SAMAGAMA SUTTA
104
Demikian yang saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Tathagata sedang tinggal di antara kaum Sakya Samagama. Pada waktu itu Nataputta seorang Jain (pengikut Jainisme) baru saja meninggal di Pava, atas kematiannya itu kaum Jain pecah atau menjadi terpecah belah; terpecah menjadi dua, saling berusaha dengan keras, bertengkar, saling mempersalahkan, mereka hidup saling melukai satu sama lain dengan senjata lidah, mengatakan: “Kamu tidak mengerti Dhamma dan disiplin. Bagaimana kamu bisa mengerti Dhamma dan disiplin ini? Kamu adalah seorang yang berkelana dengan salah, aku adalah seorang yang berkelana betul. Terdapatlah perasaan tentang apa yang aku katakan, tiada perasaan dalam apa yang kamu katakan; kamu mengatakan sesuatu pada akhir tentang apa yang harus dikatakan pada awal [244] dan mengatakan pada awal tentang apa-apa yang seharusnya dikatakan pada akhir. Apa yang kamu tekuni begitu lama adalah terbalik: kata-katamu disangkal; kamu hanya menampang saja. Pergilah, pikirkanlah tentang argumentasi ini, atau pecahkanlah ia apabila kamu bisa. Kiranya kematian itu sangat membengkalaikan kaum Jain yang menjadi siswa-siswa Nataputta itu. Sekalipun para perumah tangga yang berpakaian putih yang menjadi pengikut dari Nataputta kaum Jain itu dibenci, tidak disenangi, disingkirkan oleh para Jain yang menjadi murid-murid dari Nataputta dalam hal Dhamma dan disiplin sangat buruk dibentangkan atau diajarkan, dengan jelek sekali dibabarkan, tidak mendatangkan kemajuan, tidak membawa kedamaian, dibabarkan oleh seorang yang sama sekali tidak sadar sendiri, dasar-dasarnya hancur, tanpa adanya juru banding.
Kemudian Cunda sipemula, setelah melakukan vassa pada musim penghujan di Pava, datang mendekati Yang Ariya Ananda di Samagama; setelah mendekat dan memberi hormat kepada Yang Ariya Ananda, maka duduklah ia pada suatu sisi. Ketika ia sudah duduk pada suatu sisi, Cunda si pemula bicara demikian kepada Yang Ariya Ananda: "Tuan yang mulia, Nataputta kaum Jain baru-baru ini telah meninggal di Pava. Atas kematiannya itu, kaum Jain terpecah, terpecah menjadi dua ... (seperti di atas), dasar-dasarnya hancur, tanpa adanya seorang juru banding." Ketika hal ini telah diucapkan, yang mulia Ananda bicara demikian kepada Cunda si nevis itu: "Sudah pasti hal ini, yang mulia Cunda, adalah suatu makalah yang harus menghadap kepada Sang Bhagava. Marilah, yang mulia Cunda, kita akan mendatangi Sang Bhagava; sesudah mendatangi kita akan mencer¬itakan hal ini kepada Sang Bhagava."
"Yang Mulia," jawab Cunda si nevis kepada yang Ariya Ananda menyetujui¬nya. Kemudian yang mulia Ananda dan Cunda si pemula itu mendatangi Sang Bud¬dha; setelah mendekat dan memberi hormat kepada Sang Buddha, mereka duduk pada satu sisi. Ketika ia sudah duduk pada satu sisi [245] yang Mulia Ananda bicara demikian kepada Sang Buddha: "Si pemula Cunda ini, Bhante, bicara demikian: “Tuan yang mulia, Nataputta si Jain telah meninggal baru-baru ini di Pava ... dasar-dasarnya hancur, tanpa adanya juru banding, “Terjadilah padaku, Yang Mulia, bahwa kita harus mengambil perhatian apabila tidak sesudah meninggalnya Sang Baghava, perselisihan akan timbul di dalam persekutuan perselisihan bagi kesengsaraan dari orang banyak, bagi kesedihan orang banyak, bagi nasib jelek orang banyak, bagi kesengsaraan, kesedihan dari para deva dan umat manusia.
"Apa yang kamu pikirkan tentang ini, Ananda? Hal-hal itu yang diajarkan oleh-Ku kepadamu keluar dari pengetahuan luar biasa, yaitu ke empat pengetra¬pan atau aplikasi dari perhatian, keempat usaha benar, empat dasar-dasar kekuatan psygis, kelima buah fakulti pengontrolan, kelima kekuatan-kekuatan, ketujuh hubungan dalam kebangkitan, Delapan Jalan Mulia Ariya - Apakah kamu, Ananda, melihat bahwa dua orang bhikkhu yang melakukan atau melaksanankan tentang hal-hal ini secara berbeda?
"Bhante, hal-hal yang diajarkan kepadaku, oleh Bhante yang keluar dari pengetahuan super, yaitu ke empat pengetrapan dari perhatian ... Delapan Jalan Mulia Ariya aku tidak melihat bahkan sekalipun dua orang bhikkhu melaksanakan¬nya secara berbeda-beda atas hal-hal tersebut. Namun begitu, Bhante, orang-orang itu yang berkelana bergantung pada bhante, sesudah Bhante meninggal, akan membangkit-bangkitkan perselisihan di dalam Sangha berkenaan dengan baik mode dari hidup atau karena kewajiban-kewajiban perselisihan ini adalah bagi kesengsaraan dari banyak orang, bagi kesedihan dari para dewa dan manusia."
"Perselisihan yang berkenaan dengan baik gaya hidup atau kewajiban-kewajiban adalah tidak seberapa, Ananda. Tetapi, Ananda, seandai akan timbul di dalam Sangha suatu perselisihan berkenaan dengan Sang Jalan atau berkenaan dengan pelajaran-Nya, perselisihan ini akan mempengaruhi bagi kesengsaraan banyak orang, bagi kesedihan banyak orang, nasib jelek bagi orang banyak orang, kesedihan bagi para dewa dan manusia.
Keenam ini adalah sumber-sumber dari perselisihan, Ananda. Yang enam mana ? Untuk ini, Ananda, seorang bhikkhu marah dan menyimpan niat jahat. Ananda, bhikkhu apapun yang marah dan menyimpan niat jahat, ia hidup tanpa adanya rasa hormat dan mulia terhadap Sang Buddha, ia hidup tanpa rasa hormat dan mulia terhadap Dhamma, ia hidup tanpa rasa hormat dan mulia terhadap Sangha, dan ia tidak menyelesaikan latihan secara total. Ananda, bhikkhu apapun yang hidup tanpa rasa hormat dan mulia terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha [246] dan tidak tidak mengakhiri latihan dengan baiknya, ia dapat membangkitkan perselisihan dalam Sangha, dan perselisihan itu adalah bagi kesengsaraan dari orang banyak, kedukaan bagi banyak orang, nasib sial bagi penduduk, kesedihan bagi para dewa dan umat manusia. Apabila kamu Ananda, harus merasakan tiada adanya sumber dari perselisihan seperti ini di antara kamu sendiri atau di antara orang-orang lain, kamu Ananda harus untuk ini mengikuti suatu pejalan sehingga di sana tidak akan ada peluapan diwaktu yang akan datang tepatnya terhadap perselisihan yang jahat itu. (Kalimat ini bisa juga sebagai berikut : Ananda, disitulah harus diikuti suatu pelajaran sehing¬ga di sana tidak akan ada saling melebihi di waktu yang akan datang, tepatnya terhadap sumber dari perselisihan jahat tersebut, jadi tidak ada peluatan di waktu yang akan datang tentang sumber perselisihan-perselisihan jahat itu.
Dan sekali lagi, Ananda, seorang bhikkhu itu kasar, tanpa belas kasihan ... ia iri dan suka menggerundel ... ia licik dan penuh kebohongan ... ia mempunyai keinginan-keinginan jahat serta pandangan-pandangan salah ... ia terkena dampak dari keduniawian, keras kepala dan kepala batu, ia hidup tanpa hormat dan respek tinggi terhadap Sang Buddha, ia hidup tanpa hormat dan tanpa memandang tinggi terhadap Dhamma, ia hidup tanpa hormat dan tanpa memandang tinggi terhadap Sangha dan tanpa memandang tinggi terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha dan tidak menyelesaikan latihannya, ia membangkitkan perselisihan di dalam Sangha, dan perselisihan itu adalah bagi kesengsaraan dari orang banyak, kesedihan bagi banyak orang, nasib jelek bagi penduduk, kesedihan bagi Ariya dewa dan manusia. Apabila kamu, Ananda, harus merasakan suatu sumber perselisihan seperti ini ... Jadi adalah pelenyapan dari sumber perselisihan-perselisihan jahat itu, [24] dengan demikian di sana tidak ada pelambauan masuk ke dalam waktu yang akan datang dari sumber perselisihan-perselisihan jahat tersebut. Ini, Ananda, adalah keenam sumber dari perselisihan itu.
Keempat ini, Ananda, adalah pertanyaan-pertanyaan yang legal. Apa keem¬patanya itu? Satu pertanyaan legal yang timbul keluar dari perselisihan-perse¬lisihan, pertanyaan legal yang timbul dari asanya kecaman, pertanyaan legal yang timbul dari pelanggaran-pelanggaran, suatu pertanyaan legal yang timbul karena adanya keharusan-keharusan. Ini semua, Ananda, adalah ke-empat perta-nyaan legal. Tetapi ketujuh buah ini (peraturan-peraturan) yang adalah yang dipakai untuk memutuskan pertanyaan-pertanyaan legal itu adalah untuk memutus¬kan serta penyelesaian dari pertanyaan-pertanyaan legal yang timbul dari waktu ke waktu (sewaktu-waktu) suatu putusan tentang benar atau salah dalam kasus satu perkara dihadapan dan dapatlah diberikan , suatu putusan tentang tidak tidak bersalah dapat diberikan, suatu putusan waktu lampau tentang gilanya (seseorang) dapat diberikan, ia dapat dilaksanakan atas pemberitahuannya, keputusan mayoritas, keputusan bagi keburukan moral khusus, menutup-nutupinya (seperti) dengan rumput.
Dan apa, Ananda, yang dinamakan dengan “putusan dihadapan dari itu? Untuk ini, Ananda, beberapa bhikkhu berselisih dan mengatakan: "Ini adalah Dhamma" atau “Ini adalah bukan Dhamma” atau “ini adalah disiplin” atau “Ini adalah bukan disiplin Ananda,” satu dan semua dari bhikkhu-bhikkhu tersebut harus sidang di dalam Sangha yang seutuhnya; sesudah bersidang apa yang terma¬suk ke dalam Dhamma haruslah dibahas dengan seksama; sesudah membahas dengan seksama apa yang termasuk Dhamma sesuai dengan bagaimana ia dapat selaras di sini, begitulah seharusnya pertanyaan legal itu diselesaikan. Jadi, Ananda, adalah apa yang dinamakan “verdick dihadapan dari itu”; tetapi di sini terda¬patlah penyelesaian dari bentuk legal pertanyaan khusus, yakni oleh verdict dihadapan dari itu.
Dan apakah, Ananda, yang dinamakan “keputusan dari mayoritas itu?” Apabi¬la para bhikkhu, Ananda, tidak bisa menyelesaikan pertanyaan legal itu di dalam tempat tinggal ini, kemudian, Ananda, para bhikkhu itu harus pergi ke tempat tinggal dimana terdapat lebih banyak bhikkhu, dan di sana satu dan semua harus bersidang dalam Sangha seutuhnya; sesudah bersidang, apa yang termasuk ke dalam Dhamma haruslah di bahas dengan seksama ... demikian seha¬rusnya pertanyaan legal itu diselesaikan. Jadi, Ananda, adalah “keputusan dari mayoritas” itu; tetapi disini terdapatlah penyelesaian. Jadi Ananda, adalah “keputusan dari mayoritas” itu; tetapi di sini terdapatlah peneyelesaian tentang bentuk pertanyaan legal yang khusus, yakni dengan keputusan mayoritas itu.
Dan apakah, Ananda, yang dinamakan “verdict of innocence tidak bersalah” itu ? Untuk ini, Ananda, para bhikkhu menegur seorang bhikkhu yang telah melakukan satu pelanggaran berat seperti ini: satu melibatkan kekalahan atau satu mendekati kekalahan, sambil mengatakan: “Apakah yang Ariya mengingat telah terjatuh ke dalam pelanggaran berat seperti ini, baik satu yang melibat¬kan kekalahan atau satu yang mendekati kekalahan?” Apabila ia berkata: “Aku, para muliawan, tidak ingat tetapi terjatuh ke dalam pelanggaran berat seperti ini, baik satu yang melibatkan kekalahan atau satu yang mendekatai kekalahan,” [248] kepada bhikkhu itu, Ananda, suatu putusan tentang tidak bersalah harus¬lah diberikan (kepada bhikkhu itu). Jadi, Ananda, ia adalah yang dinamakan “putusan tentang tidak bersalah”; tetapi di sini terdapatlah penyelesaikan dari bentuk pertanyaan legal khusus itu, yakni dengan adanya putusan tentang tidak bersalah itu.
Dan apakah, Ananda, yang dinamakan “putusan tentang penyakit gila itu? untuk ini, Ananda, beberapa bhikkhu menegur seorang bhikkhu karena melakukan pelanggaran berat seperti ini ... (seperti diatas) ... Apabila ia berkata: “Aku, para muliawan, tidak ingat telah terjatuh ke dalam suatu pelanggaran berat seperti ini, baik satu melibatkan kekalahan atau satu mendekati kekala¬han.” kemudian, dengan penyangkalan ini, ia ditekan (oleh para bhikkhu), mengatakan: “Silahkan, bhante, marilah kamu selidiki selayaknya apakah kamu ingat telah terjatuh ke dalam pelanggaran berat seperti ini, baik satu meli¬batkan kekalahan atau satu mendekati kekalahan.” Apabila ia menjawab: “Aku, para muliawan, telah menjadi gila dan kehilangan keseimbangan mental-ku, seketika aku sedang gila, banyak hal telah dilakukan dan dikatakan olehku bahwa (perbuatan) itu adalah tidak patut dilakukan oleh seorang petapa. Aku tidak ingat akan hal itu. Hal itu dilakukan ketika aku sedang gila,” kepada bhikkhu itu, Ananda, satu putusan tentang keadaan gila diwaktu yang silam haruslah diberikan. Jadi, Ananda, ia adalah “putusan tentang penyakit gila itu, tetapi di sini terdapatlah suatu penyelesaian tentang bentuk pertanyaan legal yang khas, yakni dengan keputusan tentang keadaan gila yang lampau itu.
Dan apakah, Ananda, yang dinamakan “melaksanakan (suatu perbuatan for¬mal) atas pengakuan dari (seorang bhikkhu) itu? Untuk ini, Ananda, seorang bhikkhu apakah ia ditegur atau tidak ditegur mengingat suatu pelanggaran, mengemukakannya, menyatakannya. Bhikkhu itu, Ananda, setelah mendatangi seo¬rang bhikkhu lebih tua, setelah merapikan jubah luarnya menutupi satu bahu, sesudah memberi salam pada kaki bhikkhu tua itu, sudah duduk pada tempat duduk yang disediakan, mengangkat kedua telapak tangan, harus bicara demikian kepa¬danya: “Aku, yang mulia, telah terjatuh ke dalam suatu pelanggaran yang demi¬kian dan demikian yang aku akui. “Ia berbicara demikian: “Apakah kamu melihat¬nya?” “Aku melihatnya”“ Bersediakah kamu mengekang diri diwaktu yang akan datang?” “Aku mau mengekang diri.” Jadi, Ananda, itu adalah” pelaksanaan (dari perbuatan format) ada pengakuan dari seorang bhikkhu”“ tetapi di sini terda¬patlah penyelesaian dari suatu bentuk pertanyaan legal khusus itu, yakni dengan melaksanakan (suatu perbuatan formal) atas pengakuan (dari seorang bhikkhu).
[249] Dan apakah, Ananda, yang dinamakan “suatu keputusan bagi kebejatan moral khusus” itu? Untuk ini, Ananda, banyak bhikkhu menegur karena pelangga¬ran berat seperti ini, baik satu melibatkan kekalahan atau satu mendekati kekalahan, mengatakan: “Apakah bhante mengingat telah terjatuh ke dalam suatu pelanggaran berat seperti ini, baik satu melibatkan atau satu mendekati keka¬lahan, “kemudian, karena menyangkalnya, ia ditekan (oleh banyak bhikkhu) yang mengatakan: “Marilah, bhante, coba selidiki dengan layak apakah kamu mengin¬gat-ingat telah terjatuh ke dalam suatu pelanggaran berat seperti ini, baik satu melibatkan kekalahan atau satu mendekati kekalahan.” Apabila ia mengata¬kan: “Aku, para bhante, tidak ingat telah terjatuh ke dalam suatu pelanggaran berat seperti ini, baik satu melibatkan kekalahan atau satu mendekati kekala¬han; tetapi aku ingat, para bhante, telah terjatuh ke dalam pelanggaran berat yang demikian dan demikian, “kemudian, dengan menyangkal hal ini, ia ditekan (oleh para bhante) yang mengatakan: “Marilah, bhante selidikilah dengan layak apabila kamu ingat telah terjatuh ke dalam suatu pelanggaran berat seperti ini, baik satu melibatkan kekalahan atau atau mendekati kekalahan.” Apabila ia bicara demikian, “Pasti, para bhante, walaupun aku tidak ditanyai, aku akan mengadakan pengakuan telah terjatuh ke dalam pelanggaran kecil ini; kemudian bagaimana aku bisa, sejak aku telah ditanyai, tidak mengadakan pengakuan telah terjatuh ke dalam suatu pelanggaran berat seperti ini, baik satu melibatkan kekalahan atau satu mendekati kekalahan?” Seseorang berkata kepadanya: “Apabi¬la kamu, bhante, apabila tidak ditanya, tidak akan mengadakan pengakuan telah terjatuh ke dalam suatu pelanggaran berat seperti ini, baik satu yang melibat¬kan kekalahan atau satu yang mendekati kekalahan. “Ia kemudian berkata: “Aku ingat, para bhante, telah terjatuh ke dalam suatu pelanggaran berat seperti ini, baik satu yang melibatkan kekalahan atau satu yang mendekatai kekalahan aku berbicara demikian untuk kesenangan, aku bicara sekedar berolok-olok atau sendagurau saja.” Jadi Ananda ini adalah yang dinamakan “putusan untuk keburu¬kan moral” itu; tetapi di sini terdapat penyelesaian dari bentuk pertanyaan tegak hukum itu, yaitu dengan putusan bagi kebejatan moral khusus itu.
[250] Dan apakah, Ananda, yang dinamakan (seperti) dengan rumput itu? Untuk ini, Ananda, sementara para bhikkhu hidup berusaha keras, bertengkar, berselisih, banyak telah dilakukan atau dikerjakan serta dibicarakan itu adalah tidak patuh dari seorang petapa. Ananda, satu dan semua dari bhikkhu-bhikkhu ini harus berkumpul bersama di dalam Sangha seutuhnya: sesudah berkum¬pul bersama, seorang bhikkhu yang berpengalaman dari satu fraksi bhikkhu-bhikkhu, bangkit dari duduknya, setelah tangannya dalam sikap memberi hormat, harus memberi tahukan Sangha, mengatakan: “Tuan-tuan yang mulia, biarlah Sangha mendengarkan daku. Ketika kita sedang berusaha dengan keras, berteng¬kar, berselisih, banyak telah dilakukan serta dibicarakan yang adalah tidak patuh dari seorang petapa. Apabila hal ini kiranya benar bagi Sangha, aku akan mengaku pelanggaran apa dari para bhante, seperti juga pelanggaranku sendiri, keduanya bagi para bhante dan bagiku sendiri, terkecuali apabila ia adalah dosa berat, terkecuali apabila dihubungkan dengan orang awam, (demikian se¬hingga dapat meperoleh) suatu penutupan (seperti) dengan rumput.” sesudah itu, seorang bhikkhu berpengalaman dari fraksi lain dari para bhikkhu, bangkit dari duduknya ... mengatakan: “Para bhante, biarlah Sangha mendengarkan daku ... terkecuali apabila ia dihubungkan dengan orang awam, (sedemikian seperti untuk memperoleh) suatu penutupan (seperti) dengan rumput.” Demikianlah, Ananda, adalah apa yang dinamakan dengan “menutup (seperti) dengan rumput”; tetapi di sini terdapatlah penyelesaian dari tipe pertanyaan legal khusus, yakni dengan menutupinya (seperti) dengan rumput itu.
Ananda, ke enam hal-hal ini haruslah disingkat; membuat kasih sayang, membuat respek, mereka harus melaksanakan penyesuaian, harus menghilangakan perselisihan, harus menjadikan harmoni dan persatuan. Ke enam yang mana? Yang terkandung di sini, Ananda, seorang bhikkhu harus memberikan kepada teman seperjalanan Brahmana perbuatan badani yang baik atau ramah baik di masyarakat umum maupun pribadi. Ini adalah satu hal yang harus diingat, membuat kasih sayang, membuat rasa hormat, yang mengakibatkan adanya persesuaian, kurangnya pertentangan, adanya keadan harmonis dan persatuan. Dan sekali lagi, Ananda, seorang bhikkhu harus memberikan perbuatan baik atau menyenangkan tentang ucapan-ucapannya ... perbuatan baik tentang pikiran ... baik dalam publik maupun pribadi. Ini juga adalah hal yang harus diingat, dibuat untuk kasih sayang, dibuat untuk dihormati ... untuk dijadikan kerukunan dan persatuan. Dan sekali lagi, Ananda, apa saja mereka yang merupakan perolehan yang syah secara hukum, yang diperoleh syah, apabila mereka itu adalah sama tetapi apa yang ditaruh ke dalam mangkok untuk minta-minta seorang bhikkhu haruslah menjadi seorang yang dengan senang hati membagi perolehan-perolehan tersebut, menikmati mereka bersama-sama dengan teman-teman Kelana Brahmana yang suci itu. Ini juga adalah hal yang harus diingat ... Dan sekali lagi, Ananda, apa saja kebiasaan-kebiasaan moral itu adalah tanpa salah, tanpa cacat, tanpa noda, tanpa cela, bebas, dipuji oleh orang bijaksana, tidak bercak, selaras dengan konsentrasi seorang bhikkhu harus diam bersatu di dalam kebiasaan-kebiasaan moral yang baik semacam ini semua dengan teman-teman kelana brahma¬na, baik dalam masyarakat umum maupun secara pribadi. Ini juga adalah satu hal yang harus diingat... Dan sekali lagi, Ananda, apa saja pandangan itu adalah pandangan Ariya, menjurus ke kemajuan, membimbing dirinya yang bertindak sesuai dengan ke Ariyaan itu untuk penghancuran total kesengsaraan seorang bhikkhu harus berdiam bersatu pada di dalam pandangan semacam itu bersama dengan teman-teman kelana-kelana brahmana, baik di masyarakat umum maupun secara pribadi. Ini juga adalah hal yang harus diingat; dibuat kasih sayang, dibuat untuk dihormati, ia melibatkan persesuaian, kurang dari pertentangan, membuat harmonis dan persatuan. Ananda, ini adalah ke enam hal-hal yang harus diingat, dibuat kasih sayang, dihormati, yang mengakibatkan persesuaian, kurang pertentangan, menjadi keharmonisan serta persatuan. Apabila kamu, Ananda, memegang keenam hal-hal ini yang untuk diingat harus dilaksanakannya, apakah kamu, Ananda, melihat sesuatu jalan tentang ucapan, baik yang lembut maupun kasar, yang kamu tidak dapat menahannya?
"Tidak, Bhante."
"Mengapa, Ananda, dengan menjalankan keenam hal-hal ini untuk diingat, dilaksanakan, untuk jangka waktu lama akan menjadi kesejahteraan dan kebaha¬giaan bagimu."
Demikian kata-kata dari Sang Baghava. Menjadi senang, yang Ariya Ananda mensyukuri tentang apa yang diucapkan oleh Sang Baghava itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar