KANDARAKA SUTTA
KANDARAKA
( 51 )
Kata Pengantar
Walaupun Sutta ini dinamai kandaraka, pribadi yang paling menarik dalam sutta ini adalah Pessa, anak pengendara gajah, yang mahir mempraktikkan Dham¬ma. Bila Buddha menyebut empat dasar kesadaran, dia dengan cepat tertarik karena inilah apa yang dia lakukan pada hari-hari Uposatha (hari-hari bulan baru dan penuh). Dan di banyak tahu mengenai gajah-gajah dia buat suatu tanda yang besar : "Karena umat manusia kacau sedangkan hewan cukup sederhana. Hanya melalui praktik kesadaran berdasarkan ajaran suci kekacauan itu dapat diurai¬kan". Namun, ajaran mengenai kesadaran tidak diteruskan lebih lanjut di sini (lihat Sutta 10, 119) kecuali empat jenis manusia yang disebutkan oleh Sang Buddha : Mereka yang senang menganiaya diri sendiri, menganiaya makhluk lain¬nya, menganiaya diri sendiri dan makhluk lainnya dan mereka yang tidak menga¬niaya diri sendiri maupun makhluk lain. Contoh-contoh yang diberikan pada yang pertama (lihat Sutta 12 untuk rinciannya), tidak begitu dikenal dalam kultur Barat sekarang walaupun di sana dulunya ada banyak orang-orang "suci" Katholik dan Orthodoks yang menyiksa diri mereka. Hal ini tidak mencolok mata dalam masyarakat moderen yang hedonistik (senang kebendaan). Kecenderungan untuk menyiksa diri masih ada di sana, sebagai rasa bersalah dan penyesalan - kea¬daan mental yang tidak sehat, menurut Sang Buddha. Mereka yang senang menga¬niaya makhluk lainnya, sebaliknya, mudah sekali ditemukan dalam masyarakat kita yang kelihatannya meninggalkan kasus ekstrim ini, seperti di masa lampau yang menghasilkan penganiayaan diri yang sangat ekstrim. Seandainya kita mengevaluasi yang mana yang lebih buruk, yang disebutkan lebih dahulu hanya melukai diri mereka sendiri sedangkan yang disebutkan kemudian menyebabkan luka bagi banyak makhluk - dan bagi diri mereka sendiri karena karma buruk mereka. Contoh yang diberikan mengenai orang yang senang menganiaya dirinya sendiri dan makhluk lainnya juga terasa asing bagi kebudayaan kita - mungkin karikatur upacara kerajaan kuno Aria yang dilakukan oleh para penganut Brahma. Jenia manusia keempat, yang Pessa setujui, sebagai semuanya manusia yang baik, juga jarang ada dalam dunia kita dewasa ini. Bahkan, "orang yang tidak menga-niaya diri sendiri .... Dan tidak menganiaya makhluk lainnya" belum ada dalam dunia ini - Para Arahat masih dapat ditemukan. Ajaran Sang Buddha masih ada.
Sutta ( 51 )
1. Demikianlah yang saya dengar :
Pada waktu Sang Buddha yang sedang tinggal di Campa di tepi Danau Gang¬gara bersama dengan sejumlah besar bhikkhu Sangha. Kemudian Pessa, anak pen¬gendara gajah. dan Kandaraka si penggembara pergi menemui Sang Buddha, dan Pessa setelah memberi hormat pada Beliau, duduk di satu sisi, sedangkan Kanda¬raka mengganti memberi hormat pada Sang Buddha, dan pada saat pembicaraan yang penuh sopan santun dan bersahabat selesai dia berdiri di satu sisi. Ketika dia telah melakukan hal demikian dia melihat ketenangan para bhikkhu Sangha, dan dia berkata pada Sang Buddha :
2. "Ajaib sekali, Buddha Gotama, indah sekali, betapa bhikkhu Sangha yang telah dibimbing untuk melatih jalan yang benar oleh Buddha Gotama. Bahkan para Bhikkhu yang diberkahi, Arahat dan telah mencapai pencerahan sempurna, yang berada di masa lampau, banyak melakukan bimbingan pada bhikkhu Sangha untuk mempraktikkan jalan yang benar seperti yang dilakukan oleh Buddha Gotama. Bahkan yang diberkahi, para Arahat dan yang mencapai pencerahan sempurna di masa yang akan datang, hanya banyak melakukan bimbingan para bhikkhu Sangha untuk mempraktikkan jalan yang benar seperti yang dilakukan oleh Sang Buddha sekarang ini.
3. "Begitulah, Kandaraka, begitulah. Bahkan mereka yang diberkahi, Arahat dan yang mencapai pencerahan sempurna, yang berada di masa lampau, banyak melaku¬kan bimbingan bhikkhu Sangha untuk mempraktikkan jalan yang benar seperti yang dilakukan saya sekarang ini. Bahkan mereka yang diberkahi, Arahat dan yang mencapai pencerahan sempurna, yang berada di masa yang akan datang, hanya banyak melakukan bimbingan bhikkhu Sangha untuk mempraktikkan jalan yang benar seperti yang dilakukan saya sekarang ini.
"Kandaraka, dalam Sangha ini ada para bhikkhu yang menjadi Arahat bersa¬ma dengan tanpa noda, yang menjalani kehidupan ini, melakukan apa yang harus dilakukan, membuang beban, mencapai tujuan yang tertinggi, menghancurkan belenggu manusia, yang melalui pengetahuan yang besar, sehingga bebas dari keduniawian.
"Dalam Sangha ini ada yang terlatih tinggi dalam kebajikan terus mener¬us, hidup dalam kebajikan yang terus menerus, kebijaksanaan yang terus mener¬us. Mereka berdiam dengan pikiran yang terlatih baik dalam empat dasar kesada¬ran. Disini, Kandaraka, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan dhamma sebagai dhamma, sangat rajin, penuh kesadaran dan waspada, telah membuang ketamakan dan kedukaan untuk dunia.
4. Ketika hal ini dikatakan, Pessa, anak pengendara gajah, berkata : "Bagus sekali, tuan yang mulia, indah sekali betapa baiknya empat dasar kesadaran telah diketahui oleh Sang Buddha untuk kesucian para manusia, untuk mengatasi kesedihan dan keluhan, untuk menghilangkan rasa sakit dan kesedihan, untuk mencapai jalan yang benar, untuk mencapai Nibbana. Yang Mulia, dari waktu ke waktu, kami umat awam (para upasaka dan upasika) yang berpakaian putih juga berdiam dengan pikiran yang terlatih dengan baik pada empat dasar kesadaraan. Disini, Yang Mulia, kami berdiam dengan merenungkan tubuh sebagai tubuh .... Perasaan sebagai perasaan .... Pikiran sebagai pikiran .... Dhamma sebagai dhamma, sangat rajin, penuh kesadaran dan waspada, telah membuang ketamakan dan kesedihan dunia. Bagus sekali, Yang Mulia, indah sekali, betapa di tengah-tengah keruwetan manusia, di tengah-tengah perbuatan jahat manusia, di tengah-tengah muslihat manusia, Sang Buddha tahu apa saja kesejahteraan manusia dan apa saja yang bukan kesejahteraan manusia. Karena umat manusia merupakan sumber keruwetan sedangkan hewan sangat sederhana. Tuan Yang Mulia, Saya dapat naik gajah untuk dilatih; dalam waktu selingan yang singkat seperti membuat suatu perjalanan (dari sisi menuju ke gerbang kota) dan kembali ke Campa, setiap jenis kecurangan dan bermuka dua, ketidakjujuran dan penipuan akan dinyatakan (dalam gajah sebagai manusia). Sedangkan untuk kita dengan satu cara manusia menjalankan tugas dengan tubuhnya sebagai para budak, pesuruh atau pembantu, dengan kata lain (mereka menjalankan tugas) dalam bicara dan pikiran mereka juga demikian. Bagus sekali, Yang Mulia, indah sekali betapa di tengah-tengah keruwetan manusia .... Sang Buddha tahu apa saja kesejahteraan manusia. Karena umat manusia adalah sumber keruwetan sedangkan hewan sangat sederhana.
5. "Begitulah, Pessa, begitulah. Umat manusia adalah sumber keruwetan sedang¬kan hewan sangat sederhana.
"Pessa, ada empat jenis orang yang dapat ditemukan berada dalam dunia ini. Empat macam orang apakah itu ?
Pertama jenis orang yang menganiaya dirinya, yang senang menganiaya dirinya sendiri.
Kedua jenis orang yang menganiaya makhluk lain, yang senang menganiaya makhluk lainnya.
Ketiga jenis orang yang menganiaya dirinya, yang senang menganiaya makhluk lainnya.
Keempat jenis orang yang tidak menganiaya dirinya, yang tidak suka menganiaya makhluk lainnya; karena dia tidak menganiaya dirinya dan juga tidak menganiaya makhluk lainnya berada di dunia dan sekarang tidak panas, sudah padam, dingin, dia berdiam dengan mengalami kebahagiaan sebagai orang yang telah menjadi Arahat dalam dirinya.
"Yang manakah dari empat jenis manusia yang memerintah dalam pikiran anda, Pessa ?"
"Tiga yang pertama tidak memerintah dalam pikiran saya, Yang Mulia, tapi yang terakhir berada dalam diri saya."
6. "Tetapi, Pessa, mengapa tiga jenis manusia yang pertama itu tidak memerin¬tah (berada) dalam pikiran anda ?"
"Yang Mulia, jenis manusia yang menganiaya dirinya, yang senang menga¬niaya dirinya sendiri, menyiksa dan menganiaya dirinya sendiri yang masih ingin kenikmatan dan takut kesakitan; itulah sebabnya mengapa jenis orang ini tidak memerintah dalam pikiran saya. Dan jenis orang yang menyiksa makhluk lainnya, yang senang menganiaya makhluk lainnya, menyiksa dan menganiaya makh¬luk lainnya yang masih senang dengan kenikmatan dan takut kesakitan; itulah sebabnya mengapa jenis manusia ini tidak memerintah dalam pikiran saya. Dan jenis orang yang menyiksa dirinya, senang dengan penyiksaan dan penganiayaan makhluk lainnya, yang senang dengan menyiksa dan menganiaya dirinya dan makh¬luk lainnya, mereka berdua senang dengan kenikmatan dan takut kesakitan; itulah sebabnya jenis manusia ini tidak memerintah dalam pikiraan saya. Tetapi jenis manusia yang tidak menyiksa dirinya, tidak suka meyiksa, dan tidak menganiaya makhluk lainnya, tidak suka dengan penyiksaan makhluk lainnya, karena dia tidak menyiksa dirinya dan juga tidak menganiaya makhluk lainnya, dia berada dalam dunia ini dan sekarang tidak panas, sudah padam, dingin, dan telah menjadi Arahat dalam dirinya dia berdiam dengan menikmati kebahagiaan. Itulah sebabnya mengapa jenis manusia ini memerintah dalam pikiran saya. Dan sekarang, Yang Mulia, kita berpisah; kita masing-masing sibuk dan masih banyak yang harus kita lakukan."
"Sekaranglah waktunya, Pessa, lakukanlah yang anda rasa cocok."
Kemudian Pessa, anak pengendara gajah, yang dua puas dan bahagia dengan nasehat Sang Buddha, bangkit dari tempat duduknya, dan setelah memberi hormat kepada Sang Buddha, Pessa berpisah dengan Sang Buddha yang berada di sebelah kanan.
7. Setelah Pessa pergi tidak lama, Sang Buddha menyampaikan pada para bhikkhu sebagai berikut; "Para bhikkhu, Pessa, si anak pengendara gajah, adalah seo¬rang yang bijaksana, dia mempunyai pengertian yang sangat besar. Bila dia telah duduk sebentar lagi sampai saya menjelaskannya dengan sangat rinci mengenai empat jenis manusia dia akan telah mendapat manfaat yang sangat besar. Bahkan dia sudah mendapatkan manfaat yang sangat besar sebagai mana adanya."
"Inilah waktunya, Sang Buddha, inilah waktunya, Yang Mulia, untuk Sang Buddha menjelaskan dengan rinci empat jenis manusia. Setelah mendengar kotbah tentang empat jenis manusia dari Sang Buddha, para bhikkhu akan menyimpannya dalam pikiran mereka masing-masing."
"Kemudian, para bhikkhu, dengar dan perhatikan dengan baik-baik apa yang akan saya katakan."
"Begitulah, Yang Mulia," jawab para bhikkhu. Sang Buddha berkata sebagai berikut :
8. "Para bhikkhu, jenis manusia apakah yang menyiksa dirinya, yang senang menganiaya dirinya ? Di sini seorang manusia yang telanjang, menolak adat, menjilat tangannya, tidak datang bila ditanya, tidak berhenti bila ditanya; dia tidak menerima apa-apa dari luar dari sebuah pot, dari luar sebuah mang¬kok, melewati ambang pintu, melewati tongkat, melewati sebuah alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama-sama, dari seorang wanita yang bersa¬ma anaknya, dari seorang wanita yang sedang menyususi anaknya, dari (tempat) seorang wanita yang sedang berbaring, dari tempat makanan yang diiklankan untuk disalurkan, dari tempat seekor anjing sedang menunggu, dari tempat lalat mendengaung; dia tidak menerima daging atau ikan, dia tidak minum minuman keras, anggur atau minuman yang memabukkan; dia tetap ke satu rumah, untuk sesuap makanan; dia tetap ke dua rumah, untuk dua suap makanan .... Ia tetap ke tujuh rumah, untuk tujuh suap makanan. Dia hidup dengan satu cawan, dengan dua cawan .... Dengan tujuh cawan, sehari; dia mengambil makanan sehari seka¬li, dua hari sekali .... Tujuh hari sekali, dan begitulah sampai empat belas hari sekali. Dia tetap mengikuti praktik mengambil makanan pada saat istira¬hat. Dia seorang pemakan sayur-sayuran, atau padi-padian, atau padi liar, atau dedak, atau lumut, atau dedak padi, atau ampas, atau tepung sesamun, atau rumput, atau pupuk sapi; dia hidup dengan akar hutan dan dengan buah-buahan sebagai sumber rezeki pengisi perut. Dia berpakaian dengan rami, dengan pakai¬an yang bercampur rami, dengan kain kafan, dengan kain compang-camping yang sudah tak terpakai, dengan kulit pohon, dengan kulit rusa, dengan barang tenunan rumput kusa, dengan barang tenunan kulit pohon, dengan barang tenunan kulit kayu, dengan wol rambut kepala, dengan wol hewan, dengan sayap burung hantu. Dia yang mencukur rambut dan jenggotnya, mengikuti praktek mencukur rambut dan jenggotnya. Dia yang berdiri terus menerus, menolak tempat duduk. Dia yang jongkok terus menerus, setia untuk tetap berposisi jongkok. Dia merupakan seorang yang menggunakan matras yang berpaku besar; dia membuat matras berpaku besar sebagai tempat tidurnya. Dia tetap mengikuti praktik mandi dalam air untuk waktu yang ketiga kalinya di malam hari. Nyatanya dia tetap mengikuti praktik penyiksaan dan penganiayaan tubuh dalam aspek utama¬nya. Inilah manusia yang disebut penyiksa diri, yang senang dengan penyiksaan diri.
9. Apa jenis manusia yang menyiksa makhluk lainnya, yang senang dengan penga¬niayaan makhluk lainnya ? Di sini ada manusia yang merupakan penjagal domba, penjagal babi, penjagal unggas, pemasang perangkap binatang buas, seorang pemburu, seorang penangkap ikan, pelaksana hukuman untuk narapidana, seorang penjaga penjara, atau mengikuti pekerjaan berdarah lainnya. Inilah yang dise¬but manusia yang menyiksa makhluk lainnya, yang senang dengan penganiayaan makhluk lainnya.
10. Apa jenis manusia yang menyiksa dirinya, yang senang dengan penyiksaan diri sendiri, dan menyiksa makhluk lainnya ? Di sini seseorang yang merupakan prajurit yang mulia yang memberi perminyakan suci, raja, atau hartawan besar. Dia mempunyai kuil suci yang baru yang dibuat untuk kota bagian timur, dan telah mencukur rambut dan jenggotnya, berpakaian dengan kulit yang kasar dan meminyaki tubuhnya dengan susu mentega dan minyak, mencakar punggungnya dengan tanduk rusa, dia masuk ke kuil pengorbanan bersama dengan ratu dan pendeta terhormat dari kasta brahmana. Di sana dia berbaring di atas tanah kosong yang berumput di atasnya. Raja menggunakan susu yang ada dalam puting susu sapi bersama anak sapi dari warna yang sama sedangkan ratu menggunakan susu yang berada dalam puting susu kedua, dan pendeta terhormat brahmana ini menggunakan susu yang berada dalam puting susu yang ketiga, dan susu yang berada dalam puting susu yang keempat mereka tuang ke dalam api : anak sapi menggunakan susu yang tersisa. Dia berkata demikian : "Biarkan sekian banyak sapi jantan disembelih untuk pengorbanan, biarkan sekian banyak pohon ditebang untuk tempat pengorbanan, biarkan sekian banyak rumput dipotong untuk rumput pengor¬banan." Dan kemudian para budaknya dan pesuruh dan pelayannya membuat persia¬pan dengan wajah yang menyedihkan dan menangis, mereka yang didorong oleh ancaman hukuman dan oleh rasa takut. Inilah yang disebut jenis manusia yang menyiksa diri sendiri, yang senang dengan penganiayaan diri, dan penyiksaan makhluk lainnya, yang senang dengan penganiayaan makhluk lainnya.
11. "Apa jenis manusia yang tidak menyiksa dirinya, tidak suka penganiayaan diri sendiri, dan tidak menganiaya makhluk lainnya, tidak suka menyiksa makh¬luk lainnya, yang karena dia tidak menyiksa diri sendiri dan makhluk lainnya, berada di dunia ini dan sekarang tidak panas, sudah padam, dingin dan berdiam dengan mengalami arahat dalam dirinya."
12. Di sini, para bhikkhu, seorang Tathagata muncul di dunia, yang besar menjadi Arahat dan mencapai pencerahan sempurna, sempurna dalam pengetahuan yang besar dan perbuataan, yang mengetahui semua dunia, pemimpin yang tak dapat ditandingi untuk menjinakkan manusia, guru para dewa dan manusia, yang mencapai pencerahan, yang diberkahi.
13. "Dia menyatakan dunia ini bersama dengan para Dewanya, Maranya dan Brah¬manya, para manusia bersama pendeta dan kasta brahmananya, bersama dengan raja dan umatnya, yang dia telah capai sendiri pengetahuan langsung (pencerahan sempurna).
14. "Dia mengajar Dhamma yang bagus di permulaan, bagus di tengah dan bagus di akhirnya, bersama dengan arti yang besar dan frasa yang benar, dan dia menggu¬nakan kehidupan arhatlah sebagai kehidupan yang sangat bersih dan sempurna.
15. "Seorang perumah tangga atau anak perumah tangga atau orang yang terlahir dalam suatu suku bangsa mendengar Dhamma tersebut. Pada saat mendengar Dhamma dia memperoleh kepercayaan dalam Tathagata. Setelah mempunyai kepercayaan itu, dia mempertimbangkan demikian : "Hidup berumah tangga menyesakkan dan kotor; kehidupan di depan mata terbuka lebar. Tidak mungkin hidup dalam rumah tangga, bisa membimbing menuju kehidupan sesempurna dan semurni seperti kulit kerang yang dipoles. Seandainya saya mencukur rambut dan jenggot saya, memakai jubah kuning, dan berangkat dari kehidupan berumah tangga menjadi tak berumah tang¬ga?"
"Dan pada kesempatan yang lain, pelepasan mungkin sedikit beruntung, mungkin banyak beruntung, pelepasan mungkin sedikit sanak saudara, mungkin berlingkungan sanak saudara yang banyak, dia mencukur rambut dan jenggotnya, memakai jubah kuning, dan berangkat dari kehidupan berumah tangga menjadi tak berumah tangga.
16. Manusia yang berangkat demikian dan memiliki latihan dan cara hidup seo¬rang bhikkhu, menjauhi pembunuhan makhluk hidup, dia menjadi orang yang men¬jauhi pembunuhan makhluk hidup; meletakkan balok dan senjata, ramah dan lemah lembut, dia tetap kasihan pada semua makhluk hidup.
Menjauhi pengambilan apa yang tidak diberikan, dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, mengambil hanya bila diberikan, mengharapkan hanya apa yang diberikan, dia tetap murni dalam diri¬nya dengan tidak mencuri.
Menjauhi apa yang bukan kehidupan bertapa, dia menjadi manusia yang tinggal dengan hidup bertapa, yang hidup terpisah, yang menjauhkan diri dari napsu birahi yang tidak sopan.
Menjauhi bicara bohong, dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari bicara bohong, dia bicara benar, memegang erat-erat kebenaran, terpercaya, dapat diandalkan dan tidak membohongi dunia ini.
Menjauhi bicara jahat, dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari bicara jahat : sebagai manusia yang tidak menggulang dimana-mana apa yang dia dengar di sini untuk maksud menyebabkan perpisahan dari orang-orang, yang merupakan seorang penyatu dari orang yang menjadi pemisah, seorang promotor persahabatan, dan menikmati kerukunan, gembira dalam kerukunan, bahagia dalam kerukunan, dia menjadi manusia pembicara (penutur) kata-kata yang meningkatkan kerukunan.
"Menjauhi bicara kasar, dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari bicara kasar; dia menjadi seorang penutur kata-kata yang tak bersalah, senang untuk didengar dan dicintai, begitu juga senang terasa di hati, sopan, disukai orang banyak dan ramah terhadap orang banyak.
"Menjauhi gosip, dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari gosip; sebagai seorang manusia yang bercerita dalam mana apa yang benar dan berman¬faat mengenai Dhamma dan disiplin, dia menjadi manusia penutur kata-kata yang tepat pada waktunya, berharga untuk dipanggil, berakal budi, teratur dan berhubungan dengan kebaikan.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari merusak biji dan tanaman.
"Dia menjadi manusia yang makan hanya di pagi hari, tidak (makan) di malam hari dan terlambat makan.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari dansi-dansi, nyanyi, musik dan pertunjukkan teater.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari berpakaian yang berkarang bunga, berpakaian yang tampan dengan wangi-wanggian dan perhiasan-perhiasan yang diminyaki.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari kursi yang tinggi dan besar.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkn diri dari penerimaan emas dan perak.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari penerimaan jagung mentah.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari penerimaan para wanita dan anak gadis.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari penerimaan domba dan kambing.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari penerimaan, gajah, ter¬nak, kuda jantan dan kuda betina.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari penerimaan lapangan dan tanah.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri menjadi pesuruh.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari membeli dan menjual.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari berat palsu, logam palsu dan ukuran palsu.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari menipu, berbohong, bicara tidak benar, dan tipu daya.
"Dia menjadi manusia yang menjauhkan diri dari melukai, membunuh, mengi¬kat, merampok, merampas dan kekerasan.
"Dia menjadi manusia yang puas dengan jubah untuk menutup tubuh, dengan makanan secukupnya untuk menjaga perut tidak lapar; kemanapun dia pergi dia selalu menjalankan peraturan itu untuk dirinya. Tepat sebagai burung yang terbang kemana saja yang terbang memakai sayapnya, begitu juga dia menjadi manusia yang puas dengan jubah yang menutup tubuhnya, dengan makanan secukup¬nya untuk mejaga perut tidak lapar; kemanapun dia pergi dia selalu menjalankan peraturan itu untuk dirinya.
"Setelah mempunyai tumpukan kebajikan Yang Mulia ini, dia merasa dirinya bahagia bahwa hal-hal dia atas adalah benar.
17. "Dia menjadi manusia yang, pada saat melihat bentuk yang dapat dilihat dengan mata, menawan tanpa tanda-tanda dan ciri-ciri yang bila dia merasa panca indera mata tak terjaga, Dhamma yang tak bermanfaat dan yang jahat dari ketamakan dan kesedihan mungkin menyerangnya. Dia mempraktikkan cara pengenda¬lian, dia menjaga panca indera mata, menjalankan pengendalian panca indera mata. Pada saat mendengar suara dengan telinga .... Mencium bau dengan hidung .... Mencicipi rasa dengan lidah .... Menyentuh benda-benda yang dapat disentuh dengan tubuh .... Mengenal Dhamma dengan pikiran .... Menja¬lankan pengendalian panca indera pikiran.
"Setelah mempunyai pengendalian panca indera Yang Mulia ini, dia merasa dirinya berada dalam bahagia bahwa hal-hal di atas adalah benar.
18. "Dia menjadi manusia yang bertindak penuh kesadaran ketika bergerak ke depan dan bergerak ke belakang, yang bertindak penuh kesadaran ketika melihat ke depan dan melihat jauh, yang bertindak penuh kesadaran ketika membungkuk dan berdiri tegak, yang bertindak penuh kesadaran ketika memakai jubah yang bertambalan, jubah dan bokor, yang bertindak penuh kesadaran ketika buang air besar dan kecil, yang bertindak penuh kesadaran ketika berjalan berdiri, duduk, bangun tidur, bicara dan diam.
19. Setelaah mempunyai tumpukan kebajikan Yang Mulia ini, dan mempunyai pen¬gendalian panca indera Yang Mulia ini, dan mempunyai kehati-hatian dan penuh kesadaran, dia beristirahat ke suatu tempat istirahat yang terpencil - ke hutan, akar pohon, batu karang, goa di gunung, tanah kuburan, suatu daerah hutan yang sepi, ruang yang terbuka, setumpuk jerami.
20. Ketika kembali dari berkeliling mencari makanan, dia duduk, dengan bersi¬la, menegakkan tubuhnya, tetap menjaga kesadaran dalam dirinya.
"Menjauhi ketamakan untuk dunia ini, dia tetap dengan pikiran yang bebas dari ketamakan; dia menyucikan diri dari ketamakan. Menjauhi keinginan jahat dan kebencian, dia tetap tanpa berpikiran jahat, merasa kasihan terhadap kesejahteraan semua umat manusia, dia menyucikan pikiran dari maksud jahat dan kebencian. Menjauhi kelesuan dan rasa ngantuk, dia tetap dengan pikiran yang bebas dari kelesuan dan rasa ngantuk, mengetahui dengan tepat mengenai cahaya, kehati-hatian dan penuh kesadaran; dia menyucikan pikiran dari kelesuan dan rasa ngantuk. Menjauhi hasutan dan kecemasan, dia tetap tidak terhasut dengan pikiran tetap tenang dalam dirinya; dia menyucikan pikiran dari hasutan dan kecemasan. Menjauhi ketidakpastian, dia tetap dengan pikiran yang melintas jauh di atas ketidakpastian, tidak bertanya mengenai manfaat Dhamma; dia menyucikan pikiran dari ketidakpastian.
21. Setelah menjauhi lima halangan ini, pengotoran pikiran yang melemahkan pengertian, sangat jauh dari keinginan birahi, jauh dari Dhamma yang tak bermanfaat, dia masuk ke dalam dan tetap berada dalam jhana pertama yang diikuti dengan awal penerapan dan penerapan yang terus menerus, dengan kebaha-giaan dan kenikmatan tubuh yang terlahir menyepi.
22. ..... Jhana kedua .....
23. ..... Jhana ketiga .....
24. ..... Jhana keempat .....
25. "Ketika dia mengkonsentrasikan pikiran demikian murni, terang, tanpa cela, jauh dari ketidaksempurnaan, lunak, sudah dikendalikan, kokoh, dan mencapai ketenangan, dia langsung, dia mengarahkan pikiran menuju pengetahuan untuk mengingat kembali kehidupan masa lampau, yang dikatakan, satu kelahiran, dua kelahiran, .... Lima kelahiran, sepuluh kelahiran .... Lima puluh kelahi¬ran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, beribu-ribu kali pengembangan dan penyusutan alam semesta : Di sana dia dinamakan demiki¬an, dari keturunan yang demikian, dengan kualitas penampilan yang demikian, makanan bergizinya yang demikian, pengalaman kebahagiaan dan kepedihannya yang demikian, masa hidupnya yang demikian; dan meninggal dari sana, dia muncul dimana-mana; dan di sana juga dia bernama kemudian, dari keturunan demikian, dengan kualitas penampilan yang demikian, makanan bergizinya yang demikian, pengalaman kebahagiaan dan kepedihannya yang demikian, masa hidupnya yang demikian, dan meninggal dari sana dia muncul di sini. Demikianlah dengan rinci dan teliti dia mengingat kembali kehidupan lampaunya yang bermacam-macam.
26. "Ketika dia mengkonsentrasikan pikirannya demikian bersih, tenang, tanpa cela, jauh dari ketidaksempurnaan, dia langsung, dia mengarahkan pikirannya menuju muncul dan lenyapnya makhluk.
"Dengan pandangan mata surgawi yang dibersihkan dan melebihi manusia, dia melihat muncul dan lenyapnya makhluk, yang kuat dan lemah, yang cantik dan buruk, yang berkelakuan baik dan jahat; dia mengerti bagaimana makhluk terla¬hir menurut karma mereka masing-masing, jadi : "Makhluk yang berkelakuan buruk dengan tubuh, dalam ucapan dan pikiran, yang mencerca Jalan Mulia, berpandan¬gan keliru, memberi akibat pada pandangan keliru dalam karma mereka (tindakan mereka), mempunyai tubuh yang hancur, setelah meninggal, muncul dalam kondisi serba kekurangan, kehancuran, sampai ke neraka; tetapi makhluk yang berkela¬kuan baik dengan tubuh, dalam ucapan dan pikiran, tidak mencerca Jalan Mulia, berpandangan benar, memberikan akibat pada pandangan benar dalam tindakan mereka, mempunyai, tubuh yang hancur setelah meninggal, muncul dalam tempat yang baik, bahkan sampai ke alam sorga", jadi pandangan mata surgawi yang dibersihkan dan melebihi manusia, dia melihat makhluk-makhluk muncul dan lenyap, yang kuat dan lemah, yang cantik dan buruk, yang berkelakuan baik dan jahat. Dia mengerti bagaimana makhluk terlahir menurut karma mereka masing-masing.
27. "Ketika konsentrasi pikirannya demikian bersih dan terang, tanpa cela, jauh dari ketidaksempurnaan, dan menjadi lunak, dapat dikendalikan dan menca¬pai ketenangan, dia langsung, dia mengarahkan pikirannya menuju pengetahuan mengenai lenyapnya noda.
"Dia mempunyai pengetahuan langsung demikian : Ini adalah penderitaan"; dia mempunyai pengetahuan langsung demikian : "Ini adalah asalnya penderitaan", dia mempunyai pengetahuan langsung demikian : "Ini adalah le¬nyapnya penderitaan"; dia mempunyai pengetahuan langsung demikian : "Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan." Dia mempunyai pengetahuan lang¬sung demikian : "Ini adalah noda"; dia mempunyai pengetahuan langsung demiki¬an: "Ini adalah asalnya noda"; dia mempunyai pengetahuan langsung demikian : "Ini adalah lenyapnya noda"; dia mempunyai pengetahuan langsung demikian : "Ini adalah jalan yang menuju lenyapnya noda".
28. Ketika dia mengetahui dan mengerti demikian, pikirannya dibebaskan dari noda yang berkeinginan birahi, dari noda makhluk dan dari noda kebodohan. Setelah pembebasan itu datanglah pengetahuan : "Noda itu lenyap". Dia mempun¬yai pengetahuan langsung demikian : "Kelahiran adalah melelahkan, kehidupan suci telah diabaikan, apa yang dapat dilakukan harus dilakukan. Tidak ada lagi kelahiran.
29. "Inilah yang disebut jenis manusia yang tidak menyiksa dirinya, tidak senang dengan penyiksaan diri, dan tidak menyiksa makhluk lainnya, tidak senang menganiaya makhluk lainnya, yang karena dia tidak menyiksa dirinya dan tidak menyiksa makhluk lainnya, berada dalam dunia ini dan sekarang tidak panas, telah padam, dingin, yang menjadi Arhat dalam dirinya, telah mengalami kebahagiaan."
30. Itu apa yang Sang Buddha katakan. Para bhikkhu puas, dan mereka senang dengan ajaran Sang Buddha.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar