Selasa, 16 Maret 2010

SANDAKA SUTTA

SANDAKA SUTTA
076

Demikian yang telah saya dengar : Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di dekat Kosambi di Vihara milik Ghosita. Di saat itu juga si pengembara Sandaka sedang berdiam di Gua Pohon Ara bersama-sama dengan sekelompok besar para pengembara, dengan sedikitnya terdiri dari lima ratus pengembara. Kemudian Yang Mulia Ananda muncul dari pengasingan sore harinya, menyapa para Bhikkhu, dengan mengatakan : "Mari, para yang mulia kita akan pergi ke Telaga Devakata untuk melihat-lihat Gua".

Baiklah, yang mulia", para Bhikkhu ini memberi jawaban persetujuan kepada Yang Mulia Ananda. Selanjutnya Yang Mulia Ananda bersama-sama dengan sejumlah banyak Bhikkhu pergi menuju Telaga Devakata. Ketika itu si pengembara Sandaka sedang duduk bersama-sama dengan sekelompok besar para pengembara tersebut berteriak-teriak, bising sekali, memperbincangkan berbagai macam topik tak bermutu, yakni membicarakan Raja-raja, pencuri-pencuri, para menteri agung, angkatan perang, ketakutan-ketakutan, peperangan-peperangan, makanan, minuman, pakaian, ranjang, karangan-bunga, wangi-wangian, sanak-famili, kendaraan-kendaraan, desa-desa, kota-kota pasar, kota-kota, negara, para wanita, para pahlawan, jalan-jalan, sumur-sumur, mereka yang telah meninggal, membicarakan tentang perbedaan, bersepkulasi tentang dunia ini, berspekulasi tentang lautan, [514] membicara¬- kan tentang penjelmaan atau bukan-penjelmaan demikian atau demi¬kian. Si pengembara Sandaka melihat Yang Mulia Ananda datang mendekat; melihatnya, ia meminta perhatian kawan-kawannya, dengan berkata :
"Tuan-tuan yang baik, tolong kurangi kegaduhan ; jangan-lah, Tuan-tuan yang baik menimbulkan kegaduhan ; ini yang sedang menuju kemari adalah seorang siswa pertapa Gotama Pertapa Ananda. Karena sepanjang siswa-siswa pertapa Gotama telah tinggal didekat Kosambi pertapa Ananda berada ditengah-tengah mereka. Para Yang Mulia ini mengharapkan sedikit kegaduhan, mereka terla¬tih untuk tidak gaduh, mereka adalah orang-orang yang memuji keheningan. Jadi ia mungkin mempertimbangkan untuk datang mende¬kat bila ia tahu kalau kita ini adalah kelompok yang tidak gaduh". Maka para pengembara ini diam membisu. Kemudian Yang Mulia Ananda mendekati si pengembara Sandaka. Si pengembara Sandaka berkata demikian kepada Yang Mulia Ananda :

"Silakan Yang Mulia Ananda datang, ada ucapan selamat datang bagi yang dipuji Ananda ; lama sekali Yang Mulia Ananda baru membuat kesempatan ini, maksudnya untuk datang kemari, silakan yang dipuji Ananda duduk, tempat duduk telah disediakan". Maka Yang Mulia Ananda duduk ditempat yang telah disediakan. Dan si pengembara Sandaka, setelah mengambil sebuah tempat duduk pendek, duduk pada jarak yang cukup memberi hormat. Kemudian Yang Mulia Ananda berkata demikian kepada si pengembara Sandaka selagi ia duduk pada jarak yang cukup memberi hormat :
"Apa tujuan perbincangan tadi yang membuat anda berkumpul bersama-sama saat ini disini, Sandaka ? Dan apa perbincangan anda yang terpotong tadi ?.
"Tinggalkanlah perbincangan tadi, Ananda yang baik, untuk apa kami saat ini berkumpul bersama-sama disini. Tidaklah sulit bagi Ananda yang baik untuk mendengarkan perbincangan ini kemud¬ian. Akanlah baik sekali bila saja percakapan dhamma dari guru anda sendiri terlintas dibenak Ananda yang terpuji".
"Kalau begitu, Sandaka, dengarkan, perhatikan dengan seksama dan saya akan berbicara."
" Baiklah, Yang mulia", Sandaka si pengembara menjawab menyetujui Yang Mulia ananda. Yang mulia Ananda berbicara demiki¬an :
"Sandaka, keempat cara kehidupan menempuh-jalan bukan Brahma ini telah ditunjukkan oleh Sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, yang maha sempurna, yang telah mencapai Pencerahan Sempurna; dan empat menempuh-jalan Brahma yang kurang menyenang¬kan telah ditunjukkan dalam mana seorang yang cerdas, tentunya tidak dapat menjalani suatu kehidupan menempuh-jalan Brahma, atau, bila melak-sanakannya, tidak dapat meraih kesuksesan dalam jalan yang benar, dalam dhamma, dalam hal yang terampil".
"Dan apakah, Ananda yang baik, keempat cara kehidupan bukan-Brahma yang telah tunjukkan oleh Sang Bhagava ......... yang telah mencapai Pencerahan Sempurna, dalam mana [515] seseo¬rang yang cerdas tentunya tidak dapat menjalani suatu kehidupan menempuh-jalan Brahma, atau, bila melaksanakannya, tidak dapat meraih kesuksesan di dalam jalan yang benar, didalam dhamma, didalam hal yang terampil ?".
"Tentang hal ini, Sandaka, beberapa guru berkata demikian dan berpandangan begini : "Tiada (pahala) dari pemberian, tiada (pahala) dari pengorbanan, tiada buah atau pemasakan dari perbua¬tan baik atau buruk ; tiadalah dunia ini, tiada suatu dunia (kehidupan) selain dunia ini ; tiada (manfaat dari melayani) Ibu atau Ayah ; tiada makhluk-makhluk yang muncul secara spontan ; tiada para pertapa dan Brahmana di dunia ini yang menjalani kehidupan dengan benar, mengalami kemajuan dengan benar, telah merealisir hal-hal tersebut dengan pengetahuan - adi duniawi mereka sendiri. Manusia ini berasal dari keempat unsur utama sehingga, bilaman ia meninggal, bagian unsur tanah dari tubuhnya kembali serta menyatu lagi kepada bumi, bagian yang cair kepada air, bagian unsur yang panas kepada panas, bagian unsur angin kepada angin dan organ-organ inderanya menyebrang ke atmosfir. Empat orang manusia, dengan tandu jenazah sebagai yang kelima pergi bersama-sama mengusung mayat ; sepanjang kuburan mereka menjadi tahu karakteristiknya Tulang-tulangnya menjadi keabu-abuan. Persembahan-persembahan berakhir sebagai abu. Adalah orang-orang yang dungu yang memperbincangkan tentang persembahan. Adalah sia-sia, bohong, omong kosong bagi mereka yang mengakui mengatakan : Ada. Orang-orang dungu dan bijak terbinasakan serta termusnahkan disaat kehancuran badan jasmaninya ; setelah kema¬tian tidak".
Karenanya, Sandaka, seorang yang cerdas merenungkan demi¬kian : Guru yang berharga ini berkata demikian serta memiliki pandangan begini : "Tiada (pahala) dari pemberian ....... setelah kematian tidak". Bila ini adalah kata-kata yang benar dari guru yang baik ini, maka apa yang telah dilakukan didalam ini adalah tanpa saya melakukannya, apa yang hidup didalam ini adalah tanpa saya hidup didalamnya. Lagi pula kita berdua didalam ini ada pada tingkat yang pasti dalam mencapai ketapaan, meskipun saya tidak mengatakan : "kita berdua akan terbinasakan serta termusnahkan disaat kehancuran jasmani ini ; setelah kematian kita tidak akan mengalaminya". Adalah berlebihan dari guru yang baik ini untuk bertelanjang, gundul, berlatih duduk diatas tumitnya, mencabuti rambut serta jenggotnya, sementara saya hidup dalam sebuah rumah dikelilingi serta disokong oleh anak-anak, bersenang-senang dengan harumnya kayu Cendana Kasi, berdandan dengan karangan bunga, wangi-wangian serta balsam, menikmati kegunaan dari emas dan perak Karena dalam keadaan dimasa yang akan datang aku akan berada pada tingkat yang persis sama dalam menempuh sang-jalan seperti guru yang baik ini. Mengetahui apa, melihat apa, sehingga aku harus menjalani suatu kehidupan menempuh-jalan Brahma, diba¬wah (bimbingan) guru ini ?. Ia, menyadari bahwa hal ini merupakan suatu cara kehidupan menempuh-jalan bukan-Brahma, mengabaikannya tidak tertarik dalam menempuh-jalan Brahma ini.
Inilah, Sandaka, cara kehidupan menempuh-jalan bukan-Brahma yang pertama yang telah ditunjukkan oleh sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, yang sempurna, yang telah mencapai Pen¬cerahan Sempurna, (suatu jalan) dalam mana seorang yang cerdas tentunya tidak dapat [516] menjalani suatu kehidupan menempuh-jalan Brahma atau, bila menjalaninya, tidak dapat meraih kesukse¬san dalam jalan yang benar, dalam dhamma, dalam hal yang teram¬pil.
Dan lagi, Sandaka, sebagian guru disini berkata demikian serta berpandangan begini: "Dari perbuatan, dari melakukan perbuatan (yang lain), dari pemenggalan, dari melakukan pemengga¬lan (yang lain) ............ dari sumber tersebut tiada jasanya, tiada jasa-jasa yang terkumpul. Tiada jasa dari berdana, dari penjinakan, dari pengendalian (diri), dari berbicara-benar, tiada jasa-jasa yang terkumpul". Karenanya, Sandaka, seorang yang cerdas merenungkan demikian : "Guru yang berharga ini berbicara demikian serta berpandangan begini : "Dari perbuatan, dari melak¬ukan perbuatan (yang lain) ......... tiada jasa-jasa yang terkum¬pul". Jika hal ini merupakan kata-kata yang benar dari guru yang baik ini, maka apa yang dilakukan didalam ini adalah tanpa saya yang melakukannya, apa yang hidup didalam ini tanpa saya hidup didalamnya. Dan lagi kita berdua didalam (dhamma) ini berada pada tingkat yang persis sama didalam mencapai ketapaan, meskipun saya tidak mengatakan : "Kejahatan tidak akan dilakukan oleh perbuatan kedua pihak". Adalah berlebihan dari guru yang baik ini ....... Mengetahui apa, melihat apa, sehingga aku harus menjalani suatu kehidupan menempuh-jalan Brahma dibawah (bimbingan) guru ini ?. Ia, menyadari bahwa hal ini suatu cara kehidupan menempuh-jalan bukan Brahma, mengabaikannya tidak tertarik dalam menempuh-jalan Brahma ini.
Ini, Sandaka, merupakan cara kehidupan yang kedua menem¬puh-jalan bukan-Brahma ...... tidak dapat mencapai kesuksesan didalam jalan yang benar, didalam dhamma, didalam hal yang teram¬pil.
Dan lagi, Sandaka, sebagian guru disini berbicara demikian serta berpandangan begini : "Tiada penyebab, tiada alasan atas kekotoran batin makhluk-makhluk ....... [517] ....... mereka mengalami kesenangan dan kesakitan ditengah-tengah enam kelom¬pok".
Karenanya, Sandaka, seorang yang cerdas merenungkan demi¬kian : "Tiada penyebab, tiada alasan atas kekotoran batin makh¬luk-makhluk ........ mereka mengalami kesenangan dan kesakitan di tengah-tengah enam kelompok". Jika hal ini merupakan kata-kata yang benar dari guru yang baik ini, maka apa yang dilakukan didalam ini adalah tanpa saya yang melakukannya apa yang hidup didalam ini tanpa saya hidup didalamnya. Lagi pula kita berdua didalam (dhamma) ini berada pada tingkat yang persis sama didalam mencapai ketapaan, meskipun saya tidak mengatakan : "Kita berdua akan tersucikan tanpa sebab, tanpa alasan". Adalah berlebihan bagi guru yang baik ini ..... Mengetahui apa, melihat apa, se¬hingga saya harus menjalani kehidupan menempuh-jalan Brahma dibawah (bimbingan) guru ini ?". Ia, menyadari bahwa hal ini bukan merupakan suatu cara kehidupan menempuh-jalan bukan Brahma, mengabaikannya tidak tertarik didalamnya menempuh-jalan Brahma ini.
Ini, Sandaka, merupakan cara kehidupan ketiga menempuh-jalan bukan-Brahma ....... tidak dapat meraih kesuksesan didalam jalan yang benar, didalam dhamma, didalam hal yang terampil.
Dan lagi, Sandaka, sebagian guru disini berkata demikian serta berpandangan begini : "Ketujuh kelompok ini tidak dibuat ataupun menyebabkan untuk dibuat, mereka tidak diciptakan ataupun menyebabkan untuk diciptakan, mereka mandul (akan akibat), ber¬diri kokoh laksana sebuah gunung, kokoh laksana sebuah pilar, mereka tidak bergerak atau berubah, atau melukai satu dengan yang lainnya, mereka tidak dapat mempengaruhi kesenangan atau kesaki¬tan atau kesenangan-dan-kesakitan yang satu terhadap yang lain¬nya".
Apakah ketujuh hal itu ?. Tanah, air, panas, angin, kesenangan, kesakitan, prinsip-prinsip kehidupan ……inilah ketujuh hal itu. Ketujuh kelompok ini tidak dibuat ataupun menyebabkan untuk dibuat, mereka tidak diciptakan ...... mereka tidak dapat mempen¬garuhi kesenangan atau kesakitan atau kesenangan-dan-kesakitan yang satu terhadap yang lainnya. Didalam ini tidak terdapat baik pembunuh pun seseorang yang membuat orang lain terbunuh tiada penguping pun seseorang yang membuat orang lain menguping, Tiada yang mengetahuipun seseorang yang membuat orang lain mengetahui. Bahkan seseorang yang memenggal kepala (orang lain) dengan sebi¬lah pedang tajam tidak menghilangkan kehidupan seseorang, karena pedang tersebut hanyalah menembus celah diantara ketujuh kelompok tersebut. Terdapat Satu Juta Empat Ratus Ribu macam-macam kelahi¬ran utama dan Enam Ribu serta Enam Ratus. Terdapat Lima Ratus karma dan lima karma (yang lain) dan tiga karma (yang lain). Terdapat satu karma dan setengah karma. Terdapat enam puluh dua praktek, enam puluh dua sub-devisi (dalam kalpa besar), enam kelas manusia delapan tingkat dalam (kehidupan dari seorang) manusia Empat Ribu Sembilan Ratus cara kehidupan, Empat Ribu Sembilan Ratus pengembara, [518] Empat Ribu Sembilan Ratus kediaman-naga Dua Ribu pengendalian inderi ya, Tiga Ribu Neraka Niraya, Tiga puluh enam tempat dimana debu-debu dikumpulkan, tujuh kelahiran dimana terdapat kesadaran tujuh kelahiran dimana tidak ada kesadaran, tujuh macam hasil dimana terdapat persambungan pada batanganya, tujuh macam dewa, tujuh macam manusia tujuh macam setan, tujuh telaga, tujuh simpul tujuh gunung (yang lebih besar), tujuh ratus gunung (yang lebih kecil), tujuh mimpi (besar), tujuh ratus mimpi (yang lebih kecil). Terdapat 84.000 kalpa besar dalam mana si dungu serta si bijak, ketika mereka telah berjalan serta berputar, akan mengakhiri derita yang amat dalam. Adalah sia-sia mengatakan : "Aku, dengan latihan atau kebiasaan atau kecermatan ini atau menempuh-jalan Brahma akan menyebabkan karma yang belum masak menjadi masak , atau secara bertahap menghabiskan karma yang telah masak. Hal ini tidaklah demikian. Kebahagiaan dan kesakitan adalah terukur (seperti) dalam sebuah gantang ; berputar memiliki batasnya yang tetap". Tiada pengurangan serta pertumbuhan, tiada derajat tinggi ataupun rendahnya Sesungguhnya, seperti sebuah bola benang, bilamana dilempar kebawah membuka dirinya sendiri selagi ia menggelinding demikian pula dengan si dungu dan si bijak akan, ketia mereka berjalan serta berputar, mengakhiri derita yang teramat dalam".

Karenanya, Sandaka, seorang yang cerdas merenungkan demi¬kian : "Guru yang berharga ini yang berkata demikian serta ber¬pandang begini : "Ketujuh kelompok ini ...... akan mengakhiri derita yang amat dalam". Jika hal ini merupakan kata-kata yang benar dari guru yang baik ini, maka apa yang dilakukan didalam ini adalah tanpa saya yang menalukannya, apa yang hidup didalam ini tanpa saya hidup didalamnya. Apa lagi kita berdua berada pada tingkat yang persis sama didalam pencapaian ketapaan, meskipun aku tidak mengatakan : "Ketika kita berdua telah berjalan serta berputar kita akan mengakhiri derita yang teramat dalam". Adalah berlebihan bagi guru yang baik ini untuk bertelanjang, gundul .... melihat apa, saya harus menjalani kehidupan menempuh-jalan Brahma di bawah (bimbingan) guru ini ?". Ia, menyadari bahwa hal ini merupakan suatu cara kehidupan menempuh-jalan bukan Brahma, mengabaikannya tidak tertarik didalam menempuh-jalan Brahma ini.
Inilah, Sandaka, keempat cara kehidupan menempuh-jalan bukan-Brahma yang telah ditunjukkan oleh sang Bhagava yang menge¬tahui dan melihat, sempurna yang telah mencapai pencerahan sem¬purna, dan didalam mana yang seorang cerdas sudah tentu tidak dapat menjalani suatu kehidupan menempuh-jalan Brahma, atau bila melaksanakannya, tidak dapat meraih kesuksesan di dalam jalan yang benar, didalam dhamma, didalam hal yang terampil.
"Inilah, Sandaka, keempat cara kehidupan menempuh-jalan bukan-Brahma yang telah ditunjukkan oleh sang Bhagava yang menge¬tahui dan melihat, sempurna yang telah mencapai pencerahan sem¬purna, [519] dan didalam mana yang seorang cerdas sudah tentu tidak dapat menjalani suatu kehidupan menempuh-jalan Brahma, atau bila melaksanakannya, tidak dapat meraih kesuksesan di dalam jalan yang benar, didalam dhamma, didalam hal yang terampil".
"Menakjubkan, Ananda yang baik, menggumkan, Ananda yang baik, bahwa meskipun terdapat keempat cara kehidupan menempuh-jalan bukan-Brahma ini, mereka telah ditunjukkan oleh yang Bhaga¬va yang mengetahui dan melihat, yang sempurna, yang telah menca¬pai pencerahan yang sempurna, sebagaimana halnya didalam mana seorang yang cerdas sudah tentu tidak dapat menjalani kehidupan menempuh-jalan Brahma, atau, jika melaksanakannya tidak dapat meraih kesuksesan didalam jalan yang benar, didalam dhamma, didalam hal yang terampil. Akan tetapi kini, Ananda yang baik, apakah keempat menempuh-jalan Brahma yang kurang menyenangkan ini yang telah ditunjukkan oleh sang Bhagava yang mengetahui dan melihat, yang sempurna, yang telah mencapai pencerahan sempurna, dan didalam mana seorang yang cerdas sudah tentu tidak dapat menjalani kehidupan menempuh-jalan Brahma, atau bila melaksana-kannya tidak akan dapat meraih kesuksesan didalam jalan yang benar, didalam dhamma, didalam hal yang terampil ?".
"Tentang hal ini, Sandaka, sebagian guru, maha-mengetahuii

Seperti pada M. i 92-93,ii.31;A.i.220.
i3ahma itu dan, dengan melaksanakannya, dapat mencapai kesuksesan didalam jalan yang benar, didalam dhamma, didalam hal yang terampil. Dan lagi, Sandaka, seorang Bhikkhu, dengan mele¬nyapkan pikiran untuk berpegang serta pikiran yang tidak berca¬bang ...... memasuki serta berdiam dalam meditasi (jhana) kedua .... ketiga .... meditasi (jhana) keempat. Jika seorang siswa mencapai keadaan luhur semacam itu .... dapat mencapai kesuksesan didalam jalan yang benar, didalam dhamma, didalam hal yang terampil.
Demikianlah dengan pikiran yang tenang (seperti dalam Kandaraka Sutta, M.i. 347-349) ..... ia memahami : kelahiran ter-hancurkan, membawa hingga dekat menempuh-jalan Brahma itu, melak¬ukan apa yang harus dilakukan, tiada lagi untuk menjadi begitu atau begitu. Jika seorang siswa mencapai keadaan luhur semacam itu dibawah (bimbingan) Sang Guru ini, seorang yang cerdas sudah pasti dapat menjalani kehidupan menempuh-jalan Brahma itu dan, dengan melaksanakannya, dapat mencapai kesuksesan didalam jalan yang benar, didalam dhamma, didalam hal yang terampil.
"Akan tetapi, Ananda yang baik, dapatkah bhikkhu itu yang adalah seorang yang telah sempurna, keburukan-keburukan telah dihancurkan, yang telah melaksanakan kehidupan (suci). Telah melakukan apa yang dilakukan, melepaskan sang beban, mencapai tujuannya sendiri, belenggu kelahiran kembali telah dihancurkan seluruhnya, terbebaskan oleh pengetahuan yang mendalam yang sempurna …. [523] dapatkah ia menikmati kesenangan-kesenangan duniawi ?"
Bhikkhu apapun juga, Sandaka, yang adalah seorang yang sempurna..... terbebaskan oleh pengetahuan mendalam yang sem¬purna, ia tidak bisa menjadi seseorang yang melanggar lima sila. Seorang bhikkhu dengan keburukan-keburukannya telah dihan¬curkan tidak bisa menjadi seseorang yang dengan sengaja menghi¬langkan kehidupan suatu makhluk ..... mengambil hal yang belum diberikan, seperti yang dilakukan dalam pencurian ..... melakukan hubungan sex sekehendak hatinya ..... mengucapkan kebohongan yang disengaja ..... menikmati kesenangan inderawi dalam hal-hal yang disimpan (ditimbun) seperti yang dilakukan sebelumnya ketika masih dalam kehidupan berumah tangga. Sandaka, Bhikkhu apapun juga yang adalah seorang yang sempurna ..... terbebaskan oleh pengetuhan mendalam yang sempurna ia tidak bisa menjadi seseorang yang melanggar kelima sila ini".
"Akan tetapi, Ananda yang baik, jika seorang bhikkhu adalah seorang yang telah sempurna ..... terbebaskan oleh penge¬tahuan yang mendalam dan sempurna, maka, apakah dia sedang berjalan atau berdiri atau tertidur ataupun terjaga apakah pengetahuan-serta-penglihatan tetap dan terus-menerus hadir sehingga keburukan-keburukannya terhancurkan ?"
"Baiklah kalau begitu, Sandaka, saya akan memberimu sebuah perumpamaan, karena dengan suatu perumpamaan banyak orang cerdas disini memahami maksud dari apa yang telah dikatakan. Sandaka, hal ini seperti seseorang yang kedua tangan serta kakinya telah dipenggal ; apakah ia sedang berjalan atau berdiri atau tertidur ataupun terjaga, tetap dan terus menerus kedua tangan serta kakinya seolah-olah terpenggal ; dan juga selagi ia merenungkan hal ini, ia mengetahui "Kedua tangan serta kakiku telah terpeng¬gal !". Demikian juga, Sandaka, Bhikkhu apapun yang telah sempur-na, yang keburukan-keburukan telah dihancurkan, yang telah menjalani kehidupan (suci), melakukan apa yang harus dilakukan, melepaskan beban, mencapai tujuannya sendiri, belenggu-belenggu kelahiran kembali telah dihancurkan seluruhnya terbebaskan oleh pengetahuan mendalam yang sempurna, baginya apakah ia sedang berjalan atau berdiri atau tertidur ataupun terjaga, keburukan-keburukan seolah-olah terhancurkan ; dan juga selagi ia merenung¬kan hal ini, ia mengetahui : "Keburukan-Keburukan ku terhancur¬kan".
"Berapa banyak pemimpin-pemimpin besar, Ananda yang baik, yang ada didalam dhamma serta disiplin ini ?".
"Bukan hanya seratus , atau dua, tiga, empat, atau lima ratus, akan tetapi jauh lebih banyak lagi mereka yang merupakan pemimpin-pemimpin besar didalam dhamma serta disiplin ini".
"Mennakjubkan, Ananda yang baik, mengagumkan, Ananda yang baik ; tiada bisa terdapat pemujian akan dhamma mereka sendiri ataupun penghinaan terhadap dhamma orang-orang lainnya, akan tetapi keduanya adalah ajaran dhamma dalam tingkatannya (yang menyeluruh) dan begitu banyak [524] pemimpin-pemimpin besar yang dapat dilihat. Sebaliknya, para Pertapa Telanjang ini adalah putera-putera dari seorang ibu yang tanpa keturunan, mereka seka¬ligus memuji diri mereka sendiri serta menghina orang-orang lain, dan mereka menunjukkan hanya tiga pemimpin besar, yakni Nanda Vaccha, Kisa Sankicca dan Makkhali Gosala".
Kemudian si pengembara Sandaka berbicara kepada kelompok¬nya sendiri, dengan mengatakan :
"Marilah tuan-tuan yang baik berangkat; kehidupan menem¬puh-jalan Brahma ada dibawah (bimbingan) pertapa Gotama, meskipun tidaklah mudah bagi kita sekarang untuk meninggalkan keuntungan-keuntungan, penghormatan-penghormatan, kemashyuran".
Dengan cara demikianlah si pengembara Sandaka memasukkan kelompoknya sendiri ke dalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar