Selasa, 16 Maret 2010

BRAHMAYU SUTTA

BRAHMAYU SUTTA
091


Demkian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang buddha sedang berjalan-jalan di Vidaha bersama-sama dengan banyak sekali bhikkhu Sangha, kira-kira sebanyak lima ratus bhikkhu. Pada waktu itu seorang brahmana bersama Brahmayu sedang tinggal di Mithila. Ia sudah layu, tua renta, tahun-tahun hidupnya sudah penuh, ia telah menjalani hidupnya sepanjang masa dan sudah sampai pada rentangan hidupnya, seratus dan duapuluh tahun usianya; ia adalah seorang ahli, 1) ten¬tang tiga Veda, 2) sangat terlatih dalam penguasaan kosa kata serta ritual-ritual bersama dengan phonologi dan exegesi-exegesi, 3) serta dalam tradisi legendaris seba¬gai yang kelima itu; ia sangat terpelajar dalam idioma¬tik, menguasai gramatika, cukup pandai dalam falsafat populer serta mengerti akan tanda-tanda dari orang besar 4). Brahmana Brahmayu mendengar: "Benarlah suku Sakya, sedang melakukan perjalanan di Videha bersama-sama dengan sejumlah besar bhikkhu Sangha, sebanyak lima ratus bhikk¬hu. Berita yang paling menyenangkan telah tersebar ke luar demikian berkenaan dengan yang mulia, 6) Gotama ini: Ia adalah ternyata Sang Buddha, yang sempurna, sepenuhnya sadar dengan sendiri, diberkahi dengan pengetahuan dan benar tingkah-laku, seorang yang sukses, pengetahuan dunia-dunia, penunggang kereta kuda tanpa tanding bagi orang-orang yang dijinakan, guru bagi para dewa dan manusia, Sang Tathagata, Sang Buddha. Sesudah menyadari melalui pengetahuan-Nya sendiri yang maha luar biasa itu, Beliau membuat terkenal dunia ini beserta dengan deva-deva termasuk juga para Mara dan Brahmana; makhluk-makhluk bersama dengan para petapa dan brahmana, dengan para deva dan manusia. Beliau mengajar Dhamma yang menye¬nangkan pada permulaannya, menyenangkan ditengah-tengah¬nya serta menyenangkan pada akhirnya; Beliau menjelaskan dengan semangat dan mendetil dan sebagai kelana-Brahmana dipenuhinya secara total serta dimurnikan seluruhnya. Ternyata penglihatan dari orang-orang yang disempurnakan Beliau ini adalah sangat baik juga."

[134] Pada waktu itu brahmana Brahmayu mempunyai seorang Brahmana muda Uttara sebagai muridnya; ia adalah seorang yang ahli dalam tiga veda ... cukup pandai dalam ... tanda-tanda dari seorang Besar. Maka brahmayu menyapa Brahmana muda Uttara sambil berkata: "Uttara yang baik, sang petapa Gotama ini, anak laki-laki dari suku Sakya ... menjelaskan dengan semangat serta mendetil dan sebagai kelana-Brahmana telah dipenuhinya secara total dan telah dimurnikan seluruhnya. Ternyata penglihatan dari seorang yang telah sempurna seperti Beliau ini adalah baik. Ternyata penglihatan dari seorang yang telah sempurna seperti Beliau ini adalah baik. Marilah kamu, Uttara sayang, dekatilah petapa Gotama itu; setelah kamu mendekatinya, selidikilah apakah Sang Petapa Gotama adalah ternyata Gotama yang dihormati dari mana laporan telah tersebar luas ke luar atau apakah Ia adalah bukan, dan apakah yang terhormat Gotama itu sadalah orang sede¬mikian atau bukan. Dengan melalui dirimu kita akan tahu tentang diri yang terhormat Gotama itu. Demikian juga aku akan, dalam kebijaksanaanmu tentang apa yang kamu kata¬kan, akan menemukan apakah yang mulia Gotama itu adalah sebenarnya benar-benar yang Mulia Gotama dari mana lapo¬ran telah tersebar luas ke luar atau apakah ia adalah bukan sebenarnya, dan apakah yang Mulia Gotama itu adalah seseorang yang demikian atau bukan. Uttara sayang, di dalam mantra-mantra kita, 1) ketiga puluh dua tanda tanda tentang seorang besar adalah merupakan tradisional 2). Bagi seorang Besar memiliki tentang tanda-tanda ini hanyalah dua jalan, 3) yang terbuka, bukan yang lainya: Apabila ia menyelesaikannya dalam keadaan rumah tangga ia akan menjadi seorang raja, 4) yang memutar roda, 5) seorang dhamma, 6) seorang raja di bawah dhamma, 7) penguasai dari seluruh dunia, orang yang membawa stabili¬tas di dalam alam-Nya; dan ia memiliki tujuh macam wasi¬at. Ke tujuh wasiat yang dimilikinya ini adalah wasiat roda, wasiat gajah, wasiat kuda, wasiat berlian, wasiat wanita, wasiat perumah tangga, wasiat penasehat sebagai yang ke tujuh itu. Ia akan mempunyai lebih dari seribu anak-laki-laki, orang-orang perkasa, yang dibentuk atas garis kepahlawanan, 1) mampu untuk menggilas pasukan-pasukan musuh. Ia berkelana mengalahkan tanah daratan yang dilingkupi oleh laut ini dengan dhamma, 2) bukan dengan tongkat bukan dengan pedang. Tetapi apabila ia pergi meninggalkan dari kehidupan berumah tangga menuju ke penghidupan tanpa rumah tangga, ia menjadi orang yang sempurna, seorang yang sepenuhnya telah sadar, seorang pengangkat dari selubung dunia. Sekarang aku, Uttara sayang, adalah seorang penceramah dari mantra-mantra, kamu adalah penerima, 4) mantra-mantra."

Betul sekali, tuan," dan pemuda brahma Uttara, sesudah menjawab brahmana Brahmayu menyetujuinya, sambil menempatkan diri Brahmayu selalu disebelah kanan-Nya, mulailah ia melakukan perjalanan Sang Buddha di Videha. [135] Sambil melakukan perjalanan itu, ia sedikit mende¬kati Sang Buddha; setelah mendekati Beliau, ia saling bertukar penghormatan dengan Sang Buddha; setelah melaku¬kan sapaan dalam suasana yang akrab serta hormat, maka duduklah ia pada jarak yang cukup hormat.

Ketika ia sudah duduk pada jarak yang cukup hormat itu, pemuda brahmana Uttara melihat pada tiga puluh dua tanda-tanda dari Orang besar pada tubuh Sang Buddha, terkecuali dua buah. Terhadap kedua tanda-tanda dari Orang Besar ia menjadi ragu-ragu, bingung, tidak menentu, tidak puas apakah tanda-tanda itu tersembunyi oleh pakai¬an tertutup oleh sarung pedang ? dan apakah lidah itu amat besar.

Kemudian terjadilah kepada Sang Buddha: "Brahmana muda Uttara ini melihat diri-ku semua tiga puluh tanda-tanda dari Orang Besar terkecuali dua buah. Tentang dua tanda-tanda dari orang besar yang ia ragu-ragu, membin¬gungkan, tidak berkepastian, tidak puas: apakah ia ter¬sembunyi oleh pakaian, sarung pembungkus dan apakah lidahku besar." Kemudian Sang Buddha merencanakan suatu perbuatan tentang kekuatan psigys 1) sehingga brahmana muda Uttara melihat bahwa apa yang dimiliki oleh Sang Buddha adalah tersembunyi oleh kain itu terselubung rapi. Kemudian Sang Buddha, sesudah menjulurkan lidah Beliau ke luar, mengusap-ngusapkannya mundur maju terhadap kedua telinga Beliau dan Beliau juga mengusap-ngusapkannya terhadap lobang hidung maju-mundur dan kemudian Beliau menutup seluruh bidang bulat dari batuk kepala dengan lidah-Nya itu 2).

Kemudian terjadilah pada Brahmana muda Uttara itu demikian: "Sang petapa Gotama lebih dekat sehingga demi¬kian aku dapat mengamati tingkah laku Beliau?" Kemudian untuk selama tujuh bulan Brahmana muda Uttara, bagaikan bayang-bayang tetap 3), mengikuti Sang Buddha dekat-dekat. Sesudah jangka waktu tujuh bulan itu, Brahmana muda Uttara pergi melakukan perjalanan menuju Mitthila di Videha; sambil melakukan perjalanan itu, ia dikit demi sedikit mendekati Mithila dan Brahmana Brahmayu; setelah mendekati dan sesudah memberi hormat kepada brahmana Brahmayu itu, maka duduklah ia pada suatu jarak yang hormat. Brahmayu sang brahmana berbicara demikian kepada Brahmana muda Uttara sesudah ia duduk pada jarak yang cukup hormat itu: "Aku mengira, Uttara sayang, bahwa laporan yang tersebar ke luar tentang yang mulia Gotama adalah memang benar demikian [136] dan bukan sebaliknya? Aku kira bahwa yang mulia Gotama adalah seorang demikian dan bukan jenis lain ?"

"Tuan, laporan yang tersebar ke luar tentang yang mulia Gotama adalah memang benar demikian dan bukan yang lain; yang mulia Gotama ini adalah orang demikian dan bukan jenis lain. Dan yang mulia Gotama isi memiliki tiga puluh dua tanda-tanda dari Orang Besar 4)

Gotama yang dihormati memiliki kaki dengan telapak rata, ia baik, seorang Besar, mempunyai tanda Orang Besar ini.

Pada telapak kaki dari Gotama yang baik itu muncu¬lah roda-roda dengan seribu jari, beserta lingkaran roda-Nya serta as roda, pendek kata semuanya komplit.

Gotama yang dihormati mempunyai tumit-tumit menonjol
Gotama yang dihormati mempunyai jari-jari tangan panjang dan jari-jari kaki,
Gotama yang dihormati itu mempunyai tangan-tangan dan kaki-kaki empuk dan halus.
Gotama yang dihormati itu mempunyai jari tangan dan kaki mempunyai jarak yang sama.
Gotama yang dihormati itu mempunyai mata kaki di tengah tengah kaki.
Gotama yang dihormati mempunyai kaki-kaki seperti kaki kijang.
Gotama yang dihormati itu, apabila sedang berdiri tegak dan tidak membungkuk, dapat mengusap dan menggosok lutut-nya dengan kedua telapak tangan;
Gotama yang dihormati itu mempunyai ...
Gotama mempunyai kulit berwarna emas, kulit yang halus dan lembut, tiada debu dan kotoran melekat pada tubuh-Nya.
Ia mempunyai rambut yang terpisah-pisah, tumbuh pada masing-masing pori-porinya.
Ia mempunyai rambut yang tumbuh menjulang ke atas, berwarna biru tua, ikal, menjurus ke kanan.
Gotama yang terhormat itu mempunyai permukaan-permukaan cembung, tubuhnya bagian depan seperti tubuh singa.
Ia tidak mempunyai lekukkan di antara punggung-pung¬gung.
Tubuhnya yang semetris, demikian juga dengan bagian dari panjang lengannya apabila direntangkan, sama dengan tinggi badan beliau.
Dada yang sama bulatnya Gotama yang terhormat itu mempunyai perasaan peka tentang rasa.
Gotama yang terhormat itu mempunyai rahang mirip singa.
[137] Gotama yang terhormat itu mempunyai empat puluh gigi yang sama ratanya, tanpa sela di antaranya. Gigi taring yang bersinar cemerlang dan mempunyai lidah panjang. Ia memiliki suara laksana suara Brahmana, berbi¬cara seperti burung karavika.
Ia memiliki mata sangat biru, bulu matanya seperti alis sapi. Rambut-rambutnya tumbuh di antara alis mata ber¬warna putih lembut bagaikan kapas.
Kepalanya berbentuk seperti kerajaan.
Ia baik, benar, juga mempunyai tanda ini sebagai orang besar. Beliau dikaruniai ketiga puluh dua tanda-tanda dari seorang Besar.
Bila berjalan, Beliau memulainya dengan kaki kanan; tidak melangkah terlalu lebar dan tidak juga terlalu pendek; Beliau berjalan tidak terlalu cepat dan pelan; Beliau tidak berjalan menyentuh lutut dengan lutut atau tumit dengan tumit; Beliau berjalan tidak menekuk paha ke atas atu ke bawah, Ia tidak melipat paha beliau ke dalam maupun ke luar.
Beliau berjalan hanya menggerakan tubuh bagian bawah dan tidak berjalan dengan seluruh kekuatannya tubuh-Nya. Apabila Beliau melihat ke sekeliling, Beliau melihat sekeliling dengan seluruh tubuhnya, beliau tidak melihat ke atas maupn ke bawah, dan tidak berja¬lan tanpa mengadakan pengamatan, sebab beliau melihat ke depan sejauh jangkauan ayunan pacul; lebih jauh daripada itu pengetahuan serta pandangan batin Beliau menjadi tidak terggannggu.
Apabila sedang memasuki rumah, Beliau tidak mene-kuk tubuh-Nya ke atas atau ke bawah, Beliau tidak menekuk tubuhnya ke dalam, [138] Beliau tidak menekuk tubuhnya ke luar. Beliau memutar ke sekeliling tidak terlalu jauh dari tempat duduk Beliau, tidak terlalu dekat, dan Beliau tidak duduk pada tempat duduk dengan mencengkeram berpe¬gangan dengan tangan, pula tidak menghempaskan tubuh-Nya di atas tempat duduk. Apabila Beliau telah duduk di dalam suatu rumah, Beliau tidak terjatuh dalam suatu tingkah laku yang tidak pantas yang dilakukan dengan tangan-tangan, Beliau tidak terjatuh ke dalam suatu perbuatan yang tidak layak dengan kaki-kakinya; Beliau tidak duduk dengan menaruh lutut melintang di atas lutut atau tumit melintang di atas tumit, pula tidak Ia lekukkan duduk sambil menyangga rahang dengan tangan.

Apabila Beliau duduk di dalam suatu rumah. Beliau tidak merasa takut, tidak gemetar, goyah atau bergetar dan demikian adalah yang terhormat Gotama ketika Beliau sedang duduk di dalam suatu rumah tidak merasa takut, tidak gemetar, tidak bergoyak, tidak bergetar, tidak kehilangan akal, berperhatian terhadap diri sendiri.

Apabila Beliau sedang menerima air untuk mangkuk, Beliau tidak membalikkan mangkuk-Nya ke atas, tidak membalikkan mankuk-Nya ke bawah, tidak membalikkan mang-kuk ke sebelah dalam, dan pula tidak membalikan mangkuk ke sebelah luar; Beliau tidak menerima air terlalu sedi¬kit maupun pula tidak terlalu banyak bagi mangkuk-Nya. Beliau membersihkan mangkuk-mangkuk-Nya dengan tidak membuat suara bergelontongan, Beliau membersihkan mangkuk tanpa memutar-mutar balik; sebelum beliau menaruh mangkuk di atas tanah, Beliau belum mau mencuci tangan-Nya; pada waktu tangan Beliau telah selesai dicuci, maka mangkuk itu telah dicuci juga; pada waktu mangkuk selesai dicuci, maka tangan Beliau telah dicuci juga. Beliau melempar air untuk mangkok itu tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat, dan tidak berantakan.

Apabila Beliau menerima nasi, Beliau tidak memba-likkan mangkuk ke atas, tidak membalikan mangkuk ke bawah, ia tidak membalikan mangkuk ke dalam, tidak pula membalikkan ke luar; Beliau menerima nasi tidak terlalu sedikit maupun pula tidak terlalu banyak. Gotama yang terhormat itu makan lauk-lauk itu dengan perbandingan layak dan Beliau tidak mengabaikan dengan setiap suap lauk yang disantap. Gotama yang terhormat menelan setiap suap makanan hanya sesudah diputar-putarnya dua atau tidak kali di dalam mulut Beliau; tidak ada satu biji nasipun yang memasuki tubuh Beliau sebelum Beliau menyuap nasi berikutnya. Gotama yang terhormat makan-makanan merasakan rasanya tetapi bukan merasakan keserakahan terhadap rasa enaknya. Gotama yang terhormat makan maka¬nan yang memiliki delapan ciri-ciri tetapi bukan karena kesukaan atau nafsu karena makanan tersebut atau karena nilai-nilai rasa kesenangan pribadi atau rasa untuk mempercantik diri, tetapi sekedar cukup untuk menunjang tubuh Beliau agar tetap sehat, untuk menjaga agar tidak cedera, untuk lebih lanjut menjalankan kelana-brahma, sambil berpikir: [139] 'Dengan demikian Aku akan menghan¬curkan perasaan lama dan tidak memperkenaankan perasaan baru timbul, dan tidak memperkenankan perasaan baru timbul, dan kemudian akan terjadi kehidupan bagi-Ku dan tanpa dapat dipersalahkan dan dapat mengabdikan diri dalam keadaan yang enak.

Ketika Beliau sudah makan dan sedang menerima air untuk mangkuk, Beliau tidak membalikan mangkuk ke atas ... ke bawah .. ke luar. Beliau menerima air untuk mangkuk tidak terlalu sedikit maupun pula tidak terlalu banyak. Beliau mencuci mangkuk tanpa menimbulkan suara berkelontang. ... Beliau membuang air dari mangkuk tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat, dan tidak berantakan. Ketika Beliau telah makan, Beliau menaruh mangkuk di atas tanah, tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat, sebab Beliau itu bukan tanpa prihatin terhadap mangkuk, namun begitu Beliau tidak terlalu melindungi terhadap mangkuk-Nya itu. Apabila ia sudah makan, Beliau duduk diam seben¬tar, tetapi Beliau tidak membiarkan waktu berlalu untuk mengucapkan terima kasih. Apabila Beliau telah makan, Beliau mengucapkan terima kasih. Beliau tidak mencela makan yang diberikan tersebut, Beliau tidak mengharap untuk mendapatkan makanan lain; sebaliknya Beliau menyu¬kai, membangkitkan, menginspirasi, menyenangkan sidang kumpulan orang-orang dengan memberikan pembicaraan ten¬tang dhamma. Apabila Beliau sudah membuat senang ... mengembirakan sidang kumpulan orang-orang tersebut dengan pembicaraan tentang dhamma, Beliau bangkit dari tempat duduk, kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Beliau tidak berjalan terlalu cepat, Beliau tidak berjalan terlalu lambat, Beliau tidak berjalan cemas untuk segera bebas.

Jubah dari Gotama yang terhormat itu tidak ditarik terlalu tinggi pada tubuhnya, tidak terlalu rendah pada tubuhnya; dan juga jubah itu tidak melekat pada tubuhnya, pula ia tidak ditarik lepas dari tubuh-Nya, dan pula angin tidak akan hembus jubah Gotama yang terhormat itu pada tubuh Beliau, juga tidak pula debu serta kotoran menempel pada jubah Gotama yang terhormat itu.

Apabila Beliau telah pergi ke vihara, Beliau duduk pada tempat duduk yang ditunjuk dan sementara duduk itu, Beliau membersihkan kaki-Nya tetapi Gotama yang yang terhormat itu tidaklah hidup berkemauan untuk melaksana¬kan usaha mempercantik kaki-kaki Beliau. Apa bila Beliau telah membersihkan kaki-kaki, maka ia duduklah bersila, menjaga tubuhnya tegak dan membangkitkan kesadaran dihada¬pan Beliau. Beliau tidak berusaha menyakiti diri sendiri, Beliau tidak berusaha menyakiti diri orang lain, Beliau tidak berusaha menyakiti kedua-duanya, Gotama yang ter¬hormat itu duduk sambil berusaha demi kesejahteraan diri sendiri, kesejahteraan orang-orang lain, kesejahteraan kedua-duanya, kesejahteraan untuk segenap dunia. [140] Apabila, di dalam vihara, Beliau sedang mengajar dhamma dalam suatu sidang orang-orang, Beliau tidak mengagungkan sidang itu, Beliau tidak meremehkan (memandang rendah) sidang itu; sebaliknya Beliau menyenangkan, menbangkit¬kan, menginspirasai, menggirangkan sidang tersebut dengan pembicaraan tentang dhamma. Suara yang keluar dari mulut Gotama yang terhormat itu, memiliki delapan buah ciri-ciri: ia adalah jelas dan dapat dimengerti dan manis dan dapat didengar dan lancar dan terang dan dalam serta resonan. Mengapa apabila Gotama yang terhormat itu mem-berikan instruksi-instruksi pada suatu sidang dengan suara, suara itu tidak terbawa ke luar dari sidang terse¬but. Ini semua, sesudah menyenangkan ... menggirangkan oleh yang terhormat Gotama dengan pembicaraan tentang Dhamma, bangkit dari duduk mereka, meninggal tempat enggan-Nya, selalu tetap manatap Beliau.

Kita, tuan-tuan, telah melihat Gotama yang terhor¬mat itu sedang berjalan, kita telah melihat Beliau ber¬diri diam, kita telah melihat Beliau duduk diam di dalam rumah, kita pernah melihat Beliau makan di dalam rumah, kita pernah melihat Beliau duduk diam sesudah makan, kita pernah melihat beliau memberikan rasa terima kasih sesu¬dah makan, kita pernah melihat Beliau mengajar dhamma di dalam vihara kepada suatu sidang. Gotama yang terhormat ini adalah bagaikan ini dan itu dan bahkan lebih lagi.

Ketika hal ini telah dikatakan, Brahmayu orang brahmana itu, bangkit dari duduknya, setelah membenahi jubah luarnya menutupi satu pundaknya, setelah memberi hormat kepada Sang Buddha dengan merangkapkan kedua telapak tangan-Nya, tiga kali ia mengucapkan kata-kata khidmat ini: "Terpujilah Sang Buddha, Yang Sermpurna, menjadi Sadar sendiri ... terpujilah Sang Buddha, Yang Sempurna, menjadi sadar sendiri. Barangkali di suatu tempat, suatu ketika kita dapat berjumpa Gotama yang terhormat ini, barangkali pada waktu itu bisa terjadi adanya suatu pembicaraan di antara kita."

Kemudian Sang Buddha, ketika sedang melakukan perjalanan di Vedeha, pada waktu yang tepat telah tiba di Mithila. Ketika Beliau berada di sana Sang Buddha tinggal dekat Mithila di Hutan Mangga Makhadeva. Para Bhrahmana dan perumah tangga dari Mithila mendengar tentang hal itu.:
"Sesungguhnya-lah, si petapa Gotama, [141] anak laki-laki dari kaum Sakya, yang telah pergi meninggalkan suku Sakya, sedang berjalan menuju Videha bersama-sama dengan sejumlah besar Pasamuan kaum Bhikkhu, dengan sebanyak limaratus bhikkhu. Pemberitaan yang paling menyenangkan yang tersebar ke luar berkenaan dengan Gotama yang ter¬hormat ... ternyata penampilan dari orang sempurna itu adalah baik seperti Dia ini." Kemudian para brahmana dan para perumah tangga dari Mitthila menekati Sang Buddha: beberapa di antara mereka, setelah mendekati serta sete¬lah memberikan salam kepada Sang Buddha, duduklah pada suatu jarak yang hormat; beberapa, setelah mereka saling memberikan salam dengan Sang Buddha dan setelah saling tegur dalam suasana yang akrab dan hormat, duduklah pada suatu jarak yang hormat; beberapa, sesudah memberikan salam kepada Sang Buddha dengan merangkapkan kedua belah tangan, duduklah pada suatu jarak yang hormat; beberapa, setelah memperkenalkan diri kepada Sang Buddha dengan menyebutkan nama serta dari suku-nya, duduklah mereka pada suatu jarak yang hormat; beberapa, menjadi diam, duduk pada suatu jarak yang hormat.

Si brahmana Brahmanyu mendengar: "Sesungguhnya-lah, si petapa Gotama, anak laki-laki dari kaum Sakya, telah pergi meningglkan suku Sakya, telah tiba di Mithila dan sedang menetap didekat Mithila di Hutan Mangga Makha¬deva," Kemudian brahmana Brahmayu bersama-sama dengan sejumlah kaum brahmana muda mendekati Hutan Mangga Makha¬deva. Ketika si Brahmana Brahmayu sudah berada di dekat Hutan Mangga, terjadilah padanya: "Adalah tidak pantas dalam diriku bahwasanya aku harus mendekati Hutan Mangga Makhadeva. Ketika si brahmana Brahmayu sudah berada di dekat Hutan Mangga, terjadilah padanya: "Adalah tidak pantas dalam diriku bahwasanya aku harus mendekati untuk melihat Sang Petapa Gotama tanpa memberi tahukan dulu." Maka dari itu brahmana Brahmayu menyampaikan kepada seorang brahmana muda tertentu, sambil berkata: "Marilah kamu, brahmana muda, dekatilah Sang Petapa Gotama; sete¬lah mendekati Beliau, atas namaku bertanyalah kepada Petapa Gotama apakah Beliau baik-baik saja, tidak sakit, apakah badannya segar, kuat serta menjalani kesenangan, sambil mengatakan: "Gotama yang baik, Brahmayu si brahma¬na sedang menanyakan apakah yang terhormat Gotama dalam keadaan baik, tidak sakit, badan segar, kuat dan menjala¬ni kesenangan'; dan kemudian bicara demikian: "Gotama yang baik, Brahmayu si brahmana telah uzur, tua, tahun-tahun telah penuh dijalani, ia telah hidup sepanjang bentangan waktu hidupnya dan telah sampai pada hari-hari terakhir hidupnya, usia seratus dan dupapuluh tahun lamanya; ia adalah ahli dalam tiga Veda, terampil dalam kosa-kata serta rituil-rituil bersama-sama dengan phonol¬ogi dan exegis-exegis dan tradisi-tradisi legendaris sebagai yang kelima; ia sangat terpelajar dalam diomatik-idiomatik, gramatik, gramatika, cukup canggih dalam falsafat populer serta tanda-tanda dari orang besar. Dari semua kaum brahmana serta perumah tangga, tuan yang tinggal di Mithila, Brahmayu si brahmana telah diangkat sebagai kepala berkenaan dengan kekayaan, Brahmayu si Brahmana telah di angkat sebagai kepala berkenaan dengan kekayaan. Brahmayu si brahmana telah diangkat sebagai kepala karena usianya yang tua serta kemampuannya. Ia sangat kepingin untuk berteman dengan Gotama yang baik."

"Baiklah, tuan," setelah brahmana muda itu menja¬wab Brahmayu menyetujuinya, lalu mendekati kepada Sang Buddha; setelah mendekat, ia saling memberikan salam dengan Sang Buddha, dan setelah saling menyapa dengan bahwasanya yang menghormat, berdirilah ia pada jarak yang hormat. Ketika ia sudah berdiri pada jarak yang hormat, brahmana muda kemudian berbicara demikian kepada Sang Buddha: "Gotama yang baik, si brahmana Brahmanyu bertanya apakah yang terhormat Gotama itu baik-baik saja, tidak sakit, badan sehat walafiat, kuat, menjalani hidup menye¬nangkan. Brahmayu si brahmana, Gotama yang baik, adalah sudah uzur, tua, penuh dengan tahun-tahun yang dijalani¬nya ... cukup pandai dalam falsafah populer dan tanda-tanda dari seorang orang besar. Dari semua kaum brahmana serta perumah tangga yang tinggal di Mithila, Brahmanyu si brahmana telah diangkat sebagai kepala berkenaan dengan kekayaan-nya ...berkenaan dengan mantra-mantra .... berkenaan dengan kekayaan-nya ... berkenaan dengan mantra-mantra ... berkenaan dengan umurnya yang panjang serta kemasyurannya. Ia adalah sangat ingin untuk melihat Gotama yang baik."

Brahmayu si brahmana itu harus melakukannya seka-rang untuk mana ia untuk mana ia menganggap waktunya telah tepat, brahmana muda."

Kemudian brahmana muda mendekati brahmana Brahman¬yu; setelah mendekat ia bicara demikian kepada brahmana Brahmanyu: "Perkenan telah diberikan tuan yang mulia, oleh petapa Gotama. Tuan yang terhormati, kamu boleh melakukannya sekarang untuk mana waktunya telah dianggap tepat bagimu."

Kemudian brahmana Brahmayu datang mendekati Sang Buddha. Sidang kumpulan orang-orang dari Sang Buddha melihat brahmana Brahmayu datang dari Sang Buddha melihat brahmayu datang dari jauh. Setelah melihat dirinya, mereka, masing-masing berdiri pada sisi sendiri-sendiri, membentuk ruang gerak baginya sebab ia adalah terkenal dan termasyur. Kemudian brahmana Brahmayu bicara demikian kepada para sidang: "Tidak, tuan-tuan yang baik, duduklah kamu pada masing-masing tempat duduk, aku akan duduk di sini dekat petapa gotama." Kemudian brahmana Brahmayu mendekati Sang Buddha; setelah mendekat, ia saling mem¬beri salam kepada Sang Buddha; setelah bertegur sapa dalam bahasa yang besahabat serta penuh hormat, ia duduk pada jarak yang hormat. Ketika ia sudah duduk di tempat yang jaraknya cukup hormat, Brahmayu si brahmana itu [143] melihat kepada ketigapuluh dua tanda-tanda tentang Seorang Besar pada tubuh Sang Buddha. Dan Brahmayu Sang Brahmana itu melihat semua tiga puluh dua tanda-tanda dari Seorang Besar ini, ia ragu-ragu, bingung, tidak pasti, tidak puas-apakah yang dibelakang pakaian itu adalah terselubung dan apakah lidah itu adalah besar. Kemudian Brahmayu Sang Brahmana itu menyapa Sang Buddha dengan syair-syair:

"Di antara ketiga puluh dua tanda-tanda dari Seorang Besar yang mana aku telah mendengar
Terdapatlah dua buah yang aku tidak melihat pada tubuh-tubuh-Mu Gotama.
Aku heran apakah yang tersembunyi di bawah pakaian itu adalah terselubung, Yang Teragung dari para pria ?
Atau apakah ia seorang wanita? Aku heran apakah lidah itu tidak pendek?
Aku heran apakah Engkau lidah panjang. Demikian se¬hingga aku bisa mengetahuinya,
Julurkanlah lidah ini, hapuskanlah keragu-raguan kita, Tuan.
Demi kesejahteraan di sini dan sekarang, dan bagi kegembiraan di keadaan yang akan datang
Kita memohon perkenan (untuk melihat) apa yang kita inginkan (untuk mengetahui nya itu)"
Kemudian terjadilah pada Sang Buddha: "Brahmana yang bernama Brahmayu melihat kepada-Ku semua tigapuluh dua tanda-tanda dari Seorang Besar, terkecuali dua buah. Tentang ke dua buah tanda dari Seorang Besar ini ia ragu-ragu, bingung, tidak pasti, tidak puas apakah yang ter¬sembunyi di balik kain itu terselubung dan apakah lidah-ku itu besar." Kemudian Sang Buddha merencanakan suatu akal atau daya tentang kekuatan psygis sehingga brahmana Brahmayu itu melihat bahwa apa yang dimiliki oleh Sang Buddha yang tersembunyi di belakang pakaian itu adalah memang terselubung. Kemudian setelah Sang Buddha menge¬luarkan lidah Beliau dari mulut, mengusap-usapkannya maju mundur pada kedua telinga Beliau serta pula mengu¬sap-usapkannya pada kedua lubang serta Beliau juga menut¬up seluruh bagian dari dahi Beliau dengan lidah-Nya itu.

Kemudian Sang Buddha memberikan jawaban dalam bentuk syair kepada brahmana Brahmayu: "Semua tiga puluh tubuh-Ku. Janganlah kamu meragu-ragukannya, brahmana.

Apa yang harus diketahui telah diketahui oleh-Ku, dan apa yang harus dikembangkan telah dikembangkan oleh-Ku, Apa yang harus dibuang telah dibuang oleh-Ku oleh sebab itu, brahmana, Aku telah sadar. [144] Demi untuk kesejahteraan di sini dan sekarang dan bagi kegembiraan dalam alam kehidupan yang akan datang. Mintalah perkenan apa yang kamu inginkan."

Kemudian terjadilah kepada brahmana Brahmayu itu: "Perkenan telah diberikan kepadaku oleh Petapa Gotama. Seandai aku menanyakan Petapa Gotama tentang tujuan daripada baik keadaan di sini dan sekarang atau tentang keadaan di waktu yang akan datanga ?" Kemudian terjadilah kepada Brahmana Brahmayu demikian: "Aku sendiri adalah terampil di dalam tujuan-tujuan tentang di sini dan sekarang, dan orang-orang lain menanyakan kepadaku ten¬tang tujuan dari di sini dan sekarang, dan orang-orang lain menanyakan kepadaku tentang tujuan dari di sini dan sekarang. Seandai aku bertanya kepada petapa Gotama sekedar tentang tujuan dari keadaaan (alam kehidupan) yang akan datang?" Kemudian Brahmayu si brahmana itu meyapa Sang Buddha dalam bentuk syair-syair:

"Bagaimanakah seseorang yang menjadi brahmana itu? Bagaimana seseorang menjadi ahli dalam pengetahuan?
Bagaimana adalah seseorang (yang menjadi) orang mengetahui kelipatan tiga itu?
Siapakah orang yang paling sempurna (disempurnakan) itu? Bagaimana seseorang bisa menjadi sempurna itu?
Dan bagaimanakah seseorang bisa menjadi seorang suci/bijaksana itu?
Siapakah yang disebut Sadar?'
Kemudian Sang Buddha menjawab dalam bentuk syair-syair brahmana Brahmayu:
"Barang siapa tahu akan penghidupan-penghidupan yang lalu dan melihat surga dan jalan-jalan tentang kesedihan,
Yang telah mencapai penghancuran-penghancuran dari kelahiran-kelahiran, dilaksanakan dengan pengeta¬huan luar biasa, ia adalah seorang Bijaksana atau suci.
Barang siapa mengetahui pikiran-nya adalah sama sekali murni, terbebas dari semua kemelatan,
Barang siapa mengetahui pikiran-nya adalah sama sekali murni, terbebas dari semua kemelatan,
Barang siapa telah melenyapkan kelahiran dan kema¬tian, di dalam kelana Brahaman ia adalah Sempurna.
Siapa yang menjadi ahli dari semua keadaan-keadaan pikiran, orang demikian disebutlah Sadar."
"Ketika syair tersebut telah diucapkan, Brahmayu sang Brahmana, bangkit dari duduknya, membenamkan jubah luarnya menutupi atau bahu, setelah menundukkan kepalanya kepada kaki-kaki Sang Buddha, mencium kaki-kaki Sang Buddha pada semua sisi dengan mulutnya dan mengusap-usapnya dengan kedua tangannya pada semua bagian, dan ia mengumumkan namanya sendiri.

"Aku Gotama, Brahmayu, si brahmana." Kemudian sidang kumpulan orang-orang itu semuanya menjadi terkejut dan kagum, dan berkata: "Ternyata ia adalah mengagumkan, ternyata ia adalah mengagumkan, ternyata ia adalah menga¬gumkan betapa besar adalah kekuatan pygis serta serta kemuliaan dari petapa dalam kebajikan mana Brahmayu brahmana ini, yang terkenal dan pandai, memberikan peng¬hormatan yang sangat mendalam."

"Kemudian Sang Buddha berkata demikian kepada si brahmana: [145] "Cukuplah, brahmana, bangkitlah; duduklah pada tempat dudukmu sendiri sejak pikiranmu sudah senang dengan diri-Ku." Kemudian brahmana Brahmayu, setelah bangkit, duduklah pada tempat duduknya sendiri. Kemudian Sang Buddha memberikan ceramah kepada Brahmayu si brahma¬na tentang berbagai makalah, ceramah tentang memberi, ceramah tentang kebiasaan moral, ceramah tentang surga; Beliau menjelaskan tentang mara bahaya, kekosongan, kerendahan martabat tentang kesenangan-kesenangan ider¬awi, keuntungan tentang pelenyapan mereka. Ketika Sang Buddha mengetahui bahwa pikiran dari Brahmayu si Brahmana itu telah siap, dapat dibentuk, hampa dari hambatan-hambatan, dapat diangkat, disenangkan, kemudian Beliau menjelaskan kepada-nya bahwasanya mengajarkan dhamma itu adalah Sang Buddha sendiri telah menemukan: amarah, pertentangan, penghentian serta Sang Jalan. Dan seperti¬nya kain putih bersih tanpa ada noda-noda hitam akan dengan mudahnya mencerap bahan pewarna, demikian juga Brahmayu si brahmana sedang (duduk) pada tempat duduk itu melakukan penglihatan-dhamma, tanpa debu tanpa noda, bangkitlah di dalam dirinya: bahwa "apa saja yang ber¬tanggung jawab terhadap asal muasal, maka semuanya adalah bertanggung jawab terhadap penghentian-nya." Kemudian Brahmayu si brahmana, setelah melihat dhamma, mencapai dhamma, mengetahui dhamma, terjun ke dalam dhamma, telah menyeberang atas keragu-raguan, mengenyampingkan ketidak kepastian dan mencapai tanpa bantuan dari orang lain kepercayaan penuh terhadap instruksi-instruksi Sang Buddha, berbicara demikian kepada Sang Buddha:

"Sangat indah, Gotama yang baik, sangat indah Gotama yang baik. Demikian juga, Gotama yang baik, seper¬ti seseorang mungkin dapat meluruskan apa yang harus diluruskan, atau mengungkapkan apa yang telah ditemukan, atau menunjukkan jalan kepada seseorang yang telah kesa¬sar, atau membawa lampu minyak masuk ke dalam tempat gelap sambil berpikir bahwa barang siapa yang memiliki daya penglihatan agar dapat melihat bentuk-bentuk materi¬al, demikian juga halnya dengan dhamma yang dibuat jelas dalam banyak bentuk oleh Gotama yang baik itu. Oleh karena itu aku akan pergi berlindung pada Gotama dan dhamma dan Sangha dari para bhikkhu. Semoga yang Mulia Gotama mau menerima diriku sebagai murid awam yang ber-lindung mulai hari ini hingga sepanjang masa hidupku. Dan semoga Yang Mulia Gotama memberi perkenan pergi untuk makan bersama dengan diriku esok hari bersama-sama dengan bhikkhu Sangha."

Sang Buddha menyetujuinya dengan berdiam saja. Kemudian Brahmayu, si brahmana, setelah mengerti akan setujunya Sang Buddha ia kemudian bangkit dari duduknya, setelah memberi hormat, pergi meninggalkan Beliau dengan selalu menempatkan diri Sang Buddha disebelah kanan-nya. Kemudian setelah brahmana Brahmayu menyiapkan makanan mewah, baik yang padat maupun lembut, yang dipersiapkan di dalam tempat di mana ia berkelana itu sepanjang malam, telah mengumumkan waktunya kepada Sang Buddha, sambil berkata: "Waktunya telah tiba, Gotama yang baik, makanan telah siap." [148] Kemudian Sang Buddha, setelah mengena¬kan jubah di pargi hari itu, sambil membawa mangkuk serta jubah luar-Nya, pergi mendekati tempat kelana dari brah¬mana Brahmayu itu setelah sampai, beliau duduk pada tempat duduk yang ditunjuk bersama-sama dengan para bhikkhu Sangha. Kemudian brahmana Brahmayu itu melakukan hal itu selama tujuh hari dan dengan tangan-tangan-nya sendiri memberikan pelayanan serta memuaskan kepada para bhikkhu Sangha dengan Sang Buddha sebagai kepalanya, dengan makanan yang mewah, padat dan lembut. Kemudian pada akhir dari hari ketujuh Sang Buddha pergi berkelil¬ing di Videha.

Tidak lama setelah Sang Buddha pergi berkelilinga, Brahmayu si Brahmana itu meninggal dunia. Kemudian bhikk¬hu datang mendekati Sang Buddha; setelah sampai, setelah menghormat Sang Buddha, mereka duduk pada tempat duduk yang jaraknya cukup hormat.

Setelah mereka duduk semua semua pada jarak yang cukup hormat, bhikkhu-bhikkhu ini berkata demikian kepada Sang Buddha: "Yang Mulia: "Yang Mulia, Brahmayu si brah¬mana telah meninggal dunia. Bagaimanakah kelahira (kemba¬li)nya, bagaimanakah nasibnya di waktu yang akan datang?"

"Pandai, para bhikkhu, adalah si brahmana itu; ia mengikuti dhamma sesuai dengan berbagai bagian dari dhamma, dan dia tidak menyusahkan atau menjengkelkan Aku tentang Dhamma. Para bhikkhu, brahmana Brahmayu di brah¬mana, setelah menghancurkan secara total kelima penggoda yang mengikat kepada (pantai) lebih bawah itu, ia telah secara spontan bangkit dan naik, seseorang yang mencapai Nibbana di sana, tidak perlu lagi kembali dari dunia-nya itu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar