BHADDALI SUTTA
(65)
Demikian yang telah kudengar:
Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di dekat Savatthi di dalam Hutan Jeta di vihara milik Anathapindika. Ketika Beliau sedang berada di sana, Sang Buddha menegur pada bhikkhu dan berkatalah: "Para bhikkhu." "Ya, Tuanku," semua bhikkhu itu menjawab serentak menyetujuinya. Sang Buddha berkata demikian: "Aku, para bhikkhu, menyantap makanan yang diberikan kepada-Ku hanya satu kali saja. Dengan menyantap makanan makanan-Ku hanya sekali saja, Aku, para bhikkhu, aku sadar akan kesehatan-Ku serta dalam keadaan tanpa penya¬kit dan keceriaan dan kekuatan dan hidup enak. Marilah, berbuatlah demikian juga, para bhikkhu, santaplah makanan-mu hanya sekali saja. Dengan menyantap makanan satu kali saja, kamu juga, para bhikkhu, akan sadar akan kesehatanmu, akan menjadi orang tanpa penyakit, menjadi ceria dan kuat serta hidup enak."
Ketika hal ini telah diucapkan, yang mulia bhante Bhaddali bicara demikian kepada Sang Buddha: "Aku, Yang Mulia, tidak mampu makan makanan-ku hanya sekali saja; Yang Mulia, apakah aku makan maka¬nanmu hanya sekali saja, aku akan mempunyai rasa keseganan, aku akan mempunyai rasa keragu-raguan."
"Baiklah kamu, Bhaddali, setelah menyantap satu porsi kemudian kamu diundang makan di sana, setelah mengambil satu porsi lagi di sana, boleh makan bagian itu juga; dengan demikian [438] kamu boleh, Bhaddali, makan cara demikian, tetap melaksanakan apa maumu."
"Aku, Yang Mulia, tidaklah mampu untuk makan cara demikian; sekalipun dengan cara makan seperti itu, Yang Mulia, aku mungkin akan mempunyai rasa keseganan aku mungkin akan mempunyai rasa keragu-raguan."
Kemudian bhante Bhaddali, sementara peraturan latihan telah digariskan oleh Sang Buddha, sementara anggota Sangha telah menjalani peraturan tersebut, kamu malah memperkenalkan tentang ketidak kemampuan-mu. Kemudian bhante Bhaddali tidak pernah berjumpa dengan Sang Buddha selama tiga bulan lamanya disebabkan karena ia adalah seseorang yang tidak menjalankan latihan secara sepenuhnya dibawa instruksi Sang Guru.
Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang membuat bahan jubah untuk Sang Buddha, dan mereka berkata: "Apabila bahan jubah Sang Buddha telah selesai dibuat, Beliau akan melakukan bepergian selama tiga bulan." Kemudian bhante Bhaddali datang mendekati para bhikkhu; setelah datang mendekat, ia saling bertukar penghormatan; dan setelah melakukan pembicaraan-pembicaraan yang bersahabat serta hormat, maka duduklah ia pada suatu jarak yang hormat. Bhikkhu-bhikkhu ini bicara demikian kepada bhante Bhaddali ketika ia sudah duduk pada suatu jarak yang hormat:
"Bhante Bhaddali, bahan jubah ini sedang dibuat untuk Sang Buddha. Apabila jubah ini sudah selesai, Sang Buddha akan melakukan perjalanan tiga bulan. Marilah, bhante Bhaddali, silahkan ambil perha¬tian dengan seksama terhadap kesempatan ini, apabila tidak kemudian akan menjadi lebih sukar bagimu."
"Ya, para bhante," dan kemudian bhante Bhaddali sesudah menjawab para bhante menyetujuinya, datang mendekati Sang Buddha; sesudah mendekat, sesudah memberi hormat Sang Buddha, duduklah ia pada suatu jarak yang hormat. Ketika ia sudah duduk pada suatu jarak yang hormat, bhante Bhaddali bicara demikian kepada Sang Buddha:
"Yang Mulia, suatu pelampaun batas telah meliputi diriku, bodoh, salah bimbing dan sama sekali salah adalah diriku ini, sehubun¬gan dengan aku telah memberitahukan tentang ketidakmampuanku ketika suatu peraturan latihan telah diterapkan oleh Sang Buddha dan ketika pada anggota Sangha telah menjalankan latihan mereka itu. Yang Mulia, semoga Sang Buddha menyetujui pelampauan batas itu sebagai pelam¬pauan batas saja demi untuk pengekangan di waktu yang akan datang."
"Demikian nyatanya, Bhadali, pelampauan batas telah meliputi dirimu, bodoh, salah bimbing dan salah sama sekali dirimu itu, dan sehubungan dengan sebuah peraturan latihan yang telah diturunkan oleh diriku dan sementara latihan tersebut sedang dijalani oleh bhikkhu Sangha, kamu menyatakan ketidakmampuanmu itu.
Pada waktu itu hal tersebut tidak disadari olehmu, Bhaddali: Sang Buddha sedang tinggal di dekat Savatthi dan Sang Buddha akan tahu tentang diriku bahwasanya bhikkhu bernama Bhaddali adalah seseorang yang tidak menjalankan latihan sepenuhnya di bawah instruksi Sang Guru. Pada waktu itu hal ini tidak kamu sadari, Bhaddali. Pula, pada waktu itu hal ini tidaklah kamu sadari, Bhadali: Sejumlah [439] bhikkhu yang telah datang ke Savatthi untuk beristirahat musim hujan juga telah mengetahui tentang diriku, bahwasanya bhikkhu bernama Bhaddali adalah bukan seseorang yang menjalankan latihan sepenuhnya di bawah bimbingan atau instruksi dari Sang Guru. Pada waktu itu hal ini tidaklah kamu sadari juga, Bhaddali. Juga pada waktu hal ini tidak disadari olehmu, Bhaddali: (Tidak juga pada waktu itu hal ini disadari olehmu, Bhaddali) Sejumlah bhikkhuni yang telah datang ke Savatthi untuk beri¬stirahat musim dingin juga telah mengetahui tentang diriku ... sejumlah orang-orang pengikut awam yang tinggal di Savathi ... sejumlah wanita-wanita pengikut awam yang tinggal di Savathi akan juga mengetahui tentang diriku bahwasanya bhikkhu yang bernama Bhaddali adalah bukan seseorang yang menjalankan latihan sepenuhnya di bawah instruksi dari Sang Buddha. Pada waktu hal ini tidak disadari olehmu juga, Bhaddali. Tidak juga pada waktu itu ini tidak disadari oleh-mu, Bhaddali: sejumlah kaum petapa serta brahmana termasuk sekte lain yang telah datang ke Savatthi untuk beristirahat musim dingin akan tahu juga tentang diriku bahwasanya bhikkhu bernama Bhaddali, seorang siswa dan seorang tetua di bawah bimbingan petapa Gotama, adalah bukan seorang yang menja¬lankan sepenuhnya latihan yang diinstruksikan oleh Sang Guru. Pada waktu itu hal ini tidak juga disadari olehmu, Bhaddali."
"Tuan Yang Mulia, suatu pelampauan batas telah meliputi diriku, bodoh, salah bimbing dan salah sama sekali adalah diriku itu ... semoga Sang Buddha menyatakan menerima bahwasanya pelampauan batas ini sebagai suatu pelampauan batas saja demi penegkangan diwaktu yang akan datang."
"Demikianlah nyatanya, Bhaddali, suatu pelampauan batas telah meliputi dirimu, bodoh, salah bimbing, dan salah sama sekali adalah dirimu itu, sehubungan dengan sebuah peraturan tentang latihan yang telah diturunkan oleh-Ku dan sementar latihan itu sedang dijalankan oleh Bhikkhu Sangha, kamu malah menyatakan ketidak sanggupan-mua itu.
Apa yang kamu pikirkan tentang hal ini, Bhaddali? Mungkin bisa terdapat seorang bhikkhu di sini, terbebas dari kedua jalan, kepada siapa Aku mungkin dapat menyeberang dari lumpur ini.' Apakah ia akan menjadikan dirinya sendiri sebagai jembatan penyeberangan atau apakah ia akan memutar tubuhnya (ke arah lain), atau apakah ia akan mengata¬kan Tidak?"
"Tidak demikian, Yang Mulia."
"Apa yang kamu pikirkan tentang hal ini, Bhaddali? Di sana mungkin terdapat seorang bhikkhu, terbebas karena kebijaksanaan intuisi ...pelaksana ... memenangkan terhadap pandangan ... terbebas karena kepercayaan ... yang berusaha mati-matian terhadap Dhamma ... yang berusaha mati-matian terhadap kepercayaan, dan kepada siapa Aku mungkin berbicara demikian: "Marilah kamu, hai, bhikkhu, jadilah sebagai sebuah jalan penyeberangan untuk Aku menyeberang genangan lumpur ini.' Apakah ia akan membuat dirinya sendiri sebagai jembatan penyeberangan, atau apakah ia akan memutar badannya. atau apakah ia akan berkata tidak?"
"Bukan demikian, Yang Mulia."
"Apa yang kamu pikirkan tentang hal ini, Bhaddali? Pada waktu itu terdapatlah diri mu, Bhaddali, terbebas dari kedua jalan [440] atau terbebas melalui kebijaksanaan intiutip atau pelaksana mental atau se¬seorang yang telah memenangkan pandangan atau seseorang yang terbe¬bas melalui kepercayaan atau seseorang yang berusaha mati-matian terhadap Dhamma atau seseorang yang berusaha mati-matian terhadap kepercayaan?"
"Bukan demikian, Yang Mulia."
"Dan pada waktu itu terdapatlah dirimu, Bhaddali, kosong, hampa, kekurangan segala-galanya?"
"Ya, Yang Mulia. Yang Mulia, pelampauan telah meliputi diriku, bodoh, salah bimbing, salah sekali adalah diriku, dikarenakan aku telah menyatakan suatu ketidakmampuanku sememtara suatu peraturan tentang latihan sedang diturunkan/digariskan oleh Sang Buddha dan sementar itu latihan sedang dijalankan oleh Bhikkhu Sangha. Semoga Sang Buddha bisa mengakui bahwasanya pelampauan batas ini adalah hanya demi untuk pengekangan di waktu yang akan datang."
"Ternyata demikianlah, Bhaddali, suatu pelampauan batas telah meliputi dirimu, bodoh, salah bimbing dans alah sama sekali adalah dirimu itu, karena sementara suatu peraturan tentang latihan sedang digarikan oleh-Ku, dan sementara latihan itu sedang dijalani oleh para Bhikkhu Sangha, kamu menyatakan ketidakmampuanmu itu. Tetapi sejak kamu melihat bahwasanya pelampauan batas itu sebagai pelanggaran dan mengakuinya sesuai dengan peraturan. Kita dapat memaklumi bagimu. Sebab, Bhaddali, di dalam disiplin bagi seorang arya, hal ini berkem¬bang: barang siapa melihat suatu pelanggaran sebagai suatu pelanggar¬an, mengakuinya sesuai dengan peraturan, tibalah ia pada suatu penge¬kangan diri di waktu yang akan datang.
Yang dimaksud di sini, Bhaddali, beberapa bhikkhu yang tidak menjalankan sepenuhnya instruksi dari Sang Guru. Terjadilah padanya: "Seandai aku harus tinggal di tempat tinggal terpencil ke dalam hutan, ke akar dari sebuah pohon, di celah gunung, tempat liar, di gua, di kubur¬an, di dalam padatnya pohon-pohon, di udara terbuka, di satu gundukan jerami, aku seharusnya menyadari kondisi-kondisi dari orang-orang lebih lanjut, pengeetahuan serta pandangan batin yang menakjubkan yang cocok bagi kaum arya.' Oleh karena itu maka tinggallah ia di tempat terpencil ke dalam hutan, ke akar pohon ... ke segundukan jerami. Ketika ia sedang tinggal sendirian dalam cara demikian Sang Guru memarahinya, dan ketika mereka telah menyelidiki dirinya, para sesama kelana Brahmana yang pandai memarahinya, dan para devata memara-hinya, dan pribadi memarahi diri sendiri. Ia, degan dimarahi oleh Sang Guru, dan dimarahi oleh sesama para Brahmana, sesudah mereka menye¬lidiki dirinya itu, dan di marahi oleh para devata, dan pribadi yang dimarahi oleh diri sendiri, tidak menyadari kondisi-kondisi dari orang-orang lebih lanjut, pengetahuan serta pandangan batin menakjubkan yang cocok bagi para aryan. Apakah sebabnya, bhikkhu, apa alasannya mengapa mereka tidak terus menerus mengambil tindakan sama terhadap beberapa bhikkhu di sini?"
Untuk hal ini, Bhaddali, beberapa bhikkhu adalah merupakan terus menerus dirinya, ia mengalihkan pertanyaan dengan menanyakan hal lain, ia menjawab di luar titik makalahnya, ia menunjukkan jelas-jelas kemarahan dan ketidak puasan, ia tidak bertingkah laku layaknya, tidak mereda, tidak memperbaiki cara-caranya, dan tidak mengatakan: "Apa yang dapat aku lakukan untuk menyenangkan Sangha?' Oleh Sebab itu, Bhaddali, hal ini terjadi pada para bhikkhu: "Bhikkhu ini, yang mulia, adalaha pelanggar terus menerus, pada dirinya penuh dengan pelanggaran-pelanggaran. Apabila dibicarakan oleh para bhikkhu ia mengalihkan pertanyaan ... dan tidak mengatakan: "Apa yang dapat aku lakukan untuk menyenangkan Sangha?" [443] Adalah lebih apabila Yang Mulia mau menyelidiki bhikkhu ini sedemikian rupa sehingga pertanyaan yang syah ini tidak akan diselesaikan dan cepat-cepat.' Demikianlah, Bhaddali, para bhikkhu itu menyelidiki bhikkhu tersebut dengan cara sedemikian sehigga pertanyaan yang syah ini tidak akan diselesaikan dengan cepat-cepat.
Tetapi, Bhaddali, beberapa bhikkhu adalah merupakan pelanggar terus menerus, penuh dengan pelanggaran-pelanggaran. Ia, ketika dibi¬carakan oleh para bhikkhu tidak mengalihkan pertanyaan-pertanyaan dengan menanyakan kepada orang lain, ia tidak menjawab di luar titik makalahnya, ia tidak memperlihatkan kemarahan serta kemauan jahat dan tidak puas, ia bertingkah laku dengan wajar, dapat ditenangkan pera¬saannya, diperbaiki cara-cara perbuatannya, dan ia berkata: "Apa yang dapat aku lakukan untuk menyenangkan Sangha?' Oleh sebab itu Bhadda¬li, terjadilah pada para bhikkhu itu: "Bhikkhu ini, para bhikkhu, adalah pelanggar tetap ... dan ia berkata: "Apa yang dapat aku lakukan untuk menyenangkan Sangha?" Adalah lebih baik apabila Yang Mulia mau menyelidiki bhikkhu ini sedemikian sehingga pertanyaan yang syah terhadap dirinya itu bisa diselesaikan secepatnylanya.' Demikianlah, Bhadali, para bhikkhu ini menyelidiki bhikkhu itu sedemikian rupa sehingga pertanyaan syah terhadarp dirinya itu dapat diselesaikan sece¬patnya.
Kemudian, Bhaddali, beberapa bhikkhu di sini merupakan pe¬langgaran sesekali saja, pada dirinya tidak memiliki pelanggaran sepe¬nuhnya. Tetapi ia, apabila dibicarakan oleh para bhikkhu, mengalihkan atau meredam pertanyaan dengan menanyakakan kepada bhikkhu lain, ia memberi jawaban dengan mengalihkan titik makalahnya, ia memperli¬hatkan amarah dan kemudian jahat dan rasa tidak puas, ia tidak berting¬kah laku wajar, tidak ditenangkan, tidak memperbaiki cara-caranya, dan ia tidak mengatakan: 'Apa yang dapat aku lakukan untuk menyenangkan Sangha?' Oleh sebab itu, Bhaddhali, terjadilah para bhikkhu: 'Bhikkhu ini, Yang Mulia, adalah merupakan bhikkhu yang kadang-kadang mela¬kukan pelanggaran, pada dirinya tidak terdapat pelanggaran-pelanggaran penuh ... ia tidak mengatakan: "Apa yang dapat aku lakukan untuk menyenangkan Sangha?" Adalah baik apabila Yang Mulia mau mnyelidi¬ki bhikkhu ini sedemikian rupa sehingga pertanyaan yang syah terhadap dirinya itu tidak akan diselesaikan secepatnya.' Demikianlah, Bhaddali, para bhikkhu menyelidiki bhikkhu itu sedemikian rupa sehingga [444] pertanyaan yang syah terhadap dirinya itu tidak diselesaikan secepatnya.
Tetapi, Bhaddali, beberapa bhikkhu adalah merupakan pelanggar yang kadang-kadang saja, pada dirinya terdapat pelanggaran penuh. Ia, ketika dibicarakan oleh para bhikkhu tidak mengalihkan pertanyaan dengan cara menanyakan kepada orang lain, ia tidak memberikan jawa¬ban yang menyimpang dari titik makalahnya, ia tidak memperlihatkan amarah dan kemauan jahat serta tidak puas, ia bertingkah laku wajar-wajar saja, dapat ditenangkan, merubah cara-caranya, dan ia berkata: 'Apab yang dapat aku lakukan untuk menyenangkan Sangha?' Oleh karena itu, Bhaddali, terjadilah kepada para bhikkhu: "Bhikkhu ini, Yang Mulia, adalah merupakan pelanggar sesekali saja, pada dirinya tidak terdapat penuh pelanggaran ... ia berkata: "Apa yang dapat aku lakukan untuk menyenangkan Sangha?" Adalah baik apabila Yang Mulia mau menyelidiki bhikkhu ini sedemikian rupa sehingga pertanyaan yang syah ini dapat diselesaikan secepatnya.' Demikianlah Bhaddali, para bhikkhu ini menyelidiki bhikkhu tersebut sedemikian rupa sehingga pertanyaan yang syah terhadap dirinya itu dapa diselesaikan secepatnya.
Di dalam hubungannya ini, Bhaddali, beberapa bhikkhu menjalani tugas-tugasnya dengan hanya kepercayaan saja, dengan hanya sedikit hormat. OLeh sebab itu, Bhaddali, terjadilah pada para bhikkhu: "Bhante ini menjalani tugas-tugasnya hanya dengan sedikit kepercayaan saja, hanya menghormat sedikit saja. Apabila kita terus menerus mengambil tindakan terhadap bhikkhu ini, berhenti-hatilah kalau tidak mau keper¬cayaan yang hanya sedikit yang dimilikinya serta rasa hormat sedikit dari padanya, akan menjadi berantakan.' Bhaddali, hal itu adalah bagaikan seseorang yang bermata satu saja teman-teman kenalan-kenalan nya, sanak keluarganya akan merawat serta memperhatikan orang bermata satu itu sehingga satu mata yang dimilikinya tidak akan berantakan, sambil berpikir: 'Perhatikan serta rawatlah kalu tidak mau matas satunya menjadi berantakan.'Demikian juga halnya, Bhaddali, beberapa bhikkhu menjalani tugas-tugas mereka dengan hanya sedikit kepercayaan saja, hanya dengan sedikit hormat saja. Oleh sebab itu, Bhaddali, terjadilah pada para bhikkhu: 'Bhante ini menjalankan tugas-tugasnya hanya dengan sedikit kepercayaan ... berhati-hatilah kalau tidak mau keper¬cayaan dari padanya yang hanya sedikit itu, hormat yang hanya sedikit itu, hancur..'
Inilah, Bhaddali, yang menjadi sebab, ini adalah yang menjadi alasan mengapa mereka selalu mengambil tindakan terhadap beberapa bhikkhu di sini. Tetapi, Bhaddali, ini adalah ylang menjadi sebab, ini adalah alasannya mengapa mereka tidak selalu mengambil tindakan yang sama beberapa (yang lalu) bhikkhu di sini."
"Apa sebabnya, Yang Mulia, apa alasan mengapa dahulu terdapat lebih sedikit [445] peraturan-peraturan latihan tetapi ada lebih banyak bhikkhu yang sangat mahir dalam pengetahuan yang menonjol itu? Dan apa sebabnya, Yang Mulia, apa alasannya mengapa di sana ada lebih banyak peraturan-peraturan latihan tetapi terdapat lebih sedikit bhikkhu-bhikkhu yang sangat mahir dalam pengetahuan sangat menonjol/agung itu?"
"Adalah demikian, Bhaddali: Apabila mahkluk-mahkluk sedang mulai bacau balau atau berantakan, apabila Dhamma benar sedang menghilang, terdaptlah lebih banyak peraturan tentang latihan serta lebih sedikit bhikkhu yang mahir dalam pengetahuan agung itu. Tidak hingga sampai beberapa kondisi-kondisi yang menyebabkan kanker muncul di sini di dalam Sangha, baru Sang Guru, Bhaddali, menurunkan suatu peraturan tentang latihan bagi siswa-siswa-Nya. Tetapi apabila, Bhadda¬li, beberapa kondisi yang menyebabkan kanker muncul di sini di dalam Sangha, maka barulah Sang Guru menurunkan suatu peraturan tentang latihan bagi para siswa sedemikian rupa sehingga dapat membendung atau mengelakan kondisi-kondisi tersebut yang menyebabkan adanya kanker itu. Tidak hingga Sangha telah sampai atau tiba pada kebesaran, Bhaddali, muncullah beberapa kondisi di sini yang dapat menyebabkan terjadinya kanker di dalam Sangha. Tetapi apabila, Bhaddali, Sang Sangha telah tiba pada kebesarannya., maka beberapa kondisi yang menyebabkan kanker muncul di dalam Sangha di sini, dan kemudian Sang Guru menurunkan suatu peraturan tentang latihan bagi para siswa sedemikian hingga bila mengelakkan kondisi-kondisi itu, yakni yang dapat menimbulkan kanker itu. Tidak sampai Sangha telah tiba pada puncak dari keberhasilan ... pada puncak dari ketenaran ... banyaknya pelajaran ... pada tingkatan panjang, Bhaddali, muncullah beberapa kondisi-kondisi yang menimbulkan kanker di dalam Sangha. Tetapi apabila, Bhaddali, Sangha telah mencapai pada kedudukan yang panjang, maka beberapa kondisi-kondisi yang menyebabkan kanker muncul di dalam Sangha, dan kemudian Sang Guru menurunkan suatu peraturan tentang latihan bagi siswa sedemikian hingga dapat mengelakkan kondisi-kondisi yang menyebabkan kanker itu.
Kamu adalah sedikit pada waktu Aku, Bhaddali, mengajar kamu tentang panjang lebar tentang Dhamma-parabel tentang bibit unggul kuda jantan muda.
Apakah kamu, Bhaddali, ingat akan hal itu?"
Tidakk, Yang Mulia."
"Dengan sebab-sebab apa kemu menghubungkan hal ini, Bhaddali?"
"Ialah bahwasanya aku, Yang Mulia, selama jangka waktu panjang adalah bukan seseorang yang menjalankan sepenuhnya latihan di bawah instruksi-instruksi bhante."
"Ini adalah bukannya satu-satunya sebab atau alasan, Bhaddali. Sebab, untuk jangka waktu lama, aku telah mengetahui pikiranmu dengan pikiran-Ku (dan Aku Tahu): sementara Dhamma sedang dia¬jarkan oleh-Ku, orang bodoh ini tidak mendengarkan Dhamma dengan telinga siap, mengetrapkan pada dirinya sendiri, memperhatikan, berkon-sentrasi dengan segenap pikirannya. Namun begitu, aku, Bhaddali, akan mengejar kamu membabarkan dhamma persamaan tentang bibit unggul kuda jantan muda. Dengarkan baiki-baik, perhatikan dengan seksama,
[446] dan aku akan bicara." "Ya, Yang Mulia," Bhadali menja-wab Sang Bhagava menyetujuinya. Sang Buddha bicara demikian: "Bhaddali, sebagai pelatih kuda yang cekatan, setelah menerima seekor bibit unggul yang sangat cakap, yang pertama-tama agar menjadi biasa dalam melakukan latihan itu adalah secara hati-hati dan penuh kasih sayang mengenakan tali kekang pada hidung kuda itu; sementara sudah menjadi biasa dalam latihan untuk mengenakan tali kekang dengan hati-hati serta penuh kasih sayang itu, apapun perubahan-perubahan, lonca-tan-loncatan, perjuangan-perjuangan sementara untuk menjadikan kebia¬saan terhadap latihan yang sebelumnya belum pernah terbiasa, namun dikarenakan latihan yang dilakukan terus menerus, maka latihan terus menerus serta sedikit demi sedikit itu akhirnya akan berhasil degnan sempurna dalam hal mengenakan tali kekang itu. Apabila Bhaddali, bibit unggul yang cakap itu telah disempurnakan dalam hal tersebut oleh lati¬han terus menerus, latihan sedikit demi sedikit, pelatih kuda itu mulai membiasakan diri untuk latihan mengenakan hernes. Ketika sudah biasa terhadap latihan mengenakan pakaian kuda ... disebabkan karena latihan sedikit demi sedikit maka akan menjadi sempurna dalam hal itu. Apabila, Bhaddali, kuda bibit unggul itu telah disempurnakan dengan cara latihan terus menerus itu, latihan dikit demi sedikit, si pelatih kuda itu membia¬sakan diri untuk melatih lebih lanjut dalam hal berdiri, dalam hal putar-putar, membenahi kuku-kukunya, dalam hal melatih berlari-lari, mering¬kit tentang "tipuan raja" "melakukan akrobatik kerajaan" dalam hal lari kecepatan tiada tandingannya, serta tentang tingkah laku tiada ada tan¬dingnya. Ketika sudah terbiasa melatih kecepatan tiada ada tandingnya, kegesitan tiada ada tandingnya, tingkah-laku tiada ada tandingnya, apapun perubahan-perubahan, ronta-ronta, perjuangan apabila sudah menjadi biasa terhadap latihan yang sebelumnya belum pernah terbiasa, namun disebabkan karena latihan yang terus menerus, latihan yang dikit demi sedikit itu akan dibawa ke kesempurnaan dalam bidangnya masing-masing. Apabila, Bhaddali, bibit unggul yang cakap itu telah disempur¬nakan dalam masing-masing bidannya, pelatih kuda itu lebih lanjut akan memberikan pakaian kuda yang indah. Bhaddali, kuda bibit unggul cakap itu, apabila ia dikarunai dengan sepuluh kwalitas-kwalitas, menjadilah ia patut bagi raja, menjadi harta harun kerajaan, dan ia diperhitungkan sebagai seorang bhikkhu dikarunai dengan sepuluh kwalitas-kwalitas, ia adalah patut diberi persembahan-persembahan, patut diberikan keramah-tamahan, patut diberikan dana-dana, patut diberi hormat dengan merang¬kapkan kedua belah telapak tangan, suatu bidang jasa duniawi yang tidak terlampaui. Dengan sepuluh ap? Yang dimaksud di sini, Bhaddali, seor¬ang bhikkhu dikaruniai dengan pandangan benar dan ahli, ia dikaruniai dengan pikiran benar yang ahli, ia dikaruniai dengan ucapan benar ahli, ia dikarunia dengan perbuatan benar yang ahli, ia dikarunia dengan mata pencarian yang ahli, ia dikarunia dengan usaha benar yang ahli.
[447] di dikaruniai dengan kesadaran benar yang ahli, ia dikarun¬iai dengan suatu konsentrasi benar yang ahli, ia dikaruniai dengan suatu pengetahuan benar yang ahli, ia dikarunia dengan kebebasan benar yang ahli. Bhaddali, apabila seorang bhikkhu telah dikaruniai dengan sepuluh kwalitas-kwalitas itu, ia adalah pantas untuk diberikan persmbahan-persembahan, ia pantas diberi keramah-tamahan, pantas diberi dana-dana, pantas untuk disapa dengan telapak tangan dirangkapkan, suatu bidang jasa duniawi yang tak terlampau."
Demikian kata Sang Tathagata. Merasa senang sekali, Bhaddali menyukuri tentang apa yang diucapkan oleh Sang Bhagava itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar