Senin, 08 Maret 2010

SEKHASUTTA
(53)


Demikian yang telah saya dengar: Pada suatu ketika Sang Bhagava1 menetap di daerah suku Sakya di Vihara Nigrodha di dekat Kapilavatthu. Pada waktu itu sebuah ruangan pertemuan yang baru telah dibangun belum lama berselang oleh suku Sakya Kapilavatthu dan belum pernah ditempati oleh seorang pertapa atau seorang brahmana atau pun seorang manusia. Kemudian suku Sakya Kapilavatthu mendatangi Sang Bhagava; setelah dekat mereka memberi penghormatan kepada Sang Bhagava, kemudian mereka duduk dengan sikap yang penuh hormat. Setelah itu mereka berkata demikian kepada Sang Bhagava:

"Sang Bhagava, ada sebuah ruangan pertemuan baru di sini yang dibangun belum lama berselang untuk suku Sakya Kapilavatthu yang belum pernah ditempati oleh seorang pertapa atau brahmana atau pun manusia. Biarlah Sang Bhagava yang menempatinya pertama kali. Setelah Sang Bhagava menempatinya, suku Sakya Kapilavatthu akan menempati sesudahnya untuk kemudian akan kami gunakan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan suku Sakya Kapilavatthu2."


____________________
1 S.iv.182-3. Pada D.iii.207ff. terletak di Mala dari Pava.
2 Cf.RV.VIIII.17.14, "Seribu pilar yang kokoh, Raja Rumah!"
[354] Sang Bhagava menyetujui dengan berdiam diri. Mengetahui bahwa Sang Bhagava menyetujui, suku Sakya Kapilavatthu lalu bangkit dari tempat duduk mereka dan memberi hormat kepada Sang Bhagava, mereka kemudian mendekati ruangan pertemuan itu dengan menjaga Sang Bhagava tetap di sebelah kanan mereka. Setelah sampai di ruangan tersebut mereka menyebar3, kemudian duduk dan menyiapkan tempat air serta lampu minyak, setelah itu mereka mendekati dan menyambut Sang Bhagava dengan berdiri dengan penuh hormat. Setelah itu mereka berkata demikian kepada Sang Bhagava:

"Sang Bhagava, ruangan pertemuan ini telah terisi penuh, tempat-tempat duduk telah siap demikian juga tempat air dan lampu minyak. Sudilah Sang Bhagava melakukan apa saja yang tepat pada saat ini." Setelah Sang Bhagava memakai jubah dan membawa mangkuk, Ia mendekati ruangan pertemuan tersebut dengan sejumlah bhikkhu; setelah mendekati, Ia membasuh kaki dan masuk ke dalam ruangan pertemuan dan duduk dengan membelakangi pilar yang ditengah dengan menghadap ke Timur. Para bhikkhu juga membasuh kaki mereka dan masuk ke dalam ruangan pertemuan dan duduk dengan membelakangi dinding sebelah Timur dengan menghadap ke Barat sehingga mereka berhadapan dengan Sang Bhagava. Setelah menggembirakan, menyemangati, mendorong suku Sakya Kapilavatthu dengan kata-kataNya sampai tengah malam, kemudian Sang Bhagava berkata demikian kepada bhikkhu Ananda4:____________________
3 sabbasantharim santhagaram santharitva
4 Ananda adalah seorang ahli yang menguasai Tipitaka yang terdiri atas Vinaya, Sutta-pitaka, and Abhidhamma-pitaka.
"Ananda, berilah sebuah pelajaran5 untuk suku Sakya Kapilavatthu; karena punggung saya sakit, Saya akan merentangkannya."

"Baik, Yang Mulia," bhante Ananda menjawab. Setelah itu Sang Bhagava lalu melipat jubah luarNya menjadi empat bagian, merebahkan tubuhNya pada sisi sebelah kanan dengan posisi seperti singa tidur, kaki bertumpangan diatas kaki, sadar, dengan pikiran penuh kesadaran, mencerminkan kesadaran yang bangkit kembali. Kemudian Bhante Ananda berbicara demikian kepada Mahanama dari suku Sakya6:

"Sekarang Mahanama, seorang murid para ariya memiliki kebiasaan moral, ia adalah seorang yang menjaga pintu-pintu organ-organ indrianya, makan secukupnya, mempertahankan kewaspadaan, memiliki tujuh hal7 unggul, seorang yang memperoleh apa yang diinginkan8 tanpa hambatan dan tanpa kesulitan, mencapai empat jhana di mana kemurnian tertinggi dari mentalitas timbul tenteram disini dan sekarang9. Dan sekarang [355] Mahanama apakah seorang murid ariya memiliki kebiasaan10 moral? Mengenai ini Mahanama, seorang murid ariya adalah moral11; hidupnya ____________________ 5 Sekho patipado
6 MA.iii.29. dia adalah kepala rombongan pada saat itu.

7 saddhammehi
8 Lihat M.i.33.

9 Lihat P.T.C., s.v. abhicetasika
10 MA.iii.29. menunjuk kepada Akankheyya Sutta (M. Sta. 6) Lihat juga M. Sta. 107

11 silavant. Cf. Samannaphalasuttanta
terkendali dengan mengendalikan kewajiban-kewajiban, memiliki tindak-tanduk dan usaha yang benar, melihat bahaya di dalam kesalahan yang sangat kecil; dan melakukan hal-hal tersebut dengan benar dan ia melatihnya di dalam aturan-aturan latihan. Demikianlah Mahanama bahwa seorang murid ariya memiliki kebiasaan moral.

Dan bagaimana, Mahanama, seorang murid ariya menjaga pintu-pintu organ-organ indrianya?12 Dalam hal ini, Mahanama, seorang murid ariya, setelah melihat bentuk sebuah benda dengan matanya, tidak terpesona oleh penampilan yang umum, dan juga tidak terpesona oleh rinciannya. Jika organ penglihatannya tak terkendali, ketamakan dan kepatah hatian, kejahatan dari keadaan-keadaan pikiran yang tak terlatih akan berkuasa. Maka ia berusaha mengendalikannya, ia menjaga organ penglihatannya; ia mengendalikan organ penglihatannya. Setelah mendengar suara dengan telinga ... Setelah mencium bebauan dengan hidung ... Setelah mengecap rasa dengan lidah ... Setelah merasa sentuhan dengan tubuh ... Setelah menyadari keadaan batiniah dengan pikiran, ia tidak terpesona oleh penampilan umum ataupun rinciannya. Jika organ pikirannya tak terkendali maka ketamakan kepatahhatian, dan kejahatan dari keadaan-keadaan pikiran yang tak terlatih akan berkuasa. Maka ia berusaha mengendalikannya, ia menjaga pikirannya; ia mengendalikan pikirannya. Demikianlah Mahanama bahwa seorang murid ariya adalah orang yang menjaga pintu-pintu organ-organ indrianya.
____________________

12 Cf.M.i.180 (M.L.S.i.226)
Dan bagaimanakah, Mahanama, seorang murid ariya yang bersifat secukupnya dalam hal makan?13 Dalam hal ini, Mahanama, seorang murid ariya mengambil makanan secara hati-hati, tidak untuk kesenangan atau kehendak hati atau daya tarik pribadi atau keindahan, tetapi cukup hanya untuk mempertahankan tubuh ini dan menjaga kesehatan, untuk menjaganya agar tidak rusak, untuk menjalani kehidupan Brahma dengan berpikir demikian: 'Demikianlah saya akan menghancurkan perasaan tua, dan saya tidak akan membiarkan perasaan baru timbul, dan kemudian akan ada keyakinan dan kepuasan yang nyaman. Demikianlah Mahanama bahwa seorang murid ariya bersifat secukupnya dalam hal makan.

Dan bagaimanakah, Mahanama, seorang murid ariya mempertahankan kewaspadaannya?14 Dalam hal ini, Mahanama, seorang murid ariya selama siang hari selagi berjalan bolak-balik dan duduk, membersihkan pikirannya dari keadaan-keadaan batiniah yang menghalangi; selama jaga malam pertama ia berjalan bolak-balik dan duduk, serta membersihkan pikirannya dari keadaan-keadaan batiniah yang menghalangi; selama jaga malam pertengahan ia berbaring pada sisi sebelah kanan dalam posisi singa, kaki di atas kaki yang lain, berhati-hati, sadar sepenuhnya, mencerminkan kesadaran yang bangkit kembali; selama jaga malam terakhir, ketika ia terjaga, selagi berjalan bolak-balik dan duduk, ia membersihkan pikirannya dari keadaan-keadaan batiniah yang menghalangi. Demikianlah Mahanama bahwa seorang murid ariya mempertahankan kewaspadaannya.
____________________
13 sebagaimana dalam M.i.273.

14 sebagaimana dalam M.i.273.


Dan bagaimanakah, Mahanama, [356] seorang murid ariya memiliki tujuh hal utama?15 Dalam hal ini, Mahanama, seorang murid ariya berkeyakinan16; ia berkeyakinan mengenai kebangkitan dari Sang Tathagata dan berpikir demikian: Demikianlah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna pengetahuan serta tindak-tandukNya, Sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, Yang Sadar, Sang Bhagava.

Ia mempunyai rasa malu; ia malu akan perbuatan salah yang dilakukan oleh tubuh, ucapan, pikiran, ia malu karena jatuh ke dalam keadaan-keadaan batiniah jahat yang tak terkendali.

Ia takut akan kecaman; ia takut akan kecaman yang dilakukan oleh tubuh ... ucapan ... pikiran, ia takut dikecam karena jatuh ke dalam keadaan-keadaan batiniah jahat yang tak terkendali.

Ia adalah seorang yang banyak mendengar dan mengingat apa yang ia telah dengar, yang menyimpan apa yang telah ia dengar. Hal-hal itu, indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya dengan pengertian dan semangat yang menyatakan bahwa kehidupan Brahma telah dilaksanakan secara utuh, benar-benar suci sempurna, di mana hal-hal tersebut telah banyak ia dengar, teringat dalam pikiran, terbiasa dengan ucapan, dipertimbangkan di dalam pikiran, tertembus dengan pandangan

____________________

15 Cf.M.iii.23; D.iii.252,282; A.iv.108ff.

16 Cf.S.v.196.
benar.17

Ia hidup dengan tenaga18 yang bersemangat untuk menghilangkan keadaan-keadaan batiniah yang tak terlatih guna memperoleh keadaan-keadaan batiniah yang terlatih, tabah, teguh, dan tekun dalam menghadapi segala macam percobaan.

Ia benar-benar sadar,19 memiliki kesadaran dan perbedaan20 yang tertinggi, pengingatan kembali, dan pengingatan berulang21 atas apa yang telah ia lakukan dan ucapkan di masa lalu.

Ia adalah satu dari kebijaksanaan,22 yang diberkahi dengan kebijaksanaan yang menuntun kepada pemutusan akan timbul dan tenggelammya, dengan penembusan ariya yang menuntun kepada terhentinya penderitaan secara menyeluruh. Demikianlah, Mahanama, bahwa seorang murid ariya memiliki tujuh hal utama.

Dan bagaimanakah, Mahanama, seorang murid ariya memperoleh apa yang diinginkan tanpa menghadapi masalah dan kesulitan, mencapai keempat jhana di mana mereka adalah batiniah yang suci, yang kekal di dalam kesenangan di sini dan pada saat ini?23 Dalam
____________________

17 Cf.M.iii.11.

18 Cf.M.ii.95, S.v.197, A.iii.11, iv.3, Ud.37.

19 Cf.S.v.197, A.iii.11.

20 nepakka, lihat Vbh.249.

21 MA.iii.30. membedakan perkataan mengingat sekali dengan
anussarita (mengingat berulang kali)

22 Cf.M.ii.95.

23 Cf.A.ii.22f., iii.131, iv.108ff.

hal ini, Mahanama, seorang murid ariya menjauhkan diri dari kesenangan-kesenangan indria, menjauhkan diri dari keadaan-keadaan pikiran yang tak terlatih, masuk dan tinggal di dalam jhana pertama yang disertai pikiran pertama dan yang tidak bersambungan yang terlahir atas kemenyendirian, kegembiraan hati dan kesenangan. Dengan menghilangkan pikiran pertama dan yang tidak bersambungan dan dengan pikiran yang tenang dan tertuju pada satu hal secara subjektif, ia masuk dan tinggal di dalam jhana ke dua yang tiada pemikiran pertama dan yang tidak bersambungan, yang terlahir atas konsentrasi dan kegembiraan hati dan kesenangan ... ia masuk dan tinggal di dalam jhana ke tiga '... jhana ke empat. Demikianlah, Mahanama, bahwa seorang murid ariya adalah seorang yang memperoleh apa yang diinginkan tanpa menghadapi masalah dan kesulitan, mencapai keempat jhana di mana mereka adalah batiniah yang suci, yang kekal di dalam kesenangan di sini dan pada saat ini.

Mahanama, ketika seorang murid ariya diberkahi dengan kebiasaan moral demikian, maka ia menjaga pintu-pintu organ-organ indrianya, makan secukupnya, menjaga kewaspadaannya, diberkahi dengan tujuh sifat utama, [357] yang memperoleh apa saja yang diinginkan, tanpa menghadapi masalah dan kesulitan, mencapai keempat jhana di mana mereka adalah batiniah yang suci, yang kekal di dalam kesenangan di sini dan pada saat ini. Kemudian Mahanama, ia disebut seorang murid ariya yang sedang belajar, memiliki mental yang baik, di mana ia mencapai keberhasilan,24 ia telah
____________________

24 dari ketidaktahuan menjadi berpengetahuan, dari kegelapan
ke penerangan. Cf.M.i.104.
sadar, ia menjadi seorang pemenang atas kebelengguan. Mahanama, hal ini seperti jika ada delapan atau sepuluh atau duabelas telur ayam, yang sebagaimana mestinya dierami dan ditetaskan oleh induknya; sebuah keinginan berikut tidak akan timbul dalam diri si induk: "O anak-anak ayamku, setelah kulit telur ditembus oleh ujung-ujung cakar kaki-kakimu atau dengan paruh-paruhmu, pecahkan seterusnya dengan aman," di mana hanya beberapa anak ayam saja yang mampu memecahkan dan menembus dengan aman kulit-kulit telur tersebut dengan ujung-ujung cakar kaki-kaki mereka atau dengan paruh-paruh mereka. Mahanama, ketika seorang murid ariya diberkahi dengan kebiasaan moral demikian, maka ia menjaga pintu-pintu organ-organ indrianya, makan secukupnya, menjaga kewaspadaannya, diberkahi dengan tujuh sifat utama, yang memperoleh apa saja yang diinginkan, tanpa menghadapi masalah dan kesulitan, mencapai keempat jhana di mana mereka adalah batiniah yang suci, yang kekal di dalam kesenangan di sini dan pada saat ini. Kemudian Mahanama, ia disebut seorang murid ariya yang sedang belajar, memiliki mental yang baik, dimana ia mencapai keberhasilan, ia telah sadar, ia menjadi seorang pemenang atas kebelengguan. Mahanama, murid ariya tersebut setelah mencapai kesucian yang sempurna melalui ketenangan dan kehati-hatian,25 dan mengingat kembali sekumpulan kebiasaannya yang terdahulu seperti kelahiran pertama, kelahiran kedua ... Jadi ia mengingat
kembali sekumpulan kebiasaannya yang terdahulu dalam segala mode

____________________

25 di dalam jhana ke empat. Lihat juga halaman selanjutnya.

dan rinciannya. Hal ini adalah keberhasilan yang pertama seperti seekor anak ayam keluar dari kulit telurnya.

Mahanama, setelah murid ariya ini mencapai kesucian yang sempurna melalui ketenangan dan kehati-hatian, maka dengan mata dewa yang suci yang melebihi manusia, ia melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, apakah itu jahat, baik, cantik, jelek, bermaksud baik, bermaksud jahat, ... ia memahami segala sesuatu sesuai dengan hukum karma. Hal ini adalah keberhasilannya yang kedua sebagaimana seekor anak ayam keluar dari kulit telurnya.

Mahanama, setelah murid ariya ini mencapai kesucian yang sempurna melalui ketenangan dan kehati-hatian, dan melalui penghancuran karma-karma buruknya yang dicapai pada saat sekarang dengan melalui pikiran bebasnya yang super dan kebijaksanaan yang intuitif yang tidak akan punah dari dalam[358]. Hal ini adalah keberhasilannya yang ketiga sebagaimana seekor anak ayam keluar dari kulit telurnya.

Mahanama, siapa pun murid ariya selalu memiliki kebiasaan batiniah, yang juga berlaku dalam tingkah lakunya.26 Dan Mahanama, siapa pun murid ariya selalu menjaga pintu-pintu organ-organ indrianya, hal mana berlaku dalam tingkah lakunya. Dan Mahanama, siapa pun murid ariya maka ia makan secukupnya ... menjaga kewaspadaannya ... memiliki tujuh hal utama ... yang diperoleh kapan pun ia mau tanpa mengalami masalah dan kesulitan,
____________________

26 carana


mencapai ke empat jhana di mana mereka adalah batiniah yang suci, yang kekal di dalam kesenangan di sini dan pada saat ini, hal mana juga berlaku dalam tingkah lakunya. Tetapi Mahanama, siapa pun murid ariya ia mengingat kembali sekumpulan kebiasaannya yang terdahulu seperti kelahiran pertama, kelahiran kedua ... hal mana berlaku sehubungan dengan pengetahuannya.27 Dan Mahanama, siapa pun murid ariya maka dengan mata dewa yang suci yang melebihi manusia, ia melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, apakah itu jahat, baik, cantik, jelek, bermaksud baik, bermaksud jahat, ... ia memahami segala sesuatu sesuai dengan hukum karma, sehubungan dengan pengetahuannya. Dan Mahanama, siapa pun murid ariya melalui penghancuran karma-karma buruknya yang dicapai disini dan pada saat ini dengan melalui pikiran bebasnya yang super dan kebijaksanaannya yang tidak berkarma buruk, maka ia masuk dan hidup di dalamnya, hal mana berhubungan dengan pengetahuannya.28 Mahanama, siapa pun murid ariya ia memiliki pengetahuan dan tingkah laku benar. Dan Mahanama, Sanankumara telah mengucapkan
syair berikut ini:

"Prajurit sejati adalah yang terbaik
di antara mereka yang menghargai suku;
Dia yang memiliki pengetahuan dan tingkah laku benar
adalah yang terbaik diantara para dewa dan manusia."29


____________________

27 vijja. Untuk vijjacarana, lihat A.ii.163, v.326f.; dan
Vism.202.

28 Cf. limabelas hal mengenai dhamma diberikan pada Vism.202.
dan difinisi dari carana adalah tingkah laku

29 D.i.99; iii.97; S.i.153, ii.284; A.v.327.



Mahanama, syair tersebut dinyanyikan dengan benar, tidak disalah-nyanyikan oleh Sanankumara; syair tersebut diucapkan dengan benar, tidak disalah-ucapkan; yang dihubungkan dengan sesuatu tujuan, yang tidak dihubungkan dengan sesuatu yang bukan tujuan. Hal ini diakui oleh Sang Bhagava.

Kemudian Sang Bhagava setelah bangun, berbicara kepada bhikkhu Ananda demikian: "Ini baik, ini baik, Ananda; ini baik buat kamu, Ananda, berbicara tentang sebuah pelajaran kepada para Sakya dari Kapilavatthu."

[359] Demikian bhikkhu Ananda berbicara yang disetujui oleh Sang Bhagava. Para Sakya dari Kapilavatthu bergembira dengan apa yang bhikkhu Ananda telah ucapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar