Selasa, 16 Maret 2010

GULISSANI SUTTA

GULISSANI SUTTA
69

[469] Demikian telah saya dengar : Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di dekat Rajagaha di Hutan Bambu di tempat memberi makan tupai. Pada saat itu seorang bhikkhu bernama Gulissani, yang telah meninggalkan hutan, yang mempunyai kebiasaan aneh, telah tiba di tengah-tengah Sangha untuk beberapa urusan dan lainnya. Setelah itu Y.A. Sariput¬ta menanyakan kepada para bhikkhu mengenai bhikkhu Gulissani dan berkata :

"Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha, seharusnya segan dan hormat kepada sahabat-sahabatnya sesama pertapa. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan, kembali ke dalam Sangha dan tinggal bersama dalam Sangha, serta tidak segan dan hormat kepada sahabat-sahabatnya sesama pertapa, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata : 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah mening-galkan hutan dan yang hidup sendiri dalam hutan serta ber¬buat sekehendak hatinya tetapi tidak segan dan hormat kepada sahabat-sahabatnya sesama pertapa ?'akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha seharusnya segan dan hormat kepada sahabat-sahabatnya sesama pertapa.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha, seharusnya cakap dalam hal tempat duduk, dan berpikir : 'Aku akan duduk tanpa melanggar hak 1 (jarak yang diperuntukkan bagi) bhikkhu-bhikkhu yang lebih tua, pun tidak akan menghalangi bhikkhu-bhikkhu yang baru ditahbis dari tempat duduknya.' 2 Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha, tidak cakap dalam hal tempat duduk, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata : 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan dan yang hidup sendiri dalam hutan serta berbuat sekehendak hatinya tetapi yang bahkan tidak mengetahui peraturan ten¬tang tingkah laku yang patut ?'-akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha seharusnya cakap dalam hal tempat duduk.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha, seharusnya tidak masuk ke sebuah desa terlalu awal ( sebelum waktunya ) dan tidak kembali 3 selama seharian. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha, masuk ke sebuah desa terlalu awal dan kembali selama seharian, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata : 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah mening¬galkan hutan dan yang hidup sendiri dalam hutan serta ber¬buat sekehendak hatinya tetapi yang masuk ke sebuah desa terlalu awal dan kembali selama seharian ?'--akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kemba¬li ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha seha¬rusnya tidak masuk ke sebuah desa terlalu awal dan seharus¬nya tidak kembali selama seharian.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan... tinggal bersama dalam Sangha, seharusnya tidak [470] mengundang kelurga-keluarga sebelum makan atau setelah makan. 4 Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah men-inggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha, mengundang keluarga-keluarga sebelum makan atau setelah makan, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata: 'Bukankah perjalanan pada saat yang tidak sesuai ini sering dipraktek¬kan oleh bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, dan bukankah ia juga menyombongkan hal ini kepada bhikkhu yang ada dalam Sangha ?'--akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha seharusnya mengundang keluarga-keluarga tidak sebelum makan atau pun setelah makan.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha, seharusnya tidak bangga atau lengah. 5 Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha, bangga dan lengah, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata : 'Bukankah kebanggaan dan kelengahan ini sering dipraktekkan oleh bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, dan bukankah ia juga menyombongkan hal ini kepada bhikkhu yang ada dalam Sangha ?'--akan ada orang-orang yang membica-rakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah men-inggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha seharusnya tidak bangga dan lengah.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan... dan tinggal bersama dalam Sangha, seharusnya tidak kasar atau berbicara sembarangan. 5 Jika, Yang Mulia, seo¬rang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan... dan tinggal bersama dalam Sangha, kasar dan berbicara sembarangan, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata : 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi yang kasar dan berbicara semba-rangan ?'--akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan dan yang telah kembali ke dalam Sangha serta tinggal bersama dalam Sangha seharusnya tidak kasar atau berbicara semba-rangan.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan... dan tinggal bersama dalam Sangha, seharusnya enak bicaranya, 6 menjadi teman dari hal-hal yang baik. 6 Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan... dan tinggal bersama dalam Sangha, salah bicara, 7 menjadi teman dari setan,6 maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata: 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi yang salah bicara, dan menjadi teman dari setan?' akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan... dan tinggal bersama dalam Sangha seharusnya enak bicaranya dan menjadi teman dari hal-hal yang baik.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya berhati-hati/terjaga bagaikan pintu dari organ-organ perasaannya. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan tidak berhati-hati bagaikan pintu dari organ-organ perasaannya, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata : 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, [471] tetapi yang tidak berhati-hati bagaikan pintu dari organ-organ perasaannya ?'akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya berhati-hati bagaikan pintu dari organ-organ perasaannya.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya secukupnya/tidak ekstrim dalam hal makan. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan tidak secukupnya dalam hal makan, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata : 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi tidak secukupnya dalam hal makan ?'akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya secukupnya dalam hal makan.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya bersungguh-sungguh dalam kewaspadaan. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan tidak bersungguh-sungguh dalam kewaspadaan, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata : 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah mening¬galkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi yang tidak bersungguh-sungguh dalam kewaspadaan ?'akan ada orang-orang yang membicarakan¬nya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggal¬kan hutan seharusnya bersungguh-sungguh dalam kewaspadaan.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya mengembangkan kekuatan. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan itu malas, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata : 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi yang malas ?'akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya mengembangkan kekuatan.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya membangkitkan perhatiannya. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan mengac¬aukan perhatiannya, maka akan ada orang-orang yang membica¬rakannya dan berkata : 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi yang mengacaukan perhatiannya ?' akan ada orang-orang yang membi¬carakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya membangkitkan perhatiannya.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya memiliki konsentrasi. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan tidak memiliki konsentrasi, maka akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata: 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi yang tidak memiliki konsentrasi ?' akan ada orang-orang yang membicara¬kannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah mening¬galkan hutan seharusnya memiliki konsentrasi.

Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya memiliki kebijaksanaan. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan miskin dalam hal kebijaksanaan, akan ada orang-orang yang [472] membica-rakannya dan berkata: 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi yang miskin dalam hal kebijaksanaan ?'akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan seharusnya memiliki kebijaksanaan.

Yang Mulia, pelajaran yang sungguh-sungguh 8 dalam Further-Dhamma dan dalam Further-Discipline 9 seharusnya dihasilkan oleh seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan. Yang Mulia, ada orang-orang yang akan menanyakan seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan tentang Fur-ther-Dhamma dan Further-Discipline. Jika, Yang Mulia, seo¬rang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan, ketika ditanya¬kan tentang sebuah pertanyaan mengenai Further-Dhamma dan Further-Discipline, ia tidak berhasil ( dalam menjawabnya ), akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata: 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi yang, ketika ditanyakan tentang sebuah pertanyaan mengenai Further-Dhamma dan Further-Disci¬pline, tidak berhasil ( dalam menjawabnya ) ?'akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, pelajaran yang sungguh-sungguh seharusnya dihasilkan dalam Further-Dhamma dan dalam Further-Discipline oleh seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan.

Yang Mulia, pelajaran yang sungguh-sungguh seharusnya dihasilkan oleh seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan yang memperhatikan hal-hal tersebut yang merupakan Pelepasan-pelepasan 10 yang damai dan merupakan incorporeal yang lebih penting daripada bentuk-bentuk materi. Ada, Yang Mulia, orang-orang yang akan menanyakan seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan tentang hal-hal yang merupakan pelepasan-pelepasan yang damai dan merupakan incorporeal yang lebih penting daripada bentuk-bentuk materi. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan, ketika ditanyakan tentang sebuah pertanyaan mengenai hal-hal yang merupakan pelepasan-pelepasan yang damai dan merupakan incorporeal yang lebih penting daripada bentuk-bentuk mat¬eri, ia tidak berhasil (dalam menjawabnya), akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata : 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah meninggalkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi yang, ketika ditanyakan tentang sebuah pertanyaan mengenai hal-hal yang merupakan pelepasan-pelepasan yang damai dan merupakan incorporeal yang lebih penting daripada bentuk-bentuk materi, tidak berhasil (dalam menjawabnya) ?'akan ada orang-orang yang membicara¬kannya. Oleh karena itu, pelajaran yang sungguh-sungguh seharusnya dihasilkan oleh seorang bhikkhu yang telah men¬inggalkan hutan yang memperhatikan hal-hal yang merupakan pelepasan-pelepasan yang damai dan merupakan incorporeal yang lebih penting daripada bentuk-bentuk materi.

Yang Mulia, pelajaran yang sungguh-sungguh dalam pernyataan-pernyataan/keadaan-keadaan further-men seharusnya dihasilkan oleh seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan. Ada, Yang Mulia, orang-orang yang akan menanyakan seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan tentang per¬nyataan-pernyataan further-men. Jika, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan, ketika ditanyakan tentang sebuah pertanyaan mengenai pernyataan-pernyataan further-men, ia tidak berhasil (dalam menjawabnya), akan ada orang-orang yang membicarakannya dan berkata: 'Apakah kebaikan dari bhikkhu yang terhormat ini yang telah mening¬galkan hutan, hidup sendiri di dalam hutan dan berbuat sekehendak hatinya, tetapi yang bahkan tidak mengetahui tujuan demi kepentingan dari apa yang telah ia jalani hingga seterusnya ?'akan ada orang-orang yang membicarakannya. Oleh karena itu, pelajaran yang sungguh-sungguh dalam per¬nyataan-pernyataan further-men seharusnya dihasilkan oleh seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan."

Selanjutnya, Y.A. Maha Moggallana kemudian berkata kepada Y.A. Sariputta : "Yang Mulia Sariputta, apakah hal-hal ini dilakukan dan dipraktekkan hanya oleh seorang bhikk¬hu yang telah meninggalkan hutan atau [473] juga oleh bhikk¬hu yang berdiam di dekat sebuah desa ?"

"Hal-hal ini, Yang Mulia Moggallana, tentu saja dilakukan dan dipraktekkan oleh seorang bhikkhu yang telah meninggalkan hutan, all the more 11 oleh bhikkhu yang berdiam di dekat sebuah desa."

-----------------------------------------------------------------
1. Vin. iv.43; bandingkan dengan Vin. ii.88.
2. Bandingkan dengan Vin. i.47.
3. Yaitu ke vihara. Lihat Pacittiya 85 (Vin. iv.164 ff.) dan Nuns' Pacittiya 17 (Vin. iv.274).
4. Lihat Pacittiya 46 (Vin. iv.99 f.).
5. Bandingkan dengan M.i.32.
6. Lihat M.i.43.
7. dubbaca dapat juga berarti "sulit menegur", lihat Vin. iii. M.i.43.
8. yoga, penerapan sungguh-sungguh, mendekati suatu objek sampai, dalam bahasa modern, anda menjadikannya milikmu, menyatu dengannya, "dipasangkan" padanya.
9. abhidhamma abhivinaya; bandingkan dengan A.i.288 ff. MA.iii.185 mengambil hal-hal ini sebagai Pitaka-Pitaka; terhadap yang sebelumnya secara khusus ia menambahkan Dhamma¬hadayavibhanga (Vbh.401). Lihat Asl.p.24: abhidhamme duppati¬panno dhammacittam atidhavanto acinteyyani pi cinteti, tato cittavikkhepam papunati; diterjemahkan pada Expos.i.31 : "Bhikkhu yang terlatih secara buruk dalam Abhidhamma membuat pikirannya berjalan berlebihan dalam abstraksi metafisik dan berpikir tentang hal-hal yang tak dapat dipikirkan. Oleh karenanya ia mengalami gangguan batin."
10. Lihat delapan vimokha a D.ii.70,71; juga di bawah, p.152 ff.
11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar