinginan nafsu, tanpa persepsi keinginan nafsu dan tanpa pikiran-pikiran keinginan nafsu - adalah tak mungkin."
Perumpamaan Ular
10. Para bhikkhu, beberapa orang bodoh belajar Dhamma khotbah-khotbah (sutta-sutta), bait-bait (geyya), eksposisi-eksposisi (veyyakarana), syair-syair (gatha), pernyataan-pernyataan gembira (udana), kata-kata (itivuttaka), cerita-cerita kelahiran (jataka), dhamma yang menakjubkan (abbhutadhamma) dan tanya-jawab (vedalla) - tetapi setelah mempelajari Dhamma, mereka tidak memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan. Tidak memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, mereka tidak mendapat pengertian sebenarnya dari ajaran-ajaran itu. Sebaliknya mereka belajar Dhamma hanya untuk mencela orang-orang lain dan memenangkan perdebatan, serta mereka tidak mengalami kebaikan dari tujuan mereka belajar Dhamma. Ajaran-ajaran itu, salah diterima oleh mereka, menyebabkan kerugian dan penderitaan yang lama.
Misalnya, ada seorang yang memerlukan ular, mencari ular, mengembara mencari ular, melihat seekor ular besar dan menangkap lingkarannya atau ekomya. Ular itu akan berbalik kepadanya, menggigit tangannya, lengannya atau anggota tubuhnya, dan karena itu ia dapat mati atau mati dengan menderita. Mengapa begitu? Sebab ia salah menangkap ular. Begitu pula, di sini ada beberapa bhikkhu yang salah arah belajar Dhamma .... Ajaran-ajaran itu, salah diterima oleh mereka, menyebabkan kerugian dan penderitaan yang lama.
11. "Para bhikkhu, di sini ada beberapa keluarga (kulaputta) belajar Dhamma, khotbah-khotbah ... tanya-jawab - setelah mempelajari Dhamma, mereka memeriksa arti dari ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan. Memeriksa arti ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, mereka mendapat pengertian benar dari ajaran-ajaran itu. Mereka tidak belajar Dhamma untuk mencela orang-orang lain dan untuk memenangkan perdebatan, mereka mengalami kebaikan sesuai dengan tujuan mereka mempelajari Dhamma. Ajaran-ajaran itu telah diterima dengan benar oleh mereka, menyebabkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk masa yang lama.
Misalnya, ada seorang yang memerlukan ular, mencari ular, mengembara mencari ular, melihat seekor ular besar dan menangkapnya secara benar dengan tongkat berpenjepit, setelah melakukan seperti itu, ia memegangnya tepat dilehernya. Walaupun ular itu melingkarkan tubuhnya pada tangannya, lengannya atau anggota tubuhnya, tetap ia tidak akan mati atau mati menderita karena perbuatan ular itu. Mengapa begitu? Sebab ia menangkap ular dengan cara yang benar. Begitu pula, di sini ada beberapa keluarga mempelajari Dhamma .... Ajaran-ajaran itu, telah diterima dengan benar, menyebabkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk masa yang lama.
12. "Para bhikkhu, bilamana anda sekalian mengerti Dhamma yang saya nyatakan, ingatlah itu sesuai dengan apa adanya; dan bilamana anda sekalian tidak mengerti apa yang saya nyatakan, maka tanyalah hal itu padaku atau kepada bhikkhu yang bijaksana.
Perumpamaan Rakit
13. "Para bhikkhu, saya akan mengajarkan kepadamu sekalian. Dhamma yang mirip dengan rakit, yang digunakan untuk menyebarang, dan bukan untuk dipegang saja. Dengar dan perhatikanlah dengan baik pada apa yang akan saya katakana."
"Ya, Bhante," jawab para bhikkhu.
"Para bhikkhu, ketika seorang yang melakukan perjalanan di jalan raya melihat sebuah genangan air yang lebar, tepi sisi dari genangan air itu sangat berbahaya dan menakutkan, tepi yang seberang aman dan tidak menakutkan, tetapi apabila di sana tidak ada perahu untuk menyeberanginya atau pula tidak ada jembatan yang dapat dititi dari sini ke sana, hal ini mungkin terjadi padanya: 'Ini adalah bentangan air yang besar dan lebar, tepi yang sini berbahaya dan menakutkan, tepi yang sana aman dan tidak menakutkan, tetapi di sana tidaklah terdapat sebuah perahu untuk menyeberangkannya atau tidak pula terdapat jembatan untuk dapat dititi dari tepi sini ke tepi sana. Seandainya saya, setelah mengumpulkan rumput-rumputan, kayu-kayu, cabang-cabang dan ranting-ranting, daun-daunan dan setelah mengikatnya menjadi sebuah rakit, dengan bergantung pada rakit itu, dan berusaha dengan tangan-tangan serta kaki-kaki, harus dapat menyeberang dengan selamat ke seberang sana?' Para bhikkhu, kemudian orang itu, setelah mengumpulkan rumput-rumput, kayu-kayu, cabang-cabang, ranting-ranting, daun-daunan, setelah mengikatnya menjadi sebuah rakit, dengan bergantung pada rakit tersebut berusaha dengan keras dengan tangan-tangan serta kaki-kaki, akan dapat menyeberang dengan selamat ke seberang. Baginya, setelah menyeberang, pergi ke sana, hal ini bisa terjadi: 'Sekarang, rakit ini sudah sangat berguna bagiku. Saya dengan menggantungkan pada rakit ini, dan berusaha dengan keras dengan tangan-tangan serta kaki-kakiku, telah menyeberang dengan selamat ke seberang sini. Seandai aku sekarang, setelah menaruh rakit itu di atas kepalaku, dan mengangkatnya ke atas pundak-ku, apakah bisa berjalan menurut apa yang saya inginkan?' Apa yang kamu pikirkan tentang hal ini, para bhikkhu? Apabila orang itu melakukan itu, apa ia melakukan apa yang semestinya dilakukan dengan rakit tersebut?"
"Tidak, Bhante.”
"Para bhikkhu, apa yang harus dilakukan oleh orang tersebut, demi untuk berbuat apa yang seharusnya diperbuat dengan rakit tersebut? Para bhikkhu, dalam hal ini mungkin bisa terjadi terhadap orang itu yang telah menyeberang dari sana ke seberang sini: 'Sekarang, rakit ini telah sangat berguna bagiku. Dengan bergantung pada rakit ini dan berusaha dengan kuatnya memakai tangan dan kaki-kakiku, saya telah menyeberang dengan selamanya keseberang sini. Seandai saya sekarang, setelah menepikan rakit ini di atas tanah kering atau setelah aku menenggelamkannya di bawah air, apakah aku harus melakukan hal itu sesuai dengan keinginanku? Para bhikkhu, dalam hal ini, apa yang harus orang itu lakukan? Dalam melakukan hal ini, para bhikkhu, orang itu harus melakukan apa yang harus ia lakukan dengan rakit tersebut. Para bhikkhu, sekalipun demikian apakah dhamma tentang persamaan dengan rakit yang saya ajarkan itu untuk dipakai menyeberang, bukan untuk disimpan atau dipertahankan."
14. "Para bhikkhu, bilamana anda sekalian mengetahui dhamma seperti rakit, anda sekalian harus meninggalkan hal-hal baik tertentu, apa lagi hal-hal yang buruk."
15. Para bhikkhu, terdapat keenam pandangan dengan hubungan-hubungan sebab akibat. Apa keenam pandangan itu? Para bhikkhu, di dalam bubungan ini, rata-rata orang yang tidak diberikan instruksi, tidak ambil peduli terhadap hal-hal yang murni, tidak terampil dalam dhamma dari orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma dari orang-orang suci, tidak ambil peduli terhadap orang-orang benar, tidak terampil dalam dhamma dari orang benar, tak terlatih dalam dhamma dari orang-orang benar, mengganggap bentuk-bentuk material sebagai: 'Ini adalah kepunyaanku ... ' Ia menganggap persepsi menanggapi itu sebagai: "Ini adalah aku, ini adalah pribadiku.' Juga pandangan apapun dengan hubungan sebab akibat mengatakan: 'Ini adalah dunia ini adalah pribadi; sesudah kematian aku akan menjadi kekal abadi, tahan lama, kekal, tidak terkena hukum perubahan, aku akan berdiri tegak seperti masuk ke dalam alam kekal, 'ia menganggap ini sebagai: 'Ini adalah kepunyaanku, ini adalah pribadiku.'
16. Para bhikkhu, tetapi siswa yang telah diberikan instruksi tentang hal-hal murni, memperhatikan hal-hal murni, terampil di dalam dhamma dari orang-orang suci, terlatih baik-baik di dalam dhamma dari orang-orang suci; berprihatin terhadap orang-orang benar, terampil di dalam dhamma dari orang-orang benar; terlatih baik-baik di dalam dhamma dari orang-orang benar, menganggap bentuk-bentuk material sebagai: 'Ini adalah bukan milikku, ini bukan aku, ini adalah bukan pribadiku; 'ia menganggap perasaan sebagai: 'Ini adalah bukan milikku ... ia menganggap persepsi sebagai: 'Ini adalah bukan milikku...' ia menganggap kecenderungan-kecenderungan kebiasaan sebagai: 'Mereka ini adalah bukan milikku ... ; 'Ia menganggap kesadaran sebagai: 'Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini adalah bukan pribadiku.' Juga ia menganggap apapun yang dilihat, didengar, dirasa, dimengerti, dicapai, dicari, direnungkan oleh pikiran sebagai: "Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini adalah bukan pribadiku.” Juga, pandangan apa pun dengan hubungan sebab akibat yang menyatakan: "Dunia ini sangat pribadi, sesudah mati aku akan menjadi permanen, bertahan lama, kekal, tidak terkena hukum perubahan, aku akan berdiri tegak seperti masuk ke dalam kekekalan.” Tetapi ia yang menganggap ini sebagai: 'Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini adalah bukn pribadiku.' Bagi dia yang menganggap (dunia) itu adalah sesuatu yang tidak ada, tidak akan menjadi khawatir atau cemas."
17. "Karena ia memandang hal-hal itu seperti itu, maka ia tidak cemas tentang apa yang non-eksisten.”
18. Ketika hal ini telah diucapkan, seorang bhikkhu berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, tetapi apakah tidak muncul kecemasan tentang sesuatu non-eksisten ekstemal?"
"Bhikkhu, mungkin ada," kata Sang Buddha. "Bhikkhu, dalam hal ini, itu terjadi pada seseorang (berpandangan): 'Apa yang sudah pasti milikku adalah pasti bukan milikku; apa yang mungkin pasti menjadi milikku, sudah pasti tidak ada kesempatan untuk aku peroleh.' Ia berduka, menangisi, meratapi, memukul-mukul dadanya, dan diliputi kekecewaan. Para bhikkhu, sekali pun demikian, muncullah kecemasan tentang sesuatu obyek yang tidak ada itu."
19. "Bhante, tetapi apakah dapat terjadi, tidakkah ada kecemasan tentang sesuatu obyek yang tidak ada itu?"
"Bhikkhu, mungkin," kata Sang Bhagava. "Di dalam hal ini, hal itu tidak terjadi pada setiap orang: 'Apa yang sudah pasti milikku adalah pasti bukan milikku (sekarang); apa yang pasti menjadi milikku, pasti tidaklah ada kesempatan untuk menjadi milikku.' Ia tidak berduka, menangis, meratap, ia tidak memukuli dadanya' ia tidak diliputi kekecewaan. Sekali pun demikian, terjadilah suatu kecemasan tentang sesuatu obyek (sesuatu yang obyektif) yang tidak ada."
20-- "Bhante, tetapi apakah di sana terdapat kecemasan tentang sesuatu yang non-eksisten eksternal.?"
"Mungkin saja ada, bhikkhu," kata Sang Bhagava. "Para bhikkhu, dalam hal ini pandangan terjadi pada seseorang: 'Dunia ini sang pribadi; sesudah mati aku akan menjadi permanen, tahan lama, kekal, tidak terkena hukum perubahan, aku akan berdiri tegak seperti masuk ke dalam kekekalan.' Namun bagi dia yang mendengarkan dhamma seperti apa adanya yang diajarkan oleh Sang Tathagata atau oleh seorang siswa dari Tathagata untuk mencabut hingga ke akar-akarnya semua ketetapan, prasangka, kecenderungan dan ketergantungan terhadap pandangan dan hubungan sebab akibat, untuk menenangkan semua aktivitas-aktivitas, untuk melenyapkan semua kemelekatan, untuk menghancurkan nafsu atau keinginan keras, untuk menghilangkan nafsu-nafsu, mengadakan penghentian-penghentian, Nibbana. Juga hal seperti ini tidak terjadi padanya: 'Aku pasti akan dimusnahkan, aku pasti akan dimusnahkan, aku pasti akan dihancurkan, aku pasti akan tidak ada.' Oleh sebab itu ia tidak berduka, tidak menangis, tidak meratap, tidak memukul-mukul dadanya, ia tidak diliputi putus asa. Para bhikkhu, demikianlah maka tidak terdapat kecemasan tentang sesuatu yang subyektif yang tidak ada itu.”
“Para bhikkhu, apakah anda sekalian dapat memegang beberapa hak milik, hak-hak milik mana yang menjadi kekal, bertahan lama, abadi, tidak terkena hukum perubahaan, yang dapat berdiri tegak sepertinya masuk ke dalam kekekalan itu? Para bhikkhu, tetapi apakah anda sekalian melihat bahwa hak milik itu adalah materi yang akan menjadi permanen, tahan lama, kekal tidak patut terkena hukum perubahan, yang akan berdiri tegak seperti hendak masuk ke dalam kekekalan.
"Tidak, bhante."
"Baik, para bhikkhu. Para bhikkhu, saya pun tidak melihat bahwa harta milik itu adah materi yang permanen, tahan lama, kekal, tidak terkena hukum perubahan, yang akan berdiri tegak bagaikan mau masuk ke dalam kekekalan. Para bhikkhu, dapatkah anda sekalian menangkap pemahaman teori tentang pribadi, sedemikian sehingga dengan menangkap teori tersebut tentang pribadi tidak kekal akan timbul kedukaan, penderitaan, kesengsaraan, ratap tangis dan putus asa. Para bhikkhu, tetapi apakah anda sekalian melihat bahwa pemahaman teori tersebut tentang pribadi, dari hasil pemahaman atau penangkapan teori tentang pribadi, di sana tidak akan timbul kedukaan, penderitaan, kesengsaraan, ratap tangis dan putus asa"
"Tidak, Bhante."
"Baik, para bhikkhu. Para bhikkhu, saya pun tidak melihat bahwa pemahaman teori tentang pribadi dari pemahaman mana tidak bakal akan timbul, kedukaan, penderitaan, kesengsaraan, ratap tangis dan putus asa. Para bhikkhu, dapatkah anda sekalian bergantung pada ketergantungan pandangan, menggantungkan diri pada ketergantungan pandangan bahwa tidak akan timbul kedukaan, penderitaan kesengsaraan, ratap tangis dan putus asa? Para bhikkhu, tetapi apakah anda sekalian melihat bahwa bergantung pada pandang ... putus asa?"
"Tidak, Bhante."
"Baik, para bhikkhu. Para bhikkhu, saya pun tidak melihat bahwa bergantung pada pandangan dengan bergantung pada ketergantungan pandangan bahwa tidak akan timbul kedukaan, penderitaan, kesengsaraan, ratap tangis dan autus asa. Para bhikkhu, apabila di sana terdapat pribadi dapatkah dikatakan: 'Ia termasuk ke dalam pribadiku'?
"Ya, Bhante."
“Para bhikkhu, atau apakah di sana terdapat apa yang termasuk ke pribadi, dapatkah dikatakan: 'Ia adalah pribadiku?'
"Ya, Bhante."
“Para bhikkhu, tetapi apabila pribadi dan apa yang termasuk ke pribadi, walaupun sebenarnya ada, tidak dapat dipahami, adalah bukan pandangan serta bubungan sebab akibat bahwa: 'Ini adalah dunia ini adalah pribadi, sesudah kematian aku akan menjadi permanen, tahan lama, kekal, tidak terkena hukum perubahan, aku akan berdiri tegak seperti akan masuk ke dalam kekekalan' adalah bukan demikian kebodohan total sempurna?"
"Bhante, bagaimana bisa tidak menjadi kebodohan total sempurna?"
"Para bhikkhu, apa yang anda sekalian pikirkan tentang hal ini, apakah bentuk material itu kekal atau tidak kekal?"
"Tidak kekal, bhante."
“Tidak kekal itu menyenangkan atau menyakitkan ?”
"Menyakitkan, bhante."
'Tetapi apakah pantas untuk menganggap bahwa apa yang tidak kekal itu, menyakitkan, patut terkena hukum perubahan, sebagai 'Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah pribadiku?’"
“Tidak, bhante."
“Para bhikkhu, apa yang anda sekalian pikirkan tentang ini: apakah perasaan (vedana) ... persepsi (sanna) ... bentuk-bentuk pikiran (sankhara) itu kekal atau tidak kekal? Para bhikkhu, apa yang kamu pikirkan tentang ini, apakah kesadaran itu kekal atau tidak kekal?"
"Tidak kekal, bhante."
"Sesuatu yang tidak kekal itu menyakitkan atau menyenangkan?"
"Menyakitkan, bhante."
"Tetapi apakah pantas untuk menganggap yang tidak kekal, menyakitkan, patut terkena hukum perubahan sebagai, 'Ini kepunyaanku, ini adalah aku, ini adalah pribadiku'?"
"Tidak, bhante."
"Para bhikkhu, mengapa bentuk materi apa pun, yang lalu, yang akan datang, sekarang, subyektif atau obyektif, [139] kasar maupun lembut, buruk atau baik, apakah ia jauh dekat, semua bentuk-bentuk materi haruslah dilihat sedemikian dengan kebijaksanaan sempurna sebagaimana itu apa adanya: ‘Ini adalah bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan peribadiku.’ Perasaan (vedana) apa pun... persepsi (sanna) apa pun ... bentuk-bentuk pikiran (sankhara) apa pun... kesadaran (vinnana) apa pun, baik yang lampau, yang akan datang, seorang, subyektif maupun obyektif, kasar maupun lembut, buruk atau baik, apakah ia berada jauh atau dekat, semua kesadaran haruslah dililiputi oleh kebijaksanaan sempuma sebagaimana itu apa adanya: ‘Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini bukan pribadiku."
"Para bhikkhu, seorang siswa yang telah diberi pelajaran oleh orang-orang suci, dengan melihat cara demikian itu, tidak menganggap bentuk-bentuk materi, tidak menganggap perasaan, tidak menganggap persepsi, tidak menganggap bentuk-bentuk pikiran, dan tidak menganggap kesadaran; dengan tidak menganggap itu, maka ia tidak bernafsu; melalui cara tidak mempunyai nafsu (maka) ia terbebaskan; di dalam kebebasan muncullah pengetahuan bahwa ia telah terbebas, dunia memahami: kelahiran dihancurkan, kelana-brahmana di bawah mendekatinya, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada lagi kelahiran setelah kehidupan ini."
“Para bhikkhu, bhikkhu semacam itu dikatakan telah mengangkat penghalang, telah mengisi lubang besar yang menganga, telah menarik atau mencabut pasakr, telah menarik keluar baut-baut, dan ia dikatakan telah meniadi orang suci, panjipanji dikibarkan rendah-rendah, beban telah diturunkan, tanpa belenggu-belenggu."
"Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu yang telah mengangkat penghalang itu? Para bhikkhu, dalam kaitan ini, kebodoban telah diletakkan oleh bhikkhu itu, dipotong habis hingga ke akar-akarnya, dibuat seperti pohon palem yang tumpul, dibuat sedemikian sehingga pohon palem itu tidak mungkin ada pada waktu yang akan datang, tidak dapat tumbuh lagi. Para bhikkhu, begitu pula seorang bhikkhu menjadi seseorang yang telah mengangkat atau menyisihkan halangan itu."
"Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu yang telah mengisi penuh-penuh sebuah lubang besar yang menganga? Para bhikkhu, dalam kaitan ini proses menjadi (bhava), yaitu berkelana di dalam kelahiran-kelahiran berulang-ulang kali telah dapat dilenyapkan oleh bhikkhu itu, dipotong hingga keakar-akarnya, dibuat seperti pohon palem yang tumpul, dibuat sedemikian sehingga pohon palem itu tidak mungkin ada pada waktu yang akan datang, tidak dapat tumbuh lagi. Para bhikkhu, begitu pula seorang bhikkhu menjadi seorang yang telah mengisi penuh lubang besar yang menganga."
"Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu yang telah menarik keluar baut itu? Para bhikkhu, dalam hubungan ini, lima belenggu (samyojana) rendah dapat dilenyapkan oleh bhikkhu itu ... dibuat sedemikian sehingga pohon palem itu tidak mungkin ada pada waktu yang akan datang, dan tidak dapat tumbuh lagi. Para bhikkhu, begitu pula seorang bhikkhu menjadi orang yang telah menarik ke luar baut-baut itu."
"Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu dapat menjadi suci, panji-panji dikibarkan rendah-rendah, beban diturunkan, tanpa belenggu-belenggu? Para bhkkhu, dalam kaitan ini, kesombongan tentang adanya 'aku' haruslah dilenyapkan oleh bhikkhu itu, dipotong hingga ke akar-akarnya, dibuat seperti pohon palem tumpul, dibuat sedemikian hingga pohon palem itu tidak mungkin ada pada waktu yang akan datang, dan tidak dapat tumbuh lagi. Para bhikkhu, begitu pula seorang bhikkhu menjadi suci, panji-panji dikibarkan rendah, beban diturunkan, tanpa belenggu-belenggu."
"Para bhikkhu, apabila pikiran dari bhikkhu telah terbebaskan demikian, maka para deva dengan Inda, para Brahma dengan Pajapati, tidak akan berhasil dalam pencarian mereka apabila mereka berpikir: 'Ini adalah kesadaran diskriminatif yang melekat kepada Tathagata.’ Apa alasannya? Para bhikkhu, saya nyatakan di sini dan sekarang bahwa seorang Tathagata tak dapat ditelusuri."
"Para bhikkhu, walaupun saya adalah seorang yang berkata demikian, yang menunjukkan demikian, namun ada beberapa pertapa dan Brahmana yang salah mewakili diriku secara sadar tidak benar, samar-samar, palsu, tidak sesuai dengan kenyataan, dan mereka berkata: 'Petapa Gotama adalah seseorang nihilis. Beliau mengatakan untuk memotong, menghancurkan, dan tidak ada lagi kelompok kehidupan yang muncul.’ Para bhikkhu, saya tidak seperti itu. Saya seperti ini, yaitu saya tidak mengatakan hal itu, karena hal itu tidak, samar-samar, palsu, dan tidak sesuai dengan kenyataan ketika mereka berkata: 'Petapa Gotama adalah seorang nihilis, 'Petapa Gotama adalah seseorang nihilis. Ia menggariskan peraturan (ajaran) memotong, menghancurkan, dan tidak ada lagi kelompok kehidupan yang muncul.’ Para bhikkhu, saya dahulu seperti juga halnya sekarang, hanya menggariskan peraturan (ajaran) tentang adanya dukkha serta melenyapkan dukkha itu. Para bhikkhu, apabila berkenaan dengan hal ini, ada orang-orang meyumpahi, memaki, menjengkelkan Sang Tathagata; namun dalam diri Sang Tathagata tidak terdapat kejengkelan, tidak ada kesedihan, tidak ada ketidakpuasan pikiran berkenaan dengan mereka itu."
"Para bhikkhu, apabila berkenaan dengan hal ini, ada orang-orang lain memuja, menghargai, menghormat serta memuliakan Tathagata, di dalam diri Tathagata tidaklah terdapat rasa gembira, tidak terdapat rasa senang, tidak ada kegirangan dari pikiran berkenaan dengan mereka itu. Para bhikkhu, apabila berkenaan dengan ini orang-orang lain memuja, menghormat, menghargai, serta menjunjung tinggi Tathagata; berkenaan dengan mereka itu, maka Tathagata menyadari: 'Ini adalah hal-hal yang dahulu telah diketahui dengan baik, tugas-tugas seperti itu harus saya kerjakan.’ Para bhikkhu, ini merupakan alasan bahwa walaupun ada orang-orang mencaci maki, mencela dengan kasar dan menjengkelkan anda sekalian, maka seharusnya dalam diri anda tidak ada pikiran kebencian, kesedihan, ketidakpuasan terhadap mereka. Para bhikkhu, apa alasannya sekalipun orang-orang akan memuja dirimu. menghormat, menghargai, memuliakan dirimu, seharusnya di dalam dirimu tidak ada pikiran senang, gembira dan girang berkenaan dengan mereka. Para bhikkhu, apa alasannya, sekalipun ada oran-gorang akan memuja, menghormat, memandang tinggi, memuliakan dirimu, maka anda sekalian harus menyadari: “Ini adalah hal-hal yang dahulu telah diketahui dengan baik, tugas-tugas seperti itu harus saya kerjakan.”
"Para bhikkhu, mengapa (pandangan) ‘apa yang bukan milikmu,’ dilenyapkan. Dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama. Para bhikkhu, apa yang bukan milikmu itu? Para bhikkhu, ‘jasmani (rupa) adalah bukan milikmu’, lenyapkanlah, dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama. Para bhikkhu, ‘perasaan (vedana) adalah bukan milikmu,’ lenyapkanlah, dengan lenyapkannya akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama. Para bhikkhu, ‘pencerapan (sanna) adalah bukan milikmu’; lenyapkanlah, dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagianmu untuk masa yang lama. Para bhikkhu, ‘bentuk-bentuk pikiran (sankhara) adalah bukan milikmu’; lenyapkanlah, dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama. Para bhikkhu, ‘kesadaran (vinnana) adalah bukan milikmu’; lenyapkanlah, dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejabteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama.
Para bhikkhu, bagaimana pendapat anda sekalian tentang hal ini? Apabila seseorang akan mengumpul, membakar atau akan berbuat sesuatu yang ia senangi dengan rumput, ranting-ranting, cabang-cabang serta daun-daun di Jetavana ini, apakah akan muncul dalam dirimu: “Orang itu akan mengumpulkan kita, akan membakar kita, ia akan berbuat apa yang ia senangi terhadap kita."
"Tidak, Bhante. Mengapa demikian? Bhante, sesungguhnya (kita) adalah bukan pribadi kita juga bukan termasuk pribadi."
"Para bhikkhu, sekalipun demikian, apa yang bukan milikmu, lenyapkanlah; dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama. Para bhikkhu, apa yang bukan milikmu itu? Para bhikkhu, ‘jasmani (rupa) adalah bukan milikmu’; lenyapkanlah, dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama. Para bhikkhu, perasaan (vedana) adalah bukan milikmu’; lenyapkanlah, dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama. Para bhikkhu, pencerapan (sanna) bukan milikmu’; lenyapkanlah, dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama. Para bhikkhu, bentuk-bentuk pikiran (sankhara) bukan milikmu’; lenyapkanlah, dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama. Para bhikkhu, kesadaran, (vinnana) adalah bukan milikmu’; lenyapkanlah, dengan melenyapkannya itu akan menyebabkan kesejahteraan serta kebahagiaanmu untuk masa yang lama."
"Para bhikkhu, demikianlah Dhamma telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan. Karena dhamma telah telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan, maka para bhikkhu arahat yang telah melenyapkan semua kotoran bathin (asava), telah mencapai kesempurnaan, telah melaksanakan pekerjaan yang harus dilakukan, menurunkan beban, mencapai tujuan, telah menghancurkan belenggu kelahiran, memiliki pengetahuan sempurna, memiliki bathin yang bebas dari semua noda bathin (kilesa)."
"Para bhikkhu, demikianlah Dhamma telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan. Karena dhamma telah telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan, maka para bhikkhu yang telah melenyapkan lima belenggu (samyojana) rendah, mereka semua (anagami) yang akan terlahir secara spontan (opapatika), di alam kelahiran (alam Suddhavasa) mereka itu, mereka akan mencapai nibbana di situ, dan mereka tidak akan terlahir kembali di dunia.
"Para bhikkhu, demikianlah Dhamma telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan. Karena dhamma telah telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan, maka para bhikkhu yang telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana) dan melemahkan belenggu nafsu indera (ruparaga) dan ketidaksenangan (patigha), mereka adalah sakadagami, yang hanya kembali sekali lagi di dunia ini dan (pada kehidupan itu) mereka melenyapkan dukkha.”
“Para bhikkhu, demikianlah Dhamma telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan. Karena dhamma telah telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan, maka para bhikkhu yang telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana) adalah para sotapanna, yang tidak akan pernah terlahir kembali di alam menyedihkan, dan yang pasti akan mencapai penerangan sempurna (sambodhi).”
“Para bhikkhu, demikianlah Dhamma telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan. Karena dhamma telah telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan, maka para bhikkhu yang telah berusaha melaksanakan dan meyakini dhamma mengarah pada penerangan sempurna.”
“Para bhikkhu, demikianlah Dhamma telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan. Karena dhamma telah telah saya babarkan dengan sempurna, bentangkan, jelaskan, terangkan tanpa ada yang disembunyikan, maka barangsiapa yang memiliki keyakinan dan kasih sayang kepada saya akan terlahir di surga.,
Demikian kata-kata Sang Bhagava. Para bhikkhu senang dan gembira dengan apa yang diuraikan Sang Bhagava.
VAMMIKASUTTA
(23)
Demikianlah telah kudengar:
Suatu ketika Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi, sedangkan Bhikkhu Kassa¬pa Yunior sedang berada di hutan orang-orang Buta. Ketika malam menjelang pagi sesosok dewa berkulit cemer¬lang, menerangi seluruh hutan Orang-orang Buta, mendekati Bhikkhu Kassapa yunior dan berdiri di samping. Dengan berdiri di situ, dewa ini berkata kepada Bhikkhu Kassa¬pa yunior: "Petapa, petapa, sarang semut ini berasap di malam hari dan terbakar di siang hari. Seorang brahmana berkata: "Bawalah alat orang pandai, galilah." Orang yang pandai menggali ketika telah membawa alat, lalu melihat baut dan berkata: "Baut yang dipuja-puja." Sang Brahmana berkata lagi: "Buang baut, mulailah menggali dengan membawa alat, lalu melihat katak dan berkata: "Katak yang dipuja-puja." Sang Brahmana berkata: "Buanglah jalan kecil yang bercabang, galilah, orang pandai, bawalah alat." Orang pandai menggali ketika telah membawa alat, lalu melihat saringan dan berkata: "Saringan yang dipuja-puja." Brahmana berkata: Orang pandai menggali ketika telah membawa alat, lalu melihat kura-kura dan berkata: Buang kura-kura, galilah orang pandai, bawalah alat." Orang pandai menggali ketika telah membawa alat lalu melihat rumah jagal dan berkata: "Buang rumah jagal, galilah, orang pandai, bawalah alat." Orang pandai menggali ketika telah membawa alat, lalu melihat sepotong daging dan berkata: "Sepotong daging yang dipuja-puja." Sang Brahmana berkata: "Sepotong daging yang dipuja-puja." Sang Brahmana berkata." Buang sepotong daging, galilah orang pandai, bawalah alat, lalu melihat ular kobra dan berkata: "Ular kobra yang dipuja-puja." Sang Brahmana berkata:L "Biarkan ular kobra itu, jangan disentuh, hormatilah." Jika anda, kpetapa, setelah mendekati Sang Bhagava lalu menanyakan masalah ini, maka anda dapat mengingat apa pun yang Sang Bhagava jelaskan. Petapa, saya tidak melihat seorang pun di dunia in, apakah di antara para dewa, Mara, Brahma, atau makhluk apa pun, Brahmana, manusia dewa, yang dapat mengalihkan pikirannya untuk mengu¬rakan secara terperinci masalah ini selain Sang Tathagata mendengar (ajaran) dari mereka."
Begitulah uraian sang dewa, yang kemudian lenyap.
Kemudian Yang Mulia Kassapa yunior mendekati Sang Bhagava pada malam nan larut. Setelah dekat, diberinya hormat pada Sang Bhagava, lalu duduk dalam jarak yang hormat. Sete¬lah duduk, Yang Mulia Kassapa yunior berkata pada Sang Bhaga¬va: "Selama malam ini, Sang Bhagava, ketika malam menjelang pagi, seorang dewa berkulit gemerlapan, menerangi seluruh hutan Orang-orang Buta, mendekati saya. Setelah. Setelah dekat, ia berdiri di satu sisi. Ketika berdiri di satu sisi, Sang Bhagava, dewa tersebut berkata kepada saya: "Petapa, petapa, sarang semut ini berasap di malam hari dan terbakar di siang hari. Seorang Brahmana berkata: "Bawalah alat, orang pandai, galilah ..." atau seseorang yang telah pernah menden¬gar ajaran dari mereka." Inilah yang sang deva katakan sebe¬lum lenyap.
Sekarang, Sang Bhagava, apakah sarang semut itu, apakah yang berasap di malam hari, apakah yang terbakar di siang hari, siapakah Brahmana itu, siapakah orang pandai itu, apakah alat itu, apakah menggali itu, apakah orang pandai itu, apakah alat itu, apakah jalanan kecil yang bercabang itu, apakah saringan itu, apakah kura-kura itu, apakah rumah jagal itu, apakah sepotong daging itu, apakah kobra itu?"
"Sarang semut, petapa, adalah sinonim dari tubuh yang terbentuk oleh empat unsur besar, berasal dari ayah dan ibu, diberi makanan susu asam, sifat alamiahnya gergesek secara konstan, bekerja keras, berhenti, dan tercerai-berai.
Petapa, apa pun yang seseorang pikirkan dan renungkan sepanjang malam menenai hal-hal yang terjadi di siang hari, inilah yang disebut berasap di malam hari.
Petapa, hal-hal apa pun yang dialami sepanjang hari, apakah oleh badan, ucapan, maupun pikiran, akan direnungkan dan direpleksi terhadap mereka sepanjang malam. Inilah yang disebut terbakar di saing hari.
Petapa, seorang Brahmana, adalah sinomim dari Tathaga¬ta, orang yang sempurna, orang yang telah benar-benar sadar.
Orang pandai, petapa, adalah sinonim dari petapa yang menjadi pemula.
Alat, petapa, adalah sinonim dari kebijaksanaan berda¬sarkan intuisi yang suci.
Menggali, petapa, adalah sinonim dari hasil energi.
Baut, petapa, adalah sinonim dari ketidakpedulian. Buanglah baut, buanglah ketidakpedulian, galilah orang pan¬dai, bawalah alat. Inilah artinya.
Katak, petapa, adalah sinonim dari pergolakan kemara¬han. Buanglah katak, lenyapkanlah pergolakan kemarahan, galilah orang pandai, bawalah alat. Inilah artinya.
Jalan kecil yang bercabang, petapa sinonim dari kebin¬gungan. Buanglah jalan kecil yang bercabang, lenyapkan kebingungan, galilah, orang pandai, bawalah alat. Inilah artinya.
Saringan, petapa, adalah sinonim dari lima rintangan: Rintangan dari keinginan pada nafsu indera, rintangan dari kemauan jahat ... malas dan lesu ... gelisah dan cemas, dan kebigungan/keragu-raguan. Buanglah saringan, lenyapkan lima rintangan, galilah, orang pandai, bawalah alat. Inilah arti¬nya.
Kura-kura, petapa, adalah sinonim dari lima kelompok keserakahan. Diuraikan: untuk kelompok keserakahan setelah materi terbentuk, untuk kelompok keserakahan setelah pera¬saan, untuk kelompok keserakahan setelah pencerapan, untuk kelompok keserakahan setelah kesadaran. Buang kura-kura, lenyapkan lima kelompok keserakahan, galilah, orang pandai, bawalah alat. Inilah artinya.
Rumah jagal, petapa, adalah sinonim dari lima pantai kesenangan indera; untuk bentuk-bentuk materi yang disadari oleh mata, disetujui, digemari, disukai, yang menarik, yang berhubungan dengan kesenangan indera, yang memikat; untuk suara-suara yang disadari oleh teling ... untuk bebauan yang disadari oleh lidah ... untuk sentuhan yang disadari oleh jasmani, disetujui, digemari, disukai, yang menarik, berhu¬bungan dengan kesenangan indera, yang memikat. Buang rumah jagal, lenyapkan lima pantai kesenangan indera. Buang rumah jagal, lenyapkan lima pantai kesenangan indera, galilah, orang pandai, bawalah alat. Inilah artinya.
Sepotong daging, petapa, adalah sinonim dari nafsu kesenangan. Buang sepotong daging, lenyapkan nafsu kesenan¬gan, galilah orang pandai, bawalah alat. Inilah artinya.
Ular kobra, petapa, adalah sinonim dari petapa yang kebusukannya telah dihancurkan. Biarkan ular kobra itu, jangan disentuh, hormatilah kobra itu. Inilah artinya."
Demikianlah khotbah dari Sang Bhagava. Sangat gembira Yang Mulia Kassapa yunior, gembira mendengar apa yang diurai¬kan Sang Bhagava.
RATHAVINITA SUTTA
( 24 )
Pendahuluan
Sutta yang menggambarkan secara jelas dengan memakai kiasan cara bagai¬mana Dhamma seharusnya dipraktikkan. Di waktu yang lampau sampai sekarang di beberapa tempat, suatu perjalanan yang panjang yang harus ditempuh dengan cepat dapat dilakukan hanya dengan sejumlah kuda atau sejumlah kereta kuda. Dari kereta yang pertama yang mengangkut orang dari sebagian perjalanannya, orang itu turun dari kereta yang pertama mencari kereta yang kedua yang sedang menunggu. Kemudian dengan cara yang sama menyucikan kebajikan takkala diprak¬tikkan secara penuh akan membawa seseorang mencapai kesucian, dan begitu seterusnya dengan lima tahap kesucian lainnya. Apakah ini yang dimaksud oleh seorang penganut Buddha tidak harus bermeditasi sampai perbuatan atau kebaji¬kan moralnya cukup suci (murni) ? Tidak, kiasan seharusnya tidak ditekankan terlalu jauh. Bila sesorang dengan serius berusaha untuk, menyucikan diri dengan mengikuti / menjalankan ajaran - lima sila, - delapan sila, sepuluh sila atau 227 sila, kemudian orang boleh berusaha bermeditasi - dan mencapai sukses. Tetapi bila menyempurnakan ajaran kesucian telah tiba kemudian pikiran kita akan memasuki meditasi yang mendalam. Tak ada satupun dari tahap kesucian ini dapat dilompati. Suara-suara dapat didengar disana-sini di dunia penganut agama Buddha, suara-suara orang terpelajar dan intelektual yang menyatakan secara tidak langsung bahwa tidak perlu ada meditasi dan pandangan kesucian akan tiba bila pikiran seseorang dalam kehidupan sehari-hari menurut kategori kelompok Abhidhamma cukup kuat. Suatu pandangan yang sesuai bagi orang-orang yang tidak ingin berusaha bermeditasi ! ( pandangan-pandangan itu selalu " cocok " bagi orang yang pempunyai pandangan demikian, karena mereka menge¬luarkan keinginannya yang tersembunyi ). Tetapi adalah tidak mungkin bahwa pandangan mengenai kesucian dan tahap-tahap yang lebih tinggi dapat dicapai tanpa membuat usaha pada saat duduk lama atau berjalan lama, sepanjang waktu dalam pengasingan dan penuh kesadaran. Jadi bila orang mendengar suatu pernya¬taan "jalan pintas" ingatlah pada kiasan Kereta estafet. Dan "jalan pintas" sering menghasilkan pengembaraan yang lama !
Sutta (24)
1. Demikianlah telah saya dengar:
Pada suatu kesempatan Sang Bhagava sedang tinggal di Rajagaha di Hutan Bambu, di Cagar Alam Tupai.
2. Kemudian sejumlah bhikkhu dari tanah kelahiran Yang Diberkahi yang telah melewatkan Musim Hujan (vasa) di sini mengunjungi Sang Bhagava, dan setelah memberikan penghormatan kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi. Ketika mereka telah berbuat demikian, Sang Bhagava bertanya kepada mereka : " Para bhikkhu, siapakah yang ada di tanah kelahiran-Ku yang dihargai oleh para bhikkhu dari tanah kelahiran-Ku, kawan-kawannya dalam hidup menyepi, dengan cara ini : Kepada para bhikkhu yang berkeinginan sedikit Beliau bicara menge-nai berkeinginan sedikit; Kepada para bhikkhu yang puas beliau bicara menge¬nai kepuasan; Kepada para bhikkhu yang hidup menyepi Beliau bicara mengenai hidup menyepi; Kepada para bhikkhu yang hidup menyepi dari masyarakat Beliau bicara mengenai hidup menyepi dari masyarakat ; Kepada para bhikkhu yang giat beliau bicara mengenai kegiatan ; Kepada para bhikkhu yang sempurna dalam kebajikan Beliau bicara mengenai kesempurnaan dalam kebajikan ; Kepada para bhikkhu yang sempurna dalam konsentrasi Beliau bicara mengenai kesempurnaan dalam konsentrasi; Kepada para bhikkhu yang sempurna dalam pengertian beliau bicara kesempurnaan dalam pengertian ; Kepada para bhikkhu yang sempurna dalam pembebasan Beliau bicara mengenai kesempurnaan dalam pembebasan ; Kepada para bhikkhu yang sempurna dalam pengertian dan pengetahuan Beliau bicara mengenai kesempurnaan dalam pengertian dan pengetahuan ; siapakah yang mem¬beri nasihat, informasi, perintah, dorongan rangsangan dan anjuran teman-temannya dalam kehidupan bertapa?"
"Yang Mulia, Yang Mulia Mantaniputta menyebut Punna dihargai di tanah kelahiran oleh para bhikkhu dari tanah kelahiran itu, teman-temannya dalam kehidupan bertapa, dengan cara ini : kepada yang berkeinginan sedikit, beliau bicara kepada para bhikku mengenai keinginan yang sedikit .... rangsangan dan anjuran teman-temannya dalam kehidupan bertapa.
3. Sekarang, pada kesempatan itu Bhante Sariputta duduk dekat Sang Bhagava. Kemudian Bhante Sariputta berpikir : Yang Mulia Punna Mantaniputta beruntung, ia beruntung besar sehingga teman-temannya yang bijak dalam kehidupan bertapa memujinya dengan sempurna dalam menjawab pertanyaan Sang Guru. Sekarang, andaikata pada suatu waktu atau kesempatan lain, kita akan bertemu dengan Yang Aria Punna Mantaniputta dan bercakap-cakap dengannya ?"
4. Kemudian, ketika Sang Bhagava berdiam di Rajagaha selama Beliau ingin¬kan, Beliau berangkat menuju Savatthi dengan langkah yang tenang. Dengan langkah yang mantap, Beliau tiba di Savatthi. Di mana Beliau tinggal di Hutan Jeta, di Taman Anathapindika.
5. Bhante Aria Punna Mantaniputta mendengar : "Sang Bhagava tampaknya telah tiba Savatthi dan tinggal di Hutan Jeta, di Taman Anathapindika." Kemudian Yang Aria Punna Mantaniputta menyiapkan kamar istirahatnya dengan rapi dan mengambil jubah luar dan mangkoknya pergi menuju Savatthi (dan ia pergi) menuju Hutan Jeta, Taman Anathapindika, untuk mengunjungi Sang Bhagava.
Setelah memberi hormat kepada Beliau, ia duduk di satu sisi. Setelah ia berbuat demikian Sang Bhagava memerintahkan, membangkitkan dengan menganjur¬kannya berdiskusi mengenai Dhamma. Kemudian karena merasa puas dan senang dengan ajaran Sang Bhagava, Yang Aria Punna Mantaniputta bangkit dari tempat duduknya, dan memberi hormat kepada Sang Bhagava, dengan Beliau tetap di posisi kanannya, ia berangkat menuju Hutan Manusia Buta untuk beristirahat.
6. Kemudian seorang bhikkhu mengunjungi Yang Aria Sariputta dan berkata kepada beliau : "Kawan Sariputta, Bhikkhu Punna Mantaniputta yang anda kagumi baru saja diperintahkan, didesak, dibangkitkan dan dianjurkan oleh Sang Bhaga¬va berdiskusi mengenai Dhamma dan merasa puas dan senang dengan ajaran Sang Bhagava, ia sekarang telah bangkit dari tempat duduknya, dan memberi hormat kepada beliau, dengan meninggalkan beliau di sisi kanannya, ia pergi menuju Hutan Manusia Buta ( ) untuk beristirahat."
7. Kemudian Yang Mulia Sariputta dengan cepat mengambil tikar dan mengikuti di belakang Yang Aria Punna Mantaniputta, ia terus mengikutinya. Kemudian Yang Aria Punna Mantaniputta memasuki Hutan Manusia Buta ( ) dan duduk beristirahat di bawah pohon. Dan Yang Aria Sariputta memasuki Hutan Manusia Buta ( ) dan duduk beristirahat di bawah pohon.
8. Kemudian, pada waktu sore hari, Yang Aria bangun dari meditasi, dan mengunjungi Punna Mantaniputta dan saling memberi hormat dengannya, dan ketika pembicaraan yang penuh ramah tamah dan sopan santun selesai, ia duduk di satu sisi. Ketika selesai melakukan hal itu, ia berkata kepada Yang Aria Punna Mantaniputta :
9. "Apakah kehidupan bertapa hidup di bawah Sang Bhagava, kawan(avuso) ?"
"Ya, kawan."
"Tetapi, kawan, apakah untuk tujuan kesucian kebajikan itu sehingga kehidupan bertapa hidup di bawah Sang Bhagava ?"
"Tidak, kawan."
"Kemudian apakah itu untuk tujuan penyucian pikiran?"
"Tidak, kawan."
"Kemudian apakah itu untuk tujuan penyucian pandangan ?"
"Tidak, kawan."
"Kemudian apakah itu untuk tujuan penyucian dengan mengatasi keraguan?"
"Bukan, kawan."
"kemudian apakah itu untuk tujuan penyucian dengan pengetahuan dan pandangan mengenai apa yang ada dan apa yang bukan ajaran itu ?"
"Bukan, kawan."
"Kemudian apakah itu untuk tujuan penyucian dengan pengetahuan dan pandangan mengenai jalan itu ?"
"Bukan, kawan."
"Kemudian apakah itu untuk tujuan penyucian dengan pengetahuan dan pandangan ?"
"Tidak, kawan."
"Kawan , ketika ditanya: "Selain dari itu, kawan, apakah itu untuk tujuan penyucian sehingga kehidupan bertapa hidup di bawah Sang Bhagava", anda menjawab: "Tidak, kawan", dan ketika ditanya: "Kemudian apakah itu untuk tujuan penyucian pikiran ... penyucian pandangan ... penyucian dengan mengatasi keraguan ... penyucian dengan pengetahuan dan pandangan apa yang ada dan apa yang bukan ajaran itu ... penyucian dengan pengetahuan dan pandangan Jalan itu ... penyucian dengan pengetahuan dan pandangan " anda menjawab: "Tidak, kawan". Kemudian untuk tujuan apakah kehidupan bertapa hidup di bawah Sang Bhagava ?"
10. Kawan, itu adalah tujuan Nibbana dengan melalui tidak melekat sehingga kehidupan bertapa hidup di bawah Sang Bhagava.
11. "Tetapi, kawan, apakah penyucian kebajikan Nibbana dengan melalui tidak melekat ?"
"Tidak, kawan."
"Tetapi, kawan, apakah penyucian pikiran Nibbana dengan melalui tidak melekat ?"
"Tidak, kawan."
"Kemudian apakah penyucian pandangan Nibbana dengan melalui tidak melekat ?"
"Tidak, kawan."
"Kemudian apakah penyucian mengatasi keraguan dengan melalui tidak melekat ?"
"Tidak, kawan."
"Kemudian apakah penyucian dengan pengetahuan dan pandangan mengenai apa yang ada dan apa yang bukan Ajaran Nibbana dengan melalui tidak melekat ?"
"Tidak, kawan."
"Kemudian apakah penyucian dengan pengetahuan dan pandangan mengenai jalan Nibbana dengan melalui tidak melekat ?"
"Tidak, kawan."
"Kemudian apakah penyucian dengan pengetahuan dan pandangan dengan melalui tidak melekat ?"
"Tidak, kawan."
"Ketika ditanya: "Selain dari, kawan, apakah penyucian kebajikan Nibbana dengan melalui tidak melekat ?" Anda menjawab: "Tidak, kawan", dan ketika ditanya: "Kemudian apakah penyucian pikiran ... penyucian pandangan ... penyu¬cian dengan mengatasi keraguan ... penyucian dengan pandangan dan pengeta¬huan mengenai Jalan ... penucian pengetahuan dan pandangan Nibbana dengan melalui tidak melekat?" anda menjawab: "Tidak, kawan" . Tetapi bagaimanakah seharusnya memahami arti dari pertanyaan-pertanyaan itu ?"
12. "Kawan, bila Sang Bhagava telah menjabarkan penyucian kebajikan sebagai Nibbana dengan melalui tidak melekat, Beliau mungkin akan menjabarkan apa yang masih disertai dengan kemelekatan sebagai Nibbana dengan melalui tidak mele¬kat. Bila Sang Bhagava telah menjabarkan penyucian pikiran ... penyucian pandangan ... penyucian dengan mengatasi keraguan ... penyucian dengan penge¬tahuan dan pandangan mengenai apa yang ada dan bukan Ajaran ... penyucian dengan pengetahuan dan pandangan sebagai NIbbana dengan melalui tidak melekat, Beliau mungkin akan telah menjabarkan apa yang masih disertai kemelekatan sebagai Nibbana dengan melalui tidak melekat. Dan bila apa yang tanpa Dhamma adalah Nibbana dengan melalui tidak melekat, kemudian orang biasa mungkin akan telah mencapai Nibbana, karena orang biasa berada tanpa Dhamma ini."
13. Seperti itulah, kawan, saya akan memberi anda kiasan, karena seorang yang bijak mengerti dengan memakai kiasan arti dari apa yang dikatakan itu. Andaikata Raja Pasenadi dari Kosala selagi tinggal di Savatthi mempunyai sejumlah urusan penting yang harus diselesaikan di Saketa, dan upaya antara Savitthi dan Saketa tujuh kereta lari beranting disiapkan untuknya; dan kemud¬ian Raja Pasenadi dari Kosala keluar dari dalam pintu istana di Savatthi dan naik kereta yang pertama; dan dengan memakai kereta pertama ia tiba di kereta yang kedua; dan dengan memakai kereta kedua ia tiba di kereta ketiga ... dengan memakai kereta ketiga ia tiba di kereta keempat ... dengan memakai kereta keempat ia tiba di kereta kelima ... dengan memakai kereta kelima ia tiba di kereta keenam ... dengan memakai kereta keenam ia tiba di kereta ketujuh , dan dengan kereta ketujuh ia telah tiba di dalam pintu istana di Saketa. Kemudian, ketika ia telah tiba di dalam pintu istana, kawan-kawan dan kenalannya, sanak keluarganya, bertanya kepadanya : "Tuan, apakah anda datang dari Savatthi dengan memakai kereta ini ke dalam pintu istana di Saketa?" Kemudian bagaimana Raja Pasenadi harus menjawab agar pertanyaannya benar?"
"Agar jawabannya benar, kawan, ia akan menjawab demikian: "Selagi saya tinggal di Savatthi, saya mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan di Saketa. Dan antara Savatthi dan Saketa disiapkan tujuh kereta beranting untuk saya. Kemudian saya keluar dari dalam pintu istana di Savatthi dan naik kereta yang pertama dan dengan memakai kereta yang pertama saya tiba di kereta kedua ... dan dengan memakai kereta ketujuh saya tiba di dalam pintu istana di Saketa . "Agar jawabannya benar ia harus menjawab demikian."
14. Begitu juga, kawan , penyucian kebajikan mempunyai penyucian pikiran sebagai tujuannya; penyucian pikiran mempunyai penyucian pandangan sebagai tujuannya; penyucian pandangan mempunyai penyucian dengan mengatasi keraguan sebagai tujuannya; penyucian dengan mengatasi keraguan mempunyai penyucian dengan pengetahuan dan pandangan mengenai apa yang ada dan bukan Ajaran seba¬gai tujuannya; penyucian dengan pengetahuan dan pandangan mengenai apa yang ada dan bukan Ajaran mempunyai penyucian pengetahuan dan pandangan mengenai Jalan sebagai tujuannya; penyucian dengan pengetahuan dan pandangan mengenai Jalan mempunyai penyucian dengan pengetahuan dan pandangan sebagai tujuannya; penyucian dengan pengetahuan dan pandangan mempunyai Nibbana dengan melalui tidak melekat sebagai tujuannya. Itu adalah tujuan Nibbana dengan melalui tidak melekat sehingga kehidupan bertapa hidup dibawah Sang Bhagava.
15. Ketika mendengar penjelasan ini, Yang Aria Sariputta bertanya pada Yang Aria Punna Mantaniputta : "Siapakah nama Yang Aria, dan bagaimana kawan-kawannya dalam kehidupan bertapa mengenalnya ?"
"Nama saya Punna, kawan, dan kawan-kawan dalam kehidupan menyepi menge¬nal saya sebagai Mantaniputta."
"Bagus sekali, kawan, penjelasan anda mengagumkan; setiap pertanyaan yang sulit telah dijawab dengan sempurna oleh Yang Aria Punna Mantaniputta sebagai murid terpelajar yang mengetahui Ajaran Sang Guru sebagaimana adanya. Suatu manfaat bagi kawan-kawannya dalam hidup menyepi, suatu manfaat besar bagi mereka, sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk mengenalnya dan meng-hormatinya. Dan seandainya dengan menutup kepala mereka dengan bantal sambil nengingat Yang Aria Mantaniputta sehingga kawan-kawannya dalam kehidupan menyepi mendapat kesempatan mengenalnya dan menghormatinya, mereka akan menda¬pat manfaat, mereka akan mendapat manfaat besar. Dan kita mendapat manfaat, kita mendapat manfaat besar, karena kita mempunyai kesempatan untuk mengenal Yang Aria Punna Mantaniputta dan menghormatinya.
16. Ketika mendengar penjelasan ini, Yang Aria Punna Mantaniputta bertanya kepada Yang Aria Sariputta : "Siapakah nama anda Yang Aria, dan bagaimanakah kawan-kawan dalam pertapaan mengenal anda ?"
"Nama saya Upatissa, kawan, dan kawan-kawan dalam kehidupan bertapa mengenal saya sebagai Sariputta."
"Benar-benar, kawan , kami tidak mengetahui bahwa kami sedang bercakap-cakap dengan Yang Aria Sariputta, murid yang menyerupai Sang Guru. Seandainya kami tahu bahwa banthe adalah Yang Aria Sariputta, kami seharusnya tidak akan memberi penjelasan demikian banyak. Bagus sekali, kawan, bagus sekali; setiap pertanyaan sulit telah dikatakan dengan sempurna oleh Yang Aria Sariputta sebagai murid terpelajar yang mengenal ajaran Sang Guru sebagaimana adanya. Kawan-kawannya yang hidup bertapa beruntung, mereka beruntung besar, karena mereka mempunyai kesempatan untuk mengenalnya dan menghormatinya. Dan seandai¬nya dengan menutup kepala mereka dengan bantal sambil mengingat Yang Aria Sariputta dalam hidup menyepi sehingga mereka mendapat kesempatan untuk mengenalnya dan menghormatinya, mereka akan mendapat manfaat besar, mereka mendapat manfaat besar, kita mendapat manfaat besar, karena kita mempunyai kesempatan mengenal Yang Aria Sariputta dan menghormatinya."
Begitulah dua Naga (Arahat) besar saling mengagumi penjelasan masing-masing.
NIVAPASUTTA
( 25 )
Demikianlah telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Di sana Sang Buddha menyapa para bhikkhu, sambil berkata: "Para bhikkhu". "Ya, Bhante," jawab mereka. Kemudian Sang Buddha berkata:
"Para bhikkhu, seorang petani tidak menanam untuk sekawanan kijang, sambil berpikir: 'Biarlah sekawanan kijang ini, menikmati hasil panen dari apa yang saya taburkan, sejahtera untuk waktu yang lama.' Para siswa, penabur bibit tanaman untuk sekawanan kijang akan berpikir: 'Sekawanan kijang ini akan memakan tanaman yang mengelilingi pagar sebagai hasil dari tanaman yang saya taburkan; mengelilingi pagar dan memakan tanaman itu, mereka akan menjadi gembira; mereka melakukan seperti apa yang ingin dikerjakan oleh seseorang di tengah-tengah hasil panen itu.'”
Para bhikkhu, kemudian sekawanan kijang pertama memakan tanaman yang mengelilingi pagar dari hasil panen yang ditaburkan oleh penabur itu; dengan mengelilingi pagar dan memakan tanaman, mereka menjadi gembira; dengan tidak berhati-hati mereka melakukan apa yang harus diker-jakan sesuai dengan kemauan penabur di tengah-tengagh panen itu. Para bhikkhu, dengan demikian kawanan kijang yang pertama itu tidaklah luput dari kekuasan penabur itu.
Para bhikkhu, kawanan kijang kedua menyadari: 'Sekawanan kijang pertama telah memakan tanaman yang mengelilingi pagar dari tanaman yang ditaburkan oleh petani; mereka ini, setelah memakan tanaman yang mengelilingi pintu masuk mereka menjadi gembira; karena gembira, mereka menjadi ceroboh; dengan menjadi itu mereka menjadi apa yang harus dikerjakan sesuai dengan kemauan sang petani di tengah-tengah hasil panen itu. Jadi kawanan itu, Seandainya kita semua harus makan dari memakan hasil panen itu; dan berpantang dari kenikmatan di mana terdapat ketakutan itu, telah masuk ke dalam bentangan hutan belantara, harus tinggal di sana?' Demikian semua berpantang dari memakan hasil panen; dan berpantang menikmati sesuatu di mana ada rasa ketakutan, telah pergi masuk ke dalam bentangan hutan belantara, mereka tinggal di sana. Dalam bulan-bulan terakhir dari musim panas rumput dan air habis, dan tubuh-tubuh mereka menjadi sangat kurus sehingga kekuatan dan energi mereka berkurang, dan dengan kekuatan dan energi mereka yang berkurang itu mereka datang kembali ke panenan tersebut ditaburkan oleh petani; mengelilingi atau mendekati pintu masuk mereka tana¬man-tanaman ternak di sana; dengan mendekati atau mengelilingi pintu masuk serta memakan tanaman di sana, mereka menjadi gembira; karena gembira mereka menjadi ceroboh; dengan menjadi ceroboh itu, mereka menjadi apa yang harus dikerjakan sesuai dengan kemauan dari si petani di tengah-tengah hasil panen. Jadi para bhikkhu, sekawanan kijang juga tidak dapat terluput dari kekuasaan si petani itu.
Mereka memakan tanaman-tanaman ternak di sana; dengan mendekati atau mengelilingi pintu masuk serta memakan tanaman, mereka menjadi gembira; karena gembira mereka menjadi ceroboh, dengan menjadi ceroboh itu, mereka menjadi apa yang harus dikerjakan sesuai dengan kemauan dari si petani ditengah-tengah hasil panen. Jadi, para bhikkhu, sekawanan kijang kedua juga tidak dapat terluput dari kekuasaan si petani itu.
Kemudian, para bhikkhu, sekawanan kijang ketiga menyadari: 'Sekawanan kijang pertama telah memakan tananam ternak yang mengelilingi pintu masuk ... jadi sekawanan kijang pertama menyadari demikian: "Sekawanan kijang pertama telah memakan tanaman ternak yang mengelilingi pintu masuk ... Jadi sekawanan kijang pertama ini tidak bisa terluput dari kekuasaan si petani itu. Seandai¬nya kita semua harus berpantang dari makan hasil panen; dan berpantang utnuk menikmati apa yang terdapat ketakutan, setelah pergi masuk ke dalam bentangan luas hutan belantara, apakah mereka harus tinggal di sana?" Dengan demikian semua dari mereka itu berpantang memakan hasil panen; dan berpantang dari menikmati apa yang terdapat ketakutan, telah masuk ke dalam bentangan luas hutan belantara, mereka tinggal di sana. Di dalam bulan-bulan terakhir musim panas, rumput-rumput serta air menghilang atau habis, dan tubuh-tubuh mereka menjadi sangat kurus sehingga kekuatan serta energi mereka berkurang, dan dengan kekuatan serta energi mereka yang berkurang itu mereka kembali lagi ke tanaman-tanaman yang ditaburkan atau ditanam oleh petani itu; dengan mendekati pintu masuk mereka memakan tanaman ternak (tanaman liar) di sana; mendekati pintu masuk dan memakan tanaman liar di sana, mereka menjadi girang; karena menjadi girang mereka menjadi ceroboh; dan dengan menjadi ceroboh girang; dengan menjadi girang mereka menjadi ceroboh; dan dengan menjadi ceroboh, mereka menjadi apa yang harus dilakukan sesuai dengan kemuaan si petani di tengah-tengah hasil panen itu. Sandainya kita harus membuat sarang di dekat tanaman yang ditaburkan oleh si petani itu, kami tidak akan menjadi girang dengan tidak menjadi girang kita tidak akan menjadi ceroboh; dan dengan tidak menjadi ceroboah, kita tidak akan menjadi mereka yang harus dikerjakan sesuai dengan kemauan dari si penabur di tengah-tengah dari hasil panen atau tanaman itu.' Mereka ini membuat sarang perlindungan dekat tanaman yang ditanam oleh petani; sesudah membuat sarang perlindungan, mereka makan tanaman liar tidak mendekati pintu masuk ladang pertanian yang ditanami oleh petani itu; mereka ini, memakan hasil tanaman liar tidak mendekati pintu masuk di sana, tidak menjadi girang; dengan tidak menjadi girang itu, mereka tidak menjadi ceroboh; dengan tidak menjadi ceroboh, mereka menjadi apa yang harus dilakukan sesuai dengan kemauan si petani ditengah-tengah hasil panen itu, [153] sedmikian sehingga kita bisa makan tanaman liar tidak usah mendekati pintu masuk tana¬man-tanaman tersebut yang ditaburkan oleh petani; dan kemudian, sesudah mem¬buat sarang (perlindungan) dan tidak mendekati pintu masuk dari tanaman yang ditanam oleh petani itu, kami tidak akan menjadi girang; dengan tidak menjadi girang kita tidak akan menjadi ceroboh; dan dengan tidak menjadi ceroboh, kita tidak akan menjadi mereka yang harus dikerjakan sesuai dengan kemauan dari si penabur ditengah-tengah dari hasil panen atau tanaman itu.' Mereka ini membuat sarang perlindungan dekat tanaman yang ditanam oleh petani; sesudah membuat sarang perlindungan, mereka makan tanaman liar tidak mendekati pintu masuk ladang pertanian yang ditanami oleh petani itu.; mereka ini, memakan hasil tanaman liar tidak mendekati pintu masuk di sana, tidak menjadi girang; dengan tidak menjadi girang itu, mereka tidak menjadi ceroboh; dengan tidak menjadi ceroboh itu, mereka tidak menjadi mereka yang harus dikerjakan sesuai kemauan dari sipetani ditengah-tengah hasil panen itu.
Oleh sebab itu, para bhikkhu, terjadilah kepada si petani dan teman-temannya hal sebagai berikut: 'Kawanan kijang ketiga ini mestinya adalah sangat trampil dan cerdik; kawanan kijang ketiga ini mestinya memiliki potensi dan barangkali mereka adalah setan; mereka makan hasil panen ini yang telah ditanam, tetapi kita tidak tahu kedatangan dan kepergian mereka. Seandainya kita akan mengelilingi hasil panen yang telah ditanam dengan tiang pancang dan jerat besar pada semua sisi? Maka mungkin kita melihat sarang perlindungan dari kawanan kijang ketiga ini, ke mana mereka akan pergi membawanya. Oleh karena itu para petani mengelilingi hasil pertanian yang mereka tanam itu dengan tiang-tiang pancang besar serta jerat-jerat di sekelilingnya. Kemudian, para bhikkhu, para penabur bibit beserta kawan-kawan melihat sarang perlindun¬gan dari kawanan kijang ketiga, ke mana mereka pergi untuk mengambilnya. Jadi, para bhikkhu, juga kawanan kijang ketiga itu tidak terluput dari kekuasaan para penabur itu.
Oleh sebab itu, para bhikkhu, kawanan keempat kijang-kijang itu menya¬dari demikian: 'Kawanan kijang pertama telah memakan tanaman liar yang menge¬lilingi pintu masuk ... Jadi kawanan kijang pertama tidak terluput dari kekua¬saan si penabur itu. Kemudian kawanan kijang yang kedua menyadari demikian: "Kawanan kijang pertama ini tidak terluput dari kekuasaan si penabur. Seandai kita semua berpantang dari memakan hasil pertanian ..." Jadi kawanan kijang kedua tidak bisa terluput dari kekuasaan si penabur. Kemudian kawanan kijang ketiga menyadari demikian: [154] Kawanan kijang pertama ... Jadi kawanan kijang pertama ini tidak terluput dari kekuasaan si penabur. Seandai kita semua berpantang dari makanan hasil pertanian itu ...' Jadi kawanan kijang kedua ini tidak terluput dari kekuasaan si penanam itu. Seandai kita membuat sarang perlindungan di dekat hasil pertanian yang ditanam oleh si petani itu, sehingga kita bisa makan hasil pertanian liar tidak usah mendekati pintu masuk dari pertanian yang ditanam oleh petani; dan kemudian, sesudah membuat sarang perlindungan dan tidak mendekati pintu masuk hasil pertanian yang ditanam oleh petani itu, kita tidak akan menjadi girang; dengan tidak menjadi girang, kita tidak akan menjadi ceroboh; dengan tidak menjadi ceroboh, kita tidak akan menjadi mereka yang harus dikerjakan atas kemauan dari si petani dari pertani¬an itu." Mereka ini membuat sarang perlindungan mereka memakan tananman liar dengan tidak usah mendekati pintu masuk, dengan tidak mendekati pintu masuk hasil pertanian yang ditanam oleh si petani itu, mereka tidak menjadi girang; dengan tidak menjadi girang, karena mereka tidak menjadi girang, mereka tidak menjadi ceroboh; dengan tidak menjadi ceroboh itu, mereka tidak menjadi apa yang harus diperbuat sesuai dengan kemauan dari si petani ditengah-tengah menjadi apa yang harus diperbuat sesuai dengan kemauan dari si petani diten¬gah-tengah hasil panennya itu. Oleh sebab itu terjadilah pada si petani beser¬ta teman-temannya: "Sekawanan kijang yang ketiga ini mestinya sangat trampil dan cerdik; sekawanan kijang ketiga ini mestinya memiliki potensi atau kekua¬tan dan menjadi setan-setan; mereka memakan hasil tanaman ini yang telah ditanam tetapi kita tidak tahu kedatangan atau kepergian mereka. Seandainya kita menutup hasil pertanian yang ditanam dengan tiang pancang besar-besar dan jerat-jerat pada semua sisi? Kemudian kita bisa melihat sarang perlindungan dari sekawanan kijang ketiga, kemana mereka pergi untuk mengambilnya." Demiki¬an maka mereka itu mengelilingi pertanian yang ditaburkan oleh petani itu dengan tiang-tiang pancang besar serta jerat-jerat pada semua sisi. Kemudian si petani beserta para kawan-kawan melihat sarang perlindungan dari kawanan kijang ketiga itu terluput dari kekuasaan si penabur itu. Seandai kita membuat sarang perlindungan di suatu tempat dimana si petani serta kawan-kawan tidak akan datang? Setelah membuat sarang perlindungan kita di sana, kita bisa makan tanaman liar tanpa usah mendekati pintu masuk tempat pertanian yang ditaburkan oleh penabur; dengan makan tanaman liar tanpa mendekati pintu masuk, kita tidak akan menjadi gembira; dengan tidak menjadi gembira, kita tidak akan menjadi ceroboh; dengan tidak menjadi ceroboh [155] tidak akan menjadi mereka yang harus dikerjakan sesuai kemauan dari si penabur serta kawan-kawan tidak akan datang; sesudah membuat sarang perlindungan di sana, mereka makan tanaman liar dengan tidak usah mendekati pintu masuk di sana, tidak menjadi ceroboh itu, mereka tidak menjadi mereka yang harus dikerjakan sesuai dengan kemauan si penabur itu dengan ditengah-tengah hasil pertanian.
Oleh sebab itu, para bhikkhu, terjadilah pada si penabur beserta kawan-kawan: 'Sekawanan kijang ke empat mestinya sangat terampil dan cerdik, kawanan kijang tempat ini mestinya memiliki potensi dan menjadi setan-setan; mereka makan hasil tanaman yang ditaburkan, tetapi kita tidak tahu tentang kedatangan dan keperluan mereka. Seandainya kita menutup tempat pertanian yang telah ditabur itu dengan tiang pancang yang besar-besar serta jerat-jerat disekelil¬ingnya, maka kita mungkin bisa melihat sarang perlindungan dari kawanan kijang keempat ini, ke mana mereka pergi mengambilnya.' Oleh karena itu mereka menut¬up pertanian yang ditabur itu dengan tiang pancang besar-besar serta jerat-jerat pada semua sisi. Tetapi, para bhikkhu, baik si penabur serta kawan-kawan tidak melihat sarang perlindungan dari kawanan kijang ke empat itu, ke mana mereka pergi untuk mengambilnya. Oleh sebab itu, para bhikkhu, terjadilah pada si penabur beserta kawan-kawanya: "Apabila kita memukul habis-habisan kawanan kijang ke empat ini, mereka, yang telah dihajar habis-habisan itu, akan memu¬kul yang lain; mereka ini, yang telah dipukul habis-habisan, akan menghajar yang lain pula, dan dengan ini semua kijang akan mengabaikan pertanian yang ditabur ini. Seandai kita tidak mempedulikan terhadap kawanan kijang ke empat itu?" Oleh sebab itu, para bhikkhu, baik si penabur maupun kawan-kawan mencam¬puri dengan kawanan kijang ke empat itu. Jadi dengan demikian, para bhikkhu, kawanan kijang keempat ini terluputlah dari kekuasaan sipenabur atau sipetani itu.
Para bhikkhu, parabel ini dibuat oleh-Ku untuk menggambarkan artinya. Dan inilah arti tersebut:
Hasil panen atau hasil pertanian, para bhikkhu, ini adalah merupakan sinonim dari lima buah kesenangan inderawi.
'Si penabur atau si petani', para bhikkhu, ini adalah nama dari Mara, Si jahat.
'Kawan-kawan si penabur, para bhikkhu, ini adalah sinonim kawan-kawan Mara.
'Sekawanan kijang, para bhikkhu, ini adalah sinomim petapa dan brahma¬na.'
Di mana, para bhikkhu, jenis petapa dan brahmana pertama memakan tanaman liar yang mengelilingi pintu masuk pada hasil pertanian yang ditanam oleh si Mara benda-benda materi duniawi [156] mereka ini, memakan hasil tanaman liar dan mendekati pintu masuk di sana, menjadi girang; dengan menjadi girang, mereka menjadi ceroboh atau tidak hati-hati, mereka menjadi orang-orang yang harus dikerjakan atau diperlakukan oleh Mara sesuka hatinya ditengah-tengah hasil pertanian itu benda-benda materi duniawi. Jadi, para bhikkhu, jenis pertama daripara petapa dan brahmana tidak akan terluput dari kekuasaan Mara.
Aku, para bhikkhu, mengatakan bahwa jenis petapa dan brahmana yang pertama itu adalah seperti jenis sekawanan kijang yang pertama itu di dalam parabel.
Kemudian, para bhikkhu, jenis pertapa dan brahmana kedua menyadari: 'Jenis petapa dan brahmana yang pertama makan dalam (makanan hewan, dalam hal ini adalah berupa tanaman liar yang tidak sengaja di tanam oleh si petani) yang mengelilingi pintu masuk pada hasil pertanian yang ditanam oleh Mara benda-benda materi duniawi; mereka ini, dengan memakan tanaman liar dan mende¬kati pintu masuk di sana, menjadi girang; dengan menjadi girang, mereka menja¬di ceroboh atau tidak hati-hati; dengan tidak berhati-hati itu, mereka menjadi orang-orang yang dikerjakan oleh Mara sesuai dengan kemauannya di antara hasil pertanian benda-benda materi dari dunia. Seandainya kita akan berpantang dari makanan dari memakan hasil pertanian benda-benda materi dari dunia; dan ber¬pantang dari menikmati atau kenikmatan di mana terdapat ketakutan, setelah mencebur ke dalam bentangan hutan belantara, haruskah mereka tinggal di sana?' Semua dari mereka itu berpantang dari makanan pertanian benda-benda materi duniawi; dengan berpantang dari kenikmatan di mana terdapat ketakutan, setelah terjun ke dalam bentangan hutan belantara, mereka tinggal atau menetap di sana. Di sana mereka ini menjadi pemakan tumbuh-tumbuhan ... makan padi-padian makan beras liar ...makan potongan-potongan kulit ... makan tumbuhan air ... makan dedak liar ... makan potongan-potongan kulit ... makanan tumbuh-tumbuhan air ... makan dedak padi ... makan tajin nasi ... makan ampas biji-biji minyak ... makan rumput dan mereka mulai memakan tahi kerbau, dan mereka bertahan hidup dengan makan akar-akar serta buah-buahan, makan buah-buahan yang telah jatuh. Di dalam bulan terakhir dari musim panas, ketika rumput-rumput serta air mengering, tubuh-tubuh mereka itu mengurus maka kekuatan serta energi mereka itu lenyap; disebabkan karena kekuatan dan energi mereka itu lenyap maka kebebasan pikiran mereka menghilang; disebabkan kebebasan pikiran mereka lenyap itu, maka mereka kembali lagi kepada hasil pertanian yang ditabur oleh si mara itu, benda-benda materi dari duniawi. Mereka memakan tanaman liar yang mengelilingi pintu masuk di sana; dengan memakan tanaman liar yang mengelilingi pintu masuk di sana; dengan memakan tanaman liar yang mengelilingi pintu masuk di sana mereka menjadi girang; dengan menjadi girang mereka menjadi ceroboh; dengan menjadi ceroboh itu, mereka menjadi orang-orang yang diperlakukan sesuai dengan kemauan Mara di tengah-tengah hasil pertanian itu benda-benda materi dari duniawi. Mereka memakan tanaman liar yang mengeli¬lingi pintu masuk di sana; dengan memakan tanaman liar yang mengelilingi pintu masuk di sana mereka menjadi girang; dengan menjadi girang mereka menjadi ceroboh; dengan menjadi ceroboh itu, mereka menjadi orang-orang yang diperlak¬ukan sesuai dengan kemauan Mara di tengah-tengah hasil pertanian itu benda-benda materi dari duniawi itu. Jadi, para bhikkhu, juga kedua jenis kawanan kaum petapa serta brahmana itu tak terluput atau terlepas dari cenckeraman di Mara [157]. Aku, para bhikkhu, mengatakan bahwa jenis kedua dari para petapa dan brahmana itu adalah seperti sekawanan kijang kedua di dalam parable itu.
Kemudian, para bhikkhu, para petapa dan brahmana ketika menyadari: 'Para petapa dan brahmana pertama itu memakan hasil tanaman liar yang mengelilingi pintu masuk pada pertanian yang ditanam oleh Mara benda-benda materi kedunia¬wian. Jadi kaum petapa dan brahmana yang pertama ini tidak terluput dari kekuasaan Mara. Dan para petapa dan brahmana yang kedua menyadari: "Para petapa dan brahmana pertama makan-makanan liar yang mengelilingi pintu masuk .. Jadi kaum petapa dan brahmana pertama tidak terluput dari kekuasaan si Mara itu. Seandai kita semua harus berpantang dari makan hasil pertanian ... harus tinggal di sana?" Semua dari merka ini berpantang dari makan hasil pertanian ... mereka tinggal di sana. Di sana mereka ini menjadi pemakan hasil tumbuh-tumbuhan liat ... memakan buah-buahan yang terjatuh. Di dalam bulan terakhir dari musim panas ... mereka kembali lagi kepada hasil pertanian yang dahulu yang ditanam oleh Mara -bentuk -bentuk benda duniawi. Jadi para petapa dan brahmana yang kedua ini tidak terluput dari kekuasaan si Mara. Seandai kita harus membuat lubang perlindungan di dekat hasil pertanian yang ditanam oleh Mara itu - benda-benda materi dari duniawi; setelah membuat lubang perlindungan di sana, kita akan memakan tanaman hewan yang tidak menge¬lilingi pintu masuk pada hasil pertanian oleh Mara benda-benda materi dari duniawi; setelah membuat lubang perlindungan di sana, kita akan memakan tana¬man hewan yang tidak mengelilingi pintu masuk pada hasil pertanian yang dita¬nam oleh mara benda-benda materi duniawi; memakan hasil tanaman hewan yang tidak mengelilingi pintu masuk, kita tidak akan menjadi girang; dengan tidak menjadi girang, kita tidak akan menjadi ceroboh (tidak berhati-hati; dengan tidak ceroboh, kita tiadk akan menjadi mereka yang harus diperlakukan sesuai dengan kemauan si Mara di tengah-tengah hasil pertanian itu - benda-benda materi keduniawian. Mereka ini kemudian membuat lobang perlindungan dekat degnanpertanian yang ditanam oleh Mara benda-benda materi duniawi; sesudah membuat lobang perlindungan di sana, mereka makan hasil tanaman hewan yang tidak mengelilingi pintu masuk pada pertanian yang ditanam oleh Mara benda-benda materi duniawi; sesudah membuat lobang perlindungan disana, mereka makan hasil tanaman hewan yang tidak mengelilingi pintu masuk pada pertanian yang ditanam oleh Mara-benda-benda material dunia; mereka ini, yang memakan hsil tanaman hewan yang tidak mengelilingi pintu masuk di sana, tidak menjad girang dengan tidak menjadi girang itu, mereka tidak menjadi ceroboh; dengantidak menjadi ceroboh itu, mereka tidak menjadi orang-orang yang dapat diperbuat sesuka hati dari si Mara di tengah-tengah pertanian itu benda-benda material dari duniawi. Namun begitu mereka mendapatkan kesimpulan pandangan-pandangan sebagai berikut; bahwasanya dunia itu adalah kekal, juga bahwsanya dunia itu adalah tidak kekal; bahwasanya dunia itu merupakan hal yang berakahir, juga bahwasanya dunia itu bukan merupak hal yang berakhir; dan bahwa prinsip hidup serta badan, juga bahwa prinsip hidup dan tubuh itu adalah berbeda; dan bahwa Tathagata itu menjadi sesudah kematian, juga bahwasanya Tathagata tidak menja¬di setelah kematian, juga bahwa Tathagata kedua-duanya menjadi dan tidak menjadi setelah kematian, juga bahwasanya Tathagata itu tiadk menjadi maupun pula bukan tidak menjadi setelah kematian. [158] Jadi, apra bhikkhu, tidak juga para petapa dan brahmana ketiga ini terluput dari kekuasaan si Mara. Aku, para bhikkhu, mengatakan bahwa petapa dan brahmana ketiga adalah seperti jenis sekawanan kijang di dalam parable atau persamaan itu.
Kemudian, para bhikkhu, jenis ke-empat dari para petapa serta brahmana menyadari demi kian: "Jenis pertama para petapa dan brahmana itu memakan tanaman hewan yang mengelilingi pintu masuk dari tanaman yang ditanam oleh Mara-Benda-benda material dari duniawi. ... Jadi jenis pertama dari para petapa serta brahmana ini tidak bisa terluput dari kekuasaan Mara. Dan jenis kedua dari para petapa serta brahmana ini menyadari: "Jenis pertama dari para petapa serta brahmana itu memakan hewan ... Jadi jenis pertama dari para petapa serta brahmana itu memakan tanaman hewan ...Jadi jenis pertama dari para petapa serta brahmana tidak terluput dari kekuasaan Mara. Seandai kita semua berpantang makan hasi tanaman ... harus tinggal di sana ..." Jadi jenis keuda dari para petapa serta brahmana itu ... tidak terluput dari kekuasaan si Mara. Dan jenis kedua para petapa serta brahmana menyadari: Jenis pertama para petapa serta brahmana ... tiadk terluput dari kekuasan si Mara. Seandai kita semua berpantang memakan hasil tanaman ... Jadi jenis kedua para petapa serta brahmana ini tidak bisa terluput dari kekuasaan si Mara seandai kita semua harus membuat lobang perlindungan di dekat tananman yang ditanam oleh si Mara - bentuk-bentuk benda material dari duniawi ..." Mereka ini membuat lobang perlindungan ... mereka tidaklah menjadi orang-orang yang harus diperlakukan si Mara sesuka hatinya di tengah-tengah hasil tanaman itu - bentuk-bentuk benda material dari duniawi. Namun begitu, mereka sampailah kepada pandangan-pandangan sebagai berikut: bahwa dunia ini adalah kekal ... juga bahwasanya Sang Tathagata tidak menjadi maupun bukan tidak menjadti setelah kematian. Jadi jenis para petapa dan brahmana tidak terluput dari kekuasaan si Mara. Seandai kita harus membuat lobang perlindugan di mana Mara serta teman-teman Mara tiadk datang; setelah membuat lobang perlindungan itu, kita dapat makan tanaman hewan yang tidak mengelilingi pintu masuk pada tanaman yang ditabur oleh Mara itu - benda-benda material dari duniawi; dengan makan tanaman hewan yang tidak mengelilingi pintu masuk, kita tidak akan menjadi girang; dengan tidak menjadi girang kita tidak akan menjadi ceroboh, dnegan tidak menjadi ceroboh kita tidak akan menjadi orang-orang yang harus diperlakukan oleh Mara semaunya di antara hasil pertanian itu benda-benda material duniawi.' mereka ini membuat lobang perlindungan di sana (159) mereka memakan tanaman hewan yang tidak mengelilingi tanaman yang ditanam oleh Mara - benda-benda material duniawi. Mereka ini, makan tanaman hewan yang tidak mengelilingi pintu masuk di sana, tidak menjadi girang; dengantidak menajdi girang, mereka tidak menja¬di ceroboh; dnegan tidak menjadi ceroboh itu, mereka tidak menjadi orang-orang yang diperlakukan oleh Mara semaunya di antara hasil tanaman itu - benda-benda material duniawi. Jadi para bhikkhu, jenis ke empat para petapa serta brahmana terluput dari kekuasaan si Mara. Aku, para bhikkhu, mengatakan bahwa jenis para petapa dan brahmana ke empat itu adalah seperti jenis kawanan kijang ke empat di dalam parabel atau persamaan itu.
Dan bagaimana, para bhikhu, apakah di sana tidak terdapat pintu masuk dari Mara serta kawanan si Mara itu? Yang dimaksud di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu, dengan menjauhkan diri drai kesenangan-kesenangan inderawi, menjauhkan diri dari keadaan pikiran yang tidak terampil, memasuki serta mengabdikan diri dalam meditasi tingkat pertama yang diikuti oleh pikiran pemula serta pikiran-pikiran yang tidak berkesinambungan, terlahir karena sifat menjauhkan diri itu, dan adalah sangat menggembirakan serta menyenang¬kan.
Para bhikkhu, jenis bhikkhu ini dinamakan seseorang yang telah menaruh kegelapan disekeliling Mara, dan yang telah menutup atau menghalangi pandangan Mara sehingga ia tidak mempunyai jangkauan, tidak tampak oleh si Jahat.
Dan sekali lagi, para bhikkhu, dengan menghilangkan pikiran pemula serta yang tidak berkesinambungan itu, maka pikirannya secara subyektif menjadi tenang sentosa dan difokuskan ke satu arah, terus menerus masuk serta mengab¬dikan diri pada meditasi tingkat kedua yang mana adalah hampa daripada pikiran pemula dan tidak berkesinambungan itu, dan terlahir dari konsentrasi dan menggembirakan serta menyenangkan. Para bhikkhu, bhikkhu ini dinamakan seoran yang telah menaruh kegelapan disekitar mara, dan yang telah menutup atau menghalangi pandangan si Mara sehingga pandngan tersebut tidak mempunyai jangkauan, tidak dapat dilihat oleh Si Jahat.
Dan sekali lagi, para bhikkhu, dengan memudarnya rasa girang yang luar biasa itu, berkelana dengan keseimbangan, kesadaran yang berprihatin serta jelas, dan dialami oleh diri orang itu yang oleh orang ariya dinamakan: 'Hidup penuh kesenangan barang siapa mempunyai keseimbangan dan penuh perhatian,' dan ia masuk ke dalam serta mengabdi di dalam meditasi tingkat tiga. Para bhikkhu, bhikkhu ini disebut ... oleh si Jahat.
Dan sekali lagi, para bhikkhu, seorang bhikkhu dengan dapat mengenyah¬kannya rasa senang, dengan dapat mengenyahkannya rasa sedih dengan selalu bersikap tenang terhadap kesenangan-kesenangan serta kesedihan-kesedihan yang lampau, memasuki serta mengadikan diri ke dalam meditasi tingkat ke empat did alam mana tidak memiliki rasa sedih maupun senang, dan yang seluruhnya dimur¬nikan oleh keseimbangan serta kesiagaan. Para bhikkhu, bhikkhu ini dinamakan ... oleh si jahat.
Dan sekali lagi, para bikkhu, seorang bhikkhu dengan melewati jauh diluar daya memahai tentang bentuk-bentuk material, dengan turunya atau redam¬nya persepsi dari reaksi-reaksi sensori, dengan tidak menghadiri atau tidak memperhatikan berbagai jenis persepsi, sambil berpikir: 'Langit adalah tidak ada batasnya,' memasuki serta mengabdikan diri di dalam alam terdiri dari eter yang tak terbatas. Para bhikkhu, bhikkhu ini dinamakan ... si jahat.
Dan sekali lagi para bhikkhu, seorang bhikkhu denganjubah jauh melampaui alam kesadaran yang tak terbatas itu, [160] sambil berpikir : "Di sana tiada ada sesuatu," memasuki dan mengabdikan diri di dalam alam tiada ada apa-apa¬nya. Para bhikkhu, bhikkhu semacam ini dinamakan ... oleh si jahat.
Dan sekali lagi, para bhikkhu seorang bhikkhu dengan jauh melampaui alam dari tiada ada apa-apa itu, memasuki dan mengabdikan diri di dalam alam yang bukan persepsi maupun pula bukan non persepsi.
Para bhikkhu, bhikkhu ini dinamakan seorang yang telah menaruh kegelapan di sekeliling mara dan yang menutup pandangan atau penglihatan si mara sedemi¬kian sehingga pandangan itu tidak mempunyai jangkauan, tetap tidak terlihat oleh si jahat.
Dan sekali lagi, para bhikkhu seorang bhikkhu yang jauh melampaui di atas alam dari bukan persepsi maupun pula non persepsi, memasuki dan mengadi¬kan diri di dalam penghentian dari persepsi serta perasaan; dan dengan dapat melihat dengan kebijaksanaan, intuitip, maka kanker telah dihancurkan sama sekali.
Para bhikkhu, bhikkhu ini dinamakan seorang yang telah menaruh kegelapan di sekeliling mara, dan yang, setelah menutup atau meliputi pandangan si mara sedemikian sehingga ia tidak mempunyai jangkauan, tetap tidak terlihat atau tidak dapat dilihat oleh si jahat; ia telah menyeberangi di atas kekusutan di dunia ini.
Demikianlah kata-kata Sang Buddha; merasa senang, para bhikkhu ini menyukuri tentang apa yang telah diajarkan oleh sang Tathagata itu.
ARIYAPARIYESANA SUTTA
26
Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada Jetavana, taman milik Anathapindika, Savatthi.
Ketika hari telah pagi, Beliau mengatur pakaian dan dengan membawa patta serta jubah-Nya, Beliau menuju Savatthi untuk menerima dana makanan.
Kemudian banyak bhikkhu menemui Bhikkhu Ananda dan berkata kepadanya:" Avuso Ananda, sudah lama kami tidak mendengar pembicaraan Dhamma dari Sang Bhagava sendiri. Alangkah baik apabila kami dapat mendengar demikian."
"Silahkan para bhikkhu pergi ke Rammaka tempat pertapaan para Brahmana; barangkali kalian akan mendengar suatu pembicaraan Dhamma dari Sang Bhagava sendiri."
"Baiklah, avuso," jawab mereka.
Ketika Sang, Bhagava telah berkeliling menerima dana makanan di Savatthi dan telah kembali dari pindapata setelah bersantap, Beliau menyapa Bhikkhu ananda, marilah kita pergi ke Pubbarama, pesangrrahan milik Migaramata (Visakha) untuk berdiam sepanjang siang."
"Baiklah, Bhante," jawab Ananda. Kemudian Sang Bhagava pergi bersama Bhikkhu Ananda ke Pubbarama, pasangrahan Migara, untuk berdiam sepanjang siang.
Ketika hari telah sore, Sang Bhagava bangkit dari meditasi, dan Beliau menyapa Bhikkhu Ananda: "Ananda, maritah kita pergi ke tempat pemandian Pubbakotthaka untuk mandi."
"Baiklah, Bhante," jawab Bhikkhu Ananda.
Kemudian Sang Bhagava pergi bersama bhante Ananda ke
Pubbakotthaka dan mandi. Setelah melakukan hal itu, Beliau ke luar dari air dan berdiri dalam satu jubah sambil mengeringkan badan. Bhikkhu Ananda -- berkata: " Bhante, Rammaka tempat pertapaan para Brahmana berada dekat sini. Pertapaan itu sesuai dan menyenangkan. Bhante, alangkah baiknya apabila Sang Bhagava bersedii pergi ke sana."
Sang Bhagava menyetujui dengan berdiam diri.
Kemudian Sang Bhagava menuju Rammaka tempat pertapaan para Brahmana. Pada saat itu banyak bhikkhu berkumpul bersama di sana untuk membahas Dhamma. Sang Bhagava berdiri di luar pintu menunggu akhir dari diskusi mereka. Ketika Beliau tahu bahwa diskusi telah selesai, Beliau berdehem dan mengetuk pintu. Para bhikku membuka pintu untuk Beliau. Kemudian Beliau masuk dan duduk pada tempat duduk yang telah disediakan. Setelah melakukan hal itu Beliau menyapa para bhikkhu -- demikian: "Para bhikkhu, apakah yang kamu sekalian diskusikan dengan berkumput di sini sekarang ? Juga apakah yang sementara ini didiskusikan dan belum diselesaikan?"
"Bhante, diskusi kami yang belum terselesaikan adalah mengenai Dhamma dan mengenai diri Sang Bhagava sendiri. Kemudian Sang Bhagava tiba."
"Bagus, para bhikkhu. Sebagai orang yang meninggalkan kehidupan duniawi yang didasarkan pada keyakinan dan hidup tak berumah-tangga, kamu sekalian berkumpul untuk mendiskusikan Dhamma. Ketika kalian -- berkumpul bersama maka ada dua pilihan yaitu: mendiskusikan Dhamma atau diam seperti para ariya.
'Para bhikkhu, ada dua macam pencarian: pencarian luhur (ariya-pariyesana) dan pencarian rendah (anariya pariyesana).
'Apakah pencarian rendah?
'Dalam hal ini seseorang yang dirinya sendiri mengalami kelahiran, usia tua, penyakit, kesedihan dan kekotoran, mencari apa yang juga mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran.
'Apakah yang dikatakan mengalami kelahiran? Istri dan anak-anak mengalami kelahiran, demikian juga para wanita dan pria yang berkeluarga, kambing, domba, unggas, babi, gajah, lembu, kuda-kuda jantan dan betina, berbulu emas dan perak. Inilah kehidupan yang menoalami kelahiran, seseorang yang terikat dengannya dan tak waspada sehingga terlibat padanya adalah orang yang mengalami kelahiran serta mencari apa yang juga mengalami kelahiran.
'Apakah yang dikatakan mengalami usia tua ? Istri dan anak-anak mengalami usia tua, demiikian juga ... emas dan perak. Inilah kehidupan yang mengalami usia tua, seseorang yang terikat dengannya dan tak waspada sehingga terlibat padanya adalah orang mengalami usia tua, mencari apa yang juga mengalami usia tua.
'Apakah yang dikatakan mengalami sakit? Istri dan anak-anak mengalami sakit, demikian juga ... emas dan perak. Inilah kehidupan -- yang mengalami sakit, seseorang yang terikat dengannya dan tak waspada sehingga terlibat padanya adalah orang men(-.,alami sakit, mencari apa yang juga mengalami sakit.
'Apakah yang dikatakan mengalami kematian ? Istri dan anak-anak mengalami kematian, demikian juga ... emas dan perak. Inilah kehidupan yang mengalami kematian, seseorang yang terikat dengannya dan tak waspada sehingga terlibat padanya adalah orang mengalami sakit, mencari apa yang juga mengalami kematian.
'Apakah yang dikatakan mengalami kesedihan? Istri dan anak-anak mengalami kesedihan, demikian juga ... emas dan perak. Inilah kehidupan yang mengalami kesedihan, seseorang yang terikat dengannya dan tak waspada sehingga terlibat padanya adalah orang mengalami kesedihan, mencari apa yang juga mengalami kesedihan.
'Apakah yang dikatakan mengalami kekotoran batin ? Istri dan anak-anak mengalami kekotoran batin, demikian juga para wanita dan pria yang berkeluarga, kambing, domba, unggas, babi, gajah, lembu, kuda-kuda jantan dan betina, berbulu emas dan perak. Inilah kehidupan yang mengalami kekotoran batin, seseorang yang terikat dengannya dan tak waspada sehingga terlibat padanya adalah orang yang mengalami kelahiran serta mencari apa yancy juga mengalami kekotoran batin kelahiran.
'Inilah pencarian rendah.
Apakah penearian luhur ?
'Dalam hal ini seseorang yang dirinya sendiri mengalami kelahiran usia tua, penyakit, kematian, kesedihan dan kekotoran, mengetahui baliaya dalam dhamma seperti ini dan mencari yang tidak dilahirkan, tanpa usia tua, tanpa kesakitan, tanpa kesedihan, tanpa kotoran batin, ketenangan meditasi yang tertinggi untuk melenyapkan kotoran batin, Nibbana.
'Inilah pencarian luhur.
Pencarian Penerangan Sempurna.
'Para bhikkhu, sebelum mencapai penerangan sempurna, sementara saya masih seorang Bodhisatta yang belum mencapai penerangan sempurna, Saya juga, diriku sendiri mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran, mencari apa yang mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran.
'Saya (berpikir) demikian: "Mengapa, dengan diriku sendiri mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran, Saya mencari apa yang mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian dan kekotoran? Seandainya, diriku yang masih mengalami dhamma seperti itu, mengetahui bahaya dalam dhamma seperti itu, Saya mencari yang tidak mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran, mengatasi ikatan yang kuat, yaitu Nibbana?"
'Kemudian, ketika Saya masih anak-anak, seorang pemudaberambut hitam yang masih remaja, dalam masa hidupku yang pertama, aku mencukur habis rambut dan jenggotku meskipun ibu dan ayahku berkeinginan sebalilknya dan berduka dengan wajah berurai air mata -- Saya mengenakan jubah kuning dan pergi meninggalkan kehidupan duniawi menuju kehidupan tak berumah-tangga (pabbaja).
Sesudah berkelana mencari apa yang bermanfaat, mencari kedamaian tertinggi yang suci, Saya pergi menemui Alara Kalama dan berkata kepadanya: "Kawan Kalama, Saya ingin menjalani hidup suci dalam Dhamma dan Vinaya."
Alara Kalama menjawab: "Saudara dapat tinggal di sini. Dhamma ini adalah sedemikian, sehingga dalam waktu tidak lama seorang yang bijaksana dapat menyelami dan menghayatinya, ajaran gurunya dapat ia merealisasikan sendiri dengan abhinna-nya."
Saya dengan cepat belajar dhamma tersebut. Saya menyatakan bahwa sejauh sekedar pengucapan dan pengulangan ajarannya ketika Saya dapat berbicara dengan pengetahuan dan keyakinan, bahwa Saya tahu dan melihat --- juga banyak orang lain yang melakukan hal sama.
Saya (berpikir): "Bukanlah melalui kepercayaan semata Alara Kalama membabarkan Dhammanya; (ia melakukannya) karena ia menyelami dan menghayatinya sendiri, menyadarinya sendiri melalui pengetahuan langsung. Tentulah Alara Kalama menghayati Dhamma ini dengan mengetahui dan melihat."
Kemudian Saya menemui Alira Kalama, dan Saya berkata: "Teman Kalama, dalam cara apa engkau menyatakan telah menyelami Dhamma ini, menyadarinya sendiri melalui abhinna?"
Ia menjawabnya dengan uraian yang didasarkan pada 'kekosongan' (akincannayatana).'
Saya berpikir: "Tidak saja Alara Kalama memiliki keyakinan; Saya-pun memiliki keyakinan. Bukan hanya Alara Kalama memiliki semangat; Saya pun memiliki semangat. Bukan hanya Alara Kalama memiliki perhatian (sati); Saya pun memiliki perhatian. Bukan hanya Alara Kalama memiliki samadhi; Saya pun memiliki samadhi. Bukan hanya Alara Kalama memiliki kebijaksanaan (panna); Saya pun memiliki kebijaksanaan. Seandainya Saya melatih pengendalian diri untuk merealisasikan Dhamma yang dinyatakan telah diselaminya, direalisasikannya sendiri meialui abhinna-nya?"
"Saya dengan segera menghayati dan menyelami Dhamma tersebut, merealisasikannya sendiri dengan abhinna. Lalu Saya menemui Alara Kalama dan Saya berkata kepadanya:" Kawan Alara, apakah dengan jalan ini engkau menyatakan menyelami Dhamma ini, merealisisikannya sendiri dengan abhinna?"
"Kawan, deiigan jilan inilah yang saya nyatakan saya telah menghayati dan menyelami Dhamma. merealisasikannya sendiri dengan abhinna".
"Suatu keuntungan bagi kami, kawan! Suatu keuntungan besar ba.i kami, kawan! Karena kami memiliki seorang sahabat dalam kehidupan suci. Maka Dhamma yang aku nyatakan telah diselami, yang saya sendiri telah merealisasikannya dengan abbinna. Dhamma tersebut telah Anda selami dan hayati, dirimu sendiri telah merealisasikannya dengan abhinna. Dhamma tersebut saya nyatakan telah saya selami, saya sendiri telah merealisasikannya den-an abhinna. Dengan demikian Anda mengetahui Dhamma yang saya ketahui; saya mengetahui Dhamma yang Anda ketahui. Sebagaimana diriku, demikian juga dirimu; sebagaimana dirimu, demikian juga d u. Marilah, kita pimpin bersama-sama kelompok ini."
Demikianlah guru-Ku Alara'Kalama,menempatkan diri-Ku (yang adalah siswanya) pada kedudukan yang sama dengan dirinya sendiri, dan menghargai saya dengan penghormatan tertinggi.
Saya berpikir: "Dhamma ini tidak membawa pada pelenyapan nafsu, pada memudarnya hawa nafsu, pada penghentian, pada kedamaian, pada abhinna, pada penerangan sempurna, Nibbana, tetapi hanya didasarkan pada kekosongan (akincannayatana) saja." Demikianlah maka Saya tidak merasa puas dengan dhamma tersebut, saya meninggalkannya.
'Sesudah berkelana meneari apa yang bermanfaat, mencari kedamaian tertinggi yang suci, Saya pergi menemui Uddhaka Ramaputta dan berkata kepadanya: "Kawan, Saya ingin menjalani hidup suci dalam Dhamma dan Vinaya."
'Uddaka Ramaputta menjawab: "Saudara dapat tinggal di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga dalam waktu tidak lama seorana yang bijaksana dapat menyelami dan menghayatinya, sehiiigga ijaran gurunya ia dapat direalisasikan sendiri dengan abhinna-nya."
'Saya dengan cepat belijar dhamma tersebut. Saya menyatakan bahwa sejauh sekedar pengucapan dan pengulangan ajarannya ketika Siya dapat berbicara dengan pengetahuan dan keyakinan, bahwa Saya tahu dan melihat --- juga banyak orang lain yang melakukan hal sama.
'Saya (berpikir): "Bukanlah melalui kepercayaan semata Ramaputta membabarkan Dhammanya; (ia melakukannya) karena ia menyelami dan menghayatinya sendiri, menyadarinya sendiri meialui pencyetahuan langsung. Tentulah Uddaka Ramaputta menghayati Dhamma ini dengan mengetahui dan melihat."
'Kemudian Saya menemui Uddaka Ramaputta, dan Saya berkata: "Teman Ramaputta, dalam cara apa engkau menyatakan telah menyelami Dhamma ini menyadarinya sendiri melalui abhinna?"
'Ia menjawabnya dengan uraian yang di dasarkan pada' Bukan pencerapan maupun bukan tidak pencerapan (nevasanna nasannayatana)"
Saya berpikir: "Tidak saja Uddaka Ramaputta memiliki keyakianan; saya pun memiliki keyakinan. Bukan hanya Uddaka Ramaputta memiliki semangat; Saya memiliki semangat. Bukan hanya Uddaka Ramaputta memiliki perhatian (sati); Saya pun memiliki perhatian. Bukan hanya Uddaka Ramaputta memiliki samadhi; Sayapun memiliki samadhi. Bukan hanya Uddaka Ramaputta memiliki kebijaksanaan (panna); Saya pun memiliki kebijaksanaan. Seandainya Saya melatih pengendalian diri untuk merealisasikan Dhamma yang dinyatakan telah diselaminya, direalisasikannya.sendiri melalui abhinna-nya"
"Saya dengan segera menghayati dan menyelami Dhamma tersebut, merealisasikannya sendiri dengan abhinna. Lalu Saya menemui Uddaka Ramaputta dan Saya berkata kepadanya: 'Kawan Ramaputta, apakah dengan jalan ini engkau menyatakan menyelami Dhamma ini, merealisasikannya sendiri dengan abhinna?"
"Kawan, dengan jalan inilah yan,g saya nyatakan saya telah menghayati dan menyelami Dhamma merealisasikannya sendiri dengan abhinna"
Kawan, sayapun dengan jalan ini lelah menghayati dan menyelami Dhamma ini, merealisasikannya dengan abhinna."
"Suatu keuntungan bagi kami, kawan! Suatu keuntungan besar bagi kami, kawan! Karena kami memiliki seorang sahabat dalam kehidupan suci. Maka Dhamma yang aku nyatakan telah diselami, yang saya sendiri telah merealisasikannya dengan abhinna. Dhamma tersebut telah anda selami dan hayati, dirimu sendiri telah merealisasikannya dengan abhinna. Dhamma tersebut saya nyatakan telah saya selami, saya sendiri telah merealisasikannya dengan abhinna. Dengan demikian Anda mengetahui Dhamma yang saya ketahui; saya mengetahui Dhamma yang Anda ketahui. Sebagaimana diriku, demikian juga dirimu; sebagaimana dirimu, demikian juga diriku. Marilah, kita pimpin bersama-sama kelompok ini."
Demikianlah guru-Ku Uddaka Ramaputta, menempatkan ,diri-Ku (yang adalah siswanya) pada kedudukan yang sama den-an dirinya sendiri, dan menghargai Saya dengan penghormatan tertinygi.
Saya berpikir: "Dhamma ini tidak membawa pada pelenyapan nafsu, pada memudarnya hawa nafsu, pada penghentian, pada kedamaian, pada abhinna, pada penerangan sempurna, Nibbana, tetapi hanya didasarkan pada "Bukan pencerapan juga bukan tidak pencerapan (nevasannanasannayatana) saja." Demikianlah maka Saya tidak merasa puas dengan dhamma tersebut, saya meninggalkannya.
'Masih dalam pencarian apa yang bermanfaat, mencari kedamaian tertinggi yang suci, Saya berkelana di daerah Magadha mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya datangi, hingga saya tiba di Senanigama dekat Uruvela. Di sana Aku melihat sebidang tanah ying sesuai, sebuah hutan kecil yang menyenangkan, sungai jernih yang mengalir dengan tepi yang halus menyenangkan dan didekatnya ada sebuah desa untuk pindapata. Demikianlah, Saya berpikir: "Ada sebidang tanah yang sesuai, hutan kecil yang menyenangkan, sungai yang mengalir jernih dengan tepinya yang halus menyenangkan dan di dekatnya sebuah desa untuk pindapata. Ini akan menunjang penemuan bagi sescorang yang mencari penemuan." Dan aku duduk disana (berpikir):"Ini akan menunjang penemuan."
Penerangan Sempurna
'Diriku sendiri yang masih mengalami kelahiran, usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran, dengan mengetahui bahaya dalam dhamma ini, mencari yang tidak mengalami kelahiran. usia tua, sakit, kematian, kesedihan dan kekotoran, penghentian yang tertinggi dari segala ikatan, yakni Nibbana, Saya mencapai tanpa kelahiran, tanpa usia tua, tanpa sakit, tanpa kematian, tanpa kesedihan, tak ternoda penghentian tertinggi dari segala ikatan, yakni Nibbana.
'Pengetahuan serta pandangan muncul dalam diriku: "Pembebasan-Ku tidak dapat dikalahkan lagi. Inilah kelahiranku yang terakhir. Tidik akan ida lagi kelahiran yang berikutnya."
'Saya berpikir: Dhamma yang telah Kucapai sangat mulia, sukar ditemukan. Inilah kedamaian tertinggi dan terutama (dari segala tujuan), tidak dapat dicapai oleh akal pikiran saja, halus dan hanya dialami oleh para bijaksana. Tetapi generasi ini suka, senang dan gembira pada sesuatu yang dapat disadari. Sukar bagi generasi seperti ini untuk melihat kebenaran seperti ini, yakni: sebab musabab yang saling bergantungan (paticcasamuppada), terhentinya segala bentuk (sankhara), pelepasan semua sebab pemunculan kehidupan, lenyapnyaj keinginan (tanhakkhaya), hilangnya nafsu indera, penghentian, Nibbana. Jika Saya mengajarkan Dhamma, orang lain tidak akan mengerti dan hal ini akan melelahkan dan mengganggu bagiku."
'Kenyataannya, segera muncul dalam diriku syair-syair yang tidak pernih terdengar sebelumnya:
Sudahlah, jangan ajarkan Dhamma
Yang bahkan bagi-Ku sukar untuk dicapai;
Karena tidak akan pemah diresapi
Oleh mereka yang, hidup dalam hawa nafsu dan kebencian.
Manusia yang diliputi nafsu indera,
Dan tertutup oleh awan kegelapan, tidak akan melihat apa
yang menentang arus, rang halus;
Dalam, sukar dilihat, sulit dimengerti.
'Berpikir d.-inikian, Saya memilih diam daripada mengajarkan Dhamma.' 'Kemudian (Brahma) Dewa Sahampati mengetahui dalam pikirannya apa yang saya pikirkan, dan ia berpikir; "Dunia akan kehilangan, dunia akan sangat kehilangan, karena jalan pikiran Sing Tathagaata Sang Arahat dan yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, memilih diam daripada mengajarkan Dhamma."
'Kemudian secepat seseorang yang merentangkan tangannya yang terlipat atau melipat tangannya yang terentang, Brahma Sahampati menhilang dari alam Brahma dan muncul dihadapan-Ku. Kemudian beliau mengatur jubah atasnya sehingga menutupi satu bahu dan merangkapkan kedua telapak tangannya (beranjali) ke arah-Ku, ia berkata : "Bhante, semoga Sang Bhagava mengajarkan Dhimma. Ada makhluk-makhluk yang hanya memiliki sedikit debu di matanya, yang akan sia-sia bila tidak mendengar tentanng Dhamma. Sebagian dari mereka akan mencapai pengetahuan Dhamma tertinggi."
Brahma Sahampati berkata seperti itu, selanjutnya ia berkata:
"Di Magadlia sampai sekarang Dhamma belum dimurnikan,
Direnungkan oleh mereka yang masih ternoda.
Bukalah pintu gerbang Tanpa Kematian,
biarlah mereka Mendengar Dhamma yang telah ditemukan oleh Yang Maha Suci;
Sebagaimana seseorang melihat segenap rakyat di sekeliling Yang berdiri di atas gundukan batu karang padat,
Selidiki, 0 Yang Bebas dari Kesedihan,
Petapa yang maha melihat,
Umat manusia ini diliputi oleh kesedihan
Karena Kelahiran din Usia Tua.
Bangkitiah Pahlawan kemenangan, Pembawa - Pengetahuan Bebas dari segala hutang dan berkelana di dunia
Membabarkan Dhamma; ada sebagian, 0 Sang, Bhagava, akan mengerti.
'Kemudian Saya mendengarkan permohonan Brahma. Berdasarkan kasih sayang terhadap semua makhluk Saya mengamati dunia dengan mata seorang Buddha, Saya melihat para makhluk dengan sedikit debu di mata mereka dan yang banyak debu di mata mereka, dengan kemampuan yang meyakinkan dan kemampuan kurang, dengan mutu yang baik dan mutu yang buruk, mudah diajar dan sukar diajar, dan sebagian yang hidup denoan rasa takut terhadap kebencian dan di alam lain.
Sebagaimana dalam sebuah kolam terdapat bunga-bunga teratai biru atau merah atau putih, sebagian bunga teratai yang tumbuh dan berkembang di dalam air tenggelam dalam air tanpa muncul kepermukaan, sebagian bunga teratai lain yang tumbuh dan berkembang di dalam air muncul pada permukaan air, dan sebagian bunga teratai lainnya yang tumbuh dan berkembang di dalam air bertumbuh ke permukaan air dan berdiri dengan baik, tidak basah; demikian juga, mengamati dunia dengan mata seorang Buddha .... dan sebagian yang hidup dengan rasa takut terhadap kebencian dan alam lain.
'Kemudian Saya menjawab Brahma Sahampati dalam bait-bait berikut:
Terbukalah untuk mereka pintu-pintu Tanpa Kematian, Biarlah mereka yang mendengar sekarang menunjukkan keyakinannya (Bila hanya) melihat kesulitannya maka Saya tidak berbicara pada umat manusia
Dhamma yang halus dan luhur, Brahma.
'Kemudian Brahma Sahampati (berpikir): "Aku telah memungkinkan Dhamma diajarkan oleh Sang Bhagava." Setelah memberikan penghormatan pada-Ku, dengan Saya ada di sebelah kanannya, Brahma Sahampati pergi.
'Selanjutnya Saya berpikir: "Kepada siapa Saya harus mengajarkan Dhamma? Siapakah yang akan segera mengerti Dhamma ini ?
'Saya berpendapat: "Alara Kalama bijaksana, terpelajar dan cerdas. Ia telah lama hanya memiliki sedikit debu di matanya. Bagaimana bila Saya mengajarkan Dhamma pertama-tama kepada Alara Kalama? Ia akan segera mengerti."
'Kemudian para dewa datang pada-Ku dan berkata: "Bhante, Alara Kalama meninggal dunia tujuh hari yang lalu." Lalu pengetahuan serta pandangan (nana-dassana) muncul dalam diri Ku: "Alara Kalama telah meninggal dunia tujuh hari yang Ialu.
Saya berpikir demikian: "Kehilangan Alara Kalama merupakan kehilangan besar. Jika ia mendengar Dhamma ini, ia akan segera mengerti."
Kemudian Saya berpikir: "Kepada siapa Saya akan ajarkan Dhamma ? Siapakah yang akan segera mengerti Dhamma ini ?".
'Selanjutnya Saya pikir: "Uddaka Ramaputta bijaksana, terpelajar dan cerdas. Ia telah lama hanya memiliki sedikit debu di matanya. Seandainya Saya mengajarkan Dhamma pertama-tama kepada Uddaka Ramaputta? Ia akan segera mengerti."
'Kemudian para dewa datang pada-Ku dan berkata:"Bhante, Uddaka Ramaputta meninggal dunia semalam." Lalu pengetahuan serta pandangan muncul dalam diriku: Uddaka Ramaputta telah meninggal dunia semalam." Saya berpikir demikian: "Kehilangan Uddaka Ramaputta merupakan kehilangan besar. Jika ia menden-ar Dhamma ini, ia akan segera mengerti."
Lalu Saya berpikir: "Kepada siapa Saya pertama-tama harus mengajarkan Dhamma ini? Siapakah yang akan mengerti Dhamma ini?"
Selanjutnya Saya berpikir demikian:"Para bhikkhu dari kelompok lima, yang membantu dan melayani Saya berjuang mengendalikan diri. Seandainya Saya mengajarkan Dhamma pertama-tama pada mereka?"
'Saya berpikir demikian: "Di manakah para bhikkhu dari kelompok lima sekarang?". Dengan mata dewa (dibba cakkhu), yang murni dan melampaui manusia biasa, Aku melihat bahwa mereka berada di Taman Rusa Isipatana,Baranasi.
'Selanjutnya setelah Saya tinggal di Uruvela selama saya inginkan, Saya mengadakan perjalanan dengan bertahap ke Benares. Antara Gaya dan tempat Pencapaian Penerangan Upaka bertemu dengan Saya di Jalan. Ketika melihat Saya, ia berkata: "Saudara, warna kulitmu cerah dan cemerlang. Di bawah bimbingan siapa engkau menjalani hidup suci? Siapakah gurumu? Dhamma siapakah yang engkau anut?".
'Saya menjawab pertanyaan petapa Upaka dalam syair-syair berikut:
'Melampaui semua makhluk, Saya Maha Tahu,
Tak ternoda dalam segala Dhamma, melepaskan semuanya
Dengan terbebas dari keinginan. Ini utang-Ku pada batin-
Ku, kepada siapakah Saya mengakuinya?
Aku tidak memiliki Guru atau pun rekan yang setara
Tidak ada satupun di seluruh alam
Dengan semua dewanya, karena Aku memiliki yang Tak seorangpun sebagai sebanding-Ku.
Aku adalah Guru bagi dunia
Tanpa bandingan, seorang Arahat pula
Aku sendiri telah Mencapai Penerangan Sempurna Terpadamkan, api siapa telah padam.
Saya menuju kota Kasi sekarang
Untuk menggerakkan Roda Dhamma:
Dalam dunia yang buta
Aku akan menabuh genderang Tanpa Kematian.
'Saudara, dengan pengakuanmu, engkau seharusnya Penguasa Alam Semesta."
"Seorang penguasa seperti Saya, Upaka,
Adalah yang menang dalam melenyapkan noda-noda ini. Aku menaklukkan semua akusala dhamma:
Karena itulah Aku Pemenang.
'Ketika ini dikatakan, petapa Upaka berkata: "Semoga demikianlah saudara. "Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia mengambil jalan simpang dan berlalu.
'Setelah mengadakan perjalanan secara bertahap, akhirnya Saya -- tiba di Taman Rusa, Isipatana, Baranasi, tempat para bhikkhu kelompok lima berada.
'Mereka melihat Saya datang dari kejauhan, dan mereka bersepakat di antara mereka demikian: "Saudara-saudara, Samana Gotama yang telah memanjakan diri datang ke mari, ia meialaikan pengendalian diri dan kembali pada kemewahan. Kita tidak perlu memberikan penghormatan pada-Nya atau bangkit bagi-Nya atau mengambil patta dan civara-Nya. Tetapi sebuah tempat duduk dapat disiapkan untuk-Nya. Jika ia suka, ia akan duduk."
Namun, segera setelah Saya mendekat, mereka ternyata tidak mampu mempertahankan kesepakatan mereka. Seorang menemui Saya dan menerima patta dan jubah (luar)-Ku; yang lain menyiapkan tempat duduk; -- sedangkan yang lainfiya lagi menyiapkan air tintuk membasuh kaki-Ku kemudian mereka menyapa-Ku dengan panggilan "avuso".
'Setelah mereka berkata begitu, Saya berkata kepada mereka: 'Para bhikkhu, janganlah menyapa seorang Tathagata dengan sebutan - avuso. Tathagata oalah seorang Arahat dan Telah Mencapai Penerangan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu keadaan Tanpa Kematian telah dicapai. Aku akan membimbing kalian; Aku akan mengajarkan dhamma pada - kalian. Dengan melatih sebagaimana kalian dibimbing, kalian akan, dengan merealisasikan sendiri di sini dan sekarang juga dengan abhinna menghayati dan menyelami tujuan tertinggi dari kehidupan suci (brahmacari) yang merupakan tujuan orang meninggalkan kehidupan nafsu indera menjadi tak berumah-tangga.
'Selesai kata-kata ini diucapkan, para bhikkhu dari kelompok lima menjawab: "Avuso Gotama, dengan tingkah laku seperti itu dan menjalani puasa yang berat, yang telah anda laksanakan anda tidak mencapai tujuan yang berharga bagi pengetahuan dan pandangan suci (ariyananadassana) yang melebihi kemampuan (dhamma) manusia manusia biasa. Karena sekarang anda telah memanjakan diri, melalaikan pengendalian dan kembali pada kemewahan, bagaimana dapat anda mencapai tujuan seperti itu?."
'Ketika ini dikatakan, Saya berkata kepada mereka: "Seorang Tathagata bukanlah seorang yang memanjakan diri, juga tidak yang melalaikan pengendalian dan berpaling pada kemewahan. Seorang Tathagata adalah seorang Arahat dan Telah Mencapai Penerangan Sempurna. Dengarlah, para bhikkhu, keadaan Tanpa Kematian telah dicapai ... dari kehidupan duniawi menuju kehidupan suci".
'Untuk kedua kalinya para bhikkhu kelompok lima berkat kepadaku: "Avuso Gotama ... bagaimana anda dapat mencapai tujuan seperti itu.
'Untuk ketiga kalinya Saya berkata kepada mereka: "Seorang Tathagata bukanlah seorang yang memanjakan diri ... dari kehidupan duniawi menuju kehidupan suci."
'Untuk ketiga kalinya para bhikkhu kelompok lima berkata kepada ku: "Teman Gotama ... bagaimana anda dapat mencapai tujuan seperti itu?"
'Ketika ini dikatakan Saya bertanya kepada mereka: "Para bhikkhu, pernahkah kalian mendengar Saya berbicara seperti ini sebelumnya?
"Tidak, bhante."
"Para bhikkhu, Tathagata adalah seorang Arahat dan Telah Mencapai Penerangan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu keadaan Tanpa Kematian telah dicapai. Aku akan membimbing kalian; Aku akan mengajarkan Dhamma pada kalian. Dengan melatih sebagaimana kalian dibimbing, kalian akan, dengan merealisasikan sendiri di sini dan sekarang juga dengan abhinna, menghayati dan menyelami tujuan tertinggi dari kehidupan suci (brahmacari) yang merupakan tujuan orang meninggalkan kehidupan nafsu indera menjadi tak berumah tangga."
"Saya dapat meyakinkan para bhikkhu kelompok lima. Kadang-kadang aku memberi petunjuk pada dua orang bhikkhu sementara tiga lainnya pergi pindapata; kami berenam hidup dari apa yang dibawa pulang dari pindapata oleh ketiganya. Kadang- kadang aku memberi petunjuk pada tiga orang bhikkhu sementara dua lainnya pergi pindapata; dan kami berenam hidup dari pindapata yang dibawa pulan oleh keduanya.
'Kemudian para bhikkhu kelompok lima, setelah diajarkan dan dieberi petunjuk sedemikian oleh ku, mereka sendiri yang mengalami kelahiran, usia tua, sakit kematian, kesediah dan kekotran batin, dengan mengetanui bahaya dalam dhamma-dhamma ini, mencari apa yang tanpa dilahirkan, memutus semua ikatan yakni tercapainya, nibbana; mencapai tanpa kelahiran, tanpa usia tua, tanpa sakit, tanpa kematian, tanpa kesediah, pemutusan semua ikatan yang kuat, nibbana.
'Pengetahuan dan pandangan muncul dalam diri mercka: "Pembebasanku tidak dapat disangkal. Inilah kelahiranku yang terakhir kalinya. Tidak akan ada lagi kelahiran yang berikut nya
Nafsu-nafsu Indera
'Para bhikkhu, terdapatlah lima saluran nafsu indera. Apakah kelimanya? Bentuk-bentuk yang dapat disadari melalui mata yang diharapkan, diinginkan, disetujui dan disukai, dihu bungkan dengin nafsu indera dan dirangsangan oleh hawa nafsu. Suara-suara yang dapat disadari melalui telinga .... Baubauan yang dapat disadari melalui hidung .... Rasa yang dapat disadari melalui lidah .... Sentuhan-sentuhan yang dapat disadari melalui badan .... dirangsang oleh hawa nafsu. Inilah kelima saluran nafsu indera.
'Apabila seorang petapa dan brahmana terlibat dengannya dan tanpa bosan melibatkan diri pada lima saluran nafsu indera dan mengembangkannya tanpa memandang akan bahaya yang ada didalamnya dan tanpa pengertian mengenai cara melepaskan diri dari nafsu indera tersebut, dapat di mengerti bahwa, "Mereka akan mengalami bencana dan kehancuran serta diperlukan semuanya oleh' pembuat kejahatan' (papimato)."
'Apabila ada seekor rusa hutan yang terikat, dan terbaring di atas perangkap, dapat dimengerti bahwa "Ia akan mengalami bencana dan' kehancuran serta diperlukan semuanya oleh pemburu", demikian pula apabila para petapa dan brahmana.." diperlukan semuanya oleh 'pembuat kejahatan.
'Apabila ada seorang petapa dan brahmana tidak terlibat pada nafsu indera dan bosan melibatkan diri di dalam lima saluran nafsu indera dan tidak mengembangkannya, mempunyai pandangan akan bahaya yang ada di dalamnya dan mengerti mengenai cara melepaskan diri dari nafsu indera tersebut maka dapat dimengerti bahwa "Mereka tidak akan mengalami bencana, tidak akan mengalami kehancuran, tidak akan diper-lakukan semaunya oleh 'pembuat kejahatan'.
'Apabila ada seekor rusa hutan yang tidak terikat, namun terbaring di atas perangkap, dapat dimengerti bahwa "Ia tidak akan mengalami bencana, tidak akan mengalami kehancuran, tidak akan diperlakukan semaunya oleh pemburu”, demikian pula apabila para bhikkhudan brahmana …” … tidak diperlakukan semuanya oleh pembuat kejahatan.
'Apabila ada seekor rusa hutan berkelana di hutan liar, ia berjalan tanpa rasa takut, berdiri tanpa rasa takut, duduk tanpa rasa takut berbaring tanpa rasa takut. Mengapa demikian? Karena ia di luar penglihatan pemburu --- demikian juga, dengan mengasingkan diri dari nafsu indera, mengasingkan diri dari dhamma yang tidak menguntungkan (akusala dhamma), seorang bhikkhu mencapai Jhanna I disertai dengan usaha pikiran untuk menangkap objek (vitakka), 'pikiran telah menangkap objek' (vicara), kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) yang muncul dari mengasingkan diri. Para bhikkhu ini dikatakan telah membutakan mata Mara tidak terlihat oleh 'Pembuat Kejahatan' karena telah melenyapkan kesempatan bagi Mara untuk melihat.
'Kemudian, dengan meninggalkan vitakka dan vicara... mencapai Jhana II ... lahir dari pemusatan pikiran. Para bhikkhu ini dikatakan telah membukakan mata Mara, tidak terlihat oleh 'Pembuat Kejahatan' karena telah r lenyapkan kesempatan bagi Mara unttik melihat.
'Kemudian, dengan meninggalkan kegiuran (piti)... mencapai Jhana Ill..."la memiliki kebahagiaan (sukha), keseimbangan batin dan perhatian (sati). Para bhikku ini dikatakan telah membutakan mata Mara, tidak terlihat oleh 'Pembuat Kejahatan' karena telah melenyapkan kesempatan bagi Mara untuk melihat.
'Selanjutnya, dengan meninggalkan kebahagiaan (sukha) dan penderitaan (dukkha) ... mencapai Jhana IV disertai perasaan bukan menyenangkan (asukha) atau bukan penderitaan (adukkha) ia memiliki keseimbangan batin (batin) dan perhatian (sati) yang murni. Para bhikkhu ini dikatakan telah membutakan mata Mara, tidak terlihat oleh 'Pembuat Kejahatan' karena telah melenyapkan kesempatan bagi Mara untuk melihat.
'Kemudian, dengan mengatasi secara penuh' persepsi mengenai bentuk (rupasanna) dan persepsi, ketidaksenangan (patighasanna), dengan tidak memberikan perhatian terhadap persepsi tentang perbedaan' (natattasanna) ia menyadari tentang "ruang adalah tidak terbatas", ia mencapai dan menyadari keadaan 'ruang tanpa batas' (akasanancayatana). Para bhikkhu ini dikatakan telah membutakan mata mara ... melenyapkan kesempatan bagi Mara untuk melihat.
'Lalu, dengan mengatasi secara penuh Akasanancayatana ia menyadari tentang 'kesadaran tanpa batas' (vinnanancayatana), ia mencapai dan menyadari keadaan 'kesadaran tanpa batas' (vinnanancayatana). Para bhikkhu ini dikatakan telah membutakan mata Mara ... melenyapkin kesempatan bagi Mara untuk melihat.
'Kemudian, dengan mengatasi secara penuh keadaan Vin-nanan-cayatana ia menyadari tentang kekosongan' (akincan-nayatana), ia mencapai dan menyadari keadaan 'kekosongan' (akincannayatana). Para bhikku ini dikatakan telah membutakann mata Mara,.. melenyapkan kesempatan bagi Mara untuk melihat.
'Kemudian, dengan mengatasi secara penuh keadaan Akinvannayatana ia menyadari tentang bukan pencerapan atau bukan tidak pencerapan (nevasannanasannayatana), ia mencapai dan menyadari keadaan 'bukan pencerapan atau bukan tidak pencerapan' (nevasannanasannayatana). Para bhikkhu ini dikatakan telah membutakan mata Mara ... melenyapkan kesempatan bagi Mara untuk melihat.
'Selanjutnya, dengan mengatasi secara penuh keadaan Nevasannana sannayatana, ia menyadari 'terhentinya pencerapan dan perasaan' --- (sannavedayitanirodha), ia mencapai dan menyadari keadaan 'terhentinya pencerapan dan perasaan' (sanavedayitanirodha). Para bhikkhu ini dikatakan telah membutakan mata Mara, tidak terlihat oleh 'Pembuat Kejahatan' karena telah melenyapkan kesempatan bagi Mara untuk melihat, serta telah mengatasi kemelekatan pada dunia.
'Ia berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring tanpa rasa takut. Mengapa demikian? la di luar penglihatan 'Pembuat Kejahatan' (Mara).
Itulah yang dikatakan Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa puas dan mereka berbahagia dengan kata-kata Sang Bhagava..
CULAHATTHIPADOMASUTTA
027
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, taman milik Anathapindika, Savatthi.
Pada waktu itu, di siang hari, Brahmana Janussoni mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda-kuda betina berwarna putih, melewati Savatthi. Dia melihat Petapa Pilotika datang, ketika ia melihatnya, ia bertanya: "Dari mana Guru Vacchayana datang pada siang hari begini?"
"Saya baru saja mengunjungi petapa Gotama."
"Bagaimana guru Vacchayana dapat membayangkan kebijaksanaan (panna) petapa Gotama? Apakah dia seorang ahli (pandita) atau tidak?"
"Bagaimana saya mengetahui keahlian kebijaksanaan petapa Gotama? Tentu saja, seorang yang sepadan dengannya yang dapat mengetahui kebijaksanaan petapa Gotama."
"Guru Vacchayana memuji Sang Petapa Gotama dengan pujian yang benar-benar tinggi".
"Bagaimana saya memuji Sang Petapa Gotama? Petapa Gotama dipuji oleh para pemuji -- sebagai yang terbaik di antara para dewa dan manusia."
"Faedah apa yang diketahui oleh guru Vacchayana sehingga dia yakin terhadap Petapa Gotama.
"Misalnya, seorang pandai mengukir patung gajah pergi ke hutan gajah, dia melihat di hutan gajah, sebuah jejak kaki gajah yang besar panjang dan lebar, dia akan menyimpulkan: "Ini adalah seekor gajah jantan yang besar." Demikian juga, begitu saya melihat empat jejak kaki pada Petapa Gotama, saya menyimpulkan: "Sang Bhagava telah mencapai penerangan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha telah memasuki jalan yang baik. Apakah empat tanda jejak kaki itu?
"Saya telah melihat beberapa kesatria yang ahli, pandai dan mengetahui teori-teori lain seperti orang yang membagi rambut (=teliti sekali): seseorang akan membayangkan bagaimana mereka akan memusnahkan pandangan-pandangan (salah) dengan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki. Mereka mendengar: "Petapa Gotama akan mengunjungi sebuah kota atau desa." Maka mereka membuat sebuah pertanyaan begini: "Bila dia di tanya begini, maka dia akan menjawab begini, dan kita akan membuktikan bahwa teorinya salah; juga bila dia ditanya begitu maka dia akan menjawab begitu, sekali lagi kita akan membuktikan bahwa teorinya salah " Mereka mendengar "Petapa Gotama telah datang mengunjungi kota atau desa tersebut." Lalu mereka pergi menemui Petapa Gotama. Petapa Gotama mengajarkan, mendorong, membangkitkan dan memberi harapan mereka dengan kotbah Dhamma. Sesudah itu mereka tidak banyak betanya lagi, jadi bagaimana mereka dapat membuktikan bahwa teorinya salah? Sedangkan mereka pada akhirnya menjadi murid-murid-nya (savaka). Ketika saya melihat jejak kaki pertama Petapa Gotama, saya menyimpulkan: "Sang Bhagava telah mencapai penerangan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha telah memasuki jalan yang baik."
"Juga, saya telah melihat beberapa brahmana yang ahli, pandai .... jejak kaki yang ke dua .... sangha telah memasuki jalan yang baik.
"Begitu pula,saya telah melihat beberapa perumah-tangga (gahapati) yang ahli, pandai .... jejak kaki ketiga ....sangha telah memasuki jalan baik"
"Demikian pula, telah melihat beberapa petapa yang ahli, pandai dan mengetahui teori-teori lain seperti orang yang membagi rambut (=teliti sekali): seseorang akan membayangkan bagaimana mereka akan memusnahkan pandangan-pandangan (salah) dengan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki. Mereka mendengar: "Petapa Gotama akan mengunjungi sebuah kota atau desa." Maka mereka membuat sebuah pertanyaan begini: "Bila dia di tanya begini, maka dia akan menjawab begini, dan kita akan membuktikan bahwa teorinya salah; juga bila dia ditanya begitu maka dia akan menjawab begitu, sekali lagi kita akan membuktikan bahwa teorinya salah " Mereka mendengar "Petapa Gotama telah datang mengunjungi kota atau desa tersebut." Lalu mereka pergi menemui Petapa Gotama. Petapa Gotama mengajarkan, mendorong, membangkitkan dan memberi harapan mereka dengan kotbah Dhamma. Sesudah itu mereka tidak banyak betanya lagi, jadi bagaimana mereka dapat membuktikan bahwa teorinya salah? Sedangkan mereka pada akhirnya mohon kepada Petapa Gotama agar mereka diterima menjadi bhikkhu, Beliau meng-upasampadakan mereka menjadi bhikkhu. Tak lama setelah mereka menjadi bhikkkhu, mereka mengasingkan diri, rajin, bersemangat dan waspada, di tempat itu, pada kehidupan sekarang ini juga, dengan kemampuan batin (abhinna) mereka merealisasikan kehidupan suci yang merupakan tujuan akhir dari meninggalkan berumah-tangga.
Mereka menyatakan: "Mereka hampir tersesat, hampir tidak menyelesaikan tugas, karena dulu kami menganggap bahwa kami adalah samana tetapi kami tidak, kami menganggap bahwa kami adalah brahmana tetapi kami tidak, kami menganggap bahwa kami adalah arahat tetapi kami tidak; tetapi sekarang kami adalah samana, brahmana dan arahat." Ketika saya melihat jejak kaki keempat Petapa Gotama, saya menyimpulkan: "Sang Bhagava telah mencapai penerangan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha telah memasuki jalan yang baik."
"Segera ketika saya melihat empat jejak kaki Sang Bhagava ini, saya menyimpulkan: "Sang Bhagava telah mencapai penerangan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha telah memasuki jalan yang baik."
Pada waktu hal ini dikatakan, Brahmana Janussoni turun dari kereta kudanya yang ditarik kuda-kuda betina putih, mengatur jubahnya pada salah satu bahunya, ia beranjali ke arah dimana Sang Buddha berada dan menyerukan pernyataan tiga kali: "Terpujilah Sang Bhagava, Arahat dan telah mencapai penerangan sempurna (Namo tassa Bhagavato arahato sammasambuddhassa)."
Kemudian Brahmana Janusoni menemui Sang Bhagava, memberi salam, dan setelah percakapan yang bersahabat dan sopan selesai, ia duduk. Setelah itu, dia menceritakan semua percakapannya dengan Petapa Pilotika. Setalah hal itu dikatakannya, Sang Bhagava berkata: "Brahmana, dalam hal ini, perumpamaan jejak kaki gajah (hatthipadopamo) belumlah selesai diterangkan secara rinci. Karena itu dengarkan bagaimana hal ini dijelaskan dengan rinci dan perhatikan apa yang akan kukatakan."
"Baiklah bhante," jawab Brahmana Janussoni.
Sang Bhagava berkata begini: "Brahmana, seorang pandai kayu, pengukir patung gajah, pergi ke sebuah hutan gajah, dan dia melihat di hutan gajah itu sebuah jejak kaki gajah yang besar, memanjang dan melebar; seorang pematung gajah yang bijaksana tidak akan segera menyimpulkan: 'Ini adalah gajah jantan dan besar pula.' Mengapa begitu? Dalam sebuah hutan gajah ada beberapa gajah betina kecil yang mempunyai jejak kaki besar. Ini mungkin jejak kaki salah satu dari mereka. Dia mengikuti jejak kaki itu. Sehingga ia melihat di hutan gajah itu sebuah jejak besar kaki gajah yang besar, melebar dan memajang, dan tanda gesekan di pohon: seorang pematung gajah yang bijaksana tidak akan segera menyimpulkan: 'Ini adalah seekor gajah jantan dan besar pula.' Mengapa begitu? Di dalam sebuah hutan gajah ada beberapa gajah betina yang tinggi dengan gading yang kuat, yang mempunyai jejak kaki yang besar. Ini mungkin jejak kaki salah satu dari mereka. Dia mengikuti jejak itu. Sehingga dia melihat di dalam hutan gajah itu sebuah jejak kaki gajah yang melebar dan memanjang, tanda gesekan di pohon dan tanda goresan dari gading gajah; seorang pematung gajah yang bijaksana tidak segera menyimpulkan: 'Ini adalah seekor gajah jantan dan besar pula'. Mengapa begitu? Di dalam sebuah hutan Gajah ada beberapa gajah betina tinggi, bergading dan mempunyai jejak kaki yang besar. Ini mungkin jejak kaki salah satu dari mereka. Dia mengikuti jejak itu, sehingga dia melihat di dalam hutan gajah itu sebuah jejak kaki gajah yang melebar dan memanjang, tanda gesekan pada pohon, tanda goresan yang berasal dari gading gajah dan dahan-dahan yang patah. Dia melihat gajah jantan tersebut di bawah pohon atau di udara terbuka, sedang berjalan atau berdiri, duduk atau berbaring. Dia menyimpulkan: 'Inilah gajah besar yang dimaksud.'"
"Brahmana, begitu juga, Tathagata muncul di dunia sebagai Arahat Sammma Sambuddha, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduk- Nya, Sempurna menempuh Jalan , Pengenal semua alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar dan yang mulia.
"Dia menyatakan kepada dunia, termasuk para dewa, mara dan orang-orang suci; kepada para manusia, petapa, brahmana serta para raja, apa yang Ia telah realisasikan dengan pengetahuan langsung (abhinna)."
"Dia mengajarkan Dhamma yang baik pada awalnya, baik pada pertengahannya dan baik pada akhirnya, dengan arti dan kalimat yang benar serta Dia memberitakan sebuah kehidupan suci yang sangat sempurna dan murni.
"Seorang perumah tangga atau anaknya dari keluarga tertentu mendengar Dhamma. Setelah mendengar Dhamma, muncul keyakinannya kepada Tathagata. Berdasarkan pada keyakinan itu, ia merenung: 'Kehidupan berumah tangga adalah sibuk dan kotor; kehidupan tak berumah tangga (pabbajja) terbuka lebar. Hidup berumah tangga adalah tak mungkin mempraktikkan kehidupan suci (brahmacari) dengan sempurna seperti bersihnya kulit kerang yang digosok. Andaikata aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning (civara) dan meninggalkan kehidupan duniawi menjadi samana (pabbajja)?'"
"Pada kesempatan lain, mungkin meninggalkan keberuntungan kecil atau besar, meninggalkan sedikit atau banyak sanak keluarga, ia mencukur kepala dan janggutnya, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan kehidupan duniawi menjadi sama."
Setelah meninggalkan kehidupan dunia menjadi samana dan memiliki pandangan dan latihan (sikkha) kebhikkhuan, meninggalkan pembunuhan makhluk hidup, pemukul dan senjata ditinggalkan, dengan lembut dan sayang ia hidup dengan mengasihi semua makhluk hidup.
Meninggalkan pengambilan barang yang tidak diberikan, ia menjadi orang yang menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan, hanya mengambil apa yang diberikan dan hanya mengharapkan apa yang diberikan, ia hidup suci tanpa mencuri.
Meninggalkan kehidupan yang tidak suci, ia menjadi orang yang hidup suci (brahmacari), ia hidup menghidari kehidupan kasar.
Meninggalakan ucapan bohong, ia menjadi orang yang menghindari kebohongan, ia berkata benar, taat pada kebenaran, dapat dipercaya, dapat diandalkan dan tidak menipu dunia.
Meninggalkan kata-kata kejam, ia menjadi orang yang menghindari kata-kata kejam: ia bukan orang yang mengulang kata- kata di tempat mana pun apa yang telah ia mendengar di sini dengan maksud menyebabkan perpecahan di sini, atau ia tidak mengulang di sini tentang apa yang telah ia dengar di tempat lain dengan maksud untuk menyebabkan perpecahan di sana; tapi ia adalah orang yang mempersatukan kembali apa yang telah pecah, mengusahakan persahabatan, menikmati persatuan, menyenangi persatuan, gembira dengan persatuan, ia menjadi seorang pembicara yang mengusahakan persatuan.
"Meninggalkankata-kata kasar, ia menjadi seorang yang nenghindari berkata kasar, ia menjadi seorang pembicara kata-kata yang bersih, enak didengar dan indah, bila dirasakan dalam hati, itu adalah sopan, diinginkan dan disenangi oleh banyak orang."
"Meninggalkan gosip, ia menjadi orang yang menghindari gosip: ia menjadi orang yang berbicara pada waktu yang tepat tentang apa yang benar, berguna, dhamma, vinaya, ia menjadi dengan kata-kata yang tepat, pantas diingat, masuk akal, terukur dan berhubungan dengan kebaikan.
"Ia menghindari perbuatan merusak biji-bijian dan tanaman."
"Ia menghindari perbuatan untuk makan lewat tengah hari tidak makan pada sore dan malam hari."
"Ia menghindari berdansa, menyanyi, bermain musik dan melihat pertunjukkan."
"Ia menghindari memakai karangan bunga, wangi-wangian dan bahan rias."
"Ia menghindari memakai tempat tidur yang lebar dan tinggi."
"Ia menghindari menerima emas dan perak."
"Ia menghindari menerima jagung mentah."
"Ia menghindari menerima daging mentah."
"Ia menghindari menerima wanita dan gadis"
"Ia menghindari menerima wanita dan laki-laki yang sudah punya ikatan."
"Ia menghindari menerima kambing dan domba."
"Ia menghindari menerima ayam dan babi."
"Ia menghindari menerima gajah, ternak, kuda."
"Ia menghindari menerima tanah dan sawah."
"Ia menghindari menjadi pesuruh."
"Ia menghindari membeli dan menjual."
"Ia menghindari penipuan timbangan, logam dan ukuran."
"Ia menghindari menipu, berbohong, mengakali dan mempermain- kan."
"Ia menghindari melukai, membunuh, merampok, merampas dan menganiaya."
"Ia menjadi orang yang puas dengan jubah yang menutupi badannya, dengan makanan pindapata untuk mengisi perutnya: kemana dia pergi ia membawa itu semua bersamanya. Seperti burung yang terbang ke mana saja dengan sayapnya sendiri, begitu pula ia menjadi orang yang puas dengan jubah yang menutupi badannya, makanan pindapata untuk mengisi perutnya: ke mana dia pergi ia membawa itu semua bersamanya."
"Dengan memiliki ariya sila, ia merasakan dalam dirinya kebahagiaan yang tak tercela. Ia menjadi orang yang melihat bentuk melalui matanya, menyadari tanpa bayangan dan keistimewaan, bila ia membiarkan matanya tak terjaga, maka akusala dhamma seperti keserakahan dan pikiran jahat akan menyerangnya. Ia menjaga indera mata, ia menahan diri dengan indera mata. Sewaktu mendengar dengan telinga .... sewaktu mencium dengan hidungnya ... sewaktu mengecap dengan lidahnya ... sewaktu menyentuh dengan badannya ... sewaktu mengerti Dhamma dengan pikirannya ... ia menahan diri dengan indera pikiran. Dengan memiliki ariya sila, ia merasakan dalam dirinya kebahagiaan yang tak tercela."
"Ia menjadi orang yang bertindak dengan kesadaran penuh ketika bergerak ke depan dan ke belakang, ia bertindak dengan kesadaran penuh ketika melihat dan menengok, ia bertindak dengan kesadaran penuh ketika melentur dan merentang, ia bertindak dengan kesadaran penuh ketika mengenakan pamsakula civara, jubah dan patta, ia bertindak dengan kesadaran penuh ketika makan, minum, mengunyah dan mengecap. Ia bertindak dengan kesadaran penuh ketika buang air besar atau air kecil, ia bertindak dengan kesadaran penuh ketika berjalan, berdiri, duduk, bangun, bicara dan diam."
Dengan memiliki sila ariya, pengendalian indera (indriya- samvara) ariya dan perhatian serta kesadaran penuh (satisampajana) ariya, ia mengasingkan diri di tempat yang sepi -- di hutan, di bawah pohon, batu, jurang, gua gunung, tanah kuburan, hutan sunyi, tempat terbuka dan tumpukan jerami. Setelah kembali pindapata dan selesai makan, ia duduk bersila, menegakkan tubuhnya dan memusatkan pikiran dengan kesadaran penuh.
Ia meninggalkan keserakahan duniawi (abhijjha loka), ia hidup dengan pikiran yang bebas dari keserakahan, ia menyucikan pikiran dari keserakahan. Ia meninggalkan kebencian dan dendam (byapadapadosa), ia hidup tanpa pikiran membenci, mengharapkan kesejahteraan semua makhluk, ia membebaskan pikiran dari benci dan dendam. Ia meninggalkan kelesuaan dan rasa ngantuk (thinamiddha); ia hidup tanpa kelesuan dan ngantuk, menyadari sinar, berkesadaran penuh, ia membebaskan pikiran dari kelesuan dan ngantuk. Ia meninggalkan rasa takut dan kekhawatiran (uddhaccakukkucca), ia hidup tanpa rasa takut dan kekhawatiran, ia membebaskan pikiran dari rasa takut dan cemas. Ia meninggalkan keragu-raguan (vicikiccha), ia hidup tanpa keragu-raguan dan tidak meragukan kusala dhamma, ia membebaskan pikiran dari keragu-raguan.
"Setelah meninggalkan lima rintangan (panca nivarana), pikiran kurang sempurna yang melemahkan kebijaksanaan, cukup dapat menahan diri dari nafsu indera, dapat menjauhi diri dari akusala dhamma, ia mencapai dan berada dalam Jhana I yang diikuti oleh 'usaha pikiran untuk menangkap obyek' (vitakka) dan 'pikiran telah menangkap obyek' (vicara), kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha) yang muncul karena ketenangan (viveka).
"Ini disebut suatu jejak kaki dari seorang Tathagata, tanda gesekkan dan goresan dari seorang Tathagata, tetapi berdasarkan pada hal ini seorang siswa ariya (ariya savaka) belum dapat menyatakan: "Sang Bhagava telah mencapai penerangan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha telah memasuki jalan yang baik."
"Selanjutnya, dengan menghilangkan vitakka dan vicara, ia mencapai dan berada dalam Jhana II, ia memiliki keyakinan diri dan pikiran terpusat (cetaso ekodibhava), tanpa vitakka dan tanpa vicara, dengan piti dan sukha yang muncul karena viveka.
"Ini juga disebut suatu jejak kaki Sang Tathagata ...
"Selanjutnya, dengan menghilangkan piti, ia memiliki keseimbangan batin (upekha), dengan kesadaran penuh (sampajana) dan sukha, ia mencapai dan berada dalam Jhana III, tetapi seorang ariya savaka menyatakan: "Ia hidup bahagia dengan memiliki upekha dan perhatian (sati)."
"Ini juga disebut suatu jejak kaki Sang Tathagata ...
"Selanjutnya dengan meninggalkan kebahagiaan (sukha) dan penderitaan (dukkha), dengan menghilangkan pikiran senang maupun pikiran tidak senang, ia mencapai dan berada dalam Jhana IV, yang tanpa sukha dan tanpa dukkha serta sati dan upekha yang suci.
"Ini juga disebut suatu jejak dari kaki Sang Tathagata ...
"Ketika pikirannya yang terkonsentrasi, bersih, terang, tidak bernoda, bebas dari kotoran batin, dapat dijinakkan, terlatih, kokoh, dan mendapatkan ketenangan, ia mengarahkan dan mencondongkan pikirannya kepada pengetahuan tentang kehidupan- kehidupan yang lampau (pubbenivasanussatinana) ... (seperti dalam sutta 4 para. 27) ... karenanya dengan pandangan dan kemampuan yang tinggi ia mengingat bermacam-macam kehidupan masa lampaunya."
"Ini juga disebut suatu jejak kaki Sang Tathagata ..."
"Ketika konsentrasi pikiran dimurnikan ....danmendapat ketenangan, ia mengarahkan dan mencondongkan pikiran kepada pengetahuan tentang timbul dan lenyapnya makhluk (cutupapatanana) ... karena dengan mata dewanya yang bersih dan melebihi kemampuan mata manusia, ia melihat ... bagaimana makhluk-makhluk meninggal dan terlahir kembali sesuai dengan karma mereka.
"Ini juga disebut jejak kaki Sang Tathagata, tanda gesekan dan goresan seorang Tathagata, tetapi berdasarkan pada hal ini seorang ariya savaka belum dapat menyatakan: "Sang Bhagava telah mencapai penerangan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik. Sangha telah memasuki jalan yang baik."
"Ketika pikiran yang terkonsentrasi telah dimurnikan ... dan mendapat ketenangan, ia mengarahkan dan mencondongkan pikirannya pada pengetahuan melenyapkan kekotoran batin. Ia mengerti sebagaimana apa adanya: "Inilah dukkha" ... (Uraian rinci lihat Bhayabherava Sutta) .... Ia mengerti sebagaimana apa adanya: Inilah jalan menuju penghentian Dukkha."
"Ini juga disebut jejak kaki Sang Tathagata, tanda gesekan dan goresan seorang Tathataga, tetapi berdasarkan pada hal ini seorang ariya savaka belum dapat menyatakan: "Sang Bhagava telah mencapai penerangan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, Sangha telah memasuki jalan yang baik."
"Mengetahui hal begitu, melihat hal begitu, batinnya terbebas dari noda nafsu indera, noda perwujudan dan noda ketidaktahuan. Ketika terbebas, muncul pengetahuan "Telah terbebas". Ia mengerti dengan jelas: "Kelahiran telah lenyap, kehidupan suci telah dilaksanakan, apa yang harus dikerjakan telah dilakukan, tidak ada yang melampauinya lagi."
"Ini juga disebut sebuah jejak kaki dari seorang Tathagata, suatu tanda gesekan dan goresan dari seorang Tathagata. Pada tingkat ini, seorang siswa ariya dapat menyatakan: "Sang Bhagava telah mencapai penerangan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha telah memasuki jalan yang baik."
"Brahmana, sampai pada bagian ini, "perumpamaan tentang jejak kaki gajah" (Hattthipadapama) telah selesai diterangkan secara rinci."
Ketika hal ini selesai diuraikan, Brahmana Janussoni berkata: "Luar biasa, Gotama! Luar biasa, Gotama! Dhamma telah dijelaskan dengan banyak cara oleh Gotama. Sama seperti menegakkan yang roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam kegelapan agar orang lain dapat melihat. Saya menyatakan berlindung pada Gotama, Dhamma dan Sangha. Sejak hari ini, semoga Gotama mengingat bahwa saya telah menyatakan berlindung kepada-Nya."
MAHAHATTHIPADOPAMA SUTTA
(28)
1. Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, taman milik Anathapindika, Savatthi. Di tempat itu Bhikkhu Sariputta berkata kepada para bhikkhu: "Avuso."
"Ya, Avuso." jawab mereka.
Selanjutnya, Bhikkhu Sariputta berkata:
2. "Para avuso, seperti halnya jejak kaki semua makhluk hidup yang berjalan dapat dimasukan ke dalam jejak kaki gajah, karena dianggap jejak kaki gajah adalah yang terbesar di antara semuanya, demikian juga Dhamma-dhamma yang menguntungkan, mereka semua dapat dimasukan ke dalam Empat Kesunyataan Mulia. Ke dalam empat hal apakah?
3. "Ke dalam Kesunyataan Mulia tentang adanya Dukkha, ke dalam Kesunyataan Mulia tentang asal mula dukkha, ke dalam Kesunyataan mulia tentang terhentinya Dukkha dan ke dalam Kesunyataan Mulia tentang Jalan Menuju Terhen¬tinya Dukkha."
4. "Apakah Kesunyataan Mulia tentang adanya Dukkha? Kelahiran adalah Dukkha, umur tua adalah Dukkha, kematian adalah Dukkha; penderitaan dan penyesalan, sakit, kesedihan dan putus asa adalah Dukkha; tidak mendapat¬kan suatu yang di inginkan adalah Dukkha; pendeknya lima kelompok yang terpengaruh oleh kemelekatan adalah Dukkha.
5. "Dan apakah lima kelompok yang terpengaruh oleh kemelekatan? Mereka adalah kelompok bentuk yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok perasaan yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok pencerapan yang terpenga¬ruh oleh kemelekatan, kelompok bentuk pikiran yang terpengaruh oleh kemeleka¬tan dan kelompok kesadaran yang terpengaruh oleh kemelekatan."
6. "Apakah kelompok bentuk yang terpengaruh oleh kemelekatan? Itu adalah empat unsur dasar utama dan setiap bentuk yang ditimbulkannya."
7. "Apakah empat unsur dasar utama itu? Mereka adalah unsur tanah, unsur air , unsur api dan unsur udara."
( T A N A H )
8. "Apakah unsur tanah itu? Unsur tanah dapat merupakan suatu yang berada di dalam atau di luar seseorang."
"Apakah unsur tanah yang berada di dalam diri seseorang? Apapun yang terdapat dalam diri seseorang, milik seseorang, yang berbentuk padat, dapat dipadatkan dan melekat padanya, misalnya, rambut kepala, bulu badan, kuku-kuku, gigi-gigi, daging, otot- otot, tulang-tulang, tulang rawan, jantung, ginjal, lever, isi perut, limpa, paru-paru, usus, batas rongga perut dan dada, tenggorokan, kotoran, atau apa saja yang ada pada seseorang, milik seseorang, yang berbentuk padat, dapat dipadatkan dan melekat: ini disebut sebagai unsur tanah dalam diri seseorang."
"Nah unsur tanah, baik yang berada di dalam atau di luar diri seorang, secara singkat disebut unsur tanah. Hal ini harus dilihat dengan pengertian benar sebagaimana mestinya sehingga: "Ini bukanlah milikku, ini bukanlah aku, ini bukanlah kepunyaanku."
"Bila seseorang melihat hal ini dengan pengertian benar sebagaimana mestinya, dia tidak akan terpengaruh dengan emosinya terhadap unsur tanah ini, dia menghindarkan nafsu terhadap unsur tanah ini dari pikirannya."
9. "Nah, ada kemungkinan unsur tanah yang berada di luar diri seseorang terganggu sehingga unsur itu rusak."
10. "Walaupun unsur tanah diluar diri seseorang demikian besar, hal ini dilukiskan sebagai suatu yang tidak kekal, suatu yang dapat rusak, suatu yang dapat lenyap, suatu yang dapat berubah, demikian halnya dengan tubuh ini, yang melekat oleh nafsu dan berlangsung sementara? Tidak ada sesua¬tu yang dapat dianggap sebagai "Aku" , "Milikku" atau "Adalah aku".
11. "Karenanya, (setelah melihat unsur ini sebagaimana mestinya) bila orang lain menipu dan mengkritik dengan kasar, mengutuk dan mengancam seorang bhikkhu, dia mengerti: "Perasaan sakit dari telinga sedang muncul dalam diriku. Yang mana bergantung dan bukanlah suatu yang bebas sifatnya. Bergantung dengan apa? Bergantung dengan kontak. " Kemudian ia melihat bahwa kontak itu sendiri tidaklah kekal, perasaan itu tidaklah kekal, pencerapan itu tidaklah kekal, bentuk pikiran itu tidaklah kekal. Dan pikirannya yang sudah menangkap obyek (bagian dari kelompok bentuk), membuat suatu unsur pendukung, memasukinya (obyek pikiran yang baru kini sudah kuat) dan mendapatkan keper¬cayaan, kekuatan dan pendirian."
12. "Nah, bila orang lain menyerang bhikkhu itu dengan kepalan tinju, bongkahan tanah, tongkat atau pisau secara tidak diharapkan, tidak disengaja atau secara kebetulan, dia mengerti: "Tubuh ini adalah suatu di mana kontak dengan kepalan tinju, bongkahan tanah, tongkat dan pisau terjadi. Tetapi ini telah dikatakan Sang Bhagava dalam percakapannya tentang perumpa¬maan gergaji. Walaupun bandit-bandit dengan buasnya memotong dahan-dahan kayu dengan gergaji. seorang yang penuh dengan kebencian di dalam hatinya tak akan dapat melaksanakan ajaranku.
Karenanya energi yang tak kenal lelah harus kubangkitkan dan pikiran yang tenang tercipta, tubuhku akan tenang dan tidak terpengaruh, pikiranku akan terkonsentrasi dan menyatu. Dan sekarang biarlah kontak dengan tinju, bongkah tanah, tongkat dan pisau terjadi pada diriku. Karena ini adalah pesan Para Buddha bagaimana menerima suatu hasil dari kamma."
13. "Bila seseorang mengingat Buddha, Dhamma dan Sangha, ketenangan batin tidak muncul sebagai suatu dukungan yang bermanfaat, lalu dia membang¬kitkan perasaan menekan seperti ini: "Ini tak berarti bagiku, ini tak mengun¬tungkan bagiku, ini tak baik bagiku, ini buruk bagiku, jika aku mengingat Buddha, Dhamma dan Sangha tapi ketenangan batin tak timbul sebagai suatu hal yang bermafaat." Seperti ketika seorang menantu perempuan memperhatikan mertua laki-lakinya, ia mempunyai perasaan mengabdikan diri, demikian juga , bila seorang Bhikkhu ... hal menguntungkan dan berguna."
14. "Tetapi bila seorang Bhikkhu mengingat Buddha, Dhamma dan Sangha sehingga ketenangan batin timbul sebagai suatu dukungan yang berman¬faat, dia akan merasa puas. Dalam hal ini, teman, banyak hal yang telah dilak¬ukan oleh bhikkhu tersebut."
( A I R )
15. "Apakah unsur air itu? Unsur air itu dapat berada di dalam diri seseorang atau di luar diri seseorang."
"Apakah unsur air yang berada dalam diri seseorarng?"
"Apapun yang berada di dalam diri seseorang, milik seseorang, berupa air, bersifat cair dan melekat, yaitu air empedu,lendir, nanah, darah, kerin¬gat, gajih, air mata, minyak, air ludah, dahak, minyak persendian, air seni, atau apa saja yang berada di dalam diri seseorang, milik seseorang, yang berbentuk air, bersifat cair dan melekat."
"Nah unsur air, baik yang berada di dalam atau di luar diri seseo¬rang, secara singkat disebut unsur air. Hal ini harus dilihat dengan pengertian benar sebagaimana mestinya sehingga: "Ini bukanlah milikku, ini bukanlah aku, ini bukanlah kepunyaanku."
"Bila seseorang melihat hal ini dengan pengertian benar sebagaimana mestinya, dia tidak akan terpengaruh dengan emosinya terhadap unsur air ini, dia menghindarkan nafsu terhadap unsur air ini dari pikirannya."
16. "Ada kemungkinan bahwa unsur air itu terganggu, ia akan meng-hanyutkan desa, kota kecil, kota besar, wilayah dan suatu propinsi. Ada ke¬mungkinan air di samudra luas tenggelam seratus league... dua ratus league... tujuh ratus league. Ada kemungkinan air di samudra luas dalamnya setinggi tujuh pohon palem, dalamnya setinggi enam pohon palem,... dua pohon palem, hanya sebuah pohon palem. Ada kemungkinan air di samudra dalamnya setinggi tujuh badan orang dewasa, enam... hanya setinggi badan seorang dewasa. Ada kemungkinan air di samudra setinggi setengah badan orang dewasa, hanya seting¬gi pinggang, hanya setinggi dengkul, hanya setinggi mata kaki. Ada kemungkinan air di samudra tidak cukup untuk membasahi bahkan disentuh oleh tangan."
17. "Walaupun unsur air di luar diri seseorang, demikian besar, hal ini dilukiskan sebagai suatu yang tidak kekal, suatu yang dapat rusak, suatu yang dapat lenyap, suatu yang dapat berubah, demikian pula dengan tubuh ini, yang melekat oleh nafsu dan berlangsung sementara? Tidak ada sesuatu yang dapat dianggap sebagai "Aku" , "Milikku" atau "Adalah aku".
18-21. "Karenanya, (setelah melihat unsur ini sebagaimana mestinya) bila orang lain menipu... (ulang paragrap 11-14)... banyak hal yang telah dilakukan oleh Bhikku tersebut."
( A P I )
22. "Apakah unsur api itu? Unsur api itu dapat berada di dalam diri seseorang atau di luar diri seseorang."
"Apakah unsur api yang berada dalam diri seseorang?"
"Apapun yang berada di dalam diri seseorang, milik seseorang, yang berupa api, bersifat api dan melekat, yaitu suatu yang hangat, bertahan/berjangka waktu, dipakai, yang mana dimakan, diminum, dikunyah, dan dikecap atau ditelan, atau apa saja yang berada di dalam diri seseorang, milik seseorang, yang berupa api, bersifat panas dan melekat: ini disebut unsur di dalam diri seseorang."
"Nah unsur api, baik yang berada di dalam atau di luar diri seorang secara singkat disebut unsur api. Hal ini harus dilihat dengan peng-ertian benar sebagaimana mestinya sehingga: "Ini bukanlah milikku, ini bukan¬lah aku, ini bukanlah kepunyaanku."
"Bila seseorang melihat hal ini dengan pengertian benar sebagaimana mestinya, dia tidak akan terpengaruh dengan emosinya terhadap unsur api ini, dia melenyapkan nafsu terhadap unsur api ini dari pikirannya."
23. "Ada kemungkinan unsur api di luar badan manusia ini terganggu. Ia akan membakar habis sebuah desa, kota kecil, kota besar, wilayah atau propinsi dan negara. Api membakar rumput hijau atau sebuah batu atau sebuah jalan, air atau udara terbuka, hanya untuk memcari bahan bakar. Bahkan ada kemungkinan orang akan membuat api dengan cakar ayam atau tulang ikan."
24. "Walaupun unsur api di luar diri seseorang, demikian besar, hal ini dilukiskan sebagai suatu yang tidak kekal, suatu yang dapat rusak, suatu yang dapat lenyap, suatu yang dapat berubah, demikian halnya dengan tubuh ini, yang melekat oleh nafsu dan berlangsung sementara? Tidak ada sesua¬tu yang dapat dianggap sebagai "Aku" , "Milikku" atau "Adalah aku".
25-28. "Karenanya, (setelah melihat unsur ini sebagaimana mesti¬nya) bila orang lain menipu... (ulang paragrap 11-14)... banyak hal yang telah dilakukan oleh Bhikku tersebut."
( U D A R A )
29. "Apakah unsur udara itu? Unsur udara itu dapat berada di dalam diri seseorang atau di luar diri seseorang."
"Apakah unsur udara yang berada dalam diri seseorang?"
"Apapun yang berada di dalam diri seseorang, milik seseorang, berupa udara, bersifat udara dan melekat, yaitu tekanan udara yang naik, tekanan udara yang menurun, tekanan udara di dalam perut, tekanan udara dalam usus, tekanan udara yang tersebar di semua anggota tubuh, dalam nafas, atau apa saja yang berada di dalam diri seorang, milik seseorang, yang berupa udara, bersi¬fat udara dan melekat: ini yang disebut dengan unsur udara yang berada di dalam diri seseorang".
"Nah unsur udara, baik yang berada di dalam atau di luar diri seorang, secara singkat disebut unsur udara. Hal ini harus dilihat dengan pengertian benar sebagaimana mestinya sehingga: "Ini bukanlah milikku, ini bukanlah aku, ini bukanlah kepunyaanku.'
"Bila seseorang melihat hal ini dengan pengertian benar sebagaimana mestinya, dia tidak akan terpengaruh dengan emosinya terhadap unsur api ini, dia menghindarkan nafsu terhadap unsur udara ini dari pikirannya."
30. "Ada kemungkinan unsur udara di luar badan manusia ini tergang-gu. Ia akan menyapu habis sebuah desa, kota kecil, kota besar, wilayah atau propinsi dan negara. Ada kemungkinan pada masa akhir musim panas, ketika orang mencari angin dengan kipas angin atau lobang angin bahkan jalinan tali rum¬bai, tetapi tidak berputar".
31. "Walaupun unsur udara di luar diri seseorang, demikian besar, hal ini dilukiskan sebagai suatu yang tidak kekal, suatu yang dapat rusak, suatu yang dapat lenyap, suatu yang dapat berubah, demikian halnya dengan tubuh ini, yang melekat oleh nafsu dan berlangsung sementara? Tidak ada sesua¬tu yang dapat dianggap sebagai "Aku" , "Milikku" atau "Adalah aku".
32-35. "Karenanya, (setelah melihat unsur ini sebagaimana mesti¬nya) bila orang lain menipu... (ulang paragrap 11-14)... banyak hal yang telah dilakukan oleh Bhikku tersebut."
36. "Seperti sebuah ruangan ditutup oleh balok kayu, tanaman dan tanah, maka timbulah istilah "rumah". Demikian juga bila sebuah ruangan ditut¬up oleh tulang-tulang dan otot-otot, daging dan kulit, sehingga timbullah istilah tubuh."
37. "Bila landasan mata seseorang masih sempurna tetapi tidak ada bentuk luar yang memasuki pintu kesadarannya dan tidak ada hubungan kesadaran yang semestinya, maka tidak ada pembentukan pada tingkat kesadaran itu. Bila landasan mata seseorang masih sempurna dan ada bentuk luar yang memasuki pintu kesadarannya tetapi tidak ada hubungan kesadaran yang semestinya, maka tidak ada pembentukan pada tingkat kesadaran itu. Tetapi bila landasan mata seseorang masih sempurna, kemudian ada bentuk luar yang memasuki pintu kesada-rannya dan adanya hubungan kesadaran yang semestinya, maka terjadilah pemben¬tukan pada tingkat kesadaran itu. "
38. "Bentuk apapun yang demikian, termasuk kelompok bentuk yang dipengaruhi kemelekatan. Perasaan apapun yang demikian, termasuk kelompok perasaan dipengaruhi kemelekatan. Pencerapan apapun yang demikian, termasuk kelompok pencerapan yang dipengaruhi kemelekatan. Bentuk pikiran apapun yang demikian, termasuk kelompok bentuk pikiran yang dipengaruhi kemelekatan. Kesadaran apapun yang demikian, termasuk kelompok kesadaran yang dipengaruhi kemelekatan."
"Dia mengerti bagaimana hal ini dirangkum, dimasukan, dikumpulkan ke dalam kelompok lima yang dipengaruhi oleh kemelekatan ini. Sang Bhagava pernah mengatakan begini: "Dia yang melihat asal mula ketergantungan melihat Dhamma: Dia yang melihat Dhammma melihat asal mula ketergantungan." Lima kelompok yang dipengaruhi kemelekatan ini, timbul secara bergantungan. Keinginan untuk memngandalkan, menyetujui atau menerima, lima kelompok yang dipengaruhi oleh kemelekatan ini, adalah asal mula penderitaan. Melenyapkan dan meninggalkan nafsu dan keinginan untuk hal-hal tersebut adalah terhentinya penderitaan. Sampai pada keadaan ini, telah banyak yang dikerjakan oleh bhikkhu tersebut."
39-40. "Bila landasan telinga seseorang berfungsi dengan baik tetapi tidak ada objek suara yang memasuki pintu kesadarannya... (lihat para-grap 37-38)... telah banyak yang dikerjakan oleh bhikkhu tersebut."
41-42. "Bila landasan hidung seseorang berfungsi dengan baik tetapi tidak ada obyek bau yang memasuki pintu kesadarannya... telah banyak yang dikerjakan oleh bhikkhu tersebut."
43-44. "Bila landasan lidah seseorang berfungsi dengan baik tetapi tidak ada obyek rasa yang memasuki pintu kesadarannya... telah banyak yang dikerjakan oleh bhikkhu tersebut."
45-46. "Bila landasan tubuh seseorang berfungsi dengan baik tetapi tidak ada obyek sentuhan yang memasuki pintu kesadarannya... telah banyak yang dikerjakan oleh bhikkhu tersebut."
47-48. "Bila pikiran seseorang berfungsi dengan baik tetapi tidak ada obyek Dhamma yang memasuki pintu kesadarannya ... telah banyak yang diker¬jakan oleh bhikkhu tersebut."
Inilah yang dikatakan oleh Bhikkhu Sariputta. Para bhikkhu merasa puas dan bergembira dengan kata-kata beliau.
MAHASAROPAMASUTTA
(29)
Demikianlah yang saya dengar:
Suatu ketika Sang Bhagava berdiam di dekat Rajagaha di puncak Gunung Burung Hering tidak lama setelah Devadatta pergi. Di sana Sang Bhagava berbicara pada para bhikkhu mengenai Deva¬datta:
"Di sinilah, o para bhikkhu (2), beberapa pemuda telah meninggalkan rumah dan keluarganya berdasarkan keyakinan dan pemikiran: "Saya dicengkeram oleh kelahiran, usia tua, dan kematian; oleh duka cita, kesedihan, penderitaan, rata¬pan, dan putus asa. Saya dicengkeram oleh derita hebat, dilimpahi derita hebat. Mungkin penghancuran seluruh derita hebat ini dapat ditunjukkan." Karena itu ia pergi, mendapat keuntungan, kemuliaan, dan kemasyuran. Karena keuntungan, kemuliaan, dan kemasyuran, ia menjadi terpuaskan, tujuannya tercapai. Karena keuntungan, kemuliaan, dan kemasyuran ini pula, ia mengagungkan dirinya sendiri dan meremehkan orang lain, dengan berkata: "Akulah si penerima dan menjadi terke¬nal, tetapi para bhikkhu lain hanya tahu sedikit dan dihargai sedikit." Karena keuntungan, kemuliaan, dan kemasyurannya ini, ia menjadi gembira, malas, danterjatuh dalam kelembaman; menjadi malas, lalu jatuh sakit. Para bhikkhu, hal ini dapat diibaratkan seperti seseorang yang berjalan mengejar untuk menemukan dan mencari intisari dari pohon yang besar, kokoh dan berbiji banyak, melewati intisari itu sendiri, melewati kayu lunak, melewati kulit kayu, melewati tunas muda, dan setelah memotong cabang dan dedaunan, mungkin akan membawa semuanya karena menganggap bahwa semua itu adalah intisari. Seseorang yang dapat 'melihat', setelah melihat dia, mungkin berkata: "Sesungguhnya orang baik ini tidak tahu tentang intisari, dia tidak tahu tentang karu lunak, dia tidak tahu tentang kulit kayu, dia tidak tahu tentang tunas muda, dia tidak tahu tentang cabang dan dedaunan. Pengetahuan orang baik ini tidaklah sebanyak perjalannya dalam mengejar untuk menemukan dan mencari intisari dari pohon yang besar, kokoh, dan berbiji banyak; melewati intisari itu sendiri melewati kayu lunak, melewati kulit kayu, melewati kulit kayu, mele¬wati tunas muda, dan setelah menebang cabang dan dedaunan, membawa semuanya karena menganggap bahwa semua itu adalah intisari. Maka dia tidak akan mendapatkan kebajikan yang seharusnya dapat diperoleh." Walaupun demikian, o para bhikk¬hu, beberapa pemuda, setelah meninggalkan rumah bermodalkan keyakinan, berpikir: "Saya dicengkeram oleh kelahiran, usia tua, dan kematian; oleh duka cita, kesedihan, penderitaan, ratapan, dan putus asa. Saya dicengkeram oleh derita hebat, dilimpahi derita hebat. Mungkin penghancuran seluruh derita hebat ini dapat ditunjukkan." Karena itu ia pergi, mendapat keuntungan, kemuliaan, dan kemasyuran, ia terpuaskan, tujuan¬nya tercapai. Karena ketuntungan, kemuliaan, dan kemasyhuran itu pula, ia mengagungkan dirinya sendiri, dan meremehkan orang lain dengan berpikir: "Akulah si penerima, tetapi para bhikkhu lain hanya tahu sedikit, sehingga hanya dihargai sedikit." Karena keuntungan, kemuliaan, dan kemasyurannya, ia menjadi gembira, malas dan terjatuh dalam kelambanan; menjadi malas, lalu sakit. Para bhikkhu, inilah yang disebut seorang bhikkhu yang berpegang pada cabang dan dedaunan dari pohon Brahma karenanya ia gagal mencapai Penerangan Sempurna.
Tetapi, o para bhikkhu, beberapa pemuda meninggalkan rumah bermodalkan keyakinan, dan berpikir: "Saya dicengkeram oleh kelahiran, usia tua, dan kematian: oleh duka cita, kesedihan, penderitaan, ratapan, dan putus asa. Saya diceng¬keram oleh derita hebat, dilimpahi derita hebat. Mungkin penghancuran seluruh derita hebat ini dapat ditunjukkan." Karena itu ia pergi, mendapat keuntungan, kemulian, dan kemasyhuran. Tetapi dengan keuntungan, kemuliaan, dan kema¬syhuran ini, ia tidak terpuaskan, tujuannya belum tercapai karena keuntungan, kemuliaan, dan kemashyhuran ini, ia tidak mengagungkan dirinya sendiri, ia tidak meremehkan orang lain. Karena keuntungan, kemuliaan, dan kemasyhuran ini, ia tidak mengagungkan dirinya sendiri, ia tidak meremehkan orang lain. Karena keuntungan, kemuliaan, dan kemasyhuran, ia tidak menjadi gembira, tidak malas, dantidak terjatuh dalam kelam¬baman. Bahkan denganrajin dan penuh semangat, ia mencapai keberhasilan dalam sila. Karena keberhasilannya dalam sila ini, ia terpuaskan, tujuannya tercapai. Karena keberhasilan dalam sila ini, ia mengagungkan dirinya sendiri, lalu mere-mehkan orang lain dengan berpikir: "Akulah pemilik sila yang baik, berkareakter baik, tetapi para bhikkhu lain memiliki sila yang buruk, bekarakter jelek." Karena keberhasilannya dalam sila, ia menjadi gembria, malas, dan terjatuh dalam kelambaman. Karena malas, ia menjadi sakit. Para bhikkhu, sama halnya dengan seseorang yang berjalan mengejar untuk menemukan dan mencari intisari dari pohon yang besar, kokoh, dan berbiji banyak, yang melewati intisari itu sendiri ... kayu lunak .. kulit kayu, dan setelah menganggap bahwa semua itu adalah intisari. Seseorang yang dapat melihat, setelah melihat dia, mungkin berkata: "Sesungguhnya orang baik ini tidak tahu tentang intisari ... kayu lunak ... kulit kayu ... tunas-tunas muda. Pengetahuannya tentang cabang dan dedaunan tidaklah sebanyak perjalanannya dalam mengejar, menemukan, dan mencari intisari dari pohon yang besar, kokoh, dan ber¬biji banyak; melewati kulit kayu, dan setelah memotong tunas-tunas muda, ia membawa semuanya karena menganggap bahwa semua itu adalah intisari. Maka ia tidak akan mendapat kebajikan yang sebenarnya dapat diperoleh." Namun demikian, o para bhikkhu, beberapa pemuda, setelah meninggalkan rumah, berpi¬kir: "... karena keberhasilan kelambanan. Menjadi malas, lalu jatuh sakit. Para bhikkhu, inilah yang disebut seorang bhikk¬hu yang berpegang pada tunas-tunas muda dari pohon Brahma, karenanya ia gagal mencapai Penerangan Sempurna.
Tetapi, para bhikkhu, beberapa pemuda yang meninggalkan rumah bermodalkan keyakinan, berpikir: "Saya dicengkeram oleh kelahiran, usia tua, dan kematian; oleh duka cita, kesedihan, penderitaan, ratapan, dan putus asa. Saya dicengkeramkeram oleh derita hebat, dilimpahi derita hebat. Mungkin penghan¬curan seluruh derita hebat ini dapat ditunjukkan." Karena itu ia pergi dan mendapat keuntungan, kemuliaan, dan kemasyhuran. Tetapi dengan keuntungan, kemuliaan, kemashyuran ini, ia tidak menjadi puas, tujuannya belum tercapai. Karena keuntun¬gan, kemuliaan, dan kemasyhuran ini, dia tidak mengagungkan dirinya sendiri, tidak meremehkan orang lain. Karena keuntun¬gan, kemuliaan, dankemasyhuran ini, ia tidak menjadi gembira, tidak malas, dan tidak terjatuh dalam kelambanan, bahkan ia menjadi semakin rajin hingga mencapai konsentrasi. Karena keberhasilannya dalam konsentrasi, ia mengagungkan dirinya sendiri dan meremehkan orang lain dengan berkata: "Akulah orang yang terkonsentrasi, sedangkan pikiran mereka mengemba¬ra." Karena keberhasilannya dalam konsentrasi, ia menajdi gembria, malas, dan terjatuh dalam kelambanan. Karena malas, ia jatuh sakit. Para bhikkhu, sama halnya dengan seseorang yang berjalan mengejar untuk menemukan dan mencari intisari dari pohon yang besar, kokoh, dan berbiji banyak, yang me¬leati intisari itu sendiri, melewati kahu lunak, dan setelah memotong kulit kayu, lalu membawa semuanya karena menganggap bahwa itu adalah intisari. Seseoran gyang dapata 'melihat', setelah melihat dia, meungkin berakta: "Sesungguhnya orang baik ini tidak tahu tentang intisari ... kayu lunak ... kulit kayu ... tunas-tunas muda. Pengetahuannya tentang cabang dan dedaunan tidaklah sebanayk perjalannannya dalam mengejar untuk menemukan dan mencari intisari itu sendiri, melewati semuanya itu adalah intisari, maka ia tidak memperoleh kebaj¬ikan bhikkhu, beberapa pemuda, setelah meninggalkan rumah, berpikir ... karena keberhasilannya dalam konsentrasi, ia menjadi gembira, malas, dan terjatuh dalam kelambaman. Karena gembira, ia jatuh sakit. Para bhikkhu inilah ylang disebut seorang bhikkhu yang berpegang pada kulit kayu dari pohon Brahama, karenanya ia gagal mencapai Penerangan Sempurna.
Tetapi para bhikkhu, beberapa pemuda yang meninggalkan rumah bermodalkan keyakinan, berpikir: "Saya dicengkeram oleh kelahiran, usia tua, dan kematian; oleh duka cita, kesedihan, penderitaan, ratapan, dan putus asa. Saya dicengkeram oleh derita hebat, dilimpahi derita hebat. Mungkin penghancuran seluruh derita ini dapat ditunjukkan." Karena itu ia pergi dan mendapat keuntungan, kemuliaan, dan kemashyuran. Tetapi dengan keuntungan, kemuliaan, dan kemasyhuran, ia tidak terpuaskan, tujuannya belum tercapai. Karena keuntungan, kemuliaan, dan kemasyhuran, ia tidak mengagungkan dirinya sediri dan tidak meremehkan orang lain. Karena keuntungan, kemuliaan, dan kemasyhuran, ia tidak menjadi gembira, tidak malas, dan tidak terjatuh dalam kelambanan. Bahkan ia menjadi rajin sehingga mencapai sukses dalam sila. Karena keberhasi-lannya dalam sila, ia menjadi puas, tapi tujuannya belum tercapai. Karena keberhasilannya dalam sila, ia tidak mengagungkan dirinya sendiri, tidak gembira, tidak malas, dan tidak terjatuh dalam kelambanan. Karena rajin, akhirnya ia mencapai sukses dalam konsentrasi tidak membuatnya mengaung¬kan dirinya sendiri, lalu meremehkan orang lain. Karena keberhasilannya dalam konsentrasi, ia tidak menjadi gembira, malas, dan terjatuh dalam kelambanan. Bahkan ia menjadi rajin sehingga mencapai pengetahuan dan pandangan terang. Karena pengetahuan dan pandangan terangnya ini, ia menjadi puas, tujuannya tercapai, Karena penetahuan dan pandangan terangnya ini, ia menjadi puas, tujuannya tercapai. Karena pengetahuan dan terangnya ini, ia mengagungkan dirinya sendiri dan mere-mehkan orang lain, lalu berkata: "Akulah yang mengetahui dan melihat, tetapi para bhikkhu lain tidak mengetahui, tidak melihat." Karena pengetahuan dan pandangan terangnya ini, ia menjadi gembira, malas, lalu terjatuh dalam kelambaman. Karena malas, ia menjadi sakit. Para bhikkhu, sama halnya dengan seseorang yang berjalan mengejar untuk menemukan dan mencari intisari dari pohon yang besar, kokoh, dan berbiji banyak; yang melewati intisari itu sendiri, memotong kayu lunak, dan membawa semuanya karena menganggap bahwa semuanya itu adalah intisari. Seseorang yang dapat melihat, setelah melihat dia, mungkin berkata: "Sesungguhnya orang baik ini tidak tahu tentang intisari ... kayu lunak ... kulit kayu ... tunas-tunas muda. Pengetahuannya tentang cabang dan dedaunan tidaklah sebanyak perjalannnya dalam mengejar untuk mendapat-kan dan mencari intisari dari pohon yang besar kokoh, dan berbiji banyak; melewati intisari itu sendiri, memotong kayu lunak, membawa semuanya karena menganggap bahwa semua itu adalah intisari. Maka itu ia tidak mendapatkan kebajikan yang seharusnya dapat diperoleh." Meskipun demikian, o para bhikk¬hu, beberapa pemuda yang meninggalkan rumah bermodalkan keyakinan, berpikir ... karena pengetahuan dan penglihatan-nya, ia menjadi gembira, malas, dan terjatuh dalam kelamba¬nan. Menjadi malas, lalu sakit, para kayu lunak dari pohon Brahma, karenaya ia gagal mencapai Penerangan Sempurna.
Tetapi, para bhikkhu, beberapa pemuda yang meninggalkan rumah bermodalkan keyakinan, akan berpikir: "Saya dicengkeram oleh kelahiran keyakinan, akan berpikir: "Saya dicengkeram oleh kelahiran, usia tua, dan kematian; oleh duka cita, kesedihan, penderitaan, ratapan, dan putus asa. Saya diceng¬keram oleh derita hebat dilimpahi derita hebat. Mungkin penghancuran seluruh derita hebat ini dapat ditunjukkan." Karena itu ia pergi, lalu mendapatkan keuntungan, kemuliaan, dan kemasyuhran ini, ia tidak terpuaskan, tujuannya belum tercapai. Karena keuntungan, kemuliaan, dan kemasyhuran ini, ia tidak mengagungkan dirinya sendiri, tidak meremehkan oran lain. Karena keuntungan, kemuliaan, dan kemasyhuran, ia tidak gembira, tidak malas, tidak terjatuh dalam kelambanan. Seba¬liknya ia menjadi rajin sehingga mencapai keberhasilan dalam sila. karena keberhasilannya dalam sila, ia puas, tapi tu¬juannya belum tercapai. Karena keberhasilannya dalam sila, ia tidak mengagungkan dirinya sendiri, tidak meremehkan orang lain. Karena keberhasilannya dalam sila, ia tidak gembira, tidak malas, dan tidak terjatuh dalam kelambanan. Sebaliknya ia semakin rajin hingga memcapai keberhasilan dalam konsen¬trasi. Karena keberhasilannya dalam konsentrasi, ia puas, tapi tujuannya belum tercapai. Karena keberhasilannya dalam konsentrasi, , ia puas, tapi tujuannya belum tercapai. Karena keberhasilannya dalam konsentrasi, ia tidak mengagungkandirinya sendiri, tidak meremehkan orang lain. Krena keberhasilannya dalam konsentrasi, ia tidak gembira, tidak malas, dan tidak terjatuh dalam kelambanan. Sebaliknya ia semakin rajin hingga memperoleh pengetahun dan penglihatan. Karena pengetahuan dan penglihatannya ini, ia terpuaskan, tapi tujuannya belum tercapai. Karena pengetahuan dan penlihatannya ini, ia tidak mengagungkan dirinya sendiri, tidak meremehkan orang lain. Dengan penetahuan dean pengliha¬tannya, ia tidak gembira, tidak masl, dan tidak terjatuh dalam kelambanan. Sebaliknya ia menjadi rajin hingga mencapai kebebasan berkenaan dengan waktu dari benda-benda (8). Kea¬daan terjadi, o para bhikkhu, ketika bhikkhu ini meninggalkan kebebasan tentang waktu benda-benda (9). Para bhikkhu, sama halnya dengan seseorang yang berjalan mengejar untuk menemu¬kan dan mencari intisari dari pohon yang besar, kokoh, dan berbiji banyak, dan setelah memotong intisari itu sendiri, membawa semuanya, ia tahu bahwa semua itu adalah intisari, mengetahui kayu lunak, mengetahui kulit kayu, mengetahui tunas-tunas muda, mengetahui cabang dan dedaunan sebanyak perjalananannya dalam mengejar untuk menemukan dan mencari intisari [197] dari pohon yang besar, kokoh, dan berbiji banyak. Setelah memotong intisari, ia membawanya dan tahu bahwa itu adalah intisari. Diperoleh nya kebajikan yang seharusnya didapat dari intisari." Namun rumah bermodalkan keyakinan akan berpikir: "Saya dicengkeram oleh kelahiran, usia tua, dan kematian; oleh duka cita, kesedihan, penderi¬taan, rapatan, dan putus asa. Saya dicengkeram oleh derita hebat, dilimpahi derita hebat. Mungkin penghancuran seluruh derita hebat ini dapat ditunjukkan. Karena itu ia maju terus hingga memperoleh keuntungan, kemuliaan, dan kemasyhuran. Tetapi dengan keuntungan, kemuliaan, dan kemasyhurannya ini, ia tidak terpuaskan, tujuannya belum tercapai. Karena keun¬tungan, kemuliaan dan kemasyurannya ini, ia tidak menjadi gembira, tidak malas, dan tidak terjatuh dalam kelambaman. Sebaliknya ia semakin rajin hingga mencapai keberhasilan dalam sila. Dengan keberhasilannya dalam sila, ia puas, tapi tujuannya belum tercapai. Karena keberhasilan dalam sila ini pula, ia tidak mengagungkan dirinya sendiri, tidak meremehkan orang lain. Karena keberhasilannya dalam sila, ia tidak gembira, tidak malas, dan tidak terjatuh dalam kelambaman. Sebaliknya ia menjadi rajin hingga mencapai keberhasilan dalam konsentrasi. Karena keberhasilannya dalam konsentrasi, ia puas, tapi tujuannya belum tercapai. Dengan keberhasilan¬nya dalam konsentrasi, ia tidak mengagungkan dirinya sendiri, tidak meremehkan orang lain. Karena keberhasilannya dalam konsentrasi, ia tidak menjadi gembira, tidak malas, dan tidak terjatuh dalam kelambanan. Sebaliknya ia semakin rajin hingga mencapai pengetahuan dan pengelihatan. Dengan pengetahuan dan penglihatan ini, ia puas, tapi tujuannya belum tercapai. Dengan pengetahuan dan penglihatan ini, ia puas, tapi tujuan¬nya belum tercapai. Dengan pengetahuan dan penglihatannya, ia tidak mengagungkan dirinya sendiri, tidak meremehkan orang lain. Dengan pengetahuan dan penglihatannya, ia tidak gembi¬ra, tidak malas, dan tidak terjatuh dalam kelambanan. Seba¬liknya ia semakin rajin hingga mencapai kebebasan atas benda-benda yang tidak dibatasi waktu. Tidak mungkin, o para bhikk¬hu, tidak mungkin dilampaui, seorang bhikkhu seharusnya meninggalkan kebebasan terhadap benda-benda yang tidak teri¬kat oleh waktu.
Karena itu, o para bhikkhu, pohon Brahma (10) bukanlah dimanfaatkan untuk mengejar keuntungan, kemuliaan dan kemasy¬uran, bukan dimanfaatkan untuk mengejar sila, konsentrasi, dan pengetahuan serta penglihatan. Itulah, o para bhikkhu, kebebasan pikiran yang tidak tergoncangkan (11). Inilah, o para bhikkhu, tujuan (11) dari pohon Brahma, inilah intisari (11), inilah puncaknya (11)."
Demikianlah khotbah Sang Bhagava! Sangat gembira, para bhikkhu bergembira atas semua uraian Sang Bhagava ini.
CULASAROPAMA - SUTTA
( 30 )
1. Demikianlah telah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, di taman milik Anathapindika, di Savatthi.
2. Kemudian Brahmana Pingalakoccha pergi menemui Sang Bhagava, dan saling memberi salam, setelah saling menyapa dengan sopan, ia duduk. Lalu ia berkata kepada Sang Bhagava: "Samana Gotama, ada petapa-petapa dan para brahmana, masing-masing dengan sanghanya, dengan kelompoknya, memimpin sebuah kelompok, masing-masing seorang filsuf yang terkenal dan dipandang oleh banyak orang sebagai orang suci - yang saya maksudkan adalah Purana Kassapa, Makhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakuddha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, dan Nigantha Nataputta - mereka semua mempunyai pengetahuan seperti yang mereka nyatakan, atau tak satu pun dari mereka yang mempunyai pengetahuan, di antara mereka ada yang memiliki pengetahuan (abhinna) atau ada yang tidak memiliki pengeta¬huan."
"Cukup, brahmana, apakah mereka semua mempunyai pengeta¬huan seperti yang mereka katakan, tak satupun dari mereka atau bebera¬pa dari mereka, biarkanlah itu, saya akan mengajarkan kamu dhamma, brahmana. Dengarkan dan perhatikan dengan baik apa yang Saya kata-kan."
"Baik, Bhante," jawab Pingalakoccha. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:
3. "Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencar¬ian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian yang basah, kulit dalam dan luarnya, ia memotong ranting-ranting dan daun-daun, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; kemudian seorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya untuk memperhatikan perbuatannya dan berkata: "Apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.'"
4. "Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencar¬ian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian yang basah, memotong kulit dalam dan luarnya, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; kemudian seorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya untuk memperhatikan perbuatannya dan berkata: "Apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, mak¬sudnya tidak akan terpenuhi.'"
5. "Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencar¬ian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian yang basah, memotong kulit dalam¬nya, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; kemudian seorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya untuk memperhatikan perbuatannya dan berkata: "Apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.'"
6. "Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencar¬ian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan memotong bagian yang basah, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; kemud¬ian seorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya untuk memperhat¬ikan perbuatannya dan berkata: "Apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.'"
7. "Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencar¬ian bagian tengah kayu yang keras lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, ia memotong bagian tengah kayu yang keras, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; kemudian seorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya untuk memperhatikan perbuatannya dan berkata: "Apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya akan terpenuhi.'"
8. "Brahmana, demikian pula, ini beberapa orang karena keyakinan, meninggalkan kehidupan duniawi menjadi tak berumah-tangga, berpikir: "Saya adalah korban dari kelahiran, lahir dan mati, dari kesedihan-kesedihan dan dukacita, kesakitan, ratapan, dan keputusasaan. Saya adalah korban penderitaan, mangsa dari penderitaan. Secara pasti akhir dari seluruh penderitaan yang besar ini dapat diketahui" Jika ia melaku¬kan, ia memperoleh hasil yang besar, kehormatan dan kemasyuran. Dia senang dengan itu dan keinginannya terpenuhi. Dengan catatan ia memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain yaitu: "Saya mempunyai hasil, saya dikenal, tetapi bhikkhu-bhikkhu ini tidak diketahui, tanpa catatan."
"Dengan begitu ia membangkitkan ketidakadaan keinginan untuk melakukan tindakan, ia tidak melakukan usaha, untuk merealisasi dhamma lain yang lebih tinggi daripada hasil yang diperolehnya, kehor¬matan dan kemasyuran dan yang lebih tinggi daripada itu."
"Saya mengatakan orang ini seperti seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian yang basah, memo¬tong kulit dalam dan luarnya, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras, maka apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, mak¬sudnya tidak akan terpenuhi.'"
9. Ada beberapa orang yang berdasarkan pada keyakinan meninggal- kan pemuasan duniawi menjadi tak berumah-tangga, berpikir: "Saya adalah korban dari kelahiran, lahir dan mati, dan penderitaan dan rata-pan, kesakitan, dukacita dan keputusasaan. Saya adalah seorang korban penderitaan, sasaran dari penderitaan. Secara pasti akhir dari seluruh penderitaan yang besar ini dapat diketahui" Jika ia telah melakukannya, ia memperoleh hasil yang besar, kehormatan dan kemasyuran. Ia tidak senang dengan ini dan keinginannya dipenuhi. Ia tidak memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia menimbulkan keinginan untuk melakukan dan membuat usaha-usaha untuk menyadari dhama yang lain yang lebih tinggi daripada hasil itu, kehormatan dan kemasyuran dan lebih unggul daripada itu; ia tidak bergantung dan menurun. Ia mencapai kebajikkan yang sempurna. Ia senang dengan kebajikkan yang sempurna dan keinginannya terpenuhi. Dengan catatan ia memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain: "Saya seorang yang saleh, mempunyai sifat yang baik, tetapi bhikkhu-bhikkhu yang lain ini tidak saleh, dan mem¬punyai kelakuan yang jahat." Maka ia membangkitkan ketidak-inginan untuk melakukan tindakkan, ia tida berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma lain yang tinggi daripada konsentrasi yang sempurna, membuat¬nya bersifat masa bodoh.
"Saya berkata bahwa orang ini seperti seorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian yang basah, memo¬tong kulit dalamnya, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; maka apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.'"
10. Di sini beberapa orang karena keyakinan, meninggalkan kehidupan duniawi menjadi tak berumah-tangga, berpikir: "Saya korban dari kelahiran, lahir dan mati, kesedihan dan ratapan, kesakitan, duka cita dan keputusasaan. Saya adalah seorang korban penderitaan, mangsa dari penderitaan. Secara pasti akhir dari seluruh penderitaan yang besar itu dapat diketahui" Jika ia telah melakukannya, ia mendapat¬kan hasil yang besar, kehormatan dan kemasyuran. Ia tidak senang dengan itu dan keinginannya tidak terpenuhi. Ia tidak memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia mempunyai keinginan untuk bertin¬dak dan membuat usaha untuk menyadari dhamma yang lain yang lebih tinggi dan unggul dari itu. Ia tidak bergantung dan tidak merosot. ia mencapai kebajikkan yang sempurna. Ia senang dengan itu, tetapi kein-ginannya tidak terpenuhi. Ia tidak memuji diri sendiri dan menghina orang lain. Ia ingin bertindak, dan membuat usaha, untuk menyadari dhamma yang lain yang lebih tinggi dari kebajikkan yang sempurna. Ia tidak bergantung dan merosot. Ia mencapai konsentrasi yang sempurna. Ia senang dan keinginannya terpenuhi. Berdasarkan hal itu ia memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain: "Saya berkonsentrasi, pikiran saya terpusat, tetapi bhikkhu-bhikkhu ini tidak terkonsentrasi dan pikiran mereka kacau." Maka ia membangkitkan ketidak-inginan untuk berbuat, ia tidak berusaha untuk merealisasikan dhamma-dhamma yang lebih tinggi daripada konsentrasi sempurna, ia bersikap masah bodoh.
"Saya berkata orang ini seperti orang yang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berke¬lana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian yang basah, memotong kulit dalamnya, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; maka apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpe¬nuhi.'"
11. Di sini ada beberapa orang yang berdasarkan pada keyakinan, meninggalkan kehidupan duniawi menjadi tak berumah-tangga, berpikir: "Saya adalah korban dari kelahiran, lahir dan mati, dari kesedihan dan ratapan, kesakitan, duka cita dan keputusasaan. Saya adalah korban dari penderitaan, mangsa dari penderitaan. Secara pasti akhir dari seluruh penderitaan ini dapat diketahui" Jika ia telah melakukannya, ia mempero¬leh hasil yang besar, kehormatan dan kemasyuran. Ia tidak senang dengan ini dan keinginannya tidak dipenuhi. Dengan catatan, ia tidak membanggakan dirinya sendiri dan menghina yang lain. Ia mempunyai keinginan untuk bertindak, dan ia membuat usaha, untuk menyadari dhamma yang lebih tinggi dari pada hasil, kehormatan dan kemasyuran dan lebih unggul daripada itu."
Ia tidak bergantung dan mengalami kemerosotan. Ia mencapai kebajikkan yang sempurna. Ia senang dengan pencapaianya itu, namun keinginannya belum terpenuhi. Berdasarkan hal itu ia tidak membangga¬kan dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia membangkitkan keingi¬nan berbuat, berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma yang lebih tinggi dari kebajikan sempurna. Ia tidak bersikap masa bodoh. Ia menca¬pai konsentrasi sempurna. Ia sedang senang dengan itu tetapi keinginan¬nya belum terpenuhi. Berdasarkan hal itu, ia tidak memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk berbuat, ia berusaha untuk merealisasikan dhamma-dhamma yang lebih tinggi dari¬pada konsentrasi sempurna. Ia tidak masa bodoh. Ia mencapai pengeta¬huan dan penglihatan (nanadassana). Ia senang dengan hal itu dan kein-ginannya terpenuhi. Berdasarkan hal itu ia memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain: "Saya hidup mengetahui dan melihat, tetapi bhik-hu-bhikkhu ini hidup tanpa mengetahui dan melihat." Maka ia mem-bangkitkan ketidak-inginan untuk berbuat, ia tidak berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma lain yang lebih tinggi daripada pengeta-huan dan penglihatan. Ia bersikap masa bodoh.
"Saya berkata bahwa orang ini seperti seorang yang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana mencari bagian tengah kayu yang keras melihat sebuah pohon yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, dan melewati bagian tengah kayu yang keras, ia memotong bagian kayu yang basah dan membawanya, berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; maka apa pun yang ia lakukan dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.
12 Di sini ada beberapa orang yang berdasarkan keyakinan, meninggalkan kehidupan duniawi menjadi hidup tak berumah-tangga .... Ia mendapat hasil yang besar, kehormatan dan pujian. Ia tidak senang dengan itu, keinginannya tidak terpenuhi .... Ia memcapai kebajikan semourna. Ia senang dengan itu, namun keinginannya belum terpenuhi .... Ia mencapai pengetahuan dan penglihatan. Ia senang dengan itu tetapi keinginannya belum terpenuhi. Berdasarkan hal itu ia tidak memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk berbuat, ia berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma lain yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan dan melebihi itu. Ia tidak masa bodoh. Tetapi apakah dhamma-dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan dan melebihi itu?
13. Brahmana, dalam hal ini, dengan menjauhi keingian nafsu, jauh dari dhamma-dhamma yang tak bermanfaat, ia mencapai dan berada dalam Jhana I, yang disertai vitakka dan vicara, dengan kegiuran serta kebahagiaan yang dihasilkan oleh ketenangan.
Inilah dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan.
14. Dengan melenyapkan vitakka dan vicara, ia mencapai dan berada dalam Jhana II disertai keyakian diri, pikiran terpusat dan kegiuran yang dihasikan oleh pemusatan pikiran.
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada oengetahuan dan pengliha¬tan.
15. Selanjutnya, dengan melenyapkan kegiuran, ia seimbang, piki¬rannya terpusat dan sadar, dengan kebahagiaan tubuh, ia mencapai dan berada dalam Jhana III, yang dinyatakan oleh para Ariya sebagai: "Ia mencapai keadaan yang menyenangkan karena memiliki keseimbangan dan pikiran yang waspada sekali."
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan pengliha¬tan.
16. Kemudian, dengan menghilangkan kebahagian dan ketidak senan¬gan dari tubuh (sukha-dukkha) dan setelah terlebih dahulu melenyapkan kegiuran dan kesedihan, ia mencapai dan berada dalam Jhana IV dengan 'bukan sakit atau pun bukan kebahagiaan', kesadaran yang suci karena keseimbangan (upekha).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan pengliha¬tan.
17. Setelah dengan sempurna melampaui pencerapan jasmani (rupasanna) dan lenyapnya pencerapan ketidaksenangan (patighasanna, tanpa memperhatikan) pencerapan perbedaan (nanatta-sanna), menyadari "ruang tanpa batas", ia mencapai dan berada dalam 'keadaan ruang tanpa batas'(akasanancayatana).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan.
18. Setelah dengan sempurna melampaui 'keadaan ruang tanpa batas', menyadari 'kesadaran tanpa batas', ia mencapai dan berada dalam 'keadaan kesadaran tanpa batas'(vinnanancayatana).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan pengliha¬tan.
19. Setelah dengan sempurna melampaui 'keadaan kesadaran tanpa batas, menyadari 'kekosongan', ia mencapai dan berada dalam 'keadaan kekosongan' (akincannayatana).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan pengliha¬tan.
20. Setelah dengan sempurna melampaui 'keadaan kekosongan', ia mencapai dan berada dalam 'keadaan bukan pencerapan atau pun tidak bukan pencerapan' (n'evasanna nasannayatana).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan pengliha¬tan.
21. Setelah dengan sempurna melampaui 'keadaan bukan pencerapan atau pun tidak bukan pencerapan', ia mencapai dan berada dalam 'le-nyapnya pencerapan dan perasaan' (sannavedayitanirodha).
Semua kotoran batinnya (asava) lenyap oleh pengetahuan dan penglihatan (nanadassana).
Ini dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan pengliha¬tan.
Inilah dhamma-dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan.
22. Saya berkata orang ini seperti seorang yang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berke-lana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, ia memo¬tong bagian tengah kayu yang keras, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; maka apa pun yang akan dilakukannya pada bagian tengah kayu yang keras itu, maksudnya akan terpenuhi.
23. "Brahmana, hidup ini tidak mempunyai keuntungan, kehor¬matan dan kemasyuran tidak ada gunanya, tidak ada kebajikan yang sempurna, atau konsentrasi yang sempurna, atau pengetahuan dan khaya¬lan. Tetapi tidak dapat disangkal pembebasan pikiran merupakan tujuan dari kehidupan suci. Inilah 'bagian tengah kayu yang keras'dan akhirnya.
Ketika ini dikatakan Brahmana Pingalakoccha berkata kepada Sang Bhagava: "Menakjubkan, Samana Gotama! Menakjubkan ....! Mulai hari ini semoga Samana Gotama menerima saya sebagai upasaka yang telah berlindung kepada-Nya selama hidup."
MARAGOSINGA SUTTA
32
1. Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava bersama-saina dengan para bhikkhu thera yaitu: Sariputta, Maha Moggallana, Maha Kassapa. Anuruddha Revata, Anandadan para bhikkhu thera lainnya berada di hutan Sala Gosinga.
2. Diwaktu malam bhikkhu Maha Moggallana bangkit dari meditasi, beliau menemui bhikkhu Maha - Kassapa dan berkata kepadanya : "Avuso Kassapa, marilah kita pergi menemui bhikkhu Sariputta untuk mendengarkan Dhamma. "Baiklah, Avuso," jawab bhikkhu Kassapa. Lalu bhikkhu Maha Moggallana,,bhikkhu Maha Kassapa dan bhikkhu Anuruddhu menemui bhikkhu Sariputta untuk mendengarkan Dhamma.
3 . Bhikkhu Ananda melihat mereka sewaktu pergi menemui bhikhhu. Sariputta untuk mendengarkan Dhamma. Ketika ia melihat mereka, ia menemui bhikkhu Revata dan berkata kepadanya: " Avuso Revata, bhikkhu Maha Moggallana dan bhikkhu lainnya pergi menemui bhikkhu Sariputta untuk mendengarkan Dhamma. Marilah kita juga pergi menemui bhikkhu Sariputta untuk mendengarkan Dhanuna". "Baiklah, Avuso", jawab bhikkhu Revata. Kemudian bhikkhu Revata dan bhikkhu Ananda menemui bhikkhu Sariputta untuk mendengarkan Dhanima.
4. Bhikkhu Sariputta melihat bhikkhu Revata dan bhikkhu Ananda mendatangi. Ketika beliau melihatnya, beliau berkata kepada bhikkhu Ananda:'Selamat datang Ananda, silahkan Ananda, pengiring Sang Bhagava, yang selalu dekat dengan Sang Bhagava. Avuso Ananda, Hutan pohon Sala Gosinga sangat menyenangkan, malam disinari bulan, pohon-pohon Sala semua bermekaran, semerbak dan wanginya seakanakan memancarkan aroma surgawi: 'Bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga'.
"Sariputta, dalam hal ini seorang bhikkhu setelah belajar (mendengar) banyak, mengingat apa yang dipelajarinya, merangkum apa yang telah dipelajari: berupa dhamma yang sedemikian indah pada awal, pertengahan dan akhir, dengan pengertian dan ungkapan (yang benar) sebagaimana ditegaskan dalam kehidupan suci yang benar-benar sempurna dan murni.
Dhamma seperti ini yang banyak dipelajari, diingatnya, dirangkumnya secara lisan, dijaganya dengan pikiran, diresapinya dengan baik oleh pandangan benar: ia mengajarkan Dhamma kepada empat kelompok orang dengan ungkapan-ungkapan dan suku-suku kata yang lengkap dan tidak meragukan bagi lenyapnya kecenderungan-kecenderungan (anusaya) yang laten. Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan pada Hutan pohon Sala Gosinga."
5. Setelah hal itu dikatakan, bhikkhu Sariputta berkata kepada bhikkhu Revata; " Avuso Revata, bhikkhu Ananda telah berbicara sebagaimana menurutnya. Sekarang kami menanyakan kepada bhikkhu Revata: Hutan pohon Sala Gosinga sangat menyenangkan, malam disinari bulan, pohon-pohon Sala semua bermekaran, semerbak dan wanginya seakanakan memancarkan aroma surgawi:"Bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga ?'.
'Sariputta, dalam hal ini, seorang bhikkhu berbahagia dalam pengasingan diri, merasa bahagia dalam pengasingan diri, mengabdikan dirinya pada ketenangan pikiran, tidak melalaikan Jhana, memiliki pandangan terang, sering menyepi di pondok-pondok meditasi, Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga.'
6. Ketika hal ini dikatakan, bhikkhu Sariputta berkata kepada bhikkhu Anuruddha: "Avuso Anuruddha, bhikkhu Revata telah berbicara sebagaimana menurut beliau. Sekarang kami menanyakan kepada bhikkhu Anuruddha:'Avuso Anuruddha, Hutan pohon Sala Gosinga sangat menyenangkan ...' bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga ?
"Sariputta, dalam hal ini, seorang bhikkhu me'ngamati alam semesta dengan mata dewa (dibbacakkhu), yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa. Sebagaimana seseorang dengan mata (yang baik) sewaktu ia pergi ke teras tingkat atas istana sehingga dapat mengamati seribu kerangka roda: demikian juga, seorang bhikkhu mengainati seribu alam dengan mata dewa, yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa. Bhikkhu yang seperti ini akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".
7. Ketika hal ini dikatakan, bhikkhu Sariputta berkata kepada bhikkhu Maha Kassapa: "Avuso Kassapa, bhikkhu Anuruddha telah berbicara sebagaimana menurut beliau. Sekarang kami menanyakan kepada bhikkhu Maha Kassapa: " Avuso Maha Kassapa, Hutan pohon Sala Gosinga, sangat menyenangkan... bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga ?"
"Sariputta, dalam hal ini seorang bhikkhu yang dirinya sendiri berdiam di hutan dan menghargai kediaman di hutan, ia sendiri makan dari pindapata dan menghargai makan dari pindapata, ia sendiri mengenakan jubah dari kain bekas pembungkus mayat (pamsakulacavara) dan menghargai pemakaian ticivara, ia sendiri memiliki keinginan yang sedikit dan menghargai pemilikan keinginan yang sedikit, ia sendiri selalu puas dan menghargai kepuasan, ia sendiri tenang dan menghargai ketenangan, ia sendiri tidak terlihat (dalain keramaian) dan menghargai ketidak terlibatan (dalam keramaian), ia sendiri bersemangat dan menghargai semangat (viriya), ia sendiri memiliki sila yang sempurna dan menghargai sila sempurna, ia sendiri sempuma samadhinya dan menghargai kesempurnaan samadhi, ia sendiri sempurna kebijaksanaannnya (panna) dan menghargai kesempurnaan kebijaksanaan, ia sendiri sempurna kesuciannya (vimutti) dan menghargai kesempurnaan kesuciannya, pengetahuannnya (nana) dan penglihatannnya (dassana), juga menghargai kesempurnaan kesucian, pengetahuan dan penglihatan. Bhikkhu seperti ini akan memberikan penghargaan pada Hutan pohon Sala Gosinga.
8. Ketika hal ini dikatakan, bhikkhu Sariputta berkata kepada bhikkhu Maha Moggallana: "Avuso Moggalana, bhikkhu Maha Kassapa telah gagal berbicara sebagaimana menurut beliau. Sekarang kami menanyakan kepada Avuso Moggallana: Hutan pohon Sala Gosinga, sangat menyenangkan... bhikkhu bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga ?"
"Sariputta, dalam hal ini, ada dua orang bhikkhu terlibat dalam pembicaraan tentang Abhidhamma, mereka saling bertanya satu sama lain, masing-masing yang ditanya oleh yang lainnya menjawab tanpa merasa dipojokkan dan pembicaraan mereka berlanjut sesuai dengan dhamma. Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".
9. Ketika hal ini dikatakan, bhikkhu Maha Moggallana berkata kepada bhikkhu sariputta: "Avuso Sariputta, kami semua telah berbicara sebagaimana menurut kami masing-masing. Sekarang kami menanyakan kepada bhikkhu Sariputta: 'Hutan pohon sala Gosinga sangat menyenangkan, malam disinari bulan, pohon-pohon Sala semua bermekaran, semerbak dan wanginya seakan-akan memancarkan aroma surgawi ; Bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga?'
"Moggallana, dalam hal ini, scorang bhikkhu berkuasa atas pikirannya sendiri, ia tidak membiarkan pikiran berkuasa atas dirinya: dia menghayati di pagi hari penghayatan atau pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di pagi hari: ia menghayati di siang hari penghayatan atau pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di siang hari; ia menghayati di sore hari penghayatan atau pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di sore hari. Misalkan seorang raja atau seorang menterinya memiliki baju yang penuh variasi warna di bagian dadanya, ia mengenakan di pagi hari setelah pakaian apapun yang ingin dikenakannya, mengenakan di sore hari setelah pakaian apapun dikenakannya,, demikian juga, seorang bhikkhu berkuasa atas pikirannya, ia tidak membiarkan pikiran berkuasa atas dirinya. Pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di sore hari. Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga'.
10. Kemudian Bhikkhu Sariputta berkata kepada para bhikkhu tersebut: "Para Avuso, kita semua telah berbicara sebagaimana menurut kita masing-masing. Marilah kita menghadap Sang Bhagava dan menceritakan hal ini. Bila Sang Bhagava menjawab, marilah kitamenghayatinya
"Baiklah, sahabat", jawab mereka.
Kemudian mereka pergi menghadap sang Bhagava, setelah memberikan penghorinatan kepada-Nya, mereka duduk di tempat yang tersedia. Setelah itu, Bhikkhu Sariputta berkata kepada sang Bhagava:
11. Bhante, Bhikkhu Revata dan Bhikkhu Ananda menemui saya untuk mendengarkan Dhamma. Saya mehhat mereka mendatangi, ketika saya melihat mereka, saya berkata kepada Bhikkhu Ananda: "Datanglah Avuso Ananda, selamat datang Avuso Ananda, pengiring Sang Bhagava yang selalu dekat dengan Sang Bhagava. Avuso Ananda, Hutan pohon Sala Gosinga sangat menyenangkan, malam disinari bulan, pohon-pohon Sala semua bermekaran, dan semerbak wanginya seakan-akan memancarkan aroma surgawi:bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga?'
Bhante, ketika hal ini dikatakan bhikkhu Ananda berkata kepada saya:"Avuso Sariputta, seorang setelah belajar banyak .... (seperti pada alinea 4) ... untuk lenyapnya kecenderungan-kecenderungan (anusaya) laten. Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".
"Baik, baik Sariputta, Ananda mengatakan sebenamya sebagaimana telah ia lakukan, karena ia telah belajar banyak dan merangkum apa yang telah dipelajarinya: berupa dhamma yang indah di awalnya, pada pertengahannya dan pada akhimya dengan pengertian dan ungkapan (yang benar), sebagaimana dianjurkan dalam kehidupan luhur yang benar-benar sempurna dan suci, dhamma semacam ini telah banyak ia pelajari, diingat, dirangkum secara lisan, diperiksa dengan pikiran, dan ditembusinya secara baik dengan pandangan (benar): dan ia mengajarkan Dhamma kepada empat kelompok manusia dengan kalimat-kalimat dan kata-kata yang lengkap dan tidak diragukan lagi demi lenyapnya kecenderungan-kecenderungan (anusaya) laten".
12. "Bhante, ketika hal ini dikatakan, saya berkata kepada bhikkhu Revata:'Avuso Revata ... (seperti disebut di atas)...bagaimanakah bhikkhu yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon sala Gosinga ?" Bhante, ketika hal itu dikatakan," bhikkhu Revata berkata demikian kepada saya: 'Sariputta, dalain hal ini seorang bhikkhu yang sedang dalain pengasingan diri ...(seperti pada alinea 5)... Bhikkhu semacam ini akan membri penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".
"Baik, baik Sariputta. Revata berbicara sebenarnya sebagaimana telah ia lakukan, karena ia senang dalam pengasingan diri, merasa senang dalam pengasingan diri, mengabdikan dirinya terhadap ketenangan pikiran, tidak melalaikan Jhana, diberkahi pandangan terang dan scorang yang sering menetap ada pondok-pondok kosong.
13. "Bhante, ketika hal ini dikatakan saya berkata kepada Bhikkhu Anuruddha : ... (seperti 'pada alinea 6) ... macam bikkhu apakah yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga ? Bhante, ketika hal itu dikatakan. Bhikkhu Anuruddha berkata demikian kepada saya : "Sariputta, dalam hal ini, seorang bhikkhu semacam ini akan memberikan penghargaan terhadap Hotan pohon Sala Gosinga? "Bhante, ketika hal itu dikatakan bhikkhu Anuruddha berkata demikian kepada saya : "Sariputta, dalam hal ini, seorang bhikkhu menyelidiki alam semesta ... (seperti pada alinea 6) ... Bikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".
"Baik, baik Sariputta. Anuruddha berbicara sebenarnya sebagaimana telah ia lakukan, karena Anuruddha menyelidiki alam semesta dengan mata dewa (dibbackkhu)yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa".
14. "Bhante, ketika hal ini dikatakan, saya berkata kepada bhikkhu Maha Kassapa: 'Avuso Kassapa ... (seperti pada alinea 7) ... Bagaimana bhikkhu yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga? 'Bhante, ketika hal itu dikatakan, bhikkhu Maha Kassapa berkata demikian kepada saya: Sariputta, dalam hal ini, seorang bhikkhu merupakan penghuni hutan ... (seperti pada alinea 7) ... Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga". "Baik, baik Sariputta. Kassapa berbicara sebenarnya bagaimana telah ia lakukan, karena Kassapa sendiri merupakan penghuni hutan dan seorang yang menghargai kediaman di hutan .... ia sempurna dalain pengetahuan dan pandangan tentang pembebasan".
15. "Bhante, ketika hal ini dikatakan, saya berkata kepada bhikkhu Maha Moggallana: 'Avuso Moggallana ... (seperi pada alinea 8) ... bhikkhu yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga? "Bhante, ketika hal itu dikatakan, bhikkhu Maha Moggallana berkata demikian kepada saya: "Sariputta, dalam hal ini, dua orang bhikkhu yang terlibat sebuah pembicaraan tentang Abhidhamma ... (seperti pada alinea 8) ... Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga". "Baik, baik Sariputta. Moggallana berbicara sebenamya sebagaimana telah ia lakukan, karena Moggallana adalah seorang yang membicarakan Dhamma".
16. Ketika hal itu dikatakan. Bhikkhu Maha Moggallana berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, kemudian saya berkata kepada bhikkhu Sariputta: 'Avuso Sariputta ... (seperti pada alinea 9) ... Bagaimana bhikkhu yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga?'
Bhante, ketika hal itu di katakan, bhikkhu Sariputta berkata demikian kepada saya: 'Moggallana, dalam hal ini seorang bhikkhu berkuasa atas pikirannya sendiri ... (seperti pada alinea 9) ... bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga. "Baik, baik Moggallana.
"Baik, baik Moggallana. Sariputta berbicara sebenarnya sebagaimana telah ia lakukan, karena Sariputta menguasai pikirannya sendiri, ia tidak membiarkan pikirannya berkuasa atas dirinya: ia menghayati di pagi hari; ia menghayati di siang hari penghayatan atau pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di siang hari; ia menghayati di sore hari panghayatan atau pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di sore hari'.
17. Ketika hal itu dikatakan. Bhikkhu Maha Moggallana berkata kepada Sang Bhagava: "Siapakah yang telah berbicara dengan baik?" "Sariputta, semua telah berbicara dengan baik, masing-masing dengan caranya sendiri-sendiri. Dengarlah juga dariku bagaimana bhikkhu yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga: 'Sariputta, dalam hal ini, setelah seorang bhikkhu kembali diri pindapata dan selesai makan, ia duduk, melipat kakinya bersilangan,ia mengembangkan perhatian (sati) dirinya dan bertekad bahwa'saya tidak akan berhenti sampai pikiran saya terbebas dari noda-noda batin (asaya) karena timbulnya pengetahuan (nana). 'Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".
Itulah apa yang dikatakan oleh Sang,Bhagava. para bhikkhu merasa puas dan mereka berbahagia karena kata-kata Sang Bhagava.
MAHAGOPALAKA SUTTA
33
1-- Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, taman niilik Anathapindika, Savathi. Disana beliau menyapa "Para Bhikkhu".
"Ya, bhante", jawab mereka. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:
2-- "Para Bhikkhu, jika seorang pengembala memiliki 11 faktor, dia tidak mampu membesarkan dan memelihara ternaknya. Apa yang dimaksud dengan 11 faktor? Disini seorang pengembala tidak mempunyai pengetahuan, kemampuan untuk bertindak, dia gagal memilih mana yang baik mana yang buruk, dia gagal menutupi kekurangannya, dia gagal menghilangkan nafsunya, dia tidak mengetahui ladang subur, dia tidak tahu apa yang diterimanya, batinnya gelap, dia tidak mampu mengendalikan pikirannya, dia tidak mempunyai persediaan karma yang baik, sebagai seorang pengembala dia tidak bisa memberikan perlindungan yang dibutuhkan".
3-- Begitu juga jika seorang bhikkhu memiliki 11 sifat, dia tidak sanggup berkembang dan melaksanakan sempurna Dhamma serta disiplin. Disini seorang bhikkhu tidak mempunyai pengetahuan, kemampuan untuk bertindak, dia gagal memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dia gagal menutupi kekurangannya, dia gagal menghilangkan nafsunya, dia tidak mengetahui ladang yang subur, dia tidak tahu apa yang diterima, batin gelap, dia tidak mampu mengendalikan pikirannya, dia tidak mempunyai persediaan karma baik, sebagai seorang pengembala dia tidak bisa memberikan perlindungan yang dibutuhkan ...
4-- Kenapa seorang bhikkhu tidak mempunyai pengetahuaan? Seorang Bhikkhu tidak mengerti bentuk benda yang sesungguhnya, "Semua jenis benda terdiri dari 4 unsur utama dansemua bentuk di dapat dari 4 unsur utama". Inilah caranya kenapa bhikkhu tidak mempunyai pengetahuan.
5-- Kenapa seorang bhikkhu tidak sanggup bertindak sendiri? Seorang bhikkhu tidak mengerti apa itu karakter itu sesungguhnya; orang yang bodoh dapat dilihat dari tindakannya, orang yang bijaksana juga dapat dilihat dari tindakannya.
6-- Kenapa seorang bhikkhu tidak dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk? Ketika hawa nafsu muncul, seorang bhikkhu tidak dapat mengendalikannya, ia tidak melepaskannya, menghilangkannya, serta menghancurkannya. Ketika mara yang mengganggu Dhamma muncul, seorang bhikkhu melawannya, ia tidak melepaskannya, menghilangkannya, serta menghancurkannya.
7-- Kenapa seorang bhikkhu tidak mampu menutupi kekurangannya? dengan melihat sendiri, seorang bhikkhu memahami tanda-tanda dan ciri-ciri dimana ia tidak menjaga panca inderanya, mara yang mengganggu dhamma, iri hati dan kesedihan mungkin menggodanya, ia tidak berlatih untuk mengendalikan diri, ia tidak menjaga panca inderanya, dengan telinganya, hidungnya, dan memahami dirinya sendiri ia memahami tanda-tanda dan ciri-ciri ia menjalankan pengendalian pikirannya.
8-- Kenapa seorang bhikkhu gagal menghilangkan nafsunya? Disini seorang bhikkhu tidak mengajarkan orang lain tentang dhammna secara terperinci seperti yang didengarnya dan dikuasainya.
9-- Kenapa seorang bhikkhu tidak tahu ladang yang subur? Kadang-kadang seorang bhikkhu tidak pergi karena bhikkhu-bhikkhu itu harus banyak belajar seperti yang disebut dalam kitab, mengingat dhamma, serta kode-kode, dan ia tidak meminta dan bertanya mengenai hal-hal tersebut: Bhante, bagaimana ini?
Apa artinya ini? Orang yang terhormat ini tidak mengungkapkan apa yang harus diungkapkan, membuat terang apa yang tidak terang, atau menghilangkan keraguan-keraguannya tentang dhamma yang meragukan, itu mengapa seorang bhikkhu tidak tahu ladang yang subur".
10-- Kenapa seorang bhikkhu tidak tahu apa yang diterimanya? Ketika dhamma dan disiplin disebabkan oleh Tathagata sedang diajarkan, seorang bhikkhu tidak mendapatkan pengalaman tentang dhamma dia tidak menemukan kebahagiaan dalam dhamma.
Itulah mengapa seorang bhikkhu tidak tahu apa yang diterimanya.
11-- Kenapa seorang bhikkhu tidak tahu jalan yang benar? Seorang bhikkhu tidak mengerti jalan yang benar.
12-- Kenapa seorang bhikkhu tidak dapat membimbing? Seorang bhikkhu tidak mengerti kesadaran yang sebenarnya.
13-- Kenapa seorang bhikkhu tidak mempunyai apa-apa? Seorang pemilik rumah mengundang seorang bhikkhu yang memakai jubah, memberikan makanan, tempat untuk istirahat, dan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit, dapat dipakai sebanyak yang diinginkannya. Bhikkhu itu tidak tahu berapa banyak yang ia terima. Itulah mengapa bhikkhu tidak mempunyai apa-apa.
14-- Kenapa seorang bhikkhu tidak membuat saran-saran kepada bhikkhu yang lebih tua yang mempunyai pengetahuan banyak, yang merupakan pemimpin Sangha ? Seorang bhikkhu tidak bertahan dalam masyarakat dan pribadi bhikkhu-bhikkhu yang lebih tua yang mempunyai cinta kasih dalam perkataan dan pikirannya.
"Ketika seorang bhikkhu diberkati oleh 11 dhamma, ia tidak sanggup tumbuh, menambah Dhamma ini dan disiplinnya.
15. Bhikkhu jika seorang gembala diberkati dengan 11 unsur, ia sanggup memperbanyak dan menjaga ternaknya. Apa yang dimaksud dengan 11 unsur seorang gembala mempunyai pengetahuan, ia mampu membentuk kepribadiannya, ia dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk, ia dapat menutupi kekurangannya, ia dapat memadamkan nafsunya, ia tahu ladang yang subur, ia tahu apa yang diterimanya, ia tahu jalan yang benar, ia mempunyai kelebihan, dan ia memberikan saran-saran kepada pembimbing yang juga merupakan ayahnya.
16. Begitu juga jika seorang bhikkhu diberkati dengan dhamma, ia mampu berkembang menambah pengetahuannya tentang dhamma dan disiplin.
Apa yang dimaksud dengan 11 dhamma itu ? di sini seorang bhikkhu mempunyai kemampuan, ia mempunyai kepribadian, ia dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk ia dapat menutupi kekurangnnya, ia dapat memadamkan nafsunya, ia tahu jalan yang benar, ia mempunyai kemampuan untuk membimbing, sebagai seorang pembimbing ia mempunyai pengetahuan yang cukup dan ia dapat memberikan saran-saran kepada anggota-anggota sangha yang lebih tua yang merupakan pembimbingnya.
17-- Bagaimana seorang bhikkhu mempunyai pengetahuan ? Di sini seorang bhikkhu mengerti apa itu pengetahuan yang sesungguhnya; semua bentuk benda terdiri dari 4 unsur utama dan semua bentuk itu didapat dari 4 unsur utama.
18-- Bagaimana seorang bhikkhu mempunyai kepribadian ? Di sini seorang bhikkhu mengerti apa itu kepribadian yang sesungguhnya; seorang yang bodoh dapat dilihat dari perbuatannya demikian pula dengan orang yang bijaksana.
19-- Kenapa seorang bhikkhu dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk ? Ketika nafsunya muncul ia dapat melawannya, ketika dendam dan kebencian muncul ia dapat menghilangkannya demikian pula ketika mara muncul ia dapat melenyapkannya.
Bagaimana seorang bhikkhu dapat menutupi kekurangannya ? Jika seorang bhikkhu tidak memahami bentuk-bentuk dan ciri-ciri pandangan yang salah di mana ia tidak menjaga panca inderanya, marah, iri hati dan kebencian akan menggodanya, dia berlatih untuk mengendalikannya, dia menjaga panca inderanya, dengan pendengarannya, dengan penciumannya, dengan perasaannnya dengan memahami kenyataan yang sebenarnya, dan kesadarannya akan dhamma ia dapat menutupi kekurangannya.
Bagaimana seorang bhikkhu menghilangkan hawa nafsu ? Di sini seorang bhikkhu mengajarkan dhamma secara terperinci yang telah dipelajari dan dikuasainya.
Bagaimana seorang bhikkhu dapat mengetahui ladang yang subur ? Di sini seorang bhikkhu kadang-kadang harus pergi ke suatu tempat untuk belajar sebanyak-banyaknya seperti yang dikatakan dalam kitab. Mengingat Dhamma, disiplin serta tanda-tanda dan memberikan pertanyaan mengenai mereka sebagai berikut : "Bagaimana ini, yang mulia apa artinya semua ini ? Orang yang terpuji itu mengungkapkan apa yang tidak terungkap dan membuat jelas apa yang tidak jelas, menghilangkan keraguan mengenai bermacarn-macam dhamma". Bagaimana seorang bhikkhu tahu apa yang diterimanya ? Di sini jika dhamma dan disiplin yang dibabarkan oleh seorang Tathagata tengah diajari seorang bhikkhu mendapatkan pengalamannya, mengenai dhamma dan ia menemukan kebahagiaannya.
24-- Bagaimana seorang bhikkhu tahu akan jalan kebenaran ? Di sini seorang bhikkhu mengerti 4 satipatthana yang sesungguhnya
25-- Bagaimana seorang bhikkhu mampu membimbing umatnya? Disini', seorang bhikkhu mengerti 4 satipatthana yang sesungguhnya.
26-- Bagaimana seorang bhikkhu dapat mempunyai sesuatu ? Di sini seorang pemilik rumah yang setia mengundangnya makan, jubah serta tempat bernaung dan obat-obatan. Bhikkhu itu tahu berapa banyak yang diterimanya.
27-- "Bagaimana seorang bhikkhu membuat saran kepada bhikkhu tua yang mempunyai pengetahuan yang luas yang merupaka pembimbingnya ? Di sini bhikkhu dapat mempertahankan depan umum dan secara pribadi terhadap bhikkhu yang lebi mempunyai cinta kasih yang tinggi baik dalam perkataann] perbuatannya.
“… jika seorang bhikkhu diberkati 11 dhamma, dia mampu tumbo menambah pengetahuannya dalam dhamma dan disiplin " Itulah yang dikatakan oleh yang terhormat. Bhikkhu ini memuaskan dan mereko ; sedang diberkati oleh kata-kata yang bijaksana.
SUTTA CULAGOPALAKA
Pendahuluan
Seperti sutta 33, Sutta ini juga memperkenalkan kiasan mengenai penggem¬bala cakap/mampu/tangkap dan tidak cakap tetapi mereka ini dipakai pada per¬soalan subyek yang berbeda. Seorang penggembala (sapi) yang tidak cakap di¬bandingkan dengan guru-guru agama yang tidak trampil didalam dunia ini (karena mereka tidak tahu mengajar orang-orang hidup dengan penuh kedamaian, begitu juga guru lainnya karena mereka memilik kebahagiaan sendiri); dunia yang akan datang ( tidak mengetahui tindakan apa yang dianjurkan untuk mencapai kelah¬iran kembali yang baik, atau memegang pandangan penghancur lainnya yang menya¬takan tidak ada kehidupan berikutnya); yang menjadi milik Mara (seluruh dunia diliputi oleh keinginan dan hawa nafsu, sekalipun surga rasa keinginan atau buah atas dari keinginan itu menjadi milik Mara); apa saja yang bukan milik Mara (adalah dunia yang berupa atau tanpa rupa yang berada diluar jangkauan Mara; dasar mereka bukan keinginan rasa melainkan Jhana); yang menjadi milik Maut ( segala sesuatu yang berkondisi akan hancur, berantakan, mati, dan sebagainya); apa saja yang bukan milik Maut (keadaan tanpa kondisi, Nibbana, atau tanpa kematian). Seorang guru yang tidak mengetahui cara membedakan hal-hal ini karena benaknya masih bingung, akan membimbing pengikutnya menuju ketidak-bahagiaan dan penderitaan. Sebaliknya seorang penggembala yang trampil mengetahui semua dunia jadi dapat membawa seluruh gembalaannya melintasi Sungai Gangga. Gembala yang dibawanya melintasi sungai (pencemaran) termasuk banteng (para Arahat), ternak yang kuat (Anagami - yang tidak kembali kedunia), sapi-sapi muda (Sakadagami - yang lahir sekali lagi) dan ternak yang lemah (Sotapanna - pelawan arus), dan anak sapi lembut yang baru lahir (mereka yang mahir dalam Dhamma, penuh keyakinan dalam Dhamma). Sang Buddha menyatakan bahwa dia adalah orang yang trampil dalam pengetahuan mengenai hal-hal diatas dan sebab itu dialah yang dapat membimbing pengikutnya menuju kesejahteraan dan kebahagiaan.
Sutta (34)
CULA GOPALAKA SUTTA
( 34 )
1. Demikianlah telah saya dengar:
Pada suatu saat Sang Bhagava sedang tinggal di negeri Vajjian di Ukkacela di tepi Sungai Gangga. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu demiki¬an: "Para Bhikkhu".
"Yang mulia," mereka menjawab. Sang Bhagava berkata sebagai berikut:
2. "Para bhikkhu, pernah ada seorang penggembala Nagadha yang sejak lahir kurang mengerti dan di akhir bulan Musim Hujan, di waktu Musim Gugur, ia mengabaikan untuk memeriksa dekat pinggir Sungai Gangga atau di daerah pantai seberang, ia menggembalakan ternaknya ke tempat yang tidak ada arungan untuk diseberangi, untuk menuju pantai seberang lainnya di negeri Videhan. Kemudian ternak itu berkumpul bersama-sama di tengah arus dalam Sungai Gangga, dan ternak-ternak itu mendapat bencana. Mengapa demikian? Karena penggembala Magadha yang membawanya kurang pengetahuan dan di waktu akhir bulan Musim Hujan, di Musim Gugur, mengabaikan untuk memeriksa dekat pantai Sungai Gangga atau pantai seberangnya, ia menggembalakan ternaknya ke tempat tidak ada arungan untuk dilintasi menuju pantai seberang lainnya di negeri Videhan."
3. "Begitu juga, bila para bhikkhu atau brahmana yang tidak trampil dalam dunia ini dan dunia lainnya, tidak trampil yang menjadi milik Mara dan apa yang bukan miliknya, dan tidak trampil menjadi milik Maut dan apa yang bukan miliknya, hal itu akan lama karena ketidak bahagiaan dan penderitaan dari orang-orang (mereka) yang akan memahami penderitaan itu karena cocok untuk didengar dan cocok untuk menaruh kepercayaan di dalamnya.
4. "Para Bhikkhu, pernah ada seorang penggembala Magadha yang sejak lahir mempunyai pengetahuan dan di akhir bulan Musim Hujan, di akhir bulan Musim Hujan, di waktu Musim Gugur, setelah memeriksa dekat pantai Sungai Gangga dan pantai seberangnya, ia menggiring ternaknya ke tempat yang ada arungan untuk diseberangi, untuk menuju pantai seberang lainnya di negeri Videhan. Ia mem¬buat si banteng, si bapak dan pemimpin ternak itu menyeberang lebih dahulu, dan mereka menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang. Ia menjinakkan ternak yang kuat dan ternak ini setelah dijinakkan melintas sungai berikutnya, dan ternak-ternak itu juga menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai berikut. Ia membuat ternak sapi yang muda untuk menyeberangi berikutnya, dan ternak-ternak itu juga menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang. Pernah ada seekor anak sapi yang lemah yang baru lahir, dan masih menginginkan lenguhan induknya, ia juga menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai yang agak jauh. Mengapa bisa demikian? Karena penggembala Magadha sejak lahir sudah berpenge¬tahuan, dan di akhir bulan Musim Hujan, di waktu Musim Gugur, setelah memerik¬sa dekat pantai Sungai Gangga dan pantai seberang berikutnya, ia menggembala¬kan ternaknya ke tempat yang ada arungan untuk diseberangi menuju pantai lainnya di negeri Videhan."
5. Begitu juga, bila para bhikkhu atau brahmana trampil di dunia ini dan dunia lainnya, trampil dalam apa yang menjadi milik Mara dan apa yang bukan miliknya, trampil dalam apa yang menjadi milik Sang Maut dan apa yang bukan miliknya, kesejahteraan dan kebahagiaan akan lama lagi bagi orang-orang yang akan memahami ajaran kebenaran sebagai hal yang layak untuk didengar dan layak untuk dipercaya.
6. "Para bhikkhu. tepat seperti para banteng, para induk dan para pemimpin ternak, yang menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seber¬ang, begitu juga para bhikkhu yang menjadi Arahat, yang tanpa noda, yang mengarungi kehidupan ini, melakukan apa yang harus dilakukan, meletakkan beban keduniawian, mencapai tujuan yang tertinggi, menghancurkan belenggu manusia, dan melalui pengetahuan akhir yang benar, terbebaskan dengan menyongsong arus Mara, dan sudah tiba dengan selamat di pantai seberang.
7. Tepat seperti ternak yang kuat dan ternak yang sudah dijinakkan menyong¬song arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang, begitu juga, para bhikkhu yang telah menghancurkan lima unsur belenggu yang akan lahir kembali langsung di alam Anagami dan disana mencapai Nibbana tanpa kembali ke dunia, juga akan menyongsong arus Sang Mara, dan tiba dengan selamat di pantai seber-ang.
8. Tepat seperti sapi muda yang menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang, begitu juga, para bhikkhu yang dengan menghancur¬kan tiga unsur belenggu dan dengan melemahkan hawa nafsu, kebencian dan khaya¬lan adalah Sakadagami (yang kembali sekali lagi ke dunia), juga akan menyong¬song arus Sang Mara, tiba dengan selamat di pantai seberang.
9. Tepat seperti anak sapi dan ternak yang lemah juga menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang, begitu juga, para bhikkhu yang dengan menghancurkan tiga belenggu adalah para Sotapanna, yang harus kembali ke dunia tujuh kali, tidak lagi jatuh dalam neraka, dengan kepastian menuju pencerahan yang sempurna, juga akan, menyongsong arus Sang Mara, dan tiba dengan selamat di pantai seberang.
10. Tepat seperti anak sapi yang lemah dan baru saja dilahirkan yang masih membutuhkan lenguhan induknya, juga menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang, begitu juga, para bhikkhu yang mahir dalam dhamma, penuh keyakinan dalam dhamma juga akan menyongsong arus Sang Mara dan tiba dengan selamat di pantai seberang.
11. Para bhikkhu, seorang Buddha trampil dalam dunia ini dan dunia selanjut¬nya, trampil dalam apa yang menjadi milik Sang Mara dan apa yang bukan milik¬nya, dan trampil dalam apa yang menjadi milik Sang Maut dan apa yang bukan menjadi miliknya. Orang-orang akan merasakan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi yang akan memahami ajaran Buddha sebagai hal yang layak didengar dan layak untuk dipercayai."
12. Inilah apa yang Sang Bhagava katakan. Tatkala Sang Bhagava telah katakan hal itu, Sang Bhagava katakan lebih lanjut :
Alam ini dan alam selanjutnya kedua-duanya,
Telah dijelaskan dengan sempurna oleh Dia yang mengetahui,
Dan apa yang masih dalam cengkeraman Mara
Dan apa yang diluar cengkeraman Mara
Mengetahui secara langsung seluruh alam,
Yang telah sadar mengerti
Membuka Gerbang Keabadian, jalan menuju
Nibbana dapat dicapai dengan selamat;
Untuk menyongsong arus Mara (sekarang)
Dan menghapuskan, serta menghilangkan akarnya;
Kemudian berbahagialah, para bhikkhu, yang berjuang sekuat tenaga
Dan pastikan tujuanmu ke tempat keselamatan berada.
CULASACCAKA SUTTA
35
Demikianlah yang saya dengar.
1-- Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Kutagarasala, Mahvana, Vesali.
2-- Pada saat itu Saccaka Niganthaputta sedang tinggal di Vesali, seorang pendebatan dan pembicara ulung, dianggap oleh kebanyakan orang sebagai orang suci. Ia mengucapkan kata-kata ini dihadapan suatu sidang di Vesali: 'Aku tidak melihat petapa maupun brahmana, kepala dari sebuah sangha, kepala dari suatu sekte, guru dari sebuah sekte, sekalipun apabila ia mengaku sebagai seorang Arahat dan mencapai Penerangan sempurna, yang tidak gemetar dan tergoyang serta menggigil dan berkeringat di bawah ketiak mereka apabila sedang terlibat dalam perdebatan dengan diriku. Bahkan apabila aku sedang terlibat dalam perdebatan tanpa arti, perdebatan itu akan menggetarkan, menggoncangkan serta menggigilkan mereka yang sedang terlibat dalam perdebatan dengan diriku. Oleh karena itu apa yang harus saya katakan tentang manusia itu .'
3-- Di pagi hari, Bhikku Assaji mengenakan jubah, mengambil patta dan jubah luar (civara), lalu beliau pergi ke Vesali untuk pindapata. Ketika Saccaka Niganthaputta sedang berjalan-jalan dan mondar-mandir melakukan latihan (cankamana) di Vesali, ia melihat bhikkhu Assaji mendatangi dikejauhan. Ketika ia melihatnya, ia pergi menghampiri Assaji dan sesudah penyambutan serta penghormatan dengannya, dan setelah ucapan-ucapan saling menghormat telah selesai dilakukan, ia berdiri di samping, kemudian Saccaka Niganthaputta berkata:
4-- "Bagaimana caranya Samana Gotama mendisiplinkan siswa siswa, Guru Assaji; dan dengan cara bagaimana biasanya Samana Gotama memberikan instruksi-instruksi kepada para siswanya itu?"
"Ini adalah bagaimana Sang Bhagava itu mendisiplinkan siswa-siswa Aggivessana; dan dengan cara demikian instruksi-instruksi dari Sang Bhagava itu biasanya disampaikan kepada para siswa: "Bhikkhu, bentuk itu adalah tidak kekal, pencerapan adalah tidak kekal; bhikkhu, bentuk itu adalah bukan pribadi, perasaan itu adalah bukan pribadi, bentukanbentukan adalah bukan pribadi, dhamma-dhamma itu adalah semua bukan pribadi. "Itu adalah cara bagaimana Sang Bhagava mendisiplinkan para siswa; itu adalah cara bagaimana instruksi-instruksi dari Sang Bhagava disampaikan kepada para siswa". 'Apabila ini adalah apa yang dikemukakan oleh Samana Gotarna, ternyata kita mendengar tentang apa yang salah. Sekarang, seandainya, pada suatu waktu atau waktu lain, kita dapat bertemu dengan Guru Gotama, seandai kita dapat mengadakan beberapa pembicaraan dengan beliau ? Seandai kita dapat melenyapkan pandangan dari pada- Nya ?'
5. Kebetulan pada waktu itu lima ratus penduduk dari Licchavi telah berkumpul bersama dalam suatu sidang di dalam ruangan, untuk suatu urusan lain. Kemudian, Saccaka Niganthaputta pergi menemui mereka dan berkata: "Marilah, tuan-tuan dari Licchavi, marilah. Hari ini akan diadakan pembicaraan antara saya dengan Samana Gotama. Apabila Samana Gotama tetap mempertahankan pendapat Beliau kepadaku seperti apa yang diucapkan oleh satu di antara murid-murid terkenal Beliau, yaitu bhikkhu yang bernama Assaji, maka dengan argumentasi aku akan menyeret Samana Gotama, menyeret kesana kemari dan menyeret kesekeliling, tepat seperti halnya seorang laki-laki perkasa menangkap lembu jantan pada rambutnya dan menyeretnya ke sana kemari, dan menyeret kesekelilingnya; demikian juga dengan perdebatan akan menyeret Samana Gotama, menyeret ke sana kemari, menyeret kesekeliling tepat seperti halnya seorang pekerja pada pembuat arak yang melemparkan saringan besar masuk kedalain tangki air yang dalain, dan sambil memegangnya di kedua sudutnya, menyeretnya kian kemari dan menyeretnya kesekeliling; maka dengan perdebatan aku akan mengguncang Samana Gotama ke bawah dan menggoncang-Nya naik serta menenggelamkannya, tepat seperti halnya pegawai pembuat arak yang kuat memegang tapisan di kedua sudutnya dan menggoncangnya kebawah dan ke atas. Tepat sepeti halnya wajah berumur enain puluh tahun mungkin akan turun masuk kedalam kolam dan membenamkan badannya di dalam lumpur sebagaimana mereka mandi dan berolah raga itu, demikian juga aku akan berolah raga besar, aku berangan-angan, dalam pertnainan memandikan Samana Gotama itu. Marilah, tuan-tuan dari Licchavi, marilah. Hari ini akan terjadi tukar pembicaraan antara diriku dengan Samana Gotama".
6. Oleh karena itu beberapa orang dari Licchavi berkata: 'Apakah sekarang Samana Gotama akan menyangkal pendapat dari Saccaka, anak lelaki dari Nigantha; atau apakah yang akan menyangkal pendapat dari Samana Gotama itu ? 'Dan beberapa orang Licchavi berkata: 'Bagaimanakah Saccaka anak dari Nigantha akan menyangkal pendapat dari Sang Bhagava; sebaliknya, Sang Bhagava malah akan menyangkal pendapat dari Saccaka Niganthaputta'. Kemudian Saccaka Niganthaputta pergilah bersama-sama dengan lima ratus orang Licchavi ke Kutagarasala, MahaVana.
7. Pada saat itu beberapa bhikkhu sedang berjalan mondar-mandir di tempat terbuka. Kemudian Saccaka Niganthaputta pergi menghampiri mereka dan bertanya: "Dimanakah Guru Gotama sekarang berada, Kita ingin melihat Guru Gotama".
'Aggivessana, Sang Bhagava telah pergi ke Mahavana, beliau sedang duduk di bawah pohon untuk istirahat tengah hari.
8-- Kemudian Saccaka Niganthaputta pergi bersama-sarna dengan banyak pengikut dari kaum Licchavi menuju hutan besar ke tempat di mana Sang Bhagava berada dan saling memberikan salam penghormatan dengan beliau, dan setelah melakukan pembicaraan permulaan yang lemah lembut, ia duduklah pada satu sisi. Dan beberapa kaum Licchavi memberikan horinat kepada Sang Bhagava dan duduklah pada satu sisi; beberapa saling memberi salam, dan setelah semua pembicaraanpembicaraan permulaan serta lemah lembut itu selesai dilakukan, mereka duduklah di satu sisi; beberapa dari mereka menyebutkan nama-nama mereka serta suku-sukunya dihadapan Sang Bhagava dan duduklah di satu sisi; beberapa tinggal diam saja dan duduklah di satu sisi.
9-- Ketika Saccaka Niganthaputta telah duduk, ia berkata kepada Sang Bhagava: 'saya ingin menanyakan kep'ada Guru Gotama tentang suatu masalah, apabila Guru Gotama sudi memberikan jawaban atas pertanyaan itu kepadaku ? 'Tanyakanlah tentang apa yang kau inginkan, Aggivessana'. 'Bagaimana cara Guru Gotama mendisiplinkan (membimbing para siswa; dan dalam cara bagaimanakah instruksi Guru Gotama itu biasanya diberikan di antara siswa?'.
'Ini adalah bagaimana cara aku mendisiplinkan siswa-siswa Aggivessana; dan ini adalah cara instruksi-instruksi saya biasanya disampaikan kepada para siswa: bentuk adalah tidak kekal, perasaan adalah tidak kekal, pencerapan adalah tidak kekal, bentuk-bentuk adalah bukan pribadi, dhamma-dhamma adalah semuanya bukan pribadi, adalah cara bagaimana aku mendisiplinkan siswa-siswa; dan itu adalah cara dalam mana instruksi biasanya disampaikan kepada para siswa'.
10-- 'Satu persamaan terjadi kepadaku, Guru Gotama'. 'Aggivessana, biarkanlah itu terjadi kepadamu, kata Sang Bhagava. 'Tepat seperti halnya bibit-bibit serta tanaman-tanaman, apapun jenisnya, telah mencapai tingkat pertumbuhan, semuanya itu tergantung pada tanah, didasarkan pada tanah; dan tempat seperti apabila jenis-jenis perbedaan harus dibedakan oleh yang kuat, semuanya itu dikerjakan bergantung pada tanah, berdasarkan atas tanah demikian juga, Guru Gotama., seseorang memiliki bentuk sebagai pribadi, ia menghasilkan jasa berdasarkan pencerapannya. Ia mempunyai bentuk-bentuk pikiran sebagai pribadi, ia membuat jasa atau menentang jasa adalah berdasarkan bentuk. Ia mempunyai perasaan sebagai pribadi, ia membuat atau tidak membuat jasa berdasarkan perasaan. Ia mempunyai daya pencapain sebagai pribadi, ia menghasilkan jasa berdasarkan pencerapannya, Ia mempunyai bentuk-bentuk Pikiran sebagai pribadi, ia menghasikan atau didasarkan atas bentuk-bentuk pikiran tidak menghasilkan jasa-jasa pribadi. Ia menghasilkan atau tidak itu. Ia memiliki kesadaran sebagai pribadi menghasilkan jasa-jasa berdasarkan atas kesadaran'.
11— “Aggivessana, apakah kamu tidak mengemukakan sebagai berikut: jasmani adalah diri pribadiku, perasaan adalah diri pribadi. Pencerapan adalah diri pribadi, bentuk-bentuk pikiran adalah diri pribadi, kesadaran adalah diri pribadi?
Demikianlah halnya pendapatkau. Guru Gotama: Bentuk adalah diri pribadiku, perasaan adalah diri pribdiku, bentuk-bentuk pikiran adalah diri pribadiku, kesadaran adalah diri pribadiku.
Dan demikian juga halnya adalah pendapat sebagian besar dari orang-orang itu’
‘Apakah hubungan keadaan yang besar itu denga dirimu, Aggivessana? Silahkan batasi saja hingga ke pendapatmu itu’. Kalau begitu Guru Gotama, pendapat saya adalah demikian bentuk adalah pribadiku, perasaan adalah pribadiku, pencerapan adalah pribadiku, bentuk-bentuk pikiran adalah pribadiku, kesadaran adalah pribadiku.
12-- 'Aggivessana, dalam hal ini. Saya akan mengajukan pertanyaan kepadamu sebagai giliran. Jawablah sebagaimana kamu sukai.
'Aggivessana, bagaimana kamu meyakini ini, apakah seorang raja mulia kesatria yang mempunyai kekuasaan di dalam tangannya sendiri untuk mengeksekusi hukuman kepada mereka Yang harus dihukum, mendenda mereka yang harus didenda, mengucilkan mereka yang harus dikucilkan, umpama saja , Raja Pasenadi dari Kosala, atau Raja Ajatasattu dari Maghada.
'Guru Gotama seorang raja mulia kesatria mempunyai kekuasaan untuk dihukum, mendenda melakukan hukuman terhadap mereka yang harus harus dikucilkan, mereka Yang harus didenda, mengucilkan mereka yang at ini serta seperti umpama. Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Aiatasattu Vedhiputta dari Magadha. Sebab sekalipun masyarak masyarakat seperti kaum vaji dan Malla, mereka mempunyai kekuasaan mereka sendiri untuk menghukum mereka yang harus dihukum, mendenda mereka yang harus didenda, mengucilkan atau memencilkan mereka yang harus dipencilkan. Oleh sebab itu makin banyak raja mulia kesatria seperti Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Ajasattu Vedhiputta dari Magadha. Ia akan meniilikinya. Guru Gotama, dan ia patut untuk memilikinya (kekuasaan itu)'.
13-- 'Bagaimana kamu menerima diakalmu hal ini Aggivessana: ketika kamu mengatakan demikian: jasmani adalah diri pribadiku, apakah kamu memiliki kekuasaan seperti itu terhadap jasmanimu seperti: "Biarkan jasmani seperti ini; biarkan jasmani tidak seperti itu?"
Ketika hal ini dikatakan. Saccaka Niganthaputta diain saja. Untuk kedua kalinya Sang Bhagava berkata kepadanya: 'Bagaimana kamu menerima diakalmu hal ini. Aggivessana, ketika mengatakan demikian: "Jasmani adalah diri pribadiku", apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan terhadap jasmanimu seperti: "Biarkan jasmaniku sebagai demikian; biarkan jasmani tidak seperti itu?".
Untuk kedua kalinya Saccaka Niganthaputta tetap berdiam saja. Kemudian Sang Bhagava berkata kepadanya: 'Aggivessana, jawablah sekarang. Sekarang adalah bukan waktunya lagi untuk berdiam. Apabila seseorang tidak menjawab ketika ditanya tentang Dhamma hingga sainpai ketiga kalinya oleh Sang Tathagata, kepalanya akan terbelah tujuh bagian pada waktu itu juga'.
14-- Pada saat itu dewa Vajirapani (dewa halilintar) dengan membawa vajra (vajira) di kepalanya, yang terbakar, menyala, bersinar-sinar muncul diangkasa di atas Saccaka Niganthaputta (sambil berpikir): 'Apabila Saccaka Niganthaputta ini tidak menjawab ketika ditanya menurut Dhamma hingga ketiga kalinya, aku akan membelah kepalanya menjadi tujuh bagian sekarang juga'. Sang Bhagava melihat dewa Vajirapani dengan perilakunya itu, juga Saccaka Niganthaputta. Ketika itu Saccaka Niganthaputta menjadi iakut, menjadi panik dan rambutnya berdiri, sambil mencari Sang Tathagata sebagai tempat berteduh, tempat suaka serta tempat berlindung, ia berkata: 'Tanyakanlah aku, Guru Gotama, aku akan menjawab'.
15. 'Aggivessana, bagaimana pendapatmu, ketika kamu berkata: "Jasmani adalah pribadiku", apakah kamu mempunyai kekuasaan terhadap j asmani, sehingga umpamanya kainu dapat memerintahkan: "Biarkanlah jasmaniku menjadi seperti ini, semogajasmaniku tidak menjadi seperti itu?". "Tidak. Guru Gotama".
16. 'Perhatikanlah. Aggivessana, perhatikan bila menjawab. Apa yang kamu katakan sebelumnya tidaklah sama dengan apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang kamu katakan sesudah itu adalah tidak sama dengan sebelumnya. Bagaimana kamu menerimanya dengan akalmu tentang hal ini. Aggivessana, ketika kamu mengatakan demikian: "Perasaan adalah pribadiku".
Apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan terhadap perasaan itu seperti: "Biarkanlah perasaanku menjadi demikian; biarkanlah perasaanku tidak menjadi demikian?". "Tidak, Guru Gotama".
17. Perhatikanlah,Aggivessana,perhatikanterhadap apa yang kamu jawab. Apa yang kamu katakan sebelumnya tidaklah sama dengan apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang kamu katakan sesudahnya tidaklah sama dengan yang sebelumnya. Bagaimana kamu menanggapi dengan akalmu hal ini, Aggivessana, apabila kamu mengatakan "Pencerapan adalah pribadiku", apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan terhadap pencerapanmu sehingga kamu dapat mengatakan: "Biarkan pencerapanku menjadi demikian; biarkan pencerapanku tidak menjadi demikian?". "Tidak, Guru Gotama".
18. 'Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan terhadap apa yang kau jawab itu. Apa yang kamu katakan sebelumnya tidaklah sama dengan apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang dikatakan sesudahnya tidaklah sama dengan sebelumnya. Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu, Aggivessana. Ketika kamu mengatakan demikian: "Bentuk-bentuk Pikiran adalah pribadiku", apakah kamu mempunyai semacam: kekuasaan terhadap bentuk-bentuk pikiran itu sehingga dapatberkata: "Biarkan bentuk-bentuk Pikiranku menjadi demikian: biarkanlah bentuk-bentuk pikiranku tidak menjadi demikian?". "Tidak, Guru Gotama".
19. 'Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan tentang apa yang kamu jawab. Apa yang kamu katakan sebelumnya adalah tidak sarna dengan apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang kaniu katakan sesudahnya adalah tidak sama dengan yang sebelumnya Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu, Aggivessana, ketika kamu mengatakan "Kesadaran adalah pribadiku", apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan terhadap kesadaran itu sehingga dapat berkata: "Biarkanlah kesadaranku menjadi demikian; biarkanlah kesadaranku tidak menjadi demikian!?". "Tidak, Guru Gotama".
20. 'Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan terhadap bagaimana kamu menjawabnya. Apa yang kamu katakan sebelumnya adalah tidak sarna dengan yang kamu katakan sesudahnya; atau apa yang dikatakan sesudahnya tidak sama dengan sebelumnya. Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu, Aggivessana,apakah jasmani itu kekal atau tidak kekal?".
'Tidak kekal, Guru Gotama'.
'Sekarang, apa yang tidak kekal itu tidak menyenangkan, atau menyenangkan?'.
'Tidak menyenangkan, Guru Gotama 'Sekarang, apa yang tidak kekal, tidak menyenangkan dan patut terkena hukuman perubahan, cocok untuk dianggap sebagai: "Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah pribadiku?'
"Tidak, Guru Gotama".
21-- 'Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu hal Aggivessana, apakah perasaan itu kekal atau tidak kekal ?
22-- 'Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu hal ini. Aggivessana, apakah bentuk pikiran itu kekal atau tidak kekal?'
23. 'Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu. Aggivessana, hal ini apakah pencerapan itu kekal atau tidak kekal?'
24. 'Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu. Aggivessana, hal ini, apakah kesadaran itu kekal atau tidak kekal?'
'Tidak, Guru Gotama'.
'Sekarang, apa yang tidak kekal, tidak menyenangkan dan patut terkena hukum perubahan, cocok untuk disebut sebagai: "Ini adalah kepunyaanku, ini adalah aku, ini adalah diri pribadiku?"
"Tidak, Guru Gotama'.
25. "Bagaimana kamu menanggapi dengan akalmu hal ini. Aggivessana, apabila seseorang melekat pada penderitaan, memberikan tempat pada penderitaan, menerima penderitaan, selalu memandang penderitaan "Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku pribadi". Apakah ia sendiri pemah sepenuhnya mengerti penderitaan atau selalu berpandangan dengan penderitaan dapat melenyapkannya?.
'Mengapa harus ia, Guru Gotama? Tidak, Guru Gotama'.
Bagaimana kamu menanggapi dengan akalmu hal ini. Aggivessana, demikian, kau tidak melekat pada bahwa dengan menjadikannya penderitaan, kamu tidak selalu memandang pendertiaan sebagai: "Ini kepunyaanku, ini adalah aku, ini adalah diri pribadiku?".
'Mengapa tidak,'Guru Gotama? Ya, Guru Gotama'.
26. 'Hal ini adalah bagaikan seseorang memerlukan kaku/keras hati mencari kayu hati, berkelana mencari kayu hati, mengambil kapak tajwn dan pergiiah ke dalam hutan; dan di sana ia melihat batang pohon tunggal, lurus, muda, tanpa ada pucuk buah. Kemudian ia memotong akarnya, ia memotong mahkotanya, dan setelah memotong mahkotanya ia membuka gulungan pelepah daun; tetapi ketika ia sedang membuka gulungan pelepah daun itu ia tidak pemah sampai kepada sesuatu getah kayu, belum lagi kayu kerasnya. Demikian juga Aggivessana, ketika pendapatmu sendiri kamu ditekan dan ditanya kembali olehku tentang itu, kamu adalah kosong, lowong dan dalam keadaan salah. Tetapi kata-katamu itu diucapkan dihadapan sidang ini: "Aku tidak melihat Samana atau orang suci, kepala Sangha. Kepala Sekte, Guru dari suatu suku, sekalipun apabila ia mengatakan bahwa dirinya adalah Arahat dan ber Penerangan Sempurna, tidak bakal bergetar dan bergoncang serta berkeringat diketiaknya apabila terlibat dalam perdebatan dengan aku. Sekalipun apabila aku terlibat dalam perdebatan yang tidak bermakna, ia akan bergetar, gemetar dan beegoncang, oleh karena itu apa yang akan aku katakan tentang makhluk hidup itu?". Sekarang terdapatlah butiran-butiran keringat itu telah membasahi sekujur jubah atasmu dan menetes ke tanah, tetapi sekarang tidak terdapat keringat pada tubuhku’. Sang Bhagava membuka tutup dari tubuh Beliau yang berwarna kuning kemas-emasan di hadapan para sidang. Ketika hal ini telah dikatakan, Saccakka Nighantaputta diam saja, penuh cemas, dengan pundaknya menurun ke bawah sedangkan kepalanya tunduk, bermuram durja serta tidak dapat mengatakan apa-apa.
27. Kemudian Dummukha Licchaviputta, karena melihat Niganthaputta menjadi demikian keadaannya, ia berkata kepada Sang Bhagava demikian: 'Satu persamaan terjadi padaku,
Guru Gotaina'.
'Terjadi kepadamu, Dummukha'.
'Bhante, seandainya tidak jauh dari desa atau kota terdapatlah sebuah kolam yang berisi kepiting didalaminya, Kemudian banyak anak laki-laki serta perempuan pergi dari kota atau desa menuju ke kolam itu, mereka masuk ke dalam kolam serta mengambil kepiting-kepiting itu dan meletakkan mereka di tanah. Apabila kepiting itu merenggangkan kakinya, mereka memotong kaki itu, memutusnya, menghancurkannya dengan tongkat dan batu-batu, sedemikian sehingga mereka tidak dapat kembali lagi ke kolam. Begitu pula halnya, semua penyimpangan Saccaka Niganthaputta, paradox-paradox? lawan azas, dan ejekan-ejekan telah diputus, dihancurkan serta dipotong oleh Sang Bbagava, sekarang ia tidak dapat lagi mendekati Sang Bhagava, sebagai tujuan dari kata-katanya'.
28. Ketika hal itu diucapkan, Saccaka Niganthaputta berkata kepadanya: 'Tunggu, Dummukkha, tunggu. Kami tidak berurusan dengan kamu, di sini kami berurusan dengan Guru Gotama'. (kemudian ia berkata): 'Biarkanlah pembicaraan kita diteruskan. Guru Gotama, seperti dari banyak Samana dan Orang Mulia yang terdiri dari banyak kata-kata itu, demikian yang aku kira.
Tetapi bagaimana cara siswa dari Guru Gotaina melaksanakan perintah, memberi tanggapan terhadap nasehat, mengatasi segala ketidakpastian, kehilangan keragu-raguannya, memenangkan keberanian dan menjadi tidak tergantung dari orang-orang lain di dalam arnanat Guru itu?'.
'Aggivessana, disini segala macam bentuk apapun, apakah diwaktu yang lampau, yang akan datang atau sekarang, di dalam diri sendiri atau luar, kasar maupun lembut, inferer atau superier, jauh maupun dekat seorang siswaku melihat dengan pengertian semua bentuk seperti apa keadaan sebenarnya sebagai berikut: "Ini adalah bukan milikku, ini bukan diriku, ini adalah bukan aku sendiri". Setiapjenis perasaan apapun setiap jenis pencerapan apapun setiap jenis bentukan apapun setiap jenis kesadaran apapun ... apakah ia berasal dari waktu lampau, yang akan datang atau sekarang di dalam diri sendiri atau di luar, kasar atau lembut, inferior atau superior, jauh atau dekat seorang siswa dariku melihat dengan pengertian benar semua kesadaran sebagaimana keadaan sebenamya sebagai berkut: "Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini adalah bukan pribadiku". Ini adalah bagaimana seorang siswa dariku melaksanakan amanat, memberi tanggapan terhadap nasehat, mengatasi segala ketidak pastian, kehilangan keragu-raguannya, memenangkan keberanian dan menjadi bebas atau tidak bergantung kepada 6rang-orang lain di dalain wnanat Sang Guru'.
29. 'Samana Gotama, bagaimana seorang bhikkhu bisa menjadi Arahat, dengan noda-noda telah terkikis habis, yang telah menjalani hidup, melakukan apa yang harus dilakukan, melepas beban, mencapai tujuan tertinggi, menghancurkan penggoda-penggoda dari makhluk, dan yang melalui pengertian akhir yang benar yang dibebaskan?'. Aggivessana, disini setiap jenis bentuk apapun, apakah dari waktu yang lampau, yang akan datang atau sekarang, di dalam diri sendiri atau di luar, kasar maupun halus, inferier maupun superier, jauh maupun dekat, seorang bhikkhu melihat dengan pengertian benar segala macam bentuk sebagaimana mereka sebenarnya sebagai berikut: "Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini adalah bukan pribadiku", dan dengan melalui tidak melekat pada mereka maka ia menjadi terbebas.
Setiap jenis perasaan apapun
Setiap jenis kesadaran apapun
Setiap jenis persepsi pencerapan apapun Setiap jenis bentuk apapun
Setiapjenis kesadaran apapun, baik di waktu yang lampau, akan datanc, maupun sekarang, di dalam diri sendiri atau di luar, kasar atau lembut", inferier atau superier, jauh atau dekat, seorang. bhikkhu melihat mereka dengan pengertian benar semua kesadaran sebagaimana mereka sebenamya sebagai berikut: "Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini adalah bukan pribadiku", dan dengan melalui jalan tidak melekat kepada mereka maka ia telah terbebas. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu menjadi Arahat, dengan noda-noda terkikis habis, yang telah menjalani hidup, melakukan apa yang harus dilakukan, menyingkirkan beban, mencapai tujuan tertinggi, menghancurkan penggoda-penggoda makhluk, dan melalui pengetahuan akhir yang benar telah terbebaskan.
30. 'Apabila pikiran dari sang bhikkhu telah terbebaskan sedemikian itu, ia memiliki tiga buah keadaan yang tidak dapat dilampaui atau dilewati; pandangan atau penglihatan yang tidak dapat dilampaui atau dilewati, tidak dapat dilewati dalam melaksanakan atau mempraktekkan sang jalan dan tidak dapat dilewati dalam pembebasan atau pelepasan. Apabila seorang bhikkhu telah dibebaskan sedemikian, ia hanya menghormat, memandang tinggi, memuja-muja, memuliakan hanya Sang Tathagata saja. Sang Bhagava telah mencapai Penerangan Sempuma itu. Sang Bhagava adalah tenang dan Beliau mengajar Dhamma dengan ketenangan. Sang Bhagava telah menyeberang dan Beliau mengaj'ar Dhamma dengan menyeberang itu. Sang Bhagava telah mencapai Nibbhana dan Beliau mengajar Dh-amma dengan telah mencapainya Nibbhana itu'.
31. Ketika kata-kata ini telah diucapkan, Saccaka Niganthaputta menjawab: "Samana Gotama, kami adalah berani dan maju dalam memahami Sainana Gotama untuk diserang dengan perdebatan. Seseorang harus menjadi demikian sehingga ia dapat dengan kebebasan dari hukumanmenyerang gajah gila, namun begitu ia tidak dapat menyerang Samana Gotama dengan kebebasan dari hukuman itu. Seseorang mungkin dapat dengan kebebasan dari hukuman suatu nyala kobaran api yang besar, namun begitu ia tidak dapat menyerang Samana Gotama dengan kebebasan dari hukuman itu. Seseorang bisa menjadi demikian sehingga ia dapat dengan kebebasan dari hukuman menyerang ular berbisa, namun begitu ia tidak dapat menyerang Samana Gotama dengan kebebasan hukuman itu. Kami sangat berani dan maju dalam memahami Sainana Gotama untuk menyerangnya dengan perdebatan itu.
32. 'Biarlah Sang Tath,agata bersama-sama dengan bhikkhu Sangha, menerima makanan besok dariku. 'Sang Bhagava menerima undangan itu dengan berdiam diri'.
33. Kemudian setelah ia mengetahui bahwa Sang Bhagava menerima undangannya itu, ia menyampaikan pesan kepada kaum Licchavi: 'dengarlah daku, kaum Licchavi. Samana Gotama bersama dengan bhikkhu sangha telah saya undang untuk menghadiri makan besok pagi. Kamu boleh membawa kepadaku apa saja yang kainu pikir pantas bagi Beliau'.
34. Kemudian ketika nialam telah berakhir kaum Licchavi membawa lima ratus hidangan upacara terdiri dari nasi, susu sebagai hadiah makanan. Saccaka Niganthaputta mempunyai makanan-makanan enak berbagai macam yang dipersiapkan dirumahnya sendiri, dan ia te,lah mengumumkan waktunya bagi Sang Bhagava:
'Waktunya telah tiba Samana Gotaina, hidangan makan telah siap'.
35. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagava mengenakan jubah, dan dengan membawa mangkok sertajubah luar, beliau pergi bersama-sama dengan Bhikkhu Sangha ke rumah Saccaka Niganthaputta dan duduk di atas tempat duduk yang telah dipersiapkan. Kemudian, dengan tangannya sendiri, Saccaka anak lelaki dari Nigantha melayani serta memuasi Sangha dari para Bhikkhu yang dikepalai oleh Sang Bhagava, dengan berbagai jenis makanan. Kemudian ketika Sang Bhagava telah selesai makan dan tidak lain memegangi mangkok-Nya, Saccaka Niganthaputta duduk ditempat yang bawah dan duduklah pada satu. Ketika ia telah berbuat hal itu, ia berkata kepada Sang Buddha:
"Guru Gotama, apapunjasa dan (diharapkan diwaktu yang akan datang) kebesaran dikarenakanjasa dalain (ini) melakukan pemberian sedekah, semoga bisa menjadi kebahagiaan bagi sipemberi". 'Aggivessana, jasa dan kebesaran yang diharapkan karenajasa semacam itu yang muncul disebabkan karena memberikan dana cocok bagi pemberian-pemberian dalam cara yang kamu lakukan, (kamu tanpa) tiada adanya nafsu, tanpa kebencian, dan tanpa adanya khayalan, akan menjadi pahala bagi sipemberi; tetapi pemberian semacam yang datangnya dari (memberikan kepada) seorang yang cocok bagi pemberian-pemberian dalam cara seperti Aku, (aku yang) tanpa nafsu, tanpa kebencian dan tanpa khayal, akan menjadi milikmu (yang telah memberikan pemberian kepadaku)'.
SABBASAVA SUTTA
(2)
1-- Demikianlah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savathi. Di sana Beliau menyapa para bhikkhu:
"Para bhikkhu".
"Ya, Bhante", jawab mereka.
2-- Selanjutnya Sang Bhagava berkata sebagai berikut:
"Para bhikkhu, saya akan menerangkan kepada kamu sekalian tentang 'cara mengendalikan' (samvarapariyaya) 'semua kotoran batin' (sabbasava), maka dengar dan perhatikan baik-baik apa yang akan saya katakan."
"Baiklah, Bhante", jawab para bhikkhu menyetujuinya.
3-- Lalu Sang Bhagava berkata:
"Para bhikkhu, Saya nyatakan bahwa 'kotoran batin' (asava) itu akan lenyap pada diri seseorang yang mengerti dan melihat, bukan pada diri seseorang yang tidak mengerti dan tidak melihat.
Apakah yang dimengerti dan dilihat untuk melenyapkan kotoran batin itu? Yaitu adalah perhatian benar (yoniso manasikara) dan perhatian tidak benar (ayoniso manasikara)”.
“Bila seorang berperhatian tidak benar, maka kotoran batin yang belum muncul, menjadi muncul; di samping itu kotoran batin (yang tidak benar) dan yang telah muncul akan lebih berkembang. Sedangkan, bila seseorang berperhatian benar, maka kotoran batin (yang tidak benar) dan yang telah muncul akan dilenyapkan”.
4-- Para bhikkhu ada kotoran batin yang, ditinggalkan (pahatabba) dengan 'penglihatan' (dassana). Ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan 'pengendalian diri' (samvara). Ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan 'penggunaan' (patisevana). Ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan 'penahanan' (adhisevana). Ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan 'penghindaran' (parivajjana). Ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan ‘penghapusan' (vinodana). Juga ada kotoran batin yang dapat dilenyapkan dengan 'pengembangan' (bhavana) batin.
5-- Para bhikkhu, apakah kotoran batin dapat dilenyapkan dengan penglihatan?
Para bhikkhu, dalam hal ini, seorang awam (puthujjana) yang tidak mempedulikan para ariya, tidak terlatih dan tidak disiplin dalam ariyadhamma, tidak mengerti ariyadhamma yang pantas diperhatikan dan dhamma apa yang tidak pantas diperhatikan. Karena bersikap seperti itu, ia memperhatikan dhamma yang tidak pantas diperhatikan, tidak memperhatikan dhamma yang pantas diperhatikan.
6-- "Apakah dhamma yang tidak pantas diperhatikan namun ia perhatikan?
Dhamma itu adalah hal-hal yang bila ia perhatikan maka akan memunculkan 'kotoran batin nafsu indera' (kama-asava) yang (tadinya) belum muncul, sedangkan ‘kotoran batin nafsu indera’ yang telah muncul menjadi lebih berkembang; memunculkan 'kotoran batin menjadi' (bhava-asava) yang (tadinya) belum muncul, sedangkan 'kotoran batin menjadi' yang telah muncul menjadi lebih berkembang (pavaddhati); memunculkan 'kotoran batin kebodohan' (avijja-asava) yang (tadinya) belum muncul, sedangkan ‘kotoran batin kebodohan’ yang telah muncul menjadi lebih berkembang. Inilah dhamma yang tidak perlu diperhatikan namun ia perhatikan."
"Apakah dhamma yang perlu ia perhatikan namun tidak ia perhatikan?
“Dhamma itu adalah hal-hal yang bila ia perhatikan, maka tidak memunculkan 'kotoran batin nafsu indera', sedangkan 'kotoran batin nafsu indera' yang telah muncul ditinggalkannya (pahiyati); tidak memunculkan 'kotoran batin menjadi', sedangkan 'kotoran batin menjadi' yang telah muncul ditinggalkan; tidak memunculkan 'kotoran batin kebodohan', sedangkan 'kotoran batin kebodohan' yang telah muncul ditinggalkannya. Inilah dhamma yang perlu ia perhatikan namun ia tidak perhatikan”.
“Dengan memperhatikan dhamma yang tidak perlu diperhatikan dan dengan tidak memperhatikan dhamma yang perlu diperhatikan, kedua kotoran batin yang belum muncul dan kotoran batin yang telah muncul menjadi berkembang padanya."
7-- "Beginilah bagaimana ia yang tidak bijaksana memperhatikan: 'Apakah saya ada pada masa yang lampau (atita)?
Apakah saya tidak ada pada waktu yang lampau?
Apakah saya pada waktu yang lampau?
Bagaimana saya pada masa yang lampau?
Telah menjadi apa, dan saya menjadi apa pada waktu yang lampau?
Apakah saya akan ada pada masa yang akan datang (anagatam)?
Apakah saya akan tidak ada pada masa yang akan datang?
Apa yang akan terjadi dengan diri saya pada masa yang akan datang?
Bagaimana keberadaan saya pada masa yang akan datang?
Telah menjadi apa, dan saya akan menjadi apa pada masa yang akan datang?
Atau, juga dari 'dalam' (ajjhattam) ia bingung tentang masa sekarang: 'Adakah saya? Tidak adakah saya? Apakah saya? Bagaimanakah saya? Dari manakah makhluk (satta) ini datang? Ke manakah ia akan pergi?'
8-- "Ketika ia tidak bijaksana memperhatikan dengan cara seperti ini, salah satu dari enam pandangan muncul padanya:
Pandangan 'aku (atta) ada untukku' muncul sebagai suatu hal yang benar dan tetap.
Atau pandangan 'tidak aku untukku’ muncul sebagai suatu hal yang benar dan tetap.
Atau pandangan 'saya mencerap aku dengan aku' muncul sebagai suatu hal yang benar dan tetap.
Atau pandangan 'saya mencerap bukan-aku dengan aku' muncul sebagai suatu hal yang benar dan tetap.
Atau pandangan 'saya mencerap aku dengan bukan-aku' muncul sebagai suatu hal yang benar dan tetap.
Atau pandangan 'aku milikku ini yang berbicara, merasakan dan mengalami 'akibat' (vipaka) dari 'perbuatan baik dan buruk' (kalyanapapakanam kammanam) di sini maupun di sana; namun aku milikku ini kekal, abadi, tetap, tidak berubah, akan bertahan sampai selamanya.'
Para bhikkhu, inilah yang disebut 'spekulasi pandangan' (ditthigata), 'belukar-pandangan' (ditthigahana), 'belantara-pandangan' (ditthikantara), 'pemutarbalikkan pandangan' (ditthivisuka), 'kebimbangan-pandangan' (ditthivipphandita) dan 'belenggu-pandangan' (ditthisanyojana). Terbelenggu oleh 'belenggu-pandangan', maka 'orang awam yang tak-terdidik' (assutava puthujjano) tidak akan terbebas dari kelahiran, usia tua, kematian, penderitaan, kesedihan, kesakitan, kesusahan, dan putus-asa; saya nyatakan ia tidak terbebas dari 'dukkha' (penderitaan).
9-- 'Aku mencerap ketidakakuan dan keakuan’ sebagai suatu hal yang benar dan mutlak, atau dia akan berpandangan bahwa akulah yang bicara dan merasakan serta mengalami akibat dari perbuatan baik atau buruk: tetapi milikku ini adalah kekal, selama-lamanya, abadi, tak dapat berubah dan akan berlangsung selamanya."
"Pandangan macam ini disebut kekaburan pandangan, kebuasan pandangan, kerusakan pandangan, keragu-raguan pandangan, belenggu pandangan. Orang awam yang tak terpelajar dan terikat dengan belenggu pandangan-pandangan ini, tidak akan ada yang terbebas dari kelahiran, umur tua dan kematian dengan penderitaan serta ratap tangis, rasa sakit, takut dan putus asa; saya nyatakan ia tidak terbebas dari penderitaan.”
"Orang yang terpelajar, yang menghargai, memahami dan berdisiplin dengan ajaran orang-orang pandai serta bijaksana. Mengerti hal-hal yang penting untuk diperhatikan atau hal-hal apakah yang tidak penting untuk diperhatikan. Sehingga dia tidak memperhatikan hal-hal yang tidak penting untuk diperhatikan dan dia memperhatikan hal-hal yang penting untuk diperhatikan."
"Apakah hal-hal yang ia tidak perhatikan?"
“Adalah hal-hal yang menyebabkan munculnya dukkha yang baru atau bertambahnya dukkha yang sudah ada yang berasal dari nafsu indera, keakuan dan ketidaktahuan. Inilah hal-hal yang tidak seharusnya ia diperhatikan.
"Apakah hal-hal yang ia perhatikan?"
Adalah hal-hal yang tidak menyebabkan munculnya dukkha yang baru atau bertambahnya dukkha yang sudah ada yang berasal dari nafsu indera, keakuan dan ketidaktahuan. Inilah hal-hal yang seharusnya ia diperhatikan.
"Dengan memperhatikan hal-hal yang perlu diperhatikan dan tidak memperhatikan hal-hal yang tidak perlu untuk diperhatikan, dukkha yang baru tidak muncul dan dukkha yang lama dapat dihilangkan."
"Beginilah bagaimana ia berpikir dengan bijaksana: 'Ini adalah dukkha (penderitaan), ini adalah asal mula dukkha, ini adalah terhentinya dukkha dan ini adalah jalan yang menuju terhentinya dukkha'."
"Ketika dia memperhatikan jalan ini dengan bijaksana, tiga belenggu dapat ditinggalkannya: keinginan untuk bertumimbal lahir, ketidakpastian dan kemelekatan terhadap upacara-upacara."
"Ini disebut sebagai dukkha yang dapat dihentikan dengan cara melihat".
"Apakah dukkha yang dapat dihentikan dengan pengendalian diri?"
"Seorang bhikkhu berpikir dengan bijaksana dapat mengendalikan kesulitan matanya". Bila dukkha jasmani dan perasaan bisa timbul pada seorang bhikkhu yang tidak dapat mengendalikan kesulitan matanya, maka tidak ada dukkha atau beban emosi yang timbul jika dia dapat mengendalikan kesulitan matanya.'
"Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan matanya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.
"Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan penciumannya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.
"Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan pengecapannya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.
"Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan pendengarannya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.
"Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan badannya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.
"Berpikir dengan bijaksana ia dapat mengendalikan kesulitan pikirannya, tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali.
Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang pikirannya tidak terkendali, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang pikirannya terkendali. Inilah yang disebut penderitaan yang dapat dihentikan dengan pengendalian diri."
"Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penggunaan?" Seorang bhikkhu berpikir dengan bijaksana menggunakan sebuah jubah sebagai pelindung dari dingin, panas dan untuk melindungi diri dari lalat, angin, panas yang membakar serta serangga tanah, juga hanya bertujuan untuk menutupi bagian tubuh yang vital."
"Berpikir dengan bijaksana ia tidak menggunakan patta (mangkuk)-nya untuk hiburan atau kesombongan, tidak pula untuk keelokan dan hiasan. Tetapi sekedar untuk kelangsungan hidupnya, untuk menghilangkan rasa sakit dan membantu perkembangan batin (berpikir): 'Beginilah aku akan menghentikan kesadaran lama tanpa menimbulkan kesadaran baru dan terhindar dari kesalahan, aku akan hidup dengan benar dan sehat'."
"Berpikir dengan bijaksana ia menggunakan tempat peristirahatan untuk melindungi diri dari dingin, gangguan lalat, angin, panas terik dan serangga tanah. Dan hanya sekedar menghindar dari bahaya-bahaya cuaca dalam menikmati istirahat.”
"Berpikir dengan bijaksana dia menggunakan obat-obatan untuk menyembuhkan diri dari sakit, sekedar untuk melindungi diri dari rasa sakit vang timbul dan mengurangi rasa sakit itu."
"Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak menggunakan segala sesuatunya dengan baik, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang menggunakan segala sesuatunya dengan baik."
"Ini yang disebut penderitaan yang dapat dihentikan dengan penggunaan".
"Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penahanan?"
"Seorang bhikkhu dengan bijaksana berpikir menahan dingin, panas lapar, haus dan gangguan dari lalat, angin, panas dan serangga tanah, dia menahan diri dari menghina, kata-kata kasar dan perasaan yang menyakitkan, menyiksa, yang menusuk hati, yang mengkhawatirkan, mengancam dan membahayakan kehidupan."
"Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat menahan, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang dapat menahan." "Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penghindaran?"
"Seorang bhikkhu dengan bijaksana berpikir menghindar dari seekor gajah liar, kuda liar, banteng liar, anjing liar, ular, batang pohon yang roboh, semak belukar, tanah berlubang, tebing batu, lubang dan lubang bawah tanah; berpikir dengan bijaksana untuk menghindar: duduk di kursi yang tidak menyenangkan, berkelana di tempat yang tidak cocok, bergaul dengan orang bodoh; yang mana hal-hal ini dianggap merupakan perbuatan salah oleh orang bijaksana".
"Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat menghindar, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang dapat menghindar."
"Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penghapusan?"
"Seorang bhikkhu dengan bijaksana berpikir tidak membiarkan pikiran yang ditimbulkan oleh nafsu indera ... oleh kekesalan ... oleh penderitaan; dia tinggalkan, benar-benar menghilangkannya dan memusnahkannya. Dia tidak membiarkan hal-hal yang salah dan tidak berguna untuk timbul; dia meninggalkannya, benar-benar menghilangkannya dan memusnahkan hal-hal itu."
"Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat menghapus pikiran-pikiran ini, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang dapat menghapus mereka."
"Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan pengembangan?"
"Seorang bhikkhu dengan bijaksana berpikir, mengembangkan perhatian dari faktor-faktor penerangan sempurna (satisambojjhanga) yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu dan menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."
"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor penerangan sempurna (dhammavicayasambojjhanga)"
"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor semangat (viriya) penerangan sempurna yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."
"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor kegiuran (piti) penerangan sempurna yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."
"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor ketenangan (passaddhi) penerangan sempurna yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."
"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor konsentrasi (samadhi) penerangan sempurna yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."
"Dia mengembangkan penelitian dhamma dari faktor-faktor keseimbangan batin (upekha) penerangan sempurna, yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya."
"Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat mengembangkan hal-hal itu, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang mengembangkannya."
"Segera setelah penderitaan seorang bhikkhu dapat ditinggalkan dengan cara melihat (ke dalam) (dassana), menahan, menggunakan, menghindar, menghilangkan dan mengembangkan telah dapat ditinggalkan, dia akan disebut sebagai seorang bhikkhu yang dapat menghentikan semua penderitaan: dia menghentikan keinginan (tanha), melepaskan belenggu (samyojana) dan telah mengakhiri penderitaan dengan penembusan kesombongan (mana)."
Demikian yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa puas dan gembira dengan kata-kata Sang Bhagava.
Selasa, 16 Maret 2010
Langganan:
Komentar (Atom)