Selasa, 16 Maret 2010

Uddesavibhanga Sutta

Uddesavibhanga Sutta
( 138 )
Demikian telah saya dengar :
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di dekat Savatthi di Jetavana di vihara Anathapindika. Ketika Beliau berada di sana Sang Bhagava menyapa para bhikkhu, demikian : "Para bhikkhu."
"Bhante," para bhikkhu menjawab Sang Bhagava. Sang Bhagava mengatakan demikian : "Aku akan mengajarkan kalian, para bhikkhu, suatu pernyataan dan uraiannya. Dengar dan perhatikan dengan baik, dan Aku akan berbicara." "Ya, Bhante," para bhikkhu menjawab Sang Bhagava. Sang Bhagava berkata demikian:
"Para bhikkhu, seorang bhikkhu seharusnya menyelidiki (hal-hal) sedemi¬kian sehingga, pada saat menyelidiki, kesadarannya akan hal-hal di luar diri¬nya tidak menjadi kacau, tidak terpecah-belah, dan akan hal-hal di dalam dirinya tidak mengendur sehingga tidak terganggu oleh keserakahan; para bhikk¬hu, apabila kesadaran akan hal-hal diluar dirinya tidak menjadi kacau, tidak terpecah-belah, akan hal-hal di dalam dirinya tidak mengendur, maka, baginya yang tidak terganggu oleh keserakahan di masa yang akan datang tidak akan ada awal mula atau kelahiran kembali, usia tua dan kematian ataupun penderitaan." Demikianlah ucapan Sang Bhagava. Setelah mengatakan hal itu, Sang Bhagava bangkit dari tempat duduknya dan memasuki tempat kediamannya. Segera setelah Sang Bhagava pergi, para bhikkhu menyadari bahwa: "Bhante, Sang Bhagava, mengucapkan pernyataan kepada kita secara singkat: 'Para bhikkhu, seorang bhikkhu seharusnya menyelidiki (hal-hal) sedemikian sehingga ... di masa yang akan datang tidak akan ada awal mula atau kelahiran kembali, usia tua dan kematian atau penderitaan.' Tetapi tanpa menjelaskan maksudnya secara lengkap Beliau bangkit dari tempat duduknya dan memasuki tempat kediamannya. Sekarang, siapa yang dapat menjelaskan maksudnya secara lengkap mengenai pernyataan yang diucapkan secara singkat oleh Sang Bhagava namun maksudnya tidak dijelaskan secara lengkap?" Kemudian terpikir oleh para bhikkhu tersebut: "Bhante Kaccana yang Mulia dipuji oleh Sang Bhagava dan dihormati oleh para Dewa Brahma ... 3 [224,225] ... Mohon Bhante Kaccana tidak berkeberatan menjelaskannya."
"Baiklah, para bhikkhu, dengar , perhatikan baik-baik dan saya akan berbicara."
'Ya, bhante," para bhikkhu menjawab bhante Kaccana yang Mulia. Bhante Kaccana yang Agung berkata demikian :
"Sehubungan dengan pernyataan, para bhante, yang telah diucapkan secara singkat oleh Sang Bhagava tetapi tanpa menjelaskan maksudnya secara lengkap ketika beliau bangkit dari tempat duduknya dan memasuki tempat kediamannya : 'Para bhikkhu, seorang bhikkhu seharusnya menyelidiki (hal-hal) sedemikian sehingga, ... di masa yang akan datang tidak akan ada awal mula atau kelahiran kembali, usia tua dan kematian ataupun penderitaan' - mengenai pernyataan ini yang dibabarkan secara singkat oleh Sang Bhagava tetapi tanpa menjelaskan maksudnya secara lengkap, saya, para bhikkhu, mengerti maksudnya secara leng¬kap demikian :
Dan apakah, para bhikkhu, yang disebut kesadaran akan hal-hal di luar yang terganggu, terpecah-belah? Apabila, para bhikkhu, setelah seorang bhikkhu melihat suatu bentuk materi dengan mata, kesadarannya mengikuti kesan dari bentuk materi, menjadi terikat oleh kepuasan akan bentuk materi, melekat pada kepuasan akan bentuk materi, terbelenggu oleh belenggu kepuasan akan bentuk materi, maka kesadaran akan hal-hal di luar dikatakan terganggu, dan terpecah-belah. Jika, setelah mendengar suatu suara dengan telinga ... setelah mencium bau-bauan dengan hidung, ... setelah mengecap suatu rasa dengan lidah ... setelah merasakan sentuhan dengan tubuh ... setelah mengenali keadaan bathin dengan pikiran, kesadarannya mengejar/melekat pada kesan dari keadaan bathin ... terbelenggu oleh belenggu kepuasan terhadap keadaaan bathin, maka kesadaran mengenai hal-hal di luar dikatakan terganggu dan terpecah. Demikian¬lah, para bhante, kesadaran akan hal-hal di luar disebut terganggu dan terpe¬cah.
Dan apakah, para bhante, yang disebut kesadaran akan hal-hal di luar yang tidak terganggu, tidak terpecah? Apabila, para bhante, setelah seorang bhikkhu melihat suatu bentuk materi dengan matanya, kesadarannya tidak menge¬jar/melekat pada bentuk materi, tidak terikat oleh kepuasan akan bentuk mat¬eri, tidak terbatas pada kepuasan akan bentuk materi, tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan akan bentuk materi, maka kesadaran akan hal-hal di luar dikatakan tidak terganggu dan tidak terpecah. [226] Jika, setelah mendengar suara dengan telinga ... setelah mengenali keadaan bathin dengan pikiran, kesadarannya tidak mengejar/melekat pada keadaan bathin, tidak terikat oleh kepuasan akan keadaan bathin, tidak terbatas oleh kepuasan akan keadaan ba¬thin, tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan akan keadaan bathin, maka kesadaran akan hal-hal di luar dikatakan tidak terganggu dan tidak terpecah.
Dan apakah, para bhante, yang disebut keadaan pikiran yang lemah berke¬naan dengan hal-hal di dalam? Mengenai ini, para bhante, seorang bhikkhu, menjauhkan diri dari kenikmatan indera, menjauhkan diri dari keadaan pikiran yang tidak terlatih, mencapai Jhana pertama yang disertai vitakka-vicara, yang timbul dari penjauhan diri, dan merupakan kegiuran dan kegembiraan. Jika kesadarannya mengejar/melekat pada kegiuran dan kegembiraan yang timbul dari penjauhan diri, jika kesadarannya terikat oleh ... terbatas pada ... terbe¬lenggu oleh belenggu kepuasan dalam kegiuran dan kegembiraan yang timbul dari penjauhan diri, maka pikirannya dikatakan melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam.
Selanjutnya, para bhante, seorang bhikkhu, dengan mengabaikan vitakka-vicara, dengan pikiran yang tenang dan terpusat pada satu titik, mencapai Jhana kedua yang tidak mengandung vitakka-vicara, yang timbul dari pemusatan pikiran, dan merupakan kegiuran dan kegembiraan. Jika kesadarannya mengejar kegiuran dan kegembiraan yang timbul dari pemusatan pikiran, jika kesadarannya terikat ... terbatas pada ... terbelenggu oleh belenggu kepuasan akan kegiuran dan kegembiraan yang timbul dari pemusatan pikiran, maka pikirannya disebut melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam.
Selanjutnya, para bhante, seorang bhikkhu dengan memudarnya kegiuran dengan keseimbangan, kewaspadaan dan sungguh-sungguh menyadari dan mengalami sendiri kegembiraan itu yang oleh para ariya dikatakan: 'Berbahagialah mereka yang memiliki keseimbangan dan waspada,' mencapai Jhana ketiga. Jika kesada¬rannya mengejar/melekat pada kegembiraan dari keseimbangan,1 jika kesadarannya terikat oleh ... terbatas pada ... terbelenggu oleh belenggu kepuasan akan kegembiraan dari keseimbangan, maka pikirannya dikatakan melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam.
Selanjutnya, para bhante, seorang bhikkhu, dengan menyingkirkan kegembi¬raan, dengan menyingkirkan kesedihannya, dengan melemahkan kesenangan dan penderitaannya terdahulu, mencapai Jhana keempat dimana tiada kesedihan maupun kesenangan, yang murni oleh keseimbangan bathin dan kewaspadaan. Jika kesada¬rannya mengejar/ melekat pada apa yang tanpa kesedihan maupun kesenangan, jika kesadarannya terikat oleh ... terbatas pada ... terbelenggu oleh belenggu kepuasan dalam apa yang tanpa kesedihan maupun kesenangan, maka pikirannya dikatakan melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam. Demikianlah, para bhante, pikiran itu dikatakan melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam.
[227] Dan apakah, para bhante, yang dikatakan pikiran yang tidak melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam? Dalam hal ini, para bhante, seorang bhikk¬hu, menjauhkan diri dari kesenangan indera ... mencapai Jhana pertama yang ... kegiuran dan kegembiraan. Jika kesadarannya tidak mengejar/melekat pada kegiu¬ran dan kegembiraan yang timbul dari penjauhan diri, jika kesadarannya tidak terikat oleh ... tidak terbatas pada ... tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan dalam kegiuran dan kegembiraan yang timbul dari penjauhan diri, maka pikirannya dikatakan tidak melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam.
Selanjutnya, para bhante, seorang bhikkhu, dengan mengabaikan vitakka-vicara ... mencapai Jhana kedua yang ... kegiuran dan kegembiraan. Jika kesa¬darannya tidak mengejar/melekat pada kegiuran dan kegembiraan yang timbul dari pemusatan pikiran, jika kesadarannya tidak terikat oleh ... tidak terbatas pada ... tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan akan kegiuran dan kegembi¬raan, maka pikirannya dikatakan tidak melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam.
Selanjutnya, para bhante, seorang bhikkhu, dengan memudarnya kegiuran .... mencapai Jhana ketiga. Jika kesadarannya tidak mengejar/melekat pada kegembiraan akan keseimbangan bathin, jika kesadarannya tidak terikat oleh ... tidak terbatas pada ... tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan pada kegembiraan akan keseimbangan bathin, maka pikirannya dikatakan tidak melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam.
Selanjutnya, para bhante, seorang bhikkhu, dengan menyingkirkan kegembi¬raan, dengan menyingkirkan kesedihan ... mencapai Jhana keempat dimana tidak ada kesedihan maupun kegembiraan, yang murni oleh keseimbangan bathin dan kewaspadaan. Jika kesadarannya tidak mengejar/melekat pada apa yang tanpa kesedihan maupun kesenangan, jika kesadarannya tidak terikat oleh ... tidak terbatas pada ... tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan akan apa yang tanpa kesedihan maupun kegembiraan, maka pikirannya dikatakan melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam. Demikianlah, para bhante, pikiran itu dikatakan melemah berkenaan dengan hal-hal di dalam.
Dan apakah, para bhante, yang terganggu oleh keserakahan? Mengenai ini, para bhante, seorang kebanyakan yang awam, tidak mengacuhkan para orang suci, tidak mahir dalam dhamma dari para orang suci, tidak terlatih dalam dhamma dari para orang suci, tidak mengacuhkan orang-orang yang sejati, tidak mahir dalam dhamma dari orang-orang yang sejati, tidak terlatih dalam dhamma dari orang-orang yang sejati, memandang bentuk materi sebagai diri atau diri memi¬liki bentuk materi atau bentuk materi di dalam diri atau diri di dalam bentuk materi. Bentuk materinya berubah dan menjadi sebaliknya; dengan perubahan dan kebalikannya dalam bentuk materinya, kesadarannya dikuasai dengan perubahan dalam bentuk materi;2 terdapat gangguan baginya yang timbul dari kemelekatan¬nya pada perubahan dalam bentuk materi; objek bathin, muncul, terus-menerus menggoda pikirannya; karena godaan-godaan pikirannya ini ia menjadi takut dan terganggu serta penuh keinginan3 dan ia terganggu oleh keserakahan.4
[228] Ia memandang perasaan ... pencerapan ... kecenderungan dari kebia¬saan ... kesadaran sebagai diri atau diri memliki kesadaran atau kesadaran di dalam diri atau diri di dalam kesadaran. Kesadarannya berubah dan menjadi sebaliknya; dengan perubahan dan kebalikannya dalam kesadarannya, kesadarannya dikuasai dengan perubahan dalam kesadarannya; objek bathin, muncul, terus-menerus menggoda pikirannya; karena godaan pikirannya ini ia takut dan ter¬ganggu dan penuh keinginan dan ia terganggu oleh keserakahan. Inilah, para bhante, apa yang tidak terganggu oleh keserakahan.
Dan apakah, para bhante, yang tidak terganggu oleh keserakahan? Mengenai ini, para bhante, seorang siswa suci yang telah belajar, memperhatikan para orang suci, mahir dalam dhamma dari para orang suci, terlatih baik dalam dhamma dari para orang suci, memperhatikan para orang sejati, mahir dalam dhamma dari para orang sejati, terlatih baik dalam dhamma dari para orang suci, tidak memandang bentuk materi sebagai diri atau diri sebagai bentuk materi. Bentuk materinya berubah dan menjadi sebaliknya; tetapi dengan peruba¬han dan kebalikannya dalam bentuk materinya, kesadarannya tidak dikuasai dengan perubahan dalam bentuk materinya; tidak ada gangguan baginya yang timbul dari kemelekatan pada perubahan dalam bentuk materi; objek mental, muncul, tidak terus-menerus menggoda pikirannya; karena tiadanya kemelekatan pikirannya ini ia tidak takut maupun terganggu atau penuh keinginan dan ia tidak terganggu oleh keserakahan. Ia tidak memandang perasaan ... pencerapan ... kecenderungan dari kebiasaan ... kesadaran sebagai diri atau diri memiliki kesadaran atau kesadaran di dalam diri atau diri di dalam kesa¬daran. Kesadarannya berubah dan menjadi sebaliknya; dengan perubahan dan kebalikannya dari kesadarannya, kesadarannya tidak dikuasai dengan perubahan dalam kesadarannya; tidak ada gangguan baginya yang timbul dari kemelekatan pada perubahan dalam kesadarannya; objek mental, muncul , tidak terus-menerus menggoda pikirannya; karena tidak tergodanya pikiran ia tidak takut maupun terganggu ataupun penuh keinginan dan ia tidak terganggu oleh keserakahan. Inilah, para bhante, apa yang tidak terganggu oleh keserakahan.
Mengenai pernyataan, para bhante, yang diucapkan Sang Bhagava secara singkat tetapi tanpa menjelaskan maksudnya secara lengkap ketika beliau bang¬kit dari tempat duduknya dan memasuki tempat berdiamnya: 'Para bhikkhu, seo¬rang bhikkhu seharusnya menyelidiki (hal-hal) bahwa ... di masa depan tidak ada lagi asal mula atau kelahiran kembali, usia tua dan kematian dan penderi¬taan'- mengenai pernyataan ini yang diucapkan sang Bhagava secara singkat tetapi tanpa menjelaskan maksudnya secara lengkap, saya, para bhante [229] mengerti maksudnya secara lengkap demikian. Tetapi apabila anda, para bhante, menginginkan, anda dapat menemui sang Bhagava dan menanyakan pada beliau mengenai maksudnya sehingga sang Bhagava dapat menjelaskannya pada anda se¬hingga anda dapat memahaminya."
Kemudian para bhikkhu tersebut ... (sebagaimana pada Majjhima Nikaya iii 198-199, di atas, halaman 243, terbaca Para bhikkhu, seorang bhikkhu seharus¬nya menyelidiki (hal-hal) yang ... di masa depan tidak ada lagi asal mula atau kelahiran kembali, usia tua dan kematian dan penderitaan dan bukannya Masa lampau janganlah dikejar, masa depan jangan diharapkan ... Beliaulah sesung¬guhnya yang disebut yang selamat, yang dikatakan petapa dalam damai) ...
"Para bhikkhu, Kaccana yang Agung adalah terpelajar, para bhikkhu, Kaccana yang agung memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Karena apabila kalian, para bhikkhu, menanyakan pada Aku maksudnya, Akupun akan menjelaskannya tepat seperti yang dijelaskan oleh Kaccana yang agung. Sesungguhnya, inilah maksud yang sesungguhnya, dan demikianlah yang seharusnya kalian ingat."
Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagava. Dengan gembira, para bhikkhu bersuka ciata dalam apa yang dikatakan Sang Bhagava.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar