Selasa, 16 Maret 2010

ISIGILI SUTTA

ISIGILI SUTTA
116

[68] Demikian telah saya dengar: Pada suatu waktu Sang Bhagava menetap di dekat Rajagaha di gunung Isigili. Di sana Sang Bhagava berbicara demikian kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu." "Yang Mulia," para bhikkhu menjawab dengan hormat. Sang Bhagava berbicara demikian:
"Para bhikkhu, apakah kamu melihat gunung Vebhara1?"
1 Nama Vebhara dan ke empat nama gunung yang lainnya adalah nama-nama dari gunung-gunung yang mengelilingi Rajagaha; cf. SnA.382.
"Ya, Yang Mulia."
"Para bhikkhu, ada petunjuk tentang nama lain dari gunung Vebhara ini. Para bhikkhu, apakah kamu tidak melihat gunung Pandava?"
"Ya, Yang Mulia."
"Para bhikkhu, ada petunjuk tentang nama lain dari gunung Pandava ini. Para bhikkhu, apakah kamu tidak melihat gunung Vepulla?"
"Ya, Yang Mulia."
"Para bhikkhu, ada petunjuk tentang nama lain dari gunung Vepulla2 ini. Para bhikkhu, apakah kamu tidak melihat gunung Gijjhakuta3?"
"Ya, Yang Mulia."
"Para bhikkhu, ada petunjuk tentang nama lain dari gunung Gijjhakuta ini. Para bhikkhu, apakah kamu tidak melihat gunung Isigili?"
"Ya, Yang Mulia."
2 Lihat S.ii.190-193.
3 Ini adalah "Puncak Gunung Burung Hering."
"Para bhikkhu, sampai saat ini selalu ada petunjuk tentang nama dari gunung Isigili ini. Pada suatu waktu, para bhikkhu, lima ratus paccekabuddha4 menetap untuk waktu yang lama di gunung Isigili ini. Mereka terlihat sedang memasuki gunung tersebut, tetapi segera sesudah mereka masuk mereka tidak terlihat lagi. Masyarakat yang melihat kejadian ini berkata demikian: 'Gunung tersebut menelan para brahmana" (isi gilati)5; demikianlah Isigili mendapat nama Isigili. Para bhikkhu, Saya akan menjelaskan kepada kamu semua nama-nama dari para paccekabuddha tersebut; para bhikkhu, Saya akan menghubungkan nama-nama dari paccekabuddha tersebut; [69] para bhikkhu, Saya akan menyebutkan nama-nama dari para paccekabuddha tersebut. Dengarkan dan simak dengan teliti ucapan Saya."
4 Mereka yang telah mencapai penerangan sempurna karena usaha mereka sendiri tanpa bantuan seorang guru; tetapi mereka tidak dapat mengajarkan Dhamma kepada yang lain-lainnya.
5 MA.iv.127 menyatakan bahwa ketika para brahmana tersebut kembali dari pindapatta, gunung tersebut membuka seperti sepasang daun pintu yang besar, dan ketika mereka sudah masuk kedalamnya mereka lalu tinggal disitu dan tidak kelihatan lagi.
"Ya, Yang Mulia," para bhikkhu menjawab Sang Bhagava dengan hormat. Sang Bhagava berkata demikian:
"Para bhikkhu, Arittha6 adalah seorang paccekabuddha yang tinggal di gunung Isigili ini untuk waktu yang lama. Para bhikkhu, Uparittha7 ... Tagara¬sikhin8 ... Yasassin9 ... Sudassana10 ... Piyadassin '... Gandhara ... Pindola ... Upasabha '... Nitha ... Tatha ... Sutava ... Bhavitatta adalah seorang paccekabuddha yang tinggal di gunung Isigili ini untuk waktu yang lama.
6 Ketiga-belas nama-nama tersebut ditemukan dalam D.P.P.N. dengan para tokoh ketika mereka hidup. Untuk itu hanya diberikan beberapa referensi.
7 Thag.910.
8 Ud.50; UdA.291; S.i.92; Ja.iii.299.
9 Thag.910.
10 ThagA.i.93; Ap.ii.451.
Begitulah intisari dari makhluk11, tidak menderita12, tanpa keinginan, seseorang yang secara individu telah mencapai penerangan yang benar; Dengarkan Saya selagi Saya sedang menghubungkan nama-nama dari para brahmana13 luar biasa tersebut;
Gandhara, Pindola dan Upasabha, Nitha, Tatha, Sutava, Bhavitatta, [70] Sumbha, Subha, Methula dan Atthama, Athassumegha, Anigha, Sudatha. Adalah para paccekabuddha yang keinginan untuk terlahir kembali telah musnah; yang maha agung Hingu dan Hinga;
Kedua bijaksanawan yaitu Jalin14 dan Atthaka, kemudian Kosala yang telah Sadar, kemudian Subahu, Upanemi, Nemi ini, Santacitta ini, adalah jujur, nyata, tak bernoda dan bijaksana; Kala, Upakala, Vijita dan Jita dan Anga dan Panga dan Gutijjita;
Passin yang melepaskan akar penderitaan, Aparajita yang menundukkan kekuatan Mara;
Sattha, Pavatta, Sarabhanga, Lomahamsa, Uccangamaya, Asita, Anasava, Manomaya, dan Bandhuma pemotong kebanggaan, Tadadhimutta, dan Ketuma yang tak bernoda; Ketumbaraga dan Matanga, Ariya, lalu Accutta, Accutagama, Byamaka,
Sumangala, Dabbila, Supatitthito, Asayha, Khemabhirata dan Sorata, Durannaya, Sangha, dan lalu Ujjaya, dan lalu Sayha yang bijaksana dari keberanian15 yang luhur; Ananda, Nanda, Upananda yang berjumlah duabelas16, Bharadvaja pengemban tubuh terakhirnya, Bodhi, Mahanama, lalu juga Bharadvaja lain yang cantik dan kepalanya berambut, Tissa, Upatissa, Upasidarin, pemotong ikatan untuk terla¬hir kembali, dan Sidarin, pemotong keinginan;
Sang Buddha17 yang disebut Mangala, yang penuh cinta kasih, Usabha yang memotong akar penyakit yang menjerat; Upanita yang mencapai jalan damai, Uposatha, Sundara, Saccanama, Jeta, Jayanta, Paduma, Uppala dan Padumuttara, Rakkhita dan Pabbata; [71] Manatthaddha, Sobhita, Vitaraga dan Sang Buddha17 Kanha, yang berpikiran bebas. Mereka dan para paccekabuddha lainnya18 adalah para paccekabuddha maha agung yang keinginan untuk terlahir kembali telah musnah. Terpujilah semua brahmana luar biasa ini yang telah mencapai tujuan akhir nibbana."
11 MA.iv. 129, "pembicaraan mengenai nama-nama dari ketigabelas pacceka¬buddha, sekarang menunjuk kepada nama- nama dari paccekabuddha lainnya yang merupakan intisari dari semua makhluk ..." Sattasara atau intisari dari semua makhluk berarti: seseorang yang telah menjadi intisari dari semua makhluk atau disebut juga sattananm sarabhuta.
12 anigha = niddukkha, MA.iv.129.
13 visalla; cf.S.i.180; Sn.17,86,367.
14 Cula dan Maha-Jalin, MA.iv.129.
15 anomanikkhama; D.iii.156, MA.iv. 129 dibaca nikkama, disebut vi¬riyatta pada MA.
16 Empat Ananda, empat Nanda dan empat Upananda, MA.iv.129.
17 Yaitu paccekabuddha.
18 Diantara lima ratus paccekabuddha, dua dan tiga dan sepuluh dan dua belas mempunyai nama yang sama seperti Ananda, dll.; dimana mereka dibicarakan secara tidak terpisahkan disini, MA.iv.130.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar