Mahakaccanabhaddekarattasutta
(133)
[192] Demikian telah saya dengar: Pada suatu ketika Sang Bhagava berdiam di dekat Rajagaha dalam Vihara Tapoda 1. Kemudian Yang Arya Samiddhi 2, setelah bangkit saat menjelang malam, pergi menuju (danau) Tapoda untuk membasuh anggota badannya. Setelah dia selesai membasuh anggota badannya di (danau) Tapoda dan keluar (dari air), dia berdiri dengan satu jubah sambil menger¬ingkan anggota badannya, kemudian, setelah larut malam 3. Seorang dewa dengan kecantikannya yang memancar menerangi seluruh Tapoda4, mendekati Yang Arya Samiddhi dan, setelah mendekat, berdiri pada satu sisi. Saat dia berdiri pada satu sisi, dewa ini berkata demikian kepada Yang Arya Samiddhi:
"Apakah engkau, Oh.. Bhikkhu, mengingat pembabaran dan analisis mengenai AUSPICIOUS ?"
"Aku, teman 5, tidak mengingat pembabaran dan analisis mengenai AUSPICIOUS . Tetapi apakah engkau, teman, mengingat pembabaran dan analisis mengenai AUSPICIOUS ?"
"Demikian juga aku, Oh.. Bhikkhu, tidak mengingat pembabaran dan analisis mengenai AUSPICIOUS. Tetapi apakah engkau Oh Bhikkhu mengingat syair mengenai AUSPICIOUS ?"
"Aku, teman, tidak mengingat syair mengenai AUSPICIOUS. Tetapi apakah engkau, teman, mengingat syair mengenai AUSPICIOUS?"
"Demikian juga aku, Oh..Bhikkhu, tidak mengingat syair mengenai AUSPICIOUS. Akan tetapi apakah engkau, Oh..Bhikkhu, mengetahui pembabaran dan analisis mengenai AUSPICIOUS; apakah engkau, Oh..Bhikkhu, memahami pembabaran dan analisis mengenai AUSPICIOUS; apakah engkau, Oh..Bhikkhu, mengingat pembabaran dan analisis mengenai AUSPICIOUS. Karena pembabaran dan analisis mengenai AUSPICIOUS, Oh..Bhikkhu, berhubungan dengan tujuan, keduanya sangat penting bagi kehidupan suci."
"Demikianlah yang dikatakan dewa ini; setelah mengatakan hal tersebut, ia lenyap seketika. Kemudian Yang Arya Samiddhi menje¬lang pagi mendekati Sang Bhagava; setelah mendekati dan menyapa Sang Bhagava, ia duduk pada jarak yang pantas. Setelah ia duduk pada jarak yang pantas, Yang Arya Samiddhi berkata demikian kepada Sang Bhagava :
"Aku, Yang Mulia, ketika menjelang malam pergi menuju (danau) Tapoda untuk membasuh anggota badanku. [193] Setelah aku selesai membasuh anggota badanku di (danau) Tapoda dan keluar (dari air), aku berdiri dengan satu jubah sambil mengeringkan anggota badanku, kemudian, Yang Mulia, setelah larut malam seo¬rang dewa ...(seperti diatas)'... sangat penting bagi kehidupan suci.' Demikianlah yang dikatakan dewa itu, Yang Mulia. Setelah mengatakan hal tersebut, ia lenyap seketika. Alangkah baiknya, Yang Mulia, apabila Sang Bhagava sudi mengajarkan kepadaku pemba¬baran dan analisis mengenai AUSPICIOUS."
"Baiklah, Oh..Bhikkhu, dengar dan perhatikanlah dengan seksama dan aku akan bicara."
"Baiklah, Yang Mulia," jawab Yang Arya Samiddhi mengiyakan Sang Bhagava. Sang Bhagava berkata demikian :
"Yang lampau tidak seharusnya dikejar, yang akan datang jangan didambakan.
...(Seperti dalam khotbah No.131)...
Sesungguhnyalah dia disebut 'AUSPICIOUS', digambarkan seba¬gai seorang bijaksana dalam kedamaian."
Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Setelah ia mengata¬kan hal ini 6, Sang WELL-FARER bangkit dari duduknya dan memasuki tempat kediamannya. Segera setelah Sang Bhagava pergi, timbullah dalam pikiran para bhikkhu tersebut : "Para bhikkhu yang mulia, Sang Bhagava, setelah memberikan pembabaran ini kepada kami secara singkat, namun belum menjelaskan artinya secara lengkap, telah bangkit dari duduknya dan memasuki tempat kediamannya :
'Yang lampau tidak seharusnya dikejar, yang akan datang jangan didambakan.
...(Seperti dalam khotbah No.131)...
Sesungguhnyalah dia disebut "AUSPICIOUS", digambarkan sebagai seorang bijaksana dalam kedamaian.'
Sekarang, siapakah yang dapat menjelaskan arti secara lengkap dari pembabaran ini yang telah diberikan secara singkat oleh Sang Bhagava dengan arti yang tidak dijelaskan secara lengkap ? [194] Kemudian timbullah dalam pikiran para bhikkhu ini : "Yang Arya Mahakaccana dipuji oleh Sang Guru dan juga dihormati oleh orang pandai - para brahmacariya; dan Yang Arya Mahakaccana sanggup menjelaskan secara lengkap arti dari pembabaran ini yang diberikan secara singkat oleh Sang Bhagava dengan arti yang tidak dijelaskan secara lengkap. Bagaimana seandainya kami mendekati Yang Arya Mahakaccana, dan setelah mendekat, menanyakan dia artinya ?"
Kemudian para bhikkhu ini mendekati Yang Arya Mahakaccana, dan setelah mendekat, mereka saling bertukar salam dengan diri¬nya, dan setelah mereka selesai bertutur sapa secara bersahabat dan sopan, mereka duduk pada jarak yang pantas. Setelah mereka duduk pada jarak yang pantas, para bhikkhu ini berkata demikian kepada Yang Arya Mahakaccana :
"Kaccana yang mulia, Sang Bhagava, setelah memberikan pemba¬baran ini kepada kami secara singkat, namun belum menjelaskan artinya secara lengkap, telah bangkit dari duduknya dan memasuki tempat kediamannya :
'Yang lampau tidak seharusnya dikejar, yang akan datang jangan didambakan.
...(Seperti dalam khotbah No.131)...
Sesungguhnyalah dia disebut "AUSPICIOUS", digambarkan sebagai seorang bijaksana dalam kedamaian.'
Segera setelah Sang Bhagava pergi, timbullah dalam pikiran kami, Kaccana yang mulia : ' Para bhikkhu yang mulia, Sang Bhagava, setelah memberikan pembabaran ini kepada kami secara singkat, namun belum menjelaskan artinya secara lengkap, telah bangkit dari duduknya dan memasuki tempat kediamannya :
Yang lampau tidak seharusnya dikejar, yang akan datang jangan didambakan.
...(Seperti dalam khotbah No.131)...
Sesungguhnyalah dia disebut "AUSPICIOUS", digambarkan sebagai seorang bijaksana dalam kedamaian.
Sekarang, siapakah yang dapat menjelaskan arti secara lengkap dari pembabaran ini yang diberikan secara singkat oleh Sang Bhagava dengan arti yang tidak dijelaskan secara lengkap ?' Kemudian, Yang Mulia Kaccana, timbullah dalam pikiran kami : 'Yang Arya Mahakaccana dipuji oleh Sang Guru...Bagaimana seandai¬nya...menanyakan dia artinya.' Sudilah kiranya Yang Arya Mahakac¬cana menjelaskannya."
"Para bhikkhu yang mulia, sebagaimana halnya seseorang hendak menuju inti pohon, menyelusuri inti pohon, mencari inti dari suatu pohon yang kokoh dan rimbun, [195] mungkin mengabaikan akarnya, mengabaikan batangnya, sambil berpikir bahwa inti pohon tersebut harus dicari pada cabang pohon dan dedaunanÄÄkendatipun demikian hal ini tidaklah patut dilakukan oleh orang-orang yang bijaksana, karena (walaupun) kalian dapat bertatap muka dengan Sang Guru, namun kalian telah mengabaikan Sang Guru dan berpenda¬pat bahwa dirikulah yang seharusnya ditanyai mengenai artinya. Akan tetapi, para bhikkhu yang mulia, Sang Bhagava mengetahui apa yang seharusnya diketahui, melihat apa yang seharusnya dilihat, ia memiliki pandangan terang, memiliki pengetahuan, mengetahui Dhamma, menjadi Brahma, ia adalah Sang Penunjuk Jalan, Sang Pembimbing, Pembawa Tujuan, Pemberi Kekekalan, Raja Dhamma, Tathagata. Inilah saatnya kalian menanyakan kepada Sang Bhagava artinya sehingga kalian dapat mengerti apa yang dibabarkan Sang Bhagava kepada kalian."
"Tak diragukan lagi, Kaccana yang mulia, Sang Bhagava menge¬tahui apa yang seharusnya diketahui...Inilah saatnya kami menan¬yakan kepada Sang Bhagava artinya sehingga kami dapat mengerti apa yang dikatakan Sang Bhagava kepada kami. Namun Yang Arya Mahakaccana dipuji oleh Sang Guru dan juga dihormati oleh orang pandai - para brahmacariya; dan Yang Arya Mahakaccana sanggup menjelaskan secara keseluruhan arti dari pembabaran ini yang diberikan secara singkat oleh Sang Bhagava dengan arti yang tidak dijelaskan secara lengkap. Sudilah kiranya Yang Arya Kaccana menjelaskannya, tanpa merasa terbeban."
"Baiklah, para bhikkhu yang mulia, dengar dan perhatikan secara sungguh-sungguh dan aku akan bicara."
"Baiklah, yang mulia," jawab para bhikkhu mengiyakan Yang Arya Mahakaccana. Yang Arya Mahakaccana berkata demikian :
"Sehubungan dengan pembabaran itu, para bhikkhu yang mulia, yang diberikan secara singkat oleh Sang Bhagava namun dengan arti yang tidak dijelaskan secara lengkap saat dia bangkit dari duduk¬nya dan memasuki tempat kediamannya :
'Yang lampau tidak seharusnya dikejar, yang akan datang jangan didambakan.
...(Seperti dalam khotbah No.131)...
Sesungguhnyalah dia disebut "AUSPICIOUS", digambarkan sebagai seorang bijaksana dalam kedamaian.'
Terhadap pembabaran ini, yang diberikan secara singkat oleh Sang Bhagava namun dengan arti yang tidak dijelaskan secara lengkap, aku, para bhikkhu yang mulia, mengetahui artinya secara lengkap demikian :
Dan bagaimanakah, para bhikkhu yang mulia, seseorang menge¬jar masa lampau ? Dia berpikir [196] 'Begitulah penglihatannku 7 dimasa lampau, begitulah bentuk-bentuk materi,' dan kesadarannya8 terikat dengan kuat disana oleh nafsu keinginan dan kemelekatan; karena kesadarannya terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan, dia menikmatinya;9 sambil menikmatinya dia mengejar masa lalu. Dia berpikir :Begitulah telingaku di masa lampau, begitulah suara-suara...Begitulah hidungku di masa lampau, begi¬tulah bau-bauan...Begitulah lidahku di masa lampau, begitulah rasa...Begitulah badanku di masa lampau, begitulah objek sentu-han...Begitulah pikiranku di masa lampau, begitulah kondisi-kondisi mental,' dan kesadarannya terikat dengan kuat disana oleh nafsu keinginan dan kemelekatan; karena kesadarannya terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan, dia menikmati¬nya; sambil menikmatinya dia mengejar masa lalu. Demikianlah, para bhikkhu yang mulia, seseorang mengejar masa lampau.
Dan bagaimanakah, para bhikkhu yang mulia, seseorang tidak mengejar masa lampau ? Dia berpikir: 'Begitulah penglihatanku dimasa lampau, begitulah bentuk-bentuk materi,' tetapi kesadaran¬nya tidak terikat dengan kuat disana oleh nafsu keinginan dan kemelekatan; karena kesadarannya tidak terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan, dia tidak menikmatinya; tanpa menikmatinya dia tidak mengejar masa lalu. Dia berpikir : Begitu¬lah telingaku di masa lampau, begitulah suara-suara...Begitulah hidungku di masa lampau, begitulah bau-bauan...Begitulah lidahku di masa lampau, begitulah rasa...Begitulah badanku di masa lam¬pau, begitulah objek sentuhan...Begitulah pikiranku di masa lampau, begitulah kondisi-kondisi mental,' tetapi kesadarannya tidak terikat dengan kuat disana oleh nafsu keinginan dan kemele¬katan; karena kesadarannya tidak terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan, dia tidak menikmatinya; tanpa menik¬matinya dia tidak mengejar masa lalu. Demikianlah, para bhikkhu yang mulia, seseorang tidak mengejar masa lampau.
Dan bagaimanakah, para bhikkhu yang mulia, seseorang mendam¬bakan masa depan ? Dia berpikir : 'Semoga begitulah penglihatanku di masa depan, dengan bentuk-bentuk materi yang begitu.' dan mengalihkan perhatiannya pada perolehan hal-hal yang tidak (belum) diperoleh; karena dia mengalihkan perhatiannya demikian, dia menikmatinya; sambil menikmatinya, dia mendambakan masa depan. Dia berpikir :'Semoga begitulah telingaku...suara-suara... hidung ... bau-bauan ... lidah ... cita rasa ... tubuh ... objek-objek sentuhan ... Semoga begitulah pikiranku di masa depan, [197] dengan kondisi-kondisi mental yang begitu' dan dia menga¬lihkan perhatiannya pada perolehan hal-hal yang tidak (belum) diperoleh; karena dia mengalihkan perhatiannya demikian, dia menikmatinya; sambil menikmatinya, dia mendambakan masa depan. Demikianlah, para bhikkhu yang mulia, seseorang mendambakan masa depan.
Dan bagaimanakah, para bhikkhu yang mulia, seseorang tidak mendambakan masa depan? Dia berpikir : 'Semoga begitulah pengli¬hatanku di masa depan, dengan bentuk-bentuk materi yang begitu' tetapi tidak mengalihkan perhatiannya pada perolehan hal-hal yang tidak (belum) diperoleh; karena dia tidak mengalihkan perhatian¬nya demikian, dia tidak menikmatinya; tanpa menikmatinya, dia tidak mendambakan masa depan. Dia berpikir :'Semoga begitulah telingaku ... suara-suara ... hidung ... bau-bauan ... lidah ... cita rasa ... tubuh ... objek-objek sentuhan ... Semoga begitulah pikiranku di masa depan, dengan kondisi-kondisi mental yang begitu' tetapi tidak mengalihkan perhatiannya pada perolehan hal-hal yang tidak (belum) diperoleh; karena dia tidak mengalihkan perhatiannya demikian, dia tidak menikmatinya; tanpa menikmati¬nya, dia tidak mendambakan masa depan. Demikianlah, para bhikkhu yang mulia, seseorang tidak mendambakan masa depan.
Dan bagaimanakah, para bhikkhu yang mulia, seseorang hanyut diantara hal-hal yang sekarang? Jika, para bhikkhu yang mulia, terdapat pada masa sekarang 10 penglihatan dan juga bentuk-bentuk materi 11 yang menyebabkan kesadarannya terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan pada saat sekarang ini juga 12, (kemudian) karena kesadarannya terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan, dia menikmatinya;13 sambil menikmati mereka, dia hanyut diantara hal-hal yang sekarang. Jika, para bhikkhu yang mulia, terdapat pada masa sekarang telinga dan juga suara-saura...hidung dan juga bau-bauan...lidah dan juga cita rasa...tubuh dan juga objek-objek sentuhan...pikiran dan juga kondisi-kondisi mental yang menyebabkan kesadarannya terikat dengan kuat oleh nafsu dan kemelekatan pada saat sekarang ini juga, (kemudian) karena kesadarannya terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan, dia menikmatinya; sambil menik¬matinya, dia hanyut diantara hal-hal yang sekarang. Demikianlah, para bhikkhu yang mulia, seseorang hanyut diantara hal-hal yang sekarang.
Dan bagaimanakah, para bhikkhu yang mulia, seseorang tidak hanyut diantara hal-hal yang sekarang? Jika, para bhikkhu yang mulia, terdapat pada masa sekarang penglihatan dan juga bentuk-bentuk materi yang tidak menyebabkan kesadarannya terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan pada saat sekarang ini juga, (kemudian) karena kesadarannya tidak terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan, dia tidak menikmatinya; tanpa menikmatinya, dia tidak hanyut diantara hal-hal yang seka¬rang. Jika, para bhikkhu yang mulia, terdapat pada masa sekarang telinga dan juga suara-suara...hidung dan juga bau-bauan...lidah dan juga cita rasa...tubuh dan juga objek-objek sentuhan...piki¬ran dan juga kondisi-kondisi mental 14 yang tidak menyebabkan kesadarannya [198] terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan pada saat sekarang ini juga, (kemudian) karena kesa¬darannya tidak terikat dengan kuat oleh nafsu keinginan dan kemelekatan, dia tidak menikmatinya; tanpa menikmatinya, dia tidak hanyut diantara hal-hal yang sekarang. Demikianlah, para bhikkhu yang mulia, seseorang tidak hanyut diantara hal-hal yang sekarang.
Sehubungan dengan pembabaran itu, para bhikkhu yang mulia, yang diberikan secara singkat oleh Sang Bhagava namun dengan arti yang tidak dijelaskan secara lengkap saat dia bangkit dari duduk¬nya dan memasuki tempat kediamannya :
'Yang lampau tidak seharusnya dikejar, yang akan datang jangan didambakan.
... ... ...
Sesungguhnyalah dia disebut "AUSPICIOUS", digambarkan sebagai seorang bijaksana dalam kedamaian.'
Terhadap pembabaran ini, yang diberikan secara singkat oleh Sang Bhagava namun dengan arti yang tidak dijelaskan secara lengkap, aku, para bhikkhu yang mulia, mengetahui artinya secara lengkap demikian. Tetapi bila kalian, para bhikkhu yang mulia, mengingin¬kannya, setelah mendekati Sang Bhagava, kalian dapat menanyakan beliau tentang artinya, sehingga saat Sang Bhagava menjelaskannya pada kalian, kalian akan dapat memahaminya."
Kemudian bhikkhu-bhikkhu ini, merasa senang dan gembira dengan apa yang dikatakan oleh Yang Arya Mahakaccana, bangkit dari duduk mereka, mendekati Sang Bhagava; setelah mendekat dan menyapa Sang Bhagava, mereka duduk pada jarak yang pantas. Sete¬lah mereka duduk pada jarak yang pantas, bhikkhu-bhikkhu ini berkata demikian kepada Sang Bhagava :
"Yang Mulia, Sang Bhagava, setelah memberikan pembabaran ini pada kami secara singkat, telah bangkit dari duduknya dan mema¬suki tempat kediamannya sebelum menjelaskan artinya secara leng¬kap :
'Yang lampau tidak seharusnya dikejar, yang akan datang jangan didambakan.
... ... ...
Sesungguhnyalah dia disebut "AUSPICIOUS", digambarkan sebagai seorang bijaksana dalam kedamaian.'
Dan, Yang Mulia, tidak lama setelah Sang Bhagava pergi, timbullah dalam pikiran kami : 'Para bhikkhu yang mulia, Sang Bhagava, setelah memberikan pembabaran ini kepada kami secara singkat, namun belum menjelaskan artinya secara lengkap, telah bangkit dari duduknya dan memasuki tempat kediamannya :
Yang lampau tidak seharusnya dikejar, yang akan datang jangan didambakan.
... ... ...
Sesungguhnyalah dia disebut "AUSPICIOUS", digambarkan sebagai seorang bijaksana dalam kedamaian.
[199] Sekarang, siapakah yang dapat menjelaskan arti secara lengkap dari pembabaran ini yang diberikan secara singkat oleh Sang Bhagava dengan arti yang tidak dijelaskan secara lengkap ?' Kemudian, timbullah dalam pikiran kami, Yang Mulia, 'Saat ini, Yang Arya Mahakaccana dipuji oleh Sang Guru...Bagaimana seandai-nya...menanyakan dia artinya ?' Kemudian kami, Yang Mulia, menda-tangi Yang Arya Mahakaccana, dan setelah mendekat kami menanyakan Yang Arya Mahakaccana artinya. Arti (kata-kata) ini, Yang Mulia, telah dijelaskan kepada kami oleh Yang Arya Mahakaccana dengan cara-cara ini, dengan kalimat-kalimat ini, dengan kata-kata ini."
"Para bhikkhu, Mahakaccana terpelajar, dan para bhikkhu, Mahakaccana memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Karena apabila kalian, para bhikkhu, menanyakan Aku tentang artinya, Aku juga akan menjelaskannya persis seperti yang telah dijelaskan oleh Mahakaccana. Sesungguhnya, inilah arti yang tepat untuk itu, dan demikianlah yang harus kalian ingat."
Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagava. Bhikkhu-bhikkhu ini berbahagia dan bergembira atas apa yang telah diucapkan Sang Bhagava.
Khotbah Mahakaccana tentang AUSPICIOUS :
Bagian Ketiga
1. Disebut demikian karena vihara itu menghadap danau Tapoda. Pada M.A.v.4. Vihara ini disebut "panas", tatta. Bandingkan dengan S.A.i.38, VinA. ii. 512 dan lihat B.D.i.188, n.1, 274, n.6, K.S.i.14, n.5. Lihat juga S.i.8 dimana dengan cara yang sama seorang dewata berkata kepada Samiddhi pada tempat ini juga.
2. Lihat M.Sta.136. Pada Thag.46 dimana sebuah syair tertulis untuk melukiskan dirinya. Lihat Pss. Breth., hlm.51, n.3.
3. Untuk catatan pada kata-kata yang terdapat pada alinea ini lihat M.L.S.i.183.
4. Mungkin Tapoda ini adalah danau atau Viharanya sekaligus.
5. avuso.
6. Bandingkan dengan M.i.110 ff.
7. MA.v.5-6 menjelaskan bahwa dalam dua khotbah sebelumnya dan dalam satu khotbah lanjutan, bagian atas (matika) dan bagian analisis dibuat berdasrkan lima khandha; tetapi disini bagian atas menunjuk kepada 12 landasan (indera) (ayatana), yaitu keenam alat panca indera dan enam objek inderanya (yang tepat).
8. MA.v.6. dibaca dengan bahasa Birma, nikanti vinnana, kesada¬ran yang disertai dengan hasrat, idaman, kerinduan.
9. Yaitu dalam "penglihatan", dan sebagainya. Bandingkan dengan S.iv.13f., dimana seseorang bergembira dalam enam landasan indera.
10. etam paccuppannam.
11. Akan terlihat bahwa "penglihatan dan bentuk-bentuk materi" membentuk sebuah pasangan, dinyatakan oleh kata ubhayam. Kemelekatan, dsbnya., adalah untuk (pasangan) ini, tasmim. Demikian juga telinga dan suara-suara, dsbnya.
12. yeva paccuppanne.
13. Yaitu nafsu keinginan dan kemelekatan, tetapi dinyatakan oleh tam, sekali lagi menunjukkan pada pasangan=kedua-duanya.
14. Dikutip dari Asl.420.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar