Selasa, 16 Maret 2010

CHANNOVĀDASUTTA

CHANNOVĀDASUTTA
(144 )

Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika 1) Sang Bhagava sedang menetap di dekat Rajagaha di Hutan Bambu tempat tupai mencari makan.
Pada saat itu Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Cunda dan Y.A. Channa berada di Puncak Gunung Nasar. Waktu itu Y.A. Channa sedang sakit keras. Dan Y.A. Sariputta, setelah selesai bermeditasi sampai sore, mendekati Y.A. Maha Cunda. Setelah mendekat, dia berkata kepada Y.A. Maha Cunda: "Mari kita pergi, Yang Mulia Cunda, menengok Y.A. Channa untuk menanyakan keadaannya." 2)
"Ya, Yang Mulia," Y.A. Maha Cunda menyetujui Y.A. Sariputta. Kemudian Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Cunda menengok Y.A. Channa. Sesampainya mereka, mereka bertukar salam dengan Y.A. Channa; setelah saling bertegur sapa dengan sopan dan bersaha¬bat, mereka duduk dalam jarak yang pantas. Kemudian Y.A. Sariputta berkata kepada Y.A. Channa:"Kuharap anda, Yang Mulia Channa, semakin membaik, kuharap anda dapat bertahan, kuharap rasa sakit-nya semakin berkurang bukan bertambah, bukankah demikian adanya?"
"Aku tidak semakin membaik, Yang Mulia Sariputta, aku semakin lemah, rasa sakitnya 3) semakin bertambah bukan berkurang. Aku akan menggunakan pisau (terhadap diriku sendiri), aku tidak ingin hidup." 4)
"Jangan biarkan Y.A. Channa menggunakan pisau (terhadap dirinya sendiri). Y.A. Channa harus tetap hidup. Kami ingin agar Y.A. Channa tetap hidup. Jika Y.A. Channa tidak punya makanan, aku akan mencari makanan untuk Y.A. Channa. Jika Y.A. Channa tidak punya obat-obatan, aku akan mencari obat-obatan untuk Y.A. Channa. Jika Y.A. Channa tidak punya pelayan yang baik, aku akan melayani Y.A. Channa. Jangan biarkan Y.A. Channa menggunakan pisau (terhadap dirinya sendiri). Y.A. Channa harus tetap hidup. Kami ingin agar Y.A. Channa tetap hidup."
"Yang Mulia Sariputta, aku bukan tidak punya makanan, aku bukan tidak punya obat-obatan, bukan pula tidak punya pelayan. Lagipula, Yang Mulia Sariputta, telah lama aku melayani 5) Sang Guru dengan perasaan puas 6) (terhadapnya), bukan dengan perasaan kurang puas 6) (terhadapnya). Karena demikianlah, Yang Mulia Sari¬putta, sepatutnya seorang murid, bahwa dia seharusnya melayani Sang Guru dengan perasaan puas (terhadapnya), bukan dengan perasaan kurang puas (terhadapnya). 'Bhikkhu Channa akan menggunakan pisau (terhadap dirinya sendiri) tanpa menimbulkan celaan'7) - ingat¬lah hal ini, Yang Mulia Sariputta."
"Kami ingin bertanya kepada Y.A. Channa tentang sesuatu hal jika Y.A. Channa memberikan kami kesempatan untuk menanya¬kannya."8)
"Bertanyalah, Yang Mulia Sariputta, agar kami mengetahui."
"Yang Mulia Channa, apakah anda menganggap mata, kesadaran penglihatan, hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran penglihatan sebagai 'Ini milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku'? Yang Mulia Channa, apakah anda menganggap telinga, kesadaran pendengaran ... hidung, kesadaran penciuman ... lidah, kesadaran rasa ... tubuh, kesadaran sentuhan ... pikiran, kesadaran mental, hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran mental sebagai 'Ini milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku'?"
"Yang Mulia Sariputta, aku menganggap mata, kesadaran penglihatan, hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran penglihatan ... pikiran, kesadaran mental, hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran pikiran sebagai 'Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.'"
"Yang Mulia Channa, apa yang anda lihat, apa yang anda mengerti ada pada mata, pada kesadaran penglihatan, pada hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran penglihatan ... pada pikiran, pada kesadaran mental, pada hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran pikiran dimana anda menganggap mata, kesadaran penglihatan, hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran penglihatan ... pikiran, kesada¬ran mental, hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran pikiran sebagai 'Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku'?"
"Ini karena aku melihat ketidakkekalan 9), mengerti bahwa ada keti¬dakkekalan pada mata, Yang Mulia Sariputta, pada kesadaran pengli¬hatan, pada hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran penglihatan ...ini karena aku melihat ketidakkekalan, mengerti bahwa ada ketidakkekalan pada pikiran, Yang Mulia Sariputta, pada kesada¬ran mental, pada hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran mental, sehingga aku, Yang Mulia Sariputta, menganggap mata, kesadaran penglihatan, hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran penglihatan ... pikiran, kesadaran mental, [266] hal-hal yang dapat dicerap oleh kesadaran pikiran sebagai 'Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.'"
Setelah hal ini dikatakan, Y.A. Maha Cunda berkata demiki¬an kepada Y.A. Channa : 10)
"Maka, Yang Mulia Channa, ajaran Sang Bhagava ini harus selalu diperhatikan: 'Pada 11) dia yang terikat ada keraguan; pada dia yang tidak terikat tidak ada keraguan; bila tidak ada keraguan tidak ada perasaan 12); bila tidak ada perasaan tidak ada nafsu keinginan 13); bila tidak ada nafsu keinginan 14), tidak ada datang dan pergi 15); bila tidak ada datang dan pergi, tidak ada musnah dan menjadi; bila tidak ada musnah dan menjadi, tidak ada 'di sini' atau 'di sana' maupun 'di antara keduanya.' Inilah akhir dari penderitaan."
Kemudian Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Cunda, setelah memberi nasihat kepada Y.A. Channa, bangkit dari tempat duduk mereka dan meninggalkan tempat itu. Dan tidak lama setelah keper¬gian mereka, Y.A. Channa menggunakan pisau (terhadap dirinya sendiri). 16) Kemudian Y.A. Sariputta menemui Sang Bhagava; setelah memberi salam kepada Sang Bhagava, ia duduk pada jarak yang pantas. Setelah ia duduk, Y.A. Sariputta berkata kepada Sang Bhagava: "Yang Mulia, sebuah pisau telah digunakan Y.A. Channa terhadap dirinya sendiri. Apakah yang akan terjadi padanya?"
"Bukankah berhadap-hadapan denganmu, Sariputta, bhikkhu Channa menyatakan ketanpacelaannya?" 17)
"Adalah, Yang Mulia, sebuah desa suku Vajji bernama Pubbajira. 18) Di sana ada keluarga-keluarga sahabat Y.A. Channa, keluarga-keluarga yang menyokongnya, 19) keluarga-keluarga untuk dikunjungi." 20)
"Benar, Sariputta, keluarga-keluarga tersebut adalah sahabat bhikkhu Channa, keluarga-keluarga yang menyokongnya, keluarga-keluarga untuk dikunjungi. Sejauh menyangkut hal ini, Sariputta, aku tidak mengatakan ia tercela. 21) Tetapi barangsiapa, Sariputta, mele¬takkan tubuh ini dan menggenggam tubuh lain, terhadapnya aku mengatakan ia patut dicela. 22) Bhikkhu Channa tidak melakukan hal ini, 23) bhikkhu Channa menggunakan pisau (terhadap dirinya sendiri) tanpa menimbulkan cela."
Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagava. Y.A. Sariputta bersukacita dengan perkataanNya.

-----------------------------------------------------------------
1) Episode ini juga terdapat pada S.iv.55 ff.
2) MA.v.82 menyebutkan dia berkata demikian karena memperhatikan orang sakit dipuji oleh Sang Bhagava (Vin.i.302).
3) Seperti pada M.iii.259, di atas, p.310.
4) MA.v.82 menyebutkan karena dia tidak dapat menahan rasa sakit yang amat sangat dan berpikir untuk menggunakan pisau (untuk menikam dirinya sendiri atau menggorok lehernya?), dia adalah orang biasa, puthujjana.
5) paricinna, seperti pada M.i.497 M.L.S.ii.175).
6) manapena ... no amanapena. Menurut Comys. (mis AA.iii.287, SA i.78) berasal dari appeti, mengalir ke dalam, atau appayati(F 1), menjadikan penuh, memuaskan.
7) anupavajjam ... sattham aharissati, secara harfiah dia akan menggunakan pisau yang bersih tak tercela/ternoda, dalam hal karma. Menurut MA.v.82 jasanya adalah anupapattika, tak terlahir kembali, appati¬sandhika, tak terhubung kembali (dalam hal kesadaran). SA.ii.371 tertulis anupavattika, tak bergulir kembali (dalam kelahiran-kelahiran baru).
8) Seperti pada M.iii.15.
9) nirodha, dijelaskan dalam MA.v.82 = SA.ii.372 sebagai khayavayam, kehancuran dan pelemahan.
10) SA.ii.372 menyebutkan bahwa Sariputta, mengetahui Channa berada dalam tingkat puthujjana, berdiam diri dan tidak berkata " Anda adalah orang biasa" maupun "Anda tidak memiliki kecenderungan untuk merusak." Cunda berkata demikian untuk menguji Channa.
11) Tulisan ini terulang pada Ud.81, Ud A.398, Netti,65; cf. juga S.ii.67.
12) Pada tubuh dan pikiran, dan dalam hubungan dengan rintangan-rintangannya, MA.v.83.
13) nati, seperti pada M.i.115. MA.v.83, SA.ii.372 menyebutkan tanha.
14) Yaitu untuk menjadi, MA.v.82 = SA.ii.372.
15) agatigati, beberapa vv. ll. memberikan agatigati. Comys. menyebut¬kan "apa yang disebut 'datang', agati, karena terhubung kembali, apa yang disebut 'pergi', gati, karena kematian/musnah, tidak demikian adanya." Cf. agati gati cuti upapatti pada D.i.162, dsb.
16) Dia memotong tenggorokannya, tetapi pada saat itu menjadi takut akan kematian. Mengetahui bahwa dia adalah seorang puthujjana, dia segera menggunakan pengertian dan, memahami samkhara, mencapai arahat dan nibbana akhir. Lihat K.S.iv.33, n. 1.
17) anupavajjata.
18) S.iv.59 tertulis Pubbavijjhana, v.l. Pubbavicira.
19) suhajjakulani. Suhajja kelihatannya berasal dari Sansekerta suhyati, memuaskan, menyenangkan; sukacita; mendukung, menyokong.
20) upavajjakulani. Comys. menjelaskan sebagai keluarga yang ditengok atau dikunjungi, upasamkamitabbakulani. Menurut C.P.D., s.v. anupa¬vajja, adalah Sariputta yang keliru mengira upavajja sebagai upasam¬kamitabba. Dia ingin tahu apakah, MA. v.83, Channa dapat mencapai nibbana akhir dalam ajaran Sang Bhagava karena dia memiliki umat yang menyokongnya. Tetapi Sang Bhagava mengatakan bahwa Channa tidak tinggal bersama mereka dalam satu kelompok (hal yang tidak diperbolehkan bagi bhikkhu). Maka tidak bisa dipersalahkan.
21) sa-upavajja.
22) sa-upavajja.
23) tam Channassa bhikkhuno n'atthi, secara harfiah "tidak demikian halnya dengan bhikkhu Channa."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar