Selasa, 16 Maret 2010

ANANJASAPAYA SUTTA

ANANJASAPAYA SUTTA
106
1. Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di sebuah kota bernama Kammassadama, di daerah Kuru. Di sana Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para Bhikkhu."
"Ya, Bhante." jawab mereka. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:
2. "Para bhikkhu, nafsu indera tidaklah kekal, kosong, palsu, tidak nyata, dibuat dari ilusi dan cerita tak berguna. Nafsu indera (kama) pada masa sekarang, masa mendatang, pencerapan nafsu indera (kama¬sanna) pada masa sekarang dan pencerapan nafsu indera pada masa akan datang adalah seperti kerajaan Mara, wilayah kekuasaan Mara, umpan Mara dan daerah perburuan Mara. Akusala jahat dari pikiran yang dili¬puti keserakahan, kebencian dan ambisi yang mengarah pada (lahir kembali) dalam alam nafsu indera, hal-hal ini merintangi latihan seorang siswa ariya.
3. Para bhikkhu, seorang siswa ariya berpikir sebagai berikut: "Nafsu-nafsu indera pada masa sekarang, pada kehidupan mendatang, pencerapan nafsu-nafsu indera pada masa sekarang dan pada masa mendatang adalah seperti kerajaan Mara, wilayah kekuasaan Mara, umpan Mara, daerah perburuan Mara. Akusala jahat dari pikiran yang diliputi keserakahan, kebencian dan ambisi yang mengarah pada (lahir kembali) dalam alam nafsu indera, hal-hal ini merintangi latihan seorang siswa ariya.
Seandainya aku hidup dengan pikiran yang melimpah dan mulia dengan melampaui dunia ini dan dengan perlahan-lahan mengarahkan pikiran itu, maka tak akan ada lagi akusala jahat dari pikiran yang dilipu¬ti keserakahan, kebencian dan ambisi yang mengarah pada (lahir kemba¬li) dalam alam nafsu indera, dengan menghilangkan hal- hal itu, pikiran¬ku tak terbatas lagi, pikiranku menjadi tak terukur dan berkembang dengan baik pula.
Ketika dia memasuki jalan ini dan sering kali hidup seperti itu, pikirannya mendapatkan keyakinan pada landasan (ayatana) ini. Sekali ada keyakinan yang penuh, lalu dia akan memasuki jalan kearah keadaan tenang (ananja) atau dia memutuskan untuk menyempurnakan kebijaksa¬naannya (panna). Pada saat peleburan jasmani, setelah kematian, ada kemungkinan kesadarannya yang mengarah ke tumimbal lahir, dapat melewati (ketika lahir kembali) ke salah satu dari keadaan-keadaan tenang (ananja). Ini disebut jalan pertama yang mengarah pada ketenan¬gan."
4. Lagi, seorang siswa ariya berpikir sebagai berikut: “Nafsu- nafsu indera pada masa sekarang, pada kehidupan mendatang, pencera¬pan nafsu-nafsu indera pada masa sekarang dan pada kehidupan menda¬tang, bagaimanapun jasmani (rupa) itu, semua jasmani (rupa) adalah empat unsur dasar (mahabhuta rupa) dan jasmani berasal (upadaya) dari empat unsur dasar.”
Ketika dia memasuki jalan ini dan sering kali hidup seperti itu, pikirannya mendapatkan keyakinan pada landasan (ayatana) ini. Sekali ada keyakinan yang penuh, lalu dia akan memasuki jalan kearah keadaan tenang (ananja) atau dia memutuskan untuk menyempurnakan kebijaksa¬naannya (panna). Pada saat peleburan jasmani, setelah kematian, ada kemungkinan kesadarannya yang mengarah ke tumimbal lahir, dapat melewati (ketika lahir kembali) ke salah satu dari keadaan-keadaan tenang (ananja). Ini disebut jalan kedua yang mengarah pada ketenangan."
5. "Lagi, seorang siswa ariya berpikir sebagai berikut: “Nafsu- nafsu indera pada masa sekarang, pada kehidupan mendatang, pencera¬pan nafsu-nafsu indera pada masa sekarang dan pada kehidupan menda¬tang, jasmani pada masa sekarang ini dan pada masa yang akan datang, pencerapan dari jasmani pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang, semuanya adalah tidak kekal (anicca). Apa yang tidak kekal adalah tidak patut dinikmati, tidak patut dipuja dan tidak diterima.”
Ketika dia memasuki jalan ini dan sering kali hidup seperti itu, pikirannya mendapatkan keyakinan pada landasan (ayatana) ini. Sekali ada keyakinan yang penuh, lalu dia akan memasuki jalan kearah keadaan tenang (ananja) atau dia memutuskan untuk menyempurnakan kebijaksa¬naannya (panna). Pada saat peleburan jasmani, setelah kematian, ada kemungkinan kesadarannya yang mengarah ke tumimbal lahir, dapat melewati (ketika lahir kembali) ke salah satu dari keadaan-keadaan tenang (ananja). Ini disebut jalan kedua yang mengarah pada ketenangan.
6. "Lagi, seorang siswa ariya berpikir sebagai berikut: “Nafsu- nafsu indera pada masa sekarang, pada kehidupan mendatang, pencera¬pan nafsu-nafsu indera pada masa sekarang dan pada kehidupan menda¬tang, jasmani pada masa sekarang ini dan pada masa yang akan datang, pencerapan dari jasmani pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang, semua pencerapan adalah pencerapan ketenangan (ananjasanna); ketika semua pencerapan ini lenyap tanpa sisa, itu lebih damai, itu tujuan yang tinggi, itu adalah “landasan kekosongan” (akincannayatana).
Ketika dia memasuki jalan ini dan sering kali hidup seperti itu, pikir¬annya mendapatkan keyakinan pada landasan (ayatana) ini. Sekali ada keyakinan yang penuh, lalu dia akan memasuki jalan berlandaskan kekosongan (akincannayatana) atau dia memutuskan untuk menyempur¬nakan kebijaksanaannya (pan~n~a). Pada saat peleburan jasmani, setelah kematian, ada kemungkinan kesadarannya yang mengarah ke tumimbal lahir, dapat melewati (ketika lahir kembali) ke landasan keadaan keko¬songan (akincannayatana). Ini disebut jalan pertama yang mengarah pada ketenangan.
7. "Lagi, seorang siswa ariya, pergi ke hutan, ke bawah sebuah pohon atau gubuk yang kosong, berpikir sebagai berikut: "Ini adalah kosong dari aku atau milik aku."
Ketika dia memasuki jalan ini dan sering kali hidup seperti itu, ... dapat melewati (ketika lahir kembali) ke landasan keadaan kekosongan (akincannayatana). Ini disebut jalan kedua yang mengarah pada landasan keadaan kekosongan (akincannayatana)."
8. "Lagi, seorang siswa ariya, berpikir sebagai berikut: “Saya di mana pun bukan milik seseorang; atau di mana pun seseorang itu bukan milikku.”
"Ketika ia memasuki jalan ini dan sering kali hidup seperti itu ... dapat melewati (ketika lahir kembali) ke landasan keadaan kekosongan (akincannayatana). Ini merupakan jalan ke tiga yang mengarah pada landasan keadaan kekosongan (akincannayatana)."
9. "Lagi, seorang siswa ariya berpikir sebagai berikut: “Nafsu- nafsu indera pada masa sekarang dan pada kehidupan yang akan datang, pencerapan nafsu indera pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang, jasmani pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang, pencerapan jasmani pada masa sekarang dan pada masa yang akan da-tang, pencerapan Ketenangan (Ananja), pencerapan landasan keadaan kekosongan (Akincannayatana) semua adalah pencerapan (sanna); ketika semua pencerapan lenyap tanpa sisa, itu lebih damai, itu tujuan lebih tinggi, itu adalah landasan dari “Bukan pencerapan tidak bukan pencera¬pan” (N”evasannanasanna-yatana).
Ketika dia memasuki jalan ini dan sering kali hidup seperti itu, pikirannya mendapatkan keyakinan pada landasan (ayatana) ini. Sekali ada keyakinan yang penuh, lalu dia akan memasuki jalan “berlandaskan keadaan bukan pencerapan tidak bukan pencerapan” (N”evasannanasan¬nayatana) atau dia memutuskan untuk menyempurnakan kebijaksa¬naannya (panna). Pada saat peleburan jasmani, setelah kematian, ada kemungkinan kesadarannya yang mengarah ke tumimbal lahir, dapat melewati (ketika lahir kembali) ke “Landasan keadaan bukan pencerapan tidak bukan pencerapan”(N”evasannanasannayatana). Ini disebut jalan pertama yang mengarah pada landasan keadaan bukan pencerapan tidak bukan pencerapan” (N”evasannanasanna- yatana)."
10. Ketika hal ini dikatakan, bhikkhu Ananda bertanya pada Sang Bhagava: "Bhante, ada seorang bhikkhu berpendapat: “Bila saya tidak ada dan tidak ada milikku, saya akan tidak ada dan tidak akan ada mili¬kku. Yang ada dan yang akan ada, itu saya tinggalkan, dengan cara ini saya memperoleh keseimbangan batin (upekha).” Bhante, apakah bhikkhu itu mencapai Nibbana?"
"Mungkin salah seorang dari bhikkhu seperti itu dapat mencapai Nibbana, sedangkan bhikkhu seperti itu yang lain tidak dapat mencapai Nibbana."
"Bhante, apa penyebabnya, apa alasannya, mengapa seseorang bisa dan yang lain tidak?"
"Ananda, seorang bhikkhu yang berpendapat: “Bila saya tidak ada dan tidak ada milikku, saya akan tidak ada dan tidak akan ada milikku. Yang ada dan yang akan ada, itu saya tinggalkan, dengan cara ini saya memperoleh keseimbangan batin (upekha). Ia menikmati, memuja dan menerima keseimbangan batin (upekha). Bila ia berbuat begitu, maka kesadarannya tergantung dan melekat pada keseimbangan batin (upekha). Seorang bhikkhu memiliki kemelekatan tidak mencapai Nibbana."
11. "Bhante, tetapi bila seorang bhikkhu melekat, melekat kepada apakah?"
"Ananda, “Landasan keadaan Bukan pencerapan tidak bukan pencerapan (N”evasannanasannayatana)”.
"Bhante, agaknya ketika bhikkhu itu melekat, dia melekat pada kemelekatan yang terbaik?"
"Ananda, ketika bhikkhu ini melekat, ia melekat pada kemeleka¬tan yang terbaik; karena ini adalah kemelekatan terbaik, yaitu “Landasan keadaan Bukan pencerapan tidak tidak pencerapan (N”evasannanasan¬nayatana)”.
12. "Ananda, dalam hal ini, seorang bhikkhu berpendapat: “Bila saya tidak ada dan tidak ada milikku, saya akan tidak ada dan tidak akan ada milikku. Yang ada dan yang akan ada, itu saya tinggalkan, dengan cara ini saya memperoleh keseimbangan batin (upekha). Ia tidak menik¬mati, memuja dan menerima keseimbangan batin (upekha). Bila ia berbuat begitu, maka kesadarannya tidak tergantung dan tidak melekat keseimbangan batin (upekha). Seorang bhikkhu yang tidak memiliki kemelekatan, mencapai Nibbana."
13. "Bhante, mengagumkan dan menakjubkan! Karena nampaknya, setiap tahap pemotongan arus telah diungkapkan oleh Sang Bhagava. Bhante, tetapi apakah “pembebasan (vimokha) ariya”?"
"Ananda, dalam hal ini, seorang siswa ariya berpikir sebagai berikut: “Nafsu-nafsu indera pada masa sekarang dan pada kehidupan yang akan datang, pencerapan nafsu indera pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang, jasmani pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang, pencerapan jasmani pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang, pencerapan ketenangan (Ananja), pencerapan landasan keadaan kekosongan (Akincannayatana), pencerapan “Landasan keadaan bukan pencerapan tidak bukan pencerapan (N”evasannanasan-nayatana) itu adalah pembentukan (sakkaya), sejauh itulah adanya pembentukan (yavata sakkaya); tetapi ini adalah tidak mati, yaitu pembe¬basan batin (cittassa vimokha) karena tidak melekat.
14. "Ananda, demikianlah, Saya telah menunjukkan jalan ke arah Ketenangan (Ananja). Saya telah menunjukkan jalan ke arah Landasan Kekosongan (Akincannayatana). Saya telah menunjukkan jalan ke arah “Landasan keadaan bukan pencerapan tidak bukan pencerapan (N”eva-sannanasannayatana). Saya telah menunjukkan setiap tahap pencapaian untuk memotong arus. Saya telah menunjukkan pembebasan Ariya (Ariya vimokha).
15. "Ananda, apa yang harus dilakukan berdasarkan kasihnya, seorang guru yang mencarikan kesejahteraan dan mengasihi para sis¬wanya, telah Saya lakukan untukmu. Ananda, ada bawah pohon- pohon (rindang) dan ada gubuk-gubuk kosong, bermeditasilah dan waspadalah, jangan menunda sehingga menyesal jika sudah terlambat. Ini adalah pesan kami untukmu."
Demikian yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Bhikkhu Ananda merasa puas dan gembira dengan kata-kata Sang Bhagava.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar