Selasa, 16 Maret 2010

MAHA SAKULUDAYI SUTTA

MAHA SAKULUDAYI SUTTA
77

Demikian telah saya degar:
Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di Raja¬gha di Hutan Bambu, tempat perlindungan Tupai.

Pada ketika itu banyak kelana-kelana yang terkenal sedang tinggal di Tman Kelana, tempat Perlindungan Peacock, yaitu Anugara, Varadhara, dan si kelana Sakuludayin, juga banyak sekali para kelana yang terkenal.

Kemudian setelah hari menjadi pagi, Sang Buddha menge¬nakan pakaian, dan sambil membawa mangkuk serta jubah luar, Beliau pergi menuju ke Rajagaha untuk mendapatkan dana maka¬nan. Kemudian Beliau berpikir, 'Hari ini adalah masih terlalu pagi untuk berkelana mendapatkan dana makanan di Rajagagaha. Seandai Aku pergi ke Sakuludayin di dalam Taman Kelana, tempat Perlindungan Peacock itu?'

Kemudian Sang Buddha pergi ke Sauludayin di dalam Taman Kelana, di tempat perlindungan Peacock. Pada waktu itu si kelana Sakuludayin sedang duduk bersama dengan kumpulan apra kelana yang sedang berteriak-teriak, sangat hiruk pikuk serta ramai sekali, berbicara beraneka macam omongan jorok, seperti berbicara tentang raja-raja ... (dan lain sebagainya seperti yang terdapat di dalam Sutta 76, para 4.) ... kemud¬ian para kelana menjadi diam.

5. Sang Buddha pergi ke Sakuludayin si kelana, yang berkata kepada Beliau: 'Marilah datang ke mari Yang Mulia, selamat datang Sang Tathagata; adalah sudah lama sekali sejak Sang Tathagata membuat suatu kejadian untuk datang ke mari. Biarlah Sang Tathagata duduk, tempat duduk ini telah siap."

Sang Buddha kemudian duduk di atas tempat duduk yang telah dipersiapkan dan Sakuludayin mengambil tempat duduk lain yang lebih rendah dan duduklah ia di satu sisi. Ketika ia sudah melakukan hal itu, Sang Buddha bertanya kepadanya: 'Untuk pembicaraan apa mengapa kamu berkumpul di sini seka¬rang, Udayin, dan sementara itu pembicaraan apakah yang tersisa belum terselesaikan itu?'

6. 'Biarlah demikian, Yang Mulia, biarlah pembicaraan untuk nama kita sekarang berkumpul di sini. Sang Tathagata akan dapat mendengarnya dengan baik hal itu kemudian, Yang Mulia, dalam beberapa hari ini, Yang Mulia, ketika para bhikkhu serta orang-orang suci dari berbagai sekte telah berkumpul bersama-sama dan duduk di dalam ruang perdebatan, topik atau makalah ini telah timbul: "Apakah ini suatu keun¬tungan bagi orang-orang Anga dan Magadha, epakah ini suatu keuntungan bagi orang-orang dari Anga dan Magadha bahwasanya para bhikkhu dan orang-orang suci, kepala-kepala dari golon¬gan, kepala-kepala dari kelompok dan guru-guru dari kelompok-kelompok, terkenal dan masyur sebagai pembuat benteng, diang¬gap oleh kebanyak orang sebagai orang suci, telah datang untuk menghabiskan waktu penghujan di Rajagaha. Terdapatlah Purana Kassapa ini, kepala dari golongan kepala dari kelompok dan guru dari kelompok, terkenal dan masyur sebagai pembuat benteng, dianggap oleh kebanyakan orang sebagai orang suci, ia telah datang untuk tinggal masa musim penghujan di Rajaga¬ha. Di sana terdapat juga makkhali Gosala ... terdapat juga Ajita Kesakembala ini ... terdapat juga Pakude Kaccayana ini ... terdapatlah juga Sanjaya Belatthiputta ini ... terda¬patlah juga Nigantha Nataputta ini ... kepala dari golongan, kepala dari kelompok dan guru dari kelompok, yang terkenal dan masyur sebagai pembuat benteng, dianggap oleh kebanyakan orang sebagai orang suci; ia juga telah datang untuk mengha¬biskan waktu musim penghujan di Rajagaha. Terdapatlah juga bhikkhu Gotama ini, kepala dari golongan, kepala dari kelom¬pok dan guru dari suatu kelompok, seorang yang terkenal dan termasyur sebagai seorang pembuat benteng, dianggap oleh kebanyakan orang sebagai orang suci atau santa: ia juga telah datang untuk tinggal selama musim penghujan di Rajagaha. Sekarang di antara kepala-kepala dari semua golongan, kepala-kepala dari semua kelompok, dan guru-guru dari semua kelom¬pok, terkenal dan termasyur, sebagai pembuat benteng dianggap oleh kebanyakan orang sebagai orang suci atau santa, yang dihormati, dihargai, dipuja-puja, dan diagungkan orang seba¬gai orang suci atau santa, yang dihormati, dihargai, dipuja-puja, dan diagungkan oleh siswa-siswa Beliau, dan bagaimana menghormat serta menghargai Beliau, apakah mereka itu hidup di dalam ketergantungan pada Beliau? untuk hal itu beberapa berkata demikian: "Purana Kassapa ini adalah kepala dari suatu golongan, kepala dari suatu kelompok, dan guru dari suatu kelompok, pembuat benteng yang terkenal dan termasyur dan termasyur dianggap oleh kebanyakan orang sebagai orang suci, namun ia adalah tidak dihormati, tidak dihargai, tidak dipuja-puja dan tidak diagungkan oleh siswa-siswa-nya, juga para siswanya tidak hidup di dalam ketergantungan padanya, menghormat serta menghargainya. Pernah terjadi bahwa Puranga Kassapa sedang mengajar Dhamma kepada pengikut terhitung beberapa ratus orang. Kemudian seorang siswa daripadanya membuat suara gaduh sebagai berikut: 'Tuan-tuan, janganlah menanyakan Purana Kassapa pertanyaan ini. Ia tidak tahu akan hal itu. Kita tahu hal itu, tanyalah pada kita pertanyaan itu. Kita akan menjawab itu untukmu, tuan-tuan.' Terjadilah bahwa Purana Kassapa, walaupun melambai-lambaikan tangannya serta memelas: 'Diamlah, tuan-tuan, janganlah membuat gaduh, tuan-tuan. Mereka sedang menanyai kita. Kita akan menjawab mereka' ia tidak mendapat tanggapan. Ternyata banyak di antara siswa-siswa meninggalkan dia setelah terbukti pernya¬taan-pernyataan-nya salah: "Kamu tidak tahu tentang Dhamma dan disiplin ini. Aku tahu akan Dhamma dan disiplin ini. Bagaimana kamu harus tahu Dhamma dan disiplin ini! Jalan-mu adalah salah. Jalanku adalah benar, Aku selalu konsisten. Kamu tidak konsisten, apa yang seharusnya kamu katakan perta¬ma, kamu mengatakannya sesudahnya. Apa yang harus dikatakan sesudahnya, kamu katakan pertama. Apa yang kamu anggap dengan hati-hati telah dijungkir balikkan. Pernyataan-mu terbukti salah. Kamu terbukti tidak benar atau salah. Coba dan sesali dirimu sendiri apabila kamu bisa!' Dengan demikian maka Purana Kassapa tidaklah dihormati dan tidak dihargai atau tidak dianggap atau tidak diagungkan oleh siswa-siswanya, juga para siswanya tidak hidup dalam ketergantungan padanya, menghormat maupun menghargainya; ternyata ia dicaci oleh cacian dari Dhammanya." Dan bebeberapa berkata demikian: "Makkali Gosala ini adalah kepala dari golongan ... dicaci oleh cacian dari Dhamma-nya." Dan beberapa berakta demikian: "Ajita Kesakembala ini ... " 'Nigantha Nataputta ini adalah kepala dari golongan ... dicaci oleh cacian dari Dhamma-nya." Dan beberapa orang berkata demikian: "Pende Gotama ini adalah ia dari suatu golongan, kepala dari suatu kelompok, dan guru dari suatu kelompok, terkenal dan termasyur sebagai pembuat benteng dan dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci atau seorang santa, dan ia dihormati, dihargai, dijunjung tinggi dan dimuliakan oleh siswa-siswa Beliau, dan siswa-siswa Beliau itu hidup bergantung kepadanya, menghormat serta menghargai Beliau. Pernah terjadi bahwa bhikkhu Gotama ini sedang mengajar Dhamma kepada para pengikut berjumlah bebera¬pa ratus orang, adalah seorang siswa tertentu yang membersih¬kan tenggorokannya (membunyikan tenggorokan dengan tujuan membersihkan dari dahak yang ada di dalam kerongkonganya itu). Oleh karena itu salah seorang teman-nya dalam menjalani hidup suci itu memberi tanda dengan menyentuh dengan lutut¬nya, (sambil berkata): 'Diamlah, yang mulia, janganlah mem¬buat suara; Sang Buddha sedang mengajarkan Dhamma.' Ketika Bhikkhu Gotama sedang mengajarkan Dhamma kepada pengikut yang jumlahnya beberapa ratus orang itu, tidaklah terdapat suara dari siswa-siswa dari Sang Buddha, umpama seperti mengeluar¬kan dahak atau batuk-batuk. Untuk hal itu keadaan semacam itu sangatlah dinanti-nantikan: 'Biarlah kita mendengarkan Dhamma yang akan diajarkan oleh Sang Tathagata ini.' Tepat seolah-olah seseorang sedang berada diperempat jalan memeras madu murni dan sekelompok orang dalam keadan diam dalam penantian, demikian juga, ketika Bhikkhu Gotama sedang mengajar Dhamma ... 'marilah kita mendengar Dhamma di mana sang Tatha¬gata sedang mau mengajarkan itu.' Dan bahkan siswa-siswa dari Beliau itu yang terputus dari kebersamaan hidup suci dan mengabaikan latihan untuk kembali lagi kepada apa yang telah mereka tinggalkan-mereka sekalipun demikian masih memuja Sang Guru dan Dhamma serta Sang Sangha, mereka menyalahkan diri mereka sendiri daripada menyalahkan orang-orang lain, (berka¬ta): 'Kita adalah tidak beruntung, kita hanya mempunyai jasa-jasa sedikit saja; sebab walaupun kita sudah pergi menjalani kehidupan tanpa berumah tangga bersama dengan dhamma yang dengan sempurna dibabarkan, kita tidak bisa untuk hidup sepanjang masa dalam kesucian sempurna,' dan setelah menjadi penjaga-penjaga dari vihara atau siswa awam, mereka mengambil lima sila. Itu adalah bagaimana Bhikkhu Gotama dihormati, dihargai, di junjung tinggi serta di agungkan oleh para siswa Beliau dan bagaimana mereka itu hidup dalam ketergantungan kepada Beliau menghormati serta menghargari Beliau."

7. Yang Mulia, aku melihat lima buah Dhamma di dalam diri Sang Tathagata yang merupakan alasan-alasan mengapa siswa-siswa Beliau menghormat, menghargai, menjunjung tinggi dan mengaggungkan Beliau dan hidup dalam ketergantungan kepada Beliau, menghormat serta menghargai Beliau. Ke lima yang mana? Yang pertama, Yang Mulia, Sang Tathagata makan sedikit dan menganjurkan untuk makan sedikit. Dan ini saya lihat sebagai dhamma pertama yang mana merupakan suatu alasan mengapa siswa-siswa Beliau menghormati dan menghargai, men¬junjung tinggi serta mengagungkan Beliau dan hidup di dalam ketergantungan pada Beliau, menghormat serta menghargai-Nya. Sekali lagi, Yang Mulia, Sang Buddha telah puas dengan setiap jenis jubah dan menganjurkan kepuasan dengan setiap jenis jubah. Dan ini saya melihat sebagai dhamma kedua ... sekali lagi, Yang Mulia, Sang Buddha telah puas dengan setiap jenis makanan. Dan ini saya lihat sebagai dhamma ketiga ... Sekali lagi, Yang Mulia, Sang Tathagata telah puas dengan setiap jenis tempat istirahat dan Beliau menganjurkan kepuasan dengan setiap jenis tempat istirahat itu. Dan ini saya lihat sebagai dhamma ke-empat ... Sekali lagi, Yang Mulia, Sang Tathagata hidup terasing dan Beliau menganjurkan hidup mengasingkan diri itu. Dan ini aku melihat sebagai dhamma kelima ... Yang Mulia, ini adalah kelima buah dhamma yang ada pada Sang Tathagata yang saya lihat sebagai alasan-alasan mengapa siswa-siswa Beliau menghormat, menghargai, menjunjung tinggi dan mengagungkan Beliau dan hidup dalam ketergantungan dari Beliau, menghormati serta menghargai-Nya.'

9. 'Seandai, Udayin, suatu alasan mengapa siswa-siswa-Ku menghormat, menghargai, menjunjung tinggi dan mengagumkan diriku dan hidup di dalam ketergantungan pada-ku, menghormat dan menjunjung tinggi diriku, apakah (seperti yang kamu katakan, pikirkan): Bhikkhu Gotama makan sedikit dan mengan¬jurkan makan sedikit." Sekarang terdapatlah beberapa siswa dari-ku yang hidup (makan) semangkok penuh atau setengah mangkok atau sebuah buah bilva atau setengah buah biva, sememtara itu Aku kadang-kadang makan se isi mangkuk Ku atau bahkan lebih. Tetapi apabila alasan adalah apa yang kamu anggap itu, maka siswa-siswa ku seperti itu tidak akan meng¬hormat diri-ku karena alasan itu. Seandai, Udayin, suatu alasan mengapa siswa-siswa-Ku seperti itu tidak akan menghor¬mat diriku karena alasan itu. Seandai, Udayin, suatu alasan mengapa siswa-siswa-Ku menghoramt, menghargai, menjunjung tinggi dan mengagungkan diri-ku dan hidup dalam ketergantun¬gan pada-Ku, menghormat dan menghargai diri-Ku (seperti apa yang kamu katakan, pikirkan): "Bhikkhu Gotama telah puas dengan setiap jenis jubah dan menganjurkan kepuasan dengan setiap jenis buah." Sekarang terdapatlah siswa-siswa-ku yang sebagai seorang pemakai bahan buangan, pemakaian jubah-jubah kasar, mengumpulkan kain-kain potongan dari tempat penyimpa¬nan mayat atau tempat sampah atau toko-toko dan membuat jubah-jubah dari potongan kain untuk dikenakan mereka, semen¬tara Aku kadangkala mengenakan jubah yang diberikan oleh para perumah tangga begitu halusnya sehingga bulu-bulu (rambut) murni adalah kasar apabila dibandingkannya. Tetapi apabila alasan adalah apa yang kamu andaikan itu, maka siswa-siswa dari-Ku seperti itu tidak akan menghormat diriku untuk alasan itu.

Seandai, Udayin, alasan mengapa siswa-siswa-ku meng¬hormat, menghargai, menjunjung tinggi dan mengagungkan diri-ku dan hidup dalam ketergantungan pada diri-ku, menghormati dan menghargai diri-ku (seperti apa yang kamu katakan atau pikirkan): "Bhikkhu Gotama telah puas dengan setiap jenis dana makanan yang ada." Sekarang terdapatlah beberapa siswa dari-ku yang sebagai pemakan dana makanan (yang didanakan) pergi dari satu rumah ke rumah lain, lebih suka mengerjakan tugas memungut atau mengumpulkan (dana makanan), tidak akan setuju apabila diundang untuk duduk, sedangkan Aku kadang kala makan, atas undangan, nasi enak dengan biji-bijian gelap?, yang terdiri dari banyaknya kuah dan lauk pauk itu. Tetapi apabila alasan adalah apa yang kamu anggap itu, maka siswa-siswa-Ku seperti itu tidak akan menghormat diri-Ku untuk alasan tersebut. Seandai, Udayin, alasan mengapa para siswa-Ku menghormat, menghargai, menjunjung tinggi dan menga¬gungkan diri-Ku dan hidup dalam ketergantungan kepada-Ku, menghormati dan menghargai diri-Ku, (seperti apa yang kamu katakan atau pikirkan): "Bhikkhu Gotama telah puas dengan setiap jenis tempat tinggal dan menganjurkan adanya kepuasan terhadap setiap jenis tempat istirahat." Sekarang terdapatlah siswa-siswa-Ku yang sebagai seorang "kelana-akar-pohon" (di dalam setahun) sedangkan Aku kadangkala tinggal di dalam rumah susun bersisi tiga yang di luar dan didalamnya diples¬ter, diberi atap, diamankan dengan jeruji-jeruji serta jende¬la yang dapat ditutup. tetapi apabila ini adalah alasan yang kamu anggap, maka siswa-siswa-Ku yang seperti itu tidak akan menghormat diri-Ku untuk alasan itu. Seandai, Udayin, mengapa para siswa-Ku menghormat, menghargai, menjunjung tinggi dan mengagungkan diri-Ku dan hidup dalam ketergantungan pada diriku menghormati dan menghargai diri-Ku (seperti apa yang kamu katakan atau pikirkan): "Bhikkhu Gotama hidup terasing dan menganjurkan untuk mengasingkan diri. Sekarang terdapatlah siswa-siswa-Ku yang sebagai sekelana-hutan hidup dalam penga¬singan di dalam hutan lebat terpencil yang dipakai sebagai tempat tinggal, kembali ke dalam Sangha dalam pertengahan bulan untuk membaca Patimokha, sementara Aku kadang kala hidup dikerumuni oleh para bhikkhu dan bhikkhuni, para pengi¬kut awam, wanita pengikut awam, raja-raja, menteri-menteri, pemimpin sekte lain, serta siswa-siswa dari sekte lain. Tetapi apabila alasan-alasan adalah apa yang kamu andaikan itu, maka siswa-siswa dari-Ku semacam ini tidak akan menghor¬mat diri-Ku untuk alasan tersebut. Demikianlah, Udayin, kelima dhamma ini adalah bukan merupakan alasan mengapa siswa-siswa-Ku menghormat, menghargai, menjunjung tinggi dan mengagungkan diri-Ku serta hidup dalam ketergantungan pada-Ku, menghormati dan menghargai diri-Ku.

10. 'Namun begitu, Udayin, terdapatlah lima buah dhamma lain, yang mana adalah merupakan alasan-alasan mengapa para siswa-Ku menghormat, menghargai, menjunjung tinggi serta mengagungkan diri-Ku dan hidup dalam ketergantungan kepada-Ku, menghormati dan menghargai diri-Ku dan hidup dalam keter¬gantungan kepada-Ku, menghormati dan menghargai diri-Ku. Apa kelima dhamma itu?

I. KEBAJIKAN LEBIH TINGGI

11. 'Di sini, Udayin, para siswa-Ku menghargai diri-Ku untuk Kebajikan Lebih Tinggi sebagai berikut: "Bhikkhu Gotama memiliki kebajikan, Unsur? Agragat Kebajikan adalah sempurna di dalam diri Beliau." Ini adalah dhamma pertama atas mana para siswa-Ku menghormat, menghargai, menjunjung tinggi serta mengagungkan diri-Ku dan hidup dalam ketergantungan pada-Ku, menghormati dan menghargai diri-Ku.

II. PENGETAHUAN DAN PANDANGAN

12. 'Sekali lagi, para sisa-Ku menghargai diri-Ku karena Pengetahuan dan Pandangan yang luar biasa sebagai berikut: "Hanya ketika mengetahui, Bhikkhu Gotama berkata 'Aku tahu'; hanya apabila melihat, Beliau berkata 'Aku melihat'; Beliau mengajar Dhamma dari pengetahuan langsung, bukan tiada adanya pengetahuan; Beliau mengajar Dhamma dengan keaslian-Nya, bukan yang tanpa keasliannya; Beliau mengajar Dhamma dengan kekaguman-kekaguman, bukan tanpa kekaguman-kekaguman itu. "Ini adalah dhamma kedua atas mana para siswa-Ku menghormat ... diri-Ku.

III. PENGERTIAN LEBIH TINGGI

13. 'Sekali lagi para siswa-Ku menghargai diriku karena pengertian lebih tinggi demikian: "Bhikkhu Gotama mempunyai pengertian: Unsur pengertian adalah sempurna di dalam diri Beliau. Bahwasanya ia tidak seharusnya meramal konsekwensi logis yang akan datang dari suatu pernyataan, dan bahwasanya ia tidak seharusnya mampu secara tepat untuk menyangkal atau mencela pernyataan orang-orang lain, hal itu adalah tidak mungkin." Bagaimana kamu menerima dengan akalmu, Udayin, apakah siswa-siswa-ku yang mengetahui dan melihat demikian itu akan menghalangi diri-Ku?'
'Tidak, Yang Mulia.'
'Aku tidak mengharapkan instruksi dari para siswa-siswa-Ku: sebaliknya, para siswa-Ku mengharapkan instruksi-instruksi dari Aku. Ini adalah dhamma berkenaan dengan mana para siswa-Ku menghormati ... Diriku.

IV. EMPAT KESUNYATAAN

14. 'Sekali lagi, apabila korban-korban penderitaan, atas belas kasihan dari penderitaan, melalui beberapa bentuk dari penderitaan, siswa-siswa-Ku datang dan menanyai diri-Ku tentang Kesunyataan dari penderitaan. Karena ditanyai, Aku menjawab. Jawaban-Ku menarik mereka. Mereka bertanya kepada-Ku tentang Kesunyataan tentang asal mula dari penderitaan ... tentang Empat Kesunyataan dari penghentian penderitaan ... tentang Empat Kesunyataan dari jalan menuju ke penghentian penderitaan. Karena ditanya, Aku menjawab. Jawaban-Ku menarik perhatian mereka. Ini adalah Dhamma ke-empat berkenaan dengan mana paras siswa-Ku menghormati ... Diriku.

V. JALAN UNTUK MENGEMBKANKAN DHAMA-DHAMMA YANG MENGUNTUNGKAN.

1. EMPAT DASAR TENTANG KESADARAN ?

15. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada siswa-siswa-Ku jalan untuk mengembangkan empat dasar atau landasan dari kesadaran. Di sini seorang bhikkhu mengabdikan diri untuk mendalami badan sebagai badan, penuh entuisme, siaga sepenuhnya serta sadar, setelah menyingkirkan sifat kekikiran serta kedukaan bagi dunia. Ia mengabdikan diri mendalami perasaan-perasaan sebagai perasaan ... Ia mengabdikan diri mendalami pikiran sebagai pikiran ... Ia mengabdian diri mendalami dhamma-dhamma sebagai dhamma-dhamma, penuh entu¬siasme, siaga sepenuhnya dan sadar, telah menyingkirkan sifat kekikiran dan duka terhadap dunia. Dan dengan itu banyak siswa-siswa-Ku telah mencapai titik tujuan, penyempurnaan, dari pengetahuan langsung dan mengabdikan diri di dalamnya.

2. KEEMPAT PECOBAAN-PERCOBAAN

16. 'Sekali lagi, Aku memproklamasikan kepada para siswa-Ku jalan untuk mengembangkan empat usaha-usaha benar. Di sini seorang Bhikkhu membangkitkan kesungguhan yang sangat besar bagi tidak timbulnya dari yang tidak timbul dhamma-dhamma jahat tidak menguntungkan, untuk mana ia membuat usaha-usaha, membangkitkan energi, mendayagunakan pikirannya serta melaku¬kan usaha percobaan-percobaan. Ia membangkitkan kesungguhan demi meninggalkan timbulnya dhamma-dhamma jahat yang tidak menguntungkan. Ia membangkitkan kesungguhan bagi timbulnya dari tidak bangkitnya dhamma-dhamma yang tidak menguntungkan ... Ia membangkitkan kesungguhan bagi kelanju¬tan, non-tidak kemunculan, memperkuat, menambah, pengembangan dan penyempurnaan dari bangkitnya dhamma-dhamma menguntungkan, untuk mana ia membuat usaha-usaha, membangkitkan energi, mendaya gunakan pikiran-Nya dan melakukan percobaan-perco¬baan. Dan dengan itu banyak siswa-siswa-Ku telah mencapai titik tujuannya, penyempurnaan dari pengetahuan langsung dan mengabdikan diri di dalamnya.

3. EMPAT BUAH LANDASAN UNTUK SUKSES

17. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamasikan kepada para siswa-Ku tentang jalan untuk mengembangkan Empat Dasar atau landasan bagi sukses. Di sini seorang bhikkhu mengembangkan basis bagi sukses yang memiliki baik konsentrasi yang dikare¬nakan keinginan keras untuk bertindak serta daya kemauan bentukan-bentuk tentang percobaan-percobaan atau usaha. Ia mengembangkan dasar bagi sukses yang memiliki baik konsentra¬si yang disebabkan karena energi dan daya kemauan formasi dari percobaan. Ia mengembangkan dasar bagi sukses baik konsentrasi yang disebabkan karena (kemurnian) pikiran dan daya kemauan formasi dari percobaan. Ia mengembangkan dasar bagi sukses yang memiliki baik konsentrasi disebabkan karena pertanyaan serta daya kemauan bentukan dari percobaan. Dan oleh sebab itu banyak di antara siswa-siswa-Ku mencapai titik tujuan tertinggi, penyempurnaan pengetahuan serta mengabdikan serta menjalani-Nya.

4. KE LIMA FAKULTI-FAKULTI (DAYA KEMAMPUAN PIKIRAN)

18. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamasikan kepada para siswa-Ku jalan untuk mengembangkan kelima fakulti atau daya kemampuan pikiran. Di sini seorang bhikkhu mengembangkan fakulti kepercayan/percaya, yang membawa atau mengarah ke kedamaian, membawa atau mengarah ke penerangan sempurna. ia mengembangkan fakulti energi ... fakulti kesadaran penuh ... fakulti konsentrasi ... fakulti pengertian yang membawa ke kedamian, membawa ke penerangan sempurna. Dan oleh sebab itu banyak siswa dari-Ku telah mencapai titik tujuan tertinggi, kesempurnaan dari pengetahuan langsung dan mengabdikan serta menjalani-nya

5. LIMA BUAH KEKUATAN

19. 'Sekali lagi, Aku memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk mengembangkan lima buah kekuatan. Di sini seorang bhikkhu mengembangkan kekuatan kepercayaan, yang membawa ke kedamian, membawa ke penerangan sempurna sepenuhnya. Ia mengembangkan energi atau daya kekuatan ... kekuatan kesada¬ran ... kekuatan konsentrasi ... kekuatan pengertian, yang membawa ke kedamaian, membawa ke penerangan sempurna sepenuh¬nya. Dan oleh sebab itu ... penyempurnaan tentang pengetahuan langsung dan mengabdikan diri untuk menjalaninya.'

6. TUJU BUAH FAKTOR-FAKTOR PENERANGAN SEMPURNA

20. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk mengembangkan tujuh buah faktor-faktor Penernangan Sempurna. Di sini seorang bhikkhu mengembangkan kesadaran faktor penerangan sempurna, yang mempunyai (Cara hidup) penyendirian, menjadi pudar, penghentian bagi penun¬jangan-nya serta perubahan bagi penyerahan atau pelepasan. Ia mengembangkan penyelidikan dari dhamma-dhamma faktor peneran¬gan sempurna ... daya faktor penerangan sempurna ... kebaha¬giaan faktor penerangan sempurna ... faktor ketenangan pener¬angan sempurna ... faktor konsentrasi penerangan sempurna ... Ia mengembangkan faktor keseimbangan penerangan sempurna ... Ia mengembangkan faktor keseimbangan penerangan sempurna, yang memiliki (cara hidup) penyendirian, memudar, dan peng¬hentian bagi tunjangan-nya serta perubahan-perubahan bagi penghentian/pelepasan. Dan oleh sebab itu ... penyempurnaan dari pengetahuan langsung dan mengabdikan diri kedalamnya serta menjalani.

7. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk mengembangkan Delapan Jalan Mulia. Di sini seorang bhikkhu mengembangkan pandangan benar, kemauan benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, kesadaran benar, konsentrasi benar. Dan oleh sebab itu ... penyempurnaan tentang pengetahuan langsung dan mengabdikan diri serta menjalaninya.'

8. DELAPAN KEBEBABASAN-KEBEBASAN

22. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku tentang jalan untuk mengembangkan delapan kebebasan. Memiliki bentuk, ia melihat kasus-kasus tentang bentuk: ini adalah kebebasan pertama.
Dengan tidak mencerap tentang bentuk-bentuk di dalam dirinya, ia melihat kejadian-kejadian tentang bentuk di luar: Ini adalah kebebasan kedua. Ia hanya mengambil keputusan tentang yang cantik: Ini adalah Kebebasn ke tiga. Dengan makin menumpuknya persepsi tentang bentuk, dengan lenyapnya persepsi tentang perlawanan, dengan tiada perhatian terhadap persepsi tentang perbedaan, (sadar bahwa) "ruang itu adalah tidak terbatas", ia memasuki dan mengabdikan diri di dalam dasar landasan yang terdiri ketidak keterbatasan dari ruang: ini adalah kebebasan ke empat. Dengan makin menumpuknya secara total dasar yang terdiri dari ruang, (sadar bahwa) "kesadran adalah tidak terbatas", ia memasuki serta mengabdi¬kan diri di dalm dasar ketidak keterbatasan dari ruang: ini adalah kebebasan ke lima. Dengan makin menumpuknya secara total dasar yang terdiri dari ketidak keterbatasan kesadaran, (sadar bahwa) "di sana tidak terdapat apa-apa", ia memasuki dan mengabdikan diri di alam dasar yang terdiri dari ketidak ada apa-apa/kehampaan: Ini adalah kebebasan yang ke-enam. Dengan makin menumpuknya secara total dasar yang terdiri dari ketidak ada apa-apaan, ia memasuki dan mengabdikan diri di dalam dasar yang terdiri dari baik bukan persepsi maupun bukan tidak persepsi: ini adalah kebebasan ke tujuh. Dengan makin menumpuknya secara total yang terdiri dari baik persep¬si maupun pula bukan non persepsi, ia memasuki dan mengabdi¬kan diri di dalam penghentian tentang persepsi dan perasaan. Ini adalah kebebasan yang ke delapan. Dan oleh sebab itu ... penyempurnaan tentang pengetahuan langsung dan mengabdikan diri padanya.

9. KE DELAPAN LANDASAN BAGI PELAMPAUAN (DI LUAR KEDUNIAWIAN)

23. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada siswa-siswa-Ku jalan untuk mengembangkan delapan Landasan untuk Pelampauan (Melampaui keadaan keduniawiaan atau Keadaan yang ada di luar keduniawiaan). Dengan mencerap bentuk-bentuk di dalam diri sendiri, orang melihat detik-detik atau kejadian-kejadian dari bentuk di luar, terbatas, baik maupun yang buruk; hanyalah dengan melampau mereka itulah bahwasanya ia dapat mencerapnya demikian: "Aku tahu, aku melihat." Ini adalah dasar atau landasan pertama untuk pelampauan itu. Dengan mencerap bentuk di dalam diri sendiri, orang melihat detik-detik atau kejadian-kejadian dari bentuk di luar, tidak bisa diukur dan baik atau buruk; adalah dengan melampaui mereka itu bahwasanya ia menerima dengan akalnya demikian: "Aku tahu, aku melihat." Ini adalah dasar atau landasan kedua bagi pelampauan. Dengan tidak mencerap bentuk diri sendiri, orang melihat kejadian-kejadian bentuk sebelah luar, terba¬tas, baik atau buruk; adalah dengan melampaui mereka itulah bahwasanya ia menangkap dengan pikirannya demikian: "Aku tahu, aku melihat". Ini adalah dasar pelampauan ketiga. Dengan tidak mencerap bentuk di dalam dirinya, orang melihat kejadian-kejadian dari bentuk di luar, tak dapat diukur dan baik atau buruk; adalah dengan melampaui mereka, bahwasanya ia mencerap demikian: "Aku tahu, aku melihat." Ini adalah dasar keempat bagi pelampauan itu. Dengan tidak mencerap bentuk di dalam diri-nya sendiri, orang melihat bentuk dari sebelah luar, biru, warna biru, tampak sebagai biru, dengan cahaya biru. Tepat seperti halnya sekuntum bunga yang berwar¬na biru, berwarna biru, tampa sebagai biru, dengan cahaya ke biru-biruan, atau tepatnya seperti kain Benares yang halus pada kedua sisi yang biru, berwarna biru, tampak sebagai biru, dengan cahaya kebiru-biruan, demikian juga halnya, dengan tidak mencerap bentuk pada dirinya sendiri ... dengan cahaya kebiru-biruan: adalah dengan melampaui mereka bahwasa¬nya ia mencerap demikian: "Aku tahu, aku melihat." Ini adalah dasar kelima bagi pelampauan itu. Dengan tidak dapatnya mencerap dari bentuk dalam dirinya sendiri, orang melihat detik-detik dari bentuk sebelah luar, kuning, warna kuning, tampak atau kelihatan sebagai kuning, dengan cahaya kekuning-kuningan. Tepat seperti bunga kannikara yang memang adalah kuning, berwarna kuning, kelihatan atau tampak sebagai kun¬ing, dengan cahaya kekuning-kuningan, atau tepat seperti halnya kain Benares yang lembut atau halus pada kedua sisi, yang kuning, berwarna kuning, tampak sebagai kuning, dengan cahaya kekuning-kuningan, demikian juga halnya, dengan tidak mencerap dari ... dengan cahaya kekuning-kuningan itu; adalah dengan melampaui mereka bahwasanya ia mencerap demikian: "Aku tahu, aku melihat." Ini adalah dasar ke enam bagi pelampauan itu. Dengan tidak mencerap bentuk di dalam diri-nya sendiri, orang melihat detik-detik dari bentuk sebelah luar, merah, bewarna merah, kelihatan sebagai merah, dengan cahaya kemer-ah-merahan. Tepat seperti halnya bunga hibicus yang merah, warna merah, tampak sebagai merah, dengan cahaya kemerah-merahan, atau tepatnya sebagai kain Benares yang lembut halus pada kedua sisi, yang merah, berwarna merah, tampak sebagai merah, dengan cahaya ke merah-merahan, demikian juga halnya, dengan tidak mencerap tentang bentuk ... dengan cahaya ke merah-merahan; adalah dengan melampaui mereka bahwasanya ia mencerap demikian: "Aku tahu, aku melihat". Ini adalah dasar ketujuh dari pelampauan itu. Dengan tidak mencerapnya bentuk di dalam dirinya, orang melihat detik-detik dari bentuk sebelah luar, putih, berwarna putih, tampak sebagai putih, dengan cahaya ke putih-putihan, tepat seperti halnya Bintang Penyembuh yang putih, berwarna putih, tampak sebagai putih, dengan cahaya ke putih-putihan, atau tepatnya seperti kain Benares yang halus pada kedua sisi, yang putih, berwarna putih, tampak sebagai putih, dengan cahaya ke putih-putihan, demikian juga, dengan tidak mencerapnya bentuk ... dengan cahaya ke putih-putihan; adalah dengan melampaui mereka bahwasanya ia mencerap demikian: "Aku tahu, aku melihat." Ini adalah dasar bagi pelampauan ke delapan. Dan oleh sebab itu ... penyempurnaan dari pengetahuan langsung dan mengabdi¬kan diri di dalamnya.

10. KE SEPULUH KESEGENAPAN

24. 'Sekali lagi, Aku memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk mengembangkan sepuluh dasar-dasar bagi kesegena¬pan (totalitas) itu.
'Orang menghayati tanah sebagai keseluruhannya di atas, di bawah dan di sekeliling, mutlak dan tidak dapat diukur.
'Orang lain menghayati ari sebagai keseluruhan ...
'Orang lain menghayati udara sebagai suatu keseluruhan ...
'Orang lain menghayati biru sebagai suatu keseluruhan...
'Orang lain menghayati merah sebagai suatu keseluruhan ...
'Orang lain menghayati putih sebagai suatu keseluruhan ...
'Orang lain menghayati ruang sebagai suatu keseluruhan ..
'Orang lain menghayati kesadaran sebagai suatu keselu¬ruhan di atas, di bawah, dan di sekeliling, mutlak dan tidak dapat diukur. Dan oleh karena itu ... penyempur¬naan dari pengetahuan langsung dan mengabdikan diri ke dalamnya.
11. KE EMPAT JHANA-JHANA

25. 'Sekali lagi, AKu telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku cara atau jalan untuk mengembangkan ke empat jhana itu.

'Di sini, dengan cara hidup sama sekali terasing dari keinginan-keinginan inderawi, terasing dari dhamma-dhamma yang tidak menguntungkan, seorang bhikkhu memasuki serta mengabdikan diri di dalam jhana pertama, yang diiringi oleh pengetrapan pemula serta penunjang, dengan kebahagiaan dan kesenangan yang terlahir karena pengasingan-nya itu.

'Ia membuat kebahagiaan dan kesenangan terlahir dari keterasingan hingga basah kuyup, tergenang, terisi dan terse¬bar kesegenap tubuh, sehingga tiada ada satu bagian-pun dari seluruh tubuh ini yang tidak dirasuki oleh kebahagiaan dan kesenangan yang terlahir karena keterasingan itu. Tepat seperti halnya seorang pelajar yang kerjanya memandikan menaburkan bubuk mandi di dalam panci metal dan, memercikan dikit demi sedikit dengan air, mengepal-ngepalnya hingga adonan itu menjadi semacam bola dari tepung mandi, membasahi¬nya, meresapi keseluruhnya, baik di dalam maupun di luar, sementara ia sendiri tidak menjadi cair, demikian juga hal¬nya, sang bhikkhu membuat kebahagiaan ke seluruh tubuhnya, sehingga tiada ada bagian dari tubuhnya yang tidak diresapi oleh kebahagiaan serta kesenangan yang terlahir dari penga-singan-nya itu.

26. 'Sekali lagi, dengan dihentikannya pengetrapan pemula serta pengetrapan penunjang ia memasuki serta mengabdikan diri di dalam jhana kedua, yang memiliki kepercayaan sendiri serta kemanunggalan pikiran tanpa adanya pengetrapan pemula, tanpa adanya pengetrapan penunjang, dengan kebahagiaan dan (badani) kesenangan yang terlahir dari konsentrasi.

'Ia membuat kebahagiaan dan kesenangan yang terlahir dari konsentrasi itu basah kuyup, curam, terisi dan menyebar luar kesegenap badan ini, dan tiada ada bagian lain dari tubuh ini di mana kebahagiaan serta kesenangan yang terlahir oleh konsentrasi ini tidak diliputi. Tepat seperti seolah-olah terdapat suatu danau dalam mana airnya bersumber (dari bawah), tidak memiliki saluran masuk dari timur, barat, utara atau selatan, tidak pula diisi dari waktu ke waktu oleh hujan dari langit, maka sumber air dingin yang berasal dari bawah danau itu akan membuat segar arinya, digenangi terisi air menyebar ke segenap danau, dan tiada ada bagian-bagian lain daripada danau itu di mana air dingin akan menyebar tidak diliputi, demikian juga halnya, sang bhikkhu membuat kebaha-gian dan kesenangan terlahir karena konsentrasi itu menjadi basah kuyup, digenangi, terisi dan menyebar luar ke segenap badan-nya, sehingga tidak ada bagian-bagian lain dari tubuh¬nya di mana kebahagiaan dan kesenangan yang terlahir karena konsentrasi itu tidak meliputinya.

27. 'Sekali lagi, dengan memudarnya kebahagiaan juga ia mengabdikan diri di dalam keseimbangan dan kesadaran serta kewaspadaan, masih merasakan kesenangan dengan tubuhnya, ia masuk ke dalam serta mengabdikan diri ke dalam jhana ketiga, untuk mana Sang Tathagata mengumumkan: "Ia memiliki pengabdi¬an menyenangkan yang mempunyai keseimbangan dan sadar."
'Ia membuat kesenangan dari mundurnya kebahagiaan yang basah kuyup, curam dan menyebar ke seluruh tubuh, dan tiada ada bagian dari segenap tubuhnya di mana kesenangan yang berasal dari mundurnya kebahagiaan yang tidak meliputinya itu. Tepat seperti, kolam bunga leli atau kolam bunga lotus, beberapa bunga leli atau lotus putih atau lotus merah tumbuh di bawah air berkembang di bawah air, tidak berdiri tegak di atas air, berkembang tenggelam di dalam air, dan air yang dingin membasahinya, mengenangi mengisi serta meresap ke segenap dari padanya, mulia dari ujung atas hingga ke ujung bawah, dan tiada ada bagian dari pada bunga lily air itu, bunga-bunga lotus putih, bunga merah, kepada siapa air nan dingin itu tidak membasahi atau meresapinya, demikian juga halnya seorang bhikkhu membuat kesenangan dibebaskan dari kebahagiaan yang membasahi, menggenangi, mengisi dan menyebar luas ke segenap tubuhnya, dan tiada bagian lain dari tubuhnya di mana kesenangan yang disebabkan dari kebahagiaan tidak akan menyebar luas di tubuhnya itu.

28. 'Sekali lagi, dengan meninggalkan rasa kesenangan serta sakit dari badani, dengan menghilangnya terdahulu tentang kesenangan dan kedudukan, ia memasuki serta mengabdi¬kan diri di dalam jhana ke empat, di mana tidak ada rasa baik sakit maupun suka, dan memiliki kemurnian tentang kesadaran yang disebabkan karena keseimbangan itu.

'Ia duduk dengan pikiran murni dan jenih meliputi segenap tubuhnya, dan di sana tiada ada bagian dari segenap tubuhnya di mana pikiran murni dan jernih itu tidak meliputi-nya. Tepat seperti seseorang sedang duduk dan badannya dilip-uti oleh kain putih mulai dari ujung kepala hingga ke kaki, dan tiada ada bagian-bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi atau ditutupi oleh kain putih itu, demikian juga halnya, seorang bhikkhu duduk dengan pikiran murni dan jernih yang meresap ke segenap tubuhnya, dan tiada ada bagian-bagian dari tubuhnya yang tidak diresapi oleh pikiran murni dan jernih itu.
'Dan karena itu ... penyempurnaan tentang pengetahuan langsung dan mengabdikan diri di dalamnya.

12. PENGETAHUAN BATIN

29. 'Sekali lagi, Aku memproklamirkan kepada siswa-siswa Ku jalan untuk mengerti, demikian: "Tubuhku ini mempunyai bentuk, terdiri dari ke empat unsur-unsur besar dan di jadi¬kan: "Tubuhku ini mempunyai bentuk, terdiri dari ke empat unsur-unsur besar dan dijadikan oleh ayah dan ibu, di bentuk oleh nasi dan roti, ia memiliki sifat tidak kekal, mempunyai sifat untuk dapat dipakai habis serta as, mempunyai sifat akan terurai habis dan dapat dihancurkan" dan demikian: "Kesadaranku mempunyai sifat akan terurai habis dan dapat dihancurkan" dan demikian: "Kesadaran mempunyai hal itu sebagai bantuan-nya dan telah terikat kepadanya. Tepat seper¬ti seolah-olah adanya sebuah batu permata terbuat dari air paling murni, bersegi delapan, dipotong dengan sempurna, jernih dan kemilau, memiliki semua persyaratan kwalitas, dan melalui pengikatannya dengan benang berwarna biru, kuning, merah, putih atau coklat, sehingga dengan demikian orang tersebut dengan mata yang baik, apabila memegangnya dengan tanganya, akan menilainya demikian: 'Ini adalah permata indah dari air termurni, delapan segi, dipotong dengan sempurna, jelas dan cemerlang, memiliki semua persyaratan dari kwali¬tas-kwalitasnya, dan melalui pengikatannya dengan benang berwarna biru, kuning, merah, putih atau coklat, 'demikian juga halnya, aku telah memproklamirkan kepada para siswa-ku jalan untuk mengerti demikian: "ini adalah tubuhku ... kesa¬daranku mempunyai hal itu bagi penunjangnya dan telah terikat dengan-nya."
'Dan oleh sebab itu ... penyempurnaan tentang pengeta¬huan langsung dan mengabdikan diri di dalamnya.

13. BADAN TERBUAT OLEH PIKIRAN
30. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-ku jalan untuk membentuk dari tubuh/badan ini-suatu badan/tubuh lain yang mempunyai bentuk, terbuat oleh pikiran, dengan semua anggota-anggota badan tanpa kekurangan segala daya kemampuannya. Tetapi seperti seseorang mencabut sebatang buluh alang-alang dari pelepahnya dan berpikir demikian: "Ini adalah pelepahnya di mana buluh itu dicabut ke luar." atau tepatnya seperti seseorang menarik ke luar pedang dari dari sarungnya dan berpikir demikian: "Ini adalah padang-nya, ini adalah sarung ini di mana pedang telah ditarik ke luar." atau tepatnya seperti seseorang menarik ke luar seekor ular dari dalam liang dan berpikir demikian: 'Ini adalah ularnya, ini adalah liang ularnya; ular adalah satu, liang ular adalah yang satu lainnya; adalah dari liang ular itu muka ular dirakit ke luar"; demikian juga halnya, Aku telah memprokla¬mirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk membentuk dari tubuh ini suatu tubuh lain yang memiliki bentuk, terbuat dari pikiran, dengan semua anggota-anggota-nya, tidak kekurangan segala daya kemampuan-nya.
'Dan oleh sebab itu itu ... penyempurnaan dari penge-tahuan langsung/Dhamma dan mengabdikan diri kepadanya.

14. JENIS-JENIS KESUKSESAN SUPERNORMAL

31. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk memanfaatkan beberapa kesuksesan super¬normal: setelah menjadi satu, mereka adalah banyak; setelah menjadi banyak, mereka adalah satu; mereka itu muncul dan menghilang; mereka pergi tanpa terhalang menembus dinding, melalui tutupan-tutupan, melalaui gunung-gunung seolah-olah di dalam ruang saja; mereka dapat menyelam masuk dan ke luar menembus tanah seolah-olah di dalam air; mereka pergi melalui air yang tidak terputus seolah-olah berada di atas tanah; dengan duduk bersila mereka melakukan perjalanan di ruang seperti burung-burung bersayap; dengan tangan-tangan mereka, mereka dengan menyentuh dan mengusap rembulan dan matahari yang begitu perkasa dan kuatnya; mereka memanfaatkan pengua¬saan rembulan dan matahari yang begitu perkasa dan kuatnya; mereka memanfaatkan penguasaan badani sekalipun sejauh dunia dari Brahmana. Tepat seperti halnya seorang pembuat periuk yang pandai atau anak buahnya yang akan membuat-nya, mencip-tanya, bahan tanah liat periuk yang pandai atau anak buahnya yang akan membuat-nya, menciptakannya, bahan tanah liat yang telah dipersiapkan dengan baik-nya, bentuk periuk apapun yang ia inginkan; atau tepat seperti halnya pengrajin gading yang terampil atau anak buahnya akan membuatnya, akan menciptakan¬nya, bahan dari gading yang telah dipersiapkan dengan baik¬nya, bentuk apapun dari seni ukur gading yang ia inginkan; atau tepatnya seperti seseorang pandai emas yang terampil atau anak buahnya yang akan membuatnya, akan menciptakannya dari bahan emas yang telah dipersiapkan dengan baiknya, bentuk seni ukir emas apapun yang ia inginkan, demikian juga, aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk memanfaatkan berbagai jenis kesuksesan supernatural ... mereka memanfaatkan penguasaan secara badan sejauh dunia dari kaum Brahmana.

'Dan oleh karena itu .. penyempurnaan tentang pengeta¬huan langsung dan mengabdikan diri di dalamnya.

15. UNSUR TELINGA SURGAWI

32. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk mendengar dengan unsur telinga surgawi, yang mana adalah sudah dimurnikan dan melampaui telinga dengan unsur telinga surgawi, yang mana sudah dimurnikan dan melampaui telinga manusia, kedua-duanya jenis suara, surgawi dan manusiawi, suara-suara yang jauh maupun yang dekat. Tepat seperti halnya seorang peniup seruling tanduk akan membuat tiupannya itu terdengar tanpa kesukaran di dalam empat arah, demikian juga halnya, aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk mendengar ... jauh maupun dekat.

'Dan oleh karena itu ... penyempurnaan dari pengeta-huan langsung dan mengabdikan diri di dalamnya.

16. MELIPUTI PIKIRAN

33. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk mengerti dengan cara meliputi dengan pikiran-pikiran dan makhluk-makhluk lain, dari orang-orang ini. Mereka mengerti bahwsanya pikiran dipengarhui oleh nafsu sebagai yang dipengarhui oleh nafsu, pikiran yang tidak dipengaruhi oleh nafsu sebagai tidak dipengaruhi oleh nafsu; mereka mengerti pikiran dipengaruhi oleh kebencian sebagai dipengaruhi oleh kebencian, pikiran tidak dipengaruhi oleh kebencian sebagai tidak dipengaruhi oleh kebencian; mereka mengerti pikiran dipengaruhi oleh khayal sebagai dipengaruhi oleh khayal, pikiran tidak dipengaruhi oleh khayal sebagai tidak dipengaruhi oleh khayal; mereka mengerti pikiran yang terpusatkan/terpadu pikiran yang terpadu dan pikiran yang tercerai berai sebagai yang kacau balau; mereka mengerti pikiran yang agung dan mulia sebagai yang agung dan mulia, pikiran yang tidak agung sebagai pikiran yang tidak agung; mereka mengerti pikiran yang unggul sebagai pikiran yang unggul, dan pikiran yang tidak unggul sebagai tidak unggul; mereka mengerti pikiran yang terkonsentrasi sebagai terkon-sentrasi, pikiran yang tidak terkonsentrasi sebagai tidak terkonsentrasi; mereka mengerti pikiran yang terbebaskan sebagai yang terbebaskan dan yang tidak terbebaskan sebagai tidak terbebaskan. Tepat seperti halnya seorang wanita atau seorang pria muda, remaja, suka akan hal-hal yang bagus, dalam menganggap dirinya sendiri tentang wajahnya yang ber¬sih, bercahaya apabila dilihat dari kaca atau dari dalam mangkuk berisikan air bersih akan tampaknya apabila wajah itu terdapat sebuah titik demikian: "Di sana terdapatlah titik", atau akan tahu apabila diwajahnya itu tidak terdapat titik demikian: "Di sana tidak terdapat titik", demikian juga halnya, Aku telah memproklamiskan kepada para siswaku jalan untuk mengerti ... dan pikiran yang tidak terbebaskan sebagai tidak terbebaskan. 'Dan oleh sebab itu ... penyempurnaan dari pengetahuan langsung serta mengabdikan diri di dalamnya.

17. MENGINGAT-INGAT MASA KEHIDUPAN YANG LAMPAU

34. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk mengingat kembali masa kehidupannya mereka yang berkelipan banyak itu, yakni umpama satu masa kehidupan, dua, tiga, empat, lima, sepuluh, seratus ribu masa kelahiran, banyak sekali aeon-aeon penciuman dari dunia serta perluasannya: "Di sana aku dinamakan demikian, dari suku bangsa ini, dengan penampilan demikian, demikian adalah makanan pokok-ku, demikian adalah kenalan-kenalan-ku dengan rasa suka dan duka, demikian adalah masa akhir hidupku; dan setelah meninggal dari sana, aku muncul di sini." Jadi secara mendetail dan dengan ciri-cirikhas mereka mengingat kembali masa kehidupan mereka yang berkelipan banyak itu. Seolah-olah seseorang pergi dari desa itu ke desa lain dan kemudian ia kembali ke desa semula dan berpikir: "Aku pergi dari desa-ku sendiri ke desa itu dan di sana adalah cara aku berdiri, demikian adalah cara aku duduk, demikian adalah cara aku berbicara, demikian adalah cara aku berdiam,; dan dari desa tersebut aku kembali lagi ke desa-ku semula"; demikian juga halnya, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan untuk mengingat kembali masa-masa kehidupan mereka yang berke¬lipatan banyak itu ... demikian mereka mengingat kembali masa kehidupan mereka yang berkelipatan banyak itu dengan sangat mendetil dan bercirikan ciri-ciri khas.

'Dan sebab ... penyempurnaan tentang pengetahuan dan mengabdikan di dalamnya.

18. META SURGAWI

35. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan dengan mana dengan memakai mata surgawi, yang telah dimurnikan dan melampaui mata manusiawi, untuk melihat makhluk-makhluk meninggal dan muncul kembali, yang inferior dan superior, cakap dan buruk, bertingkah laku baik dan buruk. Mereka mengerti bagaimana makhluk-makhluk itu mati sesuai dengan kamma-kamma mereka sebagai berikut: "Makhluk-makhluk pantas ini yang bertingkah laku jahat (tidak baik) secara badani, ucapan dan pikiran, mengotori atau menodai dalam tingkah laku atau perbuatan mereka, mempunyai, pada terurainya badan, setelah kematian, muncul kembali di dalam keadaan tidak menguntungkan, di dalam nasib membahagiakan, di dalam alam kutukan, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk pantas ini yang bertingkah laku baik dengan badan, ucapan dan pikiran, bukan sebagai penoda dari Yang Mulia, benar dalam pandangan-pandangan mereka, memberikan dampak dalam pandangan benar di dalam perbuatan-perbuatan mereka, mempunyai, setelah terurainya badan setelah kematian, akan muncul (kembali) di dalam kebahagiaan, bahkan di dalam alam surgawi; jadi dengan mata surgawi, yang telah dimurnikan dan melampaui dari manusia, mereka melihat makhluk-makhluk men¬inggal dan muncul kembali, yang inferior dan superior, cakap dan buruk, bertingkah laku baik dan buruk; mereka mengerti bagaimana makhluk-makhluk itu mati sesuai dengan kamma-kamma mereka. Tepat seperti seolah-olah di mana terdapat dua buah rumah dengan pintu-pintu dan seseorang dengan mata yang masih baik sedang berdiri di sana di antara ke dua rumah itu, dan ia melihat beberapa orang memasuki rumah-rumah itu dan ke luar masuk terus-menerus; demikian juga halnya, Aku telah memprok¬lamirkan kepada siswa-Ku jalan untuk melihat, dengan mata surgawi ... bagaimana makhluk-makhluk itu meninggal sesuai dengan kamma-kamma mereka.

'Dan oleh sebab itu ... penyempurnaan dari pengetahuan langsung dan mengabdikan diri di dalamnya.

19. PELENYAPAN DARI NODA-NODA

36. 'Sekali lagi, Aku telah memproklamirkan kepada para siswa-Ku jalan, dengan mana melalui realisasi mereka sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan sekarang, mereka memasuki dan mengabdikan diri di dalam pembebasan dari hati serta pembebasan dengan pengertian yang bebas noda dengan pelenyapan atau menghabiskan noda-noda. Tetapi seperti seo¬lah-olah di sana terdapat sebuah danau diceruk atau dicela-cela gunung, jernih, terang dan tidak keruh, sehingga seseo¬rang dengan mata yang tajam yang sedang berdiri di sana di tepi danau itu dapat melihat kerang-kerang, batu-batuan serta kerikil serta pula dapat melihat gerombolan ikan-ikan bere¬nang dan beristirahat, dan ia mungkin berpikir: "Inilah danau itu, jernih, terang, tidak keruh, dan di sana tampak kerang-keranganan, batu-batuan dan kerikil, dan juga gerombolan ikan-ikan yang sedang berenang dan istirihat": demikian juga, Aku telah memproklamirkan kepada ara siswa-Ku jalan dengan mana melalui realisasi mereka sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan sekarang, mereka memasuki dan mengabdi¬kan diri di dalam pembebasan dari hati serta pembebasan dengan pegertian yang bebas dari noda dengan pelenyapan noda-noda itu.

'Dan oleh sebab itu banyak siswa-siswa-Ku telah menca¬pai perwujudan, penyempurnaan dari pengetahuan-langsung dan mengabdikan diri di dalamnya.

37. 'Inilah Udayin, adalah dhamma kelima atas dasar mana para siswa-ku menghormat, menjunjung tinggi, memuja dan memuliakan Diriku dan hidup dalam ketergantungan kepada-Ku, menghormat dan menjunjung tinggi diriku.

38. 'Ini semua, Udayin, adalah kelima buah dhamma atas dasar mana para sisa-Ku menghormat, menjunjung tinggi memuja dan memuliakan diriku serta hidup dalam ketergantungan dari diriku, menghormat serta menjunjung tinggi diriku.'

'Itu adalah apa yang dikatan oleh Sang Tathagata. Si Kelana Udayin menjadi sangat puas dan ia senang terhadap kata-kata dari Sang Buddha itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar