CULAPUNAMASUTTA
(110)
Demikian telah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava menetap di dekat Savatthi di istana Ibu Migara di Vihāra Timur. Pada saat itu Sang Bhagava [21] sedang duduk di tempat terbuka pada malam bulan purnama dalam hari Uposatha, hari kelimabelas, dengan dikelilingi oleh sekelompok para bhikkhu. Sang Bhagava setelah melihat para bhikkhu tersebut yang kemudian menjadi tenang lalu berbicara demikian:
"Para bhikkhu dapatkah seorang1 jahat mengetahui seorang jahat yang lain dengan: 'Dia patut sebagai seorang jahat'."
"Tidak dapat, yang mulia."
"Itu benar, para bhikkhu. Adalah tidak mungkin bahwa seorang jahat dapat mengetahui seorang jahat yang lain dengan: 'Dia patut sebagai seorang jahat.' Tetapi para bhikkhu, dapatkah seorang jahat mengetahui seorang yang baik dengan: 'Dia patut sebagai seorang yang baik'."
"Tidak dapat, yang mulia."
"Itu benar, para bhikkhu. Adalah juga tidak mungkin bahwa seorang jahat dapat mengetahui seorang yang baik dengan: 'Dia patut sebagai seorang yang baik.' Seorang jahat adalah seorang yang memiliki keadaan-keadaan pikiran jahat, dia bergaul dengan orang-orang jahat, dia berpikir seperti orang-orang jahat, dia menasehati seperti orang-orang jahat, dia berbicara seperti orang-orang jahat, dia bertindak seperti orang-orang jahat, dia berpandangan seperti orang-orang jahat, dia memberikan hadiah seperti orang-orang jahat. Dan para bhikkhu, bagaimanakah seorang jahat mempunyai keadaan-keadaan pikiran jahat? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang jahat tidak mempunyai keyakinan, dia tidak mempunyai rasa malu, dia tidak takut dikecam, dia mengetahui sedikit, dia adalah pemalas, kesada¬rannya kacau balau, dia tidak bijaksana - demikianlah para bhikkhu bahwa seorang jahat mempunyai keadaan-keadaan pikiran jahat.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang jahat bergaul dengan orang-orang jahat? Para bhikkhu, dalam hal ini mereka adalah para petapa dan brahmana yang tidak mempunyai keyakinan, tidak mempunyai rasa malu, tidak takut dikecam, mengetahui sedikit, pemalas, kesa¬darannya kacau balau, tidak bijaksana - mereka adalah para sahabat dan kawan orang jahat. Demikianlah para bhikkhu bahwa seorang jahat bergaul dengan orang-orang jahat.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang jahat berpikir seperti yang dilakukan orang-orang jahat? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang jahat melakukan penyiksaan diri, dia melakukan penyiksaan terhadap orang-orang lain, dia juga melakukan penyiksaan terhadap diri dan orang-orang lain - demikianlah para bhikkhu bahwa seorang jahat berpikir seperti yang dilakukan orang-orang jahat.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang jahat menasehatkan seperti yang dilakukan orang-orang jahat? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang jahat menasehatkan penyiksaan diri dan penyiksaan terhadap orang-orang lain [22] dan juga penyiksaan terhadap diri dan orang-orang lain - demikianlah para bhikkhu bahwa seorang jahat menasehatkan seperti yang dilakukan orang-orang jahat.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang jahat berbicara seper¬ti yang dilakukan orang-orang jahat? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang jahat berbicara bohong, berbicara fitnah, berbicara kasar, bergunjing - demikianlah para bhikkhu bahwa seorang jahat berbicara seperti yang dilakukan orang-orang jahat.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang jahat bertindak seper¬ti yang dilakukan orang-orang jahat? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang jahat melakukan pembunuhan terhadap makhluk-makhluk hidup, mengambil barang yang tidak diberikan, menikmati kesenangan-kesenangan indria secara salah - demikianlah para bhikkhu bahwa seorang jahat bertindak seperti yang dilakukan orang-orang jahat.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang jahat berpandangan seperti orang-orang jahat? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang jahat berpandangan sebagai berikut: 'Tidak ada akibat atas suatu pemberian, tidak ada akibat atas suatu penawaran, tidak ada akibat atas suatu pengorbanan, tidak ada hasil atau akibat atas perbuatan-perbuatan yang sudah selesai atau yang belum dikerjakan; bukanlah dunia ini, bukanlah dunia sana; tidak ada manfaat atas suatu pela¬yanan terhadap ibu, tidak ada manfaat atas suatu pelayanan terhadap ayah; tidak ada makhluk yang muncul secara spontan; tidak di dunia ini para pertapa dan brahmana menjalankannya dan melakukannya secara benar dan menyatakan dunia ini dan dunia sana setelah menya¬dari hal-hal tersebut dengan pengetahuan mereka yang hebat.' Demi¬kianlah para bhikkhu bahwa seorang jahat berpandangan seperti orang-orang jahat.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang jahat memberikan sebuah hadiah seperti yang dilakukan orang-orang jahat? Para bhikk¬hu, dalam hal ini seorang jahat memberikan sebuah hadiah dengan secara tidak hormat2, dia memberikan sebuah hadiah tidak dengan tangannya sendiri, dia memberikan sebuah hadiah tanpa pertimbangan3 yang memadai, dia memberikan sebuah hadiah yang tidak diinginkan4, dia memberikan sebuah hadiah tanpa memperhatikan masa datang5. Demikianlah para bhikkhu bahwa seorang jahat memberikan sebuah hadiah seperti yang dilakukan orang-orang jahat.
Demikianlah para bhikkhu bahwa seorang jahat adalah seorang yang memiliki keadaan-keadaan pikiran jahat, seorang yang bergaul dengan orang-orang jahat, seorang yang berpikir seperti orang-orang jahat, seorang yang menasehati seperti orang-orang jahat, seorang yang berbicara seperti orang-orang jahat, seorang yang bertindak seperti orang-orang jahat, seorang yang berpandangan seperti orang-orang jahat, seorang yang memberi hadiah seperti orang-orang jahat atas tercerainya tubuh setelah kematian muncul di dalam kelahiran orang-orang jahat. Para bhikkhu apakah kelahiran untuk orang-orang jahat? Hal ini adalah Niraya, neraka atau kelahiran sebagai bina¬tang.
Sekarang para bhikkhu dapatkah seorang yang baik mengetahui seorang baik yang lain dengan: 'Dia patut sebagai seorang yang baik'?"
[23] "Dapat, yang mulia."
"Itu benar, para bhikkhu. Para bhikkhu, keadaan ini terjadi bahwa seorang yang baik dapat mengetahui seorang baik yang lain dengan: 'Dia patut sebagai seorang yang baik.' Tetapi para bhikkhu, dapat¬kah seorang yang baik mengetahui seorang jahat dengan: 'Dia patut sebagai seorang jahat'?"
"Dapat, yang mulia."
"Itu benar, para bhikkhu. Para bhikkhu, keadaan ini juga terjadi bahwa seorang yang baik dapat mengetahui seorang jahat dengan: 'Dia patut sebagai seorang jahat.' Para bhikkhu, seorang yang baik adalah seorang yang memiliki keadaan-keadaan pikiran baik, dia bergaul dengan orang-orang baik, dia berpikir seperti orang-orang baik, dia menasehati seperti orang-orang baik, dia berbicara seperti orang-orang baik, dia bertindak seperti orang-orang baik, dia berpandangan seperti orang-orang baik, dia memberi hadiah seperti orang-orang baik. Dan para bhikkhu, bagaimanakah seorang yang baik mempunyai keadaan-keadaan pikiran baik? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang baik mempunyai keyakinan, dia mem-punyai rasa malu dan takut dikecam, dia mengetahui banyak, dia rajin, kesadarannya terbangun, dia bijaksana - demikianlah para bhikkhu bahwa seorang yang baik mempunyai keadaan-keadaan pikiran baik.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang yang baik bergaul dengan orang-orang baik? Para bhikkhu, dalam hal ini mereka adalah para pertapa dan brahmana yang mempunyai keyakinan, mempunyai rasa malu, takut dikecam, mengetahui banyak, rajin, kesadarannya terban¬gun, bijaksana - mereka adalah para sahabat orang baik. Demikianlah para bhikkhu bahwa seorang yang baik bergaul dengan orang-orang baik.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang yang baik berpikir seperti yang dilakukan orang-orang baik? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang yang baik tidak melakukan penyiksaan diri, tidak melak¬ukan penyiksaan terhadap orang-orang lain, dan juga tidak melakukan penyiksaan terhadap diri dan orang-orang lain - demikianlah para bhikkhu bahwa seorang yang baik berpikir seperti yang dilakukan orang-orang baik.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang yang baik menasehatkan seperti yang dilakukan orang-orang baik? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang yang baik tidak menasehatkan penyiksaan diri maupun penyiksaan terhadap orang-orang lain [22] dan juga penyiksaan terhadap diri dan orang-orang lain - demikianlah para bhikkhu bahwa seorang yang baik menasehatkan seperti yang dilakukan orang-orang baik.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang yang baik berbicara seperti yang dilakukan orang-orang baik? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang yang baik menahan diri dari berbohong, memfitnah, berbicara kasar, bergunjing - demikianlah para bhikkhu bahwa seo¬rang yang baik berbicara seperti yang dilakukan orang-orang baik.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang yang baik bertindak seperti yang dilakukan orang-orang baik? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang yang baik menahan diri dari melakukan pembunuhan terha¬dap makhluk-makhluk hidup, mengambil barang yang tidak diberikan, [24] menikmati kesenangan-kesenangan indria secara salah - demiki¬anlah para bhikkhu bahwa seorang yang baik bertindak seperti yang dilakukan orang-orang baik.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang yang baik berpandangan seperti orang-orang baik? Para bhikkhu, dalam hal ini seorang yang baik berpandangan sebagai berikut: 'Ada akibat atas suatu pemberian, ada akibat atas suatu penawaran, ada akibat atas suatu pengorbanan, ada hasil atau akibat atas perbuatan-perbuatan yang baik atau jahat; ada dunia ini dan dunia sana; ada manfaat atas suatu pelaya¬nan terhadap ibu, ada manfaat atas suatu pelayanan terhadap ayah; ada makhluk yang muncul secara spontan; di dunia ini para pertapa dan brahmana menjalankannya dan melakukannya secara benar dan menyatakan dunia ini dan dunia sana setelah menyadari hal-hal tersebut dengan pengetahuan mereka yang hebat.' Demikianlah para bhikkhu bahwa seorang yang baik berpandangan seperti orang-orang baik.
Dan para bhikkhu bagaimanakah seorang yang baik memberikan sebuah hadiah seperti yang dilakukan orang-orang baik? Para bhikk¬hu, dalam hal ini seorang baik memberikan sebuah hadiah dengan secara hormat, dia memberikan sebuah hadiah dengan tangannya6 sendiri, dia memberikan sebuah hadiah dengan pertimbangan yang memadai, dia memberikan sebuah hadiah yang dibutuhkan, dia memberi¬kan sebuah hadiah dengan memperhatikan masa datang7. Demikianlah para bhikkhu bahwa seorang yang baik memberikan sebuah hadiah seperti yang dilakukan orang-orang baik.
Demikianlah para bhikkhu bahwa seorang yang baik adalah seorang yang memiliki keadaan-keadaan pikiran baik, seorang yang bergaul dengan orang-orang baik, seorang yang berpikir seperti orang-orang baik, seorang yang menasehati seperti orang-orang baik, seorang yang berbicara seperti orang-orang baik, seorang yang bertindak seperti orang-orang baik, seorang yang berpandangan seperti orang-orang baik, seorang yang memberi sebuah hadiah seper¬ti orang-orang baik atas tercerainya tubuh setelah kematian muncul di dalam kelahiran orang-orang baik. Para bhikkhu apakah kelahiran untuk orang-orang baik? Hal ini adalah kejayaan8 dewa atau kejayaan manusia9."
Demikianlah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagava dan para bhikkhu merasa gembira dengan apa yang telah dikatakan.
1 Asappurisa disebut papapurisa pada MA.iv.79 yang berarti bukan manusia "benar" atau manusia yang tidak mengikuti Dhamma dan vinaya. Lihat A.ii.179 dimana brahmana Vassakara (seperti disebut¬kan di dalam M.Sta.108) memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sama kepada Sang Bhagava.
2 Cf.D.ii.356 dan A.iii.171 menjelaskan cara-cara pemberian sebuah hadiah yang tidak patut, baik terhadap hadiah tersebut maupun sipenerima.
3 I.e. terhadap hadiah atau sipenerima yang disebut dengan acittikatva danam deti.
4 Apariddha yang berarti tidak diinginkan, tidak diperhati-kan, dan ditolak karena dianggap tidak bermanfaat. MA.iv.81 menga¬takan diinginkan untuk dibuang atau dia memberikan hadiah tersebut seakan-akan dia melemparkan seekor ular ke dalam sebuah sarang semut.
5 Anagamanaditthika yaitu tidak berpikir kepada siapa hasil dari hadiah tersebut akan bermanfaat (AA.iii.291) atau meng-harap¬kan hadiah tersebut akan memberikan hasil kepada dirinya sendiri (MA.iv.81).
6 Anak kalimat ini dihilangkan di dalam naskah tersebut, mungkin karena ada kesalahan.
7 Dia memberikan sesuai dengan keyakinan kepada hukum karma dan akibatnya, lihat AA.iii.291.
8 Mahattata di dalam MA.iv.81 disebutkan sebagai dewa dari enam alam kesenangan (lihat cf.Vbh.417).
9 MA.iv. 81 mengartikan keberhasilan di dalam pencapaian sampatti atau tiga keahlian (kusalani) yang menunjuk kepada keahli¬an di dalam mengatur tubuh, pembicaraan, dan pikiran atau keahlian yang berhubungan dengan ketiadaan daripada cinta kasih, kebencian, dan kekacauan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar