GHATIKARA SUTTA
81
Demikian yang saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berjalan-jalan dalam rangka perja¬lanan yang dilakukan Beliau di antara kaum Kosala bersama dengan sejumlah besar bhikkhu Sangha. Kemudian, Sang Buddha, membelok ke tepi dari jalan raya, tersenyum (ketika beliau sampai kepada) suatu tempat tertentu. Kemudian terja¬dilah pada yang mulia Ananda: "Apa sebabnya, apa alasannya mengapa Yang
Mulia tersenyum ? Sang Tathagata tidak pernah tersenyum tanpa adanya suatu motif." Kemudian yang mulia Ananda, setelah merapikan jubahnya menutup sebelah bahu, setelah memberikan hormat kepada Sang Tathagata dengan merangkapkan kedua belah tangan, bicara demikian kepada Sang Buddha: "Sekarang, Yang Mulia, apa sebab, apa alasan mengapa yang Mulia tersenyum itu? Tanpa adanya suatu motif Sang Tathagata tersenyum."
'Pada suatu ketika, Ananda, di distrik ini terdapatlah sebuah kota pelabuhan bernama Vebhalinga, sejahtera dan kaya raya yang dihuni banyak sekali penduduk. Dan, Ananda, yang mulia Kassapa, orang sempurna, yang tersa¬dar sendiri sepenuhnya, hidup bergantung pada desa pelabuhan Vebhalinga ini. Pada waktu itu, Ananda, vihara milik yang mulia Kasapa ... berada di sana. Pada waktu itu, Ananda, yang mulia Kassapa ... menginstrusikan sekelompok bhikkhu Sangha ketika beliau duduk disini."
Kemudian yang mulia Ananda, sesudah melepas jubah luarnya dan melipatnya menjadi empat, berkata demikian kepada Sang Buddha: "Marilah, Yang Mulia, marilah Yang Mulia duduk di sini. Kedua bidang tanah yang sama akan (kemudian) dibuat untuk dipakai oleh kedua orang Sempurna, orang-orang tersadar sendiri sepenuhnya." Kemudian Sang Buddha duduklah pada tempat duduk yang ditunjuk. Ketika Beliau sudah duduk, Sang Buddha bicara demikian kepada yang mulia Ananda:
Pada suatu ketika, Ananda, didistrik ini (seperti diatas) [46] yang Mulia Kassapa ... memberi instruksi kepada sekelompok bhikkhu Sangha ketika beliau duduk disini. Dan, Ananda, di dalam desa kota pelabuhan dari Vebhalin¬ga, seorang pembuat gerobak bernama Ghatikara adalah seorang pendukung-pendu-kung utama dari yang mulia Kassapa ... dan, Ananda, seorang pemuda brahmana bernama Jotipala adalah seorang teman-teman kental dari si pembuat gerabah Ghatikara itu. Kemudian, Ananda, si pembuat gerabah Ghatikara menyapa pemuda brahmana Jotipala, sambil berkata: 'Marilah kita pergi, Jotipala yang baik, kita akan mendatangi yang mulia Kassapa ... untuk menyambangi beliau. Dengan melihat wajah beliau, Yang sempurna, yang tersadar sendiri sepenuhnya, akan sangat saya hargai.' Ketika hal itu telah diucapkan, Ananda, pemuda brahmana Jotipala itu berkata demikian kepada pembuat gerabah Ghatikara: 'Ya, Ghatikara yang baik, tetapi apa gunanya melihat petapa kecil gundul itu?'
Dan kedua kalinya ... dan ketiga kalinya, Ananda, Ghatikara di pembuat gerabah telah berkata demikian kepada brahmana muda bernama Jotipala itu: 'Marila kita pergi, Jotipala yang baik, kita akan mendatangkan yang mulia Kassapa ... 'Ya, Ghatikara yang baik, tetapi guna apa untuk melihat petapa kecil yang gundul ini?'
Baiklah, Jotipala yang baik, dengan membawa alat penggaruk punggung serta bedak mandi, kita akan pergi ke sungai untuk mandi.' Ananda, pemuda Brahmana Jotipala itu menjawab si pembuat gerabah Ghatikara menyetujuinya, sambil berkata: 'Baiklah, sayang.'
Kemudian, Ananda, si pembuat gerabah Ghatikara dan pemuda brahmana Jotipala, sambil membawa alat penggaruk punggung serta bedak mandi, pergilah mereka ke sungai untuk mandi. Kemudian, Ananda, pembuat gerabah Chatikara bicara demikian kepada Brahmana muda Jotipala: 'Ini, Jotipala yang baik, adalah dekat dengan vihara milik yang mulia Kassapa ... marilah kita pergi, Jotipala yang baik, kita akan mendatangi yang mulia Kassapa ... Demikian agar melihat Beliau. Apabila milihat yang mulia ini, seorang sempurna, seorang tersadar sendiri sepenuhnya, akan sangat saya hargai.' Ketika hal ini telah dikatakan, Ananda, pemuda brahmana Jotipala berkasa demikian kepada pembuat gerabah Chatikara: 'Ya, Ghatikara yang baik, tetapi [47] guna apa melihat petapa kecil yang gundul itu?'
Dan yang kedua kalinya ... dan yang ketiga kalinya, Ananda, Ghatikara si pembuat gerabah itu bicara demikian kepada pemuda brahmana Jotipala itu: "Ini, Jotipala yang baik, adalah dekat dengan vihara milik yang mulia Kassapa ... apabila melihat yang mulia, seorang yang sempurna, tersadar sendiri sepenuh¬nya, akan sangat saya hargai.' Dan untuk ketiga kalinya, Ananda, pemuda brah¬mana Jotipala itu bicara demikian kepada pembuat gerabah Ghatikara: 'Ya, Ghatikara yang baik, tetapi guna apa melihat petapa kecil yang gundul itu?'
Kemudian, Ananda, si pembuat gerabah Ghatikara, sesudah memegangi pemuda brahmana Jotipala pada ikat pinggannya, bicara demikian: 'Ini, Jotipala yang baik, adalah dekat dengan vihara milik yang mulia Kassapa ... marilah kita pergi, Jotipala yang baik, kita akan mendatangi yang mulia Kassapa untuk melihat beliau. Apabila melihat beliau, seorang sempurna, tersadar sendiri sepenuhnya, akan sangat dihargai olehku.' Kemudian, Ananda, pemuda brahmana Ghatikara: 'Ya, Ghatikara yang baik, tetapi guna apa melihat petapa kecil yang gundul itu?' Kemudian, Ananda, pembuat gerabah Ghatikara, setelah memegang pemuda brahmana Jotipala pada rambutnya itu, pemuda itu baru saja melakukan pencucian rituil atas kepalanya bicara demikian: 'Ini, Jotipala yang baik, adalah dekat dengan vihara milik yang mulia Kassapa ... marilah kita pergi ... Apabila melihat yang mulia ini, seorang sempurna, tersadar sendiri sepenuhnya, akan sangat dihargai olehku.'
Kemudian, Ananda, terjadilah kepada pemuda brahmana Jotipala hal sebagai berikut: 'Ternyata sangat mengagumkan, ternyata sangat indah, bahwa pembuat gerabah Ghatikara ini, walaupun dari kasta rendah, harus memegang rambutku walaupun aku telah melakukan pencucian ritual atas kepalaku,' dan harus berpi¬kir ('Ternyata hal ini pasti tidak dapat disepelekan. Ia kemudian bicara demikian kepada pembuat gerabah Ghatikara: 'Apakah hal itu betul-betul perlu, Ghatikara yang baik ? 'Ini adalah betul-betul sangat perlu, Jotipala yang baik, paling pasti [48] Apabila melihat yang mulia ini, seorang sempurna, tersadar sendiri sepenuhnya, akan sangat dihargai olehku.' 'Baiklah, Ghatikara yang baik, lepaskanlah (rambutku); kita akan pergi bersama.'
Kemudian, Ananda, pembuat gerabah Ghatikara dan pemuda brahmana Jotipala mendatangi Yang Mulia Kassapa ... Ketika mereka sudah datang, Ghatikara pem¬buat gerabah memberi hormat kepada Yang Mulia Kassapa ... ketika mereka sudah datang, Ghatikara pembuat gerabah memberi hormat kepada Yang Mulia Kassapa ... dan duduklah ia pada jarak yang hormat. Tetapi pemuda brahmana Jotipala saling memberi hormat dengan Yang Mulia Kassapa ... dan sesudah melakukan pembicaraan dalam suasana persahabatan serta saling hormat, ia duduk pada suatu tempat yang hormat. Dan, Ananda, ketika Chatikara si pembuat gerabah itu sudah duduk pada suatu jarak yang hormat, ia berkata Ghatikara si pembuat gerabah itu sudah duduk pada suatu jarak yang hormat, ia berkata demikian kepada Yang Mulia Kassapa ...'Tuan yang mulia, pemuda brahmana Jotipala, dengan pembica¬raan tentang dhamma. Kemudian, Ananda, si pembuat gerabah dan pemuda brahmana Jotipala, menjadi girang, terharu, terdorong, menjadi senang oleh pembicaraan dhamma dari yang mulia Kassapa, setelah mensyukuri terhadap apa yang dikatakan oleh yang mulia Kassapa, setelah mensyukuri terhadap apa yang dikatakan oleh yang mulia Kassapa, setelah memberikan salam terima kasih dan setelah bangkit dari duduk mereka, memberi hormat kepada yang mulia Kassapa ... mereka berpam¬it dan selalu menempatkan beliau pada sisi kanan mereka.
Kemudian, Ananda, pemuda brahmana Jotipala itu berkata demikian kepada si pembuat gerabah Ghatikara: 'Bagaimana sih dengan dirimu, Ghatikara yang baik, setelah mendengarkan dhamma, kamu tidak pergi meninggalkan kehidupan berumah tangga ke penghidupan tanpa rumah tanga?'
'Tetapi, Jotipala yang baik, tidakkah kamu tahu bahwa aku memlihara kedua orang tua yang buta dan renta itu?'
'Baiklah, Ghatikara yang baik, aku akan meninggalkan kehidupan berumah tangga ke penghidupan tanpa rumah tangga.'
Kemudian, Ananda, pembuat gerabah dan pemuda brahmana Jotipala itu mendatangi yang Mulia Kassapa ... [49] setelah mendatanginya dan setelah memberi hormat kepada Yang Mulia Kassapa ... mereka duduklah pada jarak yang hormat. Dan Ananda, ketika Ghatikara si pembuat gerabah sedang duduk pada jarak yang hormat, ia berkata demikian kepada yang Mulia Kassapa ... 'Tuan yang mulia, pemuda brahmana Jotipala ini adalah temanku-temanku baikkhu. Semoga tuan memperkenankan ia menjalani (kehidupan tanpa berumah tangga). Ananda, Jotipala pemuda brahmana itu menerima pengukuhan penghidupan dihadapan tuan yang mulia kasapa ..., ia menerima pentahbisannya. Kemudian, Ananda, tidak lama setelah pemuda brahmana Jotipala itu ditahbiskan setengah bulan sesudah pentahbisan yang mulia Kassapa ... setelah tinggal di vebhalinga selama ia merasa cocok, pergi melakukan perjalnan ke Benares; sambil berjalan, tibalah beliau di Benares.
Sementara beliau berada di sana, Ananda, Yang Mulia Kassapa ... tinggal di dekat Benares di Isipatana di taman rusa. Ananda, Kiki, raja dari Kasi, mendengar bahwa Yang Mulia Kassapa ... telah tiba di Benares dan sedang ting¬gal di dekat Benares di Isipitana di dalam Taman Rusa. Kemudian, Ananda, Kiki, raja dari Kasi, setelah banyak kendaraannya dipajang indah-indah, setelah menaiki sebuah kendaraan yang bagus, mulailah ia melakukan perjalanan menuju Benares dengan di ikuti banyak sekali kendaraan serta banyak kemegahan untuk melihat Yang Mulia Kassapa itu ... sepanjang jalanan masih bisa dilalui dengan kendaraan ia tetap naik kendaraan itu. Kemudian sesudah ia turun dari kenda¬raan, ia mendekati Yang Mulia Kassapa ... sambil berjalan; setelah mendekati dan setelah memberikan hormatnya kepada Yang Mulia Kassapa ... duduklah ia pada jarak yang cukup hormat. Ananda, ketika Kiki, Raja Kasi, sedang duduk di suatu jarak yang hormat, Yang Mulia Kassapa ... terharu, terperangah, menjadi girang dan senang untuk berbicara dhamma dengannya. Kemudian, Ananda, Kiki, raja Kasi ... terharu ... senang terhadap Yang Mulia Kassapa ... dengan pembi¬caraan tentang dhamma, bicara demikian kepada yang Mulia kassapa ....
50. 'Tuan yang mulia, semoga Yang Mulia setuju untuk makan bersama-sama saya besok pagi bersama dengan para bhikkhu Sangha.' Ananda Yang Mulia Kassapa menyetujuinya dengan diam tidak menjawab. Kemudian, Ananda, Kiki raja Kasi, setelah mengerti atas persetujuan dari Yang Mulia Kassapa, bangkitlah ia dari duduknya dan memberi hormat kepada Yang Mulia Kassapa, meninggalkan beliau dengan selalu menempatkan diri beliau di sebelah kanan. Kemudian, Ananda, menjelang akhir dari malam hari itu ketika Kiki, raja Kasi, memiliki berbagai makanan mewah, padat dan lembut, yang dipersiapkan di dalam tempat tinggalnya sendiri: nasi kuning kering, berbagai macam lauk, rempah-rempah, ia mempunyai waktu untuk diumumkan kepada Buddha Kassapa, sambil berkata: 'Adalah sudah tiba waktunya, Yang Mulia, hidangan sudah siap.'
Kemudian, Ananda, Buddha Kassapa, setelah mengenakan jubah dipagi hari, sambil membawa mangkok dan jubah luar, mendekati tempat tinggal Kiki, Raja Kasi; setelah tiba, beliau duduk pada tempat yang ditunjuk bersama-sama dengan bhikkhu Sangha. Kemudian, Ananda, ketika Buddha Kassapa telah makan dan telah menarik tangan beliau dari mangkok, Kiki, raja dari Kasi, mengambil tempat duduk lebih rendah, dan duduklah ia pada jarak yang hormat. Ketika ia sudah duduk pada jarak yang hormat, Kiki, Raja Kasi, bicara demikian kepada Buddha Kassapa: 'Tuan yang mulia, semoga Sang Buddha menyetujui untuk (menerima) tempat tinggal musim hujan saya di Benares; di sana akan terdapat banyak bantuan bagi Sangha.'
'Tidak, tuanku, aku sudah menyetujui untuk menerima tempat tinggal musim penghujan.'
Dan untuk kedua kalinya ... dan ketiga kalinya, Ananda, Kiki, Raja kasi, telah berkata demikian kepada Buddha Kassapa ... 'Yang Mulia, semoga Sang Buddha menyetuji untuk menerima tempat tinggal musim penghujan saya di Be¬nares; di sana akan terdapat banyak bantuan bagi Sangha.'
'Tidak, tuanku, aku (sudah) menyetujui untuk (menerima tempat tinggal musim penghujan).'
Kemudian, Ananda, Kiki, Raja Kasi berpikir: 'Buddha Kassapa [51] ... tidak menyetujui untuk (menerima) tempat tinggal musim penghujan milikku di Benares, 'dia menjadi kecewa dan duka. Kemudian, Ananda, Kiki, Raja Kasi, bicara demikian kepada Buddha Kassapa .... 'Apakah, dikau, yang mulia, mempun¬yai pendukung lain dari padaku?'
'Ada, tuanku, sebuah desa kota pelabuhan bernama Vebhalinga'.
Disana terdapat seorang pembuat gerabah yang bernama Ghatikara; ia adalah pendukungku pendukung utama. Tetapi kamu, tuanku, berpikir: Buddha Kassapa ... tidak menyetujui untuk (menerima) tempat tinggal musim penghujan milikku di Benares, dan kamu menjadi kecewa dan duka. Hal ini adalah tidak demikian dengan pembuat gerabah Ghatikara telah berlindung pada Sang Buddha, Sang Dhamma dan Sang Sangha. Ghatikara, pembuat gerabah, tuanku, telah berpan¬tang untuk melakukan pembunuhan makhluk hidup, berpantang untuk tidak mengam¬bil barang-barang yang tidak diberikan kepadanya, berpantang untuk tidak melakukan kesenangan-kesenangan inderawi, berpantang tidak berbohong, berpan¬tang untuk menjadi tidak sadar atau bermabuk-mabukkan dikarenakan minuman keras. Ghatikara si pembuat gerabah itu, tuanku, memiliki kepercayaan yang teguh terhadap Sang Tathagata ... dalam dhamma ... pada Sangha, ia memiliki kebiasaan-kebiasaan moral baik yang dekat dengan kaumnya, Ghatikara, si pem¬buat gerabah, tuan ku, tidak meragukan tentang derita, ia tidak meragukan tentang jalan menuju ke penghentian daripada derita. Ghatikara si pembuat gerabah, tuanku, adalah seorang yang makan hanya sekali sehari, seorang kelana Brahma, suci, sifat-sifat menyenangkan. Ghatikara pembuat gerabah, tuanku, adalah seorang yang telah menyisihkan permata dan emas, yang tidak mempunyai emas dan perak. Ghatikara pembuat gerabah, tuanku, tidaklah menggali tanah baik menggunakan sekop atau dengan tangan-tangan sendiri; dengan senang hati ia membuat sebuah alat bejana dari tanah tepi sungai yang rapuh atau bekas digaruk oleh tikus-tikus atau anjing-anjing, dan ia bicara demikian: "Barang siapa suka, apabila ia meletakkan pecahan-pecahan dari pada yang telah dikupas di sini, pecahan-pecahan dari biji-biji ginjal, pencahan dari biji-biji anak ayam, boleh mengambil apa saja yang ia mau. Ghatikara si pembuat gerabah, tuanku, memelihara kedua oarng tuanya yang buta dan renta [52]. Ghatikara si pembuat gerabah, tuanku, dengan menghancurkan kelima buah penggoda yang mengi¬kat dirinya pada (pantai) sebelah bawah, mengalami bangkit secara spontan, ia mencapai nibbana akhir di sana , ia tidak lagi bertanggung jawab untuk kembali dari dunia itu.
Pada suatu ketika aku, tuanku, sedang tinggal di dalam desa kota pelabu¬han vebhalinga. Kemudian aku, tuanku, setelah mengenakan pakaian dipagi hari, sembil membawa mangkuk dan jubah luar, datang mendekati kedua orang tua dari si pembuat gerabah Ghatikara; setelah mendekat, aku bicara demikian kepada kedua orang tua dari pembuat gerabah Ghatikara; 'Kemanakah perginya si pembuat gerabah itu?" "Tuan Yang Mulia, pendukungmu telah pergi ke luar, dan mengata-kan: sekarang, setelah mengambil dari belanga, setelah mengambil masakanku dari cauldren, nikmatilah." Kemudian aku, tuanku, sesudah mengambil conjey dari belanga, sesudah mengambil masakan kuah dari ceret, menikmati mereka, dan bangkit dari tempat duduk aku kemudian pergi meninggalkannya. Kemudian, tuan¬ku, Ghatikara si pembuat gerabah datang mendekati kedua orang tuanya; sesudah mendekat, ia berkata demikian kepada kedua orang tuanya: "Siapakah ia, yang sudah mengambil makanan keras dari belanga, sudah mengambil makanan karena dari ceret dan sesudah menikmatinya, sudah pergi?" "Beliau adalah Buddha Kassapa .., sayangku, yang, telah mengambil masakan keras dari belanga, sudah mengambil masakan karena dari ceret dan sesudah menikmatinya, sudah pergi?" "Beliau adalah Buddha Kassapa .., sayangku, yang telah mengambil masakan keras dari belanga .. sudah pergi." Kemudian, tuanku, terjadilah pada si pembuat gerabah Ghatikara: "Ternyata ini adalah kemenangan bagiku, ternyata ini adalah sesuatu yang dengan baik sekali aku peroleh bahwa Buddha Kassapa ... mempunyai kepercayaan sedemikian terhadap diriku. "Kemudian, tuanku, rasa senang dan bahagia tidak meninggalkan diri Ghatikara pembuat gerabah untuk setengah bulan lamanya atau tujuh hari untuk kedua orang tuanya.
Pada suatu ketika Aku, tuanku sedang tinggal di desa kota pelabuhan ini dari Vebhalinga. Kemudian Aku, tuanku, sesudah mengenakan pakaian di pagi hari ... (seperti diatas) .. bicara demikin kepada kedua orang tua pembuat gerabah Ghatikara: "Sekarang ke mana perginya si pembuat gerabah itu?" "tuanku yang mulia, pendukung-Mu telah pergi keluar, dan mengatakan: sekarang, sesudah mengambil nasi dari panci, sesudah mengambil nasi dari panci, sesudah mengam¬bil masakan kuah atau kari dari ceret. [53] Menikmatinya, dan bangkit dari duduk ku serta pergi meninggalkannya. Kemudian, tuanku, si pembuat gerabah Ghatikara mendekati kedua orang tuanya ... (seperti di atas); sesudah mengam¬bil nasi dari panci, sesudah mengambil masakan kuah dari ceret ... Kemudian, rasa senang dan bahagia tidaklah meninggalkan diri si pembuat gerabah Ghatika¬ra itu selama setengah bulan lamanya atau meninggalkan kedua orang tuanya untuk tujuh hari.
Pada suatu ketika aku, tuanku, sedang tinggal di desa kota pelabuhan ini dari Vebhalinga Pada ketika itu pondokan bocor. Oleh sebab itu aku, tuanku, memerintahkan para bhikkhu, dan berkata: "pergilah para bhikkhu, dan carilah apakah di sana ada rumput di dalam tempat kelana dari Ghatikara si pembuat gerabah itu." Ketika ini telah diucapkan, tuanku, para bhikkhu bicara demikian kepada-Ku: "Di sana tidak ada rumput, yang mulia, di dalam tempat tinggal atau kelana dari Ghatikara pembuat gerabah, tetapi rumahnya mempunyai atap rumput." "Pergilah, para bhikkhu, lepaskanlah rumput dari atap rumah Ghatikara pembuat gerabah itu." Kemudian ,tuanku, para bhikkhu ini melepas rumput dari atap rumah Ghatikara si pembuat gerabah itu. Kemudian, tuanku kedua orang tua Ghatikara si pembuat gerabah bicara demikian kepada para bhikkhu: "Siapakah mereka yang melepas rumput dari atap rumahku?" "Kaka,(?)" kata para bhikkhu, "pendek dari Buddha Kassapa sedang bocor." Kemudian, tuanku, terjadilah pada Ghatikara di pembuatan gerabah demikian: "Ternyata ini adaah suatu kemenangan atau keuntungan bagiku, ternyata ini adalah perolehan yang sangat baik bagiku, kesenangan dan kebahagiaan tidaklah meninggalkan diri si pembuat gerabah Ghatikara. [54] Untuk setengah bulan lamanya atau satu minggu bagi orang tuanya. Kemudian, tuanku, untuk segenap tiga bulan rumah tersebut berdiri tanpa atap dan terbuka kelihatan langit, tetapi tidak masuk air hujan. Orang sedemikian, tuanku, adalah Ghatikara si pembuat gerabah itu.'
'Adalah sekali lagi, tuan yang mulia, ia diperoleh dengan baiknya, tuan yang mulia, oleh Ghatikara si pembuat gerabah di dalam mana Buddha mempunyai demikian kepercayaan.'
Kemudian, Ananda, Kiki, raja dari Kasi, mengirimkan sebanyak lima ratus gerobak beras (padi yang sudah dikelupas kulitnya) kepada Ghatikara si pembuat gerabah itu, beras kuning kering dan bumbu-bumbu masak yang cocok. Kemudian, Ananda, orang-orang dari raja itu, setelah mendatangi Ghatikara pembuat gera¬bah, bicara demikian: 'Ke lima ratus gerobak beras ini, yang mula, telah dikirim kepadamu oleh Kiki, raja Kasi, bersama-sama dengan beras kuning kering dan bumbu-bumbu yang cocok. Terimalah mereka, yang mulia. 'Raja sangat sibuk, tiada ada hal lain yang dapat dilakukan. Aku sudah sangat puas sejak ini adalah untuk-Ku dari raja.'
Mungkin bisa terjadi, Ananda, bahwa hal ini akan terjadi kepadamu: 'Pada waktu itu pemuda brahmana Jotipala adalah seorang lain'. Tetapi kini, Ananda, janganlah dipikirkan dengan cara demikian. Aku, pada waktu itu, adalah Jotipa¬la, Pemuda brahmana itu.
Demikian kata Sang Buddha. Menjadi girang, yang mulia Ananda mensyukuri apa yang dikatakan oleh Sang Buddha itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar