Selasa, 16 Maret 2010

CULASUNNATA SUTTA

CULASUNNATA SUTTA
121

Demikianlah yang saya dengar: Pada suatu saat Sang Bhagava ting gal dekat Savatthi di tempat tinggal para bhikkhu sebelah timur di istana ibu kota Migara. Pada waktu itu Yang Mulia Ananda, keluar dari tempat meditasi, menjelang sore, mendekati Sang Bhagava, berbicara dan meyambut Sang Bhagava, pada suatu jarak penghormatan. Pada saat yang sama dia duduk dalam jarak penghor¬matan, bhante Ananda berkata demikian kepada Sang Bhagava : " Pada satu saat, yang terhormat, Sang Bhagava tinggal diantara suku Sakyans. Nama kota pasar dari Sakyans adalah Nagaraka. Dan ketika saya berada di sana, yang terhormat, bertemu muka dengan Sang Bhagava Saya belajar dan mendengar : Saya, Ananda, melalui kekekalan (konsep dari) kekosongan, apakah sekarang tentang kekekalan dalam kesempurnaan itu. Saya harap saya dapat menden¬garnya dengan tepat, yang terhormat, belajar mengenai itu dengan tepat, memperhatikan dengan tepat dan mengerti dengan tepat. Ananda, tentu saja kamu mendengar ini secara tepat, belajar ini dengan tepat, memperhatikan ini dengan tepat, dan mengerti ini dengan tepat. Ananda, dulu saya sama seperti sekarang, melalui kekekalan dalam (konsep dari) kekosongan, kekal dalam kesempur¬naan. Seperti kerajaan ibu Nigara yang kosong dari gajah-gajah, sapi-sapi, kuda-kuda, dan keledai-keledai betina, kosong dari emas dan perak, kosong dari perkumpulan laki-laki dan perempuan, dan jika hanya ini, itu bukanlah kekosongan, kesunyataan yang dimaksudkan berdasarkan perintah dari para bhikkhu, Ananda, walaupun begitu, seorang bhikkhu, tidak memperhatikan, persepsi desa, tidak memperhatikan persepsi manusia, memperhatikan kesu¬nyataan berdasarkan persepsi hutan. Pikirannya dipusi dengan, senang dengan, bangkit dan dibebaskan dari persepsi hutan. Dia memahami demikian : " kekacauan-kekacauan yang terjadi yang mungkin diakibatkan oleh persepsi desa tidak muncul di sini, kekacauan-kekacauan yang terjadi yang mungkin diakibatkan oleh persepsi manusia tidak muncul di sini. Kekacauan-kekacauan hanya terjadi pada tingkat ini, yaitu yang dikatakan kesunyataan berda¬sarkan persepsi hutan". Dia mengerti," Kesadaran ini adalah persepsi desa yang kosong." Dia mengerti," kesadaran ini adalah persepsi manusia yang kosong. Dan hanya ini yang bukan kekoson¬gan, yaitu kesunyataan berdasarkan pandangan hutan." Ia mengang-gap yang tidak berada di sana sekosong itu. Tetapi untuk menghor¬mati apa yang tersisa di sana ia mengerti," Itu sudah menjadi ini." Ananda, demikianlah, ini juga datang kepadanya sebagai kebenaran, bukan suatu kesalahan, benar-benar pemurnian perwuju¬dan dalam (konsep dari) kekosongan. Dan lagi, Ananda, seorang bhikkhu, tidak memperhatikan persepsi manusia, tidak memperhati¬kan persepsi hutan, memperhatikan kesunyataan berdasarkan persep¬si dunia. Ananda, ini seperti sapi jantan bersembunyi dengan baik di bentangan seratus babi, kemurniaanya hilang. Ananda, walaupun begitu, seorang bhikkhu, tidak memperhatikan apapun di dunia ini: tanah kering dan rawa-rawa, sungai-sungai dan rawa-rawa, (tana¬man) ditunjang oleh tonggak dan tanaman yang berduri, bukit-bukit dan dataran-dataran, memperhatikan kesunyataan berdasarkan per¬sepsi dunia. Pikirannya dipuasi dengan, senang dengan, bangkit dan dibebaskan dari persepsi dunia. Ia memahami demikian:" Keka¬cauan-kekacauan yang terjadi yang mungkin diakibatkan oleh per¬sepsi manusia tidak muncul di sini, kekacauan-kekacauan yang terjadi yang mungkin diakibatkan oleh persepsi hutan tidak muncul disi. Kekacauan hanya terjadi pada tingkat ini, yaitu yang dika¬takan kesuyataan berdasarkan pandangan dunia." Ia mengerti," kesadaran ini adalah persepsi manusia yang kosong; kesadaran ini adalah persepsi hutan yang kosong. Dan hanya ini yang bukan kekosongan, yaitu kesunyataan berdasarkan pandangan dunia." Ia menganggap yang tidak berada di sana sekosong itu. Tetapi untuk menghormati apa yang tersisa disana ia memahami," Itu sudah menjadi ini." Ananda, demikianlah, ini juga akan datang kepadanya sebagai kebenaran, bukan suatu kesalahan, benar-benar pemurnian perwujudan dalam (konsep dari) kekosongan. Dan lagi, Ananda, seorang bhikkhu, tidak memperhatikan persepsi hutan, tidak memp¬erhatikan persepsi dunia, memperhatikan kesunyataan dari persepsi perkembangan angkasa yang tak terbatas. Pikirannya dipuasi den¬gan, senang dengan, bangkit dan dibebaskan dari persepsi perkem¬bangan angkasa yang tak terbatas. Ia memahami demikian:" keka¬cauan-kekacauan yang terjadi yang mungkin diakibatkan oleh per¬sepsi hutan tidak muncul di sini, kekacauan-kekacauan yang terja¬di yang mungkin [106] diakibatkan oleh persepsi dunia tidak muncul di sini. Kekacuan hanya terjadi pada tingkat ini yaitu yang dikatakan kesunyataan berdasarkan persepsi perkembangan angkasa yang tidak terbatas." Ia mengerti, "kesadaran ini adalah persepsi hutan yang kosong. Kesadaran ini adalah persepsi dunia yang kosong. Dan hanya ini yang bukan kekosongan, yaitu kesunya¬taan berdasarkan persepsi perkembangan angkasa yang tak terbatas. Ia menganggap yang tidak berada di sana sekosong itu. Tetapi untuk menghormati apa yang tersisa di sana ia mengerti," Itu sudah menjadi ini." Ananda, demikianlah, ini juga akan datang kepadanya sebagai kebenaran,... pemurnian perwujudan dalam (konsep dari) kekosongan. Dan lagi, Ananda, seorang bhikkhu, tidak memperhatikan persepsi dunia, tidak memperhatikan persepsi perkembangan angkasa yang tidak terbatas, memperhatikan kesunya¬taan berdasarkan persepsi perkembangan kesadaran yang tak terba¬tas. Pikirannya dipuasi dengan, ... dan dibebaskan dari persepsi perkembangan kesadaran yang tak terbatas. Ia memahami demikian:' Kekacauan-kekacauan yang terjadi yang mungkin diakibatkan oleh persepsi dunia ... dari persepsi perkembangan angkasa tidak muncul di sini. Kekacauan hanya terjadi pada tingkat ini yaitu yang dikatakan kesunyataan berdasarkan persepsi perkembangan kesadaran yang tidak terbatas." Ia mengerti," kesadaran ini adalah persepsi dunia yang kosong... persepsi perkembangan angka¬sa yang kosong. Dan hanya ini yang bukan kekosongan, yaitu yang dikatakan kesunyataan berdasarkan persepsi perkembangan kesadaran yang tidak terbatas. Ia menganggap yang tidak berada di sana sekosong itu. Tetapi untuk menghormati apa yang tersisa di sana ia memahami," Itu sudah menjadi ini." Ananda, demikianlah, ini juga akan datang kepadanya sebagai kebenaran ... pemurnian perwu¬judan dalam (konsep dari) kekosongan. Dan lagi, Ananda, seorang bhikkhu, tidak memperhatikan persepsi perkembangan angkasa yang tidak terbatas, tidak memperhatikan persepsi perkembangan kesa¬daran yang tidak terbatas, memperhatikan kesunyataan berdasarkan persepsi dari perkembangan tak sesuatupun. Pikirannya dipuasi dengan ... dan dibebaskan dari persepsi perkembangan tak sesuatu¬pun. Ia memahami demikian:" Kekacauan-kekacauan yang terjadi yang mungkin diakibatkan oleh persepsi dari perkembangan angkasa yang tidak terbatas ... dari persepsi perkembangan kesadaran yang tidak terbatas tidak muncul disini. Kekacauan hanya terjadi pada tingkat ini yaitu yang dikatakan kesunyataan berdasarkan persepsi perkembangan tak sesuatupun." Ia mengerti," Kesadaran ini adalah persepsi perkembangan angkasa yang kosong." [107] Ia mengerti, "Kesadaran ini adalah persepsi perkembangan kesadaran yang tidak terbatas. Dan hanya ini yang bukan kekosongan, yaitu yang dikata¬kan kesunyataan berdasarkan persepsi perkembangan dari tak sesua¬tupun." Ia menganggap yang tidak berada disana sekosong itu. Tetapi untuk menghormati apa yang tersisa disana," Itu sudah menjadi ini." Ananda, demikianlah, ini juga akan datang kepadanya sebagai kebenaran ... pemurnian perwujudan (konsep dari) kekoson¬gan. Dan lagi, Ananda, seorang bhikkhu tidak memperhatikan per¬sepsi dari perkembangan kesadaran yang tidak terbatas, tidak memperhatikan persepsi dari perkembangan dari tak sesuatupun, memperhatikan kesunyataan berdasarkan persepsi dari perkembangan persepsi maupun bukan persepsi. Pikirannya dipuasi dengan ... dan dibebaskan dari persepsi perkembangan persepsi maupun bukan persepsi. Ia memahami demikian:" Kekacauan-kekacauan yang terjadi yang mungkin diakibatkan oleh persepsi perkembangan kesadaran yang tak terbatas ... yang diakibatkan oleh persepsi
perkembangan tak sesuatupun tidak muncul di sini. Kekacauan hanya terjadi pada tingkat ini, yaitu yang dikatakan kesunyataan berdasarkan persep¬si perkembangan persepsi maupun bukan persepsi." Ia mengerti," Kesadaran ini adalah persepsi perkembangan kesadaran yang tak terbatas ... dari persepsi perkembangan tak sesuatupun yang kosong. Dan hanya ini yang bukan kekosongan, yaitu kesunyataan berdasarkan persepsi perkembangan persepsi maupun bukan persepsi." Ia menganggap yang tidak berada disana sekosong itu. Tetapi untuk menghormati apa yang tersisa di sana ia memahami," Itu sudah menjadi ini." Ananda, demikianlah, ini juga akan datang kepadanya sebagai kebenaran ... pemurnian perwujudan dari (konsep dari) kekosongan. Dan lagi, Ananda, seorang bhikkhu, tidak memp¬erhatikan persepsi perkembangan tak sesuatupun, tidak memperhati¬kan persepsi dari perkembangan persepsi maupun bukan persepsi, memperhatikan kesunyataan berdasarkan konsentrasi pikiran yang tidak bertanda. Pikirannya dipuasi dengan ... dan dibebaskan dari konsentrasi pikiran yang tidak bertanda. Ia memahami demikian:" Kekacauan-kekacauan yang terjadi mungkin diakibatkan oleh persep¬si dari perkembangan tak sesuatupun ... dari persepsi perkem¬bangan persepsi maupun bukan persepsi tidak muncul di sini. Kekacauan hanya terjadi pada tingkat ini yaitu yang dikatakan berhubungan dengan indera keenam, ditentukan oleh hidup, didasar¬kan pada tubuh itu sendiri. [108] Ia mengerti:" Kesadaran ini berdasarkan perkembangan tak sesuatupun yang kosong ... persepsi perkembangan persepsi maupun bukan persepsi yang kosong. Dan hanya ini yang bukan kekosongan, yaitu yang dikatakan berhubungan dengan indera keenam, ditentukan oleh hidup, didasarkan pada tubuh itu sendiri." Ia menganggap yang tidak berada di sana sekosong itu. Tetapi untuk menghormati apa yang tersisa di sana ia memahami," Itu sudah menjadi ini." Ananda, demikianlah, ini juga akan datang kepadanya sebagai kebenaran, tidak keliru, pemurnian perwujudan dari (konsep dari) kekosongan. Dan lagi, Ananda, seorang bhikkhu, tidak memperhatikan persepsi dari per¬kembangan tak sesuatupun, tidak memperhatikan persepsi dari perkembamgan persepsi maupun bukan persepsi, memperhatikan kesu¬nyataan berdasarkan konsentrasi pikiran yang tidak bertanda. pikirannya dipuasi dengan, senang dengan, diserang dan dibebaskan dari konsentrasi pikiran yang tidak bertanda. Ia memahami demiki-an," Konsentrasi pikiran yang tidak bertanda ini dipengaruhi dan direncanakan dengan masak. Tetapi apapun yang dipengaruhi dan yang direncanakan dengan masak, itu adalah tidak permanen, itu akan berhenti." Ketika ia mengetahui ini demikian, melihat ini demikian, pikirannya dibebaskan dari perusakan perasa dan kese¬nangan dan pikirannya dibebaskan dari perusakan proses menjadi dan pikirannya dibebaskan dari perusakan kebodohan. Kebebasannya adalah pengetahuan yang telah ia bebaskan dan ia memahami:" Keruntuhan adalah kelahiran, membawa lebih dekat kepada kemajuan Brahma, mengerjakan apa yang harus dikerjakan, tidak ada yang lagi yang sedemikian rupa atau lainnya." Ia memahami demikian:" Kekacauan-kekacauan yang terjadi mungkin diakibatkan oleh perusa¬kan perasaan kesenangan tidak muncul di sini; kekacauan yang terjadi mungkin diakibatkan oleh perusakan proses menjadi tidak muncul di sini, kekacauan yang terjadi mungkin diakibatkan oleh perusakan kebodohan tidak muncul di sini. Dan kekacauan hanya terjadi pada tingkat ini, yaitu yang dikatakan berhubungan dengan indera keenam, dipengaruhi oleh hidup, dan didasarkan pada tubuh itu sendiri." Ia mengerti:" Kesadaran berdasarkan perusakan perasaan ini adalah kosong." Ia mengerti," Kesadaran berdasarkan perusakan proses menjadi ini adalah kosong." Ia mengerti," kesa¬daran berdasarkan perusakan kebodohan ini adalah kosong." Dan hanya ini yang bukan kekosongan, yaitu yang dikatakan berhubun¬gan dengan indera keenam, dipengaruhi oleh hidup, dan didasarkan pada tubuh itu sendiri." Ia menganggap yang tidak berada di sana sekosong itu. Tetapi untuk menghormati apa yang tersisa di sana ia memahami:" Itu sudah menjadi ini." Ananda, demikianlah, ini [109] juga akan datang kepadanya sebagai kebenaran , bukan kele¬liruan, pemurnian perwujudan dan realisasi yang paling tinggi yang tidak dapat dibandingkan dari (konsep dari) kekosongan.
Ananda, dan bagi para pertapa dan brahmana, yang pada waktu yang lampau memasuki pemurnian perwujudan dan realisasi yang tertinggi yang tidak dapat dibandingkan (konsep dari) kekosongn, berdiam di dalamnya-semua ini, memasuki dengan tepat pemurnian perwujudan ini dan realisasi yang tertinggi yang tidak dapat dibandingkan (konsep dari) kekosongan, berdiam di dalamnya. Ananda, dan bagi para pertapa dan brahmana itu, di masa yang akan datang, memasuki perwujudan pemurnian dan realisasi yang terting¬gi yang tidak dapat dibandingkan (konsep dari) kekosongan, akan berdiam di dalamnya-semuanya ini, akan memasuki dengan tepat pemurnian perwujudan ini dan realisasi yang tertinggi yang tidak dapat dibandingkan (konsep dari) kekosongan, akan berdiam di dalamnya. Ananda, dan para pertapa dan brahmana itu, yang seka¬rang ini memasuki pemurnian perwujudan dan realisasi tertinggi yang tidak dapat dibandingkan (konsep dari) kekosongan, yang berdiam di dalamnya-semua ini, memasuki dengan tepat pemurnian perwujudan ini dan realisasi tertinggi yang tidak dapat diband¬ingkan (konsep dari) kekosongan, berdiam di dalamnya. Mengapa, Ananda, berpikir:" Memasuki pemurnian perwujudan dan realisasi yang tertinggi yang tidak dapat dibandingkan (konsep dari 0 keko¬songan, Aku akan berada di dalamnya'- ini adalah cara bagaimana kamu harus melatih diri kamu sendiri, Ananda."
Demikianlah Sang Bhagava katakan. Menyenangkan, Yang Mulia Ananda bergembira dengan apa yang dikatakan Sang Bhagava.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar