CANKI SUTTA
95
1. Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Buddha bersama dengan para bhikkhu Sangha sedang dalam perjalanan di kerajaan Kosala dan tiba di sebuah kota milik brahmana yang bernama Opasada. Sang Bhagava bersama bhikkhu Sangha menginap di Devavana, Salavana, yang terletak di sebelah utara Opasada.
2. Pada waktu itu, Brahmana Canki hidup sebagai penguasa Opasada, yang dikelilingi dengan binatang-binatang ternak, memiliki rumput, kayu dan air, serta memiliki gandum, seba¬gai wakil raja dengan kekuasaan raja dan hak penuh yang dilimpahkan kepadanya oleh raja Pasenadi Kosala.
3. Para Orang awam brahmana di Opasada telah mendengar: "Samana Gotama, kiranya ... (sutta 41)... sekarang adalah baik untuk melihat para Arahat seperti mereka itu."
4. Sekarang orang-orang awam brahmana Opasada keluar dari Opasada dalam kelompok-kelompok, berkumpul dalam kelompok-kelompok, dan mereka pergi menuju ke arah utara ke Devavana, Salavana.
5. Ketika Brahmana Canki sedang beristirahat di tengah hari di istana atas. Ia melihat orang-orang awam brahmana Opasada pergi dalam kelompok-kelompok, berkumpul dalam kelompok-kelompok menuju ke utara ke Devavana, Salavana. Ketika ia melihat mereka ia bertanya kepada menterinya: "Mengapa orang-orang awam Brahmana Opasada itu pergi dalam kelompok-kelompok, berkumpul dalam kelompok-kelompok menuju ke utara ke Devavana, Salavana.?"
6. "Tuan, di sana ada seorang petapa bernama Gotama, putra suku Sakya yang telah meninggalkan kehidupan duniawi, berkelana di negeri Kosala ... (seperti dalam sutta 41.2) ... mereka itu pergi untuk menemui Samana Gotama.
"Pergilah kamu kepada orang-orang awam brahmana Opasa¬da itu dan katakan kepada mereka: 'Saudara-saudara, Brahmana Canki berkata: 'Saudara-saudara, tolonglah tunggu, Brahmana Canki akan pergi menemui Gotama juga.'"
"Ya, Tuan," jawabnya, kemudian ia pergi menemui orang-orang awam brahmana Opasada tersebut dan menyampaikan kepada mereka tentang pesan itu.
7. Pada waktu itu ada lima ratus orang brahmana penda¬tang yang berasal dari berbagai negara yang tinggal di Opasada untuk berbagai urusan. Mereka mendengar: "Brahmana Canki akan pergi menemui Samana Gotama." Kemudian mereka menemui Brahmana Canki dan mereka bertanya kepadanya: "Sauda¬ra, apakah benar bahwa kamu ingin menemui Samana Gotama?"
"Begitulah, saudara-saudara. Saya akan pergi menemui Samana Gotama."
8. "Saudara, jangan pergi menemui Samana Gotama. Tidak pantas bagi anda untuk pergi menemuinya; adalah pantas apabila Samana Gotama yang datang menemuimu. Sebab anda telah dilahirkan dari kedua belah pihak keturunan yang baik, dari tujuh keturunan murni, garis keturunanmu tidak dapat sangkal dan tak tercela. Karena itu, maka tidak pantas bagi anda untuk pergi menemui Samana Gotama. Tetapi lebih layak Samana Gotama yang datang menemuimu.
Saudara, anda adalah kaya raya, dengan memiliki ke¬kayaan sangat besar serta harta benda yang besar pula. Karena itu maka tidak pantas ....
Saudara, anda adalah ahli Tiga Veda dengan indeks, hafal membaca mantra, ahli upacara, fonologi, keterangan dan cerita; pandai dalam ungkapan dan tata bahasa, ahli ilmu alamiah (lokayata dan pengetahuan tentang tanda-tanda tubuh manusia besar (Maha purisa lakkhana). Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara, anda adalah tampan, menyenangkan dilihat, berpenampilan meyakinkan, memiliki kecakapan yang mengagum¬kan, berpenampilan dan seperti brahma serta mempesona. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara, anda bermoral (sila), sangat bermoral dan memiliki moral tinggi. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara, anda pintar berceramah, ahli berkhotbah, memiliki kemampuan berpidato yang hebat kepada masyarakat tanpa salah dan menerangkan arti dengan jelas. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara, anda mengajar guru-guru dari banyak orang, anda mempunyai tiga ratus siswa yang dapat mengucapkan mantra. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara, anda dihormati, dipuji, dipuja, dimuliakan dan dijunjung tinggi oleh brahmana Pokkharasati. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara, anda hidup sebagai penguasa Opasada, banyak ternak, rumput, kayu, air, memiliki gandum, sebagai wakil dengan kekuasaan kerajaan serta hak penuh yang dilimpahkan oleh Raja Pasenadi Kosala. Karena itu, maka tidak pantas bagi anda untuk pergi menemui Samana Gotama. Tetapi lebih layak apabila Samana Gotama yang datang menemuimu.
9. Ketika hal itu telah diucapkan, Brahmana Canki menga¬takan kepada mereka: "Saudara-saudara, sekarang dengarlah mengapa adalah pantas bagiku untuk pergi menemui Samana Gotama dan mengapa tidak pantas Samana Gotama yang datang menemuiku. Samana Gotama itu telah dilahirkan dengan sempur¬na pada kedua belah pihak, dari keturunan terhormat sejak tujuh keturunan yang lampau, silsilahnya tidak dapat diban¬tah dan dicela. Karena itu, maka tidak pantas bagi Samana Gotama untuk datang dan menemuiku. Tetapi lebih layak apabi¬la saya yang pergi menemui Samana Gotama. Saudara-saudara, Samana Gotama itu pergi meninggalkan banyak sekali emas serta harta benda emas yang disimpan di dalam gudang di bawah tanah serta di atas loteng. Karena itu, maka tidak pantas bagi Samana Gotama untuk datang ....
Saudara-saudara, Samana Gotama meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi tak berumah-tangga ketika masih muda, seorang anak lelaki berambut hitam diliputi keremajaan, dalam masa kehidupan yang pertama. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Samana Gotama meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi tak berumah-tangga walaupun ibu serta ayahnya menghendaki hal yang berlawanan dan merasakan sangat duka dengan air mata berlinang di wajah mereka, ia mencukur rambut serta jenggotnya dan mengenakan jubah kuning. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Samana Gotama adalah tampan, menye-nangkan dilihat, berpenampilan meyakinkan, memiliki kecaka-pan yang mengagumkan, berpenampilan dan seperti brahma serta mempesona. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Samana Gotama adalah tampan, menye-nangkan dilihat, berpenampilan meyakinkan, memiliki kecaka-pan yang mengagumkan, berpenampilan dan seperti brahma serta mempesona. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Samana Gotama bermoral, dengan ariya sila, sila yang baik, dan memiliki sila yang sangat baik. Karena itu, maka tidak pantas....
Saudara-saudara, Samana Gotama pintar berceramah, ahli berkhotbah, memiliki kemampuan berpidato yang hebat kepada masyarakat tanpa salah dan menerangkan arti dengan jelas. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Samana Gotama mengajar guru-guru dari banyak orang. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Samana Gotama telah memadamkan nafsu terhadap keinginan indera, ia tanpa memiliki rasa kesombon¬gan pribadi. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Samana Gotama berpegang teguh pada teori bahwa ada hukum kamma, hukum kamma itu benar, ia tidak menghargai apa yang buruk. Karena itu, maka tidak pantas....
Saudara-saudara, Samana Gotama meninggalkan keluarga besar, dari suatu keluarga kesatria. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Samana Gotama meninggalkan diri dari keluarga kaya raya yang memiliki kekayaannya dan harta benda yang luar biasa besarnya. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, orang-orang datang dari luar kera¬jaan, datang dari luar negara untuk bertanya kepada Samana Gotama. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, ribuan dewa telah berlindung untuk seumur hidup kepada Samana Gotama. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, berita baik dari Samana Gotama telah tersebar luas: 'Sang Bhagava adalah Arahat Samma Sambuddha, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduk-Nya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang mulia.'Karena itu, maka tidak pantas ...
Saudara-saudara, Samana Gotama memiliki tiga puluh dua tanda manusia agung (maha purisa lakkhana). Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Raja Seniya Bimbisara bersama permai¬suri dan anak-anaknya telah berlindung untuk seumur hidup kepada Samana Gotama. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Raja Pasenadi Kosala bersama permai¬suri dan anak-anaknya telah berlindung untuk seumur hidup kepada Samana Gotama. Karena itu, maka tidak pantas ....
Saudara-saudara, Samana Gotama telah tiba di Opasada dan Beliau sedang berada di Devavana, Salavana, di sebelah utara Opasada. Sekarang setiap petapa atau brahmana yang datang ke kota kita adalah tamu kita, tamu-tamu itu haruslah dihormati, dijunjung tinggi, dilayani serta dihargai oleh kita. Karena itu, maka tidak pantas bagi Samana Gotama untuk datang menemuiku. Tetapi pantas bagi diriku untuk pergi menemui Samana Gotama.
Saudara-saudara, saya tahu bahwa banyak pujian bagi Samana Gotama, tetapi, pujian-pujian bagi guru Gotama itu adalah bukan sebanyak puji-pujian itu saja -- karena pujian bagi Samana Gotama adalah tak terukur. Samana Gotama memi¬liki setiap faktor ini. Karena itu, maka tidak pantas bagi Samana Gotama untuk datang menemui. Tetapi pantas bagi diriku untuk pergi menemui Samana Gotama. Saudara-saudara, marilah semua pergi menemui Samana Gotama."
10. Kemudian Brahmana Canki bersama-sama dengan sejumlah besar brahmana pergi menemui Sang Bhagava dan memberikan hormat kepada Beliau. Setelah saling menyapa, ia duduk pada tempat yang tesedia.
11. Pada saat itu, Sang Bhagava sedang duduk menyelesai¬kan pembicaraan ramah tamah dengan beberapa brahmana senior. Di sana ada seorang siswa brahmana muda bernama Kapathika yang telah mencukur rambutnya dan berusia enam belas tahun. Ia hafal membaca mantra, menguasai Tiga Veda dengan indeks, upacara, fonologi, keterangan dan ceritanya, pandai dalam ungkapan dan tata bahasa, ahli ilmu lokayata (ilmu alamiah) dan pengetahuan tentang tanda-tanda manusia besar (maha purisa lakkhana). Ia sedang duduk di tengah-tengah kumpulan orang. Sementara para brahmana yang sangat senior sedang bercakap-cakap dengan Sang Bhagava, berkali-kali ia memotong percakapan itu. Maka Sang Bhagava menegur dengan berkata kepada siswa brahmana Kapathika: "Harap saudara tidak sering memotong pembicaraan para brahmana yang sangat senior ketika mereka sedang bercakap-cakap. Harap Bharadvaja yang terhor¬mat menunggu hingga percakapan selesai."
Setelah teguran ini selesai diucapkan, Brahmana Canki berkata kepada Sang Bhagava: "Harap Samana Gotama tidak mengomeli siswa brahmana Kapathika. Ia adalah keluargaku, sangat terpelajar, kelahiran yang baik, bijaksana; ia mampu ikut dalam diskusi dengan Samana Gotama."
12. Kemudian Sang Bhagava berpikir: "Tentu saja siswa brahmana Kapathika akan menyelesaikan komentar dari Tiga Veda, maka itulah sebabnya mengapa para brahmana menghormati dia begitu."
Sedangkan siswa brahmana Kapathika berpikir: "Apabila mata Samana Gotama bertemu dengan mataku, aku akan menanya¬kan sebuah pertanyaan."
Karena mengetahui dengan pikiran Beliau tentang apa yang dipikirkan oleh siswa brahmana Kapathika, maka Sang Bhagava mengalihkan mata Beliau ke arah mata siswa tersebut. Siswa brahmana Kapathika berpikir: "Samana Gotama telah memandang kepadaku. Seandai aku mengajukan sebuah perta¬nyaan?" Maka ia berkata kepada Sang Bhagava: "Samana Gotama, ada mantra kuno para brahmana dalam legenda dan telah ditu¬runkan dalam kitab suci berdasarkan hal itu para brahmana tanpa ragu menyimpulkan: 'Hanya ini yang benar, yang lain salah.' Apa tanggapan Samana Gotama mengenai hal itu?"
13. "Bagaimana, Baradvaja, apakah para brahmana hanya memiliki seorang yang berkata: 'Saya tahu ini, saya lihat: Hanya ini yang benar, yang lain salah.'"
"Baradvaja, bagaimana, apakah para brahmana mempunyai seorang guru atau guru dari para guru sejak tujuh generasi yang lampau, yang berkata: "Saya tahu ini, saya lihat ini: Hanya ini yang benar; yang lain salah?'"
"Tidak, Samana Gotama."
"Bharadvaja, lalu bagaimana, apakah para petapa brah¬mana yang lampau, para pembuat mantra, para penyebut mantra, mantra-mantra kuno mereka yang diucapkan, diceritakan dan menyusun, yang sekarang dibaca dan diucapkan oleh ucapan-ucapan yang tetap mereka ucapkan dan hafalkan--yaitu Attha¬ka, Vamaka, Vamadeva, Vessamitta, Yamataggi, Anggirara, Bharadvaja, Vasettha, Kassapa dan Bhagu -- apakah mereka mengatakan: 'Kami mengetahui ini, kami melihat ini: Hanya ini yang benar, yang lain salah.'"
"Tidak, Samana Gotama."
"Baradvaja, nampaknya di antara para brahmana tidak ada seorang brahmana yang berkata: 'Saya mengetahui ini, saya melihat ini: Hanya ini yang benar, yang lain salah'. Para brahmana tidak memiliki guru atau guru dari para guru sejak tujuh generasi yang lampau yang berkata: 'Saya menge¬tahui ini, saya melihat ini: Hanya ini yang benar, yang lain salah.' Para petapa brahmana yang lampau, para pembuat mantra, para penyebut mantra, mantra-mantra kuno mereka yang diucapkan, diceritakan dan menyusun, yang sekarang dibaca dan diucapkan oleh, ucapan-ucapan yang tetap mereka ucapkan dan hafalkan -- yaitu Atthaka, Vamaka, Vamadeva, Vessamitta, Yamataggi, Angirara, Bharadvaja, Vasettha, Kassapa dan Bhagu -- mereka ini pun tidak mengatakan: 'Kami mengetahui ini, kami melihat ini: hanya ini yang benar, yang lain salah.'" Andaikata ada sekelompok orang buta, yang saling menyentuh satu dengan yang lain; yang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat dan yang terakhir tidak melihat pula. Demikian pula dengan pernyataan para brahmana: yang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat dan yang terak¬hir juga tidak melihat. Bharadvaja, bagaimana pendapatmu, karena hal itu begitu, bukankah itu tampak bahwa keyakinan para brahmana tak mempunyai dasar?"
14. "Samana Gotama, para brahmana menghormati ini bukan karena keyakinan saja, tetapi mereka menghormatinya sebagai tradisi (lisan) juga."
"Baradvaja, tadi kamu berpegang teguh kepada keyaki¬nan. Sekarang kamu mengatakannya sebagai tradisi (lisan). Ada lima hal yang mempunyai dua macam akibat pada kehidupan sekarang. Apakah ke lima hal itu? Lima hal itu adalah: Keyakinan (saddha), kesukaan (ruci), tradisi (lisan), berde¬bat tentang bukti (akaraparivitakka) dan senang merenungkan pandangan-pandangan (ditthinijjhanakhanti). Lima hal ini mempunyai dua macam akibat pada kehidupan sekarang.
Ada beberapa (kepercayaan) mungkin mempunyai hal-hal yang dapat diyakini di dalamnya, namun itu mungkin berongga, kosong dan palsu; juga ada beberapa (kepercayaan) mungkin tidak mempunyai hal-hal yang dapat diyakini di dalamnya, namun mungkin itu fakta, benar dan tidak lain dari apa nampaknya. Ada beberapa (kepercayaan) yang disukai, namun itu mungkin berongga, kosong dan palsu; juga ada beberapa (kepercayaan) yang tidak disukai, namun mungkin itu fakta, benar dan tidak lain dari apa nampaknya. Ada beberapa (kepercayaan) tradisi (oral), namun mungkin itu berongga, kosong dan palsu; juga ada beberapa (kepercayaan) bukan tradisi (oral), namun mungkin itu fakta, benar dan tidak lain dari apa nampaknya. Ada beberapa (kepercayaan) yang dapat diperdebatkan dengan baik, namun mungkin itu berongga, kosong dan palsu; juga ada beberapa (kepercayaan) tidak dapat diperdebatkan dengan baik, namun mungkin itu fakta, benar dan tidak lain dari apa nampaknya. Ada beberapa (kepercayaan) yang direnungkan dengan baik, namun mungkin itu berongga, kosong dan palsu; juga ada beberapa (keper¬cayaan) yang tidak dapat direnungkan dengan baik, namun mungkin itu fakta, benar dan tidak lain dari apa nampaknya. Dalam keadaan seperti ini adalah tidak pantas bagi seorang bijaksana yang menjaga kebenaran menarik kesimpulan tanpa hati-hati: 'Hanya ini yang benar, yang lain salah.'"
15. "Samana Gotama, tetapi cara bagaimana seseorang itu menjaga kebenaran ? Bagaimanakah caranya untuk menjaga kebenaran? Kami menanyakan hal menjaga kebenaran kepada Guru Gotama."
"Bharadvaja, apabila seseorang mempunyai kepercayaan, (dalam keadaan seperti ini) ia menjaga kebenaran apabila ia berkata: 'Keyakinanku adalah demikian', tetapi berdasarkan keadaan ini ia juga masih belum dapat menarik kesimpulan tanpa hati-hati: 'Hanya ini yang benar, yang lain salah. 'Ia menjaga kebenaran dalam cara demikian juga; inilah cara menjaga kebenaran; kita menerangkan cara menjaga kebenaran dalam cara ini, namun begitu di situ masih belum juga dike¬temukan tentang adanya kebenaran itu.
Apabila seseorang mempunyai suatu kesukaan, maka (dalam keadaan seperti ini) ia menjaga kebenaran apabila ia berkata: Kesukaanku adalah demikian'; tetapi berdasarkan keadaan ini, ia juga masih belum dapat menarik kesimpulan tanpa hati-hati: 'Hanya ini yang benar, yang lain salah'. Ia menjaga kebenaran dalam cara demikian juga; inilah cara menjaga kebenaran; kita menerangkan cara menjaga kebenaran dalam cara ini, namun begitu di situ masih belum juga dike¬temukan tentang adanya kebenaran itu.
Apabila seseorang mempunyai tradisi (oral), maka (dalam keadaan seperti ini) ia menjaga kebenaran apabila ia berkata: 'Tradisi (oral)-ku adalah demikian'; tetapi berda¬sarkan keadaan ini, ia juga masih belum dapat menarik kesim¬pulan tanpa hati-hati: 'Hanya ini yang benar, yang lain salah'. Ia menjaga kebenaran dalam cara demikian juga; inilah cara menjaga kebenaran; kita menerangkan cara menjaga kebenaran dalam cara ini, namun begitu di situ masih belum juga diketemukan tentang adanya kebenaran itu.
Apabila seseorang memperdebatkan tentang bukti, maka (dalam keadaan seperti ini) ia menjaga kebenaran apabila ia berkata: 'Buktiku adalah demikian'; tetapi berdasarkan keadaan ini, ia juga masih belum dapat menarik kesimpulan tanpa hati-hati: 'Hanya ini yang benar, yang lain salah'. Ia menjaga kebenaran dalam cara demikian juga; inilah cara menjaga kebenaran; kita menerangkan cara menjaga kebenaran dalam cara ini, namun begitu di situ masih belum juga dike¬temukan tentang adanya kebenaran itu.
Apabila seseorang senang merenung suatu pandangan, maka (dalam keadaan seperti ini) ia menjaga kebenaran apabi¬la ia berkata: 'Kesukaanku merenungkan suatu pandangan adalah demikian'; tetapi berdasarkan keadaan ini, ia juga masih belum dapat menarik kesimpulan tanpa hati-hati: 'Hanya ini yang benar, yang lain salah'. Ia menjaga kebenaran dalam cara demikian juga; inilah cara menjaga kebenaran; kita menerangkan cara menjaga kebenaran dalam cara ini, namun begitu di situ masih belum juga diketemukan tentang adanya kebenaran itu."
16. "Samana Gotama, dengan cara itu orang menjaga kebena¬ran, dengan cara itu ada penjagaan kebenaran; kita melihat bahwa ia menjaga kebenaran dengan cara itu. Tetapi dengan cara bagaimana ada penemuan kebenaran? Dengan cara bagaimana kebenaran itu diketemukan? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang penemuan kebenaran."
17. "Bharadvaja, dalam hal ini, seorang bhikkhu tinggal dekat beberapa desa atau kota. Kemudian seorang perumah tangga atau anak dari perumah tangga itu datang untuk berta¬nya kepadanya tentang tiga buah dhamma yaitu: dhamma-dhamma yang dipengaruhi oleh keserakahan, dhamma-dhamma yang dipen-garuhi oleh kebencian dan dhamma-dhamma yang dipengaruhi oleh kebodohan: "Apakah dalam diri bhante ada dhamma-dhamma yang dipengaruhi oleh keserakahan yaitu pikirannya dikuasai oleh dhamma-dhamma itu, maka ia mungkin, tanpa mengetahui, berkata 'saya tahu'; tanpa melihat, berkata 'saya lihat', atau mempengaruhi orang lain untuk berbuat hal yang sama, namun akan dapat mengakibatkan bahaya dan penderitaan yang lama.'
Sementara ia bertanya, ia menyadari bahwa bhikkhu itu tidak dipengaruhi oleh dhamma-dhamma seperti itu. (Ia menya-dari bahwa:) 'Prilaku jasmani dan prilaku ucapan dari bhikk¬hu itu adalah tidak dipengarhui oleh keserakahan. Namun dhamma yang diajarkan oleh bhikkhu ini adalah dalam, sulit dilihat dan sulit ditemukan; dhamma itu amat agung dan amat tinggi, tidak dapat dicapai oleh ratio saja, lembut dan hanya dialami oleh para bijaksana. Dhamma ini tidak dapat diajarkan oleh orang yang dikuasai oleh keserakahan."
18. Ketika ia bertanya kepada bhikkhu itu, segera ia menyadari bahwa bhikkhu itu bebas dari dhamma-dhamma yang dipengaruhi keserakahan, selanjutnya ia bertanya kepadanya tentang dhamma-dhamma yang dipengaruhi oleh kebencian: "Apakah dalam diri bhante ada dhamma-dhamma yang dipengaruhi oleh kebencian yaitu pikirannya dikuasai oleh dhamma-dhamma itu, maka ia mungkin, tanpa mengetahui, berkata 'saya tahu'; tanpa melihat, berkata 'saya lihat', atau mempengaruhi orang lain untuk berbuat hal yang sama, namun akan dapat mengaki¬batkan bahaya dan penderitaan yang lama.' Sementara ia bertanya, ia menyadari bahwa bhikkhu itu tidak dipengaruhi oleh dhamma-dhamma seperti itu. (Ia menyadari bahwa:) 'Prilaku jasmani dan prilaku ucapan dari bhikkhu itu adalah tidak dipengaruhi oleh kebencian. Namun dhamma yang diajar¬kan oleh bhikkhu ini adalah dalam, sulit dilihat dan sulit ditemukan; dhamma itu amat agung dan amat tinggi, tidak dapat dicapai oleh ratio saja, lembut dan hanya dialami oleh para bijaksana. Dhamma ini tidak dapat diajarkan oleh orang yang dikuasai oleh kebencian."
19. Ketika ia bertanya kepada bhikkhu itu, segera ia menyadari bahwa bhikkhu itu bebas dari dhamma-dhamma yang dipengaruhi kebencian, selanjutnya ia bertanya kepadanya tentang dhamma-dhamma yang dipengaruhi oleh kebodohan: "Apakah dalam diri bhante ada dhamma-dhamma yang dipengaruhi oleh kebodohan yaitu pikirannya dikuasai oleh dhamma-dhamma itu, maka ia mungkin, tanpa mengetahui, berkata 'saya tahu'; tanpa melihat, berkata 'saya lihat', atau mempengaruhi orang lain untuk berbuat hal yang sama, namun akan dapat mengaki¬batkan bahaya dan penderitaan yang lama.' Sementara ia bertanya, ia menyadari bahwa bhikkhu-bhikkhu itu tidak dipengaruhi oleh dhamma-dhamma seperti itu. (Ia menyadari bahwa:) 'Prilaku jasmani dan prilaku ucapan dari bhikkhu itu adalah tidak dipengaruhi oleh kebodohan. Namun dhamma yang diajarkan oleh bhikkhu ini adalah dalam, sulit dilihat dan sulit ditemukan; dhamma itu amat agung dan amat tinggi, tidak dapat dicapai oleh ratio saja, lembut dan hanya diala¬mi oleh para bijaksana. Dhamma ini tidak dapat diajarkan oleh orang yang dikuasai oleh kebodohan."
20. Ketika ia bertanya kepada bhikkhu itu, segera ia menyadarai bahwa bhikkhu itu bebas dari dhamma-dhamma yang dipengaruhi kebodohan, maka ia menanamkan keyakinannya kepada bhikkhu itu: bila ia mengunjunginya ia menghormat bhikkhu itu dan ia siap mendengar; ia yang siap mendengar, mendengar dhamma dengan penuh perhatian. Setelah mendengar dhamma, ia menghafalnya; ia meneliti arti dari dhamma-dhamma yang dihafalnya. Ketika ia meneliti arti dari dhamma-dhamma yang dihafalnya, ia senang merenungkan dhamma-dhamma itu. Ketika ia senang merenungkan dhamma-dhamma, maka usaha muncul seseorang yang usahanya muncul dan aktif; karena menjadi aktif maka ia mengevaluasi (usahanya sendiri). Ketika ia mengevaluasi (usahanya sendiri), ia mengawasi dirinya sendiri. Ketika ia mengawasi dirinya sendiri, dengan tubuhnya ia merealisasi kebenaran tertinggi (paramasacca), ia melihatnya dan menembusnya dengan kebijaksanaan.
Inilah cara menemukan kebenaran; inilah cara kebenaran ditemukan. Kami menerangkan penemuan kebenaran dengan cara ini. Tetapi pencapaian akhir dari kebenaran belum tercapai dengan cara itu."
21. "Samana Gotama, dengan cara itu kebenaran ditemukan, inilah cara menemukan kebenaran. Kami melihat penemuan kebenaran dengan cara itu. Tetapi dengan cara apa pencapaian akhir dari kebenaran dicapai? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang pencapaian akhir dari kebenaran?"
"Bharadvaja, pencapaian akhir dari kebenaran adalah sering melakukan (bahulikamma), mengembangkan dan mengusaha¬kan dhamma-dhamma yang sama. Dengan cara ini pencapaian akhir dari kebenaran dicapai. Dengan cara ini kebenaran akhirnya dicapai. Kami menerangkan pencapaian akhir dari kebenaran dengan cara ini."
22. "Samana Gotama, dengan cara itu pencapaian akhir dari kebenaran dicapai, dengan cara itu akhirnya kebenaran dica¬pai. Kami melihat pencapaian akhir dari kebenaran dengan cara itu. Tetapi dhamma apakah yang sangat membantu untuk pencapaian akhir dari kebenaran? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk pencapaian akhir dari kebenaran?'
"Baradvaja, pengawasan adalah sangat membantu untuk pencapaian akhir dari kebenaran. Bilamana seseorang tidak melakukan pengawasan maka ia mencapai akhir dari kebenaran. Itulah cara mengapa pengawasan adalah sangat membantu untuk pencapaian akhir dari kebenaran."
23. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat membantu untuk pengawasan? kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk pengawasan."
"Bharadvaja, pengawasan, pengawasan adalah sangat membantu untuk pencapaian akhir dari kebenaran. Bilamana seseorang tidak melakukan pengawasan, ia tidak akan mencapai akhir dari kebenaran. Karena ia melakukan pengawasan maka ia mencapai akhir dari kebenaran. Itulah cara mengapa pengawa¬san adalah sangat membantu untuk pencapaian akhir dari kebe-naran."
24. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat membantu untuk evaluasi? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk evaluasi."
"Bharadvaja, terlibat aktif adalah sangat membantu untuk pengawasan. Bilamana seseorang tidak terlibat aktif, ia tidak akan mengevaluasi (usahanya sendiri). Karena ia terlibat aktif maka ia mengevaluasi (usahanya sendiri). Itulah cara mengapa terlibat aktif adalah sangat membantu untuk evaluasi."
25. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat membantu untuk terlibat aktif? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk terlibat aktif."
"Bharadvaja, semangat adalah sangat membantu untuk terlibat aktif. Bilamana seseorang tidak membangkitkan semangat, ia tidak akan terlibat aktif. Karena ia membang¬kitkan semangat maka ia terlibat aktif. Karena ia membang¬kitkan semangat maka ia terlibat aktif. Itulah cara mengapa semangat adalah sangat membantu untuk terlibat aktif."
26. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat membantu untuk semangat ? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk semangat."
"Bharadvaja, senang merenung dhamma adalah sangat membantu untuk semangat. Bilamana seseorang tidak senang merenung dhamma, ia tidak akan membangkitkan semangat. Karena ia senang merenungkan dhamma maka ia membangkitkan semangat. Itulah cara mengapa senang merenungkan dhamma adalah sangat membantu untuk membangkitkan semangat."
27. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat membantu untuk senang merenungkan dhamma? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk senang merenungkan dhamma."
Bharadvaja, penyelidikan adalah sangat membantu untuk senang merenung dhamma. Bilamana seseorang tidak menyelidiki arti, ia tidak akan senang merenung dhamma. Karena ia melak¬ukan penyelidikan arti maka ia senang merenungkan dhamma. Itulah cara mengapa penyelidikan arti adalah sangat membantu untuk senang merenungkan dhamma."
28. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat membantu untuk menyelidiki arti ? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk menyelidiki arti."
"Bharadvaja, menghapal dhamma adalah sangat membantu untuk menyelidiki arti. Bilamana seseorang tidak menghafal dhamma, ia tidak akan menyelidiki arti. Karena ia menghafal dhamma maka ia menyelidiki arti. Itulah cara mengapa mengha-fal dhamma adalah sangat membantu untuk menyelidiki arti."
29. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat menbantu untuk menghafal dhamma? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk menghafal dhamma."
"Bharadvaja, mendengar dhamma adalah sangat membantu untuk menghafal dhamma. Bilamana seseorang tidak mendengar dhamma, ia tidak akan menghafal dhamma. Karena ia mendengar dhamma maka ia menghafal dhamma. Itulah cara mengapa menden¬gar dhamma adalah sangat membantu untuk menghafal dhamma."
30. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat membantu untuk mendengar dhamma? Kami bertannya kepada Samana Gotama ten¬tang dhamma yang sangat membantu untuk mendengar dhamma."
"Bharadvaja, memperhatikan (apa yang didengar) adalah sangat membantu untuk mendengar dhamma. Bilamana seseorang tidak memperhatikan (apa yang didengar), ia tidak akan mendengar dhamma. Karena ia memperhatikan (apa yang didengar maka ia mendengar dhamma. Itulah cara mengapa memperhatikan (apa yang didengar) adalah sangat membantu untuk mendengar dhamma."
31. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat membantu untuk memperhatikan (apa yang didengar)? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk memperhatikan (apa yang didengar)."
"Bharadvaja, rasa hormat (payirupasanaya) adalah sangat membantu untuk memperhatikan (apa yang didengar). Bilamana seseorang tidak memiliki rasa hormat, ia tidak akan memperhatikan (apa yang didengar). Karena ia memiliki rasa hormat maka ia memperhatikan (apa yang didengar). Itulah cara mengapa rasa hormat adalah sangat membantu untuk memp-erhatikan (apa yang didengar)."
32. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat membantu untuk rasa hormat ? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk rasa hormat."
"Bharadvaja, mengunjungi adalah sangat membantu untuk rasa hormat. Bilamana seseorang tidak mengunjungi (guru), ia tidak akan menghormatinya. Karena ia mengunjungi (guru) maka ia menghormat. Itulah cara mengapa mengunjungi (guru) adalah sangat membantu untuk menghormat."
33. "Tetapi, apakah dhamma yang sangat membantu untuk mengunjungi? Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang dhamma yang sangat membantu untuk mengunjungi."
"Bharadvaja, keyakinan adalah sangat membantu untuk mengunjungi. Bilamana seseorang tidak membangkitkan keyaki-nan maka ia mengunjungi. Karena ia mengembangkan keyakinan maka ia mengunjungi. Itulah cara mengapa keyakinan adalah sangat membantu untuk mengunjungi."
34. "Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang pelindung kebenaran. Samana Gotama menjawab tentang pelindung kebena¬ran dan hal itu adalah berdasarkan pada kesenangan serta kesukaan kami maka kami puas. Kami bertanya kepada Samana Gotama tentang penemuan kebenaran ... tentang pencapaian akhir pada kebenaran ... tentang dhamma yang paling banyak membantu untuk pencapaian akhir pada kebenaran .... Samana Gotama menjawab tentang dhamma yang sangat membantu untuk pencapaian akhir pada kebenaran dan hal itu adalah berdasar¬kan pada kesenangan serta kesukaran kami maka kami puas. Apapun yang kita tanyakan kepada Samana Gotama, semuanya dijawab Beliau sesuai dengan kesenangan serta kesukaan kami maka kami puas. Dahulu pendapat kita adalah seperti beri¬kut: 'Siapakah petapa-petapa berkepala gundul ini, keturunan hitam kasar dari kaki brahma, mereka itu bisa mengetahui dhamma?' Tetapi ternyata Samana Gotama telah memberikan inspirasi cinta dan rasa hormat bagi para bhikkhu di dalam diriku.
35. "Menakjubkan, Samana Gotama, menakjubkan! ... (seper¬ti dalam Bhayabheravasutta 36) ... sehingga bentuk (wujud) dapat dilihat.
36. "Saya berlindung kepada Samana Gotama, Dhamma dan Sangha. Mulai hari ini harap Samana Gotama menerima saya sebagai upasaka yang berlindung kepada Beliau."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar