Selasa, 16 Maret 2010

INDRIYABHAVANASUTTA

INDRIYABHAVANASUTTA

(152)


Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang tinggal di dekat Kajangala di hutan kecil Mukhelu 2. Pada waktu itu brahmana muda bernama Uttara, seorang siswa dari Parasariya 3 menghampiri Beliau; setelah dekat, ia saling bertukar salam dengan Sang Bhagava, dan setelah berbincang-bincang dengan akrab dan sopan ia duduk pada jarak yang sopan. Lalu, Sang Bhagava berbicara kepada pemuda brahmana Uttara, siswa dari Parasariya, ketika ia duduk pada jarak yang sopan: "Uttara, apakah Parasariya sang brahmana mengajarkan pengembangan alat-alat inderia kepada murid-muridnya?"
"Yang Mulia Gotama, brahmana Parasariya mengajarkan pengembangan alat-alat inderia kepada murid-muridnya."
"Tapi Uttara, dengan cara apa Parasariya, sang brahmana mengajarkan pengembangan alat-alat inderia kepada murid-muridnya?"
"Mengenai hal ini, Yang Mulia Gotama, seseorang tidak boleh melihat bentuk-bentuk benda dengan mata, orang tidak boleh mendengar suara-suara dengan telinga. Dengan demikian, Yang Mulia Gotama, brahmana Parasariya mengajarkan pengembangan alat-alat inderia kepada murid-muridnya."
"Kalau demikian Uttara, maka menurut apa yang dikatakan oleh brahmana Parasariya orang buta pasti berkembang alat inderia¬nya, orang tuli pasti berkembang alat inderianya. Karena seorang buta, Uttara, tidak melihat bentuk-bentuk benda dengan matanya, demikian pula orang tuli tidak mendengar suara dengan telinganya."
Setelah hal ini dikatakan, pemuda brahmana Uttara, murid Parasariya, duduk diam, malu, bahunya menunduk, wajahnya mu¬rung, merenung, tanpa bicara. Lalu Sang Bhagava, setelah mengeta¬hui Uttara, murid Parasariya duduk diam, malu ... merenung, tanpa bicara, menyapa bhikkhu Ananda sambil berkata: "Ananda, brahmana Parasariya mengajarkan murid-muridnya pengembangan alat-alat inderia dalam satu cara; tetapi dalam disiplin untuk seorang ariya pengembangan alat-alat inderia yang tak terbanding adalah sebaliknya." 4
"Inilah saat yang tepat, Yang Mulia, inilah saat yang tepat, Yang Berbahagia, bagi Yang Mulia [299] untuk mengajarkan pen¬gembangan alat-alat inderia yang tak terbandingkan (sebagaimana adanya) di dalam disiplin bagi seorang ariya. Bila para bhikkhu telah mendengar Sang Bhagava, mereka akan mengingatnya."
"Kalau begitu, Ananda, dengar dan perhatikan dengan cermat dan Aku akan berbicara."
"Baik, Yang Mulia," jawab bhikkhu Ananda setuju. Lalu berkatalah Sang Bhagava:
"Dan Ananda, apakah pengembangan alat inderia yang tak terbandingkan dalam disiplin untuk seorang ariya? Mengenai hal ini, Ananda, bila seorang bhikkhu melihat suatu bentuk materi dengan matanya timbullah apa yang disukai, timbullah apa yang tidak disukai, timbullah apa yang disukai sekaligus tidak disukai. 5 Dengan demikian ia memahami: "Yang disukai ini timbul pada diriku, yang tidak disu¬kai ini timbul, yang disukai sekaligus tidak disukai timbul, dan yang timbul karena terbentuk ini adalah tidak menyenangkan / membosan¬kan. (Tapi) inilah yang sesungguhnya, inilah hal yang sangat baik, yaitu ketenangan pikiran." Maka, apakah yang timbul dalam dirinya itu disukai, tidak disukai atau sekaligus disukai dan tidak disukai, (semuanya sama-sama) terhenti dalam dirinya, dan ketenangan pikiran tetap terjaga. 6 Ananda, bagaikan seseorang yang memiliki pengliha¬tan, yang telah membuka matanya harus menutupnya, atau yang telah menutup matanya harus membukanya. Walaupun demikian, Ananda, seperti kecepatan, seperti kenikmatan dimana segala yang timbul, apakah disukai, tidak disukai atau sekaligus disukai dan tidak disukai, (semuanya sama-sama) terhenti dalam dirinya, dan ketenangan terja¬ga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, ini dinamakan pengembangan alat inderia yang tak terbandingkan dalam kaitan dengan bentuk-bentuk materi yang disadari melalui mata.
Dan juga, Ananda, bila seorang bhikkhu mendengar suara dengan telinga timbullah apa yang disukai, timbullah apa yang tidak disukai, timbullah apa yang sekaligus disukai dan tidak disukai. Dengan demikian ia memahami: ... dan ketenangan terjaga. Ananda, bagaikan seorang laki-laki kuat dapat mencengkeramkan jari-jarinya dengan mudah, demikianlah, Ananda begitulah kecepatan, begitulah kemudahan dengan segala sesuatu yang timbul, apakah hal itu disukai, tak disukai atau sekaligus disukai dan tidak disukai, (semuanya sama-sama) terhenti dalam dirinya, dan ketenangan pikiran terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, hal ini dinamakan pengembangan alat inderia yang tak terbandingkan berkaitan dengan suara-suara yang disadari oleh telinga.
Dan juga, Ananda, bila seorang bhikkhu mencium bau-bauan dengan hidungnya timbullah apa yang disukai ... dan ketenangan pikiran tetap terjaga. [300] Ananda, bagaikan tetes hujan jatuh pada bunga teratai yang miring dan tak bersisa, begitu pula, Ananda kece¬patan ... dengan hal-hal yang telah timbul ... terhenti dalam dirinya, dan ketenangan pikiran tetap terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, ini dinamakan pengembangan alat inderia yang tak terbanding berkenaan dengan bau-bauan yang dapat disadari oleh hidung.
Begitu pula, Ananda, bila seorang bhikkhu mengecap / mencicipi rasa dengan lidahnya timbullah apa yang disukai ... dan ketenangan tetap terjaga. Ananda, bagaikan setetes lendir yang ter¬kumpul di ujung lidahnya, orang yang kuat dapat dengan mudah meludahkannya ke luar, demikianlah Ananda, kecepatan ... berkenaan dengan hal-hal yang telah timbul ... terhenti dalam dirinya, dan ketenangan tetap terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, hal ini disebut sebagai pengembangan alat inderia yang tak terbanding yang berkaitan dengan rasa yang dapat disadari melalui lidah.
Demikian juga Ananda, bila seorang bhikkhu merasakan sentuhan dengan tubuhnya, timbullah apa yang disukai ... dan kete¬nangan pikiran tetap terjaga. Ananda, bagaikan seorang kuat yang dapat merentangkan tangannya yang menekuk atau dapat menekuk kembali tangannya yang terentang, begitulah Ananda, kecepatan ... berkenaan dengan hal-hal yang telah timbul ... terhenti dalam dirinya, dan ketenangan tetap terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, hal ini dinamakan pengembangan alat inderia yang tak dapat dibandingkan berkenaan dengan sentuhan yang dapat disadari melalui tubuh.
Dan juga Ananda, bila seorang bhikkhu menyadari keadaan mental dengan pikirannya timbullah apa yang disukai ... dan ketenan¬gan pikiran tetap terjaga. Ananda, seperti seorang yang menjatuhkan dua atau tiga tetes air ke dalam tong besi yang panas membara setiap hari. Ananda, perlahan jatuhnya tetes air itu, namun tetes air itu cepat musnah dan habis. Demikianlah Ananda, kecepatan ... berkenaan dengan hal-hal yang timbul ... terhenti dalam dirinya, dan ketenangan pikiran tetap terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, hal ini dinamakan pengembangan alat inderia yang tak dapat dibandingkan berkenaan dengan keadaan mental yang dapat disadari oleh pikiran.
Demikianlah Ananda, pengembangan alat inderia yang tak dapat dibandingkan dalam disiplin bagi seorang ariya.
Dan Ananda, apakah tujuan seorang siswa ? Mengenai hal ini Anan¬da, bila seorang bhikkhu melihat bentuk materi / benda dengan mata timbullah apa yang disukai, timbullah apa yang tidak disukai, timbul¬lah apa yang sekaligus disukai dan tidak disukai. Karena telah timbul apa yang disukai, karena timbul apa yang tidak disukai, karena timbul apa yang sekaligus disukai dan tidak disukai, ia terganggu olehnya, malu karenanya, muak terhadapnya. [301] Bila ia mendengar suara dengan telinganya, membaui dengan hidungnya, mengecap rasa dengan lidahnya, merasakan sentuhan dengan tubuhnya, menyadari keadaan mental dengan pikirannya, timbullah apa yang disukai, tim¬bullah apa yang tidak disukai, timbullah apa yang sekaligus disukai dan tak disukai. Karena timbul apa yang disukai, karena timbul apa yang tak disukai, karena timbul apa yang sekaligus disukai dan tidak disukai, ia terganggu olehnya, malu karenanya, muak kepadanya. Begitulah Ananda, tujuan seorang siswa.
Dan siapakah orang ariya yang alat inderianya berkembang, Ananda ? Dalam hal ini, Ananda, bila seorang bhikkhu melihat bentuk benda dengan matanya ... mendengar suara dengan telinganya ... membaui bau-bauan dengan hidungnya ... mengecap rasa dengan lidahnya ... merasakan sentuhan dengan tubuhnya ... menyadari keadaan mental dengan pikirannya timbullah apa yang disukai, timbul¬lah apa yang tidak disukai, timbullah apa yang sekaligus disukai dan tidak disukai. Jika ia berkeinginan demikian: 'Semoga aku tetap tidak mencerap ketidakmurnian dalam ketidakmurnian,' 7 ia tetap tidak mencerap ketidakmurnian. Jika ia berkeinginan: 'Semoga aku tetap mencerap ketidakmurnian dalam kemurnian,' ia lalu tetap mencerap ketidakmurnian. Jika ia berkeinginan: 'Semoga aku tetap tidak menc¬erap ketidakmurnian dalam ketidakmurnian dan dalam kemurnian,' ia tetap tidak mencerap ketidakmurnian. Jika ia berkeinginan: 'Semoga aku tetap mencerap ketidakmurnian dalam kemurnian dan ketidak¬murnian,' ia tetap mencerap ketidakmurnian. Jika ia berkeinginan: 'Semoga aku, setelah menghindari ketidakmurnian dan kemurnian, [302] tetap berada dalam ketenangan pikiran, penuh perhatian dan benar-benar sadar,' maka ia tetap berada dalam ketenangan, perhatian dan benar-benar sadar. Demikianlah Ananda, sang ariya yang alat inderianya berkembang.
Jadi Ananda, telah Kuajarkan pengembangan alat inderia yang tak dapat dibandingkan (sebagaimana adanya) dalam disiplin bagi seorang ariya, telah Kuajarkan tujuan seorang siswa, telah Kuajarkan tentang seorang ariya yang alat inderianya berkembang. Ananda, apapun yang seharusnya dilakukan dengan welas asih oleh seorang guru yang menghendaki kesejahteraan murid-muridnya dan mengasihi mereka, telah Kulakukan untukmu. Ananda, inilah akar-akar pohon, inilah tempat-tempat kosong / sunyi. Bermeditasilah Ananda, jangan malas, jangan menyesal nanti. Inilah petunjukKu kepadamu."
Demikianlah sabda Sang Bhagava. Dengan gembira, bhikkhu Ananda bergembira dalam apa yang telah dikatakan oleh Sang Bhaga¬va.

-----------------------------------------------------------------
1) Salah satu kesulitan utama dalam khotbah ini adalah penerjemahan istilah indriya dan bhavana. Istilah indriya dapat diartikan "kemampuan mengendalikan" sebagaimana yang terdapat pada Vin.i.294 dan dimana satu-satunya bagian kitab suci yang lain dimana kata majemuk in¬driyabhavana muncul seperti itu, walaupun ada juga konteks M.(iii.81) dimana ditemukan pancannam indriyanam bhavananuyogam, latihan pengembangan (atau pengembangan pikiran) dari lima kemampuan pengendalian: keyakinan, energi, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksa¬naan. Karena, di dalam kedua sumber ini, indriya diasosiasikan dengan setidak-tidaknya beberapa (Vin.i.294), kalau tidak semua (M.iii.81 f.) dari tujuh kelompok dari bodhipakkhiyadhamma (hal-hal yang menun¬jang penerangan sempurna), dapat dianggap bahwa dalam konteks seperti itu indriya berarti kemampuan mengendalikan. Tapi sebaliknya, indriya dapat juga berarti alat inderia, dan saya yakin bahwa dari isi khotbah ini sendiri, artinya adalah seperti ini. Orang dapat melihat dari S.v.73 f. yang berkaitan dengan indriyasamvara, pengendalian inderia mata, dan lain-lain, karena ini adalah bagian kitab suci yang menyata¬kan bahwa apakah bentuk benda yang dilihat oleh seorang bhikkhu itu disukai atau tidak, ia tetap tak tergoyahkan (atau tetap diam, thita) tubuh dan pikirannya, pikirannya mantap, susanthita, dan bebas. Dan hal ini barangkali sama efeknya dengan "keseimbangan batin menetap," upekha santhati, dalam M.Sta.
Bhavana, bagian kedua dari kata majemuk tersebut, berarti men¬gembangkan atau menghasilkan, dengan implikasi lain yang kuat bahwa pengembangan itu dilakukan oleh pikiran, dan karenanya merupakan pengembangan pikiran seperti memberikan para ariya pengendalian atas data-data inderia yang ia tangkap, sehingga jika ia inginkan, ia dapat tetap tidak mempersepsi ketidakmurniannya, dan lain-lain, tetapi dengan keseimbangan batin yang berkaitan dengan akibat terhadap dirinya. Oleh karena itu ia melatih alat-alat inderianya untuk tidak menanggapi dalam cara yang salah terhadap rangsang-rangsang inderia, dan mengembangkan pengendalian semacam itu terhadapnya, sehingga ia tetap tidak terpengaruh olehnya dan tak dapat dibedakan apakah ia menyukainya, tidak menyukainya, atau sekaligus menyukai dan tidak menyukai. Akibat dari data sensoris itu dapat dielakkan selama orang itu hidup tidak diingkari oleh kanon Pali; tetapi respons terhadapnya bahkan memperhatikannya dapat dihentikan dalam meditasi dimana semua dalam keadaan diam / hening.
2) Hutan tersebut penuh dengan pohon sesuai namanya. Istilah lainnya adalah: Mukheluvana, Muncelu-, Suvelu-, dan Veluvana.
3) Kemungkinan sama dengan Parapariya (bait-bait pada Thag.72ff.) lihat Pss.Breth.p.295, catatan; dan DPPN.,s.v. Indriyabhavana Sutta dan Parapariya Thera.
4) annatha ... annatha.
5) manapamanapam.
6) upekha santhati.
7) Pada Pts.ii.212 hal ini dan berikutnya disebut ariya iddhi. Penjelasan yang diberikan ditemukan juga pada MA.v.108.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar