SANGARAVA SUTTA
( 100 )
Seorang wanita brahmana yang setia pada 3(tiga) permata (Tira¬tana) mengatakan dengan sedikit ketahayulan "Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddassa" ketika dia sedang tersandung, untuk mengelak kemalangan, agaknya seorang brahmana pria muda tidak menyukai kebiasaannya yang mana dia menganggap kurang menghormat kasta brahmana. Dia memperingatkan kepada brahmana pria untuk tidak menyalahgunakan apa yang tak diketahui dan akhirnya mengatakan padanya pada waktu Sang Buddha datang ke tempat itu lagi. Brahmana muda pergi menemui Sang Buddha dan menanyakan pada-Nya apakah dengan mendapatkan pengetahuan langsung yang sempurna dia berhak mengajar pengikut-pengikut kehidupan suci (di sini berarti aturan atau agama). Lagi Sang Buddha menganalisa sebelum menjawab. Analisanya menarik yang mana mengelompokkan guru-guru pada jaman itu menjadi 3(tiga) kelompok (ciri-ciri ini masih ada pada kita sekarang):
1. Mereka yang percaya kepada suatu tradisi keagamaan, pada jaman itu bersifat lisan tetapi pada jaman kita bersifat tertulis.
2. Mereka yang salah memikirkan sampai mendapat suatu jalan dan semata-mata mempunyai kepercayaan akan kemanjurannya.
3. Mereka yang telah mengerti sendiri (melalui meditasi) ajaran-ajaran "Tidak mendengar sebelum".
Ketika Sang Buddha berkata bahwa Dia termasuk kelompok yang ketiga, ini berarti bahwa semua guru yang mengajar apa yang sejauh ini tidak dimengerti pikiran orang adalah yang telah mencapai penerangan sempurna atau Buddha-Buddha. Sangatlah mudah untuk melihat hanya sebagian dari kebenaran (dan kemudian mengungkapkan ini adalah keseluruhannya) atau menyalah artikan apa yang telah dilihat seseorang (tetapi mengajarkannya sebagai jalan benar).
Sang Buddhalah menggambarkan apa yang ia maksud dengan "Kesempurnaan dari pengetahuan langsung" dengan contoh kehidu¬pannya sendiri, yang mana kamu harus kembali kepada sutta- sutta 26, 36 dan 4. Akhirnya brahmana muda yang agak terkejut oleh gambaran Sang Buddha, bertanya apakah dewa-dewa itu ada. Sang Buddha menja¬wab bahwa mereka ada. "Catatlah, Orang-orang yang mempunyai kera¬guan".
1. Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu sangha sedang mengembara di kerajaan Kosala.
2. Pada kesempatan itu brahmani Dhananjani sedang berdiam di Candalakappa. Ia bekeyakinan teguh pada Sang Buddha, Dhamma dan Sangha,(pada suatu ketika) ia tersandung, (setelah ia tegak kembali) ia berseru tiga kali: "Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhas¬sa." (Terpujilah Sang Bhagava, Arahat yang telah mencapai penerangan sempurna).
3. Ketika itu ada seorang pemuda brahmana bernama Sangarava tinggal di Candalakappa, ia seorang yang ahli dalam tiga Veda, ia tahu isi dan dan komentar dari sejarah, kelima kekuasaan para brahmana, mantra-mantra dan indeksnya; ia menguasai ilmu alamiah dan tanda-tanda manusia besar (mahapurisa lakkhana). Ia mendengar Brahmani Dhananjani mengucapkan kata-kata itu, lalu ia berkata: Brahmani Dhananjani agaknya mempermalukan dan merendahkan derajat ketika dia memuliakan petapa gundul sedangkan para brahmana ada di situ."
"Tetapi beruntunglah engkau, engkau tak tahu apa-apa tentang kebajikan (sila) atau kebijaksanaan (panna) Sang Bhagava. Jika kau tahu, kau tidak akan pernah menghina dan mencaci maki dia."
"Lalu, Ibu, katakan padaku kapan Samana Gotama datang ke Candalakappa."
"Nanti saya katakan, berbahagialah sayangku", jawabnya.
4. Setelah berkelana secara bertahap di daerah Kosala, akhirnya Sang Bhagava tiba di Candalakappa. Beliau tinggal Candalakappa di kebun mangga milik brahmana Todeyya.
5. Brahmani Dananjani mendengar hal ini, maka ia pergi menemui Sangarava dan mengatakan hal itu kepadanya serta menambahkan:
"Sekarang waktunya, sayangku, untuk melakukan apa yang kau pikir pantas dilakukan."
"Ya, ibu.' jawabnya. Kemudian ia pergi menemui Sang Bhagava, saling memberi salam, setelah saling menyapa, ia duduk di tempat yang tersedia. Setelah duduk, ia berkata:
6. "Samana Gotama ada beberapa petapa dan brahmana yang menyatakan mengajarkan penghidupan suci (brahmacari) setelah menca¬pai penghidupan suci tertinggi, kesempurnaan dan pengetahuan langsung (abhin~n~a) pada kehidupan sekarang ini. Apakah Samana Gotama salah seorang dari mereka ini?"
7. "Bharadvaja, Saya nyatakan bahwa ada perbedaan antara para petapa dan brahmana yang menyatakan mengajarkan penghidupan suci (brahmacari) setelah mencapai penghidupan suci tertinggi, kesempurnaan dan abhin~n~a.
Ada beberapa petapa dan brahmana yang pada kehidupan sekar¬ang ini telah mencapai penghidupan suci tertinggi, kesempurnaan dan abhin~n~a dalam tradisi oral saja, menyatakan mengajarkan prinsip- prinsip penghidupan suci. Para brahmana tersebut adalah yang menguasai Tevij¬ja (tiga Veda).
Ada beberapa petapa dan brahmana yang pada kehidupan sekar¬ang ini telah mencapai penghidupan suci tertinggi, kesempurnaan dan abhin~n~a berdasarkan keyakinan, menyatakan mengajarkan prinsip- prinsip penghidupan suci. Mereka itu adalah para Skeptis Rationalis (Takki Vimamsi).
Ada beberapa petapa dan brahmana yang pada kehidupan sekar¬ang ini telah mencapai penghidupan suci tertinggi, kesempurnaan dan abhin~n~a karena mereka sendiri secara langsung mengetahui (abhin~n~aya) sendiri tentang Dhamma yaitu dhamma yang sebelumnya belum pernah terdengar, menyatakan mengajarkan prinsip-prinsip penghidupan suci.
Bharadvaja, Saya termasuk pada kelompok yang terakhir ini. Begitulah hal itu harus dimengerti.
8. Bharadvaja, sebelum Pencapaian Penerangan Agung-Ku, ketika Saya masih sebagai seorang Bodhisatta, saya berpikir:"Kehidupan berumah-tangga adalah sibuk dan kotor. Hidup tak berumah tangga adalah terbuka lebar. Untuk melaksanakan penghidupan suci yang sempurna dan murni bagaikan kulit kerang yang digosok adalah tidak mungkin dicapai dalam kehidupan berumah- tangga. Seandainya Saya mencukur rambut dan janggut-Ku, mengenakan jubah kuning dan me¬ninggalkan kehidupan duniawi menjadi petapa?
9-12. Kemudian pada waktu masih muda ... (seperti di dalam sutta 26: 14-17) .... Ini akan membantu usaha.
13-29. Sekarang ada tiga perumpamaan yang terjadi .... (seperti pada sutta 36: 17-133 ... kembali lagi pada kemewahan.
30-40. Sekarang, ketika Saya telah makan makanan yang keras dan mendapatkan kekuatan kembali, cukup jauh dari keinginan nafsu indera, jauh dari akusala-dhamma, Saya mencapai dan berada dalam Jhana 1 ... (seperti dalam sutta 4: 23-33) ... adalah seorang yang tetap rajin, penuh gairah dan tetap terkendali.
41. Ketika hal ini dikatakan, Sangarava berkata: "Usaha Samana Gotama adalah luar biasa, usaha Samana Gotama adalah menakjubkan sekali, hal ini hanya terjadi pada seorang yang Arahat Samma Sambud¬dha. Samana Gotama, tetapi apakah dewa itu ada?"
"Bharadvaja, seperti apa yang saya ketahui dan masuk akal bahwa dewa itu ada."
"Samana Gotama, bagaimana hal ini? Ketika Anda ditanya: 'Apakah dewa itu ada?' Anda menjawab: 'Seperti apa yang saya ketahui dan masuk akal bahwa dewa itu ada.' Jika demikian, maka jawaban Anda bukan kosong atau salah."
"Bharadvaja, ketika ditanya: 'Apakah dewa itu ada?' bila seseor¬ang berkata: 'Ada dewa', atau seseorang lain berkata: 'Seperti apa yang saya ketahui dan masuk akal bahwa dewa itu ada', maka dapat disimpul¬kan tanpa ragu oleh para bijaksana bahwa dewa itu ada."
"Mengapa Sama Gotama menjawabku hanya dengan cara yang pertama?"
"Bharadvaja, telah diakui secara luas di dunia bahwa dewa itu ada."
42. Ketika hal ini telah dikatakan, Sangarava berkata: "Sangat menakjubkan, Samana Gotama! Sangat Mengagumkan Samana Gotama! .... Ingatlah saya sebagai upasaka yang telah berlindung kepada Sang Bhagava untuk sepanjang hidup.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar