MAGANDIYA SUTTA
75
1. Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di kota Kammasadamma, di daerah suku Kuru, Beliau menginap dan tidur di atas hamparan rumput dalam ruang pemujaan api dari keluarga Brahmana Bharadvaja.
2. Diwaktu pagi Sang Bhagava mengenakan jubah, mengambil patta (tempat maka¬nan) dan civara (jubah luar), Ia pergi pindapatta (menerima dana makanan) ke Kammassadamma. Ketika Beliau selesai pindapatta dan selesai makan, Beliau pergi ke sebuah taman untuk istirahat, di taman Beliau duduk di bawah sebuah pohon.
3. Kemudian seorang petapa pengembara bernama Magandiya, yang sedang melaku¬kan latihan meditasi dengan berjalan (cankamana), pergi ke ruangan tempat pemujaan api milik keluarga Brahmana Bharadvaja. Di situ ia melihat hamparan rumput yang tersedia. Karena melihat itu, maka ia bertanya kepada Brahmana Bharadvaja: "Untuk siapakah hamparan rumput ini di sedia¬kan dalam ruangan pemujaan api dari Brahmana Bharadvaja? Itu nampaknya tempat tidur petapa?"
4. "Magandiya, ada seorang petapa bernama Gotama dari suku Sakya yang telah meninggalkan suku Sakya; ada berita baik tentang beliau yang tersebar yaitu: 'Sang Bhagava adalah Arahat Samma Sambuddha, sempurna pengetahuan dan tindak tanduk-Nya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang mulia.'"
5. "Bharadvaja, sesungguhnya kita telah melihat sesuatu yang tidak baik, ketika kita melihat tempat tidur yang telah disiapkan untuk Samana Gota¬ma, 'perusak kehidupan'."
6. "Magandiya, hati-hati dengan ucapanmu, hati-hati dengan ucapanmu! Banyak kesatria bijaksana, Brahmana bijaksana, perumah tangga bijaksana dan petapa bijaksana yang memiliki keyakinan kepada Samana Gotama, telah melatih diri dalam dhamma yang bermanfaat (kusala dhamma) dalam jalan benar dari para ariya."
7. "Bharadvaja, walaupun kita berhadapan dengan Samana Gotama, kita katakan kepadanya: 'Samana Gotama adalah perusak kehidupan.' Mengapa begitu? Karena ia bertindak berlawanan dengan ajaran kitab suci kita." "Jika Magandiya tidak merasa berkeberatan, aku akan memberitahukan hal ini kepada Samana Gotama." "Bharadvaja, jangan khawatir, silahkan beritahukan kepadanya apa yang baru saja saya katakan."
8. Pada saat itu, Sang Bhagava dengan 'telinga dewa' (dibbasota)-Nya yang melampaui kemampuan telinga manusia biasa, mendengar percakapan antara Brahmana Bharadvaja dengan petapa pengembara Magandiya. Ketika menjelang malam Beliau bangkit dari meditasi, Beliau pergi ke ruang pemujaan api brahmana dan duduk di atas hamparan rumput. Kemudian Brahmana Bharadvaja pergi menemui Beliau, saling memberi salam, setelah saling menyapa, ia duduk di tempat yang tersedia. Setelah ia duduk, Sang Bhagava bertanya kepadanya: "Bharadvaja, apakah anda bercakap-cakap dengan petapa pengem¬bara Magandiya mengenai hamparan rumput ini?
Ketika pertanyaan ini selesai dikatakan, brahmana sangat terkejut dan bulu tubuhnya berdiri. Ia berkata: "Saya mau mengatakan hal itu kepada Samana Gotama, tetapi Samana Gotama telah mengatakannya lebih dahulu."
9. Tetapi percakapan mereka tak selesai, karena petapa pengembara Magandiya yang sedang melaksanakan 'meditasi dengan berjalan' (cankamana) datang menemui Sang Bhagava di ruang pemujaan api milik Brahmana Bharadvaja. Mereka saling memberi salam dan saling menyapa, setelah itu ia duduk di tempat yang tersedia. Setelah ia duduk, Sang Bhagava berkata kepadanya:
10. "Magandiya, mata menyenangi bentuk-bentuk (jasmani), disenangkan oleh bentuk dan digembirakan oleh bentuk; tetapi hal itu telah dijinakkan, dijaga, diawasi dan dikendalikan oleh Tathagata, Ia mengajarkan dhamma untuk mengendalikan diri. Apakah berdasarkan pada hal itu maka anda berkata: 'Samana Gotama adalah 'perusak kehidupan'?'"
"Samana Gotama, berdasarkan pada hal itu saya mengatakan: 'Samana Gotama adalah perusak kehidupan'. Mengapa begitu? Karena hal itu dinyata¬kan dalam Kitab Suci kami.'"
"Telinga menyenangi suara ...."
"Hidung menyenangi bau ...."
"Lidah menyenangi rasa ...."
"Tubuh menyenangi sentuhan ...."
"Pikiran menyenangi ide-ide ...."
.... Karena hal itu dinyatakan dalam Kitab Suci kami.'"
11. "Magandiya, bagaimana pendapatmu, ada orang yang pada waktu yang lalu telah menikmati bentuk (jasmani) yang dilihat dengan mata, bentuk yang diinginkannya, disenanginya, disukainya, memuaskannya, berhubungan dan membangkitkan nafsu indera. Selanjutnya, beberapa waktu kemudian, ia mengetahui apa adanya, asal mula, lenyapnya, kesenangan, bahaya dan cara melepaskan diri dari bentuk-bentuk, ia meninggalkan keinginan pada bentuk (jasmani), ia melenyapkan kerinduan pada bentuk, ia hidup tanpa kein¬ginan (pada bentuk) dengan pikiran yang tenang.
Magandiya, apa yang dapat kita katakan tentang orang itu?"
"Tidak ada, Samana Gotama."
"Magandiya, bagaimana pendapatmu, ada orang yang pada waktu yang
lalu telah menikmati suara yang didengar oleh telinga ...."
" ... telah menikmati bau yang dicium oleh hidung ...."
" ... telah menikmati rasa yang dicicipi oleh lidah ...."
" ... telah menikmati sentuhan yang disentuh oleh tubuh, sentuhan yang diinginkannya, disenanginya, disukainya dan memuaskannya berhubungan dan membangikitkan nafsu indera. Selanjutnya, beberapa waktu kemudian, ia mengetahui apa adanya, asal mula, lenyapnya, kesenangan, bahaya dan cara melepaskan diri dari sentuhan, ia meninggalkan keinginan pada sentuhan, ia melenyapkan kerinduan pada sentuhan, ia hidup tanpa keinginan (pada sentuhan) dan dengan pikiran yang tenang. Magandiya, apa yang dapat kita katakan tentang orang itu?"
"Tidak ada, Samana Gotama."
12. "Magandiya, dahulu ketika saya hidup berumah-tangga, saya diliputi dan dikuasai oleh lima macam nafsu indera, juga saya sendiri menikmati bentuk (jasmani) yang dilihat oleh mata, yang diinginkan, disenangi, disukai, memuaskan dan berhubungan serta membangkitkan nafsu indera.
Saya sendiri menikmati suara yang didengar oleh telinga ....
... bau yang dicium oleh hidung ....
... rasa yang dicicipi oleh lidah ....
... sentuhan yang disentuh oleh tubuh yang diinginkan, disenang, disukai, memuaskan dan berhubungan serta membangkitkan nafsu indera.
13. Saya memiliki tiga istana, yaitu istana musim hujan, istana musim dingin dan istana musim panas. Saya tinggal di istana musim hujan selama empat bulan musim hujan, saya sendiri diliputi kenikmatan bersama para pemusik yang semuanya wanita sehingga saya tidak pernah pergi ke bagian istana bawah.
14. Pada waktu yang lain, setelah mengetahui apa adanya, asal mula, lenyap¬nya, kesenangan, bahaya dan cara melepaskan diri dari nafsu indera, Saya meninggalkan keinginan pada nafsu indera, saya melenyapkan kerinduan pada nafsu indera, saya hidup tanpa keinginan (pada nafsu indera) dan dengan tenang. Saya melihat makhluk-makhluk lain memuaskan nafsu indera, dikua¬sai oleh keinginan pada nafsu indera, terbakar oleh keinginan nafsu indera dan mengejar nafsu indera. Saya tidak iri kepada mereka, juga Saya tidak bergembira dengan hal-hal itu. Mengapa begitu? Sebab saya gembira dengan keadaan yang jauh dari nafsu indera, jauh dari akusala dhamma dan sebaliknya saya mencapai kesenangan surgawi (dibba sukham); Saya tidak menyesal dengan apa yang telah Saya tinggalkan, juga Saya tidak bergembi¬ra dengan hal-hal itu.
15-17. Seandainya, ada seorang perumah-tangga atau putranya yang kaya dengan banyak kekayaan dan harta yang diliputi dan dikuasai oleh lima macam pemuasan nafsu indera, ia menikmati hal- hal itu -- bentuk (jasmani) yang dilihat oleh mata, yang disenangi ..., suara yang didengar oleh telinga ..., bau yang dicium oleh hidung ..., rasa yang dicicipi oleh lidah ..., sentuhan yang disentuh oleh tubuh yang diinginkan, disenangi, disukai, memuaskan dan berhubungan serta membangkitkan nafsu indera. Setelah melaksanakan perbuatan baik dengan tubuh, ucapan dan pikiran, ketika ia meningal dunia, ia terlahir kembali di alam menyenangkan, di alam dewa Tavatimsa; di alam itu ia dikelilingi oleh para dewi di Taman Nandana, ia diliputi dan dikuasai oleh lima macam pemuasan nafsu indera dan ia menikmati hal-hal itu; seandainya ia melihat seorang perumah-tangga atau putranya yang diliputi dan dikuasai oleh lima macam pemuasan nafsu indera dan menikmati hal-hal itu. Magandiya, maka bagaima¬na pendapatmu, apakah dewa yang dikelilingi oleh para dewi di Taman Nandana yang diliputi dan dikuasai oleh lima macam pemuasan nafsu indera serta menikmati hal-hal itu akan iri kepada perumah-tangga yang diliputi dan dikuasai oleh lima macam pemuasan indera, atau ia akan berkeinginan memuaskan nafsunya dengan pemuasan nafsu indera manusia?"
"Tidak, Samana Gotama. Mengapa tidak? Sebab pemuasan nafsu indera surgawi lebih tinggi dan nikmat daripada pemuasan nafsu indera manusia."
"Magandiya, begitu pula, dahulu ketika Saya hidup berumah- tangga, Saya diliputi dan dikuasai oleh lima macam pemuasan nafsu indera .... Saya tidak menyesal kepada apa yang telah saya tinggalkan, juga saya tidak bergembira dengan hal-hal itu."
18-20. "Seandainya ada seorang penderita kusta dengan luka-luka dan bisul-bisul pada anggota badannya, berbelatung dan ia membuka kulit lukanya dengan kuku-kukunya, tubuhnya dipanasi dengan api yang membara. Kemudian kenalan, sahabat, keluarga dan kerabatnya memanggil dokter untuk mengo¬batinya. Dokter memberikan obat kepadanya sehingga ia sembuh dari kusta. Ia sehat, bahagia, bebas, menjadi tuan bagi dirinya dan dapat pergi ke mana saja yang ia sukai. Kemudian ia melihat orang lain yang menderita kusta dengan luka-luka dan bisul-bisul pada anggota badannya, berbela¬tung dan ia membuka kulit lukanya dengan kuku-kukunya, tubuhnya dipanasi dengan api yang membara. Magandiya, bagaimana pendapatmu, apakah orang ini akan iri karena penderita kusta itu menggunakan api membara atau karena ia menggunakan obat?"
"Tidak, Samana Gotama. Mengapa begitu? Sebab bila ada yang sakit maka obat harus dibuat dan bila tidak ada yang sakit maka obat tidak dibuat."
"Magandiya, begitu juga, dahulu ketika saya hidup berumah- tangga, Saya diliputi dan dikuasai oleh lima macam pemuasan ... Saya tidak menye¬sal kepada apa yang telah Saya tinggalkan, juga Saya tidak bergembira dengan hal-hal itu."
21. "Seandainya ada seorang penderita kusta dengan luka-luka dan bisul-bisul pada anggota badannya, berbelatung dan ia membuka kulit lukanya dengan kuku-kukunya, tubuhnya dipanasi dengan api yang membara. Kemudian kena¬lan, sahabat, keluarga dan kerabatnya memanggil dokter untuk mengobatnya. Dokter memberikan obat kepadanya sehingga ia sembuh dari kusta. Ia sehat, bahagia, bebas, menjadi tuan bagi dirinya dan dapat pergi ke mana saja yang ia sukai. Kemudian, ada dua orang kuat menangkap ke dua tangannya dan menyeretnya ke arah api yang membara dalam sebuah lobang. Magandiya, bagaimana pendapatmu, apakah orang itu akan menggerakkan badannya ke sana ke mari?"
"Ya, Samana Gotama. Mengapa begitu? Sebab api itu sangat menyakit¬kan bila disentuh dan akan menyebabkan kehangusan serta demam."
"Magandiya, bagaimana pendapatmu, apakah api itu sangat menyakit¬kan bila disentuh dan akan menyebabkan kehangusan serta panas hanya pada sekarang ini, atau api itu sangat menyakitkan bila disentuh dan akan menyebabkan kehangusan serta demam juga pada waktu yang lampau?"
"Samana Gotama, api itu adalah menyakitkan bila disentuh dan menyebabkan kehangusan serta demam pada sekarang ini maupun pada waktu yang lampau. Karena, ketika orang itu menderita kusta dengan luka-luka dan bisul-bisul pada anggota badannya, berbelatung dan ia membuka kulit lukanya dengan kuku-kukunya, tubuhnya dipanasi dengan api yang membara, indera-inderanya mati dan ia memiliki salah pengertian tentang kesenangan pada sesuatu yang sesungguhnya menyakitkan untuk disentuh."
"Magandiya, begitu juga, keinginan-keinginan nafsu indera pada waktu yang lampau adalah menyakitkan bila disentuh dan menyebabkan kehan¬gusan serta demam; keinginan-keinginan nafsu indera pada waktu yang akan datang adalah menyakitkan bila disentuh dan menyebabkan kehangusan serta demam; keinginan-keinginan nafsu indera pada sekarang ini adalah menya¬kitkan bila disentuh dan menyebabkan kehangusan serta demam. Magandiya, makhluk-makhluk ini yang belum bebas dari pemuasan nafsu indera, yang masih dikuasai oleh keinginan serta dibakar oleh demam karena nafsu indera, indera-indera mereka mati dan memiliki salah pengertian tentang kesenangan pada sesuatu yang sesungguhnya menyakitkan untuk disentuh."
22. "Seandainya ada seorang penderita kusta dengan luka-luka dan bisul-bisul pada anggota badannya, berbelatung dan ia membuka kulit lukanya dengan kuku-kukunya, tubuhnya dipanasi dengan api yang membara, tetapi lebih sering ia melakukannya; orang yang kacau, bau busuk dan infeksi bertambah pada luka-lukanya yang terbuka, namun ia menemukan suatu kepua¬san dan kesenangan tertentu dalam mencungkil-cungkil luka yang terbuka. Magandiya, begitu pula, makhluk-makhluk yang belum bebas dari pemuasan nafsu indera, yang masih dikuasai oleh keinginan serta dibakar oleh demam karena nafsu indera, masih gemar pada keinginan nafsu, tetapi lebih dalam makhluk-makhluk itu menggemari keinginan nafsu maka keinginan memuaskan nafsu lebih bertambah dan demam mereka lebih meningkat pada pemuasan nafsu indera, namun mereka menemukan suatu kepuasan dan kenikmatan ter¬tentu yang didasarkan pada keinginan-keinginan nafsu indera."
23. "Magandiya, bagaimana pendapatmu, apakah anda pernah melihat atau menden¬gar ada seorang raja atau menteri raja yang memiliki dan dikuasai oleh lima macam pemuasan nafsu indera dan menikmati hal-hal itu, siapa yang dapat tanpa meninggalkan keinginan nafsu, hidup bebas dari keinginan dan dengan pikirannya yang tenang, atau siapakah yang dapat atau siapa yang akan dapat melakukannya?"
"Tidak, Samana Gotama."
"Magandiya, baik, Saya pun belum pernah melihat atau mendengar seorang raja atau menteri raja yang memiliki dan dikuasai oleh lima macam pemuasan nafsu indera dan menikmati hal-hal itu, siapa yang dapat tanpa meninggalkan keinginan nafsu, hidup bebas dari keinginan dan dengan piki¬ran tenang, atau siapakah yang dapat atau siapa yang akan dapat melaku¬kannya. Sebaliknya, seorang petapa atau brahmana yang telah hidup, yang sedang hidup atau akan hidup bebas dari keinginan dengan pikiran tenang, semua telah mengetahui apa adanya (nafsu indera itu), asal mula, lenyap, kepuasan, bahaya dan cara melepaskan diri dari pemuasan indera, setelah meninggalkan keinginan pemuasan nafsu indera dan menghentikan demam pada nafsu indera, mereka telah hidup, sedang hidup dan akan hidup bebas dari keinginan dengan pikiran mereka yang tenang."
24. Selanjutnya Sang Bhagava menyatakan syair ini:
"Harta (dunia) yang tertinggi adalah kesehatan,
Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi,
Jalan mulia berunsur delapan adalah jalan terbaik
Karena jalan itu membimbing ke Tanpa-Kematian."
25. Setelah uraian ini dibabarkan, petapa Magandiya berkata: "Sangat menak¬jubkan, Samana Gotama, sangat menakjubkan, betapa baiknya yang telah diuraikan oleh Samana Gotama,
'Harta (dunia) tertinggi adalah kesehatan,
Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi'!
Kami juga telah mendengar hal itu diucapkan oleh para petapa sesuai dengan ajaran para guru, yaitu:
'Harta (dunia) tertinggi adalah kesehatan,
Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi',
dengan demikian kami setuju dengan Samana Gotama."
26. "Magandiya, tetapi ketika anda mendengar hal itu diucapkan oleh para petapa sesuai dengan ajaran para guru bahwa :
'Harta (dunia) tertinggi adalah kesehatan,
Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi.'
Apakah yang dimaksudkan dengan 'kesehatan ' dan 'nibbana'?
Ketika pertanyaan ini ditanyakan, petapa Magandiya mengusap tan¬gannya dan berkata: "Samana Gotama, inilah yang dimaksud dengan sehat, inilah yang dimaksud dengan Nibbana; karena sekarang ini saya sehat dan bahagia dan tidak ada yang mengganggu saya."
27. "Magandiya, misalnya ada orang yang buta sejak lahir yang tidak melihat benda-benda hitam, putih, biru, kuning, merah, merah jambu, apa yang rata dan tidak rata, bintang, bulan dan matahari, lalu mendengar orang bermata baik berkata: 'Saudara- saudara, kain putih asli adalah baik bila tidak ternoda dan bersih!' Orang buta pergi mencari kain putih dan ada orang menipunya dengan pakaian kotor dengan berkata: 'Saudara, ini pakaian putih yang baik tanpa noda dan bersih untukmu!' Magandiya, bagaimana pendapatmu tentang hal ini, apakah orang buta itu akan menerima pakaian kotor itu, mengenakannya dan merasa puas, lalu menyatakan kepuasannya dengan berkata: 'Saudara-saudara kain putih asli adalah baik bila tidak ternoda dan bersih! karena ia mengetahui dan melihat atau karena yakinnya kepada orang yang memiliki mata yang baik?"
"Bhante, ia melakukannya karena ia tidak mengetahui dan tidak melihat, keyakinannya didasarkan kepada orang yang bermata baik."
"Magandiya, begitu pula, para petapa pengembara dari aliran- aliran lain adalah buta, tidak melihat dan tidak mengetahui tentang 'kesehatan' serta tidak melihat 'nibbana' namun mereka mengatakan syair:
'Harta dunia tertinggi adalah kesehatan,
Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi.'"
Syair ini telah dinyatakan oleh para Arahat Samma Sambuddha yang terdahu¬lu, yaitu:
"Harta (dunia) yang tertinggi adalah kesehatan,
Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi,
Jalan mulia berunsur delapan adalah jalan terbaik
Karena jalan itu membimbing ke Tanpa-Kematian."
Sekarang, kata-kata ini telah umum bagi orang biasa.
"Magandiya, mengenai tubuh ini adalah mengalami sakit, penyakit, tusukan, celaka dan menderita; yang mengalami hal-hal inilah yang anda katakan: 'Samana Gotama, ini adalah sehat, ini adalah nibbana.' Tidak ada mata ariya padamu sebagai dasar pandangan ariya untuk mengetahui 'kesehatan dan nibbana'."
28. "Saya yakin pada Samana Gotama: 'Samana Gotama memiliki kemampuan menga¬jarkan Dhamma dengan cara tertentu kepada saya sehingga saya dapat mengetahui 'kesehatan dan melihat nibbana'." "Magandiya, misalnya ada orang yang buta sejak lahir yang tidak melihat benda-benda hitam, putih, biru, kuning, merah, merah jambu, apa yang rata dan tidak rata, bintang, bulan dan matahari; kemudian para kenalan dan para sahabatnya, para keluarga dan para sanaknya membawa seorang dokter ahli operasi untuk memeriksanya serta membuat obat yang mungkin dapat mengobati pandangan matanya hingga dapat melihat atau tidak dapat melihat. Magandiya, bagai¬mana pendapatmu, apakah dokter akan letih dan kecewa?"
"Ya, Samana Gotama."
"Magandiya, begitu pula, Saya telah mengajarmu Dhamma: 'Ini adalah kesehatan, ini adalah nibbana', tetapi anda tidak tahu tentang kesehatan dan tidak melihat nibbana, hal ini akan membuat-Ku letih dan bosan."
29. "Saya yakin pada Samana Gotama: 'Samana Gotama memiliki kemampuan menga¬jarkan Dhamma dengan cara tertentu kepada saya sehingga saya dapat mengetahui 'kesehatan dan melihat nibbana'."
"Magandiya, misalnya ada orang yang buta sejak lahir yang tidak melihat benda-benda hitam, putih, biru, kuning, merah, merah jambu, apa yang rata dan tidak rata, bintang, bulan dan matahari; kemudian ia mendengar orang yang bermata baik berkata: 'Saudara-saudara, kain putih asli adalah baik bila tidak ternoda dan bersih!' Orang buta pergi mencari kain putih dan ada orang menipu-nya dengan pakaian kotor dengan berkata: 'Saudara, ini pakaian putih yang baik tanpa noda dan bersih untukmu! ', ia menerimanya dan mengenakannya; lalu para kenalan dan para sahabatnya, para keluarga dan para sanaknya membawa seorang dokter ahli operasi untuk memeriksanya serta membuat obat-muntah, kuras, salep, cairan dan pengoba¬tan melalui hidung karena pengobatan ini matanya sembuh dan dapat meli¬hat, dengan munculnya penglihatan maka keinginannya dan kesenangannya pada pakaian yang kotor ditinggalkannya, kemarahan dan rasa permusuhan kepada orang itu membakar dirinya dan berkeinginan untuk membunuhnya: 'Saudara-saudara, saya telah lama dibohongi, ditipu dan dipermainkan oleh orang itu dengan mengatakan pakaian kotor ini: 'Saudara, ini kain putih yang baik, tanpa noda dan bersih'. Magandiya, begitu pula, Saya telah mengajarmu Dhamma, yaitu: 'Ini adalah kesehatan, ini adalah Nibbana', anda mungkin dapat mengetahui kesehatan dan melihat nibbana, dengan munculnya penglihatanmu, maka keinginan dan nafsu pada panca khandha yang diakibatkan oleh kemelekatan dapat ditinggalkan. Tetapi, mungkin anda berpikir: 'Saya telah lama sekali dipermainkan, ditipu dan dibohongi oleh pikiran: 'Saya telah melekat pada tubuh (rupa), perasaan (vedana), pen¬cerapan (sanna), bentuk-bentuk pikiran (sankhara) dan kesadaran (vinnana) ini. Dengan kemelekatanku mengkondisikan 'perwujudan'; dengan perwujudan mengkondisikan kelahiran; kelahiran mengkondisikan usia lanjut dan kema¬tian, penderitaan, kesedihan, kesakitan, kesusahan dan putus asa. Itulah bagaimana asal mula semua penderitaan ini."
30. "Saya yakin pada Samana Gotama: 'Samana Gotama memiliki kemampuan menga¬jarkan Dhamma dengan cara tertentu kepada saya sehingga saya dapat mengetahui 'kesehatan dan melihat nibbana'."
"Magandiya, ikutilah orang yang benar (sappurisa). Bilamana anda mengikuti orang yang benar, anda akan mendengar Dhamma kebenaran. Jika anda mempraktikkan dhamma sesuai dengan Dhamma kebenaran, anda akan mengetahui dan melihat dirimu sendiri. Bilamana anda mengetahui dan melihat dirimu sendiri, yaitu: 'Inilah penyakit-penyakit, kesakitan dan tusukan; penyakit, kesakitan dan tusukan lenyap tanpa sisa, dengan le¬nyapnya kemelekatan- ku, perwujudan lenyap; dengan lenyapnya perwujudan, kelahiran lenyap; dengan lenyapnya kelahiran, usia lanjut dan kematian lenyap, juga penderitaan, kesedihan, kesakitan, kesusahan dan putus asa lenyap. Itulah bagaimana lenyapnya semua penderitaan ini."
31. Ketika hal ini telah dikatakan, petapa pengembara Magandiya berkata: "Mengagumkan Samana Gotama! Luar Biasa, Samana Gotama! Dhamma telah jelas diuraikan dengan berbagai cara oleh Samana Gotama. Ia bagai¬kan menegakkan apa yang tergeletak, membuka apa yang tertutup, menunjuk jalan bagi orang yang tersesat atau memberikan penerangan ditempat yang gelap sehingga orang dapat melihat benda-benda.
32. Saya berlindung pada Samana Gotama, Dhamma dan bhikkhu Sangha. Saya mohon di-pabbajja dan di-upasampada menjadi bhikkhu oleh Samana Gotama."
33. "Magandiya, seseorang yang dahulu penganut ajaran lain ... (seperti dalam Kukkuravatika Sutta, 17) ... berada dalam masa percobaan selama empat bulan ... Perubahan seseorang dapat saya ketahui pada masa percobaan ini."
"Bhante, jika seseorang yang dahulu penganut ajaran lain ... Saya akan melaksanakan masa percobaan selama empat tahun ... di-upasampadakan menjadi bhikkhu."
34. Petapa pengembara Magandiya di-pabbajja dan di-upasampada menjadi bhikk¬hu oleh Sang Bhagava. Tidak lama kemudian setelah ia menjadi bhikkhu, ia hidup menyendiri, mengasingkan diri, rajin, bersemangat dan mengendalikan diri, Bhikkhu Magandiya pada kehidupan ini telah merealisasikan sendiri dengan 'pengetahuan langsung' (abhinna) mencapai dan berada dalam tujuan akhir dari penghidupan suci, yang merupakan tujuan dari para umat mening¬galkan kehidupan duniawi menjadi petapa. Ia merealisasikan dengan penge¬tahuannya (abhinna): "Kelahiran telah terhenti, kehidupan suci (brahma¬cari) telah dipenuhi, apa yang harus diker- jakan telah dilaksanakan, tidak ada lagi yang melampaui ini." Bhikkhu Magandiya menjadi salah seorang dari para Arahat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar