Selasa, 16 Maret 2010

Gopakamoggallanasutta

Gopakamoggallanasutta
108

Demikianlah yang saya dengar :
Pada suatu waktu, tidak terlalu lama setelah Sang Bhagava parinibbana, Bhante Ananda berdiam dekat Rajagaha di dalam Hutan Bambu di tempat memberi makan Tupai. Pada saat itu Raja Ajatasattu dari Magadha, putra dari Ratu di Videha, tidak percaya kepada Raja Pajjota, sehingga wilayah Rajagaha diperkuat. Pada waktu itu, pagi-pagi sekali, Bhante Ananda mengenakan pakaiannya, membawa mangkuk dan jubahnya, memasuki wilayah Rajagaha untuk meminta sedekah makanan. Saat itu terpikir oleh Bhante Ananda :”Saat ini masih terlalu pagi untuk meminta sedekah di Rajagaha. Bagaimana seandainya saya bercakap-cakap dengan brahmana Gopaka-Moggallana di tempat kerjanya?" Kemudian Bhante Ananda mendekati Brahmana Gopaka-Moggallana dan tempat kerjanya. Brahmana Gopaka Moggallana melihat kedatangan Bhante Ananda dari kejauhan; lalu demikianlah dia berkata kepadanya : ”Marilah Bhante Ananda yang baik datang, kehadiran Ananda akan selalu diterima dengan baik. Sudah lama sejak Ananda yang baik memberikan kesempatan untuk datang ke sini. Marilah Ananda yang baik duduk, tempat duduk ini telah disiapkan." Lalu Bhante Ananda duduk di tempat duduk yang telah ditunjukkan. Brahmana Gopaka Moggallana, duduk di tempat duduk yang lebih rendah, duduk dengan jarak yang terhormat. Sambil duduk di tempatnya dengan jarak yang terhormat, Brahmana Gopaka Moggallana berbicara demikian kepada Bhante Ananda : ”Dalam hal ini Ananda, adakah hanya satu bhikkhu yang dapat mengendalikan setiap jalan dan di setiap bagian dari semua keadaan di mana Sang Buddha yang baik, Sang Maha Sempurna, Pemilik Kesadaran Terting¬gi, dapat mengendalikannya?" “Dalam hal ini tidak ada satupun bhikkhu yang dapat mengendalikan setiap jalan dan di setiap bagian dari semua keadaan di mana Sang Buddha , Sang Maha Sempurna, Pemilik Kesadaran Tertinggi, dapat mengendalikannya. Brahmana, Sang Buddha ini adalah seorang yang menemukan suatu Jalan yang sebelumnya belum dapat ditemukan, menghasilkan suatu Jalan yang sebelumnya belum dapat dihasilkan, memperlihatkan suatu Jalan yang sebelumnya belum dapat diperlihatkan; dia adalah yang mem-punyai pengetahuan tentang Jalan, yang mengerti tentang Jalan, yang terlatih di dalam Jalan. Tetapi para penganut yang sekarang adalah pengikut Jalan, mengikut di belakangnya.” Tetapi percaka-pan diantara Bhante Ananda dan Brahmana Gopaka-Moggallana terpu¬tus oleh Brahmana Vassakara perdana mentri di Magadha, ketika sedang memeriksa pekerjaan dekat wilayah Rajagaha, beliau mende¬kati Bhante Ananda di tempat kerja Brahmana Gopaka Moggallana; setelah tiba, beliau saling bertukar salam dengan Bhante Ananda; menikmati percakapan yang bersahabat dan sopan, beliau duduk dengan jarak yang terhormat. Sambil duduk dengan jarak yang ter¬hormat, Brahmana Vassakara, perdana mentri di Magadha, berkata demikian kepada Bhante Ananda :” Ada apa, Ananda, percakapan yang mana yang membuat kalian duduk di sini? Dan apa percakapan kalian yang terputus karena saya?” “Seperti inilah, Brahmana, Brahmana Gopaka Moggallana berkata demikian kepada saya : ”Dalam hal ini, Ananda, adakah hanya satu bhiksu yang dapat mengendali¬kan setiap jalan dan di setiap bagian dari semua keadaan di mana Sang Budha yang baik, Sang Maha Sempurna, Pemilik Kesadaran Tertinggi dapat mengendalikannya?” Ketika itu demikianlah saya berkata, Saya, Brahmana, berbicara demikian kepada Brahmana Gopaka-Moggallana : ” Dalam hal ini tidak ada satupun bhikkhu . . . [9] . . . Tetapi para pengikut yang sekarang ini adalah pengikut Jalan, mengikut di belakangnya.” Brahmana, hal ini, adalah percakapan yang terputus diantara Brahmana Gopaka Moggallana dan saya sendiri. Untuk kemudian engkau tiba." “Ananda yang baik, dalam hal ini, seorang bhikkhu yang ditunjuk oleh Sang Buddha yang baik sendiripun berkata: ”Setelah saya berlalu hal ini bisa menjadi pendukung kalian dan kepada siapa kalian dapat meminta bantuan sekarang?” “Brahmana,dalam hal ini tidak ada satupun bhikkhu, yang telah ditunjuk oleh Sang Buddha yang mengetahui dan melihat, Sang Maha Sempurna, Pemilik Kesadar¬an Tertinggi berkata : ”Setelah saya berlalu ini dapat menjadi pendukungmu,” dan kepada siapa kita dapat meminta bantuan sekarang." “Ananda, tetapi dalam hal ini, adakah hanya satu bhikkhu, yang telah dimufakati oleh Sang Hukum dan ditunjuk oleh sejumlah bhiksu yang lebih tua, berkata: ”Sesudah Sang Budha berlalu ini dapat menjadi pendukung kami,” dan kepada siapa kami dapat meminta bantuan sekarang?” “Brahamana, dalam hal ini tidak ada satupun bhikkhu yang telah disetujui oleh Sang Hukum...dan kepada siapa kami dapat meminta bantuan sekarang." "Tetapi Ananda yang baik, seperti kalian dengan demikian tidak mendapat dukun¬gan, apa yang menjadi sebab keharmonisan kalian?” “Brahmana, kami bukanlah tanpa pendukung, kami mendapat dukungan, brahmana. Dukungan kami adalah Dhamma. ”Ketika engkau bertanya: ”Dalam hal ini Ananda yang baik, adakah hanya satu bhikkhu yang mana telah ditunjuk oleh Sang Buddha yang baik, berkata : Setelah saya berlalu hal ini dapat menjadi dukungan bagi kalian, dan kepada siapa kalian dapat meminta bantuan sekarang?” engkau berkata : ”Dalam hal ini tidak ada satupun bhikkhu . . . kepada siapa kita dapat meminta bantuan sekarang.” Ketika engkau ditanya: ” Dalam hal ini Ananda yang baik, adakah hanya satu bhikkhu yang disetujui oleh Sang Hukum dan ditunjuk oleh sejumlah bhikkhu yang sudah tua, berkata: Sesudah Sang Buddha berlalu, ini dapat menjadi dukungan kami dan kepada siapa kami dapat meminta bantuan sekarang?” Engkau berkata : ”Dalam hal ini tidak ada satupun bhikkhu . . . [10] . . . kepada siapa kami dapat meminta bantuan sekarang.” Ketika engkau ditanya: ” Tetapi seperti kalian tidak mendapatkan dukungan, Ananda yang baik, apa yang menyebabkan kalian dapat bersatu?” engkau berkata: ”Kami, brahmana, adalah bukan tanpa dukungan, kami mendapatkan dukungan, brahmana. Dhamma adalah dukungannya.” Ananda yang baik, apakah arti yang berasal dari anggapan bahwa dhamma adalah pendukung dari apa yang telah dika¬takan?” Dalam hal ini, brahmana, suatu hukum dari pelatihan ditentukan, suatu Kewajiban ditunjuk untuk para bhikkhu oleh Sang Buddha yang mengetahui dan mendengar, Yang Maha Sempurna, Pemilik Kesadaran Tertinggi. Pada setiap Hari Perayaan kami yang hidup bergantung di bidang dan di desa yang sama secara sendiri dan bersama-sama berkumpul bersama di hari yang sama, dan ketika kami sudah berkumpul bersama, kami menanyakan apa yang sudah dialami oleh setiap orang. Waktu itu diceritakan jika terdapat kejahatan, pelanggaran hukum di suatu bidang oleh seorang bhikkhu, kami membuat dia berurusan sesuai menurut hukum yang berlaku, sesuai menurut petunjuk yang berlaku. Sebenarnya dalam hal ini, Sang Maha Suci tidak berhubungan dengan kami, dalam hal ini, hukumlah yang berhubungan dengan kami."
"Sekarang demikianlah, Ananda yang baik, biarpun hanya satu bhikkhu kepada siapa kalian puja, hormat, hargai, dan taati dan kepada siapa, pujaan dan penghormatan diberikan kepadanya, kalian hidup di dalam ketergantungan?” “Dalam hal ini, brahmana, biar¬pun hanya satu bhikkhu kepada siapa kita puja . . . dan kita hormati dan kepada siapa, penghormatan dan penghargaan diberikan, kita hidup di dalam ketergantungan." Ketika engkau ditanya : “Dalam hal ini Ananda yang baik, adakah hanya satu bhikkhu yang sudah ditunjuk oleh Sang Buddha yang baik . . .[11]. . .” Engkau berkata: ” Dalam hal ini, brahmana, tidak ada satupun bhikkhu yang telah disetujui oleh Sang Hukum dan ditunjuk oleh sejumlah bhikkhu yang sudah tua berkata: “Sesudah Sang Buddha berlalu ini dapat menjadi penengah/pemisah kami, dan kepada siapa kami dapat meminta bantuan sekarang?” Ketika engkau ditanya: ”Sekarang demikianlah Ananda yang baik, biarpun hanya satu bhikkhu yang kalian puja, hormat, hargai, dan taati dan kepada siapa pujaan dan penghormatan itu diberikan, kalian hidup di dalam ketergan-tungan?” Engkau berkata : ”Dalam hal ini brahmana, biarpun hanya satu bhikkhu kepada siapa kita puja . . . dan hormati dan kepada siapa pujaan dan penghormatan diberikan, kita hidup di dalam ketergantungan.” Ananda yang baik , apakah arti yang berasal dari anggapan bahwa dhamma adalah pendukung dari apa yang telah dika¬takan?” “Dalam hal ini, brahmana, sepuluh hal yang dapat memuas¬kan yang telah ditunjukkan oleh Sang Buddha yang mengetahui dan mendengar, Sang Maha Sempurna, Pemilik Kesadaran Tertinggi. Kepada siapa saja diantara kami hal-hal ini muncul, dia kepada siapa kita puja, hormati, hargai, segani dan kepada siapa pujaan dan penghormatan diberikan, kita hidup di dalam ketergantungan. Apakah sepuluh hal tersebut? Beginilah, brahmana, seorang bhiksu adalah moral, dia hidup dikendalikan oleh kendali Kewajiban, diwarisi oleh tingkah laku dan rerumputan, melihat mara bahaya dengan sedikit sekali kesalahan dan bertanggung jawab atas mereka, dia melatih dirinya sendiri dengan peraturan-peraturan dari pelatihan. Dia adalah seseorang yang mendengar banyak, mengingat apa yang telah dia dengar, menyimpan apa yang telah dia dengar; hal-hal tersebut yang mana pada awalnya indah, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya dan yang mana, dengan arti dan jiwa, yang menyatakan kemajuan Brahmana sama sekali terpenuhi, secara sempurna dimurnikan, hal-hal seperti ini sudah banyak didengarnya, dilahirkan di dalam pikirannya, dibiasakan oleh pidatonya, dipikirkan matang-matang di dalam pikirannya, dipahami dengan baik dengan pandangan yang benar. Dia diperleng¬kapi dengan bahan jubah yang diwajibkan, sedekah makanan, tempat penginapan, dan obat-obatan untuk yang sakit. Dia adalah seorang yang memperoleh dengan sesuka hati, tanpa masalah, tanpa kesuli¬tan, empat meditasi yang memerlukan rohani yang paling murni, kekekalan yang tak kunjung habis adalah sesuatu yang mudah sekar¬ang di sini. Dia mengalami berbagai ragam bentuk dari kekuatan jasmani; setelah menjadi satu dia menjadi bermacam-macam, setelah menjadi bermacam-macam dia menjadi satu; menyatakan dengan jelas atau tidak terlihat dia pergi dengan tidak dihalangi, menembus tembok, kubu pertahanan atau sebuah gunung sama seperti jika menembus udara; dia terjun ke dalam tanah dan naik kembali sama seperti jika berada di dalam air; dia berjalan di atas air tanpa membe¬lahnya sama seperti jika berada di atas tanah; [12] dengan duduk bersila dia melakukan perjalanan melewati langit seperti seekor burung dengan sayapnya; dengan tangannya dia menggeser dan memu¬kul bulan dan Matahari biarpun mereka sangat kuat dan agung; dan biarpun sama jauhnya seperti dunia Brahmana dia memiliki kekuatan untuk dihormati oleh pengikutnya. Dengan kemurnian Dewa seperti mendengar melebihi manusia, dia mendengar dua jenis suara - suara seperti dewa dan suara manusia, apakah suara -suara itu jauh atau dekat. Dia mengetahui berdasarkan intuisi melalui pikiran, pikir¬an-pikiran dari makhluk-makhluk lain, manusia-manusia lain se¬hingga dia dapat memahami pikiran yang dipenuhi oleh pengikatan . . . kebencian . . . kekacauan yang semuanya ini dipenuhi oleh pengikatan . . . kebencian . . . kekacauan; atau dalam suatu pikiran yang tanpa pengikatan . . . tanpa kebencian . . . tanpa kekacauan yang semuanya ini tanpa pengika¬tan . . . kebencian . . . kekacauan; atau dia memahami suatu pikiran yang menderita yang oleh karenanya menderita; atau dia memahami suatu pikiran yang membingungkan yang oleh karenanya membingungkan; atau dia memahami suatu pikiran yang menjadi hebat yang oleh karenanya menjadi hebat; atau dia memahami suatu pikir¬an yang tidak menjadi hebat yang oleh karenanya tidak menjadi hebat; atau dia memahami suatu pikiran yang lebih baik untuk pikiran itu sendiri yang oleh karenanya pikiran itu lebih baik untuk pikiran itu sendiri; atau dia memahami suatu pikiran yang tidak lebih baik untuk pikiran itu sendiri yang oleh karenanya pikiran itu tidak lebih baik untuk pikiran itu sendiri; atau dia memahami suatu pikiran yang tenang yang oleh karenannya menjadi tenang, atau dia memahami suatu pikiran yang tidak tenang yang oleh karenanya tidak menjadi tenang; atau dia memahami suatu pikiran yang bebas yang oleh karenaya menjadi bebas; atau dia memahami suatu pikiran yang tidak bebas yang oleh karenanya menjadi tidak bebas. Dia mengumpulkan kembali beraneka ragam tempat menetap para pendahulu, dengan ini dikatakan kelahiran pertama, kelahiran kedua . . . dia mengumpulkan kembali beraneka ragam tempat menetap para pendahulu. Dengan kemurnian penglihatan dewa yang tidak ada tandingannya dia melihat manusia seperti melampaui masa yang sekarang dan yang akan datang dan dia memaha¬mi apa arti manusia, sangat baik, jujur, jahat, di dalam suatu kelahiran yang baik, di dalam suatu kelahiran yang buruk tergan¬tung akibat dari perbuatannya. Melalui kerusakan yang disebabkan oleh sejenis penyakit yang merusak, mendapat kesadaran melalui pengetahuannya sendiri yang maha tinggi di sini dan sekarang kebebasan pikiran dan kebebasan melalui instuisi kebijaksanaan yang bebas dari penyakit yang merusak, memasuki suatu tempat dia tinggal di dalamnya. Ini, brahmana, adalah sepuluh hal-hal yang dapat memuaskan yang sudah ditunjukkan oleh Sang Buddha yang mengetahui dan mendengar, Sang Maha Sempurna, Pemilik Kesadaran Tertinggi. Di dalam siapa saja diantara kami hal-hal ini muncul, dia yang kita puja, hormati, hargai, taati dan di dalam dia, pujaan dan penghormatan diberikan, kita hidup di dalam ketergan¬tungan."
[13] Ketika hal ini sudah dikatakan, Brahmana Vassakaara, , perdana menteri di Magadha, berbicara demikian kepada Jendral Upananda :” Apa yang engkau pikirkan mengenai hal ini? Jika itu demikian, Jendral, hal ini adalah baik bila tuan memuja apa yang seharusnya dipuja, menhormati apa yang seharusnya dihormati, menghargai apa yang seharusnya dihargai, mentaati apa yang sehar¬usnya ditaati, kemudian hal ini adalah baik bila tuan-tuan memuja yang paling pasti yang harus dipuja . . . mentaati apa yang seharusnya ditaati. Jika hal ini adalah baik untuk tidak memuja, menghormati, menghargai, atau mentaati hal ini, kemudian siapa yang berada di atas bumi dapat memuja hal yang baik tuan-tuan . . . dan menghormati dan kepada siapa, pujaan dan penghor¬matan diberikan kepadanya, dapatkah mereka hidup di dalam keter¬gantungan?” Kemudian Vassakara, perdana menteri di Magadha, berbicara demikian kepada Bhante Ananda :” Tetapi di manakah Ananda yang baik tinggal sekarang?”“ Saya, brahmana, sekarang ini tinggal di dalam Hutan Bambu."“ Ananda yang baik, saya berharap bahwa Hutan Bambu adalah tempat yang menyenangkan, dengan sedikit suara, sedikit kebisingan, terlindung dari angin, terpencil dari kedatangan manusia, dan cocok untuk bermeditasi sendirian?”“ Tentu saja semuanya, brahmana, Hutan Bambu adalah tempat yang menyenangkan, dengan sedikit suara, sedikit kebisin¬gan, terlindung dari angin, terpencil dari kedatangan manusia, cocok untuk bermeditasi sendirian sama sesuainya dengan pelindun¬gan dan penjagaan seperti diri kamu sendiri."“ Tentu saja se¬muanya, Ananda yang baikk, Hutan Bambu adalah tempat yang menye¬nangkan, dengan sedikit suara, sedikit kebisingan, terlindung dari angin, terpencil dari kedatangan manusia, dan cocok untuk bermeditasi sendirian sama sesuainya dengan seorang pertapa dan mereka yang menyelesaikan meditasi seperti Sang Buddha. Sang Buddha adalah kedua-duanya, pertapa dan menyelesaikan meditasi. Ananda yang baik, pada suatu waktu, Yang Mulia Buddha Gotama tinggal di dekat Vesali di Hutan Besar di dalam aula sebuah rumah yang dindingnya berbentuk segitiga pada ujung atapnya (Gabled House). Ananda yang baik, kemudian saya mendekati Yang Mulia Buddha Gotama di Hutan Besar di dalam aula sebuah rumah yang dindingnya berbentuk segitiga pada ujung atapnya. Ketika dia berada di sana Yang Mulia Buddha Gotama di dalam beberapa bentuk pengungkapan/pembicaraan berbicara di dalam meditasinya. Yang Mulia Buddha Gotama adalah seorang petapa dan dia menyelesaikan meditasinya; dan Yang Mulia Buddha Gotama memuji setiap bentuk meditasi."“Tidak, brahmana, Sang Buddha tidak memuji setiap bentuk meditasi. Brahmana, jenis meditasi yang bagaimana yang oleh Sang Buddha tidak dipuji? Seperti demikianlah, brahmana, seseorang yang berdiam dengan pikirannya yang dihantui oleh ikatan akan kesenangan indrawi, mengatasi melalui ikatan pada kesenangan indrawi, dan dia tidak memahami seperti itukah sebe-narnya jalan keluar dari ikatan akan kesenangan indrawi yang sudah timbul; dia, sudah dibuat terikat kepada kesenangan indrawi atas hal-hal yang utama, bermeditasi padanya, senang bermeditasi padanya, lebih senang dalam bermeditasi padanya. Dia berdiam di dalam pikirannya yang dihantui oleh keinginan yang buruk, menjadi lemah oleh keinginan yang buruk, dan dia tidak memahami seperti itukah sesungguhnya jalan keluar dari keinginan buruk yang mulai timbul; dia, sudah membuat keinginan yang buruk atas hal-hal yang utama, bermeditasi padanya, senang bermeditasi padanya, lebih senang dalam bermeditasi padanya, benar-benar bermeditasi padanya. Dia berdiam di dalam pikirannya yang dihantui oleh kemalasan dan kelambanan . . . dengan kegelisahan dan ketakutan . . . oleh keragu-raguan, menjadi lemah oleh keragu-raguan, dan dia tidak memahami seperti itukah sesungguhnya jalan ke luar dari keragu-raguan yang mulai timbul; dia, sudah dibuat ragu-ragu oleh hal-hal yang utama, bermeditasi padanya, senang bermeditasi padanya, lebih senang dalam bermeditasi padanya, benar-benar bermeditasi padanya. Sang Buddha tidak memuji jenis meditasi ini, brahmana. Dan jenis meditasi yang bagaimana, brah¬mana, yang Sang Buddha puji? Seperti hal ini, brahmana, seorang bhiksu, menyendiri dari kesenangan indrawi, menyendiri dari situasi pikiran yang tidak terlatih, memasuki dan tinggal di dalam meditasi yang pertama yang dalam hal ini disertai oleh pemikiran yang pertama dan pemikiran yang menyimpang dari pokok nya, ini melahirkan kesendirian, dan ini mempesona dan menggem¬birakan. Dengan menghilangkan pemikiran yang pertama dan pemikir¬an yang menyimpang dari pokoknya, dengan pemikiran yang secara subyektif menenangkan dan terpaku pada satu tujuan, dia memasuki dan tinggal di dalam meditasi yang kedua yang mana tanpa pemi¬kiran yang pertama dan pemikiran yang menyimpang dari pokoknya, ini melahirkan suatu konsentrasi, dan ini mempesona dan menggem¬birakan . . . dia memasuki dan tinggal di dalam meditasi yang ketiga dan meditasi yang keempat. Sang Buddha memuji meditasi jenis yang demikian, brahmana."“ Sesungguhnya, Ananda yang baik, Sang Buddha Gotama yang baik memandang rendah meditasi yang dalam hal ini tercela, memuji meditasi yang dalam hal ini terpuji. Tetapi sekarang, Ananda yang baik, jika engkau berkenan, kami harus pergi. Kami sangat sibuk, masih banyak hal yang harus dikerjakan."“ Brahmana, kalian kerjakanlah itu untuk yang seba-gaimana kalian menganggap sekaranglah saatnya waktu yang tepat."
[ 15 ] Kemudian Vassakara, perdana menteri di Magadha, bergembira atas apa yang telah bhante Ananda katakan, memberikan terima kasih, bangkit dan berangkat dari tempat duduknya. Kemudian tidak lama setelah brahmana Vassakara, perdana menteri di Magadha, sudah berangkat, brahmana Gopaka Moggallana berbicara demikian kepada Bhante Ananda :” Ananda yang baik telah menjelaskan kepada kami apa yang telah kami tanyakan."“ Apakah kami tidak mengatakan demikian kepada kamu, brahmana :”Brahamana, dalam hal ini tidak ada satupun bhiksu, yang dapat mengendalikan di setiap jalan dan di setiap bagian dari semua keadaan dimana Sang Buddha, Sang Maha Sempurna, Pemilik Kesadaran Tertinggi, dapat mengenda-likannya.” Untuk itu, brahmana, Sang Buddha ini adalah seorang yang menemukan suatu Jalan yang sebelumnya belum dapat ditemukan, menghasilkan suatu Jalan yang sebelumnya belum dapat dihasilkan, menunjukkan suatu Jalan yang sebelumnya belum dapat ditunjukkan; dia adalah yang mempunyai pengetahuan tentang Jalan, yang menger¬ti tentang Jalan, terlatih di dalam Jalan. Tetapi para pengikut yang sekarang adalah Pengikut Jalan mengikuti di belakang dia”?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar