ASSALAYANA SUTTA
(93)
[147] Demikianlah yang telah kudengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava tinggal taman Anathapindika, hutan Jeta dekat kota Savatthi. Pada waktu itu paling kurang lima ratus orang bramana dari beberapa propinsi sedang tinggal di Savatthi untuk suatu keperluan. Lalu para brahmana-brahmana berpikir begini: "Pertapa Gotama menjatuhkan kemurni¬an empat kasta. Sekarang siapa yang sanggup untuk berdebat tentang hal ini dengan pertapa Gotama?" Pada saat itu brahmana muda Assalayana sedang tinggal di Savatthi. Dia masih muda, kepalanya dicukur bersih, umurnya enam belas tahun: Dia ahli tiga macam Veda ... ahli dalam ... tanda-tanda orang besar".
Lalu pada brahmana-brahmana ini berpikir begini: "Brahmana muda Assala¬yana ini sedang tinggal di Savatthi. Dia masih muda, kepalanya dicukur bersih, umurnya enam belas tahun: Dia ahli tiga macam Veda ...ahli dalam ... tanda-tanda orang besar. Dia sanggup untuk berdebat tentang hal ini dengan pertapa Gotama." Kemudian para brahmana ini mendekati brahmana muda Assalayana, setelah mendekat mereka berkata begini kepada brahmana muda Assalayana:
"Assalayana yang baik, pertapa Gotama ini mejatuhkan kemurnian empat kasta; engkau pergilah, Assalayana yang baik dan berdebatlah tentang hal ini dengan pertapa Gotama."
Setelah ini dikatakan, brahmana muda Assalayana berkata begini kepada para brahmana: "Benarkah tuan, bahwa pertapa Gotama seorang pengkotbah Dhamma? Karena seorang pengkhotbah Dhamma sulit untuk di ajak berdebat. Aku tidak sanggup untuk berdebat tentang hal ini dengan pertapa Gotama." Dan untuk kedua kalinya para brahmana ini berkata begini kepada brahmana muda Assalayana: "Assalayana yang baik, pertapa Gotama ini mejatuhkan kemurnian empat kasta; engkau pergilah, [148] Assalayana yang baik dan berdebatlah tentang hal ini dengan pertapa Gotama." Kehidupan seorang pertapa dipimpin oleh Assalayana yang baik".
Dan untuk kedua kalinya Assalayana brahmana muda berkata begini kepada para brahmana: "Benarkah tuan, bahwa pertapa Gotama seorang pengkotbah Dhamma?" Karena seorang pengkhotbah Dhamma sulit untuk di ajak berdebat. Aku tidak sanggup untuk berdebat tentang hal ini dengan pertapa Gotama."
Dan untuk ketiga kalinya para brahmana ini berkata begini kepada brahma¬na muda Assalayana :"Assalayana yang baik, pertapa Gotama ini mejatuhkan kemurnian empat kasta; engkau pergilah, Assalayana yang baik dan berdebatlah tentang hal ini dengan pertapa Gotama." Kehidupan seorang pertapa dipimpin oleh Assalayana yang baik. Janganlah sampai Assalayana yang baik dikalahkan tanpa perlawanan".
Setelah ini dikatakan, Assalayana brahmana muda berkata begini kepada para brahmana: "Benarkah tuan, bahwa pertapa Gotama seorang pengkotbah Dhamma? Karena seorang pengkhotbah Dhamma sulit untuk di ajak berdebat. Aku tidak sanggup untuk berdebat tentang hal ini dengan pertapa Gotama. Semua sama saja, aku akan mencari perlindungan dari Yang Mulia."
Kemudian brahmana muda Assalayana bersama sejumlah besar brahmana mende¬kati Sang Bhagava; setelah mendekat, dia memberi salam Sang Bhagava; setelah berbicara dengan ramah dan sopan, dia duduk pada jarak yang pantas. Pada waktu dia duduk pada jarak yang pantas, brahmana muda Assalayana berkata begini kepada Sang Bhagava:
"Gotama yang baik, para brahmana berkata begini: Hanya para brahmana yang membentuk kasta terbaik, semua kasta yang lain rendah; hanya brahmana membentuk kasta yang putih, semua kasta yang lain gelap; hanya para brahmana yang suci yang lain tidak; hanya para brahmana yang merupakan putra sejati Brahma, terlahir dari mulutnya, dilahirkan oleh Brahma, diciptakan oleh Brah¬ma, pewaris dari Brahma. Bagaimana pendapat Gotama yang baik, tentang hal ini?"
"Tetapi Assalayana, istri para brahmana diketahui mempunyai beban, untuk mengandung, untuk melahirkan dan untuk menyusui. Namun bagaimana para brahmana ini yang juga terlahir dari rahim wanita, seperti yang lain berkata begini: "Hanya para brahmana membentuk kasta yang terbaik .... pewaris Brahma."
[149] "Walau Gotama yang baik berkata begitu, namun para brahmana tetap mengangap begini: Hanya para brahmana ... pewaris Brahma."
"Bagaimana pendapatmu tentang ini, Assalayana? Pernahkah engkau menden¬gar bahwa di Yona dan Kamboja dan propinsi-propinsi lain yang berdekatan terdapat dua hanya dua kasta, tuan dan budak?". Dan bagaimana menjadi tuan sama dengan menjadi budak; menjadi budak sama dengan menjadi tuan?"
"Ya, aku telah mendengar hal ini, tuan. Di Yona dan Kamboja ...
menjadi budak sama dengan menjadi tuan."
"Jika dihubungkan dengan ini, Assalayana, berdasarkan kekuatan dan kekuasaan apa para brahmana berkata begini: Hanya para brahmana ... pewaris Brahma."
"Walau Gotama yang baik berkata begitu, namun para brahmana tetap men¬gangap begini: Hanya para brahmana membentuk kasta terbaik ... pewaris Brahma."
"Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, Assalayana? Bila seorang kesatria menganiaya mahluk hidup, mengambil apa yang tak diberikan, menikmati kesenan¬gan indria dengan cara salah, menjadi pembohong, memfitnah, bicara kasar, mengada-ada, tamak, iri hati, berpandangan salah-- apakah hanya dia, yang mengalami kehancuran badannya setelah kematiannya bangkit dengan jalan yang menyakitkan, tempat yang buruk, kehancuran, neraka dan bukan seorang brahmana? bagaimana bila seorang pedagang? dan bila seorang pekerja menganiaya mahluk hidup, ...... berpandangan salah-- akankah dia ,mengalami kehancuran badannya setelah kematiannya bangkit dengan jalan yang menyakitkan, tujuan yang buruk, kehancuran, neraka dan bagaimana bila seorang brahmana?"
"Ini juga tidak begitu, Gotama yang baik. Bila seorang kesatria menga¬niaya mahluk hidup, mengambil apa yang tak diberikan... pada waktu kehancuran badannya setelah kematiannya bangkit dengan jalan yang menyakitkan, tempat yang buruk, kehancuran, neraka. Demikian juga seorang brahmana, Gotama yang baik, dan demikian juga seorang pedagang, Gotama yang baik, demikian juga seorang pekerja, Gotama yang baik-- karena itu Gotama yang baik, bila mereka menganiaya mahluk hidup, [150] mengambil apa yang tak diberikan, ..... berpan¬dangan salah-- keempat macam kasta mengalami kehancuran badannya setelah kematiannya bangkit dengan jalan yang menyakitkan, tempat yang buruk, kehancu¬ran, neraka jahanam ?"
"Jika dihubungkan dengan ini, Assalayana, berdasarkan kekuatan dan kekuasaan apa para brahmana berkata begini: Hanya para brahmana ... pewaris Brahma."
"Walau Gotama yang baik berkata begitu, namun para brahmana tetap men¬gangap begini: Hanya para brahmana membentuk kasta terbaik ... pewaris Brahma."
"Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, Assalayana? Bila seorang brahmana berusaha tidak menganiaya mahluk hidup, tidak mengambil apa yang tak diberi¬kan, tidak menikmati kesenangan indria dengan cara salah, tidak menjadi pembo¬hong, tidak memfitnah, tidak bicara kasar, tidak mengada-ada, tidak tamak, tidak iri hati, tidak berpandangan salah-- apakah hanya dia, yang mengalami kehancuran badannya setelah kematiannya bangkit ditempat yang baik, sebuah surga dunia, dan bagaimana bila seorang kesatria? atau pedagang? atau seorang pekerja?"
"Ini juga tidak begitu, Gotama yang baik. Bila seorang kesatria berusaha tidak menganiaya mahluk hidup, tidak mengambil apa yang tak diberikan... tidak iri hati, berpandangan benar, mengalami kehancuran badannya setelah kematian¬nya bangkit di tempat yang baik, sebuah surga dunia?" Demikian juga seorang brahmana, Gotama yang baik, dan demikian juga seorang pedagang, Gotama yang baik, demikian juga seorang pekerja, Gotama yang baik-- karena itu Gotama yang baik, bila mereka berusaha tidak menganiaya mahluk hidup, tidak mengambil apa yang tak diberikan, ..... tidak iri hati, berpandangan benar-- keempat macam kasta mengalami kehancuran badannya setelah kematiannya bangkit ditempat yang baik, sebuah surga dunia?"
"Jika dihubungkan dengan ini, Assalayana, berdasarkan kekuatan dan kekuasaan apa para brahmana berkata begini: Hanya para brahmana ... pewaris Brahma."
"Walau Gotama yang baik berkata begitu, [151] namun para brahmana tetap mengangap begini: Hanya para brahmana membentuk kasta terbaik ... pewaris Brahma."
"Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, Assalayana? Apakah hanya seorang brahmana dalam hal ini, yang dapat mengembangkan pikiran persahabatan tanpa kebencian, iri hati? Dan bukan seorang kesatria, bukan pula seorang pedagang, bukan pula seorang pekerja ?"
"Ini juga tidak begitu, Gotama yang baik. Dalam hal ini, seorang kesa¬tria dapat pula mengembangkan pikiran persahabatan tanpa kebencian, iri hati? Dan demikian pula seorang brahmana, dan demikian pula seorang pedagang, dan demikian pula seorang pekerja, Gotama yang baik-- karenanya Gotama yang baik, dalam hal ini keempat kasta dapat mengembangkan pikiran persahabatan tanpa kebencian, tanpa iri hati."
"Jika dihubungkan dengan ini, Assalayana, berdasarkan kekuatan dan kekuasaan apa para brahmana berkata begini: Hanya para brahmana ... pewaris Brahma."
"Walau Gotama yang baik berkata begitu, namun para brahmana masih tetap mengangap begini: Hanya para brahmana membentuk kasta terbaik ... pewaris Brahma."
"Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, Assalayana? Apakah hanya seorang brahmana dalam hal ini, yang mempunyai gosokan punggung dan bedak mandi dan pergi ke sungai, yang sanggup membersihkan dirinya dari debu dan lumpur? dan bukan seorang kesatria, bukan seorang pedagang, bukan pula seorang pekerja?"
"Ini juga tidak begitu, Gotama yang baik. Seorang kesatria yang mempun¬yai gosokan punggung dan bedak mandi dan pergi ke sungai, sanggup untuk mem¬bersihkan dirinya dari debu dan lumpur. Dan begitu juga seorang brahmana, Gotama yang baik, dan demikian juga seorang pedagang, Gotama yang baik, demi¬kian juga seorang pekerja, Gotama yang baik-- karena itu Gotama yang baik, ke empat kasta yang mempunyai gosokan punggung dan bedak mandi dan pergi kesungai sanggup membersihkan dirinya dari debu dan lumpur."
"Jika dihubungkan dengan ini, Assalayana, berdasarkan kekuatan dan kekuasaan apa para brahmana berkata begini: Hanya para brahmana ... pewaris Brahma."
"Walau Gotama yang baik berkata begitu, namun para brahmana masih tetap mengangap begini: Hanya para brahmana membentuk kasta terbaik ... pewaris Brahma."
"Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, Assalayana? Apabila seorang raja yang diminyaki [152] mengumpulkan seratus orang dari asal yang berbeda, berka¬ta kepada mereka: "Mari, tuan-tuan sekalian, Silahkan, tuan-tuan yang berasal dari keluarga kesatria, pendeta, keluarga kerajaan, membawa kayu bakar dari pohon jati atau sala, atau pohon pinus, atau cendana, atau teratai, menyalakan api dan memberikan kehangatan. Tapi , mari tuan-tuan sekalian, silahkan tuan-tuan yang berasal dari keluarga yang hina, keluarga pemburu binatang, keluarga penenun, keluarga penganyam bambu, keluarga pemulung barang bekas, mengumpul¬kan kayu bakar bekas kandang anjing atau kandang babi atau kotak penyepuh warna, atau kayu kering dari semak minyak castor, menyalakan api dan memberi¬kan kehangatan. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini Assalayana? Api yang memberikan panas dan dinyalakan oleh seseorang, tak perduli apakah dia seorang kesatria, pendeta, atau keluarga kerajaan, dan tak perduli apakah dia membawa kayu bakar dari pohon Jati atau Sala atau pohon Pinus, cendana atau teratai, mempunyai nyala, warna dan cahaya, dan api seperti ini apakah dapat dipakai untuk keperluan membakar ? Tetapi api yang memberikan panas dan dinyalakan oleh seseorang, tak perduli apakah dia seorang berasal keluarga yang hina, keluarga pemburu binatang, keluarga penenun, keluarga penganyam bambu, keluar¬ga pemulung barang bekas, dan tak perduli apakah dia membawa kayu bakar bekas kandang anjing atau kandang babi atau kotak penyepuh warna, atau kayu kering dari semak minyak castor, tidakkah juga mempunyai nyala, warna dan cahaya, dan api seperti ini apakah tidak dapat dipakai untuk keperluan membakar? "Ini tidak demikian, Gotama yang baik. Siapa saja yang berasal dari keluarga kesatria, pendeta, atau keluarga kerajaan, yang membawa kayu bakar dari pohon Jati atau Sala atau pohon Pinus, cendana atau teratai, menyalakan api dan memberikan panas -- api ini mempunyai nyala, warna dan cahaya, dan api seperti ini apakah dapat dipakai untuk keperluan membakar? Demikian juga siapa saja yang berasal dari keluarga yang hina, keluarga pemburu binatang, keluarga penenun, keluarga penganyam bambu, keluarga pemulung barang bekas, yang memba¬wa kayu bakar bekas kandang anjing atau kandang babi atau kotak penyepuh warna, atau kayu kering dari semak minyak castor, menyalakan api dan memberi¬kan panas -- api ini juga mempunyai nyala, warna dan cahaya, dan api seperti ini juga dapat dipakai untuk keperluan membakar. Karenanya, Gotama yang baik, semua api-api tersebut mempunyai nyala [153], warna dan cahaya. Dan dapat dipakai untuk keperluan membakar."
"Jika dihubungkan dengan ini, Assalayana, berdasarkan kekuatan dan kekuasaan apa para brahmana berkata begini: Hanya para brahmana yang membentuk kasta terbaik, semua kasta yang lain rendah; hanya brahmana membentuk kasta yang putih, semua kasta yang lain gelap; hanya para brahmana yang suci yang lain tidak; hanya para brahmana yang merupakan putra sejati Brahma, terlahir dari mulutnya, dilahirkan oleh Brahma, diciptakan oleh Brahma, pewaris dari Brahma."
"Walau Gotama yang baik berkata begitu, namun para brahmana masih tetap mengangap begini: Hanya para brahmana membentuk kasta terbaik ... pewaris Brahma."
"Bagaimana pendapatmu tentang ini, Assalayana? Anggaplah seorang pemuda kesatria berhubungan dengan seorang gadis brahmana dan sebagai akibatnya seorang anak laki-laki terlahir diantara mereka. Apakah anak laki-laki dari pemuda kesatria dan gadis brahmana mirip ibunya atau ayahnya dan apakah dia disebut kesatria atau brahmana?"
"Anak laki-laki bagaimanapun juga, Gotama yang baik, terlahir dari pemuda kesatria dan gadis brahmana, akan mirip ibunya dan juga mirip ayahnya dan dia disebut kesatria dan juga brahmana."
"Bagaimana pendapatmu tentang ini, Assalayana? Anggaplah seorang pemuda brahmana berhubungan dengan seorang kesatria brahmana dan sebagai akibatnya seorang anak laki-laki terlahir diantara mereka. Apakah anak laki-laki .... dan apakah dia disebut kesatria atau brahmana?"
"Anak laki-laki bagaimanapun juga, Gotama yang baik, terlahir dari pemuda brahmana dan gadis kesatria, akan mirip ibunya dan juga mirip ayahnya dan dia disebut kesatria dan juga brahmana."
"Bagaimana pendapatmu tentang ini, Assalayana? Anggaplah seekor kuda betina berhubungan dengan seekor keledai dan sebagai akibatnya seekor anak binatang terlahir diantara mereka. Apakah anak dari kuda betina dan keledai ini mirip induknya atau keledai dan apakah dia disebut kuda atau juga kele¬dai?"
"Karena perkawinan silang ini, Gotama yang baik, ia adalah Bagal. Ini [154] Gotama yang baik, ada perbedaan yang saya lihat, tetapi untuk hal-hal yang lain, saya pikir tak ada perbedaan."
"Bagaimana pendapatmu tentang hal ini Assalyana?" Ada dua pemuda brah¬mana, saudara kandung, yang satu ahli dan berpendidikan dalam Veda, yang lain tidak ahli dan tidak terpelajar dalam Veda. Pemuda brahmana yang manakah yang pantas memimpin persembahan upacara kematian atau bubur atau persembahan untuk para dewa atau makanan untuk para tamu?"
"Gotama yang baik, pemuda brahmana yang pantas memimpin persembahan upacara kematian atau bubur atau persembahan untuk para dewa atau makanan untuk para tamu adalah penuda yang ahli dan berpendidikan dalam Veda. karena Gotama yang baik, kemujuran besar yang bagaimana yang dihadiahkan kepada pemuda yang tidak ahli dan tidak berpendidikan dalam Veda?"
"Bagaimana pendapatmu tentang hal ini Assalayana?" Ada dua pemuda brahmana, saudara kandung, yang satu ahli dan berpendidikan dalam Veda, tetapi mempunyai kebiasaan moral, sifat yang buruk, yang lain tidak ahli dan tidak terpelajar dalam Veda, tetapi mempunyai kebiasaan moral dan sifat yang baik. Pemuda brahmana yang manakah yang pantas memimpin persembahan upacara kematian atau bubur atau persembahan untuk para dewa atau makanan untuk para tamu?"
"Gotama yang baik, pemuda brahmana yang pantas memimpin persembahan upacara kematian atau bubur atau persembahan untuk para dewa atau makanan untuk para tamu adalah pemuda yang mempunyai kebiasaan moral dan sifat yang baik. Karena Gotama yang baik, kemujuran besar yang bagaimana yang dihadiahkan kepada pemuda yang mempunyai moral dan sifat yang buruk?"
Sekarang engkau, Assalayana, engkau mengalami kelahiran, setelah mengal¬ami kelahiran engkau melakukan mantra-mantra, setelah melakukan mantra-mantra engkau mencapai kesucian dari keempat kasta yang lain yang mana baru saja aku jatuhkan."
Ketika hal ini dikatakan Brahmana muda Assalayana duduk terdiam, malu lengannya terkulai, wajahnya tertunduk, tidak dapat menahan kekecewaan, diam tak bisa menjawab. Kemudian Sang Bhagava, yang mengerti mengapa Brahmana muda Assalayana duduk terdiam, malu lengannya terkulai, wajahnya tertunduk, tidak dapat menahan kekecewaan, diam tak bisa menjawab, berkata begini kepada brah¬mana muda Assalayana:
"Dahulu kala, Assalayana, ketika tujuh brahmana peramal tinggal dalam gubuk-gubuk daun dalam sebuah bentangan hutan, pandangan salah seperti ini muncul dihadapan mereka : Hanya para brahmana membentuk kasta terbaik ... pewaris Brahma. Dan, Assalayana, peramal Asita Devala mendengar: "Memang tujuh brahmana peramal sedang tinggal dalam gubuk-gubuk daun dalam sebuah bentangan hutan dan pandangan salah seperti ini muncul dihadapan mereka : Hanya para brahmana membentuk kasta terbaik ... pewaris Brahma. Lalu Assalayana, peramal Asita Devala, setelah memintal rambut dan jenggotnya, memakai pakaian yang berwarna crimson, memakai sandal yang berlapis-lapis dan membawa tongkat emas, muncul di ruang bilik dari ke tujuh brahmana peramal. Dan kemudian Assalayana, ketika Asita devala mundar-mandir di ke tujuh ruang bilik ke tujuh brahmana peramal, dia berkata begini: Sekarang, telah pergi kemana para brahmana pera¬mal yang terhormat ? Sekarang, telah pergi kemana para brahmana peramal yang terhormat ? Lalu, Assalayana, berpikirlah ketujuh brahmana peramal, siapa yang mondar-mandir di ketujuh ruang bilik brahmana peramal dan berkata: Sekarang, telah pergi kemana para brahmana peramal yang terhormat ? lalu, Assalayana, ketujuh brahmana peramal membuat kutukan terhadap peramal Asita Devala, berka¬ta: jadilah bara abu. Tetapi, Assalayana, semakin ke tujuh brahmana peramal mengutuk, semakin indah kelihatan peramal Asita Devala, semakin bagus dan tampan untuk dilihat. Lalu Assalayana, tujuh brahmana peramal berpikir : Keangkuhan adalah api bagi kami, tak bermanfaat bagi pekerjaan Brahmana. Biasanya bila kami mengutuk seorang : Jadilah bara abu, dia menjadi abu: tetapi semakin kami mengutuk yang satu ini, semakin indah kelihatannya, sema¬kin bagus dan tampan untuk dilihat".
"Kekuatan membakar bukanlah kesombongan bagi yang mulia, tidak pula sia-sia bagi pekerjaan brahmana. Tetapi yang mulia, bebaskanlah ketidaktahuanmu tentang diriku"
"[156] Kami akan membebaskan diri dari ketidaktahuan apa saja. Tetapi siapakah yang mulia ?"
"Apakah anda semua mengenal peramal Asita Devala?"
"Ya, Yang Mulia"
"Akulah dia." Kemudian Assalayana, ketujuh brahmana peramal mendekati peramal Asita Devala untuk memberi hormat. Lalu Assalayana, peramal Asita Devala berkata begini kepada ketujuh brahmana peramal: "Aku telah mendengar ini, tuan-tuan yang baik: Ketika tujuh brahmana tinggal dalam gubuk-gubuk daun dalam sebuah bentangan hutan, pandangan salah seperti ini muncul dihadapan mereka : Hanya para brahmana yang membentuk kasta terbaik, semua kasta yang lain rendah; hanya brahmana membentuk kasta yang putih, semua kasta yang lain gelap; hanya para brahmana yang suci yang lain tidak; hanya para brahmana yang merupakan putra sejati Brahma, terlahir dari mulutnya, dilahirkan oleh Brahma, diciptakan oleh Brahma, pewaris dari Brahma."
"Betul, Yang Mulia."
"Tetapi Yang Mulia, apakah anda sekalian mengetahui bahwa ibu mereka hanya berhubungan dengan para brahmana, tidak dengan yang lain?"
"Tidak, Yang Mulia".
"Tetapi Yang Mulia, apakah anda sekalian mengetahui bahwa ibu dari ibu mereka dalam tujuh generasi hanya berhubungan dengan para brahmana, tidak dengan yang lain?"
"Tidak, Yang Mulia".
"Tetapi Yang Mulia, apakah anda sekalian mengetahui bahwa ayah dari mereka hanya berhubungan dengan para wanita brahmana, tidak dengan wanita yang lain?"
"Tidak, Yang Mulia".
"Tetapi Yang Mulia, apakah anda sekalian mengetahui bahwa ayah dari ayah mereka dalam tujuh generasi hanya berhubungan dengan wanita brahmana, tidak dengan yang lain?"
"Tidak, Yang Mulia".
"Tetapi Yang Mulia, apakah anda sekalian mengetahui bagaimana pengertian ini ?"
"Kami mengetahui bagaimana pengertian ini. [159] Adanya hubungan kelamin antara orang tua, karena ibu sedang dalam masa subur dan embrio terjadi; Begitulah hubungan ketiga hal ini tentang pengertian itu ?"
"Tetapi Yang Mulia, apakah anda sekalian mengetahui bahwa embrio itu seorang kesatria, seorang brahmana, seeorang pedagang atau seorang pekerja ?"
"Tidak Yang Mulia, kami tidak tahu apakah embrio itu seorang kesatria, seorang brahmana, seorang pedagang atau seorang pekerja ?"
"Jika demikian, apakah anda tahu, siapakah anda sekalian?"
"Jika demikian, Yang Mulia, kami tidak tahu, siapakah kami sekalian?"
Assalayana, ketujuh orang yang disebut brahmana peramal itu, setelah ditanya, dibolak-balik dan dipaksa menjawab pertanyaan tentang pengakuan terhadap keturunan mereka oleh peramal Asita Devala, tidak bisa menjelaskan. Sekarang jika engkau kuberi pertanyaan, kubolak-balik dan kupaksa menjawab pertanyaan tentang pengakuan terhadap keturunanmu, dapatkah engkau menjelas¬kan-- Engkau mempunyai guru yang sama dengan mereka, kecuali Punna tukang sendok upacara persembahan ?"
Ketika ini dikatakan, brahmana muda Assalayana berkata begini kepada Sang Bhagava : "Ini baik sekali, Gotama yang baik, ini hebat sekali, Gotama yang baik. Terimalah aku sebagai pengikut awammu untuk mencari perlindungan mulai hari ini dan selama hidupku."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar