Pindapataparisuddhi Sutta
( 151 )
Demikianlah telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang menetap di dekat Rajagaha di Jetavana di Taman Tupai diberi makan. Kemudian bhante Sariputta, bangkit dari meditasi menjelang sore, menghampiri Sang Bhagava; sete¬lah menghampiri dan memberi salam kepada Sang Bhagava, beliau duduk pada jarak yang pantas.
Sang Bhagava berbicara demikian kepada bhante Sariputta setelah beliau duduk pada jarak yang pantas: [294] "Kepandaianmu sangat cemerlang, Sariputta, raut mukamu sangat bersih, sangat jelas. Dalam kediaman apakah engkau, Sariputta, sekarang berdiam dengan sepenuhn¬ya?"
"Berdiam dalam (konsep tentang) kehampaan, saya, bhante, sekarang berdiam dengan sepenuhnya."
"Bagus, Sariputta, bagus. Engkau, Sariputta, sekarang sesung¬guhnya berdiam dalam kediaman para Ariya (yaitu kediaman para Buddha, Tathagata dan Siswa-siswa Utama). Karena inilah kediaman dari para Ariya, Sariputta, yaitu yang dikatakan (konsep tentang) keham¬paan. Karenanya, Sariputta, jika seorang bhikkhu menginginkan: 'Semoga saya sekarang berdiam dengan sepenuhnya dalam kediaman (konsep tentang) kehampaan,' bhikkhu tersebut harus mempertimbang¬kan demikian, Sariputta: 'Di jalan menuju desa untuk Pindapata atau di bagian dimana saya melangkah sewaktu Pindapata atau di jalan keluar dari desa setelah (berjalan untuk) Pindapata - apakah didalam pikiran saya terdapat keinginan atau kemelekatan atau kebencian atau kebingun¬gan atau reaksi indera terhadap segala bentuk materi yang dapat dilihat oleh mata?'
Jika Sariputta, seorang bhikkhu sewaktu merenungkan mengeta¬hui demikian: 'Di jalan menuju desa dan dibagian ... didalam pikiran saya tidak terdapat keinginan atau kemelekatan atau kebencian atau kebingungan atau reaksi indera terhadap segala bentuk materi yang dapat dilihat dengan mata' - bhikkhu tersebut, Sariputta, dengan kebahagiaan dan kegembiraan dapat menghindarkan hal tersebut, melatih dirinya siang dan malam dalam keadaan-keadaan yang terlatih.
Dan juga, Sariputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan demikian: 'Di jalan menuju desa ... apakah didalam pikiran saya terdapat keinginan atau kemelekatan atau ... reaksi indera terhadap bunyi yang dapat didengar oleh telinga ... bau-bauan yang dapat dicium melalui hidung ... rasa yang dapat dirasakan melalui lidah ... sentuhan yang dapat dirasakan oleh tubuh ... keadaan mental yang dapat disadari oleh pikiran?'
[295] Jika, Sariputta, seorang bhikkhu sewaktu merenungkan demikian: 'Di jalan menuju desa ... dalam pikiran saya terdapat keingi¬nan ... atau reaksi indera terhadap bunyi yang didengar melalui telinga ... keadaan mental yang disadari melalui pikiran' - bhikkhu terse¬but, Sariputta, harus berusaha menghilangkan keadaan buruk yang tidak terlatih dari diri mereka sendiri.
Tetapi, jika, Sariputta, seorang bhikkhu ... bhikkhu tersebut, Sariputta, dengan kebahagiaan dan kegembiraan dapat menghindarkan hal tersebut, melatih diri malam dan siang dalam keadaan-keadaan yang terlatih.
Dan juga, Sariputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan demikian: 'Apakah lima rangsangan-rangsangan kesenangan indera telah berhasil kusingkirkan? ... Apakah lima rintangan telah disingkirkan olehku?' Jika Sariputta, seorang bhikhu sewaktu merenungkan mengeta¬hui demikian: 'Lima rangsangan kesenangan indera ... lima rintangan belum berhasil disingkirkan olehku.' ia harus berusaha menying-kirkannya. Tetapi jika sewaktu merenungkan ia mengetahui bahwa mereka telah berhasil disingkirkan, maka, Sariputta, bhikkhu itu dengan kebahagiaan dan kegembiraan dapat menghindarkan hal tersebut, melatih diri siang dan malam dalam keadaan-keadaan yang terlatih.
Dan juga, Sariputta, seorang bhikkhu harus merenungkan demi¬kian: 'Apakah aku sudah mengerti benar lima kelompok kemelekatan?' Jika sewaktu merenungkan ia mengetahui bahwa ia tidak mengerti benar, bhikkhu tersebut, Sariputta, harus berusaha untuk mengerti benar. Tetapi jika, Sariputta, seorang bhikkhu [296] sewaktu merenungkan mengetahui bahwa ia mengerti benar, maka, Sariputta, bhikkhu itu dengan kebaha¬giaan dan kegembiraan dapat menghindarkan hal tersebut, melatih diri siang dan malam dalam keadaan-keadaan yang terlatih.
Dan juga, Sariputta, seorang bhikkhu harus merenungkan demi¬kian: 'Apakah empat kewaspadaan sudah dikembangkan olehku?... Apakah empat usaha yang benar ... Empat dasar kekuatan gaib ... Lima panca indera yang terkendali ... Lima kekuatan ... Tujuh rantai kesadar¬an ... apakah Jalan mulia berunsur delapan telah dikembangkan olehku?' Jika, Sariputta, sewaktu seorang bhikkhu merenungkan ia mengetahui sehubungan dengan yang mana yang belum dikembangkan olehnya, ia harus berusaha mengembangkannya. Tetapi jika, Sariputta, sewaktu seorang bhikkhu merenungkan ia mengetahui bahwa masing-masing hal tersebut sudah dikembangkan olehnya ... [297] maka, Sariputta, bhikkhu tersebut dengan kebahagiaan dan kegembiraan dapat menghindarkan hal-hal tersebut, melatih diri siang dan malam dalam keadaan yang terlatih.
(Sama halnya dengan ketenangan dan pandangan terang)
Dan juga, Sariputta, seorang bhikkhu harus merenungkan demi¬kian: 'Apakah pengetahuan dan kebebasan mutlak (Nibbana) sudah dire¬alisasikan dalam diri saya?' Tetapi jika, sariputta, seorang bhikkhu sewaktu merenungkan mengetahui: 'Pengetahuan dan kebebasan mutlak (Nibbana) belum direalisasikan dalam diri saya,' bhikkhu itu, Sariputta, harus berusaha untuk meralisasikan pengetahuan dan kebebasan mutlak dalam dirinya. Tetapi jika, Sariputta, bhikkhu itu sewaktu merenungkan mengetahui demikian: 'Pengetahuan dan kebebasan mutlak telah direali¬sasikan dalam diri saya' bhikkhu itu, Sariputta, dengan kebahagiaan dan kegembiraan dapat menghindarkan hal-hal tersebut, melatih diri siang dan malam dalam keadaan-keadaan yang terlatih.
Sariputta, semua petapa dan brahmana jauh di masa lampau yang telah menyucikan diri mereka melakukan pindapata hanya setelah mere¬nungkan berulang-ulang dengan cara ini. Dan, Sariputta, semua petapa dan brahmana jauh di masa mendatang yang akan menyucikan diri mereka melakukan pindapata hanya setelah merenungkan berulang-ulang dengan cara ini. Dan Sariputta, semua petapa dan brahmana pada masa sekarang yang telah mencapai kesucian melakukan pindapata hanya setelah merenungkan berulang-ulang dengan cara ini. Karenanya, Sari-putta, inilah yang harus engkau latih bagi dirimu sendiri: 'Aku akan menyucikan diri sendiri untuk melakukan pindapata setelah merenungkan berulang-ulang.' Inilah bagaimana anda, Sariputta, harus melatih dirimu sendiri."
Demikianlah apa yang dikatakan Sang Bhagava. Merasa puas, bhante Sariputta berbahagia dengan apa yang Sang Bhagava katakan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar