MAHĀSUÑÑATASUTTA
( 122 )
Demikianlah telah aku dengar :
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di antara kaum Sakya dekat Kapilavatthu di taman Nigrodha. Kemudian Sang Bhagava, sesudah mengenakan pakaian pada pagi hari, sambil membawa mangkok Beliau serta jubah luar memasuki Kapilavatthu untuk mengambil dana makanan. Ketika Beliau sudah berjalan di dalam Kapilavatthu untuk mengambil dana makanan dan sedang dalam perjalanan kembali dari mengambil dana makanan itu setelah makan, Beliau mendekati tempat untuk berkelana dari kaum Sakya Kalakhemaka untuk persinggahan hari itu. Sekarang pada waktu itu banyak tempat-tempat tinggal (kamar) telah disiapkan di dalam tempat berkelana dari Kalakhemaka Sang Sakya. Sang Bhagava melihat banyak kamar-kamar ini disiapkan di dalam berkelana dari Kalakhemaka para Sakya, dan ketika Beliau telah melihat mereka terjadilah pada diri Beliau : "Banyak kamar-kamar telah disiap¬kan di dalam tempat berkelana dari Kalakhemaka para Sakya. Apakah ada banyak bhikkhu tinggal di sini ?"
Pada waktu itu yang mulia Ananda bersama-sama dengan banyak dengan bhikkhu sedang membuat alat-alat jubah didalam tempat berkela¬na dari Ghataya kaum Sakya. Kemudian Sang Bhagava, yang bangkit dari meditasi yang masuk menjelang sore hari, mendekatilah tempat berkelana dari Ghataya kaum Sakya; ; Setelah tiba, Beliau duduk di atas tempat duduk yang telah dipersiapkan. Ketika Beliau sudah duduk, Sang Bhagava menyapa yang mulia Ananda, sambil mengatakan : "Banyak kamar-kamar, Ananda, telah dipersiapkan di dalam tempat berkelana dari Kalakhemaka kaum Sakya. Apakah ada banyak bhikkhu tinggal di sana?"
"Banyak kamar-kamar, yang mulia, telah dipersiapkan di dalam tempat berkelana dari Kalakhemaka kaum Sakya; banyak bhikkhu sedang tinggal di sana. Adalah waktu bagi kita, Yang Mulia, untuk membuat jubah-jubah itu."
"Ananda, seorang bhikkhu tidak bersinar/shine yang sedang berada di dalam kelompok sendiri, disenangi di dalam kelompok sendiri, yang berkemauan/berniat menjadi senang didalam kelompok sendiri, yang senang dalam beberapa kelompok lain, yang disenangi oleh bebera¬pa kelompok lain, yang digembirakan oleh beberapa kelompok lain. Ternyata, Ananda, situasi seperti itu tidak ada apabila seorang bhikkhu, menyenangi berada di dalam kelompoknya sendiri, disenangi oleh kelom¬poknya sendiri berniat untuk bersenang-senang di dalam kelompoknya sendiri bersenang di dalam beberapa kelompok lain, disenangi oleh beberapa kelompok lain, bergembira di dalam kelompok lain, dapat menjadi seorang yang memperoleh/mendapatkan dengan sesuka hatinya, tanpa susah, tanpa kesukaran, yang merupakan kebahagiaan dari pelen¬yapan/renounciation, kebahagiaan dari kesadaran dari keadaan menyen¬diri, kebahagaiaan dari keadaan tenang/calm , kebahagiaan kesadaran sendiri/self awakening. Tetapi, Ananda situasi itu ada apabila diharap¬kan oleh seorang bhikkhu yang berkelana sendirian, terpencil dari suatu kelompok, yang ia akan menjadi seorang yang memperoleh dengan sesuka hatinya, tanpa susah, tanpa kesukaran, yang mana adalah meru¬pakan kebahagiaan dari pelepasan/pelenyapan dari keadaan menyendiri, kebahagiaan dari ketenangan, kebahagiaan dari kesadaran sendiri/self awakening.
Ternyata, Ananda, situasi atau keadaannya tidak ada apabila seorang bhikkhu, menyenangi didalam kelompok sendiri,... menyukai didalam beberapa kelompok lain, memasuki kebebasan pikiran yang bersifat sementara dan menyenangkan atau di atas mana adalah tidak bersifat sementara dan tidak dapat digoyahkan, akan menekuni serta melibatkan diri di dalamnya. Tetapi, Ananda, situasi itu akan ada apabila diharapkan oleh seorang bhikkhu yang berkelana sendiri, terpencil dari kelompoknya, yang memasuki kebebasan dari pikiran yang sifatnya sementara dan menyenangkan [111] atau yang sifatnya adalah tidak sementara dan tidak dapat digoyahkan, ia akan menekuni serta mengab¬dikan diri di dalamnya. Aku, Ananda, tidak melihat satu bentuk-bentuk materi di mana terkandung kesenangan, di mana di dalamnya terkandung kepuasan, tetapi dari perubahan serta terjadinya ia, apabila tidak tak akan timbul kedukaan, penderitaan, ratapan serta putus asa.
Tetapi dengan menekuni serta mengabdikan diri di dalamnya, Ananda, telah sepenuhnya disadarkan oleh Sang Tathagata, umpama saja, dengan tidak menghadiri sesuatu tanda, memasuki serta mengab¬dikan diri didalam suatu (konsep tentang) kekotoran sebelah dalam. Dan apabila, Ananda, sementara Sang Tathagata sedang menekuni di da¬lam pengabdian ini, terdapatlah beberapa bhikkhu, bhikkhuni, pria dan wanita siswa pengikut, raja-raja serta menteri-menteri, pemimpin serta dari sekte lain datang mendekati Beliau, kemudian, Ananda, Sang Tatha¬gata dengan segenap pikiran berkecenderungan untuk bersikap menyendiri, condong untuk menyendiri, mengalihkan pikiran untuk menyendiri, asing/terpencil, menyenangkan diri untuk pelenyapan/penolakan, membuat akhir dari semua hal-hal di atas mana penyakit kanker dikete¬mukan, hanya berbicara disana apabila seseorang hanya ingin untuk menginspirasikan mereka. Oleh sebab itu, Ananda, apabila seorang bhikkhu harus berkeinginan: Memasuki pada (konsep tentang) kekoson¬gan di dalam (inward emptiness), semoga aku bisa berkelana di dalamnya,' bhikkhu itu, Ananda, haruslah mantap/steady, tenang, memfokuskan serta mengkonsentrasikan pikirannya tepat pada apa yang berada di dalam/inward itu.
Dan bagaimana, Ananda, seorang bhikkhu bisa mantap, tenang, memfokuskan serta mengkonsentrasikan pikirannya tepat pada apa yang di dalam itu? Untuk ini, Ananda, seorang bhikkhu, mejauhkan diri dari kesenangan-kesenangan indriawi, menjauhkan diri dari keadaan-keadaan tidak terampil dari jenisnya, dengan memasuki bidang itu ia menekuni serta mengabdikan diri dalam meditasi tingkat pertama ....kedua....ketiga ....ke empat.
Demikianlah, Ananda, seorang bhikkhu itu mantap, tenang/calm, memfokuskan serta mengkonsentrasikan pikirannya tepat pada apa yang berada di dalam itu.
[112] Ia mengikuti/attends (konsep/pelajaran tentang) kekosongan di dalam. Sementara ia sedang mengikuti (konsep tentang) kekosogan didalam, pikirannya masih belum puas dengannya, tidak senang dengan, tidak dipasang/ditujukan padanya, tidak terbebas di dalam (konsep ten¬tang) kekosongan di dalam, karena hal ini menjadi demikian, Ananda, bhikkhu itu memahaminya demikian: 'Ketika saya sedang mengikuti suatu (konsep tentang) kekosongan di dalam pikiranku tidaklah puas dengannya .... tidak terbebas didalam (konsep tentang) kekosongan di dalam.' Oleh sebab itu maka ia jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu. Ia mengikuti suatu (konsep tentang) kekosongan luar/external empti¬ness. Ia mengikuti (konsep tentang) kekosongan di dalam dan di luar. Ia mengikuti/menghadiri keadaan ketenangan yang luar biasa Ketika ia sedang mengikuti/menyelami (attends) keadaan ketenangan luar biasa itu, pikirannya tidak menjadi puas dengannya....tidak terbebas di dalam keadaan ketenangan luar biasa itu. Dengan menjadi demikian, Ananda, bhikkhu itu memahaminya demikian: 'Ketika aku sedang mengikuti/meyelami keadaan ketenangan luar biasa itu pikiranku tidaklah menjadi puas dengan ia.... tidaklah terbebas dari keadaan ketenangan luar biasa itu.' Oleh sebab itu ia jelas sadar berkenaan dengan keadaan itu. Ananda, bhikkhu itu haruslah mantap, tenang, memfokuskan serta mengkonsentrasikan pikirannya tepat pada apa didalam di dalam tanda terdahulu tentang konsentrasi itu sendiri. Ia mengikuti (konsep tentang) kekosongan didalam. Sementara ia sedang mengikuti/mendalami/meng¬hadiri (konsep tentang) kekosongan di dalam itu, pikirannya menjadi puas dengannya, senang dengannya, diarahkan/disetel dan terbebas di dalam (konsep tentang) kekosongan di dalam itu. Karena menjadi demikian, Ananda, bhikkhu itu memahami demikian: 'Ketika aku sedang mengikuti (mendalami) suatu (konsep tentang) kekosongan di dalam pikiranku tidak puas .... tidak terbebas dari (konsep tentang) kekosongan di dalam.' Oleh sebab itu jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu. Ia mengikuti suatu (konsep tentang) kekosongan di luar. Ia mengikuti suatu (konsep tentang) kekosongan di dalam dan di luar. Ia mengikuti keadaan ketenangan luar biasa. Ketika ia sedang mengikuti keadaan ketenangan luar biasa itu, pikirannya menjadi puas dengannya, disetel atau diarahkan dan terbebas-kan dari keadaan ketenangan luar biasa itu. Karena menjadi demikian, Ananda, bhikkhu itu demikian: 'Ketika aku sedang mengikuti keadaan ketenangan luar biasa itu, pikiranku menjadi puas dengannya, senang dengannya, disetel kearah sana serta terbebaskan di dalam keadaan kete¬nangan luar biasa itu.' Dengan demikian ia jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu.
Apabila, Ananda, sementara bhikkhu itu sedang menekuni dida¬lam pengabdiannya itu, , is abiding in this abiding ia pikirannya bolak-balik, sambil berpikir : 'Ketika aku sedang melangkah bolak-balik sedemikian, tiada ada (sifat) iri hati atau rasa keputusasaan keadaan-keadaan tidak terampil jahat [113] akan dapat mengalir masuk,' Oleh sebab itu ia jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu. Apabila, Anan¬da, ketika bhikkhu ini sedang menekuni didalam pengabdiannya itu, ia memutar pikirannya ke (sikap) berdiri .... ke duduk.... merebahkan diri, kemudian ia berbaring, dan berpikir : 'Ketika aku sedang berbaring' tiada ada iri hati atau keputusasaan/patah hati keadaan-keadaan tidak terampil jahat akan dapat mengalir masuk.' Oleh sebab itu ia jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu. Apabila, Ananda, ketika bhikkhu ini sedang menekuni dalam pengabdiannya, ia memutar pikirannya ke berbi¬cara, kemudian ia berpikir : 'Aku tidak akan bicara jenis pembicaraan itu yang adalah rendah, bersifat desa (desani), dari orang-orang biasa, tidak arya, tidak dihubungkan dengan tujuannya, yang tidak dapat menimbul¬kan kepengalihan dari maupun pula tidak bisa melepaskan diri maupun pula tidak bisa menenangkan maupun pula mendatangkan pengetahuan luar biasa/super juga tidak bisa mengakibatkan tercapainya kesadaran sendiri (Self awakening), juga tidak bisa mencapai nibbaba yakni yang dikatakan sebagai pembicaraan dari raja-raja, pembicaraan dari pencuri-pencuri, pembicaraan dari menteri-menteri besar, pembicaraan dari kaum militer, pembicaraan karena ketakutan, pembicaraan peperangan, pembicaraaan tentang makanan, pembicaraan tentang minuman, pembi¬caraan tentang pakaian, pembicaraan tentang tempat tidur/ranjang, pembicaraan tentang kalung-kalung (karangan bunga), pembicaraan tentang bebauan/wewangian, pembicaraan tentang antar hubungan, pembicaraan tentang kendaraan, pembicaraan tentang desa-desa, pembi¬caraan tentang pasar-pasar kota, pembicaraan tentang kota-kota, pembi¬caraan tentang dusun-dusun, pembicaraan tentang wanita-wanita, pembi¬caraan tentang kepahlawanan pria-pria, pembicaraan tentang jalan-jalan/streets, pembicaraan tentang unsur-unsur, pembicaraan tentang mereka yang telah berpisah sebelumnya, pembicaraan tentang perbedaan atau aneka ragam, spekulasi tentang dunia, spekulasi tentang lautan, pembicaraan tentang menjadi atau tidak menjadi demikian atau demikian.' Oleh sebab itu ia jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu. Tetapi, Ananda, berkenaan dengan pembicaraan itu yang cermat, suatu bantuan untuk membuka pikiran dan yang menyebabkan membalikkan arah secara total, ke pelepasan, penghentian, tenang, pengetahuan luar biasa (super knoledge), kesadaran sendiri dan nibbana, yakni apa yang dikatakan pembicaraan tentang menginginkan sedikit, pembicaraan ten¬tang kepuasan hati, pembicaraan tentang keadaan menyendiri, pembicar¬aan tentang ketidaksukaan bergaul, pembicaraan tentang pengerahan segenap energi, pembicaraan tentang kebiasaan moral, pembicaraan tentang konsentrasi, pembicaraan tentang kebijaksanaan intiuitip, pembi¬caraan tentang kebebasan, pembicaraan tentang pengetahuan dan penge¬lihatan dari kebebasan ia berpikir : 'Aku akan bicara seperti ini.' Oleh sebab itu jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu.
Apabila, Ananda, ketika bhikkhu itu sedang mengikuti dalam pengabdian itu [114] ia memutar pikirannya ke pemikiran, ia berpikir : 'Aku tidak akan memikirkan jenis pemikiran-pemikiran/throughts sifatn¬ya rendah, kampungan, dari rakyat biasa, tidak arya, tidak dihubungkan dengan tujuan dan yang tidak mengakibatkan ke pengalihan dari maupun pula tidak dapat melepaskan maupun pula tidak dapat menghentikan maupun pula tidak dapat menjadi tenang maupun pula tidak dapat memperoleh pengetahuan luar biasa maupun pula tidak dapat mencapai kesadaran sendiri maupun pula tidak dapat mencapai nibbana, yaitu pikiran-pikiran (pemikiran-pemikiran) tentang kesenangan indriawi, pemikiran-pemikiran tentang kedengkian, pemikiran-pemikiran tentang yang merugikan atau membahayakan.' Oleh sebab itu ia jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu. Tetapi, Ananda, berkenaan dengan pemikiran-pemikiran tersebut yang merupakan (sifat) arya, membawa ke kemajuan, yang membimbing si pemikir (dari mereka itu) ke penghancuran penderi¬taan total, yaitu pemikiran-pemikiran tentang penolakan (pembuangan), pemikiran-pemikiran tentang tiada adanya kedengkian, pemikiran-pemikiran tentang tiada adanya hal-hal yang merugikan atau memba¬hayakan ia berpikir : 'Aku akan berpikiran pemikiran-pemikiran seperti ini.' Oleh sebab itu ia jelas-jelas sadar berkenaan dengan mereka itu.
Ananda, disana terdapatlah lima untai tentang kesenangan-kesenangan indriawi itu. Lima yang mana? Bentuk-bentuk materi yang dapat diamati oleh mata, serasi, menyenangkan, disukai, memikat, dihubungkan dengan kesenangan-kesenangan duniawi, menggelitik hati,. Suara-suara yang dapat diamati/diserap oleh telinga .... bebauan yang dapat diserap dengan hidung.... rasa yang dapat dikecap dengan lidah....rabaan-rabaan yang dapat dirasa atau diraba dengan anggota badan, serasi menyenangkan, disukai, memikat hati, dihubugkan dengan kesenangan duniawi, menggelitik. Kesemua ini, Ananda, adalah kelima untai dari kesenangan-kesenangan indriawi. Mengapa seorang bhikkhu secara konstan/tetap merefleksi pikiran-pikirannya sendiri : 'Apakah didalam pikranku timbul sesuatu perjanjian dengan bidang ini atau itu dari kelima untai kesenangan-kesenangan indriawi itu?' Apabila, Anan¬da, ketika bhikkhu itu sedang merefleksi ia memahami demikian : 'Timbulah didalam pikiranku beberapa perjanjian dengan bidang ini atau dari kelima untai kesenangan-kesenangan indriawi' karena menjadi demikian, Ananda, bhikkhu itu memahami demikian: 'Itu yang menjadi ke inginganku dan kemelekatan kepada kelima untai kesenangan-kesenangan indriawi masih belum dapat dilenyapkan.' Oleh sebab itu ia jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu. Tetapi apabila, Ananda, ketika sang bhikkhu sedang merefleksi itu ia menghayati demikian: 'Tiada ada perjanjian timbul didalam pikiranku dengan bidang yang ini dan itu tentang kelima untai kesenangan-kesenangan indriawi' karena menjadi demikian, Ananda, sang bhikkhu menghayati/memahami demi¬kian: 'Apa yang menjadi ke inginanku serta kemelekatan ku terhadap lima untai kesenangan-kesenangan indriawi telah dilenyapkan dari diriku. Dengan demikian ia jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu.
Dan, Ananda, disana terdapatlah lima kelompok tentang pengga¬paian (grasping = memegang = memahami = mengerti) mengapa mereka itu harus diabaikan/disia-siakan oleh sang bhikkhu yang menya¬dari (mereka) timbul dan kejatuhan, dengan pikiran : 'Ini adalah bentuk materi, ini adalah timbulnya bentuk materi itu, ini adalah terbentuknya/terjadinya bentuk materi; ini adalah perasaan, ini [115] adalah timbulnya perasaan, ini adalah terjadinya perasaan (the setting of feeling); ini adalah persepsi.....ini adalah kebiasaan dari kecenderungan-kecenderungan ....ini adalah kesadaran, ini adalah timbulnya kesadaran, ini adalah terjadinya/terbentuknya kesadaran.' Ketika ia sedang meneku-ni menyadari timbul dan tenggelam dari lima kelompok gapaian/pegan¬gan, apa saja yang ada diantara kelima kelompok gapaian ini adalah kecondongannya terhadap "Aku", yang dilenyapkan. Dengan menjadi¬kannya demikian, Ananda, sang bhikkhu memahaminya demikian: 'Apa saja yang berada diantara kelima kelompok dari gapaian/pegangan ini adalah kecondonganku terhadap "sang aku", yang telah dilenyapkan olehku.' Oleh sebab itu ia jelas-jelas sadar berkenaan dengan hal itu. Keadaan-keadaan ini, Ananda, adalah semata-mata keprihatinan dengan apa yang terampil saja, adalah arya, diluar keduniawian, di atas jang¬kauan dari orang memfitnah (Malign one).
Apa yang kamu pikirkan tentang ini, Ananda? Dari pandan-gannya, alasan apa seorang siswa menganggap ia seperti pantas/layak bahwa, walaupun ia ditolak, ia harus tetap mengikuti sang guru?"
"Hal-hal bagi kita, Yang mulia, telah berakar didalam tuanku, Sang Bhagava sebagai sumbernya, Sang Bhagava sebagai wasit. Ternyata adalah baik, Yang mulia, tentang kata-kata yang tuaku jelaskan itu; sesudah mendengarnya dari tuanku, para bhikkhu akan mengingatnya."
"Ananda, adalah tidak pantas atau layak bagi seorang siswa untuk mengikuti sang guru apabila ia hanya bagi suatu pengungkapan dari pelajaran yang adalah dalam bentuk prosa dan dalam bentuk prosa dan syair. Apabila alasan ini? Adalah untuk jangka waktu yang lama, Ananda, hal-hal semacam ini telah didengar, diingat didalam pikiran, diulang-ulang dengan suara keras, direnungkan didalam pikiran, dimen¬gerti dengan baiknya oleh (benar) pengertian. Tetapi, Ananda, pembi¬caraan-pembicaraan tersebut yang sangat cermat, suatu bantuan untuk membuka pikiran dan yang mengakibatkan adanya pengalihan atau penolakan secara total, ke pelepasan/detachment, penghentian, tenang, pengetahuan luar biasa, kebangkitan sendiri (self awakening) dan nibba¬na, yaitu, pembicaraan tentang luar berkemauan sedikit, pembicaraan tentang kepuasan, pembicaraan tentang mengasingkan diri, pembicaraan tentang keadaan tidak suka berkumpul-kumpul, pembicaraan tentang mendayagunakan energi atau tenaga, pembicaraan tentang kebiasaan-kebiasaan moral, pembicaraan tentang konsentrasi, pembicaraan tentang kebijaksanaan intuitip/naluriah, pembicaraan tentang kebebasan tentang pengetahuan serta penglihatan/visi dari kebebasan ia adalah layak, Ananda, bahwa seorang siswa, walaupun ia ditolak, harus mengikuti sang guru demi pembicaraan semacam/seperti itu.
Dengan menjadinya demikian, Ananda, terdapatlah penderitaan bagi para guru; dengan menjadinya demikian, tidaklah penderitaan bagi para siswa; dengan menjadinya demikian terdapatlah penderitaan bagi kelana brahmana.
Dan bagaimana, Ananda, apakah disana terdapat penderitaan bagi para guru? Untuk hal ini, Ananda, beberapa guru memilih tempat tinggal terpencil didalam hutan, di akar-akar sebuah pohon, dicelah gunung, didalam kelamnya/lebatnya hutan belantara, di gua-gua dari bukit, di kuburan, [116], di hutan angker, di udara terbuka atau di atas tumpukan rumput kering, sementara ia menjalani hidup terpencil sema¬cam itu, para perumah tangga kaum brahmana itu berkerumun disekitar dia, juga orang-orang kota maupun pula orang-orang desa. Ketika para perumah tangga kaum brahmana, orang-orang kota dan orang-orang desa berkerumun disekitar dia, bhikkhu tersebut menjadi salah tingkah, ia jatuh cinta, ia menjadi iri hati, ia kembali ke kehidupan limpah ruah. Ini, Ananda, adalah yang dinamakan guru yang menderita. Disebabkan karena penderitaan sang guru, keadaan-keadaan jahat yang tinggal tidak terampil yang dihubungkan dengan kekotoran-kekotoran, dengan menja¬dinya kembali, yang menakutkan, dan daripadanya adalah penderitaan luar biasa, menuju ke kelahiran, menjadi tua dan mati diwaktu yang akan datang, menghantam padanya (bhikkhu). Dalam cara demikian, terda¬patlah penderitaan bagi para guru.
Dan bagaimana, Ananda, terdapatlah penderitaan bagi para siswa? Untuk hal ini, Ananda, seorang murid dari guru, dengan meniru¬kan kehidupan menyendiri dari sang guru, memilih tempat tinggal ter¬pencil didalam hutan, di akar-akar sebuah pohon ...., di udara terbuka atau di atas segundukan rumput kering. Ketika ia sedang menjalani kehidupan menyendiri seperti ini, para perumah tangga brahmana berk-erumunan di sekitar dirinya... ia berubah menjadi hidup yang berlimpah ruah. Ini, Ananda, adalah apa yang dinamakan penderitaan dari siswa. Disebabkan karena penderitaan si siswa, keadaan-keadaan tidak terampil yang jahat.....menjurus ke kelahiran, menjadi tua dan mati diwaktu yang akan datang, menghantam padanya. Dalam cara demikian, Ananda, terdapatlah penderitaan bagi para siswa.
Dan bagaimana, Ananda, apakah terdapat penderitaan bagi kela¬na-kelana brahmana itu? Untuk hal ini, Ananda, seorang Tathagata bangkit/timbul didunia ini, orang yang sempurna, sadar sendiri sepe¬nuhnya, diberkati dengan pengetahuan serta tingkah laku benar, well farer/kelana benar, pengetahuan dari dunia (dunia-dunia), penunggang kereta perang yang tiada ada bandingnya dari orang-orang yang harus dijinakan, guru dari para deva dan manusia, seorang tersadar, Tuhan, Beliau memilih tempat tinggal yang terpencil di dalam hutan, di bawah akar-akar sebuah pohon, dicelah gunung, didalam kelamnya hutan belan¬tara, sebuah gua bukit, sebuah kuburan, di hutan yang angker, di udara terbuka atau di atas gundukan rumput kering. Ketika beliau sedang menjalankan hidup terpencil semacam itu para perumah tangga brahmana ini berkerumunan disekitar Beliau, juga orang-orang kota dan orang-orang desa. Ketika para perumah tangga kaum brahmana, orang-orang kota dan orang-orang desa berkerumun disekitar Beliau, Beliau tidak menjadi salah tingkah, Beliau tidak jatuh cinta, Beliau tidak menjadi iri hati, Beliau tidak berubah menjadi hidup yang berlimpah ruah. [117] Tetapi seorang siswa dari guru itu, mempraktekkan diri sendiri atas kehidupan menyendiri dari Sang Guru, mengembangkannya , memilih tempat tinggal terpencil di dalam hutan....di dalam udara terbuka di atas segundukan rumput kering. Ketika ia sedang menjalankan hidup terpencil seperti itu, para perumah tangga kaum brahmana ini berkerumun di seki¬tar dirinya, juga para orang-orang kota dan desa. Ketika para perumah tangga kaum brahmana, orang-orang kota dan desa berkerumun di sekitar dirinya, ia menjadi salah tingkah (sombong), jatuh cinta, menjadi iri hati dan berubah penghidupannya menjadi berlimpah ruah. Ini, Ananda, apa yang dinamakan penderitaan dari kelana brahmana. Disebabkan karena penderitaan kelana brahmana, keadaan-keadaan tidak terampil yang jahat yang dihubungkan dengan kekotoran-kekotoran, dengan menjadinya/kelahiran kembali, yang menakutkan dan hasil daripadanya adalah penderitaan yang hebat, menjurus ke kelahiran, menjadi tua dan mati diwaktu yang akan datang, memukul atau menghantam padanya. Dalam cara demikian, Ananda, terdapatlah penderitaan pada kelana brahmana itu. Tetapi, Ananda, penderitaan dari kelana brahmana ini lebih menyakitkan daripada hasilnya, lebih dahsyat di dalam hasilnya yang ada pada baik penderitaan dari para guru atau penderitaan dari para siswa; dan lebih-lebih lagi ia dapat mengakibatkan kejatuhan (jatuh atau kegagalan).
Mengapa, Ananda, tingkah laku dirimu sendiri terhadap aku dengan keramahtamahan, bukan dengan kekerasan; dan untuk jangka waktu yang panjang hal itu akan menjadi suatu kesejahteraan serta kebahagiaan bagimu. Dan bagaimana, Ananda, bagaimana tingkah laku para siswa sendiri terhadap sang guru dengan kekerasan, bukan dengan keramahtamahan? Untuk hal ini, Ananda, sang guru penuh rasa kasih sayang, mengajar dhamma kepada para siswa, mecari kesejahteraan mereka, keluar dari dasar kasih sayang, sambil mengatakan: 'Ini adalah demi kesejahteraan kamu, ini adalah bagi kebahagiaanmu.' Tetapi siswa-siswanya tidak mendengarkannya, tidak memasang telinga, tidak men¬yiapkan pikiran mereka untuk pengetahuan yang amat agung, mengen-yampingkannya (membuangnya), mereka pergi atau meninggalkan in¬struksi dari sang guru itu. Sekalipun demikian, Ananda, siswa-siswa dari sang guru bertingkah laku sendiri terhadap sang guru dengan keker¬asan/hostility, bukan dengan keramahtamahan.
i tentang apa yang telah diucapkan oleh Sang Buddha itu. Pembabaran dhamma lebih besar tentang kekosongan: kedua.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar