Selasa, 16 Maret 2010

MAHASALAYATANIKASUTTA

MAHASALAYATANIKASUTTA
149


Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Tathagata berdiam dekat Savathi di hutan Jeta di Vihara milik Anathapindika. Sewaktu beliau di sana, berkatalah beliau kepada para bhikkhu:

"Para Bhikkhu."
"Ya Sang Bhagava", bhikkhu-bhikkhu menjawab dengan hormat. Sang Tathagata berkata lagi: "Aku akan mengajarkan kalian, para bhikkhu, enam landasan indera yang Agung. Dengarkanlah dan perhatikanlah dengan seksama, para bhikkhu". "Ya, Sang Bhagava", para bhikkhu menjawab dengan hormat. Lalu Sang Tathagata berkata demikian: "Para bhikkhu, siapa saja yang tidak mengerti, tidak mengetahui fungsi mata sebagai mana sesungguhnya, teidak mengeta¬hui, tidak mengerti bentuk-bentuk materi (wujud) ... kesadaran penglihatan ... berhubungan dengan mata sebagaimana sesungguhnya, tidak mengetahui, tidak mengerti bahwa itu hanyalah pengalaman, baik itu menyenangkan, menyakitkan maupun tidak keduanya, yang timbulnya disebabkan oleh adanya obyek yang masuk melalui mata, terikat pada bentuk-bentuk materi, terikat pada kesadaran penglihatan, terikat pada obyek yang dilihat mata, dan sebagai pengalaman baik itu menyenangkan maupun menyakitkan, ataupun tidak, keduanya, yang timbulnya disebabkan oleh apa yang dilihat mata pada itu juga ia terikat. Sementara ia mengamati kepuasan, terikat dan dan melekat pada 5 kelompok kemelekatan yang berlanjut pada penimbunan. Dan keserakahannya, yang berhubungan dengan kelahiran kembali, disertai oleh kemelekatan dan kesenangan, menjumpai kesenangan di mana pun, bertambah dirinya, Maka kegelisahan jasmani akan bertambah, kegelisahan mental meningkat, dan siksaan phisik dan mental mening¬kat, dan kecemasan phisik dan mental meningkat pula mengalami penderitaan jasmani dan mental.

Para bhikkhu, siapa saja yang tidak mengetahui, tidak mengerti fungsi telinga sebagaimana sesungguhnya ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran sebagaimana sesungguhnya, tidak mengetahui, tidak mengerti, tidak mengerti pada obyek yang masuk melalui piki¬ran sebagai mana sesungguhnya dan tidak mengetahui, tidak mengerti bahwa itu hanyalah sebagai pengalaman (seperti di atas) maka kegeli¬sahan mental bertambah. Ia mengambil penderitaan jasmani dan piki¬ran.
Tetapi, para bhikkhu siapa saja yang mengetahui dan menya¬dari, fungsi mata sebagaimana sesungguhya, mengetahui dan menya¬dari bentuk-bentuk materi ... kesadaran penglihatan, obyek-obyek yang masuk melalui mata itu sesungguhnya apa, dan mengetahui dan menyadari bahwa itu hanyalah pengalaman, baik itu menyenangkan maupun menyakitkan, ataupun tidak, kedua-duanya yang timbulnya disebabkan oleh apa yang dilihat oleh mata, tidak terikat pada pengli¬hatan, ataupun bentuk-bentuk materi, atau kesadaran penglihatan ataupun apa yang dilihat, dan pengalaman itu, baik menyenangkan atau menyakitkan ataupun tidak keduanya, yang timbulnya disebabkan oleh penglihatan - ia tidak terikat pada semuanya itu. Sementara ia yang mengawasi bahaya, tidak terikat ataupun melekat, lima kelom¬pok cengkeraman menuju pada future diminution. Dan keserakahan¬nya, yang berhubungan dengan again becoming, disertai oleh keterika¬tan dan kegembiraan, menemui kesenangan di sana-sini, berkurang dalam dirinya. Dan penderitaan fisik (jasmani) dan rohani berkurang, dan siksaan badan dan mental ... dan kegelisahan badan berkurang dan kegelisahan mental berkurang pula. Ia mengalami kebahagiaan lahir dan batin.

Apa saja pandangan dari apa sesungguhnya, baginya adalah pandangan benar, apa saja cita-ciata itu dan untuk apa sesungguhnya, baginya merupakan cita-cita benar; apa saja usaha yang sesungguh¬nya, baginya merupakan usaha benar; apa kesadaran yang sesungguh¬nya, baginya merupakan kesadaran benar, apa yang dikonsentrasikan, baginya adalah konsentrasi benar. Maka apa yang dilakukan oleh badan, ucapan dan cara hidup di mana yang lalu telah disucikan dengan baik. Maka delapan jalan para Ariya menuju pada kemajuan dan penyelesaian. Sementara jalan beruas delapan para Arya ini, sedang dikembangkan olehnya. Demikianlah empat penyebab timbul¬nya kesadaran juga menuju pada kemajuan dan pencapaian, dan empat usaha benar ... dan Empat landasan dari kekuatan phisik ... dan lima controlling faculties dan lima kekuatan ... dan tujuh links of awaken¬ing menuju pada kemajuan dan pencapaian. Dan dalam dirinya, kedua hal ini terjadi secara bersamaan dengan penuh ketenangan da penger-tian: Dengan superknowlege ia mengerti hal-hal yang harus dipahami oleh superknowledge ia mengerti hal-hal yang harus dipahami oleh superknowledge; dengan superknowledge ia membuang hal-hal yang harus dilenyapkan oleh superknowledge; dengan superknowledge ia mengembangkan hal-hal yang harus dikembangkan oleh superknowl¬edge; dengan superknowledge ia menyadari hal-hal yang harus di sadari oleh superknowledge.

Dan apakah itu para bhikkhu hal-hal yang harus dimengerti oleh superknowledge?. Lima kelompok kemelekatan adalah jawaban untuk itu, seperti berikut, mengejar bentuk materi, penglihatan, kesadaran, habitual tendencies, kesadaran ini adalah hal-hal yang harus dimengerti oleh superknowledge. Dan para bhikkhu, apakah hal-hal yang harus dilenyapkan dengan superknowledge?'

Kebodohan, keserakahan untuk lahir kembali ini adalah hal-hal yang harus dilenyapkan oleh superknowledge.Dan para bhikkhu apakah yang harus dikembangkan dengan superknowledge? penuh ketenanga dan pengertian──kedua hal inilah yang harus dikembang¬kan dengan superknowledge. Dan para bhikkhu apakah yang hal-hal yang harus disadari oleh superknowledge? Pengetahuan dan ketidak terikatan ──ini adalah hal-hal yang harus disadari oleh superknow¬lege.
Dan para bhikkhu (siapa saja) yang mengetahui dan mengerti fungsi telinga sebagaimana sesungguhnya ... hidung ... lidah ... badan .. pikiran ... keadaan mental ... kesadaran... mental ... masuknya obyek-obyek melalui pikiran, sebagaimana sesungguhnya, dan menge¬tahui, mengerti bahwa itu hanyalah pengalaman, apakah menyenang¬kan maupun tidak keduanya, yang munculnya dikarenakan oleh obyek yang masuk melalui pikiran, tidak terikat pada pikiran maupun kea¬daan mental, kesadaran mental, atau pada apa yang dialami pikiran; dan pengalaman itu, baik menyenangkan atau menyakitkan, maupun tidak keduanya yang munculnya disebabkan oleh apa yang dialami pikiran──tidaklah ia terikat padanya ... dan kegelisahan mental akanlah berkurang. Ia mengalami kebahagiaan badan dan pikiran.

Apa saja pandangan yang sesungguhnya, baginya merupakan pandangan benar ... Dan apakah yang disucikan dengan baik. Maka jalan beruas delapan para ariya menuju pada kemajuan dan pencapaian baginya ... Dan para bhikkhu apakah hal-hal yang harus disadari oleh superknowledge?. Pengetahuan dan kebebasan dua hal itulah yang harus disadari.

Begitulah yang dikhotbahkan Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa gembira pada apa yang telah diajarkan oleh Sang Bhagava.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar