Selasa, 16 Maret 2010

AGGIVACCHGOTTA SUTTA

AGGIVACCHGOTTA SUTTA
72

1. Demikianlah yang saya dengar.

Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, taman milik Anathapindika, Savatthi.

2. Ketika itu seorang pengembara bernama Vacchagotta pergi menemui Sang Bhagava dan saling bertukar salam dengannya dan setelah tegur sapa yang ramah selesai, ia duduk di tempat yang tersedia. Setelah duduk, ia berta¬nya kepada Sang Bhagava:

3. 'Bagaimana dengan hal ini, Samana Gotama, "Dunia ini kekal: hanya pan¬dangan ini yang benar dan yang lain salah"? Apakah Samana Gotama menganut pandangan ini?'

'Vaccha, saya tidak menganut pandangan: "Dunia ini kekal: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah".'

4. 'Bagaimana dengan hal ini, Samana Gotama, "Dunia ini tidak kekal: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah"? Apakah Samana Gotama menganut pandangan ini?'

'Vaccha, saya tidak menganut pandangan: "Dunia ini tidak kekal: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah".'

5. 'Bagaimana dengan hal ini, Samana Gotama, "Dunia ini terbatas: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah"?
Apakah Samana Gotama menganut pandangan ini?'

'Vaccha, saya tidak menganut pandangan "Dunia ini terbatas: hanya pan¬dangan ini yang benar dan yang lain salah".'

6. 'Bagaimana dengan hal ini, Samana Gotama, "Dunia ini tak terbatas: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah"?

Apakah Samana Gotama menganut pandangan ini?'

'Vaccha, saya tidak menganut pandangan: "Dunia ini tak terbatas: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah".'

7. 'Bagaimana dengan hal ini, Samana Gotama, "Batin dan jasmani adalah sama: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah?"

Apakah Samana Gotama menganut pandangan ini?'
"Vaccha, saya tidak menganut pandangan: "Batin dan jasmani adalah sama: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah".'

8. 'Lalu, bagaimana Samana Gotama, "Batin adalah satu dan jasmani adalah yang lain: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah"? Apakah Samana Gotama menganut pandangan ini?'

'Vaccha, saya tidak menganut pandangan: "Batin adalah satu dan jasmani adalah yang lain: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah".'

9. 'Bagaimana dengan hal ini, Samana Gotama, "Setelah kematian, Sang Tatha¬gata ada: hanya ini yang benar dan yang lain salah"?
Apakah Samana Gotama menganut pandangan ini?'
'Vaccha, saya tidak menganut pandangan: "Setelah kematian, Sang Tatha¬gata ada: hanya pandangan ini yang benar yang lain salah".'

10. 'Samana Gotama, bagaimana dengan hal ini, "Setelah kematian Sang Tathaga¬ta tidak ada: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah"? Apakah Sang Bhagava menganut pandangan ini?'

'Vaccha, saya tidak menganut pandangan: "Setelah kematian Sang tathaga¬ta tidak ada: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah".'

11. 'Samana Gotama, bagaimana dengan hal ini, "Setelah kematian Sang Tatha¬gata keduanya ada dan tidak ada: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah"? Apakah Samana Gotama menganut pandangan ini?'

'Vaccha, saya tidak menganut pandangan: "Setelah kematian, Sang Tathagata ada maupun tidak ada: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah".'

12. 'Lalu bagaimana, Samana Gotama, "Setelah kematian Sang Tathagata bukan ada juga bukan tiada: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah"? Apakah Samana Gotama menganut pandangan ini?'

'Vaccha, saya tidak menganut pandangan: "Setelah kematian Sang Tathagata bukan ada juga bukan tiada: hanya pandangan ini yang benar dan yang lain salah".'

13. 'Lalu bagaimana, Samana Gotama telah ditanya masing-masing dari sepuluh pertanyaan, Beliau menjawab bahwa Beliau tidak menganut pandangan itu. Apabila bahaya yang telah dilihat Gotama sehingga beliau menjauhi semua bidang pandangan?'

14. 'Vaccha, bidang pandangan bahwa "Dunia ini kekal" adalah belukar pandan¬gan, pemutarbalikkan pandangan, kebimbangan akibat pandangan, belenggu pandangan. Ini diikuti oleh penderitaan, kejengkelan, keputusasaan, kegelisahan, dan tidak mengarah ke pembebasan, pelenyapan, penghentian, keheningan nafsu, pengetahuan langsung, pencerahan sempurna, ke Nibbana.
'Bidang pandangan bahwa "Dunia tidak kekal" ....
'... "Dunia ini terbatas" ....
'... "Dunia ini tak terbatas" ....
'... "Batin dan jasmani adalah sama" ....
'... "Batin adalah satu san jasmani adalah yang lain" ....
'... "Setelah kematian Sang Tathagata ada" ....
'... "Setelah kematian Sang Tathagata tidak ada" ....
'... "Setelah kematian Sang Tathagata ada maupun tidak ada"....

'... "Setelah kematian Sang Tathagata bukan ada juga bukan tiada"
'... hal tersebut tidak mengarah ke ... pencerahan sempurna, ke Nibbana.'
'Melihat bahaya ini, saya menjauhi setiap bidang pandangan ini.'

15. 'Apakah Samana Gotama memiliki pandangan yang lain dari semua itu ?'

'Vaccha, "Bidang pandangan" adalah istilah yang tidak dipergunakan oleh Sang Tathagata. Apa yang dilihat oleh Sang Tathagata adalah hal ini: "Demikianlah bentuk, demikianlah kemunculannya, demikianlah lenyapnya; demikianlah perasaannya, demikianlah kemunculannya, demikianlah lenyap-nya; demikianlah pencerahan, demikianlah kemunculannya, demikianlah lenyapnya; demikianlah bentuk-bentuk pikiran, demikianlah kemunculannya, demikianlah lenyapnya; demikianlah kesadaran, demikianlah kemunculannya, demikianlah lenyapnya." Karena hal tersebut, saya katakan, seorang Tatha¬gata terbebas dengan menyingkirkan, membuang, melepaskan semua keangku¬han, semua yang di luar jangkauan pemikiran, gagasan Aku dan milikku dan kecenderungan-kecenderungan yang mengarah kesombangan, dan dengan tidak melekat pada satupun daripadanya.'

16. "Samana Gotama, ketika batin seorang bhikkhu terbebas seperti itu, di manakah ia muncul kembali (setelah kematian)?"

"Vaccha, (Istilah) 'Muncul kembali' tidak berlaku."
"Samana Gotama, apakah ia tidak muncul kembali.?"
"Vaccha, (Istilah) 'Tidak muncul kembali' tidak berlaku."
"Samana Gotama, apakah ia muncul kembali maupun tidak muncul kembali?"
"Vaccha, (Istilah) 'Muncul kembali maupun tidak muncul kembali' tidak berlaku."
"Samana Gotama, apakah ia bukan muncul kembali dan bukan tidak muncul kembali?"
"Vaccha, (Istilah) 'Bukan muncul kembali dan bukan tidak muncul kembali' tidak berlaku."

17. "Ketika Samana Gotama ditanya setiap kali dari empat pertanyaan ini, Beliau menjawab bahwa semua itu tak berlaku.
'Samana Gotama, dalam hal ini saya terjatuh ke dalam ketidaktahuan, saya terjatuh ke dalam kebingungan, dan kadar keyakinan yang telah saya miliki melalui percakapan Bhante Gotama sebelum sekarang telah hilang.'

18. "Vaccha, cukuplah dari ketidaktahuan dan kebingungan ini, Dhamma ini dalam, sulit dilihat dan sulit ditemukan. Dhamma ini adalah (yang paling) damai dan (tujuan semua makhluk) yang lebih unggul, tak dapat dicapai dengan (semata-mata) menggunakan akal, sangat halus dan bagi bijaksanawan untuk mengalaminya. Sangat sulit bagimu untuk mengetahuinya apabila kami menjadi milik pandangan lain, pilihan lain, preferensi lain, yang memi¬liki latihan yang berbeda, yang memiliki ajaran guru yang berbeda. Oleh karena itu di sini saya akan balik bertanya kepadamu, Vaccha. Jawablah menurut pilihanmu. Bagaimana menurut pengakuanmu, Vaccha: andaikata api sedang menyala di depanmu, apakah kamu akan tahu "Ini api yang sedang menyala di depan saya?"'

'Saya akan mengetahuinya, Bhante.'

'Apabila seorang bertanya kepadamu demikian, Vaccha: "Tergantung pada apakah api yang sedang menyala di depanmu ini?" Apa yang akan kamu jawab, apabila ditanya demikian?'

'Apabila ditanya demikian, Samana Gotama, Saya seharusnya menjawab demi¬kian: "Api yang sedang menyala di depan saya ini menyala tergantung pada rumput dan batang-batang kayu."'

'Apabila api di depanmu padam, apakah kamu akan mengetahui demikian: "Api di depanku ini padam"?'
'Saya akan mengetahuinya, Bhante.'
'Apabila seseorang bertanya kepadamu: "Ke arah mana api yang padam itu pergi: ke Timur, Barat, Utara atau Selatan?" Apakah yang akan kamu jawab, apabila ditanya demikian?'

'Samana Gotama, hal ini tak berlaku. Api menyala karena rumput dan batang kayu (tempat api itu melekat) sebagai bahan bakar; apabila semua itu habis dan tak ada lagi bahan karena tidak ditambah lagi lebih banyak, api itu dinyatakan sebagai "padam".'

19. 'Vaccha, demikian pula, pada waktu menggambarkan seorang Tathagata, bentuk yang dapat digambarkan telah ditinggalkan oleh seorang Tathagata, diputus sampai ke akarnya, dibuat seperti tunggul palem, dibuang, sehing¬ga tidak ada kemungkinan lebih jauh untuk muncul pada masa mendatang. Seorang Tathataga terbebas dari perekaan dipandang dari segi bentuk, Beliau sangat dalam, tak terukur, sama sulitnya seperti mengukur kedala¬man samudra: istilah "Muncul (kembali)" tidak berlaku, (istilah) "Tidak muncul" tidak berlaku, (istilah) "Muncul maupun tidak muncul" tidak berlaku, dan (istilah) "Bukan muncul dan bukan tidak muncul" tidak berla¬ku. Pada waktu menggambarkan seorang Tathagata, perasaan ... pencerapan ... bentuk-bentuk pikiran ... kesadaran ... kesadaran yang dapat digambarkan telah ditinggalkan oleh seorang Tathagata, diputus sampai akarnya, dibuat seperti tunggul palem, dibuang, sehingga tidak ada kemungkinan lebih jauh untuk muncul pada masa mendatang. Seorang Tathaga¬ta terbebas dari perekaan dipandang dari segi kesadaran, Vaccha, Beliau sangat dalam, tak terukur, sesulit mengukur kedalaman samudera: (istilah) "Muncul (kembali)" tidak berlaku, (istilah) "Tidak muncul kembali" tidak berlaku, (istilah) "Muncul kembali tidak muncul kembali" tidak berlaku, (istilah) "Bukan muncul kembali pun bukan tidak muncul kembali" tidak berlaku.'

20 'Setelah ini dikatakan, pengembara Vacchagotta berkata kepada Sang Bhaga¬va: 'Samana Gotama, andaikata terdapat pohon Sala tidak jauh dari desa atau kota, dan ketidakkekalannya menanggalkan cabang dan daun dan menang¬galkan kulit kayu dan mengeluarkan getahnya, sehingga pada saat lain dengan tertanggalkannya cabang dan daun, tertanggalkannya kulit kayu, dan keluarnya getah, maka pohon itu menjadi murni, terdiri atas inti kayu yang murni, sehingga pula, pembabaran dari Bhante Gotama ini terbebas dari cabang-cabang dan daun, terbebas dari kulit kayu terbebas dari getah kayu, dan dengan murni terdiri atas inti kayu.

21-22. 'Menakjubkan, Samana Gotama! .... Saya berlindung kepada Samana Gotama ... (seperti sutta 4, para. 36-7) ... sebagai seorang pengikut yang telah berlindung kepada Beliau selama-lamanya.'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar